cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
Published by Forum Ilmiah Kesehatan
ISSN : 20863098     EISSN : 25027778     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Health Research "Forikes Voice" is a medium for the publication of articles on research and review of the literature. We accept articles in the areas of health such as public health, medicine, nursing, midwifery, nutrition, pharmaceutical, environmental health, health technology, clinical laboratories, health education, and health popular.
Arjuna Subject : -
Articles 1,733 Documents
Stridor dan Suara Serak pada Kasus Tuberkulosis Laring dengan Keterlibatan Tuberkulosis Paru Jamaluddin Madolangan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15347

Abstract

Laryngeal tuberculosis is an infectious disease of the larynx caused by Mycobacterium tuberculosis. Laryngeal tuberculosis can be classified into primary laryngeal tuberculosis (extrapulmonary tuberculosis) and secondary (along with pulmonary tuberculosis). Rare clinical manifestations in tuberculosis are hoarseness and stridor. This case report aimed to discuss the clinical complaints of stridor and hoarseness in patients with laryngeal tuberculosis accompanied by pulmonary tuberculosis involvement. Case reports were selected from patients with rare clinical complaints, namely stridor and hoarseness in patients with laryngeal tuberculosis accompanied by pulmonary tuberculosis. A 31-year-old woman was admitted to the hospital ward with complaints of hoarseness since 2 months ago, but worsened in the last 1 week, while shortness of breath had been experienced since 1 month. The results of physical examination were consciousness = compostmentis, blood pressure = normal, heart rate = 90 times / minute, respiratory rate = 24 times / minute, temperature = 36.50C and SpO2 = 94%. The results of the lung examination showed that the breath sounds were bronchovesicular accompanied by stridor and there were rhonchi in both hemithoraxes. Laryngoscopy examination showed epiglottis and arytenoid hyperemia, edema of the left and right arytenoids, and resistance during abduction movements in the plica vocalis dextra et sinistra. The molecular rapid test for Mycobacterium tuberculosis was positive and the results of the chest CT scan showed a picture of active pulmonary tuberculosis with minimal lesions. The results of the evaluation after the continuation phase of treatment in the third month showed clinical improvement. In conclusion, stridor and hoarseness in patients with secondary laryngeal tuberculosis can occur together, while early diagnosis with anti-tuberculosis drug therapy will improve the patient's prognosis.Keywords: tuberculosis; larynx; lungs; stridor; hoarseness ABSTRAK Tuberkulosis laring merupakan penyakit infeksi pada laring yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis laring dapat diklasifikasikan menjadi tuberkulosis laring primer (tuberkulosis ekstra paru) dan sekunder (bersamaan dengan tuberkulosis paru). Manifestasi klinis yang jarang dijumpai pada tuberkulosis adalah suara serak dan stridor. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendiskusikan mengenai keluhan klinis stridor dan suara serak pada  pasien tuberkulosis laring yang disertai keterlibatan tuberkulosis paru. Laporan kasus dipilih dari pasien dengan keluhan klinis yang jarang terjadi yakni stridor dan suara serak pada pasien tuberkulosis laring disertai tuberkulosis paru. Seorang perempuan, 31 tahun, dirawat di bangsal rumah sakit dengan keluhan suara serak sejak 2 bulan yang lalu, tetapi memberat dalam 1 minggu terakhir, sedangkan sesak dialami sejak 1 bulan. Hasil pemeriksaan fisik adalah kesadaran = komposmentis, tekanan darah = normal, heart rate = 90 kali/menit, respiratory rate = 24 kali/menit, suhu = 36,50C dan SpO2 =94%. Hasil pemeriksaan paru menunjukkan bahwa suara nafas adalah bronkhovesikular disertai dengan stridor dan terdapat ronkhi pada kedua hemithoraks. Pemeriksaan laringoskopi menunjukkan epiglotis dan aritenoid hiperemia, edema aritenoid sisi kiri dan kanan, dan adanya tahanan saat melakukan gerakan abduksi pada plica vocalis dextra et sinistra. Pemeriksaan tes cepat molekuler Mycobacterium tuberculosis adalah positif dan hasil pemeriksaan CT scan thoraks menunjukkan gambaran tuberkulosis paru aktif dengan lesi minimal. Hasil evaluasi setelah pengobatan fase lanjutan pada bulan ketiga menunjukkan adanya perbaikan klinis. Sebagai kesimpulan, stridor dan suara serak pada pasien tuberkulosis laring sekunder bisa terjadi bersamaan, sedangkan penegakan diagnosis disertai terapi obat anti tuberkulosis yang dini akan mempebaiki prognosis pasien.Kata kunci: tuberkulosis; laring; paru; stridor; suara serak
Formulasi Tablet Effervescent Penurunan Berat Badan dari Ekstrak Daun Jati Belanda, Daun Kumis Kucing, Daun Sirih, Herba Meniran dan Rimpang Kunyit Joana Rachel Marlitha Santoso; Titin Sulastri; Marvel Reuben Suwitono
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15437

Abstract

Herbal medicine is widely recognized as a plant-based extract that has been effective for generations in Indonesia to treat various diseases. The purpose of this study was to evaluate the physical properties of effervescent tablets from a combination of extracts of jati belanda leaves, kumis kucing leaves, sirih leaves, meniran herbs, and turmeric rhizomes, with various sweeteners, namely cane sugar, stevia, and maltodextrin. This study was an descriptive study. The researchers assessed the physical parameters, namely flow rate, angle of repose, and compressibility for granules; while tablet analysis included weight uniformity, size uniformity, friability, hardness, dissolution time, and pH. The results showed that the formulations with stevia and maltodextrin met most of the test criteria effectively. There was a wider variability in the stevia formulation (3%), indicating challenges in achieving consistent tablet weight due to variations in water content. Friability was 0.66% for maltodextrin indicating good structural integrity. It was concluded that the combination tablet of herbal extracts of Guazuma ulmifolia leaves, Orthosiphon aristatus leaves, Piper betle leaves, Phyllanthus niruri herbs, and Curcuma domestica rhizomes showed a successful formulation into effervescent tablets through wet granules, with the use of cane sugar, stevia, and maltodextrin as sweeteners.Keywords: herbal medicine; weight loss; effervescent tablets ABSTRAK Obat herbal diakui secara luas karena ekstrak berbasis tanaman yang telah efektif selama beberapa generasi di Indonesia untuk mengobati berbagai penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi sifat fisik tablet effervescent dari kombinasi ekstrak daun jati belanda, daun kumis kucing, daun sirih, herba meniran, dan rimpang kunyit, dengan berbagai pemanis, yaitu gula tebu, stevia, dan maltodekstrin. Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Peneliti menilai parameter fisik yaitu kecepatan alir, sudut diam, dan kompresibilitas untuk granul; sedangkan analisis tablet mencakup keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kerapuhan, kekerasan, waktu larut, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan stevia dan maltodekstrin memenuhi sebagian besar kriteria pengujian secara efektif. Tampak adanya variabilitas yang lebih luas dalam formulasi stevia (3%), yang menunjukkan tantangan dalam mencapai bobot tablet yang konsisten akibat variasi kadar air. Kerapuhan adalah 0,66% untuk maltodekstrin yang menunjukkan integritas struktural yang baik. Disimpulkan bahwa tablet kombinasi ekstrak herbal daun Guazuma ulmifolia, daun Orthosiphon aristatus, daun Piper betle, herba Phyllanthus niruri, dan rimpang Curcuma domestica menunjukkan formulasi yang berhasil menjadi tablet effervescent melalui granulsi basah, dengan penggunaan gula tebu, stevia, dan maltodekstrin sebagai pemanis.Kata kunci: obat herbal; penurunan berat badan; tablet effervescent
Aktivitas Fisik sebagai Determinan Utama Kualitas Tidur Nelayan Tradisional Tony Budianto; Indriati Paskarini
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15430

Abstract

In their daily work, fishermen are faced with physical and mental risks that can endanger their health, including the risk of sleep disorders. This may be due to the fishermen's work system which is still traditional and other influencing factors. This study aimed to analyze the risk factors of fishermen's sleep quality on Klatak Beach, Tulungagung. This study was a quantitative study with a cross-sectional design. The sample size was 29 fishermen who were selected using the simple random sampling method. Data were collected through questionnaires and then correlation analysis was carried out. The results showed that the p value of the correlation test results between physical activity and sleep quality was 0.011; for the correlation between age and sleep quality was 0.019; while for the correlation between working hours and sleep quality was 0.017. Furthermore, it was concluded that the sleep quality of fishermen on Klatak Beach, Tulungagung was related to the fishermen's physical activity, age and working hours; with the main determinant being physical activity.Keywords: fishermen; sleep quality; physical activity; age; working hours ABSTRAK Dalam pekerjaannya sehari-hari, nelayan dihadapkan pada risiko fisik dan mental yang dapat membahayakan kesehatan mereka, termasuk risiko gangguan tidur. Hal ini mungkin disebabkan oleh sistem kerja nelayan yang masih tradisional dan faktor lain yang mempengaruhi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko dari kualitas tidur nelayan di Pantai Klatak, Tulungagung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Ukuran sampel adalah 29 nelayan yang diseleksi menggunakan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan selanjutnya dilakukan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p dari hasil uji korelasi antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur adalah 0,011; untuk korelasi antara usia dengan kualitas tidur adalah 0,019; sedangkan untuk korelasi antara jam kerja dengan kualitas tidur adalah 0,017. Selanjutnya disimpulkan bahwa kualitas tidur nelayan di Pantai Klatak Tulungagung berhubungan dengan aktivitas fisik, usia dan jam kerja nelayan; dengan determinan utama adalah aktivitas fisik.Kata kunci: nelayan; kualitas tidur; aktivitas fisik; usia; jam kerja
Penurunan Imunitas Pasien Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus Akibat Disbiosis Mikrobiota di Usus Aisyah, Yonita Laty; Octaria, Yessi Crosita; Fauziyah, A'immatul; Prambudi, Muhammad Rayhan Mahardika
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16153

Abstract

Gut microbiota dysbiosis is common in HIV-infected patients. Gut dysbiosis can reduce the body's ability to overcome inflammation in the gastrointestinal tract, thus affecting the immune response and disease complications in HIV-infected patients. The purpose of this review is to describe changes in the composition of the gut microbiota and its influence on the immune response in HIV-infected patients. This study is a systematic review using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Articles were obtained from Elsevier, PubMed, MDPI, and Scopus between 2014 and 2024. Finally, 478 articles were obtained, which were then selected gradually according to predetermined criteria, successfully obtained 6 articles. The obtained articles were compiled, analyzed, and concluded by looking for similarities, differences, providing insights, comparing, and summarizing. The results of this review indicate that gut dysbiosis occurs in HIV-positive patients with or without ART treatment, which can trigger the body's immune response and worsen disease complications in HIV-infected patients. HIV infection can cause gut microbial dysbiosis because the HIV virus attacks CD4+ T cells in the gastrointestinal tract, resulting in loss of immune function. Gut dysbiosis can also exacerbate HIV infection, as one sign of gut dysbiosis is an increase in Prevotella bacteria, which enhances CD4+ T cell activation in the colonic mucosa and triggers a chronic inflammatory response. In conclusion, understanding the role, effects, and molecular mechanisms between gut dysbiosis and HIV infection can provide new insights into the relationship between the microbiota and HIV infection and associated comorbidities.Keywords: gut dysbiosis; Human Immunodeficiency Virus; gut immunity  ABSTRAK Disbiosis mikrobiota usus sering terjadi pada pasien infeksi HIV. Disbiosis usus dapat mengurangi kemampuan tubuh dalam mengatasi peradangan pada saluran cerna sehingga berpengaruh terhadap respon imun dan komplikasi penyakit pada pasien infeksi HIV. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk menggambarkan perubahan dalam komposisi mikrobiota usus dan pengaruhnya terhadap respon imun pada pasien infeksi HIV. Studi ini merupakan systematic review menggunakan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Artikel didapatkan dari Elsevier, PubMed, MDPI dan Scopus dalam rentang waktu 2014 sampai 2024. Akhirnya diperoleh 478 artikel yang kemudian diseleksi secara bertahap sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan berhasil didapatkan 6 artikel. Artikel yang diperolah disusun, dianalisis, dan disimpulkan dengan mencari persamaan, perbedaan, memberikan pandangan, membandingkan dan merangkum. Hasil dari tinjauan ini menunjukkan bahwa disbiosis usus terjadi pada pasien HIV+ dengan atau tanpa penanganan ART yang dapat memicu respon imun pada tubuh dan memperburuk komplikasi penyakit pada pasien infeksi HIV. Infeksi HIV dapat menyebabkan disbiosis mikrobiota usus karena virus HIV menyerang sel T CD4+ di saluran pencernaan dan hal tersebut berakibat pada hilangnya fungsi imunitas. Disbiosis usus juga dapat memperburuk infeksi HIV karena salah satu tanda terjadinya disbiosis usus adalah peningkatan bakteri Prevotella yang meningkatkan aktivasi sel T CD4+ di mukosa usus besar dan memicu respon inflamasi kronis. Dapat disimpulkan bahwa memahami peran, efek, dan mekanisme molekuler antara disbiosis usus dan infeksi HIV dapat memberikan pemahaman baru terkait dengan hubungan mikrobiota pada infeksi HIV dan komorbiditas yang terkait. Kata kunci: disbiosis usus; Human Immunodeficiency Virus; imunitas usus 
Tingkat Stres Fisik dan Psikologis Pada Lansia Desa Pucangan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah Dhani, Sheena Ramadhia Asmara; Sillehu, Eka Safitri; Hanifah, Mutia Yumna; Pratama, Adinda Dwi Septyasarie
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16101

Abstract

The elderly are an age group that is vulnerable to experiencing physical and psychological decline, which can trigger stress in most of them. Mental health problems that often occur in the elderly include stress, anxiety, and depression, which are usually caused by changes in physical, psychological, and social aspects. This study aimed to describe the level of stress in the elderly in Dusun 1, Pucangan Village, Kartasura District, Sukoharjo Regency, Central Java Province. This study used a descriptive survey method conducted from June to August 2024. Data on stress levels were collected by filling out a questionnaire, namely the Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21). Data were analyzed descriptively in the form of frequency and proportion. The results showed that the largest category of physical stress was severe stress (42.3%) and the largest category of psychological stress was moderate stress (53.5%). It can be concluded that the elderly in Hamlet 1, Pucangan Village, Kartasura District experience severe physical stress and moderate psychological stress.Keywords: elderly; physical stress; psychological stress ABSTRAK Lansia merupakan kelompok usia yang rentan untuk mengalami penurunan fisik dan psikologis, yang dapat memicu stres pada sebagian besar dari mereka. Masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada lansia meliputi stres, kecemasan, dan depresi, yang biasanya disebabkan oleh perubahan aspek fisik, psikologis, dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat stres pada lansia di Dusun 1, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif yang dilakukan pada Juni hingga Agustus 2024. Data tentang tingkat stres dikumpulkan melalui pengisian kuesioner yakni Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21). Data dianalisis secara deskriptif berupa frekuensi dan proporsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori stres fisik terbanyak adalah stres berat (42,3%) dan kategori stres psikologis terbanyak adalah stres sedang (53,5%). Dapat disimpulkan bahwa para lansia di Dusun 1, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura mengalami stres berat secara fisik dan stres sedang secara psikologis.Kata kunci: lansia; stres fisik; stres psikologis
Risiko Ergonomi yang Tinggi pada Analis Laboratorium Lingkungan Berdasarkan SNI 9011:2021 Falah, Akbar Husnul; Nasri, Sjahrul Meizar
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v16i1.5387

Abstract

Musculoskeletal disorders are one of the leading causes of disability worldwide, with low back pain being the leading cause of global disability rates. In Indonesia, 85% of low back pain cases have no identifiable medical cause, emphasizing the importance of a comprehensive ergonomic hazard evaluation. This study aimed to identify and evaluate ergonomic hazards in laboratory analysts using the SNI 9011:2021 standard, and to provide recommendations that can be implemented to reduce ergonomic risks. This study used a quantitative descriptive method on six laboratory analysts from the air, water, and microbiology divisions at PT XYZ. Data collection was carried out using an ergonomic hazard checklist and questionnaire, which were then analyzed based on SNI 9011:2021 guidelines. The results showed that all respondents experienced discomfort, especially in the neck, lower back, and legs due to unergonomic work postures and repetitive manual activities. The ergonomic risk score was above 7, with the highest score reaching 16, indicating a high level of ergonomic risk. These findings underscore the need for immediate ergonomic interventions, such as workstation redesign, ergonomic training programs, and the use of ergonomic aids. These measures aim to improve occupational safety, reduce musculoskeletal injuries, and increase overall productivity. Continuous monitoring of ergonomic risks is needed to ensure sustainable occupational safety and health practices. This study concluded that all laboratory analysts at PT XYZ have a high level of ergonomic risk, caused by unergonomic working postures and repetitive manual activities, thus requiring immediate intervention for the prevention of occupational diseases.Keywords: laboratory analyst; musculoskeletal disorders; ergonomics ABSTRAK Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, dengan nyeri punggung bawah sebagai penyebab utama tingkat disabilitas global. Di Indonesia, 85% kasus nyeri punggung bawah tidak memiliki penyebab medis yang dapat diidentifikasi, yang menekankan pentingnya evaluasi bahaya ergonomi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi bahaya ergonomi pada analis laboratorium menggunakan standar SNI 9011:2021, serta memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko ergonomi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif pada enam analis laboratorium dari divisi udara, air, dan mikrobiologi di PT XYZ. Pengumpulan data dilakukan menggunakan daftar periksa bahaya ergonomi dan kuesioner, yang selanjutnya dianalisis berdasarkan pedoman SNI 9011:2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami ketidaknyamanan, terutama pada leher, punggung bawah, dan kaki akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan aktivitas manual repetitif. Skor risiko ergonomi berada di atas 7, dengan skor tertinggi mencapai 16, yang menunjukkan tingkat risiko ergonomi yang tinggi. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi ergonomi segera, seperti perancangan ulang stasiun kerja, program pelatihan ergonomi, dan penggunaan alat bantu ergonomis. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kerja, mengurangi cedera muskuloskeletal, dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Pemantauan risiko ergonomi secara terus-menerus diperlukan untuk memastikan praktik keselamatan dan kesehatan kerja yang berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa seluruh analis laboratorium di PT XYZ memiliki tingkat risiko ergonomi tinggi, yang disebabkan oleh postur kerja tidak ergonomis dan aktivitas manual yang repetitif, sehingga memerlukan intervensi segera untuk pencegahan penyakit akibat kerja.Kata kunci: analis laboratorium; gangguan muskuloskeletal; ergonomi
Kebiasaan Menahan Kemih dan Kebersihan Genitalia Sebagai Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih Indra, Indra; Sartika, Sartika; Maryadi, Maryadi; Purwanto, Erwin
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16102

Abstract

Urinary tract infection is one of the common health problems in hospitals, which increases morbidity, treatment costs, and length of hospitalization. The habit of holding urine and poor genital hygiene are risk factors that are often overlooked. This study aimed to analyze the significance of the habit of holding urine and poor genital hygiene as risk factors for urinary tract infection. This study used a case-control design, involving patients with urinary tract infection at Hermina Kendari Hospital. The sample size of cases and controls was 38 people each, selected using the accidental sampling technique. Data were collected by filling out a questionnaire, then the odds ratio was calculated for both factors. The results showed that the odds ratio for the habit of holding urine was 2.949; while the odds ratio for genital hygiene was 3.322. It could be concluded that the habit of holding urine and negative behavior in maintaining genital hygiene are risk factors for urinary tract infection at Hermina Kendari Hospital.Keywords: urinary tract infection; habit of holding urine; genital hygiene ABSTRAK Infeksi saluran kemih merupakan salah satu masalah kesehatan umum di rumah sakit, yang meningkatkan morbiditas, biaya perawatan, dan lama rawat inap. Kebiasaan menahan kemih dan kurangnya kebersihan genitalia merupakan faktor risiko yang sering diabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis signifikansi kebiasaan menahan kemih dan kurangnya kebersihan genitalia sebagai faktor risiko infeksi saluran kemih. Penelitian ini menggunakan desain case-control, dengan melibatkan pasien infeksi saluran kemih di RS Hermina Kendari.  Ukuran sampel kasus dan sampel kontrol masing-masing adalah 38 orang, yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner, lalu dihitung odds ratio untuk kedua faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa odds ratio untuk kebiasaan menahan kemih adalah 2,949; sedangkan odds ratio untuk kebersihan genitalia adalah 3,322. Dapat disimpulkan bahwa kebiasaan menahan kemih dan perilaku negatif dalam menjaga kebersihan genitalia merupakan faktor risiko infeksi saluran kemih di Rumah Sakit Hermina Kendari.Kata kunci: infeksi saluran kemih; kebiasaan menahan kemih; kebersihan genitalia 
Intervensi Psikoedukasi untuk Mengurangi Isu Kesehatan Emosional pada Pasien Diabetes Rohmah, Assyfa Siti; Yulia, Yulia; Yona, Sri; Kurnia, Dikha Ayu
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16165

Abstract

Emotional health problems such as depression, distress, anxiety and fear are important points that need to be considered in the management of diabetes patients. Emotional health problems that are not handled properly can interfere with the success of diabetes management and increase the risk of complications. One thing that can be done to reduce emotional health problems is to conduct psychoeducational interventions. Psychoeducational interventions focus on cognitive, behavioral and emotional changes. The purpose of this literature study was to describe psychoeducational interventions that can reduce the severity of emotional health problems in diabetes patients. This literature study was conducted using the PRISMA approach and the quality of the articles was assessed based on the RoB V2 from Cochrane. There were 13 articles in this literature study with RCT and pilot RCT designs. Four articles discussed the effectiveness of psychoeducational interventions using cognitive-behavior therapy, 7 articles used telehealth-based education and 2 articles on mindfulness. Of all the literature reviewed, all showed the success of interventions in order to improve the level of mental health of patients including depression, distress and anxiety, both in the long and short term. Furthermore, it was concluded that psychoeducational interventions are effective in improving mental health in diabetes.Keywords: diabetes; emotional health; depression; distress; anxiety; fear of hypoglycemia ABSTRAK Masalah kesehatan emosional seperti depresi, distres, ansietas dan ketakutan merupakan poin penting yang perlu diperhatikan dalam manajemen pasien diabetes. Masalah kesehatan emosional yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu keberhasilan manajemen diabetes dan meningkatkan resiko komplikasi. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam mengurangi masalah kesehatan emosional yaitu melakukan intervensi psikoedukasi. Intervensi psikoedukasi berfokus terhadap perubahan kognitif, perilaku dan emosional. Tujuan studi literatur ini yaitu menggambaran intervensi psikoedukasi yang dapat menurunkan keparahan dari masalah kesehatan emosional pada pasien diabetes. Studi literatur ini dilakukan menggunakan pendekatan PRISMA dan kualitas artikel dinilai berdasarkan RoB V2 dari Cochrane. Terdapat 13 artikel pada studi literatur ini dengan desain RCT dan pilot RCT. Empat artikel membahas efektivitas intervensi psikoedukasi menggunakan cognitive-behavior therapy, 7 artikel menggunakan edukasi berbasis telehealth dan 2 artikel mengenai mindfulness. Dari seluruh literatur yang ditinjau, semuanya menunjukkan keberhasilan intervensi dalam rangka meningkatkan level kesehatan mental pasien yang mencakup depresi, distress dan ansietas, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Selanjutnya disimpulkan bahwa intervensi psikoedukasi efektif untuk meningkatkan kesehatan mental diabetes. Kata kunci: diabetes; kesehatan emosional; depresi; distress; ansietas; ketakutan akan hipoglikemi 
Keluhan Computer Vision Syndrome pada Petugas Rumah Sakit dan Faktor Risiko yang Terkait Wiladatika, Siti Nur Dalela Indah; Sujoso, Anita Dewi Prahastuti; Asmaningrum, Nurfika
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v16i1.5700

Abstract

Services in medical record work units that use computerized systems with long durations in front of computers will cause medical record officers to be very likely to experience computer vision syndrome (CVS) which can hinder activities, reduce output, and increase errors. The purpose of this study was to determine the description of CVS complaints and analyze the factors causing CVS in medical record and admission officers at Regional Hospital X, Jember Regency. This study used a cross-sectional design with the dependent variable being computer vision syndrome. Independent variables included individual factors (age, gender, education, length of service, use of glasses, ergonomic position), work environment factors (room lighting, room temperature, room humidity), work factors (length of time working in front of a computer, length of break) and computer factors (eye distance to computer, monitor position, monitor type, use of antiglare cover, monitor polarity). Data were collected through a questionnaire and then analyzed using the Chi-square test. The results of statistical tests showed that the independent variables related to CVS were work period (p = 0.027), room lighting (p = 0.027), length of work in front of the computer (p = 0.044) and eye distance to the computer (p = 0.023). It can be concluded that the factors related to CVS complaints in medical record and admission officers at the Jember District Hospital are work period, room lighting, length of work, and viewing distance.Keywords: computer vision syndrome; work period; room lighting; length of work; viewing distance ABSTRAK Pelayanan di unit kerja rekam medis yang menggunakan sistem komputerisasi dengan durasi yang lama di depan komputer akan menyebabkan petugas rekam medis sangat berpotensi mengalami computer vision syndrome (CVS) yang dapat menghambat aktivitas, menurunkan output, dan meningkatkan kesalahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keluhan CVS dan menganalisis faktor penyebab terjadinya CVS pada petugas petugas rekam medik dan admisi di Rumah Sakit Daerah X Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional dengan variabel terikat adalam computer vision syndrome. Variabel bebas meliputi faktor individu (usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, penggunaan kacamata, posisi ergonomi), faktor lingkungan kerja (pencahayaan ruangan, suhu ruangan, kelembaban ruangan), faktor kerja (lama berkerja didepan komputer, lama istirahat) dan faktor komputer (jarak pandang mata ke komputer, posisi monitor, jenis monitor, penggunaan antiglare cover, polaritas monitor). Data dikumpulkan melalui kuesioner lalu dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel bebas yang berhubungan dengan CVS adalah masa kerja (p = 0,027), pencahayaan ruangan (p = 0,027), lama bekerja di depan komputer (p = 0,044) dan jarak pandang mata ke komputer (p = 0,023). Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan keluhan CVS pada petugas perekam medik dan admisi di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Jember ialah masa kerja, pencahayaan ruangan, lama bekerja, dan jarak pandang.Kata kunci: computer vision syndrome; masa kerja; pencahayaan ruangan; lama bekerja; jarak pandang 
Perilaku Seksual sebagai Faktor Risiko Infeksi Human Immunodefiency Virus, Hepatitis B Virus dan Treponema pallidum pada Mahasiswa Syafaatulhakim, Nuraisyah; Dewi, Karina Puspita; Permatasari, Dewi Shinta; Putra, Husni Ramadhan; Suryadi, Nadya Marshanda; Salsabila, Amalia; Rachmawati, Firdha; Naully, Patricia Gita
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16121

Abstract

Sexually transmitted infections (STIs) that often occur in Indonesian society are Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS, Hepatitis B, Treponema pallidum (silifis) and others. College students are susceptible to STIs due to risky behavior, but information on prevalence and analysis of factors related to STIs is still limited. Therefore, the purpose of this study was to analyze factors related to HIV, Hepatitis B, and T. pallidum infections that occur in college students in Cimahi City. The study sample was 70 students selected using the quota technique. Anti-HIV, HBsAg, and anti-Treponema pallidum examinations were carried out using the immunochromatography method; while STI-related factors were measured by filling out a questionnaire and then conducting a Chi-square test. The results of the examination showed that one student was positive for anti-HIV, three students were positive for HBsAg, and two students were positive for anti-Treponema pallidum. The lifestyle of students had a significant effect on the prevalence of HIV, Hepatitis B, and T. pallidum infections such as premarital sex, changing sexual partners, and oral and anal sex with a p value <0.05. The prevalence of HIV, Hepatitis B, and T. pallidum infections in students in Cimahi City is 1.4% infected with HIV, 4.3% infected with Hepatitis B, and 2.8% infected with T. pallidum. The cases of the three sexual infections were influenced by several factors including lifestyle such as having oral and anal sex, changing sexual partners, and wearing piercings.Keywords: sexually transmitted infections; HIV; hepatitis B; syphilis; students ABSTRAK Kasus infeksi menular seksual (IMS) yang sering terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia yaitu Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS, Hepatitis B, Treponema pallidum (silifis) dan lain-lain. Mahasiswa rentan terhadap IMS akibat perilaku berisiko, namun informasi prevalensi dan analisis faktor yang berhubungan dengan IMS masih terbatas. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan infeksi HIV, Hepatitis B, dan T. pallidum yang terjadi pada mahasiswa di Kota Cimahi. Sampel penelitian adalah 70 mahasiswa yang dipilih dengan teknik kuota. Pemeriksaan anti-HIV, HBsAg, dan anti-Treponema pallidum dilakukan menggunakan metode immunocromatography; sedangkan faktor terkait IMS diukur melalui pengisian kuesioner dan selanjutnya dilakukan uji Chi-square. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa satu mahasiswa positif anti-HIV, tiga mahasiswa positif HBsAg, dan dua mahasiswa positif anti-Treponema pallidum. Gaya hidup mahasiswa berpengaruh signifikan terhadap prevalensi infeksi HIV, Hepatitis B, dan T. pallidum seperti hubungan seksual pra-nikah, berganti-ganti pasangan seksual, dan seksual secara oral dan anal dengan nilai p <0,05. Prevalensi kasus infeksi HIV, Hepatitis B, dan T. pallidum pada mahasiswa di Kota Cimahi adalah 1,4% terinfeksi HIV, 4,3% terinfeksi Hepatitis B, dan 2,8% terinfeksi T. pallidum. Kasus ketiga infeksi seksual tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain gaya hidup seperti melakukan hubungan seksual secara oral dan anal, berganti-ganti pasangan seksual, juga memakai tindik.Kata kunci: infeksi menular seksual; HIV; hepatitis B; sifilis; mahasiswa 

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 1 (2026): January 2026 (up coming) Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025 Vol 16, No 3 (2025): Juli-September 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025 (up coming) Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025 Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024 Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024 Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024 Vol 15, No 1 (2024): Januari-Maret 2024 2024 Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023 Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023 Vol 14, No 2 (2023): April 2023 Vol 14, No 1 (2023): Januari 2023 2023 Vol 13, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 13, No 2 (2022): April 2022 Vol 13, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Februari 2022 Vol 13 (2022): Nomor Khusus Januari 2021 2022 Vol 12, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 12, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 12, No 2 (2021): April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus April 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus November 2021 Vol 12 (2021): Nomor Khusus Januari 2021 Vol 12, No 1 (2021): Januari Vol 11, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 11, No 2 (2020): April 2020 Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Januari-Februari 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Mei-Juni 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus Maret-April 2020 Vol 11 (2020): Nomor Khusus November-Desember 2020 Vol 11, No 4 (2020): Oktober Vol 10, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 10, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 2 (2019): April 2019 Vol 10, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 9, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 9, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 9, No 2 (2018): April 2018 Vol 9, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 8, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 8, No 3 (2017): Juli 2017 Vol 8, No 2 (2017): April 2017 Vol 8, No 1 (2017): Januari 2017 Vol 7, No 4 (2016): Oktober 2016 Vol 7, No 3 (2016): Juli 2016 Vol 7, No 2 (2016): April 2016 Vol 7, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 6 (2015): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional 2010: Template More Issue