cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
KULINER, TUBUH, DAN IDENTITAS: SEBUAH PEMBACAAN GASTRO-SEMIOTIKA TERHADAP SEPILIHAN PUISI KARYA HANNA FRANSISCA/CULINARY, BODY, AND IDENTITY: A SEMIOTIC-GASTROCRITICAL READING TO HANNA FRANSISCA’S SELECTED POEM Ahmad Zamzuri
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.314 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.721.1-10

Abstract

AbstrakMakanan pada era kiwari tidak lagi sekadar hidangan, tetapi menjadi perantara munculnya beragam tafsir. Hanna Fransisca menjadi salah seorang penyair yang memanfaatkan khazanah kuliner dalam puisi. Artikel ini mengulas tiga puisi pilihan karya Hanna Fransisca, yaitu “Bakpao Tionghoa”, “Kambing Guling”, dan “Tumis Paru”. Penelitian ini menyoal kuliner dalam puisi yang dibaca melalui perspektif gastrokritik dengan menggunakan metode semiotika Rolland Barthes. Penelitian ini berusaha mengungkap makna kuliner dalam ketiga puisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kuliner dalam puisi “Bakpao Tionghoa”, “Kambing Guling”, dan “Tumis Paru” menyoal tubuh. Bakpao dan kambing guling menjadi medium penarasian tubuh yang tidak memiliki otoritas gerak di ruang sosial. Tubuh disepadankan bakpao yang cenderung diposisikan sebagai objek konsumtif.  Tubuh dalam “Kambing Guling” hadir sebagai tubuh dalam ruang teritori yang cenderung mengekang kebebasan sebagai subjek. “Tumis Paru” menjadi medium penarasian tubuh yang telah terbebas dari penjara badani. Dalam hal identitas, ketiga puisi menarasikan identitas Tionghoa yang identik berkulit cerah dan berada pada ruang-ruang stereotip. Kuliner dalam ketiga puisi tersebut menjadi medium kritik, upaya protes, dan sindiran terhadap praktik-praktik warisan kolonial yang membedakan status dan identitas. Kata kunci: identitas, kuliner, tubuh, Tionghoa, gastrokritik, semiotik AbstractFood in the recent era is no longer just a dish, but an intermediary for various interpretations. One of the poets who have used culinary treasures in the world of poetry is Hanna Fransisca. This article reviews selected poems by Hanna Fransisca entitled "Bakpao Tionghoa", "Kambing Guling", and "Tumis Paru". This research examines culinary in poetry through a gastro-critical perspective using the semiotic method of Rolland Barthes. This research attempts to reveal the culinary meaning in the three poems. The results showed that the culinary in the poetry "Bakpao Tionghoa", "Kambing Guling", and "Tumis Paru" shows body problems. Bakpao and Kambing guling become a medium for body narration which does not have the authority in social space. The body, through bakpao, is to be positioned as a consumptive object. Meanwhile, the body in “Kambing Guling” is present as a body in territorial space which tends to restrain freedom as a subject. “Tumis Paru” becomes a medium for narrating the body that has been freed from physical prison. In terms of identity, the three poems narrate a Chinese identity that is identical with bright skin and exists in stereotypical spaces. The culinary in the three poems is a medium of criticism, protest, and satire against colonial heritage practices that differentiate status and identity. Keywords: identity, culinary, body, Tionghoa, gastrocritics, semiotics
PERAN SOSIAL KIAI PADA MASA KOLONIAL KARYA-KARYA DJAMIL SUHERMAN DALAM TELAAH SOSIOLOGI SASTRA/KIAI’S SOCIAL ROLES AT THE COLONIAL PERIOD AN ANALYSIS OF SOCIOLOGICAL LITERATURE ON THE WORKS OF DJAMIL SUHERMAN Muhammad Rosyid HW
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.072 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.547.25-38

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karya-karya Djamil Suherman menggambarkan sosok kiai dan peran-peran sosial kiai pada masa kolonial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis dengan pisau teoretik sosiologi sastra. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi pustaka yang sumber data penelitiannya adalah kumpulan cerita pendek Umi Kalsum, novel Pejuang-Pejuang Kali Pepe dan novel Sakerah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kiai di dalam karya Djamil Suherman digambarkan sebagai pemimpin pesantren yang taat beragama. Kiai berperan dalam kehidupan sosial dengan cara mengajarkan agama, membimbing umat, mengajarkan kesaktian, memperkuat moral dan melawan penindasan kolonial Belanda. Peran perlawanan terhadap penjajahan ini merupakan ijtihad dan kontekstualisasi pemahaman keagamaan kiai sebagai bagian dari semangat zaman. Kata kunci: kiai, peran sosial, sosiologi sastraAbstractThis paper aims to research how Djamil Suherman's literary works portrayed the figure of the kiai and the social roles of the kiai during colonial period. The method used in this research is analytical descriptive with Alan Swingewood's theory of sociological literature. The data collection was done by literature study techniques where the source of the research data was “Umi Kalsum” collection of short stories, novel “Pejuang-Pejuang Kali Pepe” and novel “Sakerah”. The findings of this study indicate that the kiai in the work of Djamil Suherman is described as a religious leader of a pesantren. The kiai played a role in social life by teaching religion, guiding people, teaching supernatural powers, strengthening morals and resisting the oppression of Dutch. The role of resistance to this colonolialism is a form of ijtihad and contextualization of kiai’s religious understanding as part of the period spirit. Keywords: kiai, social role, sociological literature 
SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM HAIR JEWELLERY KARYA MARGARET ATWOOD DAN THE BLUSH KARYA ELIZABETH TAYLOR/FEMALE SUBJECTIVITY IN TWO SHORT STORIES BY MARGARET ATWOOD AND ELIZABETH TAYLOR Aquarini Priyatna; Rasus Budhyono
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.357 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.421.191-208

Abstract

Abstrak Artikel ini membahas dua cerita pendek, yakni Hair Jewellery karya Margaret Atwood dan The Blush karya Elizabeth Taylor. Kedua cerpen menunjukkan bagaimana tokoh perempuan menegosiasi dan mengupayakan subjektivitasnya dalam suatu konteks kultural dan sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana subjektivitas perempuan ditampilkan melalui deskripsi fisik tokoh utama, perilaku serta pandangan tokoh tersebut terhadap dirinya, serta bagaimana tokoh mempersepsi tubuh dalam membentuk subjektivitasnya di dalam konteks budaya yang berkelindan. Dengan berfokus pada isu tubuh dan penubuhan para tokoh perempuan, isu kelas, relasi personal para tokoh perempuan, serta bagaimana mereka melakukan perlintasan yang terus-menerus antara ranah domestik dan publik, artikel ini berargumentasi bahwa kedua cerpen menampilkan tokoh perempuan yang berusaha merangkul dan membangun subjektivitas perempuan yang feminin dan feminis. Kedua cerpen menampilkan berbagai bentuk subjektivitas yang tidak ajek dan senantiasa berproses. Subjektivitas juga digambarkan berimplikasi kepatuhan, penolakan, dan transgresi terhadap norma gender. Kata kunci: cerpen, perempuan, subjektivitas, Elizabeth Taylor, Margaret Atwood Abstract This article examines two short stories, namely Hair Jewellery by Margaret Atwood and The Blush by Elizabeth Taylor. The two stories show how the female characters negotiate and develop their subjectivities within a certain cultural and social context. The article aims to elaborate on how woman’s subjectivity is presented through the physical descriptions of the main characters, their attitude and behavior toward themselves, and how their perception of how their body contributes to the formation of their subjectivity within a cultural and social context. By focusing on the issues of woman’s body and embodiment, the female characters’ personal relations, and the continuous traversion between domestic and public spheres, the article argues that both stories present women who strive to embrace and develop feminine and feminist woman’s subjectivity. Both stories present a varied forms of subjectivity, all of which is not fixed and is always in-process. Subjectivity is also portrayed to imply different degrees of acceptance, rejection, and transgression of gender norms. Keywords: short stories, women, subjectivity, Elizabeth Taylor, Margaret Atwood 
STRATEGI PEMARKAHAN KEDEFINITAN DALAM BAHASA INDONESIA/DEFINITENESS MARKING STRATEGIES IN INDONESIAN Ketut Widya Purnawati; Ketut Artawa; Ni Luh Putu Krisnawati
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.785 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.563.121-134

Abstract

AbstrakBahasa Indonesia tidak memiliki pemarkah kedefinitan yang khusus. Namun, bahasa Indonesia memiliki sejumlah kata yang dapat berfungsi sebagai pemarkah nomina. Penelitian ini berfokus pada fungsi pemarkah nomina dalam bahasa Indonesia sebagai pemarkah kedefinitan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode penelitian agih dengan teknik utamanya, yaitu teknik bagi unsur langsung. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dengan bersumber pada korpus corpora leipzig dan sejumlah teks fiksi berupa novel dan kumpulan cerita pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia memiliki sejumlah pemarkah nomina berupa (1) demonstrativa dasar, ini dan itu; (2) demonstrativa turunan begini dan demikian; (3) keterangan waktu yang berperilaku sebagai nomina, tadi; (4) verba tersebut; (5) artikula, si dan sang. Selain artikula, semua pemarkah nomina muncul setelah nomina yang dimarkahi. Dari pemarkah nomina yang telah teridentifikasi tersebut, ada lima pemarkah nomina yang dapat berfungsi sebagai pemarkah kedefinitan, yaitu ini, itu, tadi, tersebut, dan si. Berkaitan dengan strategi pemarkahan kedefinitan dalam bahasa Indonesia, ditemukan pula bahwa bahasa Indonesia mengijinkan adanya pemarkah definit ganda dan juga mengijinkan pengulangan nomina definit tanpa pemarkah pada penyebutan ulang setelah penyebutan nomina berpemarkah definit.Kata kunci: relasi anaforis, pemarkah nomina, demonstrativa, pemarkah definit, kedefinitan AbstractIndonesian language does not have a special definit marker. However, the Indonesian language has a number of words that can function as noun markers. This study focuses on the function of noun markers in Indonesian as definite markers. This research is a qualitative descriptive research by using distributional methods with parapharase technique as the main techniques. Data were collected using a note-taking method from the Leipzig corpora and a number of fictional texts in the form of novels and short story collections. The results show that the Indonesian language has a number of noun markers in the form of (1) basic demonstrative, ini and itu; (2) derived demonstrative, begini and demikian; (3) temporal adverbia that behaves like a noun, tadi, (4) verb tersebut; (5) article, si and sang. Based on the noun markers that have been identified, there are five noun markers that can be used as definite markers, those are ini, itu, tadi, tersebut, dan si. It was also found that Indonesian allows the occurrence of double definite markers and also allows the repetition of definite nouns without any marker for the following occurrence of the nouns with definite marker(s). Keywords: Anaphoric relation, noun marker, demonstrative, definite marker, definiteness 
PEMEROLEHAN KOSAKATA ANAK USIA 2 TAHUN SAMPAI DENGAN USIA 2 TAHUN 6 BULAN (STUDI KASUS PADA MUHAMMAD ZAINI)/THE ACQUISITION OF VOCABULARY IN CHILDREN AGED 2 YEARS UP TO THE AGE OF 2 YEARS AND 6 MONTHS (CASE STUDY ON MUHAMMAD ZAINI) Muhammad Rafiek
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.786 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.328.95-110

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang pemerolehan kosakata anak laki-laki bernama Muhammad Zaini dari usia 2 tahun sampai dengan usia 2 tahun 6 bulan. Penelitian ini menggunakan teori tahap-tahap tuturan awal oleh Steinberg, Nagata, dan Aline (2001). Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik longitudinal. Data penelitian ini berupa tuturan Muhammad Zaini yang berisi pemerolehan kosakata. Hasil penelitian ini adalah (1) pemerolehan tuturan satu kata oleh Muhammad Zaini pada usia 2 tahun menunjukkan bahwa Muhammad Zaini lebih banyak menggunakan kata sifat daripada kata benda dan kata kerja, (2) pemerolehan tuturan dua kata oleh Muhammad Zaini pada usia 2 tahun 1 bulan menunjukkan bahwa Muhammad Zaini lebih banyak menggunakan frasa benda, (3) pemerolehan tuturan dua kata oleh Muhammad Zaini pada usia 2 tahun 2 bulan menunjukkan bahwa Muhammad Zaini lebih banyak menggunakan frasa benda, (4) pemerolehan tuturan dua atau tiga kata oleh Muhammad Zaini pada Usia 2 tahun 3 bulan dengan tuturan frasa benda yang terdiri atas kata benda dan kata benda serta kata benda dan kata kerja, (5) pemerolehan tuturan dua atau tiga kata oleh Muhammad Zaini pada usia 2 tahun 4 bulan terdapat kata kerja dan kata keterangan serta kata benda dan kata benda, (6) pemerolehan tuturan tiga kata oleh Muhammad Zaini pada usia 2 tahun 5 bulan lebih banyak menggunakan kata seru dan kata benda, dan (7) pemerolehan tuturan tiga kata sampai lima kata oleh Muhammad Zaini pada usia 2 tahun 6 bulan lebih banyak menggunakan negasi dan kata benda serta kata benda dan negasi.Kata kunci: pemerolehan kosakata, tuturan, anak laki-lakiAbstractThis research aims to describe and explain vocabulary acquisition of boys named Muhammad Zaini age from 2 years to the age of 2 years and 6 months. This research uses theories of early stages of speech by Steinberg, Nagata, and Aline (2001). The method used was qualitative research with longitudinal techniques. The data of this research in the form of speech of Muhammad Zaini containing vocabulary acquisition. The results of this research are (1) the acquisition of speech a Word by Muhammad Zaini at age 2 years shows that Muhammad Zaini more use of the adjective instead of the noun and the verb, (2) the acquisition of speech is the word by Muhammad Zaini at age 2 years 1 month shows that Muhammad Zaini more use the phrase objects, (3) the acquisition of speech is two words by Muhammad Zaini at age 2 years 2 months indicate that Muhammad Zaini more use of objects, phrases (4) the acquisition of speech is two or three words by Muhammad Zaini at age 2 years 3 months with a speech phrase objects composed of a noun and noun and noun and verb, (5) the acquisition of speech is two or three words by Muhammad Zaini at age 2 years 4 month there are verbs and adverbs and adjectives and nouns, (6) the acquisition of speech is three words by Muhammad Zaini at age 2 years 5 months more exciting words and uses nouns, and (7) the acquisition of three-to five-word speech is said by Muhammad Zaini in the age of 2 years and 6 months more use of negation and noun and noun and negation. Keywords: acquisition of vocabulary, speech, boy
TUTURAN DIREKTIF BAHASA PENGASUHAN ANAK PRA-SEKOLAH DI INDONESIA: SEBUAH STUDI KASUS/DIRECTIVE PRE-SCHOOL PARENTING LANGUAGE IN INDONESIA: A CASE STUDY Hadi Machmud; Fahmi Gunawan
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.344 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.960.269-282

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tuturan direktif bahasa pengasuhan anak pra-sekolah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Data penelitian berupa tuturan direktif guru terhadap siswa dan tuturan siswa terhadap guru yang mengandung kesantunan.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi. Analisis data dilakukan secara tematik dan menggunakan paramater kesantunan linguistik tuturan direktif Kunjana (2005). Hasil penelitian ini melaporkan bahwa penanda kesantunan tuturan direktif bahasa pengasuhan guru terhadap anak-anak pra-sekolah itu berupa penggunaan penanda partikel, seperti ki, ta, ji, iyye, yadalam bahasa Bugis dan penggunaan penanda kesantunan berbentuk kata, seperti kata kekerabatan dan kata julukan. Demikian pula, tuturan direktif guru kepada anak-anak pra-sekolah direalisasikan dalam bentuk kalimat sederhana baik yang berbentuk kalimat pendek maupun panjang. Penelitian ini mengimplikasikan dua hal, yaitu implikasi konseptual dan implikasi  praktis. Secara konseptual, penelitian mengembangkan konsep ‘menjaga muka’ Brown dan Levinson (1987), sementara secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh para guru sekolah untuk senantiasa menerapkan bahasa santun kepada anak didiknya. Penggunaan bahasa santun itu tentu dapat memengaruhi kejiwaan anak dan di masa mendatang mereka dapat meniru perkataan santun yang disampaikan ke mereka. Kata kunci:anak-anak prasekolah, bahasa pengasuhan, Indonesia, kesantunan linguistik, tindak tutur direktifAbstractThis researchaims to elucidate directive pre-school parenting language in Indonesia. This research adopted a case study research design. The utterances of teacher to student containing politeness and vise versa used as the main data. To collect data, observational partisipant was utilized.  Data analysis was carried out thematically and using the linguistic politeness parameter of Kunjana's directive speech (2005). This study reported that politeness markers of directive speech acts incorporate the using of politeness markers particle, such as ki, ta, ji, iyye, ya, sini in Buginesse language and politenesswords, like kinships and nicknames. Likewise, the teacher's directive speech to pre-school children is realized in the form of simple sentences, both in the form of short and long sentences. This research implied conceptual and practical implications. Conceptually, this research extends the concept 'face threatening act' of Brown and Levinson (1987), while practically, this evidence is expected to be used by school teachers to always apply polite language to their students. The use of polite language can certainly affect children's psyche and in the future they can imitate polite words conveyed to them.Keywords:directive speech act, linguistics politeness, parenting language, pre-school children, Indonesia 
LOKALITAS MASYARAKAT DALAM NOVEL ORANG-ORANG OETIMU/LOCALITY OF THE PEOPLE IN NOVEL’S ORANG-ORANG OETIMU Intan Zuhrotun Nafi'ah; Candra Rahma Wijaya Putra
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.439 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.603.201-214

Abstract

 AbstrakTema lokalitas yang dikemas dengan sangat apik mengantarkan Felix K. Nesi menyabet pemenang sayembara tahunan DKJ 2018. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dinamika lokalitas masyarakat NTT yang dinarasikan pengarang dalam novelnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Sumber data penelitian ini adalah novel Orang-Orang Oetimukarya Felix K. Nesi. Data penelitian berupa kata, frasa, atau kalimat yang menunjukkan unsur-unsur lokalitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama terdapat enam unsur lokalitas yang dinarasikan dalam novel. Enam unsur tersebut diantaranya ialah lokalitas bahasa, lokalitas religi, lokalitas sistem pengetahuan, lokalitas sistem perekonomian, lokalitas kesenian, serta lokalitas sistem teknologi. Kedua, sebagian besar unsur lokalitas tersebut mengalami perkembangan. Perkembangan ini bagaikan dua sisi mata pisau, dimana satu sisi memberikan pengaruh positif dan sisi yang lain memberikan pengaruh yang negatif. Ketiga, adanya perkembangan kebudayaan ini tidak terlepas dari munculnya arus globalisasi yang terbangun atas 4 dimensi kebudayaan global yakni ideoscape, ethnoscape, mediascape, dan technoscape.  Kata kunci:lokalitas, kebudayaan, sosiologi sastra AbstractTheme of locality was packaged very nicely led Felix K. Nesi to win in the 2018 DKJ annual contest. The purpose of this study was to examine the dynamics of locality of the NTT. This research is a qualitative descriptive study with a sociological approach to literature. The data source of this research is the novel Orang-Orang Oetimu by Felix K. Nesi. Research data form of words, phrases, or sentences that indicate of locality. The results of this study are first there are six elements of locality narrated in the novel. These six elements include language locality, religious locality, knowledge system locality, economic system locality, artistic locality, and technological system locality. Second,) most of these elements locality is developing. Development are two sides of the blade, where one side impact positive and the other negative impact. Third, development of these cultures can’t be separated from the globalization developed 4 dimension global culture as ideoscape, ethnoscape, mediascape, and technoscape.Keywords: locality, culture, sociology of literature  
MOTIF KARGOISME DALAM CERITA RAKYAT FAKFAK: SEBUAH PENDEKATAN ANTROPOLOGI SASTRA/THE MOTIVATION OF CARGOISM IN FAKFAK'S FOLKLORE: AN APPROACH TO LITERATURE ANTHROPOLOGY Sriyono Sriyono
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.897 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.602.187-200

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis refleksi kargoisme di dalam cerita rakyat Fakfak melalui pendekatan antropologi sastra. Untuk menganalisis unsur budaya motif kargoisme (kultus kargo) masyarakat Fakfak dalam cerita rakyat, maka peneliti menggunakan metode deskriptif interpretatif dengan memanfaatkan cara-cara penafsiran dan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan catat, kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra dengan model analisis konten. Analisis konten dilakukan melalui tahap inferensi, analisis, validitas dan reliabilitas. Dari analisis diketahui bahwa motif kargoisme di dalam 6 cerita rakyat Fakfak yang berjudul “Botol Manci”, “Kisah Kaprangit Gewab”, “Sayap Burung Kasuari”, “Perlawanan Para Binatang Buruan””, Perundingan Sekelompok Burung”, dan “Pohon Kayu” terlihat jelas. Temuan ini mengukuhkan pernyataan bahwa setiap ada tindakan represif pasti akan timbul perlawanan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian besar cerita yang ada bermotif perlawanan. Kata kunci:motif kargoisme, cerita rakyat Fakfak, antropologi sastra AbstractThe study was intended to describe a cargoism reflection in the folklore of Fakfak through the approach of literary anthropology.To analyze cultural elements of Fakfak cargoism motive (cargo cult) in folklore, descriptive methods of interpretation used to utilize interpretations by presenting them in a description.Data collection is done with interview and recording techniques, and then analyzed using literary anthropology approaches with content analysis models. Analysis shows the cargoism motive in 6 Fakfak folklore called  Botol Manci, Kisah Kaprangit Gewab, Patahnya Sayap Burung Kasuari, Perlawanan Para Binatang Buruan, Perundingan Sekelompok Burung, and Pohon Kayuclearly reflected. These findings confirm the claim that any repressive action will inevitably result in resistance. It is not suprising, therefore, that most stories have ulterior motives. Keywords:cargoism motive, Fakfak folklore, literarture anthropology 
BUDAYA BALI SEBAGAI MEDIA MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN BIPA TINGKAT PEMULA/BALI CULTURE AS A MOTIVATION MEDIUM IN LEARNING INDONESIAN FOR FOREIGNERS (BIPA) FOR BEGINNER LEVEL Sang Ayu Putu Eny Parwati
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.965 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.654.323-333

Abstract

AbstrakPengenalan budaya lokal sebagai media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis bagi pemelajarnya. Media pembelajaran yang menyangkut budaya pada bahasa yang dipelajari juga dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, serta memudahkan penafsiran dan memadatkan informasi, seperti yang ada dalam budaya Bali yang dapat diaplikasikan dalam pengajaran BIPA untuk Tingkat Pemula. Dengan menerapkan metode studi pustaka yang berlandaskan pada beberapa sumber dan pengetahuan penulis tentang budaya Bali, tulisan ini dapat dipaparkan dengan metode naturalistik karena hal-hal yang berkaitan dengan masalah budaya dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting). Hasil yang diperoleh, yaitu budaya Bali sebagai media pembelajaran BIPA untuk pemelajar Tingkat Pemula, khususnya bagi pemelajar yang sedang belajar di Bali sangat menarik untuk disampaikan sebagai media penunjang pembelajaran utama dan sebagai motivasi untuk meningkatkan kemampuan memahami materi yang sedang dipelajari oleh pemelajar. Pengenalan etika berbicara dalam bentuk sapaan, mengucapkan salam dengan gestur yang tepat, dan mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan aktivitas adat dan keagamaan yang masih sangat kental dalam budaya Bali sangat perlu dan menarik untuk diketahui oleh pemelajar. Selain itu, gagasan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun bahan ajar atau bahan penunjang pengajaran BIPA untuk Tingkat Pemula selanjutnya, khususnya bagi lembaga BIPA yang ada di Provinsi Bali.Kata kunci: BIPA, budaya Bali, media, motivasiAbstractThe introduction of local culture as arouse teaching medium in the teaching-learning process can arouse desire and interest, evoke motivation and stimulation of learning activities, and even bring psychological influences to the learners. Learning media related to the culture where a language is learned can also help students to increase understanding, present data attractively and reliably, facilitate interpretation and condense information is available in Balinese culture that can be applied in teaching BIPA for Beginner Level. By applying the literature study method which is based on several sources and the author’s knowledge about Balinese culture, this paper can be presented with naturalistic methods because matters relating to cultural issues are carried out in natural settings. The results obtained that the Balinese culture as BIPA learning media for Beginner Level students, especially for students who are studying in Bali is very interesting to be conveyed as a primary learning support medium and as a motivation to improve the ability to understand what is being learned by students. The introduction of ethics speaks in the form of greetings, says greetings with appropriate gestures, and expresses matters related to traditional and religious activities that are still very thick in Balinese culture. In addition, this idea can be taken into consideration in preparing teaching materials or supporting materials for BIPA teaching for the next Beginner Level, especially for BIPA institutions in the Province of BaliKeywords: BIPA, Balinesse culture, supporting materials, motivation
LITERARY FOLKTALES PROMOTING CHILDREN'S MULTIPLE INTELLIGENCES/KARYA SASTRA YANG MENINGKATKAN KECERDASAN MULTIPEL ANAK-ANAK Berhanu Asaye Agajie
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.862 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.557.245-256

Abstract

AbstractThe objective of this study wasto investigate how literary folktale narrations promoting children's multiple intelligences. In this study qualitative design was adopted. The target populations of this study were found in Awi zone. In this case, expert sampling was used to capture multiple intelligences entrenched in a meticulous manifestation of knowledge in folktales.Through purposive sampling 20 folktale narrators (10 females and 10 male) were interviewed and two group discussions were conducted. The result of the study showed that engagement of children within literary narrations enablesthem to promote their linguistic, logical, spatial, musical, natural, interpersonal, intrapersonal, and bodily kinesthetic intelligences. Result and discussion showed thatliterary folktale narrations promote social cohesion regardless of age and gender. The children at any talent stage were acquainted with how to use their multiple intelligent through learning and their life experiences. This hypothesis is significant to elementary education because teachers able to observe more recurrently that students learn in different ways. Therefore, there is close relationship between literacy and folklore in influencing naturalist intelligencechildrento make a distinction among animals, categorize, and use features of the environment.Keywords: children, folktale, intelligences, literaryAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk meneliti bagaimana narasi folktale yang meningkatkan  kecerdasan multipel anak-anak. Dalam penelitian ini, digunakan desain kualitatif. Target populasi penelitian ini ditemukan di wilayah Awi. Dalam kasus ini, expert sampling digunakan untuk mengkaji kecerdasan multipel yang berakar dalam manifestasi pengetahuan folktale. Melalui purposive sampling(penyampelan berdasarkan tujuan), 20 pencerita folktale (10 perempuan dan 10 laki-laki) diwawancarai dan dua diskusi kelompok dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelibatan anak-anak dalam narasi sastra memungkinkan mereka untuk meningkatkan kecerdasan linguistik, logis, spasial, musik, alami, interpersonal, dan kinestetik tubuh mereka. Hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwa narasi folktale meningkatkan hubungan sosial tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Anak-anak pada setiap tahap bakat berkenalan dengan bagaimana menggunakan kecerdasan multipel mereka melalui pembelajaran dan pengalaman hidup mereka. Hipotesis ini sangat penting bagi pendidikan dasar guru dapat mengamati secara berulang-ulang bahwa siswa belajar dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu, ada kaitan erat antara literasi dan cerita rakyat dalam memengaruhi kecerdasan alami anak-anak untuk membuat perbedaan di antara hewan, mengategorikannya, dan menggunakan karakteristik lingkungan.  Kata Kunci: anak-anak, dongeng, kecerdasan, literasi