cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2025): JUNE" : 12 Documents clear
DESAIN PEMBELAJARAN KONTEKS JEMBATAN MUSI 6 PADA MATERI BARISAN ARITMETIKA Andita, Sintia; Zulkardi; Susanti, Ely; Meryansumayeka
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a1

Abstract

Research on the development of learning design, using the context of Jembatan Musi 6, aims to design and develop HLT in this context. The research employs qualitative research methods, specifically the validation study design type, to validate the learning design. The research subjects consisted of 6 people in the pilot stage and 21 people in the teaching experiment stage at the middle school (MTs) Raudhatul Ulum. The development of HLT used a type of research design known as a validation study, a method appropriate for answering research questions and assisting in the development of research design, which can begin with initial design, design experiment, and retrospective analysis. Therefore, these three learning models can be applied to the topic of arithmetic sequences. This research was conducted using interviews, student questionnaires, and student activity sheets to explain the initial activities that started from a real-life context, namely the Musi 6 Bridge, which leads to the basic concept of arithmetic sequences, particularly determining the n-th term formula. Subsequently, the data collection results were analyzed and explained qualitatively based on data analysis, which showed that students could achieve an understanding of the n-th term formula concept using an alternative learning pathway. In the prediction of local theory, the general thinking of the students is quite accurate. The development of this learning design can be used by teachers in the classroom. Abstrak: Penelitian mengenai pengembangan desain pembelajaran menggunakan konteks Jembatan Musi 6 pada materi barisan aritmetika menggunakan pendekatan PMRI yang bertujuan untuk merancang dan mengembangkan HLT dalam pengembangan desain ini menggunakan metode penelitian kualitatif desain riset tipe validasi studi. Adapun Subjek penelitian berjumlah 6 orang pada tahap pilot dan berjumlah 21 orang pada tahap teaching eksperimen di MTs Raudhatul Ulum. Pengembangan HLT menggunakan desain reaserch tife validation study cara tepat yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan membantu pengembangan desain penelitian yang dapat dimulai dengan desain awal, eksperimen desain, dan analisis restrospektif. Maka, tiga model pembelajaran tersebut yang dapat diterapkan pada materi barisan aritmetika. Penelitian ini dilakukan menggunakan proses wawancara, angket siswa, dan lembaran akvitas siswa untuk menjelaskan dari sebuah aktivitas awal yang bermula dari konteks nyata yang ada dikehidupan sehari-hari yaitu Jembatan Musi 6 menjadi konsep dasar barisan aritmetika yaitu menentukan rumus suku ke-n. Selanjutnya hasil dari pengumpulan data tersebut dianalisis dan dideskripsikan secara kualitatif berdasarkan analisis data mendapatkan hasil bawasannya siswa dapat menemukan sebuah pemahaman konsep rumus suku ke-n yang menggunakan alur pembelajaran yang alternatif. Dalam prediksi teori lokal pada cara berpikir siswa secara umum sudah signifikan akurat. Pengembangan desain pembelajaran ini bisa digunakan guru di kelas.
Bahasa Inggris Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal SPLDV ditinjau dari Kemampuan Berpikir Kritis Berdasarkan Kriteria Newman Manullang, Mindo; Elfani, Elia; Fauzi, KMS M. Amin
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a7

Abstract

This research aims to provide a clear mapping of errors frequently made by students in solving Systems of Linear Equations in Two Variables (SPLDV) problems, to examine students critical thinking skills using Newman's criteria, and to identify mathematical errors committed by eighth-grade students at the private Methodist El Shadday Junior High School in Perbaungan. This research uses descriptive qualitative research methods. The study involved a sample of five students who were administered a test instrument consisting of open-ended questions. The analysis results indicate that the average percentage of students’ success in demonstrating critical thinking skills in solving problems is 42.109%, while the average error rate is 57.891%. These findings reveal that students' error rate in answering questions is higher than their success rate in answering questions. This suggests that students' problem-solving and critical thinking abilities remain relatively low. These results align with the research objective, which is to examine the extent to which students can think critically when solving problems, as measured by indicators of critical thinking skills. In light of these results, it is recommended that innovative instructional approaches such as problem-based learning, contextual learning, and interactive methods involving the use of technology be implemented to enhance students’ understanding and foster the development of their critical thinking skills. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemetaan yang jelas mengenai kesalahan- kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV), mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan kriteria Newman dan mengecek kesalahan matematis siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama swasta Methodist El Shadday Perbaungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini diambil sampel sebanyak 5 orang siswa yang kemudian diberikan instrumen tes untuk diselesaikan. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa tes yang berisi soal-soal uraian. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata- rata persentase keberhasilan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal mencapai 42,109% sementara rata-rata persentase  kesalahan  siswa sebesar  57,891%. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat kesalahan siswa menjawab soal lebih tinggi dibandingkan tingkat keberhasilan. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan berpikir kritis siswa masih tergolong rendah. Hasil ini selaras dengan tujuan penelitian, yaitu menganalisis sejauh mana siswa mampu berpikir kritis dalam menyelesaikan soal berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis dan Newman. Berdasarkan temuan tersebut, perlunya penggunaan pendekatan pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran berbasis masalah atau kontekstual serta pembelajaran interaktif dan menarik seperti menggunakan teknologi yang diharapkan dapat membantu siswa agar lebih memahami dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Effect of PMRI’s Approach on Students’ Problem-Solving Ability in Geometry Topics Zohra, Milda; Lubis, Mara Samin
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a6

Abstract

Problem-solving skills are abilities that students must master by prioritizing the steps involved in the problem-solving process. However, there are still many Junior High School (SMP) students in grade VII who have difficulties in solving mathematical problems, especially on the topic of geometry. This study aims to determine whether the PMRI approach has an impact on students' problem-solving abilities in geometry materials. The population of this study is all grade VII students, with a total of 134 students. The sample selection was conducted using Simple Random Sampling in grades VII-3 and VII-4 of SMP Negeri 1 Sipirok. The research method used was Quasi quasi-experimental design using a data collection technique through a test (pretest-posttest) consisting of 3 geometry topic essay questions. The data analysis techniques used were descriptive analysis and inferential analysis. Inferential analysis used a hypothesis test or the Independent Samples t-test. After conducting the research, it was found that the average score of students in the control class increased by 18,375 while the experimental class increased by 38,875, meaning that the problem-solving ability of students in the experimental class with the PMRI approach was 11.06 times higher than the control class. T-test results using IBM SPSS Statistics 30, a = 5% or 0.05, showed values sig < a, that is 0.000 < 0.005 which means that there is an influence of PMRI's approach on students' problem-solving abilities in geometry topics. Abstrak: Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang harus dikuasai siswa dengan mengedepankan langkah-langkah pemecahan masalah. Akan tetapi masih banyak Siswa Menengah Pertama (SMP) kelas VII yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah matematika, khususnya pada topik geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pendekatan PMRI berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi geometri. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII dengan total 134 siswa. Pemilihan sampel menggunakan simple random sampling yaitu di kelas VII-3 dan VII-4 SMP Negeri 1 Sipirok. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui tes (pretest-posttest) yang terdiri dari 3 soal essai topik geometri. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis inferensial menggunakan uji hipotesis atau uji-t independent samples test. Setelah dilakukan penelitian, didapat nilai rata-rata siswa kelas kontrol meningkat sebesar 18.375 sedangkan kelas eksperimen meningkat sebesar 38.875, artinya kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen dengan pendekatan PMRI lebih tinggi 11.06 dibandingkan dengan kelas kontrol. Hasil uji-t dengan mengunakan IBM SPSS Statistics 30, a = 5%, atau 0.05 menunjukkan nilai sig < a, yaitu 0.000 < 0.005 yang artinya terdapat pengaruh pendekatan PMRI terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi geometri.
Analysis of Students' Mathematical Problem-Solving Skills in Terms of Math Anxiety Levels Musodiqoh, Ummu Atiyatul; Nurbaiti, Idhata; Gunawan; Jaelani, Anton; Jazuli, Akhmad
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a10

Abstract

This study aims to analyze students' mathematical problem-solving skills based on the level of math anxiety they experience. Math anxiety is a psychological factor that can affect students' academic performance in mathematics, especially in that require problem solving. The research method is qualitative with a descriptive approach. Data collection was carried out through tests, questionnaires, and interviews. The results of the math anxiety questionnaire categorized students into high, medium, and low categories. Respondents were collected by purposive sampling from each category of math anxiety. Data analysis consists of reduction, data presentation, and conclusion. The results showed that students with low math anxiety were able to solve problems more systematically and flexibly, while students with high math anxiety tended to have difficulty understanding problems and designing solution strategies. Students in the math anxiety category are having difficulty in implementing a completion plan and providing the right conclusions. These findings confirm that math anxiety has a significant impact on students' mathematical problem-solving skills. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berdasarkan tingkat kecemasan matematika yang dialaminya. Kecemasan matematika merupakan faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa dalam matematika, terutama dalam memecahkan masalah. Metode penelitiannya bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui tes, kuesioner, dan wawancara. Hasil kuesioner kecemasan matematika mengkategorikan siswa ke dalam kategori tinggi, sedang, dan rendah. Responden dikumpulkan dengan purposive sampling dari setiap kategori kecemasan matematika. Analisis data terdiri dari reduksi, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kecemasan matematika rendah mampu memecahkan masalah secara lebih sistematis dan fleksibel, sedangkan siswa dengan kecemasan matematika tinggi cenderung mengalami kesulitan memahami masalah dan merancang strategi solusi. Siswa dalam kategori kecemasan matematika mengalami kesulitan dalam menerapkan rencana penyelesaian dan memberikan kesimpulan yang tepat. Temuan ini menegaskan bahwa kecemasan matematika memiliki dampak yang signifikan pada keterampilan pemecahan masalah matematika siswa.
ANALISIS KESALAHAN SISWA SMP SE-PULAU MOA DALAM MENGERJAKAN SOAL LITERASI MATEMATIKA BERBASIS ETNOMATEMATIKA Kurniati MA, Ratnah; Inuhan, Michael; Bonara, Arche; Solmeda, Wisye Marina; Samadara, Aditia
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a8

Abstract

This study aims to examine the mathematical literacy skills of junior high school students on Moa Island by identifying the types of errors they commonly make when solving mathematical literacy problems designed with cultural relevance. The problems were developed to reflect local contexts, following an ethnomathematics-based approach that situates learning within students’ real-life experiences and community practices. This descriptive qualitative research involved 56 junior high school students from various schools on Moa Island, selected by their mathematics teachers based on academic ability. Students completed a mathematical literacy task adapted from PISA, and their written responses were analyzed for error patterns. To validate the findings, interviews were conducted with a subset of participants selected through purposive sampling to represent each type of identified error. The analysis, guided by Nolting’s Theory, revealed five categories of errors. Misread directions errors occurred most frequently, affecting 53.5 percent of students. Concept errors were found in 39.2 percent, careless errors in 25 percent, and application errors in 12.5 percent. Study errors emerged in 82 percent of students, marking them as the most common issue. The findings suggest that students’ difficulties stem largely from limited exposure to contextual problem-solving and a strong reliance on memorization over conceptual understanding. The study highlights the importance of incorporating culturally grounded, contextual problems into mathematics instruction to strengthen literacy skills. Future research is encouraged to further explore how ethnomathematics can be more effectively embedded into assessment and teaching practices. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan literasi matematika siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Pulau Moa dengan mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan yang sering dilakukan saat menyelesaikan soal literasi matematika yang dirancang berdasarkan konteks budaya lokal. Soal dalam penelitian ini dikembangkan untuk mencerminkan situasi nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sebagai bagian dari pendekatan berbasis etnomatematika. Penelitian ini merupakan studi kualitatif deskriptif dengan melibatkan 56 siswa SMP dari berbagai sekolah di Pulau Moa. Para siswa dipilih oleh guru matematika masing-masing berdasarkan kemampuan akademik, khususnya dalam bidang matematika. Setelah mengerjakan soal literasi matematika adaptasi dari PISA, peneliti melakukan analisis terhadap jawaban siswa. Validasi data diperoleh melalui wawancara dengan subjek terpilih menggunakan teknik purposive sampling, yakni siswa yang mewakili setiap jenis kesalahan yang teridentifikasi. Berdasarkan analisis menggunakan teori Nolting, ditemukan lima kategori kesalahan. Kesalahan membaca petunjuk (misread directions errors) terjadi pada 53,5% siswa. Kesalahan konsep (concept errors) ditemukan sebesar 39,2%, kesalahan ceroboh (careless errors) sebesar 25%, dan kesalahan penerapan (application errors) sebesar 12,5%. Kesalahan belajar (study errors) menjadi yang paling dominan, terjadi pada 82% siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan siswa sebagian besar disebabkan oleh kurangnya latihan soal kontekstual dan dominannya pendekatan hafalan dalam pembelajaran. Penelitian ini menekankan pentingnya pengintegrasian soal-soal matematika kontekstual yang berakar pada budaya lokal dalam pembelajaran untuk memperkuat keterampilan literasi matematika siswa. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengembangkan dan mengeksplorasi lebih dalam potensi etnomatematika secara kolaboratif bersama masyarakat setempat.
ANALISIS KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS DITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA Hidayati, Litsa Arfi; Triyana, Evi; Gunawan; Kusno; Jaelani, Anton
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a4

Abstract

The ability to make mathematical connections has an important role in the problem-solving process, while learning independence is an affective aspect that supports the learning process. This study aims to analyze the ability of mathematical connections based on learning independence. The research subjects consisted of 35 grade VII students at MTs Minat Cilacap. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques are in the form of mathematical connection ability tests, interviews, and learning independence questionnaires. Based on the questionnaire, students are categorized into high, medium, and low. Each category is taken by one student as a sample with a purposive sampling technique. The material used for the test is Social Arithmetic. Data analysis consists of data reduction, presentation, and conclusion. The results show that students with high independence are able to relate mathematical concepts well and apply them in a variety of situations. Students with moderate independence have sufficient understanding, but still have difficulty in relating concepts thoroughly. Students with low independence experience obstacles in connecting mathematical concepts to other situations. The implications of this study emphasize the importance of implementing innovative learning strategies that can increase learning independence and mathematical connections. Abstrak: Kemampuan koneksi matematis memiliki peran yang penting dalam proses penyelesaian masalah sedangkan kemandirian belajar sebagai aspek afektif yang menunjang proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan koneksi matematis berdasarkan kemandirian belajar. Subjek penelitian terdiri dari 35 siswa kelas VII di MTs Minat Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data berupa tes kemampuan koneksi matematis, wawancara, dan angket kemandirian belajar. Berdasarkan angket, siswa dikategorikan menjadi tinggi, sedang, dan rendah. Setiap kategori diambil masing-masing satu siswa sebagai sampel dengan teknik purposive sampling. Materi yang digunakan untuk tes adalah Aritmatika Sosial. Analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemandirian tinggi mampu menghubungkan konsep matematika dengan baik dan menerapkannya dalam berbagai situasi. Siswa dengan kemandirian sedang memiliki pemahaman yang cukup, tetapi masih mengalami kesulitan dalam mengaitkan konsep secara menyeluruh. Siswa dengan kemandirian rendah mengalami hambatan dalam menghubungkan konsep matematis dengan situasi lain. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya penerapan strategi pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan kemandirian belajar dan koneksi matematis.
KEMAMPUAN SPASIAL MATEMATIS SISWA DITINJAU DARI GENDER: STUDI KASUS SISWA PEREMPUAN DENGAN KEMAMPUAN SPASIAL MATEMATIS TINGGI Baihaqi, Achmad; Supiat
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a2

Abstract

This study was motivated by the contradiction between the general assumption that male students have higher mathematical spatial abilities than female students and the findings of a female student who shows high mathematical spatial performance. In addition, in-depth studies of female students with high mathematical spatial abilities are still limited in the literature. This study aims to find out “how” and “why” a female student has high mathematical spatial ability. This research uses a qualitative type with a case study design and an interpretative approach. The research subject was a female student at SMPN 68 Jakarta who was identified as having high mathematical spatial ability based on the initial observation of 66 students. Data were collected through the administration of three sets of mathematical spatial ability problems, semi-structured interviews, and non-systematic observations. The results showed that the female student was able to solve the spatial problems consistently and obtained the maximum score in all three problem sets. She showed a systematic solution strategy by reading and thoroughly understanding the information in the problem, and using her spatial imagination. Factors that support the student's high mathematical spatial ability include learning that encourages concept understanding, independent learning habits, involvement in tutoring and private lessons, experience participating in math olympiads, support from family and friends, and the habit of playing space-based games. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kontradiksi antara asumsi umum yang menyatakan bahwa siswa laki-laki memiliki kemampuan spasial matematis lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan dengan temuan seorang siswa perempuan yang justru menunjukkan performa spasial matematis tinggi. Selain itu, kajian mendalam terhadap siswa perempuan dengan kemampuan spasial matematis tinggi masih terbatas dalam literatur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “bagaimana” dan “mengapa” seorang siswa perempuan memiliki kemampuan spasial matematis tinggi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus dan pendekatan interpretatif. Subjek penelitian adalah seorang siswa perempuan di SMPN 68 Jakarta yang teridentifikasi memiliki kemampuan spasial matematis tinggi berdasarkan hasil observasi awal terhadap 66 siswa. Data dikumpulkan melalui pemberian tiga paket soal kemampuan spasial matematis, wawancara semi terstruktur, dan observasi non-sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa perempuan tersebut mampu menyelesaikan soal-soal spasial secara konsisten dan memperoleh skor maksimal pada ketiga paket soal. Ia menunjukkan strategi penyelesaian yang sistematis, dengan membaca dan memahami secara menyeluruh informasi pada soal, serta menggunakan pengimajinasian spasialnya. Faktor-faktor yang mendukung kemampuan spasial matematis tinggi siswa tersebut antara lain pembelajaran yang mendorong pemahaman konsep, kebiasaan belajar mandiri, keterlibatan dalam bimbingan belajar dan les privat, pengalaman mengikuti olimpiade matematika, dukungan dari keluarga dan teman, serta kebiasaan bermain game berbasis ruang.
VARIASI KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH KONTEKSTUAL BERDASARKAN TEORI POLYA Junianti, Ika Wulan; Subanji; Susanto, Hery
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a5

Abstract

Contextual problem-solving ability is a crucial skill that students, particularly those in vocational schools, must possess, as they will immediately enter the workforce. To optimize students' abilities, research was conducted on the variation of students’ difficulties in solving problems. This study aims to identify variations in vocational high school students' difficulties in solving contextual problems of the system of linear inequalities in two variables based on Polya’s theory and to offer alternative solutions that can be used to overcome these difficulties. The type of research used is qualitative with a descriptive approach. The study subjects were 3 students of 36 students of the grade XI vocational high school, who had received the material. These students were selected based on the category of abilities they had, namely high, medium, and low, as well as considerations of communication of teacher recommendation results. Data collection was carried out through tests and interviews. Based on the results of the study, it was found that 1) Low Ability Students (LAS) experienced many variation in difficulties at all stages in solving problems according to Polya’s theory, 2) Medium Ability Students (MAS) at the stage of understanding the problem experienced fewer variations in difficulties compared to the other three stages, 3) High Ability Students (HAS) at the stage of understanding the problem and making plans experienced fewer variation in difficulties compared to the other two stages. Apart from being based on Polya’s theory, students also experience other variations of difficulty, namely the difficulty in defining variables, constants, and coefficients correctly. Abstrak: Kemampuan penyelesaian masalah kontekstual adalah kemampuan penting yang harus dimiliki oleh siswa khususnya siswa sekolah kejuruan karena mereka akan langsung terjun ke dunia kerja. Untuk mengoptimalkan kemampuan siswa maka dilakukan penelitian terkait variasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi kesulitan siswa SMK dalam menyelesaikan masalah kontekstual sistem pertidaksamaan linear dua variabel berdasarkan teori Polya dan menawarkan solusi alternatif yang bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian sebanyak tiga siswa dari 36 siswa kelas XI SMK yang telah mendapatkan materi tersebut. Siswa ini dipilih berdasarkan kategori kemampuan yang dimiliki yaitu tinggi, sedang, dan rendah serta pertimbangan komunikasi hasil rekomendasi guru. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa: 1) Siswa Kemampuan Rendah (LAS) mengalami banyak variasi kesulitan pada seluruh tahapan dalam penyelesaian masalah menurut teori Polya; 2) Siswa Kemampuan Sedang (MAS) pada tahapan memahami masalah mengalami variasi kesulitan lebih sedikit dibandingkan dengan tiga tahap lainnya; 3) Siswa Kemampuan Tinggi (HAS) pada tahapan memahami masalah dan membuat rencana mengalami variasi kesulitan lebih sedikit dibandingkan dua tahapan lainnya. Selain berdasarkan teori Polya, variasi kesulitan lainnya yaitu kesulitan untuk mendefinisikan variabel, konstanta, dan koefisien secara tepat juga dialami oleh siswa.
PENGARUH PENGGUNAAN GEOGEBRA, KEPERCAYAAN DIRI, KARAKTER KERJA KERAS, DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA Mahmudah, Mutiara Hisda; Hastuti, Windi; Ferdianto, Juli; Setyaningsih, Nining
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a9

Abstract

Mathematical skills are essential in academic contexts, everyday life, and various professional fields. This study is motivated by the low achievement of Indonesian students' mathematics skills in the PISA survey and the importance of integrating technology and psychological factors in 21st-century mathematics learning. This study analyzes the direct and indirect effects of using GeoGebra, self-efficacy, complex work character, and critical thinking ability on students' mathematics learning achievement. This study uses a quantitative approach with a correlational research design  and involves a sample of 156 grade XI students at a high school in  Boyolali. Data collection was carried out through questionnaires and tests, which were tested for validity and reliability, and data analysis was carried out by path analysis using SPSS. The results showed that the use of GeoGebra and self-efficacy had a significant direct effect on the character of hard work. However, the four variables had no significant direct effect on mathematics learning achievement. The indirect effect of self-efficacy on learning achievement through complex work character was significant, while the other indirect paths were insignificant. This study concludes that complex work character is an important mediator that connects self-efficacy with mathematics learning achievement. This study recommends strengthening self-efficacy and utilising learning technologies such as GeoGebra and appropriate pedagogical strategies to build positive learning dispositions and improve mathematics learning outcomes. Abstrak: Kemampuan matematika sangat penting dalam konteks akademis, kehidupan sehari-hari, dan berbagai bidang profesi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pencapaian kemampuan matematika siswa Indonesia dalam survei PISA dan pentingnya mengintegrasikan teknologi dan faktor psikologis dalam pembelajaran matematika abad ke-21. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung dari penggunaan GeoGebra, self-efficacy, karakter kerja keras, dan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar matematika siswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian eksplanatori, melibatkan 156 siswa kelas XI dari SMA Negeri 1 Boyolali sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan tes yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dan analisis data dilakukan dengan analisis jalur menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan GeoGebra dan efikasi diri berpengaruh langsung secara signifikan terhadap karakter kerja keras. Namun, keempat variabel tersebut tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap prestasi belajar matematika. Pengaruh tidak langsung efikasi diri terhadap prestasi belajar melalui karakter kerja kompleks adalah signifikan, sedangkan pengaruh tidak langsung lainnya tidak signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakter kerja merupakan mediator penting yang menghubungkan efikasi diri dengan prestasi belajar matematika. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakter kerja merupakan mediator penting yang menghubungkan efikasi diri dengan prestasi belajar matematika. Penelitian ini merekomendasikan untuk memperkuat efikasi diri dan memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti GeoGebra dan strategi pedagogis yang tepat untuk membangun disposisi belajar yang positif dan meningkatkan hasil belajar matematika.
EFEKTIVITAS MULTIMEDIA BANGUN RUANG MENGGUNAKAN ARTICULATE STORYLINE BERBASIS TEORI EKSPERIENSIALISME TERHADAP HASIL BELAJAR DAN RETENSI MEMORI SISWA Santosa, Yoga Tegar; Maulida, Dini Wardani; Murtiyasa, Budi
MaPan : Jurnal Matematika dan Pembelajaran Vol 13 No 1 (2025): JUNE
Publisher : Department of Mathematics Education Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mapan.2025v13n1a3

Abstract

Learning outcomes and memory retention play a crucial role in mathematical learning. However, many students still show low learning outcomes and memory retention, especially in the polyhedron topics. The objective of this study is to examine the effectiveness of multimedia based on Articulate Storyline, oriented to the experientialism theory, student learning outcomes, and memory retention. The study uses a quantitative approach with a quasi-experimental design of the pretest and posttest non-equivalent control group types. The research population is all grade VIII students in one of the Middle schools in Wonosobo Regency. A total of 32 students from class VIII B were assigned as the experimental group, while 32 students from class VIII C served as the control group. The data collection instruments consisted of multiple-choice tests to measure students' learning outcomes and essays to measure students' memory retention. Both have been tested for validity and reliability. Data analysis involved the use of inferential and descriptive statistics. The findings revealed that the learning achievements of students in the experimental group were significantly higher than those in the control group. Additionally, the memory retention of students in the experimental group was also superior to that of the control group. These results provide valuable insights for educators and instructional media developers in creating meaningful learning experiences to enhance students' understanding and memory retention. Abstrak: Hasil belajar dan retensi memori berperan penting dalam pembelajaran matematika. Namun, banyak siswa masih menunjukkan hasil belajar dan retensi memori yang rendah, khususnya pada topik bangun ruang sisi datar. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas multimedia berbasis Articulate Storyline yang berorientasi pada teori eksperiensialisme terhadap hasil belajar dan retensi memori siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental tipe pretest and posttest non-equivalent control group. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Wonosobo. Sampel terdiri dari 32 siswa kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan 32 siswa kelas VIII C sebagai kelas kontrol. Instrumen pengumpulan data terdiri dari tes pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar siswa dan uraian untuk mengukur retensi memori siswa. Keduanya telah diuji validitas dan reliabilitasnnya. Analisis data dilakukan dengan statistik inferensial dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Retensi memori siswa kelas eksperimen juga lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Temuan ini memberikan implikasi bagi pendidik dan pengembang media pembelajaran dalam merancang pengalaman belajar yang bermakna untuk meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa.

Page 1 of 2 | Total Record : 12