cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
KESMAS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 962 Documents
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN SKOR MINI MENTAL STATE EXAMINATION PADA LANJUT USIA DI DESA TAMBUN KECAMATAN LIKUPANG BARAT Pangalasen, Stella Betsy; Sekeon, Sekplin A. S.; Langi, F. L. F. G.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lanjut usia merupakan seseorang yang memasuki usia 60 tahun keatas. Seiring bertambahnya usia, makin besar kemungkinan seseorang mengalami masalah kesehatan, salah satunya adalah gangguan fungsi kognitif (Nugroho, 2008). Kualitas tidur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan gangguan fungsi kognitif (Potter, dkk 2012). Mini Mental State Examination (MMSE). Merupakan intstrumen yang digunakan untuk mengukur fungsi kognitif. Penelitian tentang Hubungan Kualitas Tidur dengan Skor MMSE pada lansia belum pernah dilakukan didaerah pesisir, dimana masyarakat pesisir perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pembangunan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan skor MMSE pada lanjut usia di Desa Tambun Kecamatan Likupang Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Tempat penelitian dilakukan di Desa Tambun, pada bulan Juli – Oktober 2018. Populasi dalam penelitian yaitu seluruh penduduk lanjut usia di Desa Tambun, sebanyak 85 orang, dan sampel penelitian ini yaitu total populasi yang memenuhi kriteria penyertaan sebanyak 63 orang. Penelitian ini menggunakan kuesioner PSQI untuk mengukur kualitas tidur dan kuesioner MMSE untuk mengukur fungsi kognitif. Hasil penelitian ini menunjukkan 60,3% lansia memiliki kualitas tidur buruk dan yang memiliki kualitas tidur baik Sebanyak 39,7% lamsia. Lansia yang mengalami gangguan kognitif sebanyak 84,1% dan 15,9% lansia memiliki fungsi kognitif normal. Pada uji chi square didapatkan nilai p=0.004 (p=0.005). Terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas tidur dengan skor MMSE pada lanjut usia di Desa Tambun Kecamatan Likupang Barat.Kata Kunci: Kualitas Tidur, Fungsi Kognitif, LansiaABSTRACTElderly is a person who enters the age of 60 and above. As you get older, the more likely a person is to experience health problems, one of which is impaired cognitive function (Nugroho, 2008). Sleep quality is one of the factors that cause cognitive impairment (Potter, et al. 2012). Mini Mental State Examination (MMSE). An instrument used to measure cognitive function. Research on the relationship of sleep quality with MMSE scores in the elderly has never been conducted in coastal areas, where coastal communities need special attention to health development efforts. This study aims to determine the relationship between sleep quality and MMSE scores in the elderly in Tambun Village, West Likupang District. This study uses a cross sectional approach. The place of research was conducted in Tambun Village, from July to October 2018. The population in the study was all elderly people in Tambun Village, as many as 85 people, and the sample of this study was the total population that met the criteria for inclusion of 63 people. This study uses the PSQI questionnaire to measure sleep quality and the MMSE questionnaire to measure cognitive function. The results of this study showed that 60.3% of elderly people had poor sleep quality and those who had good sleep quality were 39.7% of lamsia. Elderly people who experience cognitive impairment as much as 84.1% and 15.9% of elderly people have normal cognitive function. In the chi square test, p = 0.004 (p = 0.005) was obtained. There is a significant relationship between sleep quality and MMSE scores in the elderly in Tambun Village, West Likupang District.Keywords: Sleep Quality, Cognitive Function, Elderly
GAMBARAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DI WILAYAH PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN KOTA MANADO TAHUN 2019 Wullur, Christi N.; Pinontoan, Odi. R.; Sondakh, Ricky C
KESMAS Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSanitasi merupakan komponen dari kesehatan lingkungan yaitu perilaku yang harus membudayakan hidup bersih dan sehat untuk mencegah manusia supaya tidak bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan yang berbahaya. Sanitasi merupakan salah satu upaya kesehatan yang memelihara dan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak member dampak pada subjeknya yaitu dengan menyediakan air bersih yang mengalir dan juga menyediakan tempat sampah agar supaya sampah-sampah tidak dibuang sembarangan dan tidak berserakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Gambaran Hygiene Sanitasi Rumah Makan Di Wilayah Pasar Pinasungkulan Karombasan Kota Manado. Menggunakan pendekatan survei deskriptif dengan melakukan pendekatan observasi untuk mengetahui hygiene sanitasi rumah makan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember tahun 2019. Data dari Puskesmas Ranotana Weru berjumlah 81 rumah makan yang terdaftar di Wilayah Kerja Puskesmas Ranotana Weru dan sesuai obeservasi yang dilakukan peneliti mendapatkan 30 rumah makan yang ada di wilayah pasar Pinasungkulan Karombasan Kota Manado. Hasil penelitian yang didapatkan diperoleh kesimpulan 6 RM memperoleh skor ≥ 600, 10 RM memperoleh skor ≥ 500, 11 RM memperoleh skor ≥ 400, dan 3 RM memperoleh skor ≥ 300.Kata Kunci : Hygiene, Sanitasi, Rumah Makan  ABSTRACT Sanitation is a component of environmental health, which is a behavior that must cultivate a clean and healthy life to prevent humans from coming into direct contact with harmful impurities and waste. Sanitation is one of the health efforts that maintain and maintain environmental cleanliness so that it does not have an impact on the subject, namely by providing clean  water and also providing trash bins so that rubbish is not thrown away and not scattered around. This research was conducted to determine the Overview on Sanitation Hygiene at the Karasasan Pinasungkulan Market Area in Manado City. Using a descriptive survey approach by conducting an observational approach to find out restaurant sanitation hygiene. This research was conducted in December 2019. Data from Ranotana Weru Public Health Center are 81 restaurants registered in Ranotana Weru Public Health Center and according to observations conducted by researchers found 30 restaurants in the Pinasungkulan Karombasan market area in Manado. Research results obtained the conclusion is 6 restaurants gets a score of ≥ 600, 10 restaurants gets a score of ≥ 500, 11 restaurants gets a score ≥ 400, and 3 restaurants gets a score ≥ 300. Keywords: Hygiene, Sanitation, Restaurant
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA TATELU KECAMATAN DIMEMBE KABUPATEN MINAHASA UTARA Nangley, Wulan K.; Kandou, Grace D.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa balita adalah masa kehidupan yang sangat penting dan perlu perhatian yang serius karena pada masa ini berlangsung proses tumbuh kembang yang sangat pesat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pola asuh ibu dengan status gizi balita di Desa Tatelu Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara. Desain penelitian yang digunakan yaitu survey analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah balita di Desa Tatelu khususnya yang berusia 6-24 bulan dengan jumlah 61 balita. Sampel dalam penelitian ini diambil secara total sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik fisher’s Exact test diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap merawat dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U (p=1.000), PB/U (p=1.000) dan BB/PB (p=1.000). Tidak terdapat hubungan antara sikap memberi makan dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U (p=1.000), PB/U (p=0.588) dan BB/PB (p=1.000). Terdapat hubungan antara praktek merawat dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U dengan nilai p=0.001, PB/U (p=0.004), namun tidak terdapat hubungan antara praktek merawat dengan status gizi balita berdasarkan indeks BB/PB (p=1.000). Tidak terdapat hubungan antara praktek memberi makan dengan status gizi berdasarkaan indeks BB/U (p=0.659), terdapat hubungan antara praktek memberi makan dengan status gizi berdasarkan indeks PB/U (p=0.004), BB/PB (p=1.000). Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara sikap erawat anak dan sikap memberi makan dengan status gizi berdasarkan indeks (BB/U, PB/U dan BB/PB), terdapat hubungan antara praktek merawat dan praktek memberi makan dengan status gizi BB/U dan PB/U.Kata Kunci: Pola Asuh, Status GiziABSTRACTToddler is a very important period and needed an attention because growth period is rapid in this time. The purpose of this study is to determine the relationship between mother’s parenting with nutritional status of children in the Tatelu, Dimembe, North Minahasa. The research design used analytic survey with cross sectional approach. The population is toddlers 6-24 months. Samples are 61 and taken with total sampling. Based on Fisher's Exact Test statistic, there is no correlation between caring attitude with nutritional status based on BB/U index (p = 1,000), PB/U (p = 1.000) and BB/PB (p = 1,000). There is no correlation between feeding attitude with nutritional status based on index of BB/U (p = 1,000), PB/U (p = 0.588) and BB/PB (p = 1,000). There is a correlation between caring practice with nutritional status based on index of BB/U with p value = 0.001, PB/U (p = 0.004), but there is no correlation between caring practice and nutritional status based on BB/PB index (p = 1,000). There is no correlation between feeding practice with nutritional status based on index of BB/U (p = 0659), there is correlation between feeding practice with nutritional status based on PB/U index (p = 0.004), BB / PB (p = 1,000). Conclusion there is no correlation between child care attitude and feeding attitude with nutritional status based on index (BB/U, PB/U and BB/PB), there is a relationship between caring practice and feeding practice with nutritional status of BB/U and PB/U.Keywords: Parenting, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN BEBAN KERJA DENGAN KINERJA PADA PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN KOTA MANADO Fauziah, Tria; Kawatu, Paul; Mandagie, Chreisye
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beban kerja merupakan kemampuan tubuh seorang petugas pemadam dalam menerima tanggung jawab untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Kinerja adalah prestasi yang dicapai dari kemampuan kerja yang dilakukan. Apabila beban kerja yang harus ditanggung oleh petugas pemadam melebihi dari kapasitasnya, sehingga terjadi penurunan kinerja dan sering di kaitkan dengan masa kerja.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara masa kerja dan beban kerja dengan kinerja pada petugas pemadam kebakaran di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado.Penelitian ini merupakan observasi analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional.. Sampel dalam penelitian ditentukan secara random sampling dengan sampel berjumlah 90 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dengan metode wawancara.Uji dengan menggunakan uji chi square p=0,00. Hasil uji hubungan antara masa kerja dengan kinerja didapatkan p value = 0,107. Sedangkan hasil dari hubungan antara beban kerja dengan kinerja didapatkan p value = 0,000. Tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan kinerja. Dan Terdapat hubungan antara beban kerja dengan kinerja petugas pemadam kebaran.  Kata Kunci: Masa Kerja, Beban Kerja, Kinerja ABSTRACTWorkload is the ability of the body of a firefighter to accept responsibility for working on a job. Performance is an achievement achieved from the ability of work performed, If the workload that must be borne by the firefighter exceeds its capacity, so there is a decrease in performance and is often associated with years of service. This study aims to determine whether there is a relationship between working period and workload with the performance of firefighters at the Manado City Fire Department. This research is an analytic observation using a cross sectional approach. The sample in the study was determined by random sampling with a sample of 90 respondent. Data collection was conducted using a questionnaire with interview methods. Test using the chi square test p = 0.00. The results of the test of the relationship between working period and performance obtained p value = 0.107. While the result of the relationship between workload and performance was obtained p value = 0,000. There is no relationship between working period and performance. And there is a relationship between workload and firefighters' performance. Keywords : Future of Work, Workload, Performance 
HUBUNGAN ANTARA TINDAKAN TIDAK AMAN DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA TENAGA KERJA BONGKAR MUAT DI PT PELABUHAN INDONESIA IV (PERSERO) CABANG BITUNG Bagas, Ulaen H.; Kawatu, Paul A.T; Joseph, Woodford B.S
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecelakaan disebabkan oleh dua hal pokok yaitu tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman (Depkes, 2014). Tindakan tidak aman adalah suatu kegagalan dalam mengikuti persyaratan dan prosedur-prosedur kerja yang benar sehingga dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja . Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara antara tindakan tidak aman dengan kecelakaan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Cabang Bitung. Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan metode cross sectional study. Populasi berjumlah 914 responden dengan sampel 100 responden diperoleh secara simple random sampling. Variabel penelitian diukur dengan menggunakan kuesioner. Hubungan antara variabel ditentukan menggunakan uji statistik fisher exact test dengan nilai a = 0,05 dan CI = 90%. Hasil probabilitas antara tindakan tidak aman dengan kecelakaan kerja dengan nilai p= 1,000. Tindakan tidak aman (26%) dan kecelakaan kerja (19%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tindakan tidak aman dengan kecelakaan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di PT. Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Cabang Bitung.Kata Kunci: Tindakan tidak aman, kecelakaan kerjaABSTRACTAn accident caused by two things of the principal amount of pt pgn promised to supply the action is does not security and the reality of it is unsafe action ( Depkes , 2014 ) .The action is does not the safe is a failure in participating in the requirements and procedure-procedure the right work so as to cause the occurrence of the facility of employment accident. Research purposes to know the relationship between between unsafe action by accident work in labor unloading PT. Pelabuhan Indonesia IV ( Persero ) branches Bitung . The research is the survey research analytic with the methods cross sectional study .The population were 914 respondents were selected from 100 respondents obtained in simple random sampling .Research variables measured using a questionnaire .The relation between variables specified using exact statistical testing fisher test with a value of a = 0.05 and CI = 90 %. The results of the probability between unsafe action by accident working with value p = 1,000.The act of unsafe ( 26 % ) and accidents ( 19 % ). The research results show that there was no correlation between unsafe action by accident work in labor loading and unloading at PT .Pelabuhan Indonesia IV ( Persero ) the Branch BitungKeywords: unsafe action, work accident
ANALISIS PEMANFAATAN DANA KAPITASI PADA PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI FKTP PUSKESMAS WAWONASA KOTA MANADO 2018 Ontorael, Christopel; Tucunan, Ardiansa A. T.; Maramis, Franckie R.R
KESMAS Vol 7, No 3 (2018): Volume 7, Nomor 3, Mei 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Dana Kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) berdasarkan pemenuhan kapitasi berbasis komitemen (KBK) dan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Dana kapitasi juga merupakan salah satu bagian dari komitmen pemerintah dalam mengupayakan Universal Health Coverage kepada seluruh warga negaranya. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan dana kapitasi di Puskesmas Wawonasa Kota Manado. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Mei 2018. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 (orang) orang. Data diperoleh dengan metode wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis konten terhadap hasil telaah dokumen. Hasil: Pemanfaatan dana kapitasi di Puskesmas Wawonasa Kota Manado belum sepenuhnya berjalan sesuai aturan yang ada yakni Permenkes No. 21 Tahun 2016 tentang petunjuk teknis pemanfaatan dana kapitasi JKN, dimana tidak semua pelayanan kesehatan yang ada didukung oleh dana kapitasi seperti kegiatan Upaya Kesehatan Luar Gedung yang mencakup kegiatan promotif, preventif, dan kujungan rumah untuk peserta JKN, serta kurang optimalnya pemberian sosialisai oleh pimpinan dan bendahara JKN puskesmas kepada tenaga kesehatan yang ada tentang mekanisme pembagian upah jasa pelayanan kesehatan. Selain itu puskesmas memperoleh dana kapitasi dari BPJS Kesehatan tanpa melalui dinas kesehatan melainkan dengan sistem transfer ke rekening puskesmas setiap tanggal 15 bulan berjalan. Kesimpulan: Pemanfaatan dana kapitasi untuk pembagian jasa pelayanan kesehatan belum sepenuhnya optimal dan sesuai aturan yang ada. Kemudian pemanfaatan dana kapitasi untuk belanja operasional pelayanan kesehatan belum sepenuhnya mendukung kegiatan upaya kesehatan luar gedung yang merupakan bagian dari kegiatan upaya kesehatan masyarakat (UKM). Pemanfaatan dana kapitasi untuk belanja modal sudah sesuai dengan aturan yang ada, diamana pengadaan barang modal harus disesuaikan dengan kebutuhan. Saran: Untuk itu disarankan kepada pihak puskesmas agar dapat mendukung kegiatan upaya kesehatan luar gedung dengan mengalokasikan anggaran sehingga upaya kesehatan masyrakat yang mancakup kegiatan promotif dan preventif yang merupakan program wajib puskesmas akan berjalan dengan maksimal.Kata Kunci: JKN, Dana Kapitasi,, Pemanfaatan, PuskesmasABSTRACTBackground: Capitation Fund is the amount of prepaid monthly payments to a first-tier health facility (FKTP) based on the fulfillment of commitment-based capitation (KBK) and the number of registered participants regardless of the type and amount of health services provided. Capitation funding is also part of the government's commitment in arranginga universal health coverage to all its citizens. Methods: This study was conducted to understand the utilization of capitation funds at the Wawonasaprimary health center in Manado. The study was a qualitative research with descriptive approach and was conducted in April to May 2018. Number of informants in this study were 6 people. Data were obtained by in-depth interview method using interview guideline. The data were analyzed descriptively and content analysis of the document review. Results: The results of this study indicated that the utilization of capitation funds at the WawonasaPrimary Health Center in Manado was not fully proceed according to the existing regulations, namely the Regulation of Public Health Minister number 21 of 2016 concerning the technical guidance on the utilization of national health insurance capitation funds. The study found that not all the health services are supported by capitation funds, for example outdoor health services that include promotional activities, preventive activities, and home visit for national health insurance (JKN) participants. The study also found that socialization of wage distribution mechanism for health servicesby the leaders and JKN treasurer of the primary health center to existing health workers was less optimal. In addition, the primary health center receives capitation funds not through the health department but directly from the national health care security agencywith direct transfer system to the primary health center bank account every 15th of the month. Conclusion: The utilization of capitation funds for the distribution of health care services has not been fully optimal and in accordance with the rules. Then the utilization of capitation funds for operational expenditure of health services has not fully supported the activities of health efforts outside the building which is a public health effort. The utilization of capitation funds for capital expenditure is in accordance with existing rules, where the procurement of capital goods must be adjusted to the needs. Recommendation: Based on the findings in order to support the outdoor health efforts, primary health center management should allocate budget hence the public health efforts that include promotional and preventive activities which are compulsory programs can be carry out optimally.Keywords: JKN, Capitation Fund, Utilization. Puskesmas
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN PENYAKIT HIPERTENSI DENGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DI DESA TONDEGESAN KECAMATAN KAWANGKOAN KABUPATEN MINAHASA Waworuntu, Pramatia Grayni; Asrifuddin, Afnal; Kalesaran, Angela F. C.
KESMAS Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Populasi penduduk lansia diprediksi akan terus mengalami peningkatan. ditinjau dari aspek kesehatan kelompok lansia akan mengalami penurunan derajat kesehatan baik secara alamiah maupun akibat penyakit. Kualitas hidup merupakan suatu presepsi seseorang terhadap kesehatan fisik, sosial dan emosinya. Hal tersebut berkaitan dengan keadaan fisik dan emosi seseorang dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari yang ditunjang dengan adanya pemenuhan kebutuhan setiap hari. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan penyakit hipertensi dengan kualitas hidup lansia di Desa Tondgesan Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa Tahun 2019. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli ? November 2019. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh lansia yang berumur ? 60 tahun di Desa Tondegesan, dengan total populasi sebanyak 120 responden dan yang memenuhi kriteria sebanyak 83 responden. Instrumen yang digunakan yaitu WHOQOL, IPAQ dan kuesioner hipertensi dengan uji bivariat menggunakan uji Chi Square yang dengan tingkat kepercayaan 95% (? = 0,05). Terdapat 33 responden yang memiliki kualitas hidup baik pada domain fisik, 42 responden yang memiliki kualitas hidup baik pada domain psikologis, 48 responden yang memiliki kualitas hidup baik pada domain hubungan sosial, dan 44 responden yang memiliki kualitas hidup baik pada domain lingkungan. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kualitas hidup, serta terdapat hubungan antara penyakit hipertensi dengan kualitas hidup lansia di Desa Tondegesan Kecamatan Kawangkoan Kabupaten Minahasa Tahun 2019 dengan nilai p<0,05. Kata Kunci : Hipertensi, Kualitas Hidup Lansia ABSTRACT The population of the elderly is predicted to continue to increase. In terms of the health aspects of the elderly group will have a decrease in the degree of health naturally and due to disease. Quality of life is a person's perception of physical, social and emotional health. This is related to the physical and emotional state of a person in carrying out daily activities which are supported by the presence of facilities and infrastructure in the surrounding environment. The purpose of this study was to determine the relationship between physical activity and hypertension with the quality of life of the elderly in Tondgesan Village, Kawangkoan District, Minahasa Regency in 2019. The research was conducted in July - November 2019. The population in this study were all elderly people aged ? 60 years. in Tondegesan Village, with a total population of 120 respondents and fulfilling the criteria of 83 respondents. The instruments used were WHOQOL, IPAQ and hypertension questionnaire with bivariate analysis using Chi Square test with a confidence level of 95% (? = 0.05). There are 33 respondents who have a good quality of life in the physical domain, 42 respondents who have a good quality of life in the psychological domain, 48 respondents who have a good quality of life in the social relations domain, and 44 respondents who have a good quality of life in the environmental domain. The conclusion of this study is that there is a relationship between physical activity and quality of life and there is a relationship between hypertension and the quality of life of the elderly in Tondegesan Village, Kawangkoan District, Minahasa Regency in 2019 with a p value <0.05. Keywords: Hypertension, Quality of life for the elderly
GAMBARAN PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT DI RUMAH SAKIT UMUM GMIM BETHESDA TOMOHON Lalogiroth, Fellia F.; Kawatu, Paul A. T.; Langi, Fima L. F. G.
KESMAS Vol 8, No 6 (2019): Volume 8, Nomor 6, Oktober 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah sakit merupakan tempat yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan, maka dari itu rumah sakit bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan K3RS untuk menjamin dan melindungi sumber daya manusia rumah sakit melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di rumah sakit. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan informan berjumlah 5 (lima) orang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan September 2019. Hasil penelitian ini yaitu sebagian besar pelayanan K3RS telah dilaksanakan, diantaranya yaitu pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, penanganan SDM yang sakit, koordinasi tentang pencegahan dan pengendalian infeksi, pelaksanaan dan pembinaan serta pengawasan kesehatan dan keselamatan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan dan yang belum terlaksana dengan baik yaitu pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus, pendidikan atau pelatihan tentang K3, pelaksanaan kegiatan surveilans kesehatan kerja, dan evaluasi kegiatan pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja, program untuk meningkatkan kesehatan badan dan kondisi mental SDM rumah sakit, pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi, penyesuaian peralatan kerja terhadap SDM rumah sakit, pengawasan terhadap lingkungan kerja, sanitar, perlengkapan keselamatan kerja, manajemen sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran, pelatihan K3 untuk semua SDM rumah sakit, pelaporan kejadian nyaris celaka dan celaka, rekomendasi mengenai perencanaan tempat kerja terkait keselamatan. Kesimpulan pelaksanaan pelayanan kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit sudah berjalan namun belum maksimal. Disarankan agarperan tim K3RS bisa berjalan lebih maksimal dan diawasi langsung oleh pihak manajemen rumah sakit. Kata kunci : Pelaksanaan pelayanan K3RS ABSTRACTHospital is a place that has a high risk to safety and health, therefore hospital has responsibility to undertake Hospital?s Health and Safety programs in order to guarantee and protect the hospital?s human resources through efforts to prevent occupational accidents and diseases that caused by working in the hospital. This type of research is a qualitative study with 5 (five) informants. This research was conducted in July to September 2019. The results of this study are that most out health and safety activities at the hospital services have been carried out, including health checks before work, handling ill human resources, coordination about infection prevention and control, implementation and guidance and supervision of health and safety of facilities, infrastructure and health equipment and those that have not been well implemented are periodic and special health checks, education or training on occupational health and safety, the implementation of occupational health surveillance activities, and evaluation of occupational health and safety services, programs to improve body health and mental condition of hospital human resources, work environment monitoring and ergonomics, adjustments of work equipment to hospital human resources, supervision of the work environment, sanitary ware, work safety equipment, fire prevention and management system management, occupational health and safety training for all hospital human resources, reporting near miss and woe events, recommendations regarding workplace planning related to safety. Conclusion the implementation of hospital health and safety services has been running but has not been maximized. It is recommended that the role of the health and safety activities at the hospital services team can run more optimally and be supervised directly by the hospital management. Keywords: Implementation of hospital occupational health and safety
ANALISIS MIKROBIOLOGI DAN HIGIENE SANITASI PADA DEPOT AIR MINUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO Riung, Pani E.; Sondakh, Ricky C.; Umboh, Jootje M.L.
KESMAS Vol 8, No 3 (2019): Volume 8, Nomor 3, April 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia di bumi, namun seiring dengan perkembangan penduduk, kebutuhan air bersih semakin besar pula, sehingga ketersediaan air bersih sudah mulai berkurang akibat kerusakan lingkungan atau pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penduduk sekitar dan penduduk mencari berbagai alternatif air bersih untuk di minum dengan mengkomsumsi air minum isi ulang dari pengusaha depot air minum dalam memenuhi kebutuhan air minum. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas air minum depot berdasarkan parameter mikrobiologi dan higiene sanitasi DAM di wilayah kerja puskesmas Bahu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional yang menggunakan uji laboratorium dengan jumlah sampel yaitu 11 DAM dan menganalisis kualitas mikrobiologi air minum dan observasi DAM menggunakan kuesioner format pemeriksaan fisik hygiene sanitasi DAM. Hasil penelitian dari pemeriksaan mikrobiologi kualitasi air minum pada 11 DAM terdapat 4 DAM (36,4%) tercemar bakteri Escherichia Coli dan 6 DAM (54,5%) tercemar bakteri Coliform, dinyatakan tidak memenuhi syarat kualitas air minum jika tidak sesuai dengan PERMENKES RI Nomor. 492/MENKES/PER/IV/2010, dimana standar yang di tetapkan adalah bakteri Escherichia Coli, Coliform sama dengan 0/100 ml air. Hasil penilaian higiene sanitasi fisik DAM menunjukkan bahwa dari 11 DAM yang diteliti terdapat 6 DAM (54,5%) tidak memenuhi syarat kelaiakan fisik higiene sanitasi, yang di pengaruhi oleh faktor tempat, peralatan dan pejamah. Dikatakan memenuhi syarat apabila nilai bobot sudah mencapai 70 dan tidak memenuhi syarat apabila nilai bobot <70 sesuai dengan PERMENKES RI No.43 Tahun 2014.Kata Kunci: Kualitas Mikrobiologi, Higiene Sanitasi, DAMABSTRACTWater is one of the necessities of life on earth, but as the population grows, the need for clean water is growing, that the availability of fresh water has begun to decrease as a result of environmental damage or of environmental pollution caused by locals and people are looking for fresh water alternatives to drink by consuming water from the depot while supplying the drinking water needs. The purpose of this study was to determine the quality of DAM drinking water based on microbiology parameters and sanitation hygiene DAM in the area of the Bahu health center. This type of research is a descriptive study with observational approaches that used laboratory tests with the amount of samples that is 11 DAM and analyze the quality of the microbiology of drinking water and of DAM observation using questionnaire for mat examination of DAM sanitation hygiene. Studies show that a microbiology examination of the quality of drinking water at 11 DAM there were 4 DAM (36,4%) contaminated by Escherichia Coli and 6 DAM (54,5%) polluted with Coliform bacteria, it is not eligible for drinking water quality if it does not match with the PERMENKES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010, where the standard established is Escherichia Coli, Coliform is equivalent to 0/100 ml of water. The results of the physical sanitization assessment of the DAM indicate that from the 11 DAM there were 6 DAM (54,5%) physical hygiene does not quality, that are affected by place, equipment and decay. They say they qualify when they can put a weight of 70 and does not meet the requirements if the weigh value is <70 accordance with PERMEKES RI No. 43 of 2014.Keywords: Microbiology Quality, Sanitation Hygiene, DAM
TANGGUNG JAWAB HUKUM PEMERINTAH KABUPATEN MINAHASA TERHADAP PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM USAHA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG Rantung, Margereth Inof Riisyie; Sondakh, Jemmy; Lumunon, Theodorus H.
KESMAS Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Maret 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sesuai amanat Undang-undang bahwa merupakan tanggung jawab pemerintah untuk merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat”. Maka dalam pengaturannya, kualitas air minum yang dapat didistribusikan ke masyarakat ada di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Di dalam keputusan tersebut juga telah dijelaskan bahwa pengawasan telah menjadi tanggung jawab dinas kesehatan Kabupaten/Kota. Berdasar kasus-kasus yang terjadi sekarang ini, muncul suatu permasalahan tentang penyediaan air minum isi ulang yang depot-depotnya juga telah menjamur dikalangan masyarakat. Metode penelitian yang dipakai yaitu penelitisn hukum normatif yang bersifat yuridis normatif. Yang pendekatannya menggunakan peraturan perundang-undangan. Sumber data yang digunakan yaitu Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang Nomor 9 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan Kedua Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dan berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengawasan kualitas air minum. Pengumpulan data digunakan dengan cara studi kepustakaan. Hasil penilitian menyatakan bahwa bentuk pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Minahasa terhadap kualitas air minum usaha Depot Air Minum Isi Ulang tidak maksimal. Hal ini terllihat dari sistem perizinan yang lemah karena didapati masih banyak DAMIU yang beroperasi saat ini tidak memiliki izin. Selain itu  implementasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa yang tidak berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya DAMIU yang tidak memiliki Sertfikat Laik Higiene, dimana sertifikat itu diperoleh dengan cara melakukan pemeriksaan sampel air DAMIU secara berkala oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa. Dapat disimpulkan bahwa merupakan tanggung jawab pemerintah Kabupaten Minahasa untuk melakukan pengawasan terhadap kualitas air minum Usaha Depot Air Minum Isi Ulang baik kepada Dinas Kesehatan kabupaten Minahasa maupiun kepada pelaku usaha.  Kata Kunci: Tanggung jawab, pemerintah daerah, pengawasan, kualitas air minum. ABTRACTIn accordance with the mandate of the Act that it is the responsibility of the government to plan, organize, organize, nurture, and oversee the implementation of health efforts that are equitable and affordable by the community. Therefore, in the regulation, the quality of drinking water that can be distributed to the public is in the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010 on Water Quality Requirements. In the decree, it has also been explained that the supervision has been the responsibility of the Regency / City health office. Based on current cases, a problem arises about the provision of refill drinking water whose depots have also mushroomed among the community. The research method used is normative juridical normative law research. The approach uses legislation. Sources of data used are the 1945 Constitution, Law Number 9 Year 1999 on Consumer Protection, Law Number 36 Year 2009 on Health, Law Number 9 Year 2015 on the Second Amendment of Law Number 23 Year 2014 regarding Regional Government, and various laws related to water quality control. Sources of data are also taken from books and legal journals. The result of the research indicates that the supervisory form conducted by Minahasa Regency government on drinking water quality of drinking water drink business is not maximal. This is evident from the weak licensing system because there are still many DAMIUs operating today that do not have permits. In addition, the implementation of the Minahasa District Health Office did not work well. This can be seen from the number of DAMIU that do not have the Certificate of Hygiene Hygiene, where the certificate was obtained by conducting DAMIU water sampling periodically by the Minahasa District Health Office. It can be concluded that it is the responsibility of the Minahasa Regency government to supervise the drinking water quality of the Drinking Water Refill Depot both to the Minahasa District Health Office to the business actors.  Keywords: Responsibility, local government, supervision, drinking water quality.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 4 (2025): KESMAS, Oktober - Desember Vol. 13 No. 1 (2024): VOLUME 13, NOMOR 1, Januari - Maret Vol. 12 No. 2 (2023): VOLUME 12, NOMOR 2, April - Juni 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): VOLUME 12, NOMOR 1, Januari - Maret 2023 Vol. 11 No. 4 (2022): VOLUME 11, NOMOR 4, Oktober - Desember 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): VOLUME 11, NOMOR 4, JULI 2022 Vol 11, No 2 (2022): VOLUME 11, NOMOR 2, JANUARI 2022 Vol 11, No 1 (2022): VOLUME 11, NOMOR 1, JANUARI 2022 Vol 10, No 8 (2021): VOLUME 10, NOMOR 8, AGUSTUS 2021 Vol 10, No 7 (2021): VOLUME 10, NOMOR 7, JULI 2021 Vol 10, No 6 (2021): VOLUME 10, NOMOR 6, JUNI 2021 Vol 10, No 5 (2021): VOLUME 10, NOMOR 5, MEI 2021 Vol 10, No 4 (2021): VOLUME 10, NOMOR 4, APRIL 2021 Vol 10, No 3 (2021): VOLUME 10, NOMOR 3, MARET 2021 Vol 10, No 2 (2021): VOLUME 10, NOMOR 2, FEBRUARI 2021 Vol 10, No 1 (2021): VOLUME 10, NOMOR 1, JANUARI 2021 Vol 9, No 7 (2020): VOLUME 9, NOMOR 7, DESEMBER 2020 Vol 9, No 6 (2020): VOLUME 9, NOMOR 6, OKTOBER 2020 Vol 9, No 5 (2020): VOLUME 9, NOMOR 5, SEPTEMBER 2020 Vol 9, No 4 (2020): VOLUME 9, NOMOR 4, JULI 2020 Vol 9, No 3 (2020): VOLUME 9, NOMOR 3, MEI 2020 Vol 9, No 2 (2020): VOLUME 9, NOMOR 2, MARET 2020 Vol 9, No 1 (2020): VOLUME 9, NOMOR 1, JANUARI 2020 Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019 Vol 8, No 6 (2019): Volume 8, Nomor 6, Oktober 2019 Vol 8, No 5 (2019): Volume 8, Nomor 5, Juli 2019 Vol 8, No 4 (2019): Volume 8, Nomor 4, Mei 2019 Vol 8, No 3 (2019): Volume 8, Nomor 3, April 2019 Vol 8, No 2 (2019): Volume 8, Nomor 2, Maret 2019 Vol 8, No 1 (2019): Volume 8, Nomor 1, Januari 2019 Vol 7, No 6 (2018): Volume 7, Nomor 6, November 2018 Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018 Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018 Vol 7, No 3 (2018): Volume 7, Nomor 3, Mei 2018 Vol 7, No 1 (2018): Volume 7, Nomor 1, Januari 2018 Vol 6, No 4 (2017): Volume 6, Nomor 4, Juli 2017 Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017 Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Maret 2017 Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 Nomor 1, Januari 2016 Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015 Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No. 1 Januari 2015 Vol 3, No 1 (2014): VOLUME 3 NOMOR 1, Januari 2014 Vol 1, No 1 (2012): Volume 1, Nomor 1, Januari 2012 More Issue