cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
BENTUK DEKONSTRUKSI IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL OUT DAN GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO I Gusti Ayu Andani Pertiwi; I Nyoman Darma Putra; Ida Ayu Laksmita Sari
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.559 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.487.15-30

Abstract

Novel Bebas dan Grotesque: Gaib adalah karya sastra Natsuo Kirino yang mengangkat topik mengenai realita sosial di Jepang. Isu-isu yang diangkat di dalam novel tidak jauh dari bahasan mengenai gender di Jepang serta narasi seksualitas yang dihadirkan melalui isu enjokousai (prostitusi). Penelitian ini berusaha mengungkap bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang dilakukan oleh pengarang dalam novel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data studi pustaka. Data-data dikumpulkan dari kedua novel dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teori dekonstruksi dan teori feminisme. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pengarang mendekonstruksi wacana-wacana ketimpangan gender dan seksualitas di Jepang kemudian menuangkannya ke dalam bentuk teks-teks sastra. Bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang ditampilkan pengarang dalam kedua novel tersebut yaitu ideologi gender yang memertahankan peran gender konvensional dan ideologi gender yang mengikuti perkembangan zaman. Natsuo Kirino’s Out and Grotesque raises the topic of social reality in Japan. The issues raised in the novel are not far from the discussion of gender and the narrative of sexuality, which is presented through the issue of enjokousai (prostitution). This research attempts to uncover the forms of gender ideology deconstruction carried out by the author in the novel. This research is a qualitative research with literature study method. Data is collected from both novels and then analyzed using deconstruction theory and feminism theory. The results of the study show that the author deconstructed the discourse of gender inequality and sexuality in Japan and then poured it into the form of literary texts. The form of gender ideology deconstruction is gender ideology that follows the passage of time. Each character depicted is no longer influenced by the conventional order of Japanese society regarding how men and women should be. Instead, they choose to go by their own rules of life.Keywords: deconstruction, ideology, gender, Natsuo Kirino   
RELIGIOSITAS MASYARAKAT BETAWI DALAM FOLKLOR Syarif Hidayatullah
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.319 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.478.79-94

Abstract

Identitas religiositas masyarakat Betawi begitu kental yang dapat dilihat dalam perayaan-perayaan budayanya. Faktor ini salah satunya dipengaruhi oleh tradisi sastra lisan yang berkembang di masyarakat Betawi yang memunculkan religiositas masyarakatnya sehingga menjadi alat pembelajaran bagi generasi penerusnya. Dalam upaya tersebut penelitian ini berupaya untuk menganalisis religiositas masyarakat Betawi dalam folklor, khususnya dalam cerita rakyat. Untuk itu, metode yang digunakan adalah analisis isi. Data penelitian ini bersumber dari Cerita Rakyat Betawi I dan Cerita Rakyat Betawi II. Data tersebut kemudian diolah dengan tiga tahap, yaitu reduksi data, model data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk religiositas masyarakat Betawi berupa kepercayaan, praktik beragama, perasaan religius, pengetahuan religius, dan efek religius. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Betawi memiliki kematangan religiositas yang tinggi terhadap kepercayaan yang dianutnya.The religiosity identity of the Betawi community is so thick that it can be seen in its cultural celebrations. This factor is one of them influenced by oral literary traditions that developed in the Betawi community which gave rise to the religiosity of the community so that it became a learning tool for the next generation. In this effort this research attempts to analyze the religiosity of the Betawi community in folklore, especially in prose (folklore). For this reason, the method used is descriptive qualitative. The research data comes from Cerita Rakyat Betawi I and Cerita Rakyat Betawi II. The data is then processed in three stages, namely data reduction, data model, and withdrawal / verification conclusions. The results of this study show the form of religiosity of the Betawi community in the form of religious belifes, religious practices, religious feeling, religious knowledge, and religious effects. Based on this, it can be concluded that the Betawi community has a high religiosity maturity towards the beliefs it adheres to.Keywords: religiosity, Betawi society, folklore
STRATA SOSIAL MASYARAKAT JAWA SEBAGAI BAHASA NONVERBAL STATIS : KAJIAN ETNOPRAGMATIK Pranowo Pranowo; Ratna Susanti
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.694 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.548.135-150

Abstract

Artikel ini membahas strata sosial masyarakat Jawa sebagai bahasa nonverbal statis yang dikaji secara etnopragmatik. Kajian ini merupakan kajian interdisipliner antara teori etnografi dan pragmatik. Teori etnografi adalah kajian yang menggambarkan budaya suatu masyarakat, sedangkan kajian pragmatik pada dasarnya menggambarkan penggunaan bahasa berdasarkan konteks. Dengan demikian, kajian etnopragmatik adalah kajian penggunaan bahasa berdasarkan konteks budaya masyarakat pemiliknya. Tujuan penelitian adalah menggambarkan wujud, fungsi, dan makna pragmatik yang terdapat dalam strata sosial masyarakat Jawa. Desain yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan perekaman. Analisis data dilakukan melalui langkah konkret (a) identifikasi data, (b) klasifikasi data, dan (c) interpretasi data. Temuan hasil penelitian berupa (a) strata sosial tingkat kepriyayian, (b) strata sosial kedudukan seseorang di dalam masyarakat, (c) strata sosial yang diungkapkan secara metaforis, (d) strata sosial dalam memilih jodoh, (e) strata sosial temu trah, dan (d) strata sosial bias gender.This article aims to identify the social strata of Javanese society as a static nonverbal language that is studied ethnopragmatically. This study is an interdisciplinary study of ethnographic and pragmatic theories. The theory of ethnography is a study that describes the culture of a society, while pragmatic studies basically describe the use of language based on context. Thus, ethnopragmatics review is the study of language use based on the cultural context of the owner’s community. The purpose of this study is to describe the form, function, and pragmatic meaning contained in the social strata of Javanese society. The design used in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques used were observation, interviews, and recording. The data collection techniques used were carried out for two months (January-February 2020) by recording public speech in the Sleman area of Yogyakarta as a random sampling informant Data analysis was performed through concrete steps, namely: (a) data identification, (b) data classification, and (c) data interpretation. Data validity test was used data triangulation techniques, namely data triangulation and theory’s triangulation. The findings of the research are (a) social strata at the community level, (b) social strata of a person’s position in society, (c) social strata expressed metaphorically, (d) social strata in choosing a mate, (e) social layers of meeting, and (d) social strata of gender bias. Keywords: nonverbal language, ethnopragmatics, social level
BENTUK DAN LATAR BELAKANG MUNCULNYA HATE SPEECH DALAM BAHASA ARAB: ANALISIS MORFOLOGI DAN PRAGMATIK Muhammad Yunus Anis
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.919 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.447.119-134

Abstract

Penelitian ini mengelaborasi lebih dalam satuan kebahasaan yang selama ini digunakan oleh masyarakat dalam mengungkapkan ujaran kebencian dalam bahasa Arab. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah satuan kebahasaan yang ada dalam koran berbahasa Arab, baik berupa kata, frasa, maupun kalimat yang menjadi unsur penting munculnya sebuah ujaran kebencian. Penelitian ini menggunakan pendekatan bahasa, khususnya dalam ranah morfologis dan pragmatis. Ranah morfologis terkait dengan kosakata yang digunakan dalam mengungkapkan ujaran kebencian bahasa Arab. Adapun ranah pragmatis terkait beberapa kasus yang menjadi latar belakang utama munculnya ujaran kebencian dalam bahasa Arab. Rumusan masalah pertama dalam penelitian ini terkait dengan bagaimana bentuk-bentuk ujaran kebencian dalam bahasa Arab ditinjau dari satuan bahasa yang menyusunnya. Adapun rumusan masalah kedua dalam penelitian ini berhubungan dengan bagaimana latar belakang munculnya ujaran kebencian dalam bahasa Arab. Metode penelitian dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) analisis data, dan (3) laporan hasil. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat beberapa satuan kebahasaan yang ada dalam beberapa koran berbahasa Arab yang terkoneksi pada media sosial Instagram. Analisis data diterapkan dengan menggunakan metode distribusional yang diperkuat dengan metode analisis konten. Adapun laporan hasil dilakukan secara informal dalam bentuk deskripsi. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa secara struktural bentuk ujaran kebencian dapat berupa kata, frasa, dan kalimat (predikatif). Adapun secara pragmatis, ujaran kebencian dapat dilatarbelakangi oleh ujaran yang melanggar prinsip kesantunanThis research will elaborate comprehensively the units of language which had been used by Arab people to express the hatred. The main data in this research had been collected by observing the units of language in Arab Daily Newspaper. In this case, the units of language can be divided into: word, phrase, and sentence which emerged as the main cause of hatred speech. This research dominantly used the approaches in morphology and pragmatic. The morphology analysis related with the construction of hate speech based on the elaboration of units of language. Meanwhile, the pragmatic analysis tried to elaborate some cases which had been justified as the main causal factors in Arabic hate speech. The method in this research had been divided into three basic steps, (1) collecting the data, (2) analyzing the data, and (3) reporting the result. The first step had been used the observation and recording/ noting the units of language which classified as hatred speech in Arabic daily news. The data had been focused in the Arabic daily news which connected to social media of Instagram. The data analysis had been divided into two main steps, such as distributional method and content analysis of hatred speech in Arabic language. The final step was reporting the result which had been used the informal method and description reporting. The result of the research had been concluded that the hatred speech in Arabic language can be expressed by using the units of language, such as: (1) the word, (2) the phrase, and (3) the sentence (predicative construction). Finally, based on the pragmatic approach, the causal factor of hate speech in Arabic language can be defined by the speech which contravened the principles of politeness. Keywords: hatred, speech, morphology, pragmatic, politeness
DIKSI DALAM BUKU KUMPULAN PUISI SURAT KOPI KARYA JOKO PINURBO SEBAGAI BAHAN AJAR Kun Andyan Anindita; Soediro Satoto; Sumarlam Sumarlam
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.809 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.241.67-78

Abstract

AbstrakPenelitian ini menguraikan tentang diksi yang dipilih oleh Joko Pinurbo dalam sepuluh puisi yang bertemakan surat dan tergabung dalam buku kumpulan puisi Surat Kopi dengan menggunakan pendekatan stilistika. Puisi-puisi tersebut antara lain “Surat Cukur”, “Surat Kopi”, “Surat Kau”, “Surat Batu”, “Surat Pulang”, “Surat Libur”, “Surat Sarung”, “Surat Malam”, “Surat Senyap”, “Surat Kabar”. Pendekatan stilistika dipilih karena stilistika merupakan salah satu disiplin ilmu linguistik yang mengkaji keunikan atau kekhasan pemakaian bahasa dalam karya sastra terutama puisi yang dapat mendatangkan efek-efek tertentu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian jenis deskriptif kualitatif ini digunakan untuk menyangkut penjelasan mengenai aspek yang akan dideskripsikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam sepuluh puisi yang bertemakan surat tersebut terdapat 4 jenis diksi yang digunakan yaitu diksi denotasi, konotasi, konkret, dan abstrak. Diksi denotasi dan konkret menjadi diksi yang banyak digunakan dalam sepuluh puisi tersebut. Hal ini menimbulkan efek yang tidak membingungkan bagi pembaca karena sangat minim menggunakan bahasa kias. Puisi terlihat nampak terang dan tidak menimbulkan banyak tafsir namun tetap menjanjikan kedalaman makna. Dengan demikian, sepuluh puisi Joko Pinurbo dalam kumpulan puisi ini dapat digunakan sebagai bahan pengajaran sastra Indonesia bagi para siswa. Kesederhanaan puisi-puisi tersebut dapat memudakan para siswa untuk belajar dan mencoba membuat puisi sendiri dengan diksi yang tidak rumit seperti diksi denotasi dan konkret yang tidak banyak memainkan bahasa kias. This research was aimed to describe dictions in Joko Pinurbo’s poem anthology entitled Surat Kopi using stylistics study for teaching material. Questions that must be answered in this research were (1)what kinds of dictions used by the poet (2) whether this anthology was sufficient as teaching material. This research qualitative method with listening-taking note technique. From the result of the analysis, it could be concluded that this anthology used denotation, connotation, concrete, and abstract dictions. Denotation and concrete dictions were used the most thus the poems could be easily understood, simple, yet promised a depth of meaning. Surat Kopi was appropriate to be literature teaching material based on the simple structure yet deep in meaning and message presented to the readers. The poems in this anthology could be used by students to learn about how to make their own poems using denotation and concrete dictions, using less figurative language as seen in Surat Kopi.Keywords: dictions, stylistics, teaching material
TAWARAN SINGULARITAS DALAM SELAMAT PAGI BAGI SANG PENGANGGUR KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Yuniardi Fadilah; Aprinus Salam
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3057.287 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.534.1-13

Abstract

Seno Gumira Ajidarma, melalui cerpen “Selamat Pagi bagi Sang Penganggur”, menggunakan posisi tokoh utama untuk menilai kondisi individu-individu lain yang dianggap kehilangan kebebasannya sebagai pribadi. Sebagai pengangguran, tokoh utama—Aku—juga mengalami kesulitan karena dianggap identik dengan identitasnya, namun lebih memiliki kebebasan dibandingkan pekerja lain yang berada dalam sistem struktural tertentu. Melalui cerpen tersebut, tulisan ini mempersoalkan kecenderungan pengarang menggiring diskursus pada  konsep singularitas. Sudut pandang tulisan ini menggunakan teori yang dikembangkan oleh Antonio Negri dan Jean Luc-Nancy terkait konsep singularitas dan identitas. Kajian ini menemukan bahwa pengarang memiliki kecenderungan untuk mengkritik bentuk konsep identitas yang menyeragamkan individu-individu sebagai komoditas yang hanya dilihat berdasarkan nilainya semata. Bentuk identitas ini terjadi karena adanya kuasa tatanan global dalam biopower yang berbentuk kapitalisme. Sebagai bentuk alternatif, pengarang menawarkan singularitas yang tergambar dalam bangunan komunitas di dalam cerpen. Komunitas yang terbentuk di dalam cerpen adalah keluarga, sebagai komunitas terkecil yang mampu dibentuk, dan komunitas imajiner dalam dunia tokoh Aku. Dalam komunitas ini, singularitas memberdayakan individu-individu sebagai subjek yang berbeda dan bebas.Kata kunci: cerpen, singularitas, identitas, komunitas, multitude Seno Gumira Ajidarma, through short story “Selamat Pagi Bagi Sang Penganggur,” uses the position of the main character to assess the condition of other individuals who are considered to lose their freedom as a person. As unemployed, the main character - Aku - also has difficulty unlike what is considered identical to his identity but has more freedom than other workers who are in certain structural systems. Through this short story, this paper questions the author's tendency to lead to discourse about the concept of singularity. The point of view of this paper uses the theory developed by Antonio Negri and Jean Luc-Nancy regarding the concept of singularity and identity. This paper found that the author tends to criticize the concept of identity that classifies individuals as commodities that are only seen based on their value. This form of identity occurs because of the power of the global order in the form of capitalism as biopower. Singularity which portrayed on the community that built in the story is offered by author as an alternate. Family as the smallest formable community and imaginary community which formed on “Aku’ universe as the main character is the formed community. In this community, singularity empowers individuals as a distinct and independent subjects.Keywords: short story, singularity, identity, community, multitude
PEMOSISIAN PELAKU DAN KORBAN DALAM BERITA KRIMINAL TENTANG PEMBUNUHAN DI BERITA ONLINE TRIBUN NEWS.COM Deriz Nius Hura; Ngusman Abdul Manaf; Syahrul Ramadhan
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.067 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.522.95-108

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan teori inclusion theo van leeuwen dalam berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news.com.  Pengumpulan data dilakukan beberapa tahap, yaitu  (1) membaca dan memahami wacana, (2) menandai bagian-bagian wacana yang berhubungan dengan teori inclusion theo van leeuwen, dan (3) mengumpulkan kalimat dalam wacana yang berhubungan dengan teori inclusion theo van leeuwen dengan menggunakan format inventarisasi data. Penganalisasan data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti pada berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news,  dapat disimpulkan ada lima judul berita  yang terdapat dengan menggunakan teori inclusion theo van leeuwen antara lain, objektivita-abstraksi, nominasi-kategorisasi, nominasi-identifikasi, asimilasi-individualisasi, dan asosiaso-disosiasi. Dari teori di atas, dapat dinyatakan dalam menulis berita kriminal pembunuhan di berita online tribun news, wartawan tidak memarjinalkan korban. Dalam membuat judul berita wartawan tidak menyembunyikan pelaku. The purpose of this study is to analyze the use of Theo Van Leeuwen’s inclusion theory in murder crime news in the news stands online news.com. The method used is the discourse analysis of Theo Van Leeuwen’s model. Data collection is carried out through three stages, namely (1) reading and understanding the discourse contained in criminal news about murders in the online news stands news.com aims to gain an understanding of the content of the discourse under study, (2) marking the discourse parts that are related with Theo Van Leeuwen’s inclusion theory, and (3) collecting sentences in discourse related to Theo Van Leeuwen’s inclusion theory using a data inventory format. Analyzing data is done descriptively. Based on the results of research conducted on criminal news about killings in the online news stands news. com it can be concluded that there are five news titles contained using Theo Van Leeuwen’s inclusion theory, including objectivity-abstraction, nomination-categorization, nominationidentification, assimilation- individualization, and association-dissociation. From the above theory, it can be stated that in writing criminal news about murders in the news online the news.com stands the journalists do not marginalize victims. In making headlines, reporters keep hiding the perpetrators. Concealment of the perpetrators by journalists is done by usingpassive sentences in the headline.Keywords: critical discourse analysis, perpetrators and victims, inclusion theo van leeuwen
ECOLOGICAL WISDOM IN WANGSALAN AS AN EFFORT TO STRENGTHEN CHARACTER EDUCATION WITH CONSERVATION-MINDED Nur Hanifah Insani
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.958 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.365.47-66

Abstract

Literature has close relationship with the environment. Literature also has an important role in the preservation of environment. Research with this qualitative approach aims to explain the representation of ecological wisdom in the wangsalan as an effort to strengthen character education with conservation-minded. Data of words, phrases, clauses and sentences are analyzed using inter-textual and functional pragmatic methods. The results of this study are: (1) The ecological elements contained in the wangsalan can be divided into five categories, are flora (for example, roning mlinjo:so; janur kuning:pupus; kembang tebu:gleges), fauna (example, wader bungkuk:urang; kapi jarwa:kethek; ayam wana:bekisar), nature (for example, udan riris:grimis; sedhang arga:tlaga, teja bengkok:kluwung), geography/area (example, kutha Gudheg:Yogyakarta; kulone Banjar Patoman:Tasik; peken alit:wande), and cultural outcomes (example, jangan gori:gudheg; gayung sumur:timba; nyaron bumbung:angklung); (2) Every lexicon in wangalan has a philosophy that consist character education, such as love of peace or tends to avoid conflict with others and the environment, not impose, kindness, politeness, patience, and respect for others. From the results of the research is known that wangsalan contains ecological wisdom that needs to be preserved. In addition, this ecological study in the wangsalan can be used as an alternative source to strengthen character education with conservation-minded.Keywords: wangsalan; ecological wisdom; character education; conservation mindedSastra memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan. Sastra juga memiliki peran penting akan kelestarian lingkungan. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan wujud kearifan ekologi dalam wangsalan sebagai representasi suatu pendidikan karakter. Data yang berwujud kata, frasa, klausa, dan kalimat dianalisis menggunakan metode intertekstualitas dan pragmatik fungsional. Hasil penelitian ini adalah: (1) unsurunsur ekologi yang terdapat dalam wangsalan dapat terbagi menjadi lima kategori, yaitu flora (misalnya, roning mlinjo:so; janur kuning:pupus; kembang tebu:gleges), fauna (misalnya, wader bungkuk:urang; kapi jarwa:kethek; ayam wana:bekisar), alam (misalnya, udan riris:grimis; sedhang arga:tlaga, teja bengkok:kluwung), letak geografi/daerah (misalnya, kutha Gudheg:Yogyakarta; kulone Banjar Patoman:Tasik; peken alit:wande), serta hasil budaya (misalnya jangan gori:gudheg; gayung sumur:timba; nyaron bumbung:angklung); (2) setiap leksikon pembentuk wangsalan memiliki filosofi pendidikan karakter, seperti cintadamai/cenderung menghindari konflik dengan lingkungan, tidak memaksakan diri, sifat ramah, santun, sabar, serta menghargai orang lain. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa wangsalan mengandung kearifan ekologi yang perlu untuk terus dilestarikan. Selain itu, kajian ekologi dalam wangsalan ini dapat dijadikan sebagai alternatif sarana pendidikan karakter.Kata kunci: wangsalan; kearifan ekologi; pendidikan karakter; wawasan konservasi 
FUNCTIONAL CATEGORIES OF CODE SWITCHING BY BAJO STUDENTS IN ENGLISH FOREIGN LANGUAGE CLASSROOM Lalu Erwan Husnan
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.446 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.135.253-268

Abstract

AbstractThis research discusses functional categories of codeswitching in English Foreign Language (EFL) classroom by Bajo students at MTs NW Nurul Ihsan Tanjung Luar village. Bajo students use Bajo, Sasak, and Indonesian (multilingual) in their daily communication. They bring their languages into their English classroom when they meet other students who come from other ethnic backgrounds and are only able to speak Sasak and Indonesian. This study is aimed at finding out the functional categories of codeswitching in Bajo’s EFL classroom. Data are collected using observation, interview, and recording method. Method used to analyze the data is descriptive-qualitative by labeling, transcription, classification, and simple descriptive statistic. Result of this research shows that the highest functional categories of codeswitching in the form of pupils’ comment as much as 44% with 129 instances, categorized into less dominant. Grammar explanation is 20% with 58 instances, categorized into not dominant. The other categories are categorized into not dominant. Most of the functional categories of codeswitching use Indonesian as much as 50,68% with 148 instances, categorized into dominant, while English is about 34,59% with 101 instances, categorized into less dominant. The other two languages, Bajo is about 8,22% and Sasak is about 6,51%, are not dominant. 
SINONIMI ADJEKTIVA DALAM BAHASA BALI I Nengah Budiasa
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.496 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.181.151-170

Abstract

Dalam bahasa Bali tidak pernah ditemukan ada dua kata bersinonim memiliki kesamaan makna yang mutlak. Sebagai satuan leksikal, setiap kata memiliki relasi semantis yang berbeda-beda dalam membangun struktur kalimat. Perbedaan tersebut meyebabkan sebuah kata tidak memiliki kemungkinan yang sama untuk berdampingan dengan kata lain dalam satu bangun kalimat. Terkait dengan hal itu, masalah yang dibahas dalam kajian ini ada dua macam, yaitu (1) berapa macamkah  pasangan sinonim adjektiva yang dapat dianalisis  dalam bahasa Bali dan (2) bagaimanakah hubungan makna kata-kata yang menjadi pasangan sinonim adjektiva dalam bahasa Bali. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan jumlah pasangan sinonim yang dapat dianalisis dan hubungan makna adjektiva-adjektiva yang menjadi pasangan sinonim dalam bahasa Bali. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode simak dan teknik catat. Artinya, pemerolehan data di lapangan dilakukan dengan cara menyimak pemakaian bahasa Bali, baik dalam bentuk tulisan maupun bentuk lisan. Berdasarkan  analisis data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sifat hubungan pasangan sinonim adjektiva yang ada dalam bahasa Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ragam, tingkat tutur, dan nilai rasa.