cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
VERBA "MEMASAK" DALAM BAHASA BALI: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA) Sang Ayu Putu Eny Parwati
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.121 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.73.121-132

Abstract

AbstrakBahasa merupakan sumber daya yang mampu mengungkap sebuah misteri budaya dan budaya hanya dapat diungkapan dengan bahasa. Bahasa dan budaya Bali adalah sebuah cermin jatidiri penuturnya. Bahasa dan budaya ‘memasak’ dalam masyarakat Bali memiliki makna tersendiri yang dapat diungkapkan melalui kajian Metabahasa Semantik Alami (MSA), seperti pada verba ngengseb, ngnyatnyat, dan nambus.  Teori MSA ini dirancang untuk mengeksplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna ilokusi, maupun makna gramatikal. Verba ‘memasak’ dalam bahasa Bali termasuk dalam kategori verba tindakan (perbuatan) dan verba proses. Dalam verba tersebut terjadi polisemi takkomposisi antara MELAKUKAN dan TERJADI sehingga pengalam memiliki eksponen: “X melakukan sesuatu pada Y, dan karena itu sesuatu terjadi pada Y”. Dengan metode simak libat cakap dan teknik catat, diperoleh sebanyak 12 leksikon data yang terkumpul, selanjutnya dieksplikasikan untuk merepresentasikan makna aslinya. Berdasarkan metode, sarana, dan entitas yang digunakan dalam ‘memasak’, lesksikon verba ini terbagi dalam tiga kelompok, yaitu (1) ‘memasak’ dengan sarana air: nyakan, nepeng, ngukus, ngengseb, nglablab, ngnyatnyat (2) ‘memasak’ dengan sarana api: nunu, manggang, nambus, dan nguling, (3) ‘memasak’ dengan sarana minyak dan tanpa minyak: ngoreng dan ngenyahnyah. Semua leksikon yang memiliki makna memasak di atas berpola sintaksis MSA: X melakukan sesuatu pada Y dan Y masak/matang (termasak). 
HUBUNGAN MAKNA AKRONIM DAN KATA PEMBENTUKNYA PADA ACARA INDONESIA LAWAK KLUB (ILK) DI TRANS 7 Syamsul Rijal
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.877 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.172.73-82

Abstract

Penelitian ini membahas tentang penggunaan akronim dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK) di Trans 7. Populasinya pun diambil dari semua akronim yang pernah digunakan dalam ILK dengan penarikan sampel secara purposif. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif. Proses pembentukan akronim dalam acara ILK menggunakan tiga bentuk relasi makna dalam menciptakan konsep-konsep kata, frasa, dan klausa yang lucu dan kocak. Selain itu, ada pula akronim yang dibentuk tanpa memiliki hubungan makna dengan kata-kata pembentuknya. Akronim-akronim yang memiliki relasi makna tersebut terbentuk dengan tiga pola hubungan makna, yaitu prinsip inklusi/tercakup; prinsip bersinggungan; dan prinsip komplementer.
OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016/THE AUTHORITY OF THE BODY BETWEEN SACRED AND PROFANE IN SOME POEMS BY BALINESE POETS IN 1970--2016 Puji Retno Hardiningtyas; I Nyoman Darma Putra; I Nyoman Weda Kusuma; I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.391 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Abstrak Eksploitasi citra tubuh muncul berulang sebagai tema dalam puisi Indonesia dalam rentang waktu enam dekade, 1970—2016. Dalam penelitian ini dianalisis citra tubuh dalam puisi Indonesia dengan fokus pembahasa pada dua hal, yaitu wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata. Kata kunci: puisi, ruang tubuh, konstruksi, profan sakral Abstract Exploitation of body image appeared repeatedly as theme in Indonesian poem in six decades, 1970—2016. In this research body image on Indonesian poems were analized focused on two points, the discourse of body authority, both sacred and profane as representation of human space image; the concept of space and body construction in the battle of life in poems in Bali. Method of this research is literary study by noting and reading technique. Data analysis method of this research is descriptive analytics by hermeneutic techniques and interpretative. This research used postcolonial of Sara Upstone theory by practicing the physical space and construction of body space and the existence of human itself. The results and discussion of this research prove that the authority of the body has irony with the events experienced by humans, namely the body as body, the body as religious simbol, and the body as a force of women in the face of the battle of life. The construction that takes place in the body eventually becomes a self dismantled by the poet who is ontologically skinned on his own. The body is destroyed in culture, inhumanity, while the soul as God is idealized in wholeness. Thus, the construction and the space between the profane and the sacred is the paradoxical space between the physical and the spiritual that the poet deconstructs to be a mere irony. Keywords: poem, body space, construction, sacred profane 
ADAPTASI NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KE DALAM FILM SANG PENARI: SEBUAH KAJIAN EKRANISASI Dian Nathalia Inda
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.672 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.14.25-38

Abstract

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari merupakan novel yang populer. Karenakepopulerannya, novel tersebut diadaptasi menjadi film Sang Penari. Adaptasi RonggengDukuh Paruk menjadi film Sang Penari diteliti menggunakan kajian ekranisasi. Penelitianini bertujuan untuk memaparkan perubahan dan aspek yang memengaruhinya dalam adaptasinovel Ronggeng Dukuh Paruk menjadi film Sang Penari yang berbeda konvensi. Metodepengumpulan data yang digunakan adalah pustaka dan observasi dengan teknik catat.Metode analisis data menggunakan deskriptif komparatif. Sumber data yang digunakanadalah novel Ronggeng Dukuh Paruk dan film Sang Penari. Hasil analisis menunjukkanbahwa perubahan yang terjadi meliputi judul, usia tokoh, teknik penceritaan, latar, tokoh, danperistiwa. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu moral, nasionalisme,durasi, penonton, dan komersial.
SISTEM LOU DAN HUMA DALAM MASYARAKAT DAYAK BENUAQ: MEMBACA NOVEL API AWAN ASAP KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN Diyan Kurniawati
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.504 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.334.37-50

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggambarkan sistem lou dan huma yang terdapat dalam novel Api Awan Asap karya Korrie Layun Rampan. Masalah penelitian adalah bagaimana sistem lou dan huma, baik sistem sosiologis atau budaya, dan filosofis. serta posisi masyarakat dalam menghadapi faktor eksternal, yaitu perusahaan kayu, yang menganggu lou dan huma. Untuk memecahkan masalah dan tujuan penelitian digunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu dengan cara mendeskripsikan sistem lou dan huma, dan posisi masyarakat dalam menghadapi faktor eksternal. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra dan didukung dengan teori identitas dan ekokritik. Hasil penelitian membuktikan sistem sosiologis lou ditampilkan melalui bentuk rumah lou yang dibuat agar masyarakat yang tinggal di dalamnya merasa aman. Lou juga menjadi tempat pewarisan tradisi berupa kesenian dan produk budaya, serta tempat meneruskan garis keluarga. Secara filosofis, lou menunjukkan sistem kekerabatan dan keeratan perasaan di antara masyarakat. Sistem sosiologis huma adalah konsep pengelolaan hutan dan tanah yang memperhatikan ekosistem. Secara filosofis, huma dalam pembagian hutan. menunjukkan ketaatan masyarakat Dayak Benuaq kepada adat. Perusahaan kayu menyebabkan masyarakat mengalami trauma dan instropeksi terhadap kelegalan kepemilikan tanah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lou dan huma bukan hanya sebuah bangunan fisik dan pola mata pencaharian, tetapi merupakan penghubung masyarakat dengan tradisi. Masyarakat Dayak Benuaq berupaya mempertahankannya dari eksploitasi perusahaan kayu. 
INTERPERSONAL METADISCOURSE MARKERS AS PERSUASIVE STRATEGIES IN BARACK OBAMA’S 2012 CAMPAIGN SPEECHES Bayu Permana Sukma
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.108 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.82.283-292

Abstract

One of language features which can be applied to reach the persuasive goal is interpersonal metadiscourse. Although it has been frequently investigated in written texts, research on interpersonal metadiscourse in campaign speeches is still relatively hard to find, whereas a lot of features of interpersonal metadiscourse in campaign speeches are used as persuasive strategies. This study aims to explain the meaning of interpersonal metadiscourse markers applied in Barack Obama’s campaign speeches related to his persuasive strategy. The data are analyzed by using Dafouz’s (2008) theory of interpersonal metadiscourse markers categorization. The method used in this study is descriptive qualitative. The results reveal that all interpersonal metadiscourse markers categories, namely hedges, certainty markers, attributors, attitude markers, and commentaries, are used in Barack Obama’s campaign speeches. High frequency of use of attitude markers and commentaries shows that Obama in his campaign speeches tries to build emotional ties with his audience as his persuasive strategy. 
PENERJEMAHAN KONJUNGTOR TOKORO SEBAGAI PENANDA KLAUSA KONSESIF DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Windi Astuti
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2198.271 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.145.67-74

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan makna kalimat yangberkonjungtor tokoro sebagai penanda klausa konsesif dalam kalimat bahasa Jepang dan penerjemahannya dalam bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan metode simak dan catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konjungtor tokoro sebagai penanda klausa konsesif memiliki hubungan konsesif yang terdapat dalam sebuah kalimat yang klausa subordinatnya memuat pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang dinyatakan dalam klausa induk, subordinator yang digunakan antara lain walaupun, meski(pun), kalaupun, andaipun, dan lain-lain.
LANGUAGE KINSHIP BETWEEN MANDARIN, HOKKIEN CHINESE AND JAPANESE (LEXICOSTATISTICS REVIEW) Abdul Gapur; Dina Shabrina Putri Siregar; Mhd Pujiono
Aksara Vol 30, No 2 (2018): Aksara, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1232.809 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i2.267.301-318

Abstract

Mandarin and Hokkien Chinese are well known having a tight kinship in a language family. Beside, Japanese also has historical relation with China in the eld of language and cultural development. Japanese uses Chinese characters named kanji with certain phonemic vocabulary adjustment, which is adapted into Japanese. This phonemic adjustment of kanji is called Kango. This research discusses about the kinship of Mandarin, Hokkien Chinese in Indonesia and Japanese Kango with lexicostatistics review. The method used is quantitative with lexicostatistics technique. Quantitative method nds similar percentage of 100-200 Swadesh vocabularies. Quantitative method with lexicostatistics results in a tree diagram of the language genetics. From the lexicostatistics calculation to the lexicon level, it is found that Mandarin Chinese (MC) and Japanese Kango (JK) are two different languages, because they are in a language group (stock) (29%); (2) JK and Indonesian Hokkien Chinese (IHC) are also two different languages, because they are in a language group (stock) (24%); and (3) MC and IHC belong to the same language family (42%). 
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA OLEH PENUTUR ASING DI DAERAH TUJUAN WISATA DI BALI I Wayan Sudana
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.699 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.153.109-119

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui perkembangan bahasa Indonesia menuju bahasaglobal serta karakteristik pemakaian bahasa Indonesia oleh penutur asing yang ada di Bali. Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing dan sebagai bahan masukan bagi pemerintah yang menangani masalah kebijakan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam rangka menuju bahasa internasional. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif dan kuantitatif yang datanya adalah penutur asing (turis mancanegara) yang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi formal maupun nonformal.
ASESMEN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN SASTRA: SUATU KAJIAN PUSTAKA Made Kerta Adhi
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.56 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.186.217-227

Abstract

Sastra yang diajarkan secara terpadu dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, petanda bahwa sastra dikerdilkan. Hal ini tampak pada proses pembelajaran bahkan asesmennya yang tersurat dalam kurikulum. Perlakuan sastra seperti ini, menjadikan perannya relatif kecil dalam membangun karakter pebelajar, lambat laun bisa kurang dikenali bahkan asing dalam kehidupan pebelajar, dan akhirnya sastra akan hilang. Nilai-nilai sastra sangat berkonstribusi dalam pembentukan karakter. Bertolak dari pendapat tersebut, pembelajaran sastra mestinya diberi perlakuan sama dengan mata pelajaran lainnya. Namun, kenyataannya terdiskriminasikan bahkan termarginalkan. Sementara ini, asesmen pembelajaran sastra dominan dilakukan dengan menilai kemampuan siswa sebatas domain kognitif. Hal ini tampak pada soal-soal ujian sekolah dan ujian nasional. Taksonomi Bloom, mengisyaratkan agar proses penilaian dilakukan secara akumulatif-proporsional pada domain kognitif, afektif dan psikomotor. Legalitas formal model asemen ini, antara lain tersurat dalam kurikulum 2013, yakni asesmen otentik. Model asesmen otentik, menuntut agar guru melakukan penilaian pada pembelajaran sastra senyatanya dengan cara melakukan penilaian secara holistik, mencakup aspek pengetahuan (melalui tes lisan, tertulis, dan penugasan); sikap (melalui observasi, self assessment, peer assessment, dan jurnal); serta aspek keterampilan ( melalui penilaian praktik, proyek, dan portofolio).