cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
NASIONALISME DALAM CERPEN-CERPEN MAJALAH PANJEBAR SEMANGAT SEBELUM KEMERDEKAAN Yulitin Sungkowati
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.847 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.473.189-206

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkap dan memaparkan nasionalisme dalam cerpen-cerpen majalah Panjebar Semangat dan kontribusi majalah Panjebar Semangat dalam perkembangan nasionalisme di Indonesia. Penelitian ini menggunakan perspektif nasionalisme menurut Ben Anderson dan Kahin dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah majalah Panjebar Semangat tahun 1937—1940 dan terbitan perdana tanggal 2 September 1933. Pengumpulan data dilakukan di kantor redaksi majalah Panjebar Semangat, di Surabaya dengan metode dokumentasi yang ditopang dengan teknik baca, simak, dan catat. Analisis data diawali dengan interpretasi nasionalisme dalam teks cerpen dilanjutkan dengan membahas majalah Panjebar Semangat sebagai penerbit dan media publikasinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa cerpen-cerpen majalah Panjebar Semangat menokohkan pemuda-pemuda harapan bangsa yang aktif dalam pergerakan dan senantiasa rela berkorban demi kemerdekaan dan kemuliaan bangsa. Majalah Panjebar Semangat membawa semangat nasionalisme pada mayoritas rubriknya. Nasionalisme dalam majalah Panjebar Semangat menggambarkan nasionalisme kultural dan nasionalisme politis. Kata kunci: nasionalisme, Panjebar Semangat, nasionalisme kultural, nasionalisme politis Abstract This research aims to reveal and describe nationalism in the short stories of Panjebar Semangat magazine and the Panjebar Semangat magazine contribution to the development of nasionalism in Indonesia. This research uses the perspective of nationalism according to Ben Anderson and Kahin by using sociology of literature approach. The data source of this research was Panjebar Semangat magazine in 1937–1940 and it rst issued on September 2nd 1933. Data collection was done at Panjebar Semangat editor’s of ce in Surabaya by using documentation method supported by reading, listening and note taking techniques. Data analysis was started with interpreting nationalism in the short story texts and then discussed about Panjebar Semangat magazine as the publisher and publishing media. The results showed that the short stories in Panjebar Semangat magazine decisived young people, the hope of nation who active in the movement and always willing to sacri ce for the independence and glory of the nation. Panjebar Semangat magazine brought the spirit of nationalism to the majority of its rubrics. Nationalism in the Panjebar Semangat magazine illustrated cultural nationalism and political nationalism.Keywords: nationalism, Panjebar Semangat, cultural nationalism, political nationalism 
INVESTIGATION OF CHILDREN FANTASY LITERATURE IN ENGLISH LANGUAGE: THE CASE OF BEATRIX POTTER’S WORK/INVESTIGASI SASTRA FANTASI ANAK-ANAK DALAM BAHASA INGGRIS: CASE OF BEATRIX POTTER’S WORK Ali Ashrafi
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.329 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.472.247-257

Abstract

Abstract In this research, we chose the series of Beatrix Potter in English languages. Then the obtained data studied in three parts of the style of writing, the semiotics of fantasy characters, and in terms of social concepts such as power, gender, and collaboration. This research is descriptive research based on the library method. Fantasy is a ction about a topic in the past or an event in the future that is now untrue, but relying on individual knowledge and imagination. Fantasy literature, as it stands today, was created in Europe in the eighteenth century, although its elements exist in myths and ancient myths. Beatrix Potter (1866-1943) grew up in London is the most acclaimed Baby Writer. She was an English writer, illustrator, natural scientist, and conservationist best known for her children’s books featuring animals. She is well-known as the author of children’s books such as The Tale of Peter Rabbit. She wrote 23 books altogether, the most famous of which was “the Tale of Peter Rabbit “, which translated into 35 languages and printed 151 million copies in the world. Keywords: characterization, fantasy literature, story, Beatrix Potter, phantom fantasy, realistic fantasy, writing style Abstrak Dalam penelitian ini, dipilih seri Beatrix Potter dalam bahasa Inggris. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dalam tiga bagian: gaya penulisan, semiotika karakter fantasi, dan ditinjau dari konsep sosial, seperti kekuasaan, jenis kelamin, dan kolaborasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif berdasarkan metode kepustakaan. Fantasi adalah ksi tentang suatu topik di masa lalu atau peristiwa di masa depan yang sekarang tidak benar, tetapi mengandalkan pengetahuan dan imajinasi individu. Sastra fantasi, seperti yang ada saat ini, diciptakan di Eropa pada abad kedelapan belas, meskipun unsur-unsurnya ada dalam mitos dan mitos kuno. Beatrix Potter (1866-1943) besar di London adalah Penulis Bayi, ilustrator, ilmuwan alam, dan konservasionis yang terkenal karena buku anak-anaknya yang menampilkan hewan. Karyanya yang terkenal adalah buku anak-anak, seperti The Tale of Peter Rabbit. Kata kunci: penokohan, sastra fantasi, cerita, Beatrix Potter, fantasi hantu, fantasi realistik, gaya menulis 
TRANSMISI MEMORI PERISTIWA 1965 DALAM NOVEL PULANG DAN AMBA/THE 1965 MEMORY TRANSMISSION IN PULANG AND AMBA NOVEL Metia Setianing Mulyadi; Candra Rahma Wijaya Putra
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.872 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.565.71-82

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan transmisi memori peristiwa 65 dari generasi pertama ke post-generasi dalam karya sastra. Metode penelitian yang digunakan, yakni deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan kajian postmemory Marianne Hirch. Sumber data penelitian adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori dan Amba karya Laksmi Pamuntjak. Data penelitiannya adalah frasa, kalimat, atau paragraf yang merepresentasikan gambaran generasi pertama dan post-generasi, proses transmisi memori, dan rekonstruksi memori. Teknik analisis data menggunakan teknik interaktif, yaitu dengan cara reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat tiga generasi dalam proses transmisi memori, yaitu generasi pertama sebagai tokoh yang mengalami peristiwa 65 secara langsung, generasi 1.5 dan kedua sebagai penerima transmisi memori; (2) familial postmemory dilakukan melalui garis keturunan keluarga dan afiliative postmemory melalui buku, museum, foto, surat pribadi, dokumen sejarah, dan narasi yang berkembang di masyarakat; (3) konstruksi memori oleh tokoh post-generasi yang diwujudkan dengan penerimaan maupun penolakan. Penerimaan memunculkan rasa trauma, was-was, atau perubahan identitas yang mirip dengan generasi pertama. Sementara itu, sikap penolakan menempatkan cerita sebagai mitos yang sudah kedaluwarsa. Kata kunci: post-memori, generasi pertama, post-generasi, peristiwa 65 AbstractThis study aims to explain the memory transmission of events from the first generation to the post-generation in literary works. The research method used is descriptive qualitative. This research is a postmemory study of Marianne Hirch. The source of the research data is the novel Pulang by Leila S. Schudori and Amba by Laksmi Pamuntjak. The research data are phrases, sentences, or paragraphs that represent first-generation and post-generation descriptions, memory transmission processes, and memory reconstruction. The data analysis technique used interactive techniques, namely by way of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study are (1) there are three generations in the memory transmission process, namely the first generation as a character who experiences events directly, the 1.5 generation and the second as a memory transmission receiver; (2) familial postmemory is carried out through family lineages and affiliative postmemory through books, museums, photos, personal letters, historical documents, and narratives that develop in society; (3) memory construction by postgeneration figures which is realized by acceptance or rejection. Acceptance creates a sense of trauma, anxiety, or a change of identity similar to that of the first generation. Meanwhile, the attitude of rejection places the story as an outdated myth. Keywords: postmemory, first generation, post-generation, event 65
THE PLOT OF THE CHARACTERS IN ALL THE BRIGHT PLACES/KARAKTER DALAM ALUR CERITA ALL THE BRIGHT PLACES Patricia Dharma Widyantara; I Gusti Agung Istri Aryani; Ni Luh Nyoman Seri Malini
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.253 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.564.259-274

Abstract

Abstract Nowadays, plot within characters with mental health issues still a sensitive issue to be discussed by most people. Some parents often avert their children from the exposure of the topics in the purpose to protect them suffering the same illness. It is important to discuss on this topic since intend to show the reality of individuals’ feeling as mentioned in the plot of this study. The novel of All the Bright Places managed to succeed in delivering the message through interesting plot development where two main characters get together and share their perspectives to carry out the story. Hence, this study aims to investigate how Niven as a story writer structured her story with the plot. The results of this study showed a progressive kind of plot where plot elements are chronologically arranged within the mental health issues. These were found from the language in the plot including their point of views and symbols used as the elements of ction shown in the exposition, complication, crisis, climax, falling action, and resolution. It seemed that there were connection between characters supported with the language use and events covered inside the plot. These re ected to the whole part of patterns inside the story that give personal touchs to their readers from the events. Keywords: ction, literature, mental illness, novel, plot Abstrak Dewasa ini, pembahasan alur cerita dengan karakter-karakter yang memiliki masalah kejiwaan masih dianggap sensitif bagi kebanyakan orang. Beberapa orang tua masih sering menghindarkan anaknya dari paparan topik tersebut demi alasan keamanan supaya tidak terkena penyakit yang sama. Pengangkatan topik ini penting sebab berusaha mengungkapkan perasaan seseorang secara nyata dalam alur cerita seperti kajian ini. Pada novel “All the Bright Places” berhasil menyajikan pembahasan yang memberikan alur cerita menarik melalui sudut pandang kedua tokoh utama yang secara berdampingan dibagikan dalam memandu perkembangan alur cerita. Studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara Niven sebagai penulisnya mengemas alur ceritanya. Hasil penelitian membuktikan bahwa Niven mengadaptasi tipe alur cerita progresif karena urutan alur yang tersusun secara kronologis dengan permasalahan kejiwaan di dalamnya. Temuan berupa penggunaan bahasa termasuk sudut pandang dan simbol-simbol sebagai unsur-unsur dalam alur cerita yaitu ekposisi, komplikasi, krisis, klimak cerita, penurunan klimak dari alur cerita, dan resolusi. Keterkaitan antara karakter-karakter, bahasa dan kejadian-kejadian yang ada turut mendukung alur cerita itu. Hal ini mere eksikan bahwa pola-pola kejadian yang ada mengalir di dalam cerita sehingga dapat memberikan sentuhan mendalam kepada pembacanya. Kata kunci: fiksi, kesusastraan, masalah kejiwaan, novel, alur cerita
ILOKUSI-ILOKUSI HOAKS COVID-19 DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF CYBER-PRAGMATICS/COVID-19 HOAX ILLOCUTIONS IN INSTAGRAM IN THE PERSPECTIVE OF CYBERPRAGMATICS R. Kunjana Rahardi
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.205 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.561.313-322

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud-wujud ilokusi hoax Covid-19 di media sosial Instagram dalam perspektif Cyberpragmatics. Data penelitian berupa tuturan-tuturan dalam Instagram yang di dalamnya terkandung ilokusi-ilokusi hoax covid-19. Data dikumpulkan dengan metode simak. Teknik yang digunakan dalam rangka penerapan metode simak adalah teknik simak bebas libat cakap sebagai teknik dasar dan teknik rekam dan teknik catat sebagai teknik lanjutan. Setelah tipe-tipe data tersaji dengan baik, langkah selanjutnya adalah memvalidasi data. Metode dan teknik analisis data diterapkan adalah metode analisis distribusional. Teknik yang digunakan dalam rangka menerapkan metode distribusional adalah teknik bagi unsur langsung. Adapun dimensi-dimensi ekstrakebahasan penelitian ini dianalisis dengan menerapkan metode kontekstual atau metode padan khususnya padan ekstralingual. Penelitian ini berhasil menemukan ilokusi-ilokusi hoax Covid-19 sebagai berikut: (1) ilokusi menebar informasi tidak jelas, (2) ilokusi menyoal informasi keliru, (3) ilokusi menebar berita palsu, (4) ilokusi menyoal desas-desus, (5) ilokusi menebar berita tidak benar, (6) ilokusi membesar-besarkan informasi keliru, (7) ilokusi menebar informasi yang tidak jelas, (8) ilokusi membesar-besarkan masalah. Kata Kunci: cyberpragmatics, ilokusi hoax, Covid-19 Abstract The purpose of this research is to describe the forms of Covid-19 hoax illocution in Instagram social media in the perspective of Cyberpragmatics. The research data were in the form of utterances in which contained the illusion of covid-19 hoaxes. Data were collected by the observation method. The technique used in the framework of applying the refer to method was a free, engaging, involved listening technique as the basic technique and the record technique and the note technique as an advanced technique. After the types of data were presented properly, the next step was to validate the data. The method and data analysis technique applied was the distributional analysis method. The technique used in the framework of applying the distributional method was the technique for the direct element. The extra dimensions of this research were analyzed by applying the contextual method or the matching method speci cally the extralingual padding. This research succeeded in nding Covid-19 hoax illocution as follows: (1) illocution to spread unclear information, (2) illocutionary to erroneous information, (3) illocution to spread false news, (4) illocution to rumors, (5) illocution to spread untrue news, (6) illocution to exaggerate misinformation, (7) illocution to spread information that is not clear, (8) illocution to exaggerate the problem. Keywords: cyberpragmatics, illocution hoaxes, Covid-19
TINDAK TUTUR DIREKTIF MENYURUH TOKOH PROTAGONIS DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA KARYA TERE LIYE/DIRECTIVE MEASURING OF PROTAGONIC CHARACTERS IN BIDADARI-BIDADARI SURGA NOVEL KARYA TERE LIYE Mia Salfita; Ngusman Abdul Manaf
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.469 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.504.111-120

Abstract

AbstrakPenelitian terhadap novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye ini bertujuan untuk menjelaskan kesantunan tindak tutur menyuruh pada tokoh protagonis dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye. Data penelitian ini adalah tindak tutur direktif menyuruh pada tokoh protagonis dalam novel tersebut. Data dikumpulkan dengan cara membaca dan memahami novel, mencatat kata, frasa, klausa, dan kalimat tokoh yang dapat dirumuskan sebagai bagian dari tuturan maupun tindak tutur menyuruh, dan menginventarisasikan data berdasarkan masalah-masalah tindak tutur direktif yang terdapat dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye. Data dianalisis dan dibahas berdasarkan teori pragmatik. Dalam penelitian ini ditemukan sembilan tuturan tindak tutur direktif menyuruh, yang menunjukkan bahwa tokoh protagonis dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye cenderung melakukan tindak tutur menyuruh secara santun. Strategi bertutur tokoh utama dalam novel cenderung menggunakan tindak menyuruh kepada adik-adiknya. Kata kunci: tindak tutur direktif menyuruh, pragmatik, novel, Bidadari-Bidadari Surga AbstractThis research on the novel Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye aims to explain the politeness of the speech acts of the protagonist in Tere Liye's novel Bidadari-Bidadari Surga. This type of research is qualitative research using descriptive methods. The data source in this research is the novel Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye. The data of this research are directive speech acts ordered to the protagonist in the novel. Data were collected by understanding the novel, noting down words, phrases, clauses, or sentences that can be formulated as part of speech acts, and making an inventory of the data based on the problems of directive speech acts contained in Tere Liye's novel Bidadari-Bidadari Surga. Data were analyzed and based on pragmatic theory. The results of this study shows nine directive ordered speech act utterances, which indicate that the protagonist in the novel Bidadari-Bidadari Surga by Tere Liye tends to perform speech acts politely. The strategy of telling the main character in the novel tends to use commands to order his younger siblings. Keywords: directive speech act ordered, pragmatic, novel, Bidadari-Bidadari Surga 
KAJIAN PRONOMINA PERSONA DALAM CERPEN KESETIAAN ITU DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP/ANALYTIS OF PERSONAL PRONOUNS IN KESETIAAN ITU SHORT STORY AND ITS IMPLICATIONS FOR LEARNING INDONESIAN LANGUAGE AT JUNIOR HIGH SCHOOL Asep Muhyidin
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.69 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.483.299-311

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan pronomina persona dalam cerpen Kesetiaan Itu  karya Hamsad Rangkuti. Data penelitian berupa satuan lingual berupa kalimat-kalimat yang mengandung pronomina persona. Sumber data dalam penelitian ini berupa sumber data tertulis berupa paragraf-paragraf yang terdapat pada cerpen. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah metode dokumentasi dan metode catat. Penelitian ini menggunakan validitas semantik yaitu data mengenai pemarkah pronomina persona sebagai sarana kohesi hubungan antarkalimat dalam wacana cerpen dapat dimaknai sesuai dengan konteksnya. Instrumen penelitian berupa kartu data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode agih. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 173 pronomina persona pertama, 65 pronomina persona kedua, dan 192 pronomina persona ketiga. Semua pronomina persona yang ditemukan bersifat takrif. Pronomina persona yang paling banyak ditemukan berwujud aku, -mu dan -nya. Hasil penelitian dapat diimplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP karena teks cerpen merupakan medium pembelajaran sastra. Siswa diharapkan dapat memahami penggunaan pronomina persona dalam teks cerpen. Karakter tokoh dalam cerpen tersebut dapat diteladani siswa dalam menjalani kehidupan nyata di masyarakat.  Untuk itu, guru harus mampu membuat skenario pembelajaran di kelas.Kata kunci: pronomina persona, cerpen, pembelajaran bahasa IndonesiaAbstractThis study aims to describe the use of personal pronouns  in Kesetiaan Itu short story by Hamsad Rangkuti. The data were lingual units in the form of sentences with personal pronouns. The data sources were paragraphs in the short story. The data were collected through documentation and note. They were analyzed by the distributive method. The findings show that there are 173  the first personal pronouns,  65 the second personal pronouns, and 192 the third personal pronouns. All personal pronouns were found are definitive. The most pronounced personal pronouns is aku, -mu, and -nya. The findings can be utilized in the Indonesian language learning at junior high schools because short stories are a medium of literary learning. Students are expected to understand use of personal pronouns in short stories. The characters in the short story can be emulated by students  life in the community.  For this reason, teachers must be able to create learning scenarios. Keywords: personal pronouns, short story, Indonesian language learning
RELASI GENETIS BAHASA-BAHASA DI KABUPATEN MOROWALI/THE GENETIC RELATIONSHIP OF LANGUAGES IN MOROWALI REGENCY Siti Fatinah
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.952 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.650.135-152

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan memaparkan relasi genetis bahasa-bahasa di Kabupaten Morowali, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak melalui teknik sadap, rekam, wawancara, dan catat. Data penelitian ini terdiri atas 200 kosakata dasar Swadesh dan 837 kosakata budaya. Data tersebut diolah menggunakan metode komparatif (leksikostatistik dan rekonstruksi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara kuantitatif bahasa-bahasa di Kabupaten Morowali dikelompokkan menjadi dua, yaitu Bungku-Menui (Towatu, Bahonsuai, Tomadino, Bungku, Menui) dan Tombelala-Topada (Tombelala dan Topada). Pengelompokkan itu didukung bukti-bukti kualitatif melalui rekonstruksi protobahasa yang wujudnya berupa retensi dari bentuk PAN dan inovasi dari bentuk PAN. Retensi dari bentuk PAN berupa evidensi leksikal penyatu bahasa-bahasa di Kabupaten Morowali ditemukan pada glos anak, api, batu, binatang, buah, gigi, laut, lima, mata, mati, tahun, ular, tikam, dan tipis. Sebaliknya, inovasi dari bentuk PAN terdapat pada glos burung, hidung, dan tulang. Evidensi leksikal pemisah yang merupakan retensi dari bentuk PAN juga ditemukan pada kelompok Bungku-Menui, yakni terdapat pada glos akar, kuku, dan makan serta kelompok Tombelala-Topada ditemukan pada glos anjing, lidah, mulut, orang, panas, dan tanah. Realisasi berupa inovasi dari bentuk PAN dalam kelompok Bungku-Menui terdapat pada glos anjing, lidah, mulut, orang, panas, tanah, dan telinga serta kelompok Tombelala-Topada terdapat pada glos akar, kuku, dan makan. Kata kunci: evidensi, fonologis, relasi genetis, leksikal AbstractThis paper aims to describe quantitatively and qualitatively the genetic relations of the Morowali Regency languages. The data was collected using the observation method through tapping, recording, interviewing and note-taking techniques. The data of this research consisted of 200 basic Swadesh vocabularies and 837 cultural vocabularies. The data is analysed using comparative methods (lexicostatistics and reconstruction). The results of this study indicate that quantitatively the languages in Morowali Regency are grouped into two, namely Bungku-Menui (Towatu, Bahonsuai, Tomadino, Bungku, Menui) and Tombelala-Topada (Tombelala and Topada). This classification is supported by qualitative evidence through the reconstruction of the proto-language in the form of retention from the PAN form and innovation from the PAN form. The retention of the PAN form in the form of lexical evidence that unites the languages in Morowali Regency was found in the gloss of anak, api, batu, binatang, buah, gigi, laut, lima, mata, mati, tahun, ular, tikam, tipis. Conversely, the innovation of the PAN form is in the gloss of burung, hidung, tulang. The lexical separator evidence which is retention of the PAN form was also found in the Bungku-Menui group, namely in the gloss of anjing, lidah, mulut, orang, panas, tanah; on Tombelala-Topada group is found on the gloss of anjing, lidah, mulut, orang, panas, tanah. The realization in the form of innovation from the form of PAN on the Bungku-Menui group is found in the gloss of anjing, lidah, mulut, orang, panas, tanah, telinga; on Tombelala-Topada group is found in gloss of akar, kuku, and makan.Keywords: evidence, phonological, genetic relationship, lexical
KRITIK SOSIAL BERMUATAN LOKAL BALI DALAM KUMPULAN CERITA NGUNTUL TANAH NUNULÉNGÉK LANGIT KARYA I MADE SUARSA/LOCAL BALINESE SOCIAL CRITICISTS IN THE STORIES COLLECTION OF NGUNTUL TANAH NULÉNGÉK LANGIT BY I MADE SUARSA Ni Nyoman Tanjung Turaeni; Puji Retno Hardiningtyas
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.249 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.660.223-234

Abstract

Abstrak Kritik sosial sebagai sebuah ide atau berbagai bentuk gagasan yang bertolak belakang dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan tujuan dan harapan dari tatanan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan membahas aspek sosial yang meliputi struktur cerita, masalah sosial dan kritik sosial bermuatan lokal Bali yang tercermin dalam kumpulan cerita pendek berbahasa Bali Nguntul Tanah Nulengék Langit karya I Made Suarsa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan teknik interpretatif. Dalam pengolahan data dilakukan tahapan klasifikasi, pendeskripsian, penerjemahan, dan penganalisisan data. Untuk mengetahui masalah sosial dan kritik sosial dalam cerpen tersebut, digunakan teori sosiologi sastra dan teori struktural untuk mengetahui struktur formal yang membangun cerita tersebut. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa kritik sosial yang dapat terhimpun dalam cerita tersebut adalah kritik sosial terhadap kemiskinan, kritik sosial disorganisasi keluarga dan kritik terhadap adat dan tradisi serta serta kehidupan sosial masyarakat Bali. Dengan demikian, lahirnya cerpen karya I Made Suarsa ini memperlihatkan kemegahan pariwisata, masih terdapat ketimpangan sosial dalam masyarakat Bali. Kata kunci: cerpen, kritik sosial, masalah sosial, muatan lokal Bali Abstract Social criticism as an idea or various forms of ideas that are contrary to reality is not in accordance with the goals and expectations of the order in society. This study aims to discuss the social aspects which include story structure, social issues and social criticism with local Balinese content as re ected in a collection of short stories in Balinese language “Nguntul Tanah Nulengék Langit” by I Made Suarsa. The method used in this research is descriptive qualitative and note taking techniques. In data processing, the stages of classi cation, description, translation and data analysis are carried out. To nd out the social problems and social criticism in the short story, the sociology approach of Sapardi Djoko Damono’s view is used and is assisted by a structural approach to determine the formal structure that builds the story. The results of the study show that the social criticisms that can be collected in the story are social criticism of poverty, social criticism of family disorganization and criticism of customs and traditions as well as the social life of Balinese people who seem famous by tourism, but in fact there are still social inequalities in Balinese society. Keywords: social problems, social criticism, short stories 
PERAN SEMANTIK PREDIKAT PADA VERBA BERVALENSI SATU, DUA, DAN TIGA DALAM BAHASA SAMAWA DIALEK SUMBAWA BESAR/THE SEMANTIC ROLES OF THE PREDICATES ON VERB ONE, TWO, AND THREE SUMBAWA LANGUAGES IN THE SUMBAWA BESAR DIALECT Kasman Kasman
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.321 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.445.287-298

Abstract

Abstrak Penelitian terhadap peran semantik bahasa Samawa masih belum banyak dilakukan. Untuk mendukung pengembangan dan pelestarian bahasa Samawa, penelitian-penelitian deskriptif seperti ini tetap perlu dilakukan. Penelitian ini difokuskan pada peran verba bervalensi satu, dua, dan tiga dalam bahasa Samawa dialek Sumbawa Besar dan bertujuan untuk mendeskripsikan peran semantik verba bervalensi tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sintaksis struktural. Data dikumpulkan dengan metode cakap dan metode simak. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan me- tode padan intralingual. Hasil dari analisis data menunjukkan bahwa verba bervalensi satu melibatkan argumen-argumen yang secara semantik mencermainkan verba proses, tindakan, dan verba keadaan. Adapun verba bervalensi dua melibatkan argumen-argumen yang secara semantik merefleksikan verba tindakan, seperti pada sangode (mengecilkan), samasak (memasak), dan pina (membuat). Secara sintaksis verba-verba tindakan itu membutuhkan kehadiran dua argumen kalimat sekaligus. Sementara itu, verba bervalensi tiga yang secara semantik merefleksikan makna benefaktif membutuhkan kehadiran tiga argu-men kalimat sekaligus. Kata kunci: semantik, sintaksis, subjek, predikat, argumen Abstract Research on semantic roles in Samawa language has not been comprehensively done. To support the ef- forts of fostering and developing Samawa language, descriptive studies like this study are always needed. This study is focused on the role of verb valency one, two, and three in Samawa language, especially in Sumbawa Besar Dialect and aimed to describe their semantic roles. The theory used in this study is syntax structural theory. The data were collected using two methods realized by observing and listening to the conversation. The collected data were then analyzed using comparative method. Results of data analysis indicated that syntactically one-valence verbs require argument which semantically re ies process, ac- tion, and constant meaning. While two-valence verb requires arguments which semantically re ies action, such as verbs Sangode (to make something smaller), Samasak (to cook), and Pina (to make). These kind of verbs syntactically require two sentence arguments. While three-valence verb which semantically shows benefective meaning needs the presence of three sentence arguments. Keywords: Semantic, syntactic, subject, predicate, argument