cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSARA is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in AKSARA have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. AKSARA is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
KAJIAN PESAN TEKS MONOLOGIS WHATSAPP/A STUDY OF WHATSAPP MONOLOGIC TEXT MESSAGE  Subiyantoro Subiyantoro
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.487 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.728.295-308

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untukmenemukan dan mendeskripsikan struktur, bahasa yang dipilih untuk mentransmisikan, serta karakter pesan teksmonologis yang ditulis di ruang pesan tiga grup WhatsAppdan sekaligus dikirim ke seluruh anggota grup. Data berupa pesan teks monologis, diperoleh dari sumber tertulis tiga grup WhatsAppberbeda dengan cara membuat tangkapan layar pesan teks yang dipilih. Untuk menguji validitas data dilakukan wawancara dengan informan terkait. Data berbahasa Prancis bersumber dari sebuah grup WhatsAppyang anggotanya berprofesi sebagai guru bahasa Prancis, data berbahasa Indonesia diambil dari sebuah kelompok pengajian, dan data berbahasa Jawa diperoleh dari sebuah grup WhatsAppRW. Data terkumpul dianalisis berdasar perspektif monologis Bakhtin. Hasil analisis menunjukkan bahwa pesan teks monologis di dalam ruang pesan grup-grup WhatsApptersebut dituturkan dari penutur yang berwewenang kepada seluruh partisipan di masing-masing grup dalam konteks pemberian informasi.  Pesan teks monologis tersebut dapat berstruktur lengkap atau semi lengkap, cenderung disampaikan dalam bahasa yang prestise di lingkungannya, dan secara umum bersifat otoritatif. Kata kunci: monologis, otoritatif, pesan teks, WhatsApp AbstractThis studyaimed to discover and describe the structures, language preference, and characters of the monologic text messages written and sent to all group members in the message spaces of three WhatsApp groups.The data that were in the forms of monologic text messages were obtained from three written sources, which were three WhatsApp groups, by taking and saving screenshots of selected text messages. To test the validity of the data, interviews were conducted with informants. The data written in French were collected from a WhatsApp group whose members are the French language teachers. The data written in Indonesian were obtained from a Quran reading group, and those in Javanese were collected from a WhatsApp group of a community unit (RW). All of the collected data were analyzed based on Bakhtin's monologic perspective. The results of the analysis showed that the monologic text messages in the message spaces of the WhatsApp groups were written by speakers (group members) with authority over all other group members in the three WhatsApp groups in terms of providing information. The monologic text messages were either complete or semi-complete, tended to be conveyed in language that showed prestige in each group’s environment, and were generally authoritative. Keywords: monologic, authoritative, text message, WhatsApp
TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: KEKERASAN BUDAYA DAN ARKEOLOGI-GENEALOGI PENGETAHUAN/ TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: CULTURAL VIOLENCE AND ARCHEOLOGY-GENEALOGY OF KNOWLEDGE Mashuri Mashuri
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.988 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.710.169-186

Abstract

AbstrakPenelitian sandur, kesenian rakyat berupa drama tari di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro sudah banyak, tetapi yang membicarakan tentang kekerasan budaya dan tembang sandur dalam kerangka arkeologi dan genealogi pengetahuan belum ditemukan. Hal itu karena kekerasan budaya menimpa seni tersebut karena imbas stigmatisasi sepihak pascatahun 1965—1966 yang menganggap sebagai kesenian rakyat yang berafiliasi ke PKI, dan pada masa puritanisme Islam menguat pada tahun 1990-an yang menganggap sandur tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, padahal isi tembang-tembang sandur kontradiksi dengan stigma tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini menguak aspek kekerasan budaya dengan menelusuri tembang sandur dari perspektif genealogi dan arkeologi pengetahuan dalam bingkai cultural studies. Teori yang digunakan adalah triangulasi teori, yaitu folklor, arkeo-genealogi pengetahuan, dan kesejarahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tembang-tembang sandur memiliki metrum puitika Jawa yang mengarah pada nyanyian anak-anak, dengan media bahasa Jawa lokal, dan menyimpan jejak kearifan lokal, etika, dan spiritual, (2) nilai-nilai Islam-Jawa menjadi ruh tembang-tembang sandur. Di dalamnya terdapat sinkretisme nilai-nilai Jawa dan Islam, (3) stigmatisasi sepihak pada Sandur Bojonegoro, baik oleh kalangan anti-komunis maupun puritanisme Islam, hanya melihat pada konteks kesejarahan Indonesia pada Orde Lama ketika politik menjadi panglima dan hanya melihat penampang permukaan semata tanpa mendalami unsur-unsur pembentuknya, ideologi, ajaran luhur, dan tradisi yang melahirkan seni sandur.    Kata kunci:Sandur Bojonegoro, kekerasan budaya, arkeologi, genealogi pengetahuan  AbstractThere are many researches on sandur, folk art in the form of dance dramas in Ledok Kulon Village, Bojonegoro District, Bojonegoro Regency, but those that talk about cultural violence and tembang sandurin the archaeological framework and genealogy of knowledge have not been found. This is because cultural violence befell the art because of the impact of unilateral stigmatization after 1965-1966 which considered it a folk art affiliated to the PKI, and during the period of strong Islamic puritanism in the 1990s, which considered sandur not in accordance with Islamic values, even though the contents tembang sandurcontradict this stigma. Therefore, this study uncovers aspects of cultural violence by tracing tembang sandurfrom the perspective of genealogy and knowledge archeology within the framework of cultural studies. The theory used is triangulation of folklore theory, archeology-genealogy of knowledge, and history. As a result, (1) the sandursongs have a Javanese poetic metre that leads to children's singing, with local Javanese language media, and keeps traces of local wisdom, ethics, and spirituality, (2) Javanese-Islamic values become the spirit of the tembang sandur. In it there is a syncretism of Javanese and Islamic values, (3) the unilateral stigmatization of SandurBojonegoro, both by anti-communists and Islamic puritans, only looks at the historical context of Indonesia in the Orde Lamawhen politics was the commander and only sees the surface without explore its constituent elements, ideology, noble teachings, and traditions that gave birth to the art of sandur. Keywords:SandurBojonegoro, cultural violence, archeology, genealogy of knowledge
PSK DALAM FRAMING TIGA MONOLOG/PROSTITUTE ON THREE MONOLOGUES FRAMING Resti Nurfaidah
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.25 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.718.215-228

Abstract

Abstrak Makalah berjudul “PSK dalam Framing Tiga Monolog” ditulis untuk membahas tokoh PSK dalam ketiga monolog yang bertemakan kehidupan PSK, yaitu Monolog Tanda Tanya (Anggi Eka Putri), Monolog Pelacur (Putu Wijaya), danMonolog Cahaya (Lenny Koroh dan Silvester Hurit). Penelitian dalam makalah tersebut dibatasi pada penampilan tokoh PSK dalam ketiga monolog, pembahasan PSK berdasarkan konsep framingdan representasi, serta sikap lingkungan terhadap tokoh PSK. Penelitian ini merupakan kualitatif dengan metode analisis deskriptif komparatif pada ketiga monolog. Konsep teoretis yang digunakan dalam penelitian ini adalah framing Pan Konscki, serta representasi Hall. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil berikut: (1) PSK yang ditampilkan dalam ketiga monolog ditunjukkan sebagai perempuan yang terjerumus. Tokoh PSK mudah terjerumus ke dalam dunia hitam, tetapi sulit keluar dari dunia tersebut; (2) Berdasarkan hasil framing dan representasi, tokoh PSK merupakan korban yang tidak mampu mengatasi dampak pelecehan seksual atau pemerkosaan. Kekecewaan berkepanjangan tidak pernah teratasi karena tokoh PSK dipertemukan dengan lingkungan atau pihak yang berkompeten menjerumuskan perempuan itu di dunia hitam, misalnya teman atau kekasih. Konflik dengan sosok ayah juga dianggap sebagai pencetus utama tercetusnya seorang perempuan ke dunia hitam; serta (3) sikap lingkungan terhadap tokoh PSK menunjukkan bahwa dunia hitam para PSK bukan dunia yang ramah. PSK tidak dapat ke luar dari dunia tersebut dengan mudah sementara ia harus bertanggung jawab untuk kehidupan anggota keluarganya.  Selain itu, ia harus menanggung risiko besar selama menjalani profesinya, tanpa perlindungan apa pun. PSK bukan saja mengalami kesulitan di dunianya sendiri, melainkan pula di dunia luar. Lingkungan sosial sulit menerima eksistensi mereka, bahkan cenderung merendahkan. Tidak jarang lingkungan sosial dapat menjadi pencetus atau pendukung terjerumusnya seorang perempuan menjadi PSK. Kata kunci: PSK, framing, pelecehan, korban Abstract"PSK in Framing of Three Monologues" discussed prostitute figures on the three prostitute themed monologues:  Monolog Tanda Tanya (Anggi Eka Putri), Monolog Pelacur (Putu Wijaya), dan Monolog Cahaya (Lenny Koroh dan Silvester Hurit). The research was limited to (1) the appearance of prostitute figures in all three monologues, (2) prostitute discussions based on the result of framing and representation, also (3) environmental reactions towards prostitutes. This research is qualitative with a comparative descriptive analysis method on all three monologues. The theoretical concept used in this research was Pan Konscki’s framing, as well as Hall representation of the. The result was below. First, PSK displayed in all three monologues was shown as women who were extremely trapped. PSK figures easily fell into the site, but were difficult to get out from. Second, based on the framing and representation, prostitute figures were victims who were unable to cope with the effects of sexual harassment or rape. Prolonged disappointment had never been resolved because they met with the environment or the competent party plunged them into such world, such as friends or lovers. Conflict with a father figure was also considered as the main originator of the emergence of a woman into the sit. Three, the environmental attitude towards the prostitute shew that the surroundings of prostitutes were not a friendly world. They won’t let to be out of it easily while, on the other hand, they had to be responsible for the lives of their family members. In addition, they were close to high-risks of their profession, without any protection. Prostitutes were not only experience difficulties in their own world, but also in the outside world. The social environment also hardly accepted their existence, even tends to be condescending. Sometimes, it could be the originator or supporter of a woman becoming a prostitute. Keywords: prostitute, framing, harrashment, victims
MAKNA DAN FUNGSI TRADISI LISAN KENDURI SKO MASYARAKAT KERINCI JAMBI/MEANING AND FUNGCTIONS OF KENDURI SKO ORAL TRADITION KERINCI SOCIETY IN JAMBI Ricky Aptifive Manik
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.59 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.484.229-244

Abstract

AbstrakKenduri Sko merupakan tradisi pengukuhan gelar adat yang dilakukan oleh masyarakat Kerinci. Di dalam tradisi itu terdapat berbagai piranti dan pepatah-petitih yang belum diketahui makna dan fungsinya. Oleh sebab itu, penelitian ini hendak melihat makna dan fungsi tradisi lisan Kenduri Sko. Ada dua strategi yang digunakan dalam penelitian ini,pertama, pengumpulan data dengan perekaman dan wawancara. Kedua, Kenduri Sko dilihat sebagai fakta semiotik dengan aspek empirik dan aspek nonempirik. Melalui aspek empirik dikaji piranti dan teks pepatah-petitih dalam pengukuhan pemangku adat, sedangkan aspek nonempirik dilihat secara keseluruhan tradisi Kenduri Sko sebagai kesadaran kolektif kebahasaan dan kesadaran kolektif kebudayaan. Metode berikutnya adalah dengan melihat fungsi-fungsi folklore menurut Bascom. Penelitian ini menemukan bahwa Kenduri Skoadalah warisan nenek moyang yang berupa benda pusaka, aturan-aturan, norma-norma, nilai-nilai, dan sebagai ucapan rasa syukur atas apa yang menjadi milik masyarakat Kerinci. Adapun fungsi Kenduri Sko adalah sebagai pengukuhan gelar adat, sistem nilai-nilai kolektif, edukasi bagi pewaris selanjutnya, dan menjadi alat kontrol dalam prilaku sosial masyarakat.Kata kunci: tradisi lisan, kenduri sko, semiotik, kesadaran kolektifAbstractKenduri Sko is a tradition of custom title inauguration held by the Kerinci society. In that tradition, there are various tools and wise words which their meaning and functions are not yet known. Therefore, this study wants to look at the meaning and function of Kenduri Sko oral tradition. Two strategies are used in this study. First, the data are collected by recording and interviewing. Second, Kenduri Sko seen as a semiotic fact with empirical and non-empirical aspects. Through the empirical aspect, petatah-petitih (customary rhyming wise words) text examined in the inauguration of customary stakeholders, while the non-empirical aspect seen as a whole of the Kenduri Sko tradition as collective language and cultural awareness. The next method is to look at the functions of folklore according to Bascom. This research found that Kenduri Sko is a legacy of ancestors in the form of heirlooms, rules, norms, values, and gratitude for what belongs to the Kerinci’s community. Kenduri Sko functions as an oath of customary titles, a system of collective values, education for the next heirs, and a means of control in people’s social behavior.Keywords: oral tradition, kenduri sko, semiotics, collective awareness
SYNTACTICAL ERROR ANALYSIS OF EFL LEARNER IN CONVERSATION CLASS AT ENGLISH LITERATURE STUDY PROGRAM/ANALISIS KESALAHAN SINTAKSIS PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING PADA KELAS PERCAKAPAN DI PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS Heri Kuswoyo; Laila Ulsi Qodriani; Khairunnisa Khairunnisa
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.028 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.479.309-322

Abstract

AbstractThe learner’s syntactical error analyses have long been interested in the second and foreign language researchers. This study aimed at investigating the syntactical error types, the form of error, and the frequencies of these errors that occurred in the sixth-semester student presentation on the conversation class at the English Literature Study Program in Universitas Teknokrat Indonesia. To achieve the objectives, the data were collected from the learner’s transcribed speech. The sampling of non-probability was used to select the classroom and participant’s characteristics. These data were collected by video recording, non- participant observation techniques, and documents. To classify the learner’s syntactical errors, Politzer Ramirez’s (1973) syntactical errors taxonomy was adopted. Further, the qualitative method was applied in this study. Based on the result of the analysis, there were 64 syntactical errors uttered by the learner. The results of the analysis were then categorized into three forms: phrases, clauses, and sentences. The results of this study showed that the learner often made the syntactical error in the form of sentences. That was 32 errors (50%). Furthermore, the study found that the amount of confusion was the most commonly uttered as the type of error (26,56%). The learner often got confused to make the right use between the number and the subject mentioned. Thus, the findings indicated that even though the learner considered as the best; yet the learner still possibly made some errors. Therefore, lecturers or instructors should raise the students’ syntactical error awareness. So that it could improve the student’ speaking skills in their level of English.Keywords: error analysis, syntactical error, conversation class, speaking skillsAbstrakAnalisis kesalahan sintaksis siswa telah lama menjadi hal yang menarik bagi peneliti bahasa kedua dan asing. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki jenis kesalahan sintaksis, bentuk kesalahan, dan frekuensi kesalahan tersebut pada presentasi siswa semester enam pada kelas percakapan di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Teknokrat Indonesia. Untuk mencapai tujuannya, data dikumpulkan dari presentasi siswa yang telah ditranskripsikan. Sampling non-probabilitas diterapkan untuk memilih karakteristik kelas dan partisipan. Data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan teknik perekaman video, pengamatan non-partisipan, dan dokumen. Untuk mengklasifikasikan kesalahan sintaksis mahasiswa, taksonomi kesalahan sintaksis Politzer dan Ramirez (1973) diadopsi. Lebih lanjut, metode kualitatif diterapkan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 64 kesalahan sintaksis yang ditemukan pada presentasi siswa. Hasil analisis kemudian dikategorikan dalam tiga bentuk, yakni frase, klausa, dan kalimat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sering membuat kesalahan sintaksis dalam bentuk kalimat, yakni 32 kesalahan (50%). Lebih jauh, penelitian ini menemukan bahwa ‘number of confusion’ merupakan jenis kesalahan yang sering diujarkan, yakni 26,56%. Pembelajar sering mengalami kebingungan dalam menggunakan antara nomor dan subjek yang disebutkan. Dengan demikian, temuan menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa dianggap yang terbaik masih membuat beberapa kesalahan. Oleh karena itu, dosen atau instruktur harus meningkatkan kesadaran kesalahan sintaksis mahasiswa sehingga hal ini dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa di tingkat bahasa Inggris mereka.Kata kunci: analisis kesalahan, kesalahan sintaksis, kelas percakapan, keterampilan berbicara
KOHESI GRAMATIKAL REFERENSI PRONOMINA PERSONA DALAM TEKS PARIWISATA PADA PESONAINDONESIA.KOMPAS.COM/GRAMATICAL COHESION OF PERSONAL PRONOUNS IN THE TOURISM TEXT ON PESONAINDONESIA.KOMPAS.COM Bakdal Ginanjar; Dwi Purnanto; Hesti Widyastuti; Chattri S. Widyastuti
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.227 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.498.257-268

Abstract

AbstrakPenelitian ini diarahkan pada kajian teks wacana pariwisata dengan pendekatan analisis wacana. Permasalahan yang dikaji adalah aspek kebahasaan pembangun kepaduan teks wacana berupa kohesi gramatikal referensi persona pada teks pariwisata di laman pesonaindonesia.kompas.com. Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan aspek kebahasaan kohesi gramatikal referensi persona pada teks pariwisata dalam media digital yang hasilnya dapat dipakai sebagai salah satu dasar merespons tuntutan kualitas strategi komunikasi promosi yang kreatif.  Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif dalam linguistik. Sumber data berasal dari situs/laman pesonaindonesia.kompas.combulan Januari—Oktober 2019. Data berwujud teks wacana pariwisata. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode simak. Data dianalisis dengan metode agih dengan teknik ganti. Kajian ini menemukan pendayagunaan referensi pronominal persona yang difungsikan untuk membangun teks wacana yang khas dari teks pariwisata secara koheren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pariwisata menggunakan aspek-aspek gramatikal kohesi referensi persona pertama, kedua, ataupun ketiga. Referensi persona kedua mendominasi dalam teks pariwisata di laman pesonaindonesia.kompas.com. guna menciptakan keutuhan dan kepaduan wacana. Lebih lanjut, pemilihan referensi persona tersebut ditujukan untuk mendekatkan diri dengan pembaca dan terkandung implikasi persuasif bagi pembaca. Kata kunci: kohesi, referensi persona, teks pariwisata, wacana AbstractThis research is directed at the study of tourism discourse texts with the discourse analysis approach. The problem studied is the linguistic aspects of the building of the discourse text cohesion in the form of grammatical cohesion of persona references in the pariwisa text on the pesonaindonesia.kompas.com page. The aim is to describe the linguistic aspects of grammatical cohesion of references to charms in the tourism text in digital media, the results of which can be used as a basis for responding to the demands of the quality of creative promotional communication strategies. This research is a descriptive qualitative type in linguistics. The data source is from pesonaindonesia.kompas.com website / page from January to October 2019. The data is in the form of a tourism discourse text. The method of data collection is done by referring to the method. Data were analyzed by the method of distribution. The results showed that the tourism text uses grammatical aspects of the first, second, and third persona reference cohesion. The second persona reference dominates in the tourism text on the pesonaindonesia.kompas.com page. in order to create wholeness and cohesiveness of discourse. Furthermore, the selection of the reference persona is intended to get closer to the reader and has persuasive implications for the reader.Keywords: discourse, cohesion, personal pronouns, tourism text
EFL PHONOLOGY: A CASE STUDY OF ENGLISH FRICATIVE PRODUCTION BY INDONESIAN LEARNERS/FONOLOGI BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING: STUDI KASUS PELAFALAN BUNYI GESER OLEH MAHASISWA INDONESIA  Ni Luh Putu Sri Adnyani
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.923 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.645.283-294

Abstract

AbstractThis study reports the difficulties 40 first-year Indonesian college students, majoring in English, had in pronouncing the English fricatives. The aim of this paper is, first, to reveal how these Indonesian EFL learners produced English fricatives, the order of difficulties, and the pronunciation constraints they experienced. The second aim is to identify the possible causes of the pronunciation difficulties. In collecting the data, two types of tasks were administered: a word-list-reading task (Task 1) and a sentence-list-reading task (Task 2). By using Wilcoxon based T-Test, it was revealed that there was a significant difference in the number of errors in Task 1 and Task 2. There was also an increase in errors in Task 2. The results show that the order of difficulties Indonesian learners had in producing fricative sounds (from the most to the least problematic) were: /v/, /ʃ/, /ð/, /θ/, /z/, /ʒ/, /f/, and /s/. It is likely that the influence of the challenging English spelling system played the most important role in the students’ errors. Other factors such as transfer of L1 and the developmental process also contributed to the errors. This research implies that teachers need to apply certain strategies to meet students’ needs.  Keywords: English, fricative, Indonesian students, errors AbstrakPenelitian ini melaporkan kesulitan yang dialami mahasiswa tahun pertama Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris  dalam melafalkan bunyi geser , urutan kesulitan  dan kendala dalam pelafalan bunyi tersebut. Tujuan kedua penelitian ini adalah mengidentifikasi kemungkian sebab-sebab dari kesulitan ini. Dua jenis tugas diberikan kepada siswa untuk mengumpulkan data yaitu tugas membaca daftar kata (Tugas 1) dan tugas membaca daftar kalimat (Tugas 2). Berdasarkan hasil Uji T  Wilcoxon terungkap bahwa  terdapat perbedaan yang signifikan dari segi jumlah kesalahan dalam mengerjakan tugas I dan tugas 2. Juga terdapat peningkatan kesalahan dalam Tugas 2. Hasil-hasil ini memperlihatkan bahwa urutan kesulitan yang dialami mahasiswa Indonesia dalam melafalkan bunyi frikatif ( dari yang paling bermasalah hingga yang kurang bermasalah ) adalah : /v/, /ʃ/, /ð/, /θ/, /z/, /ʒ/, /f/, dan /s/. Ada kecenderungan bahwa sistem ejaan Bahasa Inggris yang rumit sangat besar pengaruhnya terhadap  kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa. Faktor-faktor lain seperti transfer dari BI dan  proses perkembangan juga berkontribusi terhadap kesalahan-kesalahan tersebut.  Implikasi penelitian ini adalah dosen atau guru  dapat menerapkan strategi-srategi tertentu untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa atau siswa.  Kata kunci: bahasa Inggris, bunyi geser, mahasiswa Indonesia, kesalahan 
MODALITAS DALAM PIDATO JOKO WIDODO "OPTIMIS INDONESIA MAJU" DAN PRABOWO "INDONESIA MENANG": ANALISIS WACANA KRITIS Irwan Syah
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.859 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.408.73-82

Abstract

Penelitian ini berjudul “Modalitas dalam Pidato Joko Widodo “Optimis Indonesia Maju” dan Prabowo Subianto “Indonesia Menang”: Analisis Wacana Kritis”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemakaian modalitas dari kedua calon Presiden periode 2019-2024. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori modalitas menurut Halliday (1994) dan Fairclough (Santosa, 2012). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berparadigma kritis, yaitu melakukan pemaparan dan penilaian terhadap data kebahasaan melalui teori modalitas sebagai analisis. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pada teks pidato yang dinyatakan oleh kubu pasangan calon Presiden 01 Joko Widodo, penggunaan modalitas sebanyak 156 kali dari pasangan lawan yakni sebesar 121 modalitas yang dinyatakan oleh calon presiden 2019-2024 yaitu Prabowo Subianto. Hasil tersebut mempengaruhi presentase, calon presiden nomer urut 1 presentasenya sebesar 93,42%, sementara itu nomor urut 2 sebesar 81,76%. Hal ini menandakan calon presiden dengan nomor urut 1 dalam upaya mengukuhkan kekuasaanya sebagai petahana agar dapat memenangkan kembali pilpres 2019-2014. Pasangan calon Presiden nomer 2 yaitu Prabowo juga mempunyai upaya untuk merebut kekuasaan dan memenangkan pilpres 2019-2024. Ditunjang dengan teori Fairclough (2012) yang mana modalitas yang digunakan oleh Joko Widodo mengandung modalitas ekspresif (kemungkinan), relasional (perintah), relasional (kesanggupan), relasional (permintaan), ekspresif (kewajiban). Sementara itu, modalitas yang digunakan Prabowo menurut teori Fairclough (2012) ialah modalitas relasional (ajakan), relasional (keharusan), relasional (permintaan), ekspresif (kepastian) dan ekspresif (kemungkinan).
KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK LEKSIKON ETNOMEDISIN DALAM TRADISI PENGOBATAN TRADISIONAL MASYARAKAT SUNDA DI KABUPATEN LEBAK DAN KABUPATEN PANDEGLANG Odien Rosidin; Tatu Hilaliyah
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.477 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.695.151-166

Abstract

AbstrakFokus penelitian ini adalah leksikon etnomedisin dalam praktik pengobatan tradisional di lingkungan masyarakat Sunda yang berada di wilayah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Penelitian ini dilatabelakangi oleh kondisi empirik masih berlangsungnya pemertahanan tradisi pengobatan tradisional berbahan tumbuhan dan hewan meskipun kehidupan sudah modern. Terjadinya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi dan perluasan permukiman menyebabkan semakin berkurang dan punahnya beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang dimanfaatkan sebagai obat sehingga leksikon etnomedisin turut terpengaruhi. Secara khusus penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan dan mengklasifikasikan leksikon nama tumbuhan, hewan, proses pembuatan atau pemanfaatan, alat yang dipakai, nama penyakit; dan faktor-faktor yang memengaruhi pemertahanan praktik etnomedisin. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan teori antropolinguistik. Penelitian ini didesain dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode observasi dan metode cakap dengan teknik pancing dan teknik cakap semuka dengan informan yang diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni (1) ahli, pelaku, atau praktisi pengobatan tradisional dan (2) warga masyarakat sebagai pasien atau yang menjalani pengobatan tradisional. Berdasarkan prosedur penelitian tersebut, terungkap bahwa dalam praktik etnomedisin di kedua wilayah ini terdapat leksikon nama tumbuhan sebanyak 57 buah dan leksikon nama hewan sebanyak 19 buah; leksikon nama proses pembuatan, pengolahan, atau pemanfaatan tumbuhan dan hewan untuk obat sebanyak 31 buah; leksikon nama alat yang dipakai dalam proses pembuatan, pengolahan, atau pemanfaatan tumbuhan dan hewan untuk dijadikan obat sebanyak 22 buah; (4) leksikon nama penyakit sebanyak 48 buah; dan (5) keberlangsungan praktik etnomedisin ditunjang oleh faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Kata kunci: leksikon, etnomedisin, masyarakat SundaAbstractThe focus of this research is the ethnomedicine lexicon in the practice of traditional medicine in the Sundanese community in the Pandeglang and Lebak districts. This research is based on the empirical condition of the ongoing preservation of traditional medicine made from plants and animals even though life is modern. The occurrence of environmental damage due to exploitation and expansion of settlements has caused the decline and extinction of several types of plants and animals that are used as medicine so that the ethnomedicine lexicon is also affected. Specifically, this research was conducted to explain and classify the lexicon of names of plants, animals, processes of manufacture or utilization, tools used, names of diseases; and factors that affect the maintenance of ethnomedicine practice. To achieve this goal, this research was conducted with an anthropolinguistics theory approach. This research was designed with a qualitative method. Data were collected through observation methods and proficient methods with fishing techniques and face-to-face techniques towards informants which were classified into two categories, namely (1) experts, actors, or practitioners of traditional medicine and (2) community members as patients or those undergoing traditional medicine. Based on the research procedure, it was revealed that in ethnomedicine practice in these two regions there were 57 plant name lexicons and 19 animal name lexicons; the lexicon of names of processes for the manufacture, processing or utilization of plants and animals for medicine, totaling 31 pieces; the lexicon of names of tools used in the process of making, processing, or utilizing plants and animals for medicine, totaling 22 pieces; (4) there were 48 lexicons of disease names; and (5) the sustainability of ethnomedicine is supported by economic, social and cultural factors.  Key words: lexicon, ethnomedicine, Sundanese people 
KONSTRUKSI IDEALISME DI DALAM ANTOLOGI PUISI UNTUK REFORMASI I Ketut Sudewa; Sri Jumadiah
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.994 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.672.1-18

Abstract

Abstrak Anotologi Puisi Untuk Reformasi merupakan salah satu antologi yang di dalamnya mengungkapkan tentang keadaan sosial politik di Indonesia pada zaman Orde Baru dan awal reformasi. Di dalam antologi tersebut memuat sajak-sajak dari empat penyair yang terkenal di Indonesia, yaitu: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, dan Remy Sylado. Permasalahan yang dibahas di dalam penelitian ini adalah (1) konstruksi idealisme yang diungkapkan oleh penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi dan (2) bagaimana cara penyair mengungkapkan idealismenya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik baca, simak, catat, dan interpretatif. Teori yang digunakan adalah teori semiotik dan sosiologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyair di dalam antologi Puisi Untuk Reformasi mengungkapkan berbagai idealisme yang berangkat dari keadaan sosial masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru dan masa awal reformasi. Konstruksi idealisme yang terbangun di dalam antologi tersebut didasari oleh berbagai persoalan bangsa Indonesia pada masa tersebut, seperti: kebabasan/demokrasi, politik, hukum, dan degradasi kemanusiaan. Para penyair mengung kapkan persoalan-persoalan tersebut dengan cara menggunakan diksi tertentu yang memperkuat maksud yang ingin diungkapkan. Di samping menggunakan diksi masing-masing penyair yang menjadi ciri khasnya juga dominan menggunakan gaya hiperbola, repetisi, metafora, dan sisnisme. bahasa Kata kunci: konstruksi, idealisme, sosial, politik one of the anthologies in which it reveals the socio-political situation in Indonesia during the Orde Baru era and the beginning of reform. In the anthology includes poems from four famous poets in Indonesia, namely: W.S Rendra, Taufiq Islamil, Adhie M. Massardi, and Remy Sylado. The problems discussed in this research are: (1) the construction of idealism expressed by the poet in the anthology of Poetry for Reform and (2) how the poet expresses his idealism.The research method used is a qualitative method through literature study. Research techniques used are reading, note taking, and interpretive techniques. The theory used is the theory of semiotics and sociology of literature.The results showed that the poet in the anthology of Poetry for Reform expressed various ideals that departed from the social conditions of the Indonesian people during the Orde Baru era and the biginning of reform. The construction of idealism built in the anthology is based on various problems of the Indonesian nation at that time, such as freedom / democracy, politics, laws, and human degradation. The poets express these problems by using certain diction which reinforces the intention to be expressed. In addition to using the diction of each poet who is his trademark, he also uses hyperbole, repetition, metaphor, and sisnism. Keywords: construction, idealism, social, politics