cover
Contact Name
Jamil Suprihatiningrum
Contact Email
inklusi@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-515856
Journal Mail Official
inklusi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/inklusi/ET
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Inklusi Journal of Disability Studies
ISSN : 23558954     EISSN : 25809814     DOI : https://doi.org/10.14421/ijds
Core Subject : Social,
INKLUSI accepts submission of manusciprts on disability issues from any discipline. We are promoting an interdisciplinary approach to work on disability rights and social inclusion of the people with disabilities.
Articles 183 Documents
Parenting Stress and Physical Abuse against Children with Disabilities Nur Aini, Rizqi; Susanto, Tantut; Rasni, Hanny
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.186 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070107

Abstract

Children with disabilities often experience physical violence committed by caregivers. This study aims to identify the relationship between stress in caring for physical violence committed against children with disabilities. The study used a cross-sectional design to examine 76 parents with children with disabilities selected by convenience sampling techniques. Of the 76 participants, 35 (46.1%) parents physically abused children with disabilities. The most common type of violence is hitting (74.3%). Parenting stress may be felt by parents because there is a relationship between caregiving stress with physical violence (Z= -2.85; p-value= 0.004). Lack of access to information related to adaptive care makes parents in Indonesia still consider physical violence, such as hitting children, is a natural thing. The research concludes that there is a relationship between parental stress and physical violence against children with disabilities. Health workers are expected to be able to teach parents how to improve coping mechanisms to reduce parenting stress so that parenting behavior becomes adaptive.[Anak difabel sering mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh pengasuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara stres dalam pengasuhan dengan kekerasan fisik yang dilakukan terhadap anakdifabel. Penelitian menggunakan desain cross-sectional untuk meneliti 76 orang tua dengan anak difabel yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Dari 76 partisipan, 35 (46,1%) orang tua melakukan kekerasan fisik terhadap anak difabel. Jenis kekerasan yang paling banyak dilakukan adalah memukul (74,3%). Stres pengasuhan mungkin dirasakan oleh orang tua karena terdapat hubungan antara stres pengasuhan dengan kekerasan fisik (Z=-2,85; p-value = 0.004). Kurangnya akses informasi terkait pengasuhan yang adaptif menyebabkan orang tua di Indonesia masih menganggap kekerasan fisik seperti memukul anak merupakan hal yang wajar. Penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara stres pengasuhan dengan kekerasan fisik terhadap anak difabel. Tenaga kesehatan diharapkan dapat mengajarkan orang tua dalam meningkatkan mekanisme koping untuk menurunkan stres pengasuhan sehingga perilaku pengasuhan menjadi adaptif.]
Freedom from Choice? The Rollout of Person-centered Disability Funding and the National Disability Insurance Scheme Hall, Tania; Brabazon, Tara
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.195 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070102

Abstract

Person-centered funding models are replacing block-funding models in the disability services sector.  Australia is part of this international trend.  Concerns have been raised by service providers, suggesting that people with disabilities are not benefiting from this system.  This paper evaluates the views of service providers from a large non-government organization in South Australia, responsible for leading the transition from a block-funded model of support to a person-centered model of support.  Two focus groups were conducted.  Two themes emerged from these focus group discussions: customers with disabilities are vulnerable in the market, and marketizing disability services compromises quality.  Neoliberal ideologies and market-based values frame the challenges and opportunities for not-for-profit organizations when transitioning to person-centered funding for disability support.  This research both enlivens and confirms the existing research literature.  Although person-centered funding models offer a socially just model, there is evidence that unintended consequences emerge in an open and competitive quasi-market.  This study reveals that the competitive market design had stopped trans-sector collaboration. [Saat ini, model pendanaan berbasis orang banyak menggantikan model pendanaan-blok di sektor layanan disabilitas. Australia adalah bagian dari tren internasional ini. Lembaga layanan sosial khawatir bahwa para difabel tidak akan mendapatkan manfaat dari sistem ini. Artikel ini meninjau pandangan penyedia layanan dari organisasi non-pemerintah besar di Australia Selatan. Dua FGD dilakukan dalam riset ini. Dua tema muncul dari FGD: pelanggan difabel mengalami kerentanan di pasar dan ‘swastanisasi’ layanan disabilitas mengganggu kualitas. Ideologi neoliberal dan nilai berbasis-pasar menyajikan tantangan dan peluang bagi organisasi nirlaba ketika beralih ke pendanaan berbasis orang dalam layanan disabilitas. Penelitian ini mengonfirmasi literatur penelitian yang sudah ada. Meskipun model pendanaan berbasis orang menawarkan model yang adil secara sosial, ada bukti bahwa konsekuensi yang tidak diinginkan dapat muncul dalam pasar kuasi terbuka dan kompetitif. Studi ini mengungkapkan bahwa desain pasar yang kompetitif telah menghentikan kolaborasi lintas sector.]
Kekuasaan dalam Relasi Bahasa: Refleksi Pengalaman Penutur Bahasa Isyarat di Yogyakarta Wahyudin, Yogi Maulana
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.496 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070103

Abstract

This study documents and reflects the experience of Sign Language speakers in Yogyakarta. The reflection is then negotiated with the grand narrative of linguistic justice, which has been unwittingly narrated by the domination of knowledge viewed mainly in the perspective of the hearing. This study uses ethnographic methods focusing on a broad process of observation of the subject's experience. The findings of this study are: First, the experience of members of the Deaf community in promoting linguistic justice for Sign Language is a process of cultural relocation and hybridization. The dynamics that occur are related to the acceptance and rejection of Deaf culture in multicultural societies. Secondly, this study found a link between the process of marginalization of the Deaf culture and the intensity of power in inter-language relations. [Penelitian ini mendokumentasikan dan merefleksikan pengalaman penutur Bahasa Isyarat di Yogyakarta. Refleksi itu kemudian dinegosiasikan dengan narasi besar keadilan linguistik yang selama ini tanpa disadari dinarasikan oleh dominasi-pengetahuan yang bias ‘orang dengar’. Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang difokuskan pada proses pengamatan yang luas terhadap pengalaman subjek. Temuan penelitian ini adalah: Pertama, pengalaman anggota komunitas Tuli dalam mempromosikan keadilan linguistik bagi Bahasa Isyarat merupakan proses relokasi dan hibridisasi kultural. Dinamika yang terjadi berhubungan dengan penerimaan dan penolakan budaya Tuli dalam masyarakat multikultur. Kedua, penelitian ini menemukan kaitan antara proses marginalisasi budaya-Tuli dengan intensitas kuasa dalam relasi antar bahasa.]
Ibu dan Politik Pengasuhan Anak Penyandang Disabilitas Intelektual Fitriyah, Anis
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.907 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070104

Abstract

Parenting of children with intellectual disability is generally highlighted from the perspective of the mother’s psychological experience and contribution to parenting. In practice, only a few publications raise the issue from the perspective of the mother as a woman. This study aims to answer the question of how the politics of parenting and agency mothers in caring for children with intellectual disabilities in Yogyakarta. This study is based on ten months of fieldwork and the experience of ten mothers with intellectual disabilities children. The results showed: First, as caregivers without authority, mothers lack the right to educate children to be independent. Second, mothers are subject to the control of others who have a strong influence in determining the perceptions and processes of caring for the children. Mothers are often the ones to blame by professionals, activists, the community, families, and children when the care process does not go as they wish. Third, in terms of agency, mothers choose to educate the community, negotiate, and involve children in the creative activities. Fourth, the mother redefined the meaning of independence.[Pengasuhan anak penyandang disabilitas intelektual umumnya ditinjau dari perspektif pengalaman psikologis ibu dan kontribusinya dalam mengasuh. Praktiknya, hanya sedikit publikasi yang mengangkat isu pengasuhan dari perspektif ibu sebagai seorang perempuan. Kajian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana politik pengasuhan dan agency ibu dalam mengasuh anak penyandang disabilitas intelektual di Yogyakarta. Penelitian ini mengacu ke sepuluh bulan kerja lapangan dan pengalaman sepuluh ibu dengan anak penyandang disabilitas intelektual. Makalah ditulis dengan pendekatan fenomenologi dan dianalisis dengan teori feminist ethics. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, sebagai pengasuh tanpa otoritas, ibu tidak mendapat hak melatih anak menjadi independen. Kedua, ibu menjadi sasaran kontrol para profesional yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan persepsi dan proses pengasuhan anak penyandang disabilitas intelektual. Ibu sering kali menjadi pihak yang disalahkan oleh para profesional, aktivis organisasi difabel, masyarakat, keluarga, dan anak ketika proses pengasuhan tidak berjalan sebagaimana harapan mereka. Ketiga, dalam hal agency, ibu memilih melakukan edukasi kepada masyarakat, bernegosiasi, dan mengikutsertakan anak pada ajang kreativitas. Keempat, ibu meredefinisi makna independensi. ]
Kekuatan Karakter Relawan Muda bagi Penyandang Disablilitas Rahajeng, Unita Werdi; Widyarini, Ika; Ilhamuddin, Ilhamuddin
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.263 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070105

Abstract

Being a young volunteer provides an opportunity for volunteers to build stronger awareness of social issues, such as the fulfilment of equal rights for persons with disabilities. For young volunteers, participation in volunteerism can form strong characters. This research attempts to describe the forms of strength of character in young volunteers for persons with disabilities and their development. Data collection methods used were Online Survey (Study 1) and Nominal Group Technique and Focus Group Discussion (Study 2). Both studies involved young volunteers in communities and organizations with disabilities in Malang Regency and Kota aged between 18-30 years (Study 1 with N = 59 people and Study 2 with N = 6 people). From the research, it is found that the character strength becomes the modality of participation as a volunteer and develops in the process of involvement of young volunteers for persons with disabilities.[Aktivitas sebagai relawan muda menyediakan kesempatan bagi pelakunya untuk membangun kesadaran yang lebih kuat terkait dengan isu-isu sosial, termasuk kesadaran terkait pemenuhan kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas. Bagi para relawan muda, partisipasi dalam aktivitas berbasis kesukarelawanan dapat membentuk beberapa kekuatan karakter, antara lain kekuatan karakter yang dicetuskan oleh Peterson & Seligman (2004). Penelitian ini berusaha menggambarkan bentuk-bentuk kekuatan karakter dalam diri relawan-relawan muda bagi penyandang disabilitas dan perkembangannya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Online Survey (Study 1) dan Nominal Group Technique serta Focus Group Discussion (Study 2). Kedua study tersebut melibatkan relawan muda di komunitas dan organisasi penyandang disabilitas kabupaten dan kota Malang berusia antara 18 - 30 tahun. (Studi 1, N= 59 orang dan Studi 2, N= 6 orang).  Dari penelitian ini didapatkan gambaran kekuatan karakter yang menjadi modalitas partisipasi sebagai relawan dan berkembang dalam proses keterlibatan para relawan muda bagi penyandang disabilitas.]
Perancangan Tactile Picture Book untuk Siswa Tunanetra di Sekolah Dasar Sekarlintang, Nuriana
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1450.016 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070106

Abstract

According to the Ministry of Social Affairs census in 2012, 338.672 residents in Indonesia live with visual impairment, of which the 11.995 are children. Visually impaired children have the right to proper education facilities. Nevertheless, in Indonesia, the educational media for visually impaired children are still minimal. Children who are just learning to read the braille have difficulty reading braille texts because the system is quite complex, and the media is still conventional. The tactile picture book is a picture book that is read by touch. Children can understand images in a tactile picture book, particularly in terms of illustrations, layouts, colors, and themes adapted to Indonesian children's culture. Tactile picture books can be a medium for introducing braille letters to children in a more effective and fun way as well as media to understand the concepts and environment around them.[Menurut sensus Kementrian Sosial pada tahun 2012, sebanyak 338.672 penduduk Indonesia adalah tunanetra kategori low vision hingga totally blind, dari jumlah tersebut 11.995 diantaranya adalah anak-anak. Anak tunanetra berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai. Namun di Indonesia, media edukasi untuk anak-anak tunanetra masih sangat terbatas. Anak-anak yang baru belajar membaca kesulitan untuk membaca teks braille karena sistemnya yang cukup kompleks dan medianya yang masih konvensional. Tactile picture book merupakan buku bergambar yang dibaca dengan perabaan. Gambar dalam tactile picture book dapat dimengerti oleh anak dengan beberapa ketentuan khusus mengenai ilustrasi, layout, warna, dan tema yang disesuaikan dengan kultur anak Indonesia. Tactile picture book dapat menjadi media pengenalan huruf braille kepada anak dengan cara yang lebih efektif dan menyenangkan sekaligus media untuk memahami konsep dan lingkungan di sekitar mereka.]
Pemenuhan Hak Difabel di UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta Juwantara, Ridho Agung
INKLUSI Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.070204

Abstract

This study aims to reveal efforts to fulfill the rights of people with disabilities at Sunan Kalijaga State Islamic University (UIN) and Atma Jaya University, Yogyakarta. Data collection was carried out by interview, observation, and document study. Interviews were conducted with university leaders, heads of service units, lecturers, and students with disabilities. The results showed that: 1) UIN Sunan Kalijaga has made accessible rules and policies, while Atma Jaya University has not had a real policy; 2) The physical facilities and infrastructure on both campuses are quite accessible. However, there is still a need to expand accessibility in all faculties; 3) Fulfillment of resources and behavior on both campuses can reduce environmental barriers typically faced by people with disabilities.[Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap upaya pemenuhan hak difabel di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Data diperoleh dari para pimpinan kampus, kepala unit layanan, dosen, dan mahasiswa difabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) UIN Sunan Kalijaga sudah membuat aturan dan kebijakan yang aksesibel, sedangkan Universitas Atma Jaya belum mempunyai kebijakan yang nyata; 2) Sarana dan prasarana fisik di kedua kampus sudah cukup aksesibel, namun masih dibutuhkan perluasan dan pemerataan di semua fakultas; 3) Pemenuhan sumber daya dan perilaku di kedua kampus sudah dapat mereduksi hambatan lingkungan yang biasanya dihadapi oleh para difabel.]
Kurikulum Modifikasi dalam Praktik Pendidikan Inklusif di SD Al-Firdaus Holifurrahman, Holifurrahman
INKLUSI Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.070205

Abstract

Most of the schools selected as providers of inclusive education are generally not yet prepared. This study aims to provide an overview of modified curriculum management implemented with cluster and pull-out learning models for students with disabilities at SD Al-Firdaus Surakarta. They were awarded the best inclusive school at the national level in 2012. Qualitative research is used to produce a comprehensive description of managerial steps, starting from planning, organizing, implementing, and evaluating the modified curriculum with the cluster learning model and pulling out students with disabilities. Based on data obtained from interviews, observations, and documents, this study concluded that an inclusive school requires modification in many ways and adapting to the needs of individual students with disabilities.[Kebanyakan sekolah yang ditunjuk sebagai penyelenggara pendidikan inklusif umumnya belum memiliki kesiapan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran manajemen kurikulum modifikasi yang diimplementasikan dengan model pembelajaran klaster dan pull-out bagi siswa difabel di SD Al-Firdaus Surakarta yang pernah mendapatkan penghargaan sekolah inklusif terbaik tingkat nasional pada tahun 2012. Penelitian kualitatif digunakan untuk menghasilkan paparan yang komprehensif mengenai langkah-langkah manajerial, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum modifikasi dengan model pembelajaran klaster dan pull-out bagi peserta didik difabel. Berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumen, penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk menjadi sekolah inklusif diperlukan modifikasi dalam berbagai aspek kurikulum dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik.]
Universitas Inklusif: Kisah Sukses atau Gagal? Maftuhin, Arif; Aminah, Siti
INKLUSI Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.070206

Abstract

This article aims to answer one of the essential questions in the implementation and promotion of inclusive education in Indonesia, particularly inclusive higher education. Referring to the case of the State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, this research seeks to show the success of inclusive education in higher education through a career tracking (tracer study) of alumni with disabilities who graduated between 2011-2018. Data were collected through online surveys and interviews, either face-to-face or distance ones, to answer subjective and objective indicators of alumni success. This study found that students with disabilities were successfully studying at UIN Sunan Kalijaga. Their study time is relatively average (8-10 semesters). The alumni with disabilities have also succeeded in finding decent jobs matching to their diplomas and obtained satisfaction in terms of careers and income.[Artikel ini bertujuan menjawab salah satu pertanyaan penting dalam implementasi dan promosi pendidikan inklusif di Indonesia, khususnya dalam pendidikan tinggi inklusif. Dengan mengambil kasus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, penelitian ini membuktikan keberhasilan pendidikan inklusif di perguruan tinggi melalui pelacakan karier (tracer study) para alumni difabel yang telah diluluskan UIN Sunan Kalijaga sejak 2008-2018. Data dikumpulkan melalui survei daring dan wawancara, baik secara tatap muka atau jarak jauh, untuk menjawab indikator-indikator subjektif dan objektif keberhasilan dan kegagalan alumni. Penelitian menunjukkan bahwa pada saat kuliah para difabel telah berhasil menjalani proses kuliah di UIN Sunan Kalijaga dengan baik. Waktu tempuh belajar mereka relatif normal dan beberapa pengecualian dapat menyelesaikan studi dengan cepat (tujuh semester). Para alumni juga berhasil memperoleh pekerjaan yang layak, sesuai ijazah, dan mendapatkan kepuasan dalam hal karier dan penghasilan.]
Pengalaman Mahasiswa Tuli di Ruang Komunal Universitas Mercu Buana Harahap, Rachmita Maun; Lelo, Lelo
INKLUSI Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.070201

Abstract

Deaf students have their characteristics in carrying out social interactions. Their distinctive social interactions influence the communal space setting on the Meruya campus of Mercu Buana University. This study uses a qualitative method and derives its approach from the emerging concept of deaf space architecture. Data were collected by mapping the behavior of deaf students, observation, and interviews. The results showed that behavior, activities, and spatial dimensions influenced the formation of communal spaces. Deaf students tend to rely on visual senses, which are controlled by spatial experiences in their activities. Deaf students tend to choose a gathering room that can provide easy access to move, which includes distance and density (deaf space), sensory reach, mobility, and the ability to provide high visibility to find out the presence of lecturers and an accessible parking area.[Mahasiswa Tuli memiliki karakteristik tersendiri dalam melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial mereka yang khas mempengaruhi setting ruang komunal di kampus Meruya Universitas Mercu Buana. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deaf space. Data dikumpulkan melalui pemetaan perilaku mahasiswa Tuli, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan ruang komunal dipengaruhi oleh perilaku, aktivitas, dan dimensi ruang. Mahasiswa Tuli cenderung mengandalkan indra visual yang dipengaruhi oleh pengalaman ruang dalam beraktivitas. Mahasiswa Tuli cenderung memilih ruang berkumpul yang mampu memberikan kemudahan akses bergerak yang meliputi jarak dan kerapatan (deaf space), jangkauan sensori, mobilitas dan kemampuan memberikan visibilitas yang tinggi untuk mengetahui kehadiran dosen serta area parkir yang aksesibel.]

Page 11 of 19 | Total Record : 183