cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Arsitektur DASENG
ISSN : 23018577     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur DASENG adalah media informasi pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni khususnya Artikel Ilmiah bidang Arsitektur berupa Hasil Penelitian, Hasil Perancangan, Studi Kepustakaan maupun Tulisan Ilmiah.
Arjuna Subject : -
Articles 892 Documents
BEACH CLUB LIKUPANG: Biomimicry Architecture Maun, Jofran I.; Tungka, Aristotulus E.; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Likupang, located in North Sulawesi, is one of Indonesia's super-priority tourism destinations, offering rich natural resources such as white sandy beaches, coral reefs, and abundant marine biodiversity. This is further evidenced by the increasing number of tourists visiting North Sulawesi each year. However, as a tourist destination, the existing attractions and facilities in Likupang are insufficient to fully leverage its tourism potential. To address this issue, the Likupang Beach Club is proposed as a new attraction and facility to support Likupang as a premier tourism destination. By integrating buildings with nature, the biomimicry approach serves as an appropriate theme to apply natural principles in architectural design. The design of the Likupang Beach Club, based on a biomimicry architectural approach, aims to create a structure that seamlessly integrates with the natural beauty of Likupang and fosters harmony between the building and its surroundings by mimicking natural principles. Through stages of determination, data collection, and implementation, the design process combines the variety development and reduction methods with cycles of imagination, presentation, and testing. This process incorporates typological, site, environmental, and thematic approaches to achieve a unique design that positively impacts the surrounding environment and nature. The application of biomimicry in architecture, which integrates buildings with nature, offers an innovative and visually appealing solution for sustainable tourism development. The design of the Likupang Beach Club demonstrates that working with nature does not mean harming it. Instead, it showcases how a design can collaborate with its environment, resulting in a sustainable and harmonious development. Keywords: Likupang, Toursim, Beach Club, Biomimicry. Architecture
PENERAPAN ARSITEKTUR RETRO PADA PERANCANGAN AGROWISATA KOPI DI KABUPATEN MALANG Amin, Muhammad Rijal; Istijanto, Suko; Tohar, Ibrahim
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Malang kaya akan sumber daya alam yang sangat beragam mulai dari perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, pertambangan, pariwisata hingga kehutanan. Wilayah Malang merupakan rumah bagi banyak tempat wisata dan aset pertanian kelas dunia.Sebagai daerah tujuan wisata, Provinsi Malang diharapkan dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi wisata pertanian. Memahami, memanfaatkan potensi karakteristik daerah, maka dilakukan pendekatan awal melakukan observasi langsung wisatawan mengenai pengalaman dan harapan wisatawan yang diinginkan ketika mengunjungi maka agrowisata penerapan tema retro, menjadi menarik untuk diterapkan. Selama mendesain, konsep arsitektur Retro untuk membuat suasana yang unik dan mengundang. Desainnya memadukan elemen arsitektur dan desain masa lalu dengan aksen kontemporer.untuk membuat kesan bagi pengunjung sebagai nostalgia masa lalu Penggunaan material alami dan ramah lingkungan juga menjadi yang terdepan dalam desain untuk mencapai kelestarian lingkungan. Kata Kunci: Agrowisata Kopi, Malang, Penerapan Arsitektur Retro
AKADEMI KEPERAWATAN DI LANGOWAN KABUPATEN MINAHASA ‘IMPLEMENTASI SEMIOTIKA DALAM PERANCANGAN ARSITEKTUR’ Rondonuwu, Zazcya N.; Makainas, Indrajaya
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.8121

Abstract

ABSTRAK Banyak lulusan SMA di Langowan dan sekitarnya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi baik di akademi maupun universitas. Jumlah lulusan SMA di Langowan dan sekitarnya1.055 pada tahun 2012. Jika melihat minat dari para lulusan SMA, salah satu jurusan yang paling diminati adalah jurusan keperawatan karena peluang untuk kerja setelah lulus nanti terbuka lebar, karena tenaga kesehatan khususnya perawat masih sangat dibutuhkan untuk di tempatkan di rumah sakit atau puskesmas baik di dalam maupun di luar daerah bahkan di luar negeri. Tetapi yang menjadi permasalahan sampai saat ini di kabupaten Minahasa belum tersedia fasilitas untuk pendidikan  di bidang keperawatan sehingga harus mencari perguruan tinggi di Manado atau daerah lainnya untuk melanjutkan studi. Dengan merujuk pada permasalahan dan kebutuhan di atas maka diperlukan suatu wadah lembaga pendidikan tinggi, yang secara khusus membidangi keperawatan. Program arsitekturnya terangkum dalam objek “AKADEMI KEPERAWATAN DI LANGOWAN KABUPATEN  MINAHASA” dengan tema hal ini berkaitan dengan Budaya Minahasa yang hendak di interpretasikan dalam bangunan Akademi Keperawatan. Terkait dengan bentuk arsiektur dan susunan tata ruang. Dengan penerapan tema “Implementasi semiotika dalam perancangan arsitektur” di harapkan dapat memberikan pengaruh (efek) bagi pemakai, melalui bentuk fisik bangunan, tata ruang, warna, bahan, dan lain sebagainya. Kata kunci :Akademi Keperawatan, Langowan, Semiotik.
RECREATION CENTER DI MANADO (CULTURE AND ART EDUTAINMENT) Rauf, Stevani; Rengkung, Joseph; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9179

Abstract

ABSTRAK Kota Manado merupakan ibu kota dari provinsi Sulawesi Utara pada saat ini memiiiki visi menjadi kota pariwisata dunia dengan mengandalkan potensi sumber daya alamnya. Dengan adanya program ini maka pemerintah melakukan peningkatan pembangunan di bidang pariwisata sehingga bidang pariwisata menjadi salah satu andalan perekonomian kota Manado. Tentunya hal ini membuat pembangunan di kota Manado meningkat dengan pesat, khususnya rekreasi. Apalagi dengan budaya yang berkembang pada masyarakat Manado yaitu bersenang-senang dan suka mencari rekreasi dan hiburan. Tempat rekreasi yang ada sekarang masih kurang memfasilitasi seluruh kegiatan rekreasi, karena lokasinya yang masih terpencar-pencar. Mengingat tempat-tempat bisnis rekreasi atau recreation yang ada diprediksi akan meningkat sangat tinggi, sehingga upaya pemberadaan tempat rekreasi menjadi perhatian utama. Peluang bisnis dalam bidang recreation ini perlu diantisipasi dengan menghadirkan wadah yang khusus bergerak dalam bidang pelayanan jasa rekreasi atau recreation yang terlokalisasi dalam satu kawasan dengan fasilitas-fasilitas pelayanan dan penunjang yang cukup lengkap sehingga dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan yang mereka butuhkan dalam satu tempat saja.Hal ini mendasari munculnya sebuah gagasan untuk merancang suatu recreation center (pusat rekreasi) di Manado yang dapat menjadi sarana rekreasi, tempat bersenang-senang sekaligus tempat bersosialisasi bagi masyarakat Manado. Kata kunci :Tourism sector, recreation center, relaxing.
WOMEN’S SHELTER di TOMOHON (Arsitektur Feminisme) Mangoendap, Yohane A.; Poluan, Roosje J.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9657

Abstract

Kasus kejahatan terhadap perempuan telah banyak didengar dan dilihat dalam berbagai media sosial bahkanpun yang dilihat secara langsung dengan mata kepala sendiri. Secara keseluruhan, kasus kejahatan terhadap perempuan baik wanita dewasa maupun anak-anak telah sering diberitakan dan dilaporkan Selain kasus-kasus yang dilaporkan tersebut, masih ada juga banyak kasus kejahatan atau kekerasan terhadap perempuan yang tidak dilaporkan kepada pihak berwajib. Pemerintah khususnya Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kepolisian Republik Indonesia bahkan organisasi-organisasi terkait,telah melakukan berbagai upaya untuk masalah kekerasan terhadap perempuan ini. Baik dalam pelaporan, pendampingan sampai kepada pemulihan korban. Dalam hal ini, dirancanglah bangunan yang mewadahinya yaitu Women’s Shelter. Women’s shelter merupakan tempat perlindungan sementara berupa dukungan bagi perempuan yang melarikan diri dari situasi kekerasan, seperti perkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga. Sering juga diperluas untuk menangani isu-isu terkait seperti perumahan korban anak-anak, baik laki-laki dan perempuan serta menyediakan bantuan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan layanan lainnya. Bangunan ini dirancang dengan menggunakan tema arsitektur feminisme. Hasil perancangan Women’s Shelter ini pada akhirnya menghadirkan objek yang mengapdosi sifat perempuan dan karakter serta kecintaannya dalam bentuk-bentuk keindahan. Feminisme itu sendiri mempunyai arti yang lebih dalam yaitu kebebasan dan kesejajaran dalam mengekspresikan ide dan desain bangunan. Hal ini terbukti dari terbentuknya paham baru yang mengutamakan kebebasan berekspresi serta berteknologi. Kata kunci : Perempuan, Shelter, Feminisme
APARTEMEN DI BITUNG “FRACTAL GEOMETRY” Hasang, Stenly; Siregar, Frits O. P.; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.10031

Abstract

Kota Bitung merupakan salah satu kota yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai Kota Pelabuhan, Bitung menjadi pintu masuk bagi para wisatawan dan perdagangan barang dan jasa di wilayah Indonesia timur. Seiring waktu berjalan, pembangunan kota Bitung terus berkembang. Di bidang ekonomi, Bitung mengalami peningkatan yang cukup pesat. Sering berkembangnya kota, pertumbuhan penduduk dalam kota juga terus meningkat. Jumlah penduduk yang terus bertambah mengakibatkan kebutuhan akan lahan untuk hunian juga ikut meningkat, apalagi di tengah kota yang memiliki keterbatasan lahan dan nilai jual lahan yang cukup tinggi. Hal seperti ini merupakan permasalahan yang selalu dijumpai di kota-kota besar atau kota-kota yang sudah berkembang. Apartemen menjadi solusi untuk memecahkan masalah pemukiman yang ada dalam kota. Konsep apartemen yaitu perumahan massal yang ditumpuk ke atas, menjadi penjawab kebutuhan akan hunian di tengah kota yang memiliki keterbatasan lahan. Fractal geometry sebagai tema perancangan memberi inovasi baru dan berbeda dalam sebuah perancangan. Terlebih khusus untuk apartemen sebagai bangunan komersial yang membutuhkan konsep perancangan yang mampu menciptakan karakter/citra yang kuat dari apartemen sehingga dapat meningkatkan daya tarik bagi konsumen. Kata Kunci : Bitung, permasalahan kota, apartemen, fractal geometry
FASILITAS WISATA SEJARAH BENTENG MORAYA DI TONDANO “KONTEMPORERISASI CHARLES JENCKS PADA ARSITEKTUR MINAHASA” Tambingon, Monika P.; Sela, Rieneke L. E.; Gosal, Pierre H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i2.10719

Abstract

ABSTRAK Fasilitas Wisata Sejarah Benteng Moraya adalah suatu sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi suatu tempat wisata sejarah yang akan mengangkat kembali tentang sejarah Benteng Moraya berkaitan dengan sejarah Perang Tondano. Tema yang diangkat adalah Kontemporerisasi Charles Jencks pada Arsitektur Minahasa sebagai strategi perancangan dimana unsur kebudayaan Minahasa akan diangkat namun diberikan sentuhan pembaharuan/mengkontemporerisasikan bentuk dari Arsitektur Minahasa sehingga dapat menghasilkan sebuah bentuk yang baru, dengan unsur kebudayaan Minahasa yang dikemas secara berbeda. Metode perancangan meliputi 3 pendekatan yaitu pendekatan tipologi objek, pendekatan tapak dan pendekatan tematik dengan menggunakan proses desain John Zeisel. Fasilitas-fasilitas wisata sejarah yang akan dihadirkan ditinjau dari segi fungsi utama dalam kegiatan wisata sejarah yaitu Monumen Benteng Moraya yang tetap dipertahankan namun dibenahi kembali, teater, amphiteater, perpustakaan, gedung pameran dan dari segi fungsi penunjang dalam kegiatan rekreasi/hiburan, management, dan pelayanan yaitu restaurant, toko souvenir, gasebo, taman, kantor pengelola, wc umum, parkir, gudang, pos jaga masuk/keluar kendaraan dan loket-loket tiket untuk fasilitas rekreasi/hiburan. Kata kunci : Monumen Benteng Moraya, Fasilitas, Kontemporerisasi.
FASILITAS BUDIDAYA BUNGA POTONG DAN PASAR BUNGA DI TOMOHON “ARSITEKTUR LANSEKAP” Karisoh, Christin; Moniaga, Ingerid L.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i1.13033

Abstract

Kota Tomohon merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara yang sangat kaya akan kehidupan sosial-budaya serta sumber daya alam yang memiliki potensi yang baik dalam bidang pertanian. Saat ini mas yarakat kota Tomohon telah membudidayakan bunga potong . Namun saat ini, bunga potong yang di jual, sebagian tidak berasal dari Kota Tomohon melainkan dari beberapa daerah lain di Indonesia seperti pulau jawa yang di pesan dan di kirim ke Tomohon. Hal ini disebabkan karena keterbatasan memperoleh bibit bunga potong dan belum tersedianya wadah yang representatif dan memadai dalam memelihara bunga potong. Oleh karena itu, perancangan Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga di Kota Tomohon ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bagi petani bunga potong dalam pembudidayan bunga potong, bagi penjual bunga potong dan bagi wisatawan dalam berkreasi serta menikmati alam yang ada disekitar objek Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga di Tomohon. Arsitektur Lansekap merupakan tema yang diangkat dalam perancangan Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga tersebut. Pemahaman Arsitektur Lansekap yaitu ilmu dan seni perencanaan dan perancangan serta pengaturan dari pada lahan, penyusunan elemen-elemen alam dan buatan melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya, hingga pada akhirnya dapat tersajikan suatu lingkungan yang estetis dan fungsional. Fungsi dari Arsitektur Lansekap lebih kepada perencanaan ruang luar, dimana lansekap ini akan menjadi penghubung antara manusia dengan alam. Melalui perencanaan Fasilitas Budidaya Bunga Potong dan Pasar Bunga di  Tomohon ini diharapkan bisa menjadi fasilitas budidaya bunga potong, tempat jual beli bunga dan menjadi fasilitas pariwisata di Kota Tomohon Kata kunci : Budidaya Bunga Potong, Pasar Bunga, Fasilitas, Arsitektur Lansekap.
RE-DESIGN TAMAN BUDAYA DI MANADO KOMPLEKSITAS GEOMETRI La Putju, Ralviando A.; Makarau, Vicky H.; Tungka, Aristotulus
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i2.14104

Abstract

Wilayah Sulawesi Utara tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, tetapi juga kaya akan seni dan budaya yang masih tetap dipertahankan masyarakat setempat. Kehadiran Taman Budaya di Manado adalah salah satu implementasi amanat konstitusi yang secara yuridis dibentuk berdasarkan Keputusan Mendikbud RI. Dalam perkembangannya Taman Budaya tersebut telah mengalami perubahan dan penyesuaian kembali dalam keberlangsungan peradaban kebudayaan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu merupakan lembaga pelestarian, pembinaan, pemanfaatan, dan penyebar luasan kebudayaan yang salah satunya adalah bidang kesenian. Dalam meredesign Taman Budaya di Manado memakai pendekatan Tematik “Komplesitas Geometri” yang memberi identitas tersendiri bagi kota manado dan juga menghadirkan suatu bentuk Arsitektur yang maksimal, tidak hanya kualitas tetapi juga kuantitas. Dalam redesain ini pula dituntut mampu mengoptimalkan perkembangan daerah di Manado dalam upaya pelestarian Budaya di Sulawesi Utara. Kata kunci: Taman Budaya di Manado, Redesign, Kompleksitas Geometri
REDESAIN PASAR BERSEHATI DI MANADO Green Architecture Nangoy, Michelle A. M.; Poli, Hanny; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.14791

Abstract

Pasar tradisional merupakan pusat kegiatan sosial dan ekonomi dari masyarakat, begitu juga dengan Pasar Bersehati yang merupakan salah satu pasar terbesar di Kota Manado. Namun, eksistensinya mulai berkurang akibat pesatnya pertumbuhan pasar-pasar modern. Untuk itu redesain dibutuhkan untuk menghadirkan pasar yang nyaman, aman serta representatif dari segi arsitektural sehingga mampu memaksimalkan fungsinya kembali dan mengubah citra pasar yang terkesan kumuh. Metode perancangan dilakukan melalui studi terhadap tipologi objek, tema (Green Architecture) serta kajian tapak dan lingkungannya. Dalam perancangan ini, proses desain yang dipakai pada model desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel, yang merupakan proses desain yang berulang teruse menerus (Cyclical/spira). Pada prosesnya, data-data yang melatar-belakangi hadirnya perancangan ini dikumpulkan secara logis dan rasional kemudian dikaji untuk mendapatkan solusi. Pengembangan wawasan dibutuhkan untuk mendapatkan gagasan awal yang nantinya dikaji kembali sampai didapatkan hasil perancangan yang kemudian ditransformasi ke dalam bentuk gambar desain. Pasar yang ada nantinya akan menjadi sebuah kawasan yang tertata dengan baik serta memiliki fungsi yang maksimal. Dengan pengaturan lapak sesuai jenis dagangan dan koridor yang luas mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung pasar. Penerapan tema green architecture menghasilkan bangunan yang ramah lingkungan, hemat energi serta penerapan utilitas yang maksimal untuk menunjang aktifitas didalam pasar. Kata kunci: Pasar Bersehati, redesain, Green Architecture

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 4 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 4, November 2025 Vol. 14 No. 3 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 3, Agustus 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 1, Februari 2025 Vol. 13 No. 4 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 4, November 2024 Vol. 13 No. 3 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 3, Agustus 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Daseng Volume 13 Nomor 2, Mei 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023 Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022 Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021 Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020 Vol 9, No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, November 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020 Vol 9, No 1 (2020): Volume 9 No. 1 Mei 2020 Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019 Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018 Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017 Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016 Vol. 4 No. 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015 Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014 Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.1 Mei 2013. Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku II EKSPERIMENTAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Edisi Khusus TA. Buku I KONTEKSTUAL. Volume 1 No.2 November 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): EDISI PERDANA Volume 1 No.1 Mei 2012 More Issue