cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July" : 13 Documents clear
Aspek Biologi Hasil Tangkapan Ikan Pari (Mobula Thurstoni) yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (Ppp) Muncar: Biological Aspects Of Ray Catch (Mobula thurstoni) Landed in Muncar Coastal Fishing Port Naufal Hilda Bahtiar; Lelono, Tri Djoko; Muhammad Arif Rahman; Hanifa Ramadhani; Tawang Firmansyah; Hasan Syaiful Rizal
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.2

Abstract

Mobula thurstoni merupakan spesies elasmobranch termasuk kedalam famili mobulidae yang sering tertangkap sebagai tangkapan sampingan di PPP Muncar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan kualititatif. Analisis data kualitatif diperoleh melalui identifikasi spesies ikan pari dan jenis kelaminnya, sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh melalui pengambilan data panjang dan berat ikan pari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2022 di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tujuan penelitian untuk mengetahui aspek biologi meliputi; hubungan lebar dan berat, nisbah kelamin, dan frekuensi lebar ikan pari (Mobula thurstoni). Berdasarkan hasil penelitian hubungan lebar dan berat setalah dilakukan juga uji-t menunjukkan hasil Thitung > Ttabel (3,56 > 2,20) menunjukkan hasil alometrik negatif (b = 2,53), berarti pertambahan beratnya lebih lambat dari pertambahan lebarnya. Nisbah kelamin jantan dan betina sebesar 1:0,63 dengan uji Chi-square X2hitung > X2tabel (0,69 > 2,18), maka tidak terdapat perbedaan jenis kelamin yang signifikan. Frekuensi lebar terendah antara 71 – 90 cm dan frekuensi lebar tertinggi antara 147 – 166 cm dengan modus antara 109 – 128.   Mobula thurstoni is a species of elasmobranch belonging to the family Mobulidae which is often caught as by-catch in the Muncar Coastal Fishing Port. The method used in this research is descriptive quantitative and qualitative. Qualitative data analysis is obtained by identifying the ray species and their gender, while quantitative data analysis is obtained by collecting data on the length and weight of the ray. This research was conducted in July – August 2022 at the Muncar Coastal Fishing Port, Banyuwangi Regency, East Java. The research aims to discover the biological aspects including; the relationship between width and weight, sex ratio, and width frequency of ray (Mobula thurstoni). Based on the results of the study on the relationship between width and weight, after the t-test was also carried out, the results of Tcount > Ttable (3.56 > 2.20) showed negative allometric results (b = 2.53), meaning that the weight gain was slower than the increase in width. The male and female sex ratio was 1:0.63 with the Chi-square test X2count > X2table (0.69 > 2.18), so there was no significant difference in sex ratio. The lowest frequency is between 71 – 90 cm and the highest is between 147 – 166 cm with the mode frequency between 109 – 128.
Pendugaan Stok dan Sebaran Ikan Lemuru (Sardinella Lemuru) di Perairan Selat Bali: Estimating the Stock and Distribution of Bali Sardinella (Sardinella Lemuru) in the Waters of the Bali Strait Imapuly, Arom Sianly
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.7

Abstract

Sumber daya pelagis di Selat Bali terdiri dari beragam jenis ikan salah satunya ikan Lemuru (Sardinella lemuru). Seiring dengan meningkatnya kapasitas alat penangkapan ikan, laju tangkap ikan lemuru menunjukkan kecenderungan penurunan. Maka dalam upaya mendapatkan data dan informasi yang akurat diperlukan perpaduan antara ilmu dan teknologi. Salah satu metode yang handal dalam melakukan deteksi ikan ialah melalui pendekatan metode hidroakustik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa jumlah individu ikan lemuru sesuai nilai TS, nilai biomassa dan sebaran ikan lemuru secara vertikal dan horizontal di perairan Selat Bali. Penelitian ini berlangsung pada 18-21 Agustus 2017. Dari hasil analisa yang dilakukan, panjang ikan lemuru yang ditemukan bulan Agustus 2017 berada pada nilai TS sekitar -52 sampai -40 atau untuk panjang ikan lemuru berkisar dari 4.7 cm sampai 18.8 cm dengan rata-rata 10.42 cm. Total ikan lemuru yaitu 3.754.911 atau sebesar 71.76% dari total ikan pelagis yang ditemukan. Sebaran vertikal ikan lemuru berada sampai kedalaman 120 m di perairan Selat Bali. Jumlah ikan lemuru terbanyak berada pada kedalaman 50 m. Ikan lemuru yang ditemukan memiliki nilai kepadatan tertinggi yaitu 10.49 ikan/m3 dan paling sedikit yaitu 0.0001 ikan/m3 dengan rata-ratanya yaitu 0.225 ikan/m3. Distribusi ikan lemuru ditemukan di sekitar daerah barat Pulau Bali dan tengah perairan Selat Bali. Biomassa ikan lemuru yang ditemukan sebesar 369,51 ton hingga 1087.91 ton dengan jumlah total 5847.48 ton. Ikan yang ditemukan juga melimpah namun berukuran kecil. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi penurunan drastis biomassa ikan yang diteliti.   Pelagic resources in the Bali Strait consist of various types of fish, one of which is the Bali Sardinella (Sardinella lemuru). Along with the increasing capacity of fishing gear, the lemuru catch rate shows a decreasing trend. So in an effort to obtain accurate data and information, a combination of science and technology is needed. One reliable method for detecting fish is through the hydroacoustic method approach. The aim of this research is to analyze the number of Bali Sardinella individuals according to TS values, biomass values and the vertical and horizontal distribution of Bali Sardinella in the waters of the Bali Strait. This research took place on 18-21 August 2017. From the results of the analysis carried out, the length of the Bali Sardinella found in August 2017 is at a TS value of around -52 to -40 or for the length of the Bali Sardinella it ranges from 4.7 cm to 18.8 cm with an average of 10.42 cm. The total Bali Sardinella was 3,754,911 or 71.76% of the total pelagic fish found. The vertical distribution of Bali Sardinella is up to a depth of 120 m in the waters of the Bali Strait. The highest number of Bali Sardinella is at a depth of 50 m. The Bali Sardinella was found to have the highest density value of 10.49 fish/m3 and the least, namely 0.0001 fish/m3 with an average of 0.225 fish/m3. The distribution of Bali Sardinella is found around the western area of Bali Island and in the middle of the Bali Strait. The Bali Sardinella biomass found was 369.51 tons to 1087.91 tons with a total of 5847.48 tons. The fish found are also abundant but small in size. Compared to the previous year, there was a drastic decrease in the biomass of the fish studied.
Pengaruh Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Lobster Air Tawar (Cherax Quadricarinatus) Menggunakan Alat Tangkap Bubu di Danau Maninjau Kabupaten Agam Sumatera Barat: The Effect of Type of Bait on the Results of Catching Fresh Water Lobsters (Cherax Quadricarinatus) Using Garments in Lake Maninjau, Agam District, West Sumatra Citra Noeraini; Noferdiman, Noferdiman; Fauzan Ramadan; Lisna, Lisna; Mairizal, Mairizal; Farizal, Farizal
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.3

Abstract

Penangkapan menggunakan alat tangkap bubu diperlukan umpan dalam upaya meningkatkan hasil tangkapan secara optimal. Tujuan penelitian untuk mempelajari penggunaan umpan yang paling efektif digunakan nelayan untuk melakukan penangkapan lobster air tawar di Danau Maninjau Sumatera Barat. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 Mei sampai dengan 21 Mei 2023 dengan metode Experimental Fishing dan perlakuan umpan TU = tanpa umpan, KM = keong mas, IN = ikan nila, KP = kerang pensi. Pada 2 nelayan menggunakan 20 alat tangkap bubu dengan pengulangan 10 kali penangkapan. Data yang dihimpun meliputi jumlah, berat, panjang serta parameter lingkungan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), jika berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah (ekor), berat (gr), dan panjang (cm) lobster air tawar. Hasil tangkapan lobster air tawar menggunakan tanpa umpan sebanyak 3 ekor dengan berat 58 gr, kemudian dengan umpan keong mas sebanyak 56 ekor dengan berat 1802 gr, selanjutnya menggunakan umpan bangkai ikan nila 47 ekor dengan berat 1674 gr, dan umpan kerang pensi mendapatkan 7 ekor dengan berat 242 gr. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penggunaan umpan keong mas dengan menggunakan alat tangkap bubu akan menghasilkan tangkapan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) lebih banyak dibandingkan dengan umpan ikan nila dan kerang pensi.   Catching using trap gear requires bait in an effort to increase the catch optimally. The purpose of the research was to study the use of the most effective bait used by fishermen to catch crayfish in Lake Maninjau, West Sumatra. The research was conducted on May 1 to May 21, 2023 with Experimental Fishing method and bait treatment TU = without bait, KM = gold snail, IN = tilapia, KP = pensi shell. In 2 fishermen using 20 bubu fishing gear with repetition of 10 times fishing. Data collected included number, weight, length and environmental parameters. This study uses a Randomized Group Design (RAK), if it has a real effect, it is continued with the Duncan test. The results showed that different types of bait had a very significant effect (P < 0.01) on the number (tails), weight (gr), and length (cm) of crayfish. The catch of crayfish using no bait is 3 tails weighing 58 gr, then with gold snail bait as many as 56 tails weighing 1802 gr, then using tilapia carcass bait 47 tails weighing 1674 gr, and pensi shell bait gets 7 tails weighing 242 gr. The conclusion of this study is that the use of gold snail bait using bubu fishing gear will produce more crayfish (Cherax quadricarinatus) catches compared to tilapia bait and pensi shells.
Pembuatan Pakan Ikan dengan Probiotik sebagai Pakan Alternatif Berstandar SNI: Development of Fish Feed With Probiotics as a Standardized Alternative Feed According to Indonesian National Standards (SNI) Fitriana, Wiwit Denny; Bakri, Bakri; Mukhamad Masrur; Anna Qomariana; Chandra Sukma Anugrah
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.4

Abstract

Dalam budidaya ikan, mencapai pertumbuhan ikan yang optimal memerlukan komposisi pakan yang seimbang antara protein, vitamin, dan nutrisi penting lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi pakan ikan yang diperkaya dengan probiotik untuk berbagai jenis ikan. Bahan-bahan umum seperti tepung ikan, tepung polar, tepung kedelai, tepung gandum, minyak ikan, campuran vitamin, dan probiotik digunakan dalam formulasi pakan ikan. Namun, proses yang ada belum tersandardisasi, sehingga menyebabkan ketidakpastian dalam menentukan proporsi bahan yang tepat. Metode yang digunakan untuk merumuskan pakan ikan adalah metode Pearsons Square.  Inovasi ini memperkenalkan komposisi yang terdefinisi dengan baik untuk pakan ikan yang diperkaya dengan probiotik yang dirancang khusus untuk ikan larva, ikan herbivora, dan ikan karnivora. Pakan ikan larva terdiri dari 25-30% tepung ikan, 25-30% tepung kedelai, 40-50% tepung gandum, 1-2% minyak ikan, 0-1% campuran vitamin, dan 0-1% probiotik. Pakan ikan herbivora mencakup 20-25% tepung ikan, 25-30% tepung polar, 20-25% tepung kedelai, 25-30% tepung gandum, 1-2% minyak ikan, 0-1% campuran vitamin, dan 0-1% probiotik. Pakan ikan karnivora melibatkan 20-25% tepung ikan, 25-30% tepung polar, 20-25% tepung kedelai, 20-30% tepung gandum, 1-2% minyak ikan, 0-1% campuran vitamin, dan 0-1% probiotik. Penggunaan pakan ikan berprobiotik dapat digunakan sebagai alternatif pakan bagi para peternak ikan.   In fish farming, achieving optimal fish growth necessitates a well-balanced composition of protein, vitamins, and other essential nutrients in the feed. This study aims to establish probiotic-enriched fish feed formulations for various fish types. Common ingredients such as fish meal, polar flour, soybean flour, wheat flour, fish oil, vitamin mix, and probiotics are utilized in fish feed formulation. Nonetheless, the existing process lacks standardization, leading to uncertainties in determining precise ingredient proportions. This innovation introduces well-defined compositions for probiotic-infused fish feeds designed for larval, herbivorous, and carnivorous fish. The larval fish feed comprises 25-30% fish meal, 25-30% soybean flour, 40-50% wheat flour, 1-2% fish oil, 0-1% vitamin mix, and 0-1% probiotics. The herbivorous fish feed includes 20-25% fish meal, 25-30% polar flour, 20-25% soybean flour, 25-30% wheat flour, 1-2% fish oil, 0-1% vitamin mix, and 0-1% probiotics. The carnivorous fish feed entails 20-25% fish meal, 25-30% polar flour, 20-25% soybean flour, 20-30% wheat flour, 1-2% fish oil, 0-1% vitamin mix, and 0-1% probiotics.
Studi Kelimpahan dan Identifikasi Jenis Zooplankton di Perairan Mulut Seribu, Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rotendao: The Abundance and Identification of Zooplankton Types in Mulut Seribu, Daiama Village, Landu Leko District, Rote Ndao Regency Eka, Maria Regina; Liufeto, Franchy Ch.; Pasaribu, Wesly
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.5

Abstract

Potensi perikanan budidaya membutuhkan asupan pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam meningkatkan pertumbuhan salah satunya didukung oleh kondisi lingkungan yang ideal dengan kelimpahan pakan alami seperti fitoplankton dan zooplankton. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis dan kelimpahan zooplankton di Perairan Mulut Seribu, metode yang digunakan teknik eksplorasi identifikasi jenis zooplankton  menggunakan jaring plankton net  25 µm, penyaringan air sebanyak 100 L hasil penyaringan diawetkan menggunkan lugol 1% sebanyak 3 tetes, sampel diamati menggunakan mikroskop binokuler dengan pembesaran 10-200 kali, perhitungan kelimpahan zooplankton dilakukan pada kaca Segwick rafter. Dari hasil observasi terhadap jenis zooplankton yang ditemukan di Perairan Mulut Seribu, ditemukan 6 jenis zooplankton, pada kelas Copepoda, ditemukan 5 spesies yaitu Calanus sinicus, Neocalanus glacialis, Cosmoclanus darwini, Copila hendorffi, Sapphirina metallina sedangkan untuk kelas Maxillopoda dijumpai 1 spesies yaitu Corycaeus dahli kelas yang sering ditemukan adalah kelas Copepoda. Kelimpahan jenis zooplankton tertinggi pada jenis Copila hendorffi dan Calanus sinicus, dengan kelimpahan 2000 ind/L dan terendah pada jenis Sapphirina meallina dengan kelimpahan 500 ind/L, kelimpahan menunjukan bahwa spesies Copila hendorffi dan Calanus sinicus  lebih dominan di perairan Mulut Seribu.   The potential of aquaculture requires feed intake to meet nutritional needs in increasing growth, one of which is supported by ideal environmental conditions with an abundance of natural feed such as phytoplankton and zooplankton.this study was conducted to determine the types and abundance of zooplankton in Thousand Mouth Waters, the benefits of this study are knowing the relationship related to the type and abundance of zooplankton. In this study using exploration techniques Identification of zooplankton types using a 25 μ net plankton net, water filtration as much as 100 liters of filtration results preserved using 1% lugol as much as 3 drops, samples were observed using a binocular microscope with a magnification of 10-200 times, the calculation of zooplankton abundance was carried out on Segwick ratter glass. From the results of observations on the types of zooplankton found in the Thousand Mouth Waters, 6 types of zooplankton were found, in the Copepoda class, 5 species were found, namely Calanus sinicus, Neocalanus glacialis, Cosmoclanus darwini, Copila hendorffi, Sapphirina metallina while for the Maxillopoda class found 1 species, namely Corycaeus dahli class that is often found is the Copepoda class. The highest abundance of zooplankton species in Copila hendorffi and Calanus sinicus species, with an abundance of 2000 ind/L, and the lowest in Sapphirina meallina species with an abundance of 500 ind/L, abundance shows that Copila hendorffi and Calanus sinicus species are more dominant in the waters of the Mulut Seribu.
Pengembangan Produk Udang Kaleng: Canned Shrimp Product Development Junianto, Junianto; Siringoringo, Butet Mona Moranaga Ringo Ringo Star Osrin; Aditya Fikri Purnama; Indra Nurardiansyah; Farhan Valindra Apda; Suniyyah Azmi; Cahyaningtyas Rahma; Zidan Fachriza Adya Nugraha
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.9

Abstract

Pengembangan produk merupakan proses mencari inovasi guna menambah nilai terhadap produk lama dan mengkonversikannya ke dalam bentuk produk tersebut. Melalui pengembangan produk, dapat memungkinkan sebuah perusahaan untuk membuat produk baru sebelum daya jual produk lama menurun (decline). Tujuan artikel review ini adalah untuk mengulas pengembangan produk pangelangan udang di Indonesia mulai dari bahan baku sampai ke pemasarannya.  Metode yang digunakan adalah mensitasi artikel-artikel yang terpublikasi di jurnal-jurnal nasional terkait dengan pengembangan produk pada pengalengan udang.  Pengembangan produk pengalengan udang dapat dilakukan dengan pengembangan bahan baku seperti isian tipe fancy, standard, dan flakes. Pengembangan proses, seperti menambah varian saus sebagai medium udang kaleng. Pengembangan kemasan, dengan cara mengganti wadah kaleng dengan wadah retort pouch yang lebih praktis. Pengembangan kegiatan pemasaran produk udang kaleng dapat dilakukan dengan cara membuat strategi pemasaran yang berdasarkan elemen 4P (Product, Price, Place, Promotion).   Product development is the process of looking for innovations to add value to old products and convert them into other forms of products. Through product development, it can enable a company to create new products before the selling power of old products declines. The purpose of this review article is to review the development of canned shrimp products in Indonesia, starting from raw materials to marketing. The method used is citing articles published in national journals related to product development in canned shrimp processing. Canned shrimp product development can be done by developing raw materials such as fancy, standard and flakes types filling. Process development, such as adding sauce variants as a medium for canned shrimp. Packaging development, by replacing canned with more practical retort pouch product. And developing marketing activities for canned shrimp products can be done by creating a marketing strategy based on the 4P elements (Product, Price, Place, Promotion).
Pengembangan Efisiensi Perikanan Skala Kecil Berkelanjutan bagi Nelayan Danau Tempe: Development of Sustainable Small Scale Fishery Efficiency for Lake Tempe Fishermen Kurniawan B, Agus; Wahyu Andy; Sau, Tenri; Haerunnisa, Haerunnisa; Junaidi Aziz; Jufry, Ady
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.8

Abstract

Aktivitas penangkapan ikan di Danau Tempe merupakan mata pencaharian utama bagi banyak nelayan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penangkapan ikan di Danau Tempe menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan. Salah satu permasalahan utama adalah penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Mei 2023 untuk mengkaji efesiensi teknis nelayan skala kecil dan tingkat keramahan lingkungan pada penggunaan alat penangkapan ikan di Danau Tempe. Data dianalisis menggunakan metode survey dan selanjutnya menggunakan metode analisis produktifitas, komposisi dan analisis data indeks keramahan lingkungan untuk mengetahui secara langsung penggunaan dari masing-masing alat tangkap. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan selama 1 trip penangkapan dengan menggunakan alat tangkap Jaring Insang, Pancing Rawai, Jala Tebar, dan Anco diperoleh 7 jenis ikan hasil tangkapan yang dominan yaitu ikan Mujiar, ikan Tawes, ikan Sapu-sapu, ikan Nila, ikan Bungo, ikan Betutu, ikan Patin. Identifikasi hasil tangkapan alat tangkap jaring insang (Gill Net) menangkap sebanyak 5 spesies, alat tangkap rawai (Long Line) menangkap sebanyak 2 spesies, alat tangkap jala tebar (Cast Net) menangkap sebanyak 5 spesies, alat tangkap Anco (Lift Net) menangkap sebanyak 4 spesies. Dan alat tangkap Anco (Lift Net) menangkap sebanyak 4 spesies. Terdapat inefisiensi yang mempengaruhi dari total hasil tangkapan yang diperoleh pada masing-masing alat tangkap selama penangkapan. Dari hasil tingkat keramahan lingkungan alat tangkap yang digunakan nelayan Danau Tempe yaitu dari jaring insang (Gill Net) menghasilkan skor sebesar 31,1%, rawai (Long Line) skor sebesar 31%, jala tebar (Cast Net) skor sebesar 32,5%, dan anco (Lift Net) skor sebesar 32%, berdasarkan skor tersebut semua alat tangkap yang gunakan termasuk kategori ramah lingkungan menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO.   Fishing activities in Lake Tempe are the main livelihood for many fishermen and make a significant contribution to the local economy. However, in recent years, fishing in Lake Tempe has faced various challenges and problems. One of the main problems is the use of fishing equipment that is not environmentally friendly. This research was conducted from January to May 2023 to examine the technical efficiency of small-scale fishermen and the level of environmental friendliness in the use of fishing equipment in Lake Tempe. The data was analyzed using the survey method and then using the productivity analysis method, composition and environmental friendliness index data analysis to find out directly the use of each fishing gear. Based on the results of the research, it shows that during 1 fishing trip using Gill Net, Longline Fishing, Tebar Net and Anco fishing gear, 7 dominant types of fish were obtained, namely Mujiar fish, Tawes fish, Sapu-sapu fish, Tilapia fish, Bungo fish, fish Betutu, Patin fish. Identification of catches by gill net fishing gear (Gill Net) caught as many as 5 species, longline fishing gear (Long Line) caught as many as 2 species, cast net fishing gear (Cast Net) caught as many as 5 species, Anco fishing gear (Lift Net) caught as many as 4 species. And the Anco fishing gear (Lift Net) catches as many as 4 species. There are inefficiencies that affect the total catch obtained from each fishing gear during fishing. From the results of the level of environmental friendliness of the fishing gear used by Lake Tempe fishermen, namely gill nets (Gill Net) resulting in a score of 31.1%, longlines (Long Line) a score of 31%, cast nets (Cast Net) a score of 32.5% , and anco (Lift Net) score of 32%, based on this score all fishing gear used is included in the environmentally friendly category according to the FAO standard international statistical classification.
Inventarisasi Teripang pada Perairan Socah Bangkalan, Madura: Inventory of Sea Cucumbers in the Socah Waters of Bangkalan, Madura Ainnun Innaya; Rizka Rahmana Putri; Indah Wahyuni Abida
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.13

Abstract

Perairan Socah merupakan perairan yang kaya akan biota laut, yang berasal dari kolom air hingga dasar perairan. Biota yang ditemukan di perairan ini salah satunya dari Filum Echinodermata yaitu teripang atau yang biasa disebut dengan timun laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis spesies teripang pada Perairan Socah dengan cara mengidentifikasi morfologi, anatomi, dan bentuk spikula. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling berdasarkan informasi yang diperoleh dari nelayan setempat mengenai titik lokasi pada Perairan Socah yang banyak ditemukan teripang. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah sebagai informasi awal mengenai biodiversitas teripang di Perairan Socah, Bangkalan Madura. Hasil menujukkan bahwa ada lima jenis teripang yang ditemukan di Perairan Socah yaitu jenis Colochirus quadrangularis dengan bentuk spikula tables, Phyllophorus sp. dengan bentuk spikula tables, Phyllophorella spiculata dengan bentuk spikula barbed wire rod, Acaudina leucoprocta dengan bentuk spikula tipe C-shaped spiracle, dan Paracaudina australis dengan bentuk spikula tipe C- shaped spiracle. Parameter kualitas air yang diukur antara lain suhu, DO, pH, salinitas, kecerahan, dan kedalaman. Hasil kualitas air yang diperoleh adalah suhu sebesar 29,73º, DO 6,12 mg/L, salinitas 26 ppt, pH 7,65, kecerahan 55,3 cm, dan kedalaman 106 cm. Pengamatan plankton air sebagai makanan teripang menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10× didapatkan beberapa jenis fitoplankton dan zooplankton antara lain Skeletonema costatum, Synedra sp., Pinnularia sp., Biddulphia sp., Barnacles larvae, Daphnia sp., Rhizosolenia styliformis, Nitzschia sp., Pseudo-nitzschia sp., dan Diatom coscinodiscus.   Socah waters are waters that are rich in marine biota, which comes from the water column to the bottom of the waters. One of the biota found in these waters is from the Phylum Echinodermata, namely sea cucumbers or what are usually called sea cucumbers. This research was conducted to determine the types of sea cucumber species in Socah Waters by identifying the morphology, anatomy and shape of spicules. The method used in this research is descriptive qualitative with a random sampling technique based on information obtained from local fishermen regarding location points in Socah Waters where sea cucumbers are often found. The purpose of this research is to provide initial information regarding sea cucumber biodiversity in Socah Waters, Bangkalan Madura. The results show that there are five types of sea cucumbers found in Socah waters, namely the Colochirus quadrangularis type with spicule tables, Phyllophorus sp. with a tables spicule shape, Phyllophorella spiculata with a barbed wire rod spicule shape, Acaudina leucoprocta with a C-shaped spiracle type spicule shape, and Paracaudina australis with a C-shaped spiracle type spicule shape. Water quality parameters measured include temperature, DO, pH, salinity, brightness and depth. The water quality results obtained were a temperature of 29.73º, DO 6.12 mg/L, salinity 26 ppt, pH 7.65, brightness 55.3 cm, and depth 106 cm. Observing water plankton as food for sea cucumbers using a microscope with 10× magnification, several types of phytoplankton and zooplankton were found, including Skeletonema costatum, Synedra sp., Pinnularia sp., Biddulphia sp., Barnacles larvae, Daphnia sp., Rhizosolenia styliformis, Nitzschia sp., Pseudo -nitzschia sp., and Diatom coscinodiscus.
Studi Sebaran Klorofil-A Kaitannya dengan Kecepatan Arus pada Daerah Teluk Kendari: Study of Chlorophyl-A Distribution in Relation to Current Velocity in The Kendari Bay Area Samdin, Samdin; Ma’ruf Kasim
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.1

Abstract

Klorofil-a adalah zat hijau daun yang terdapat pada fitoplankton dan merupakan zat aktif dalam sel tumbuhan yang mempunyai peranan penting dalam proses fotosintesis di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran klorofil-a di perairan Teluk Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2023. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode survei secara langsung (Insitu). Lokasi penelitian yang dibagi menjadi enam titik stasiun pengamatan. Hasil dari penelitian ini menunjukan pola arus yang saling bertolak belakang antara arus pasang dan surut yang dipengaruhi oleh arus pasang surut. Sehingga arus saat pasang bergerak kearah Barat dan Barat Daya saat surut bergerak kearah Timur dan Timur Laut, dengan kecepatan rata-rata 0,122 m/s. Nilai kandungan klorofil-a saat pasang berkisar antara 0,434-1,134 mg/m³, sedangkan nilai kandungan klorofil-a saat surut berkisar antara 0,739-1,981 mg/m³. Hasil dari uji Regresi linear sederhana dalam  melihat hubungan antara kecepatan arus dan sebaran klorofil-a diperoleh nilai regresi sebesar 0,155 nilai tersebut masuk kategori tingkat hubungan yang rendah. Dimana kecepatan arus memiliki pengaruh kecil dalam mendisribusikan sebaran klorofil-a. Tingginya sebaran klorofil-a menuju surut terjadi karena adanya limpasan air sungai dan kanal-kanal yang bermuara di pesisir Teluk Kendari yang berasal dari daratan dan membawa kandungan nutrien. Rendahnya kandungan klorofil-a menuju pasang terjadi karena masuknya air yang berasal dari luar teluk yang kurang senyawa nutrien. Berdasarkan dari hasil analisis sebaran klorofil-a di perairan Teluk Kendari selama penelitian yaitu tergolong rendah (ologotrofik) sampai cukup (mesotrofik).   Chlorophyll-a is a green leaf substance found in phytoplankton and is an active substance in plant cells which has an important role in the process of photosynthesis in waters. This research aims to determine the distribution of chlorophyll-a in the waters of Kendari Bay. This research was conducted in June 2023. Data collection in this research was a direct survey method (Insitu). The research location is divided into six observation stations. The results of this research show contradictory current patterns between tidal and ebb currents which are influenced by tidal currents. So the current at high tide moves towards the West and Southwest, while at low tide it moves towards the East and Northeast, with an average speed of 0.122 m/s. The chlorophyll-a content value at high tide ranges between 0.434-1.134 mg/m³, while the chlorophyll-a content value at low tide ranges from 0.739-1.981 mg/m³. The results of a simple linear regression test in looking at the relationship between current speed and chlorophyll-a distribution obtained a regression value of 0.155, this value is in the category of low level of relationship. Where the current speed has a small influence in distributing the distribution of chlorophyll-a. The high distribution of chlorophyll-a towards low tide occurs due to runoff from rivers and canals that empty into the coast of Kendari Bay which originates from the mainland and carries nutrient content. The low chlorophyll-a content during high tide occurs due to the influx of water from outside the bay which lacks nutrient compounds. Based on the results of the analysis of the distribution of chlorophyll-a in the waters of Kendari Bay during the research, it was classified as low (ologotrophic) to sufficient (mesotrophic)
Alat Tangkap yang Ditinggalkan, Hilang, dan Dibuang: Studi Kasus Alat Tangkap Jaring Rajungan dan Bubu Rajungan pada Perikanan Rajungandi Demak Jawa Tengah: Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear: A Case Study of Swimming Crab Fisheries Tumulyadi, Agus; Setyanto, Arief; Bintoro, Gatut; Lelono, Tri Djoko; Isdianto, Andik; Setyohadi, Daduk; Amanda Rifan Fathoni; Rafif Zul Fahmi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 2 (2024): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.02.6

Abstract

Rajungan merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan tangkap di perairan yang ditangkap menggunakan jaring insang dan bubu / bubu lipat. Potensi hilangnya kedua alat tangkap tersebut saat dioperasikan sangat tinggi, baik disebabkan oleh faktor cuaca, kondisi dasar perairan maupun interaksi dengan alat tangkap lain. Tertinggalnya alat tangkap di perairan yang lebih dikenal dengan istilah Abandoned, Lost or Discarded Fishing Gear (ALDFG) memberikan kontribusi signifikan terhadap melimpahnya marine debris (sampah laut) di laut yang memberikan dampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya ikan, kualitas perairan dan membahayakan keselamatan pelayaran. Meskipun demikian, belum ada upaya mitigasi dan pengurangan ALDFG di perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi penyebab tertinggalnya alat tangkap pada perikanan rajungan di perairan laut.  Pengumpulan data dilakukan di kabupaten Demak, Jawa Tengah pada bulan Agustus dan September 2023 dengan metode wawancara terhadap responden yang dipilih secara sengaja di sekitar pendaratan nelayan rajungan, yang hasilnya kemudian dianalisis secara deskriptif. Studi ini menemukan bahwa sumber sampah laut yang berasal dari alat tangkap rajungan khususnya adalah disebabkan oleh alat tangkap yang hilang bukan karena sengaja dibuang ke laut. Alat tangkap yang hilang terjadi karena faktor alam (23%) dan atau diterjang oleh pengoperasian alat tangkap jenis lainnya (27%).   Blue swimming crab is one of the leading commodities in the capture fisheries sector in waters which are caught using gill nets and traps/bubu lipat. The potential for loss of these two fishing gears during operation is very high, both due to weather factors, bottom conditions of the waters and interactions with other fishing gears. Leftover fishing gear in the waters known as Abandoned, Lost or Discarded Fishing Gear (ALDFG) contributes significantly to the abundance of marine debris in the sea which has a negative impact on the preservation of fish resources, water quality and endangers shipping safety. Even so, there have been little efforts to mitigate and reduce ALDFG in marine waters. This study conducted at Demak of Central Java from August to September 2023 which aims to identify the causes of fishing gear debris in crab fisheries in marine waters. Data collection was carried out by in-depth interviews with respondents who were deliberately selected around the crab fishermen's landings, the results of which were then analyzed descriptively. This study found that the source of marine debris originating from swimming crab fishing gear was caused by lost fishing gear, not because it was intentionally thrown into the sea. Lost fishing gear occurs due to natural factors and is affected by the operation of other types of fishing gear by 23% and 27% respectively.

Page 1 of 2 | Total Record : 13