cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan BSI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
HUBUNGAN SELF-MANAGEMENT DAN SELF-EFFICACY PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI KOTA BANDUNG Sari, Citra Windani Mambang; Yamin, Ahmad; Santoso, M. Budi
KEPERAWATAN Vol 6, No 1 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.236 KB)

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang memiliki komplikasi. Jumlah pasien Diabetes Melitus meningkat karena keterbatasan dalam mengelola Diabetes Melitus (self-management Diabetes Melitus). Konsep self-efficacy efektif dapat merubah perilaku kesehatan. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi hubungan antara self-management Diabetes Melitus dengan self-efficacy pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Kota Bandung. Sampel sebanyak 62 pasien Diabetes Melitus dari 8 Puskesmas di Kota Bandung yang mempunyai angka kunjungan Diabetes Melitus tertinggi dengan teknik purposive. Pengukuran self-management menggunakan kuesioner modifikasi dari Summary of Diabetes Self Care Activity and Diabetes Self-Management Instrument, sedangkan Self-efficacy dikembangkan dari Standford Patients Education Research Center. Kedua kuesioner terdiri dari 5 komponen yaitu nutrisi, olahraga, aktivitas, pengobatan dan monitor gula darah. Data dianalisis menggunakan Pearson. Hubungan antara self-management dan self-efficacy bermakna (r = 0.538 , p = 0.00). Ada hubungan positif dengan kekuatan korelasi sedang antara self-management Diabetes Melitus dengan self-efficacy pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 di Kota Bandung. Saran dari penelitian bagi perawat komunitas agar dapat meningkatkan self-efficacy pada pasien Diabetes Melitus sehingga dapat meningkatkan self-management Diabetes Melitus dengan cara mengembangkan program edukasi yang terstruktur. Kata kunci : Diabetes Melitus, self-management, self-efficacy
Purwarupa Aplikasi Pencegahan Anemia Kehamilan di Puskesmas Kota Bandung Koeryaman, Mira Trisyani; Ardiansah, Irfan; Saripuspa, Saripuspa
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.255 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4155

Abstract

                                                  ABSTRAKPenelitian ini fokus pada upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yang masih didominasi kasus perdarahan, hipertensi dan abortus. Pelaksanaan Maternal Health Care masih berupa pemeriksaan rutin kehamilan, pendidikan kesehatan dan program suplementasi zat besi ibu hamil serta pemeriksaan laboratorium untuk skrining terhadap penyakit penyerta. Kenyataannya pada masyarakat masih ditemukan permasalahan kesehatan selama kehamilan yang berakibat komplikasi pada masa kehamilan, persalinan maupun nifas. Kontributor munculnya masalah tersebut adalah kategori defisit asupan zat gizi ibu.  Rekomendasi World Health Organization (WHO) yaitu promosi kesehatan dalam hal penanganan masalah komplikasi dalam kehamilan adalah anemia. Merujuk hasil penelitian sebelumnya, pengaruh konseling bagi ibu hamil berpengaruh sangat tinggi dalam upaya pencegahan komplikasi kehamilan. Maka penting untuk mengembangkan suatu media pendidikan kesehatan yang dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus memfasilitasi ibu hamil melakukan pencegahan langsung terhadap resiko tinggi komplikasi kehamilan. Melalui penelitian ini akan dibangun sebuah purwarupa aplikasi yang mampu mengukur kebutuhan zat gizi ibu hamil. Aplikasi ini diharapkan membantu meningkatkan kualitas hidup ibu hamil, agar insiden kematian ibu hamil dan bayi di Jawa Barat mengalami penurunan. Tahapan penelitian meliputi beberapa tahap, yaitu melakukan identifikasi dan analisis kebutuhan ibu hamil dengan anemia, melakukan kajian kebutuhan dari tenaga kesehatan ahli seperti ahli gizi, dokter kandungan, perawat dan bidan, pada akhir tahapan adalah membuat desain aplikasi beserta konten promosi kesehatan berkenaan dengan pencegahan komplikasi kehamilan.Kata Kunci: ibu hamil, promosi kesehatan, sistem informasi, nutrisi ABSTRACTThis study focused on decreased of Indonesia mortality rate (IMR), which is maternal mortalities in Indonesia dominated by bleeding, hypertension, and abortion. The implementation of maternal health care is mostly delivered based on routine activities, health education and free Fe tablets for three respective months, also additional examinations will be made to screen from other disease.  Moreover, health problem in pregnancy period still found in general population, and developed to become complications during pregnancy, delivery baby and postpartum. One of indicator as a lead to be a complication during pregnancy is inadequate of nutrients intake among pregnant women. The one thing program of world health organization about health promotion is concerning to tackle anemia as a pregnancy complication. According to previous studies about counseling for pregnant women there is has a strong influenced to prevention of pregnancy complications. Furthermore, is important to develop a health education method and to improve health knowledge in reduce of complication high risk during pregnancy. This study will provide an application web prototype for estimated nutrients needs among pregnant women. In additionally, this application can be an alternative way to increase quality life of pregnant women and reduced of maternal and neonatal mortality at West Java. This research consists of several stages started from identification and need assessment analyzed of pregnant women with anemia, then explored information from health professionals such as nutritionist, obstetrician, nurses, and midwives. Lastly, create the application design including health promotion context related to pregnancy complication prevention.Keywords: pregnant women, health promotion, health information system, nutrition
Tingkat Kepuasan dan Kepercayaan Diri Mahasiswa Keperawatan Terhadap Metode Pembelajaran Klub Jurnal Fatih, Hudzaifah Al; Maidartati, Maidartati
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.276 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4736

Abstract

ABSTRAKPemilihan metode pembelajaran yang tepat membuat pencapaian tujuan pembelajaran lebih mudah tercapai, minat dan motivasi belajar juga akan meningkat serta akan tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan. Klub jurnal sebagai salah satu metode pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk menerapkan pemikiran kritis dan keterampilan memecahkan masalah. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kepuasan dan kepercayaan diri mahasiswa keperawatan terhadap pembelajaran dengan metode klub jurnal.Metode deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan 38 mahasiswa keperawatan yang sedang menempuh mata kuliah riset keperawatan di Universitas BSI sebagai responden. Data diambil menggunakan kuisioner Student Satisfaction and Self-Confidence in Learning dari National League for Nursing (2005) yang telah dimodifikasi. Kuisioner tersebut terdiri dari 2 bagian, yaitu: kepuasan pembelajaran yang terdiri dari 5 pernyataan; dan kepercayaan diri mahasiswa terhadap pembelajaran yang terdiri dari 8 pernyataan. Selanjutnya, data yang terkumpul diolah dan dideskripsikan dalam bentuk frekuensi, mean, dan standar deviasi.Hasil penelitian menunjukkan kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran dengan metode klub jurnal menunjukkan skor rata-rata 19.63 dari kemungkinan 25 poin tertinggi, dan terkait kepercayaan diri mahasiswa keperawatan didapatkan skor rata-rata 31.7 dari kemungkinan skor tertinggi 40. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan kepuasan dan kepercayaan diri yang positif dari mahasiswa keperawatan terhadap metode pembelajaran klub jurnal. Sebagai salah satu strategi pengajaran yang efektif, metode ini banyak diadopsi oleh berbagai profesi kesehatan termasuk keperawatan untuk menciptakan kesadaran akan penelitian dan mempromosikan praktik keperawatan yang berbasis bukti.Kata kunci: Kepuasan Pembelajaran, Kepercayaan Diri, Klub Jurnal, Mahasiswa Keperawatan            ABSTRACTAn appropriate learning method establish a strong foundation to achieved learning goals more easily, the interest and motivation to learn will also increase and create a satisfying learning atmosphere. Journal club as one of the learning methods allows students to apply critical thinking and problem solving skills. Therefore, the purpose of this study was to describe the satisfaction and confidence of nursing students in learning using journal club method. A quantitative descriptive method with cross sectional design was used to answer research questions. The sampling technique used in this study was purposive sampling technique with 38 nursing students undergoing nursing research courses at BSI University agreed to participate as respondents. Data were taken using the modified Student Satisfaction and Self-Confidence in Learning questionnaire from National League for Nursing (2005). The questionnaire comprised of 2 parts: (1) learning satisfaction which consist of 5 questions; and (2) student confidence in learning which consists of 8 questions. Furthermore, all collected data were processed and described using frequency, mean, and standard deviation.The results showed that student learning satisfaction using journal club method showed a mean score of 19.63 from the highest possible score of 25. Related to nursing students' self-confidence with learning, the mean score was 31.7 from a possible highest score of 40. Overall results showed a positive satisfaction and self-confidence from nursing students towards journal club learning method. As one of the effective teaching strategies, this method is widely adopted by various health professions including nursing to create awareness of research and promote evidence-based nursing practice.Keywords: Satisfaction in Learning, Self-Confidence, Journal Club, Nursing Students
Gambaran Skala Nyeri Pada Balita Yang Imunisasi di Puskesmas Puter Bandung Maidartati, Maidartati; Irawan, Erna
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.816 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4935

Abstract

ABSTRAK Imunisasi erat kaitannya dengan jarum suntik yang dapat menimbulkan kecemasan, penghindaran bahkan dapat meyebabkan distres pada anak selama kunjungan ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan vaksin. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi gambaran nyeri anak pada saat diimunisasi di Puskesmas Puter Bandung. Metode penelitian dilakukan dengan cara observasional, responden penelitian orang tua anak balita yang melakukan imunisasi. Pengukuran nyeri setelah dilakukan imunisasi menggunakan Modified behavior pain scale (MBPS). Pengambilan responden dengan cara Accidental sampling dengan jumlah 50 responden, selanjutnya dilakukan Analisa data univariate menggunakan prosentase. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar 36 responden (72%) termasuk kedalam skala nyeri berat dengan median >7, dan hampir setengahnya 14 responden (28%) masuk kedalam skala nyeri ringan dengan nilai median < 7.  Sebagai tenaga pelayanan kesehatan baiknya kita harus memperhatikan respon anak terhadap tindakan tersebut, yang pada akhirnya dapat mengurangi nyeri pada anak.Kata kunci: balita, immunisasi, nyeri,  ABSTRACTImmunization is closely related to syringes which can cause anxiety, avoidance and even cause distress in children during visits to health services to get vaccines. The purpose of this study was to identify the picture of child pain when immunized at Puter Bandung Health Center. The research method was carried out by observational, research respondents were parents of children under five who were immunizing. Pain measurement after immunization using Modified behavior pain scale (MBPS). Taking respondents by accidental sampling with a number of 50 respondents, then conducted univariate data analysis using a percentage. The results showed that 36 respondents (72%) were included in the scale of severe pain with a median> 7, and nearly half of the 14 respondents (28%) entered the mild pain scale with a median value <7. As a health care worker, we should pay attention to the response children against these actions, which in turn can reduce pain in children.Keywords: anxiety, childs, immunitation
Terapi Dingin Pada Nyeri Sternotomy Pasien Post Coronary Arthery Bypass Graft (CABG) Iklima, Nurul; Maulana, Danar Lingga
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.742 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4121

Abstract

Masih banyaknya kasus penyakit jantung membuat pelayanan kesehatan bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG) menjadi salah satu intervensi yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Keluhan nyeri yang terjadi pada pasien post operasi CABG akan menghambat pernafasan normal sehingga dapat menyebabkan disfungsi pernafasan. Manajemen nyeri terbagi menjadi manajemen nyeri farmakologi dan nonfarmakologi. Terapi dingin adalah salah satu terapi non-farmakologi yang bisa dikombinasikan dengan terapi farmakologi. Artikel ini bertujuan ntuk melihat keefektifan intervensi non-farmakologi terapi dingin untuk mengurangi nyeri sternotomy pada pasien post CABG. Metode yang digunakan adalah mengulas literatur keperawatan, kedokteran, dan kesehatan masyarakat dari tahun1994 sampai 2017 dengan menggunakan 9 artikel terkait manajemen nyeri post operasi CABG dan terapi non farmakologi (teraoi dingin)  sebagai referensi. Hasil ulasan literatur menunjukan bahwa terapi dingin efektif terhadap nyeri sternotomy saat melakukan deep breathing exercise pada pasien post CABG. Kesimpulan yang didapatkan adalah terapi dingin memberikan efek yang signifikan untuk menurunkan nyeri sternotomy saat melakukan deep breathing exercise pada pasien post CABG. Hampir seluruh penelitian yang ditelusuri menunjukkan bahwa metode terapi dingin menjadi salah satu intervensi yang mudah dilakukan oleh perawat dan  tidak membutuhkan biaya yang mahal.Kata Kunci : Batuk efektif, Nyeri sternotomy, Terapi dingin
Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Kematian Pada Lansia Di BPSTW Ciparay Kabupaten Bandung Ningrum, Tita Puspita; Okatiranti, Okatiranti; Nurhayati, Shanti
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.245 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4361

Abstract

ABSTRAKKecemasan kematian lansia merupakan suatu kondisi emosional yang dirasakan ketika suatu hal yang tidak menyenangkan dialami oleh seseorang manakala memikirkan kematian. Seseorang yang mengalami kecemasan terhadap kematian memiliki kekhawatiran, kesusahan, ketidaknyamanan, ketegangan, kegelisahan dan mereka disibukkan dengan memikirkan proses sekarat, kemusnahan, kejadian apa yang terjadi setelah kematian. Jika perasaan cemas tersebut terus-menerus dialami lansia maka kondisi itu dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan lansia baik fisik maupun mental, bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik sehingga akan mengganggu kegiatan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi Bagaimanakah Gambaran Tingkat Kecemasan Tentang Kematian Pada Lansia di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Ciparay Kabupaten Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang berusia lebih dari 60 tahun dengan jumlah 150 orang. Pengambilan sampel  menggunakan teknik Purposive sampling dengan kriteria inklusi eklusi, sehingga diperoleh 79 orang. Data diambil dengan menggunakan intrumen Death axiety Scale (DAS) kemudian dianalisa menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 41(51.9%) mengalami kecemasan kematian yang tinggi dan hampir setengah dari responden sebanyak 38(48.1%) mengalami kecemasan kematian yang rendah. Penting bagi  perawat sebagai konselor dalam mengatasi kecemasan akan kematian lansia dengan memberikan dukungan untuk membantu meningkatkan mekanisme koping lansia menjadi lebih adaptif.Kata kunci: Kecemasan kematian, Lansia ABSTRACTThe death anxiety in elderly is an emotional state that is felt when something unpleasant by someone when thinking of death, a person who experiences anxiety over death has feelings, distress, discomfort, feeling, anxiety and they are preoccupied with the process of dying, annihilation, what happened after death If the feelings of death anxiety are constantly alert the elderly, then the condition could have adverse effects on the health of the elderly both physically and mentally, and even can bargain physical diseases that will interfere with daily activities in the elderly. The purpose of the study was to prevention how does Anxiety Level Matter of Death in Elderly in BPSTW Ciparay Bandung. This research used descriptive quantitative research. The population in this study is elderly people aged over 60 years with the number of 150 people. A total of 79 respondents was taken using purposive sampling with inclusion and exclusion criteria. In addition, all data were analyzed using distribution frequency. Results showed more than half of respondents, 41 (51.9%) experienced high death anxiety. It could be caused by inadecuate coping mechanism in elderly. It is important for nurses as a counselor to prevent of death anxiety and provide support for helping an elderly to increase coping mechanism became more adaptif.Keywords: Death Anxiety, Elderly
Pengetahuan Penderita Tentang Pencegahan Penularan Tuberculosis di Bandung Rahmi, Upik
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.072 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4137

Abstract

ABSTRAKTuberculosis  (TB) paru adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis Sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. Pencegahan penyebaran TB paru didukung oleh berbagai faktor diantaranya lingkungan rumah, perilaku batuk, ketuntasan pengobatan dan tingkat pengetahuan. penderita yang akan mendorong kepada suatu perilaku yang mendukung terhadap upaya pencegahan penularan penyakit TBC paru atas dasar kesadaran sendiri.  Tujuan Penelitian: Mengetahui pengetahuan penderita tentang pencegahan penularan penyakit TB Paru di   Kabupaten Bandung. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, Populasi sebanyak 30 orang dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden, menggunakan Teknik Total Sampling.  Hasil Penelitian: Hasil analisis statistik usia responden terbagi kedalam usia lansia sebanyak 15 responden (50%), usia dewasa sebanyak 11 responden (36,7%) dan usia dewasa muda sebanyak 4 responden (13,3%). Pendidikan responden pendidikan dasar 16 (53,3%), pendidikan menengah  14 (46,7%).  Status pekerjaan 24 (80%) tidak bekerja, 6 (20%) yang bekerja. Keterpaparan informasi sebagian besar responden terpapar 25 (83,3%), 5 responden (16,7%) mengaku tidak terpapar informasi tentang Tuberculosis paru. Lingkungan sebanyak 15 responden (50%) memiliki lingkungan yang tidak mendukung dan sebanyak 15 responden (50%) memiliki lingkungan yang mendukung. Pengetahuan responden  16 responden (55,3%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, 9 responden (30%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan 5 responden (16,7%) yang memiliki tingkat pengetahuan kurang. Pembahasan: Karakteristik (usia, pendidikan, pekerjaan, keterpaparan informasi dan lingkungan) yang dimiliki oleh responden akan berdampak  pada pengetahuan, pola pikir dan perilaku dalam menyikapi informasi tentang pencegahan penularan TB paru. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting yang sangat diperlukan dalam mengembangkan diri, karena semakin tinggi pengetahuan maka semakin mudah dalam mengembangkan dan menerima informasi yang datang dari luar. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan. Simpulan:  Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting yang sangat diperlukan dalam mengembangkan diri, karena semakin tinggi pengetahuan maka semakin mudah dalam mengembangkan dan menerima informasi yang datang dari luar.Kata Kunci: Tuberculosis, Pencegahan penularan, Pengetahuan  ABSTRACTTuberculosis (TB) of the lung is a disease caused by infection with the bacteria Mycobacterium Tuberculosis Systemik so that it can affect almost all organs of the body with the most locations in the lung which is usually the location of primary infection. Prevention of pulmonary TB spread is supported by various factors including home environment, cough behavior, treatment completeness and level of knowledge. sufferers who will encourage to a behavior that supports the efforts to prevent transmission of pulmonary TB disease on the basis of self awareness. Objectives: Knowing the knowledge of patients about prevention of transmission of pulmonary TB disease in Bandung regency. Methodologi: The type of research used is quantitative research, population of 30 people with a total sample of 30 respondents, using Total Sampling Technique. Result : The result of statistical analysis of age of respondents is divided into elderly age as many as 15 respondents (50%), adult age 11 respondents (36.7%) and young adult age 4 respondents (13.3%). Primary education respondents 16 (53.3%), secondary education 14 (46.7%). Job status 24 (80%) not working, 6 (20%) working. Exposure information most of the respondents exposed 25 (83.3%), 5 respondents (16.7%) admitted not exposed information about pulmonary tuberculosis. Environment as many as 15 respondents (50%) have a non-supportive environment and as many as 15 respondents (50%) have a supportive environment. Knowledge of respondents 16 respondents (55.3%) have enough knowledge level, 9 respondents (30%) have good knowledge level and 5 respondents (16,7%) who have less knowledge level. Discussion: The characteristics (age, education, occupation, exposure of information and environment) owned by respondents will have an impact on knowledge, mindset and behavior in addressing information about prevention of pulmonary tuberculosis transmission. Knowledge is one important factor that is necessary in developing yourself, because the higher the knowledge the easier it will be in developing and receiving information coming from outside. Knowledge is a factor that strongly supports the needs of health services. Conclusion: Knowledge is one important factor that is necessary in developing yourself, because the higher the knowledge the easier it will be in developing and receiving information coming from outside.Keywords: Tuberculosis, Prevention, Knowledge
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan TBC Pada Anak Dikabupaten Garut Yani, Desy Indra; Fauzia, Nuris Azril; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.111 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4172

Abstract

ABSTRAKPenyakit Tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan di seluruh negara. Indonesia merupakan lima negara terbesar dengan kasus Tuberkulosis. Garut merupakan penyumbang penyakit TBC dengan 3.078 kasus, khususnya sebanyak 218 kasus TBC anak. Resiko penularan TBC tidak hanya pada dewasa, namun juga pada anak. Penularan ini diakibatkan oleh faktor-faktor baik eksternal ataupun internal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan TBC pada anak di Kabupaten Garut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Case Control. Jumlah sampel 92 anak yang terdiri dari 46 kasus dan 46 kontrol. Analisa data yang digunakan adalah deskriptif dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara variabel status gizi (p:0,000 OR= 0,11), riwayat kontak TBC (p: 0,000 OR= 0,15), usia imunisasi BCG (p: 0,002 OR= 0,11), ASI eksklusif (p: 0,000 OR= 0,13), keberadaan perokok (p: 0,000 OR= 0,05), sanitasi lingkungan: jenis tempat tinggal (p: 0,030 OR= 0,16), kepadatan hunian (p: 0,000 OR=0,10) dan ventilasi rumah (p: 0,000 OR= 0,13) dengan TBC pada anak. Kesimpulan. Faktor resiko TBC pada anak diantaranya adalah status gizi, riwayat kontak TBC, usia imunisasi BCG, ASI eksklusif, keberadaan perokok dan sanitasi lingkungan. TBC pada anak dapat dicegah dengan penanganan lebih lanjut kesehatan pada anak, perilaku keluarga dan lingkungan.Kata Kunci: Anak; Faktor Resiko; Tuberkulosis. ABSTRACTTuberculosis a disease that is a health problem throughout all the country in the world. Indonesia include in five largest countries with Tuberculosis cases. Garut is a contributor to TB disease with 3,078 cases, especially as many as 218 cases of tuberculosis in children. The risk of TB transmission not only in adults, but also in children. This transmission is caused by both external and internal factors. The purpose of this study was to determine the risk factors of TBC in children in Garut district. This research is done by using Case Control approach. The sample size was 92 children consisting of 46 cases and 46 controls. Data analysis used is descriptive and odds ratio. The results showed that there was a significant correlation between nutritional status (p:0,000 OR = 0,11), contact history of tuberculosis (p:0,000 OR= 0,15), BCG immunization age (p:0,002 OR= 0,11), exclusive breastfeeding (p:0,000 OR= 0,13), the presence of smokers (p:0,000 OR= 0.05), environmental sanitation: type of residence (p:0,030 OR= 0.16), occupancy density (p:0,000 OR= 0.10) and home ventilation (p:0,000 OR= 0.13) with tuberculosis in children. Conclusion. Risk factors for tuberculosis in children are nutritional status, history of TB contacts, BCG immunization age, exclusive breastfeeding, presence of smokers and environment sanitation. TB in children can be prevented by further treatment of child health, family behavior and the environment.Keywords: Children; Risk Factors; Tuberculosis.
Efektivitas Terapi Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Remaja Di Bandung Maidartati, Maidartati; Hayati, Sri; Hasanah, Afifah Permata
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.431 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4357

Abstract

ABSTRAKMenstruasi merupakan salah satu tanda remaja putri mengalami pubertas. Menstruasi seringkali menimbulkan nyeri pada remaja putri, terutama dibagian perut yang menjalar hingga ke paha, rasa nyeri ini disebut dismenore. Hal tersebut dapat membuat konsentrasi belajar remaja putri berkurang sehingga dismenore perlu diatasi. Cara mengatasi dismenore ada 2 yaitu secara farmakologis (menggunakan obat-obatan) dan secara non farmakologis, salah satunya kompres hangat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kompres hangat terhadap dismenore pada remaja putri. Desain penelitian ini berupa Pra-Eksperimen dengan menggunakan pendekatan One-Group Pra test- Post test Design. Sampel remaja putri kelas VII dan VIII yang mengalami dismenore sebanyak 47 siswi pada bulan Juli - Agustus tahun 2017. Teknik sampling penelitian ini adalah Purposive Sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan thermometer air, lembar observasi skala nyeri dismenore Numerik Rating Scale (NRS) dan lembar informed consent. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi diketahui bahwa sebelum dilakukannya intervensi (pemberian kompres hangat) tingkat dismenore (nyeri haid) sebagian dikategorikan nyeri sedang yaitu 23 orang (48.9%), sebagian kecil dikategorikan nyeri ringan 14 orang (29,8%), dan nyeri berat 10 orang (21,3%), serta tidak satupun yang dikategorikan tidak nyeri & nyeri sangat berat. Setelah dilakukan terapi kompres hangat, sebagian besar yang mengalami nyeri ringan yaitu 33 orang (70.2%), sebagian kecil dikategorikan nyeri sedang 13 orang (27.7%), dan sangat sedikit dikategorikan tidak nyeri 1 orang (2,1%). Setelah di Uji Wilcoxon Signed Ranks. Hasil penelitian ini menunjukkan P-value = 0,000 dimana P-value < 0,05, sehingga Ho ditolak, artinya terdapat efektivitas pemberian kompres hangat penurunan nyeri haid (dismenore) pada remaja usia 13-15 Kota Bandung.Kata Kunci: Dismenore, Efektivitas kompres hangat, Remaja putri  ABSTRACTMenstruation is one of the signs of adolescent girls experiencing puberty. Menstruation often causes pain in young women, especially in the abdomen that spreads to the thighs, this pain is called dysmenorrhea. This can make the concentration of learning teenage daughter is reduced so that dysmenorrhea needs to be overcome. How to overcome dysmenorrhea there are 2 that is pharmacologically (using drugs) and non pharmacologically, one of them warm compress. This study aims to determine the effectiveness of warm compresses against dysmenorrhea in young women. The design of this research is Pre-Experiment using One-Group Pre-test-Post Test Design approach. Samples of girls of grade VII and VIII who experienced dysmenorrhea as many as 47 female students in July - August 2017. Sampling technique of this research is Purposive Sampling. The instrument used was water thermometer, observation scale of dismenorrhizal pain Numeric Rating Scale (NRS) and informed consent sheet. Based on the results of the frequency distribution it is known that prior to the intervention (warm compress) the dysmenorrhea rate was partially categorized as moderate pain, ie 23 people (48.9%), a minority was categorized as mild pain 14 people (29.8%), and severe pain 10 people (21.3%), and none of which are categorized as not painful and very severe pain. After a warm compress therapy, most of those with mild pain were 33 (70.2%), some were moderately painful 13 people (27.7%), and very few were categorized as painless 1 person (2.1%). After the Wilcoxon Signed Ranks Test the results of this study show P-value = 0,000 where P-value <0.05, so Ho is rejected, meaning there is effectiveness of warm compresses decrease menstrual pain (dysmenorrhea) in adolescents aged 13-15 years.Keywords: Effectiveness warm compress, dysmenorrhea
Sikap Masyarakat Terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut Islamiati, Restu; Widianti, Efri; Suhendar, Iwan
Jurnal Keperawatan BSI Vol 6, No 2 (2018): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.028 KB) | DOI: 10.31311/jk.v6i2.4107

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya angka kekambuhan sebanyak 12% yang terjadi pada orang dengan gangguan jiwa selama 3 bulan terakhir di desa kersamanah yang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu faktor dari masyarakat. Lingkungan masyarakat yang tidak mendukung dapat meningkatkan frekuensi kekambuhan orang dengan gangguan jiwa. Faktor dari masyarakat itu sendiri belum banyak diteliti dan belum ada yang meneliti di Kecamatan Kersamanah itu sendiri.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa di Desa Kersamanah Kabupaten Garut. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal disekitar orang dengan gangguan jiwa. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 93 responden. Sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa diukur menggunakan kuesioner Community Attitude Towards Mental ill (CAMI). Data yang didapatkan dianalisis menggunakan mean, median dan standar deviasi.  Hasil penelitian menunjukan bahwa sikap masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa pada aspek authoritarianism dan benevolence nilai skornya sama yaitu 30  4, berdasarkan aspek social restrictiveness dengan nilai  27  3 dan berdasarkan aspek community mental health ideology dengan nilai 32  4. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa  sikap yang paling banyak digunakan oleh masyarakat adalah community mental health ideology yang artinya bahwa masyarakat menerima pelayanan kesehatan mental dan orang dengan gangguan jiwa di masyarakat akan tetapi tidak dilingkungan mereka dan Hal ini perlu ditindak lanjuti pada setiap aspek-aspek yang ada. Saran untuk penelitian ini yaitu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang orang dengan gangguan jiwa yang berada dilingkungan masyarakat.Kata Kunci: Gangguan Jiwa, ODGJ, Sikap Masyarakat                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             ABSTRACT There is an increase in relapse case with the rate of 12% on people with mental illness during the last 3 months in Kersamanah village influenced by several factors and one of the factors is community. An unsupported community environment can increase the relapse frequency of people with mental illness. In Kersamanah, community factor has not been studied and there are still none who studies it. The purpose of this research is to find out the community's attitude towards people with mental illness in Kersamanah Village, Garut. The method used on this research is quantitative descriptive. The population is community who live around people with mental illness. The sample is taken by purposive sampling technique and it is obtained 93 respondents. Community’s attitude towards people with mental illness is measured by Community Attitude towards Mental ill (CAMI) questionnaire. The data obtained, analyzed by using mean, median, and deviation standard. The result of the research showed that the score of society attitude towards people with mental illness based on authoritarianism and benevolence aspects are the same; 30  4, based on social restrictiveness aspect; 27  3 and based on community mental health ideology aspect; 32  4. Based on the result of the research, it was found out that the most common attitude used by the society was community mental health ideology, which means that the society accepts both mental health treatment and people with mental illness but not on their environment. This issue should be followed up on other existed aspects. Suggestions for this study are by educating the public about people mental illness who are in the community.Keywords: Community attitude, Mental illness, ODGJ.

Page 9 of 11 | Total Record : 110