cover
Contact Name
Rudy Agung Nugroho
Contact Email
rudyagung.nugroho@fmipa.unmul.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
bioprospekjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
BIOPROSPEK
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 18297226     EISSN : 26155435     DOI : -
Bioprospek: Jurnal Ilmiah Biologi invites the researchers and practitioners in the field biology, zoology, botany, microbiology, environmental sciences, biotechnology, and applied science that related to biology and its prospect either research paper or reviews.
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
PENGARUH KOMBINASI TEPUNG MAGGOT (Hermetia illucens L.) DAN Azolla microphylla SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF TERHADAP PANJANG DAN BOBOT IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus Buchell, 1822) Trimurti, Sus; Lariman, Lariman; Nugroho, Hariyanto
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 16 No 2 (2024): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v16i2.1355

Abstract

Ikan lele sangkuriang merupakan jenis ikan yang tergolong sebagai pemakan segala. Meskipun demikian, pelet merupakan pakan utama bagi ikan lele. Namun, masalah yang sering muncul adalah tingginya harga bahan pakan pelet bagi para pembudidaya. Oleh karena itu, dibutuhkan pakan alternatif, salah satunya adalah tepung maggot (Hermetia illucens) karena memiliki kandungan protein yang tinggi. Selain itu, Azolla microphylla juga dapat digunakan sebagai pakan alternatif untuk ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) karena mengandung gizi yang cukup tinggi, seperti protein, lemak, karbohidrat, dan serat kasar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pakan tepung maggot dan Azolla microphylla terhadap pertumbuhan panjang dan bobot ikan lele sangkuriang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang berkisar antara 96% hingga 100%. Rata-rata panjang ikan lele sangkuriang yang diberi perlakuan kombinasi pakan tepung maggot dan Azolla microphylla berkisar antara 9,83–14,66 cm. Rata-rata bobot ikan lele sangkuriang yang diberi perlakuan kombinasi tersebut berkisar antara 35,46–52,27 gram. Pertumbuhan panjang dan bobot terbaik terdapat pada perlakuan 3 (P3) dengan kombinasi pakan tepung maggot 50% dan Azolla microphylla 50%, yaitu dengan rata-rata panjang sebesar 14,66 cm dan rata-rata bobot sebesar 52,27 gram.
Pengaruh Ekstrak Etanol Jahe Merah (Zingiber officinale) Terhadap Alanin Aminotransferase dan Aspartat Aminotransferase pada Serum Darah Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Asap Rokok Al Hasbi, Ezra; Aryani, Retno; Rosadi, Imam
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 1 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v17i1.1234

Abstract

Asap rokok mengandung bahan kimia berbahaya bernama Reactive Oxygen Species (ROS), zat tersebut ialah agen radikal bebas yang menyebabkan darah kekurangan oksigen sehingga menimbulkan hipoksiadan menyebabkan nekrosis, sehingga melepaskan enzim transaminase ke peredaran darah. Tanaman obat yang umumnya digunakan oleh masyarakat Kalimantan adalah jahe merah (Zingiber officinale). Kandungan biokimia yang ditemukan pada jahe merah adalah Zingerone sebesar 25,8%, kemudian Zingiberene sebesar 15,9%. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak jahe merah terhadap kadar Alanin Aminotransferase (ALT) dan Aspartat Aminotransferase (AST) pada serum darah mencit (Mus musculus) serta berat badan mencit yang diinduksi asap rokok tersebut. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu pemberian ekstrak etanol jahe merah tidak berpengaruh pada penurunan kadar ALT, tetapi berpengaruh signifikan pada penurunan kadar AST. Perubahan berat badan juga  berkorelasi dengan kadar ALT dan AST. Ekstrak etanol jahe merah dengan dosis 400mg/kgBB merupakan formulasi ekstrak yang paling efektif untuk menurunkan kadar AST dengan nilai sebesar 96 IU/l. Penelitian ini menunjukkan jika kadar berlebih pada suatu zat yang menyehatkan sekalipun dapat beresiko menimbulkan penyakit lain atau kegagalan dalam penyembuhan.
KEANEKARAGAMAN LABA-LABA (ARANEAE) DI KAWASAN RUANG TERBUKA HIJAU KAMPUS UNIVERSITAS MULAWARMAN, SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR Aditya, Zahwa Adela; Hariani, Nova; Patang, Fatmawati
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 1 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v17i1.1498

Abstract

Indonesia merupakan negara megadiversitas dengan keanekaragaman hayati fauna dan flora yang tinggi. Universitas Mulawarman di Kalimantan Timur memiliki luas sekitar 70 hektar kawasan terbuka hijau yang memiliki banyak potensi dan keanekaragaman yang belum dieksplorasi, termasuk keanekagaman laba-laba. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, indeks keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi laba-laba di kawasan ruang terbuka hijau kampus Universitas Mulawarman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode pengambilan sampel laba-laba menggunakan sweep net. Hasil penelitian didapatkan 6 famili laba-laba, yakni Araneidae, Salticidae, Pisauridae, Thomisidae, Pholcidae, dan Clubionidae dengan 14 spesies, yaitu Cyrtophora cicatrosa, Araneus diadematus, Yaginumaella sp., Epeus tener, Phintella vittate, Phintella handersoni, Phintella rajbharathi, Tisaniba sp., Tisaniba loeblii, Hasarius adansoni, Dolomedes tenebrosus, Camaricus formosus, Holocnemus pluchei, dan Matidia virens. Kemudian, nilai Indeks keanekaragaman (H’), kemerataan (E), dan dominansi (D) masing-masing sebesar H’ = 2,548; E = 0,966; dan D = 0,084 yang memiliki arti tingkat keanekaragaman laba-laba di kawasan ruang terbuka hijau kampus Universitas Mulawarman adalah sedang-tinggi dan merata, serta tidak ada spesies yang mendominasi.
MODEL COOPERATIVE LEARNING SEBAGAI PENGEMBANGAN LESSON PLAN PADA SUB MATERI PROTISTA MIRIP HEWAN DI TINGKAT SMA/MA Nida, Hashina Izzatin; Ali Fikri, Achmad
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 1 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v17i1.1504

Abstract

Proses belajar mengajar berkaitan erat dengan rencana pembelajaran yang telah disusun dan dipersiapkan oleh guru di dalam sebuah perangkat pembelajaran atau lesson plan. Lesson plan haus dikembangkan dengan baik untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran yang diinginkan. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan lesson plan yang memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran model cooperative learning pada sub materi protista mirip hewan. Lokasi pelaksanaan penelitian berada di MA NU Raudlatus Shibyan Kudus. Jenis penelitian ini menggunakan metode RnD dengan model 4D. Model ini menggabungkan keterampilan individu siswa dan sikap kooperatif dengan langkah-langkah pembelajaran yang jelas. Subjek penelitian meliputi calon guru biologi, guru biologi, dan siswa kelas X dengan metode observasi, data wawancara, dan dokumentasi kegiatan sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penilitan menunjukkan bahwa aspek pengembangan lesson plan dengan materi, tujuan, model, metode, strategi, penilaian, dan alokasi waktu telah berhasil dilaksanakan. Tetapi, dari beberapa aspek tersebut masih perlu diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut, dengan demikian, pengembangan  akan menjadi lebih sistematis ketika digunakan dalam proses pembelajaran.
PROFIL METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK ETANOL DAUN KATUK (Sauropus androgynus) DAN UJI IN-VITRO AKTIVITAS ANTIBAKTERI TERHADAP Staphylococcus aureus MENGGUNAKAN DIFUSI SUMUR Kusumawati, Eko; Fakhriyana, Fakhriyana; Sapri, Sapri
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 1 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v17i1.1521

Abstract

Infeksi bakteri primer pada kulit sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat menyebabkan beberapa peradangan pada kulit, seperti bisul, impetigo, selulitis, dan mastitis. Salah satu tanaman obat yang berkhasiat mengobati bisul ialah daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.). Telah dilakukan pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun katuk terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 secara in-vitro. Ekstraksi daun  dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Ekstrak etanol kasar diencerkan dengan pelarut dimetil sulfoksida (DMSO) 1% hingga berkonsentrasi 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100%. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode difusi sumuran agar. Parameter yang diukur ialah besarnya diameter zona hambat yang terbentuk disekitar sumur. Digunakan DMSO 1% sebagai kontrol negatif dan tetrasiklin HCl 0,1% sebagai kontrol positif. Desain penelitian ini menggunakan RAL dengan 5 perlakuan dan 2 kontrol, serta dilakukan 3 kali pengulangan. Rata-rata diameter zona hambat yang terbentuk dengan perlakuan ekstrak berkonsentrasi 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100% secara berurutan ialah 5,42; 5,83; 6,58; 7,00; dan 8,75 mm. Hasil analisis statistik menggunakan proGram SPSS versi 16.0 for windows menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun katuk berpengaruh secara signifikan terhadap DMSO 1% dan tetrasiklin HCl 0,1% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 pada taraf kepercayaan 95%. 
PERAN NUTRISI DALAM MODULASI GEN INFLAMASI PADA KERUSAKAN MUKOSA LAMBUNG AKIBAT NSAID: SEBUAH PENDEKATAN NUTRIGENOMIK Prayoga, Adhimas; Ilmi, Annisa Nurul
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 1 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/qtab7a55

Abstract

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) merupakan terapi yang umum digunakan, khususnya pada kelompok lansia, namun penggunaannya dapat menyebabkan gangguan mukosa lambung yang dipicu oleh penghambatan enzim COX-1 dan peningkatan stres oksidatif. Artikel yang dianalisis merupakan penelitian primer dari tahun 2014 hingga 2024 dengan desain in vivo, in vitro, atau observasional yang relevan dengan topik yang dikaji berdasarkan hasil utama, ekspresi gen terkait, dan mekanisme molekuler. Hasil sintesis dari sembilan studi utama menunjukkan bahwa senyawa seperti omega-3 (EPA dan DHA), astaxanthin, polifenol, dan komponen aktif dari walnut dan Gardenia jasminoides mampu memberikan perlindungan mukosa melalui aktivasi jalur molekuler Nrf2/HO-1 dan AMPK/SIRT1, serta menekan jalur inflamasi NF-κB dan COX-2. Namun, konsumsi lemak jenuh tinggi dapat memperparah kondisi mukosa dengan meningkatkan IL-17A dan menurunkan gen pelindung seperti TLR4, Ocln, dan Nr1h4. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pola makan dan komponen nutrisi tertentu mampu memengaruhi ekspresi gen dan jalur molekuler yang berperan dalam menjaga kesehatan mukosa lambung. Temuan ini mendukung potensi pendekatan nutrigenomik sebagai strategi preventif dan pendukung terapi yang lebih aman untuk mengurangi risiko gangguan saluran cerna akibat penggunaan NSAID dalam jangka panjang.
TINJAUAN PUSTAKA: FERMENTASI DURIAN, TEMPOYAK SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL BERBASIS LOKAL Damayanti, Andi Alfina; Pujiyanti, Aloysia Sri; Dharma, Bodhi
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 1 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/bp.v17i1.1552

Abstract

Tempoyak merupakan produk fermentasi tradisional berbasis durian (Durio zibethinus) yang banyak dikonsumsi di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara. Fermentasi tempoyak dilakukan secara spontan dengan dominasi bakteri asam laktat (BAL), seperti Lactobacillus plantarum, Streptococcus thermophilus, dan Leuconostoc mesenteroides. Kehadiran BAL berkontribusi pada peningkatan kualitas sensoris, keamanan pangan, serta manfaat fungsional tempoyak. Kajian ini bertujuan untuk meninjau potensi tempoyak sebagai pangan fungsional yange mengandung BAL sebagai agen probiotik dan antibakteri berdasarkan studi literatur terbaru. Hasil tinjauan pustaka menunjukkan bahwa metode fermentasi, suhu, dan kadar garam memengaruhi pertumbuhan BAL serta komposisi mikroba dalam tempoyak. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa BAL dalam tempoyak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, serta mampu menghasilkan senyawa bioaktif, seperti eksopolisakarida (EPS) yang berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan pencernaan. Dengan karakteristik ini, tempoyak berpotensi sebagai pangan fungsional probiotik.
PENGARUH EKSTRAK DAUN RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) SEBAGAI BAHAN SALEP TERHADAP PERCEPATAN PENUTUPAN LUKA SAYAT, KADAR HIDROKSIPROLIN DAN TOTAL DNA MENCIT (Mus musculus L.) Naimah, Wa; Aryani, Retno; Nugroho, Rudy Agung
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 2 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/c2br7242

Abstract

Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L.) mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Kandungan metabolit sekunder tersebut dapat membantu pembentukan kolagen sehingga mempercepat penyembuhan luka. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ekstrak metanol daun rambutan sebagai bahan salep dengan parameter terhadap persentase penutupan luka sayat, kadar hidroksiprolin, dan kandungan total DNA pada mencit. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 kelompok, yang terdiri dari 2 kelompok kontrol (K+: Povidone Iodine 10% dan K-: Tanpa Perlakuan) dan 3 kelompok perlakuan (P1: Salep ekstrak daun rambutan 5%, P2: Salep ekstrak daun rambutan 10%, dan P3: Salep ekstrak daun rambutan 15%) dengan 5 kali pengulangan, menggunakan sebanyak 25 ekor mencit jantan. Mencit diberikan luka sayat pada punggungnya dan diberi perlakuan sesuai kelompok selama 16 hari. Pengukuran panjang luka pada mencit dilakukan setiap 2 hari sekali. Pengambilan jaringan kulit mencit dilakukan pada hari ke-11 setelah luka, kemudian jaringan kulit mencit diukur kadar hidroksiprolin dan total DNA-nya. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa salep dengan konsentrasi 15% lebih cepat dalam penyembuhan luka dilihat dari persentase penutupan luka.
KOMUNITAS AVIFAUNA DI AREA PERSAWAHAN KELURAHAN WARU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA Wulandari, Syindy Tri; Dijan Sunar; Mukhlis, Mukhlis; Rukmi, Dijan Sunar
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 2 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/abkf9r45

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelaah perubahan komunitas burung pada lima fase pertumbuhan padi  dengan mengamati komposisi berdasarkan tipe makanan, tingkat keanekaragaman, kemerataan, dominansi, serta kesamaan jenis. Kegiatan dilaksanakan selama ±4 bulan di area persawahan Kelurahan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, menggunakan metode titik hitung (point count) pada 12 titik pengamatan yang telah ditentukan. Sebanyak 33 jenis burung dari 9 ordo dan 18 famili berhasil dicatat. Setiap fase menunjukkan komposisi yang berbeda; sejumlah spesies hadir di seluruh fase, sedangkan lainnya hanya muncul pada tahap tertentu. Keanekaragaman dan kemerataan jenis burung tertinggi ditemukan pada fase vegetatif dengan nilai H’ = 2.288 dan E = 0,711, sedangkan nilai kesamaan jenis tertinggi terjadi antara fase pengolahan tanah dan fase vegetatif dengan nilai kesamaan sebesar 37,64%. Kerak kerbau (Acridotheres javanicus) menjadi spesies dengan frekuensi perjumpaan paling tinggi. Berdasarkan tipe pakan, karnivor dan karnivor-insektivor mendominasi fase awal pertumbuhan, omnivor mendominasi fase pascapanen, sedangkan insektivor dan granivor meningkat pada fase pematangan. Empat spesies tercatat dilindungi (PerMen LHK 2018), satu masuk Apendiks II CITES, serta masing-masing satu berstatus endangered, vulnerable, dan near threatened menurut IUCN. Temuan ini menunjukkan bahwa komunitas burung di persawahan berubah secara jelas mengikuti fase pertumbuhan padi.
DUA DEKADE NANOKITOSAN DI BIDANG KESEHATAN: SEBUAH KAJIAN BIBLIOMETRIK TAHUN 2004-2024 Rudianto; Kusumawati, Eko
BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi Vol 17 No 2 (2025): BIOPROSPEK: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/aa116n07

Abstract

Berbagai kemajuan nanoteknologi dalam dua dekade terakhir telah mendorong lonjakan riset nanokitosan, bentuk nano dari kitosan yang biokompatibel, biodegradable, dan memiliki aktivitas antimikroba untuk keperluan biomedis dan farmasi. Studi ini menyajikan kajian bibliometrik 20 tahun terakhir mengenai nanokitosan di bidang kesehatan. Data bibliografis dikumpulkan dari basis data ilmiah internasional utama dan dianalisis menggunakan pendekatan bibliometrix serta pemetaan jaringan untuk mengeksplorasi dinamika publikasi, jenis dokumen, dokumen paling berpengaruh, serta peta kepadatan tema. Indikator yang dikaji meliputi jenis dokumen, tren publikasi tahunan, serta dokumen paling berpengaruh. Hasil menunjukkan peningkatan publikasi yang konsisten dengan fokus tema yang mengerucut pada sistem penghantaran obat (termasuk kemoterapi dan pengantaran mukosal), agen antimikroba dan antibiofilm, pembawa gen, serta aplikasi rekayasa jaringan dan perawatan luka.  Dokumen paling sitasional umumnya mengulas modifikasi kimia/fisik, strategi enkapsulasi, serta efikasi-keamanan in vitro/in vivo. Temuan ini menyediakan peta komprehensif perkembangan ilmiah nanokitosan, mengidentifikasi area prioritas, dan memberi arah menuju implementasi klinis yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan.