cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 166 Documents
Modernisasi Masyarakat Di Area Operasi Kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) Kasim (Analisa Dampak Keberlanjutan Implementasi Corporate Social Responsibility) Lopulalan, Joseph Eliza; Masan, Agustinus Lia; Tuhumena, Jean Irenne
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.68032

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak keberlanjutan implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kilang Pertamina Internasional Refenery Unit VII Kasim terhadap proses modernisasi masyarakat di Kampung Klayas di Distrik Seget, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Fokus penelitian diarahkan pada keberlanjutan program CSR dalam mendorong perubahan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya, serta tingkat kemandirian masyarakat penerima manfaat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan penelitian diilih secara purposive yang terdiri dari pihak perusahaan, pemerintah kampung, tokoh adat, pengelola program, dan masyarakat penerima manfaat CSR. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi CSR PT KPI RU VII Kasim dilaksanakan secara berkelanjutan melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perencanaanm pelaksanaan, monitiring, dan evaluasi program. Program CSR telah mendorong terjadinya transformasi sosial masyarakat yang ditandai dengan perubahan pola pikir, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, berkembangnya aktivitas ekonomi produktif, meningkatnya kesadaran pendidikan dan kesehatan, serta terbentulknya berbagai kelembagaan masyarakat yang mampu mengelola program secara mandiri. Modernisasi yang terjadi tidak menghilangkan identitas budayaa lokal masyarakat Suku Moi Lemas, tetapi justru memperkuat pemanfaatan kearifan lokal sebagai modal pembangunan. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberlanjutan implementasi CSR PT KPI RU VII Kasim berperan penting dalam mendorong modernisasi masyarakat daerah 3T melalui peningkatan kualitas hidup, penguatan kapasitas masyarakat, dan pengembangan kemandirian sosial ekonomi tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal.Kata kunci: Corporate Social Responsibility, Keberlanjutan, Modernisasi ABSTRACT This study aims to analyze the impact of the sustainability of the implementation of Corporate Social Responsibility (CSR) of PT Kilang Pertamina Internasional Refenery Unit VII Kasim on the community modernization process in Klayas Village in Seget District, Sorong Regency, Southwest Papua. The focus of the research is directed at the sustainability of CSR programs in encouraging social, economic, educational, health, cultural changes, as well as the level of independence of the beneficiary communities. The research uses a qualitative approach with phenomenological methods. The research informants were selected purposively, consisting of companies, village governments, traditional leaders, program managers, and CSR beneficiary communities. The results of the study show that the implementation of PT KPI RU VII Kasim's CSR is carried out in a sustainable manner through the stages of needs identification, implementation planning, monitoring, and program evaluation. CSR programs have encouraged the social transformation of the community which is characterized by changes in mindset, increased human resource capacity, development of productive economic activities, increased awareness of education and health, and the emergence of various community institutions that are able to manage programs independently. The modernization that occurred did not eliminate the local cultural identity of the Moi Lemas Tribe people, but rather strengthened the use of local wisdom as development capital. Based on these findings, it can be concluded that the sustainability of the CSR implementation of PT KPI RU VII Kasim plays an important role in encouraging the modernization of the 3T regional community through improving the quality of life, strengthening community capacity, and developing socio-economic independence without eliminating local cultural values. Keywords: Corporate Social Responsibility, Sustainability, Modernization 
Fragmentasi Modal Sosial Dalam Pengembangan Kawasan Perdagangan Lama Di Jakarta Pusat (Studi Kasus Pasar Baru, Pecenongan, Dan Juanda) Nugraha, Ardi Maulana; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Adriani, Yani
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.69826

Abstract

ABSTRAK Kawasan perdagangan lama merupakan ruang sosial-ekonomi yang memiliki nilai historis dan berperan penting dalam dinamika perkotaan. Namun, berbagai penelitian terdahulu lebih banyak menitikberatkan pada aspek revitalisasi fisik, ekonomi, dan pariwisata, sementara dinamika fragmentasi modal sosial sebagai faktor yang memengaruhi pengembangan kawasan masih relatif kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana fragmentasi modal sosial membentuk pola relasi antaraktor serta implikasinya terhadap pengembangan kawasan perdagangan lama di Pasar Baru, Pecenongan, dan Juanda (PPJ), Jakarta Pusat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap pedagang formal, pedagang kaki lima, pekerja informal, pengelola kawasan, tokoh komunitas, serta perwakilan institusi terkait. Analisis dilakukan secara tematik dengan menggunakan kerangka modal sosial Woolcock yaitu bonding, bridging, dan linking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial bonding berkembang kuat di dalam kelompok-kelompok internal, tetapi lemahnya modal sosial bridging dan linking menciptakan fragmentasi relasi antaraktor yang menghambat koordinasi, kolaborasi, dan pembentukan visi kolektif dalam pengembangan kawasan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan perdagangan lama tidak cukup ditentukan oleh keberadaan modal sosial, tetapi oleh keseimbangan dan keterhubungan antar dimensi modal sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas pemahaman mengenai hubungan antara fragmentasi modal sosial dan pengembangan kawasan perdagangan lama dalam konteks perkotaan Indonesia, sekaligus memberikan implikasi praktis bahwa penguatan jejaring lintas aktor serta hubungan yang lebih inklusif antara masyarakat dan institusi formal merupakan prasyarat bagi keberlanjutan kawasan perdagangan lama.Kata kunci: Fragmentasi Modal Sosial, Kawasan Perdagangan Lama, Pengembangan Kawasan  ABSTRACTThe old trade area is a socio-economic space that has historical value and plays an important role in urban dynamics. However, various previous studies have focused more on the aspects of physical, economic, and tourism revitalization, while the dynamics of social capital fragmentation as a factor affecting regional development have received relatively little attention. This study aims to analyze how the fragmentation of social capital shapes the pattern of relations between actors and its implications for the development of old trade areas in Pasar Baru, Pecenongan, and Juanda (PPJ), Central Jakarta. The research uses a qualitative approach with a case study design. Data was obtained through in-depth interviews, field observations, and documentation of formal traders, street vendors, informal workers, area managers, community leaders, and representatives of related institutions. The analysis was carried out thematically using the social capital framework from Woolcock of bonding, bridging, and linking. The results show that social capital bonding develops strongly within internal groups, but weak social capital bridging and linking creates fragmentation of relationships between actors that hinder coordination, collaboration, and the formation of a collective vision in regional development. These findings show that the development of the old trade zone is not sufficiently determined by the existence of social capital, but by the balance and interconnectedness between the dimensions of social capital. This research makes a theoretical contribution by broadening the understanding of the relationship between social capital fragmentation and the development of old trade zones in the context of urban Indonesia, while providing practical implications that strengthening cross-actor networks and more inclusive relationships between communities and formal institutions are prerequisites for the sustainability of old trade zones.Keywords: Social Capital Fragmentation, Old Trade Zones, Regional Development
Ekslusi Sosial Di Balik Pembangunan Monumen Reog Dan Museum Peradaban Fandhinatasha, Vito; Waskito, Waskito
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.68445

Abstract

ABSTRAK Pembangunan Monumen Reog dan Museum Perababan (MRMP) di Desa Sampung, Kabupaten Ponorogo, diproyeksikan sebagai simbol identitas budaya sekaligus strategi peningkatan ekonomi daerah, namun di sisi lain memunculkan persoalan eksklusi sosial terhadap komunitas penambang batu gamping yang telah menggantungkan hidupnya selama puluhan tahun pada sektor tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembangunan MRMP, menganalisis mekanisme terjadinya eksklusi sosial, implikasinya terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat,. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman, serta dipahami menggunakan teori eksklusi sosial Tania Li yang menekankan empat kekuasaan: regulasi, kekuatan, pasar, dan legitimasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksklusi sosial terjadi melalui dua tahap, yakni pencabutan izin pertambangan Perumda Sari Gunung dan pembangunan MRMP di atas lahan bekas tambang. Dampaknya meliputi hilangnya mata pencaharian utama, penurunan pendapatan, peralihan kerja ke sektor informal, serta munculnya konflik sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa pembangunan berbasis pariwisata yang tidak sepenuhnya partisipatif berpotensi mereproduksi ketimpangan sosial meskipun dibalut narasi kemajuan dan pelestarian budaya.Kata Kunci: Eksklusi sosial, pembangunan pariwisata, Monumen Reog Museum P, masyarakat penambangABSTRACT The construction of the Reog Monument and Museum of Civilization (MRMP) in Sampung Village, Ponorogo Regency, is projected as a symbol of cultural identity as well as a strategy for improving the regional economy. However, on the other hand, it raises the issue of social exclusion for the limestone mining community who have depended on this sector for their livelihood for decades. This study aims to describe the construction of the MRMP, analyze the mechanisms of social exclusion, and its implications for the community's socio-economic life. The study uses a qualitative approach with a case study design through observation techniques, in-depth interviews, and documentation studies. Data analysis is carried out using the Miles and Huberman model and is understood using Tania Li's social exclusion theory which emphasizes four powers: regulation, power, market, and legitimacy. The results show that social exclusion occurs in two stages: the revocation of the Perumda Sari Gunung mining permit and the construction of the MRMP on ex-mining land. The impacts include the loss of primary livelihoods, decreased income, the shift of work to the informal sector, and the emergence of social conflict. This study concludes that tourism-based development that is not fully participatory has the potential to reproduce social inequality even though it is wrapped in a narrative of progress and cultural preservation.Keywords: Social exclusion, tourism development, Reog Museum P Monument, mining community
Transformasi Identitas: Studi Fenomenologi Penyintas Perempuan Eks-Tahanan Politik 1965 Di Surakarta Yustika, Nira; Ramdhon, Akhmad; Zunariyah, Siti
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.70092

Abstract

ABSTRAK Peristiwa 1965 di Indonesia meninggalkan luka mendalam bagi perempuan eks-tapol. Selama puluhan tahun menanggung stigma sosial, diskriminasi gender berlapis, serta marginalisasi dalam kehidupan publik dan privat akibat kebijakan represif Orde Baru. Meskipun diskursus mengenai peristiwa 1965 telah berkembang, namun penelitian yang spesifik mengeksplorasi proses transformasi identitas penyintas perempuan eks-tapol ’65 dari perspektif fenomenologis terutama dalam konteks peran organisasi advokasi Pasca-Reformasi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan dan berfokus untuk memahami serta menginterpretasikan secara mendalam proses transformasi identitas yang dialami oleh penyintas perempuan eks tahanan politik 1965. Yayasan Sekretariat Bersama'65 atau Yayasan Sekber’65 diposisikan hanya sebagai pendukung yang menjadi ruang sosial tempat proses berlangsung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi, melibatkan tiga informan yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan penyintas perempuan eks-tapol '65 berhasil dalam transformasi identitas dan keberdayaan diri. Melalui keterlibatan aktif sebagai pekerja informal, aktivis kemanusiaan, partisipan kegiatan sosial, serta dalam peran pengasuhan anak. Didukung oleh pendampingan psikologis, sosial, dan ekonomi dari Yayasan Sekber '65. Penelitian ini berkontribusi dengan menghadirkan perspektif fenomenologi untuk menganalisis agenitas perempuan eks-tapol ‘65 sebagai subjek aktif yang bertransformasi, bukan sekadar korban pasif, sekaligus memetakan peran organisasi sipil dalam rekonstruksi identitas sosial penyintas. Temuan ini berimplikasi teoritis bagi kajian gender, trauma, dan rekonsiliasi sosial di Indonesia, serta berimplikasi praktis bagi kebijakan pemenuhan hak penyintas dan pemulihan identitas korban pelanggaran HAM berat masa lalu.Kata Kunci: Eks-Tahanan Politik 1965, Fenomenologi, Penyintas Perempuan, Transformasi Identitas, Yayasan Sekretariat Bersama’65ABSTRACTThe 1965 political upheaval in Indonesia left profound and enduring wounds upon women who were detained as political prisoners. For decades, these survivors bore the compounding burdens of social stigma, multilayered gender discrimination, and systematic marginalization in both public and private life consequences of the New Order regime's repressive policies. Although scholarly discourse surrounding the events of 1965 has grown considerably, research that specifically examines the identity transformation process of female ex-political prisoner survivors from a phenomenological perspective particularly within the context of post-Reform advocacy organizations remains limited. This study aims to understand and interpret in depth the identity transformation process as experienced by female survivors of the 1965 political detention. The Yayasan Sekretariat Bersama '65 (Yayasan Sekber '65) is positioned as a supporting that serves as the social space within which this process unfolds. The study employs a qualitative approach with a phenomenological design, involving three informants selected through purposive sampling. Data were gathered through observation, in-depth interviews, and documentation.Findings demonstrate that female survivors of the 1965 political detention have achieved meaningful identity transformation and self-empowerment manifested through their active engagement as informal workers, human rights activists, participants in social activities, and in child-rearing roles supported by the psychosocial and economic assistance made accessible through Yayasan Sekber '65. This study contributes a phenomenological perspective for analyzing the agency of female ex-political prisoner survivors as active subjects who transform themselves, rather than passive victims, while simultaneously mapping the role of civil society organizations in the social identity reconstruction of survivors. These findings carry theoretical implications for the study of gender, trauma, and social reconciliation in Indonesia, as well as practical implications for policies addressing survivors' rights and the identity restoration of victims of past gross human rights violations.Keyword: Ex-Political Prisoner 1965, Female Survivors, Identity Transformation, Phenomenology, Yayasan Sekretariat Bersama’65
Visual Commodification: Symbolic Representation Of Materiality And Aesthetics In Contemporary Coffee Culture (A Case Study Of Purwokerto, Central Java) Ihsan, Alfian; Mutahir, Arizal; Hariyadi, Hariyadi
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.65196

Abstract

ABSTRACTThis research investigated the socio-cultural phenomenon of the cappuccino conquest in Purwokerto by exploring how specific aesthetic elements facilitate the raise of modern coffee shop. Utilizing Roland Barthes’ semiotic approach and Fredric Jameson’s concept of commodity aestheticization, the study identified serving equipment (ceramic cups) and visual appearance (latte art) as the two primary factors constructing the image of cappuccino as a luxurious, aesthetic, and modern commodity. These elements are the "myths" that shifted consumer interest from the beverage's use value to its sign value. Contemporary coffee consumption becomes a tool for expressing modern identity, knowledge, and social status. Consequently, this aestheticization has marginalized the local coffee craft, kopi clebek, and led to the neglect of local Banyumas robusta beans in favor of standardized beans from outside regions like Temanggung or Malang. It was concluded that the cappuccino conquest in Purwokerto is a realized cultural shift. Highlighting an urgent need for local government intervention to protect and promote indigenous coffee heritage.Keywords: Aesthetics, Cappuccino, Culture, Luxury, Modern ABSTRAKPenelitian ini mengkaji fenomena sosial-budaya berupa “penaklukan” cappuccino di Purwokerto dengan menelusuri bagaimana elemen estetika mendorong pertumbuhan kedai kopi modern. Menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes dan konsep estetikasi komoditas Fredric Jameson, studi ini mengidentifikasi bahwa peralatan saji (cangkir keramik) dan tampilan visual (latte art) merupakan dua faktor utama yang membentuk citra cappuccino sebagai komoditas mewah, estetis, dan modern. Elemen-elemen ini menjadi "mitos" yang menggeser minat konsumen dari yang semula fokus pada nilai guna minuman, menjadi fokus pada nilai simbolik. Di masa kini, konsumsi kopi telah menjadi alat untuk menunjukkan identitas modern, wawasan, serta status sosial seseorang. Fenomena estetikasi kopi modern membuat sajian kopi lokal Banyumas yaitu kopi clebek mulai terlupakan. Biji kopi robusta asli Banyumas juga terabaikan oleh kedai kopi modern karena mereka lebih suka menggunakan biji kopi dari luar daerah seperti Temanggung atau Malang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena "penaklukan” cappuccino melalui kedai kopi modern di Purwokerto adalah bentuk nyata dari pergeseran budaya. Hal ini merupakan sinyal peringatan bagi pemerintah daerah untuk melindungi dan mempromosikan kerajinan kopi dan komoditas biji kopi lokal.Kata kunci: Estetik, Cappuccino, Budaya, Mewah, Modern   
Struktur Peluang Politik dalam Dinamika Gerakan Sosial Serikat Buruh Progresif Sejahtera di PT Safelock Medical Klaten Fathin, Hudzaifah Al; Utami, Trisni; Kartono, Drajat Tri
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.68911

Abstract

Di tengah tingkat keterorganisasian buruh Indonesia yang rendah (hanya 2,96% dari 142,18 juta pekerja pada 2024) dan maraknya praktik union busting di sektor manufaktur, artikel ini menganalisis dinamika gerakan sosial Serikat Buruh Progresif Sejahtera (SBPS) di PT Safelock Medical Klaten melalui konsep Political Opportunity Structure (POS) dari Sidney Tarrow. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data dari wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, penelitian menemukan bahwa POS di PT Safelock berubah dari tertutup menjadi hybrid, dipicu oleh regulasi UU No. 21 Tahun 2000, dukungan LBH Semarang, dan tekanan transnasional KTCU Korea. Temuan utama menunjukkan peluang institusional seperti pencatatan serikat membuka ruang mobilisasi sosial, sementara represi seperti PHK 10 pengurus dan serikat tandingan picu scale shift ke jaringan eksternal, menghasilkan kemenangan struktural berupa konversi 233 pekerja kontrak menjadi tetap. Simpulan menyatakan bahwa POS hybrid memperkuat resiliensi gerakan sosial SBPS di tengah union busting, dengan implikasi teori bahwa dimensi transnational brokerage perlu ditambahkan pada POS untuk konteks Global South

Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 9, No 2 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 9, No 1 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 8, No 2 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 8, No 1 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 7, No 2 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 7, No 1 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 6, No 2 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 6, No 1 (2021): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 5, No 2 (2021): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 5, No 1 (2020): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 4, No 2 (2020): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 4, No 1 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 2 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 2 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 1 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 2 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 2 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 1 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 1 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 2 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 2 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 1 (2016): SOSIOGLOBAL Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 1 (2016): SOSIOGLOBAL Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi More Issue