cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
ANALISIS PERSEPSI UJARAN TENAGA KESEHATAN: STUDI KASUS PENANGANAN KORONAVIRUS/ANALYSIS OF LANGUAGE PERSPECTIVE OF HEALTH PROFESSIONAL: CASE STUDY OF CORONA VIRUS HANDLING Dewi Nastiti Lestariningsih
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.002 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.640.83-94

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melihat persepsi ujaran berdasarkan pengalaman psikologis tenaga kesehatan (perawat) yang menangani koronavirus. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara di media WhatsApp pada empat orang perawat yang sedang melakukan karantina di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung selama dua hari. Pemilihan empat orang perawat didasarkan atas kondisi psikologis perawat yang memiliki hasil reaktif setelah uji cepat melalui teknik random. Hasil penelitian disajikan secara deskriptif melalui pendekatan kualitatif. Analisis data dilakukan dengan membaca catatan berdasarkan komunikasi dengan perawat, mengidentifikasi, dan mengelompokkan berdasarkan beberapa kategori melalui kajian psikolinguistik. Berdasarkan hasil temuan dari wawancara dengan keempat perawat, ada empat kategori untuk menunjukkan kondisi psikologis para perawat, yakni takut, takut dan menerima, menerima dengan spiritual, serta bersikap profesional. Selain itu, penelitian ini memberikan gambaran tentang kondisi psikolinguistik perawat yang berhubungan dengan pemproduksian bahasa.Kata kunci: persepsi ujaran,  psikolinguistik, tenaga kesehatan, koronavirus AbstractThis study aims to look at speech perception based on the psychological experiences of health workers (nurses) who handle the corona virus. Data collection was carried out through interview techniques on whats app media to four nurses who were quarantining at Hasan Sadikin Hospital, Bandung for two days. The selection of four nurses was based on the psychological condition of the nurses who had reactive results after rapid testing through random techniques. The research results are presented descriptively through a qualitative approach. Data analysis was carried out by reading notes based on communication with nurses, identifying and grouping them according to several categories through psycholinguistic studies. The finding shows that from interviews with the four nurses, there are four categories to indicate the psychological condition of the nurses, fear, fear and acceptance, acceptance spiritually, and stay profesional. Besides that, this study also provides an overview of the psycholinguistic conditions of nurses related to production of language. Keywords: speech perception, psycholinguistics, health professionals, corona virus
MEDANESE NOVEL: HISTORY OF LITERATURES IN MEDAN CITY (1930—1965)/ROMAN MEDAN: SEJARAH KARYA SASTRA DI KOTA MEDAN (1930—1965) Syahri Ramadhan; Saefur Rochmat
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1631.819 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.545.39-56

Abstract

AbstractThis study aims to explain the history of the Medanese novels chronologically, starting from the development of the Medanese novels in the Dutch colonialism period to the old order, and the impact of Medanese novels to people in Medan. The sources of data are Medanese novels published from 1930 to 1965. Method used in this study was historic method studied through four stages as follows: (1) heuristic (to collect sources); (2) verification of data (to test validity of data); (3) interpretation; (4) historiography (writing). The data were analyzed by diachronic approach as a method in the length of time, but limited in space. The results of this study indicated that development of Medanese novels in Dutch colony time (from 1912 to 1942) experienced speedily progressing. Medanese novels were on its peak in 1930, until the term flood of romance emerged which was marked by the number of romances published. Medanese novels could compete against novels published by Balai Pustaka, a publisher previously established by the government of the Dutch colonialism. However, at time of the Japanese occupation (from 1942 to 1945), the Medanese novels experienced decreasing, even lost from distribution, and from early independence (from 1945 to 1950) to old order (from 1950 to 1966), the Medanese novels raised again, but the existence was unlike the previous. Moreover, the Medanese novels writing had impacts on social life in Medan, such as politic, education, social, and culture. Keywords: Medanese novels, history, literature, Medan AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah perkembangan roman Medan secara kronologis, yang dimulai dari perkembangan roman Medan pada masa kolonial Belanda hingga orde lama, serta dampak penulisan roman Medan bagi masyarakat kota Medan. Sumber data penelitian ini adalah roman Medan terbitan tahun 1930—1965. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode sejarah yang dikaji melalui empat tahapan, meliputi (1) heuristik (pengumpulan sumber); (2) verifikasi data (menguji keabsahan sumber); (3) interpretasi (penafsiran); (4) historiografi (penulisan). Adapun analisis data menggunakan pendekatan diakronis yang merupakan suatu pendekatan yang memanjang dalam waktu, tetapi secara ruang terbatas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan roman Medan pada masa kolonial Belanda (1912—1942) mengalami kemajuan yang begitu pesat. Roman Medan berada di puncak kejayaannya pada tahun 1930 hingga muncul istilah banjir roman yang ditandai dengan banyaknya roman yang terbit. Secara kuantitas roman Medan mampu bersaing dengan roman terbitan Balai Pustaka yang merupakan penerbit buku yang telah didirikan terlebih dahulu oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi, pada masa pendudukan Jepang (1942—1945) roman Medan mengalami kemunduran bahkan hilang dari peredaran, dan pada masa awal kemerdekaan (1945—1950) hingga masa Orde Lama (1950—1966), roman Medan bangkit kembali, tetapi eksistensinya tidak seperti dahulu. Selain itu, penulisan roman Medan ini memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat Medan di antaranya dalam bidang politik, pendidikan, sosial, dan budaya.  Kata kunci: roman Medan, sejarah, karya sastra, Medan
MENGGALI MAKNA NAMA-NAMA MAKANAN SEKITAR KAMPUS DI PURWOKERTO/EXPLORING THE MEANING OF FOOD NAMES AROUND CAMPUS IN PURWOKERTO Muharsyam Dwi Anantama; Aditya Setiawan
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2186.763 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.511.275-286

Abstract

Abstrak Nama adalah kata-kata yang menjadi identitas bagi benda, peristiwa, dan makhluk di dunia. Manusia hidup dalam relasi yang rumit dan beragam, untuk memudahkan penyebutan kemudian diberikan penamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis makna, jenis penamaan, dan komponen makna nama-nama makanan di sekitar kampus di Purwokerto. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik. Data dalam penelitian ini adalah nama-nama makanan yang berjumlah 19 data. Sumber data dalam penelitian ini adalah pembuat dan penjual makanan kaki lima di sekitar kampus di Purwokerto. Tahap penyedian data menggunakan teknik wawancara. Teknik analisis data yang digunakan, antara lain (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan simpulan. Hasil dan pembahasaan penelitian ini menunjukkan bahwa jenis makna yang ada dalam data adalah makna denotatif (5 data), makna konotatif (3 data), makna kontekstual (2 data), dan makna referensial (3 data). Jenis penamaan yang ditemukan adalah peniruan bunyi (1 data), penamaan sifat khas (2 data), penamaan tempat asal (1 data), penamaan bahan (1 data), penamaan keserupaan (1 data), penamaan pemendekan (1 data). Komponen makna yang ditemukan antara lain berdasarkan bahan yang digunakan, berdasarkan warna, berdasarkan bentuk, berdasarkan pembuatan, dan berdasarkan kemasan. Berdasarkan analisis tersebut, disimpulkan bahwa penamaan makanan dapat ditelusuri dari tiga aspek, yaitu jenis, makna, dan komponen makanan dengan menerapkan pada aspek semantiknya. Kata kunci: nama makanan, makna, penamaan, sematik Abstract Names are words that become identities for things, events, and creatures in the world. Humans live in complex and diverse relationships, so that naming is given to facilitate the naming. This research aims to describe the types of meanings, types of naming, and components of the meaning of food names around the campus in Purwokerto. This research is a qualitative descriptive research. This research uses a semantic approach. The data in this research are 19 food names. The data source in this research is the maker and seller of street food around the campus in Purwokerto. Data collecting stage uses interview techniques. Data analysis techniques used include (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) drawing conclusions. The results and discussion of this research indicate that the types of meanings contained in the data are denotative meanings (5 data), connotative meanings (3 data), contextual meanings (2 data), and referential meanings (3 data). The types of naming found are mimicking sounds (1 data), naming unique traits (2 data), naming origin (1 data), naming material (1 data), similarity naming (1 data), naming shortening (1 data). The meaning components that are found are based on the material used, based on color, based on shape, based on manufacture, and based on packaging. Based on this analysis, it was concluded that the naming of food can be traced from three aspects, namely the type, meaning and component of food by applying to its semantic aspects. Keywords: food names, meanings, naming, semantic
HERMENEUTIKA NILAI MORAL JAWA DALAM NASKAH TASHRIHAH AL- MUHTAAJ DAN RELEVANSINYA DALAM PENDIDIKAN/THE HERMENEUTIC OF JAVANESE MORAL VALUES IN TASHRIHAH AL-MUHTAAJ MANUSCRIPT AND THEIR RELEVANCE IN EDUCATION Arifatul Anisa; Sutrisna Wibawa
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1382.677 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.491.57-70

Abstract

AbstrakNaskah Tashrihah Al-Muhtaaj merupakan salah satu cerminan kebudayaan masyarakat Jawa pada masa lampau yang berisi nilai-nilai sebagai sumber kedamaian dalam bermasyarakat. Pengkajian terhadap naskah tersebut dianggap penting, mengingat adanya krisis moral di kalangan siswa-siswi di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap nilai-nilai moral Jawa dalam naskah Tashrihah Al-Muhtaaj dan relevansi nilai-nilai tersebut dalam pendidikan karakter di sekolah. Metode penelitian ini menggunakan teknik analisis konten dengan pendekatan hermeneutik. Sumber data penelitian adalah naskah Tashrihah Al-Muhtaaj yang berisi 25 teks, tetapi hanya 8 teks yang dapat mewakili nilai-nilai moral Jawa dalam naskah. Adapun pengesahan data dengan cara validitas semantik dan reliabilitas intrarater. Hasil penelitian menunjukkan adanya relevansi nilai-nilai moral dalam naskah dengan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Nilai moral dalam naskah berupa nilai kejujuran, tanggung jawab, kerukunan, keadilan, dan hati nurani. Nilai-nilai tersebut relevan dengan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa, yaitu pada nilai jujur, tanggung jawab, toleransi dan cinta damai, demokratis, dan peduli sosial. Dengan demikian, nilai-nilai moral dalam naskah Tashrihah Al-Muhtaaj dapat diterapkan sebagai acuan atau contoh pendidikan karakter di sekolah. Kata kunci: naskah kuno, nilai moral Jawa, pendidikan, Tashrihah Al-Muhtaaj AbstractThe Tashrihah Al-Muhtaaj manuscript is one of the manifestation of Javanese culture in the past which consists of many values as the peace and society sources. The study of this manuscript is vwry significant. It is caused by the moral crisis happenedto the students in the school. The aim of this study is to unravel Javanese moral values in Tashrihah Al-Muhtaaj manuscript and the relevance of these values in character education at school. The research method used was content analysis technique with hermeneutic approach. The data source in this study is Tashrihah Al-Muhtaaj manuscript, which originally contains 25 texts, but only 8 texts represent Javanese moral values. The data validation was done by applying semantic validity and intra-rater reliability. In brief, the result shows that there is relevance of moral values in Tashrihah Al-Muhtaaj manuscript with the values of cultural education and national character. The moral values in Tashrihah Al-Muhtaaj manuscript comprise honesty, responsibility, harmony, justice, and conscience. Moreover, these values are relevant to the values of cultural education and national character; they are the values of honesty, responsibility, tolerance and love for peace, democratic, and social care. Therefore, the moral values in Tashrihah Al-Muhtaaj manuscript can be applied as references or examples of character education at school.  Keywords: ancient script, Javanese moral value, education, Tashrihah Al-Muhtaaj
NASALIZATION IN BALINESE VERBS/PENASALAN VERBA BAHASA BALI I Nyoman Udayana
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.876 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.643.339-348

Abstract

Abstract Balinese has two forms in relation to nasal pre xes. First, the initial segment of the verb root can be assimilated with the homorganic nasal and both coalesce. Second, the nasal pre x still assimilates with the rst segment of the verb root but forms a CC cluster. The data source of this study is Balinese dictionaries and analyzed by Optimality Theoretic (OT) so it was found that the af x nasal did not form a cluster with the rst segment of the verb root uniformly occurred in verbs where the rst segment is obstruent both voiced and voiceless while the one forming the cluster is the rst segment of a verb root which is realized by a sonorant. The rst phenomenon can be handled by the constraint * NC (obs) while the second one by violates linearity constraint, namely, Align-L (root) constraint. OT analysis also predicts that the ungrammaticality of an output verb structure ngmaang ‘to give’ due to fact that the correct underlying form baang is confused with its corresponding surface form. Keywords: nasalization, obstruent, sonorant, OT analysis Abstrak Bahasa Bali mempunyai dua bentuk dalam kaitannya dengan pre x nasal. Pertama, segmen awal dari akar verba bisa berasimilasi dengan nasal yang homorganik dan keduanya berkoalisi. Kedua, nasal pre ks masih berasimilasi dengan segmen pertama akar verba, tetapi membentuk klaster CC. Sumber data penelitian ini adalah Kamus Bahasa Bali dan dianalisis dengan Optimality Theoretic (OT) sehingga didapatkan bahwa nasal a ks yang tidak membentuk klaster dengan segmen pertama akar verba secara seragam hanya terjadi pada verba yang mana segmen pertamanya adalah obstruent, baik bersuara maupun tak bersuara sedangkan yang membentuk klaster adalah segmen pertama verba yang direalisasikan oleh segmen bertipe sonorant. Yang pertama bisa ditangani oleh konstrein *NC (obs), sedangkan yang kedua adalah secara jelas melangggar konstrein linieritas, yaitu Align-L (root). Analisis OT juga memprediksi ketidakgramatikalan bentuk-output verba ngmaang ‘memberi’ yang bentuk dasarnya yang benar adalah baang dikacaukan dengan bentuk output-nya. Kata kunci: penasalan, hambatan, sonoran, Analisis OT
SISTEM FONOLOGI BAHASA LIMOLA/PHONOLOGY SYSTEM IN LIMOLA LANGUAGE Jusmianti Garing; Nuraidar Agus; Nurlina Arisnawati; Ramlah Mappau
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.002 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.671.153-168

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengonservasi sistem fonologi bahasa Limola. Data dikumpulkan melalui instrumen berisikan 200 kosakata swadesh dan 200 kosakata budaya. Kosakata tersebut berbahasa Indonesia dan diterjemahkan dalam bahasa Limola berdasarkan kebutuhan data. Analisis data dilakukan dengan mentranskripsikan data dalam bentuk fonetis. Setelah data ditranskripsikan, dilakukan pembuktian klasifikasi dan distribusi fonem. Selanjutnya menelaah penyukuan dan perubahan bunyi dalam bahasa Limola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Limola memiliki lima buah fonem vokal dasar dan tiga belas vokal variasi, sehingga secara keseluruhan terdapat delapan belas vokal yang berfungsi sebagai pembeda makna. Lima vokal dasar bahasa Limola adalah /i/, /e/, /a/, /u/, /o/ dan tiga belas vokal variasi atau alofon dari lima vokal dasar, yaitu adalah /i/ = [i:], [ii], [I]; /e/= [e:], [ɛ], {ɛ:]; /a/= [a:], [aa]; /o/= [o:], [oo], [ɔ]; dan /u/=[u:], [uu]. Uniknya, bahasa Limola selain memiliki diftong, seperti [ia], [ea], [ai], [oɛ], [ua] dan lainnya, juga memiliki diftong yang disebut sebagai diftong kembar atau identik yang terdapat pada bunyi vokal tertentu, yakni bunyi /ii/, /aa/, /oo/, dan /uu/. Keempat bunyi tersebut merupakan bunyi vokal depan /aa/ dan /ii/ dan vokal belakang /oo/ dan /uu/. Selanjutnya, fonem konsonan bahasa Limola terdiri atas tujuh belas konsonan dan ada enam fonem yang tidak ditemukan di dalam bahasa Limola, yaitu, /f/, /h/, /x/, /z/, /q/, dan /v/. Penyukuan bahasa Limola adalah V, VK, KV, KVK, KVV. Selanjutnya, perubahan bunyi bahasa Limola berdasarkan pada proses fonologis melalui asimilasi, diftongisasi, monoftongisasi, anaptiksis, protesis, epentesisi, paragoge, dan zeroisasi. Kata kunci: konservasi, fonologi, bahasa Limola AbstractThe research aims to conserve the phonology system of the Limola language. The data collected using an instrument containing 200 words of Swadesh and 200 words of culture. The words in the Indonesian language were translated into the Limola language based on the data needs. Data analysis was conducted by transcribing data in phonetic form. After the data transcribed, it was proving the classification and distribution of phonemes. Next, the researchers examined the syllable and sound changes that occurred in the Limola language. The results show that the Limola language has five basic vowel phonemes and thirteen vowels of variation, thus in total, eighteen Limola vowels function as distinctive meaning. The five basic vowels are /i/, /e/, /a/, /u/, /o/ and the thirteen vowels are /i/ = [i:], [ii], [I]; /e/= [e:], [ɛ], {ɛ:]; /a/= [a:], [aa]; /o/= [o:], [oo], [ɔ]; and /u/=[u:], [uu]. Apart from diphthongs such as [ia], [ea], [ai], [o], [ua], and others, the Limola language also has diphthongs known as twin or identical diphthongs, which are found in some vowels, i.e., [ii], [aa], [oo], and [uu]. The four sounds are the front vowel, namely [aa] and [ii], and the back vowel, namely [oo] and [uu]. Furthermore, the Limola consonant phoneme consists of seventeen consonants and there are six phonemes that are not found in the Limola language, namely, /f/, /h/, /x/, /z/, /q/, and /v/. The syllables of the Limola language are V, VK, KV, KVK, KVV. Then, the phonological process of assimilation, diphthongization, monophthongization, anaptyxis, prosthesis, epenthesis, paragoge, and zeroization is being used to demonstrate the sound changes throughout the Limola language. Keywords: conservation, phonology, the Limola language
LICIK ATAU CERDIK? SERANGKAIAN TANGGAPAN DARING KEPADA SI KANCIL/A TRICKY OR CLEVER? THE RESPONSES ON CYBERSPACE TO THE MOUSE DEER Tri Amanat
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.302 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.543.209-222

Abstract

                               Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tanggapan daring terhadap (cerita) Si Kancil. Data penelitian diambil dari google.id dan google.com pada rentang November 2019—Januari 2020 berbentuk teks-teks tanggapan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori resepsi pembaca. Tanggapan yang ditemukan berbentuk; interpretasi, kritik sastra, dan konkretisasi. Nada tanggapan berkategori; positif, netral, dan negatif. Tanggapan interpretasi berisi; pengaruh Si Kancil pada pembentukan karakter, implikasi budayanya, nilai-nilai dalam cerita, dan sejarahnya. Tanggapan kritik sastra berupa sorotan adanya kemungkinan pengaruh negatif Si Kancil terhadap karakter pembaca, dan solusi mengatasinya. Tanggapan konkretisasi berbentuk; menerjemahkan dalam bahasa Inggris, transfer media, dan menggubah cerita Si Kancil. Ditemukan kecenderungan orang asing/non-Indonesia lebih bisa menemukan sisi positif dari Si Kancil, dengan cara mengolah cerita Si Kancil sehingga layak dikonsumsi oleh anak-anak. Sebagian penanggap orang Indonesia ada yang menganggap Si Kancil bernilai negatif, ada yang menyarankan untuk menghapus cerita ini, dan ada yang menganggap cerita bangsa lain lebih hebat. Kata kunci: cerita Si Kancil, resepsi pembaca, tanggapan daring Abstract This study aims to examine online responses to the (Kancil) mouse deer. The research data was taken from google.id and google.com in the range of November 2019-January 2020 in the form of response texts. This research uses descriptive qualitative method with reader reception theory. The response found is shaped; interpretation, literary criticism, and concretization. The tone of response categorized; positive, neutral, and negative. Interpretation responses contain; Si Kancil’s in uence on character formation, cultural implications, values in the story, and its history. Literary criticism responses in the form of highlights of the possibility of the negative in uence of the Mouse Deer on the reader’s character, and solutions to overcome them. Concretization response takes the form of; translate in English, transfer media, and compose the story of The Mouse Deer. It was found that the tendency of foreigners / non- Indonesians was more able to nd the positive side of The Mouse Deer, by processing the Mouse Deer’s story so that it was suitable for consumption by children. Some of the Indonesian respondents consider that the Mouse Deer is negative, some suggest removing this story, and some consider the story of other nations to be more powerful. Keywords: The Mouse Deer story, reader reception, online responses
ORAL TRADITION OF SANSANA BANDAR OF DAYAK NGAJU IN KAPUAS WATERSHED CENTRAL KALIMANTAN/TRADISI LISAN SANSANA BANDAR DAYAK NGAJU DI DAS KAPUAS KALIMANTAN TENGAH Titik Wijanarti; Bani Sudardi; Mahendra Wijaya; Sri Kusumo Habsari
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.411 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.513.235-246

Abstract

Abstract Sansana Bandar is one of the oral traditions of the Dayak Ngaju people of Central Kalimantan in the form of a story about Bandar. This study aims to examine the narrative of the Bandar by contextualizing all aspects of the story to the socio-cultural history of the Dayak ethnic group. This study used an ethno- graphic approach. Data collection techniques used were library research, interviews, staging, recording, and transcription. The data obtained were then analyzed semiotics. The results show that Sansana Bandar is still maintained by the Dayak Ngaju community in the Kapuas Regency. The purpose of staging Sansana Bandar is so that one’s ideals can be achieved. Sansana Bandar staging requires requirements and is carried out from afternoon to morning. Sansana Bandar’s text analysis shows the in uence of cultures outside the island of Kalimantan in the life of the Ngaju Dayak community. Keywords: oral tradition, Sansana Bandar, Dayak Ngaju, Kapuas wastershed, Central Kalimantan Abstrak Sansana Bandar adalah salah satu tradisi lisan masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah yaitu berupa cerita tentang seorang tokoh bernama Bandar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasicerita Bandar melalui seluruh aspek cerita yang dikaitkan dengan konteks social historis dan social budaya suku Dayak Ngaju. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnogra . Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah penelusuran pustaka, wawancara, pementasan, perekaman, dan transkripsi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara semiotik. Hasil penelitian menunjuk- kan bahwa Sansana Bandar masih dipertahankan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Kabupaten Kapuas. Tujuan pementasan Sansana Bandar bagi tuan rumah adalah supaya cita-cita berhajat dapat tercapai. Sansana Bandar dipentaskan memerlukan persyaratan dan dilakukan pada waktu sore sampai pagi hari. Analisis teks cerita Sansana Bandar menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan luar pulau Kalimantan dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju. Kata kunci: tradisi lisan, Sansana Bandar, Dayak Ngaju, DAS Kapuas, Kalimantan Tengah 
SEKS SEBAGAI TINDAKAN RADIKAL DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI/THE SEXUAL ACTION AS RADICAL ACT IN SAMAN NOVEL BY AYU UTAMI Sarwo Ferdi Wibowo; Hasina Fajrin R.; Puji Retno Hardiningtyas
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.52 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.682.11-24

Abstract

AbstrakElemen seksual dalam novel Saman karya Ayu Utami masih sering dijustifikasi melalui nilai-nilai kesusilaan yang merupakan bagian dari dunia simbol. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang membahas karya tersebut dalam perspektif psikoanalisis-historis Slavoj Žižek. Metode psikoanalisis historis digunakan untuk melihat elemen seksual dalam karya Ayu Utami secara berbeda. Data dikumpulkan melalui pembacaan secara teliti dan berulang terhadap novel Saman untuk menemukan frasa, kalimat, paragraf, dan wacana yang memuat kualitas-kualitas subjek dialektis Slavoj Žižek. Data tersebut kemudian direlasikan untuk menentukan posisi subjek sebagai subjek radikal atau sebaliknya berdasarkan konsepsi pembentukan subjek radikal Žižek, yaitu konstruksi dunia simbolik-momen kekosongan-tindakan radikal-terbentuknya subjek radikal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh dalam novel Saman, yaitu Laila dan Wisanggeni memiliki hasrat seksual yang lepas dari dominasi simbolik sehingga melakukan tindakan radikal. Melalui aktivitas seksual yang didorong hasrat yang murni tersebut, kedua tokoh tersebut memasuki momen kekosongan. Proses tersebut menyebabkan tokoh Laila dan Wisanggeni menjadi subjek radikal yang telah keluar dari dunia simbolik. Oleh karena itu, keberadaan subjek radikal dalam sebuah novel dapat dikatakan sebagai sebuah retakan dunia simbolik seksualitas yang secara ontologis konsisten. Kata kunci: seksualitas, tindakan radikal, psikoanalisis-historis  Abstract The sexual element in “Saman” by Ayu Utami frequently is justified by the value of decency which becomes a part of the symbolic world. This study is descriptive research that discusses the novel from Slavoj Žižek’s historical-psychoanalysis perspective. The historical-psychoanalysis method consents to uncover the sexual element in the novel by Ayu Utami differently. Data collected through reading carefully and respectively of Saman novel are done to find out the phrases, sentences, paragraphs, and discourses that contain qualities of Slavoj Žižek’s dialectic subject. Collected data are then related to determining subject position as the radical subject or otherwise considering the construction of the symbolic world-ex nihilio- radical act-radical subject. The result of this research reveals that Laila and Wisanggeni characters in the novel of Saman have a sexual desire separated from symbolic dominance, and its practice becomes a radical act. Through sexual activity driven by passion, they enter the moment of the void. The process caused the figure of Laila and Wisanggeni to be a radical subject that has been out of the symbolic world. Therefore, the existence of a radical subject in a novel can be said to be a maligned symbolic world of sexuality ontologically consistent. Keywords: sexuality, radical act, historical-psychoanalysis 
REALISASI TINDAK KESANTUNAN POSITIF DALAM WACANA AKADEMIK DI MEDIA SOSIAL BERPERSPEKTIF HUMANIS/POSITIVE POLITENESS OF ACADEMIC DISCOURSE TAKING PLACE IN SOCIAL MEDIA INTERACTION: A HUMANITY PERSPECTIVE Hari Kusmanto; Nadia Puji Ayu; Harun Joko Prayitno; Laili Etika Rahmawati; Dini Restiyanti Pratiwi; Tri Santoso
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.174 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.454.323-338

Abstract

Abstrak Studi ini bertujuan mendeskripsikan wujud kesantunan berkomunikasi dalam media sosial WhatsApp antara mahasiswa dan dosen. Studi ini adalah kualitatif. Data dalam studi ini adalah kalimat-kalimat santun dalam wacana akademik di media sosial. Sumber data dalam studi ini adalah tuturan wacana akademik di media sosial. Pengumpulan data dalam studi ini menggunakan metode dokumentasi, simak, dan dilanjutkan dengan teknik catat. Analisis data dalam studi ini dilakukan dengan metode padan intralingual; padan pragmatis dan diperkuat dengan teknik analisis kesantunan Brown dan Levinson berperspektif humanis. Hasil studi ini menunjukkan tindak kesantunan positif meliputi: (1) mengucapkan terima kasih sebagai penghormatan kepada mitra tutur, 48%; (2) memberikan pertanyaan sebagai wujud perhatian kepada mitra tutur, 8%; (3) memberikan informasi kepada mitra tutur sebagai wujud kepedulian, 18%; (4) menunjukkan keoptimisan kepada mitra tutur supaya termotivasi, 4%; (5) memberikan hadiah kepada mitra tutur dengan memberikan dukungan, 4%; (6) mengucapkan salam kepada mitra tutur sebagai upaya mendoakan kebaikan kepada mitra tutur, 8%; dan (7) menggunakan penanda identitas sebagai wujud menjalin solidaritas antara penutur dan mitra tutur, 10%. Hal ini menunjukkan mahasiswa memiliki sikap penghormatan yang tinggi kepada dosen dengan menunjukkan komunikasi bernada positif. Tindak kesantunan mengucapkan terima kasih, memberikan informasi yang dibutuhkan mitra tutur, menunjukkan sikap percaya diri, mengucapkan salam merupakan wujud komunikasi yang berperspektif humanis, yakni menjunjung nilai-nilai kemanusian. Penelitian ini bermanfaat dalam membangun komunikasi pembelajaran yang berorientasi pada kesantunan berbahasa yang memartabatkan nilai-nilai humanitas dalam pembelajaran. Kata kunci: kesantunan positif, akademik, media sosial, humanis Abstract This study aims to describe the form of politeness in communicating on WhatsApp social media between students and lecturers. This study is qualitative. The data in this study are polite sentences in academic discourse on social media. The data source in this study is the speech of academic discourse on social media. Data collection in this study uses the documentation method, refer to it, and proceed with note taking technique. Data analysis in this study was carried out using the intralingual equivalent method; pragmatic equivalent and strengthened by Brown and Levinson’s politeness analysis techniques with a sweet perspective. The results of this study show positive politeness actions include: (1) Thank you for the speech partner observer 48%; (2) giving questions as a form of attention to the speech partners 8%; (3) providing information to the speech partners as a form of concern 18%; (4) showing optimism for the speech partners to be motivated 4%; (5) giving gifts to speech partners by giving support 4%; (6) greeting the speech partners in an effort to pray for the kindness of the speech partners 8%; and (7) using identity markers as a form of establishing solidarity between the speaker and the speech partner 10%.. ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 32, No. 2, Desember 2020 323 Realisasi Tindak Kesantunan Positif dalam Wacana Akademik di Media Sosial Berperspektif Humanitas Halaman 323 — 338 (Hari Kusmanto, Nadia P. Ayu, Harun J. Prayitno, Laili E. Rahmawati, Dini R. Pratiwi, dan Tri Santoso) This shows students have a high attitude of respect for lecturers by showing positive communication. Actions of thanksgiving, giving information needed by the speech partner, showing self-con dence, greeting is a form of communication with a humanist perspective, namely upholding human values. This research is useful in building learning communication that is oriented towards language politeness that digni es human values in learning. Keywords: positive politeness, academic, social media, humanity