cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 166 Documents
Peran Sosial-Budaya Perempuan Kader Posyandu di Desa Cipacing Nareswari, Venus; Herawati, Erna
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63190

Abstract

ABSTRAK Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah program layanan kesehatan ibu dan anak yang diselenggarakan oleh warga di tingkat Rukun Warga dengan dukungan teknis tenaga kesehatan. Kegiatan Posyandu merupakan bagian dari kegiatan organisasi perempuan yang bernama PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Pelaksana kegiatan Posyandu adalah anggota PKK dan mereka disebut Kader Posyandu. Para Kader Posyandu kebanyakan sangat terampil dan aktif di masyarakat sehingga mereka seringkali juga dilibatkan oleh desa untuk berbagai kegiatan selain bidang kesehatan.  Namun, kegiatan Posyandu kini tidak hanya berperan dalam bidang kesehatan melainkan dalam bidang lainnya. Penelitian ini dilakukan di Desa Cipacing sebuah Desa yang bersifat sub-urban di Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini menelusuri dan menggambarkan peran para perempuan kader Posyandu selain di bidang kesehatan. Metode yang dilakukan adalah metode kualitatif-etnografi dengan Pengumpulan data dilakukan melalui teknik pengamatan terlibat dan wawancara mendalam pada kader-kader Posyandu dan para warga desa. Analisis dilakukan dengan merujuk pada kerangka teori peran sosial-kultural dan teori peran gender. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para perempuan kader Posyandu memiliki peran sosial-budaya penting, diantaranya sebagai agen pemberdayaan ekonomi, aktivis sosial, aktivis keagamaan, pelestari tradisi lokal, serta pemegang otoritas kewilayahan. Di dalam menjalankan peran-peran itu, mereka tetap mengakar pada peran gender mereka sebagai perempuan. Kata Kunci: Perempuan, Kader, Posyandu, Peran Sosial-budaya,  GenderABSTRACT Posyandu (Integrated Service Post) is a maternal and child healthcare program organized by community members at the neighborhood level (Rukun Warga) with technical support from healthcare workers. Posyandu activities are part of a women’s organization called PKK (Family Welfare Empowerment). The activities are carried out by PKK members known as Posyandu Cadres. These cadres are often highly skilled and active in the community, which leads to their involvement in various village activities beyond healthcare. However, Posyandu activities today encompass not only health-related roles but also other areas. This study was conducted in Cipacing Village, a semi-urban area in West Java. The purpose of the research is to explore and describe the roles of female Posyandu cadres beyond the healthcare sector. The study uses a qualitative-ethnographic method, with data collected through participant observation and in-depth interviews with Posyandu cadres and village residents. The analysis refers to the theoretical frameworks of socio-cultural roles and gender roles. The findings show that female Posyandu cadres hold important socio-cultural roles, including serving as agents of economic empowerment, social activists, religious activists, preservers of local traditions, and holders of territorial authority. In performing these roles, they remain rooted in their gender roles as women.Keywords: Women, Cadres, Posyandu, Social-Cultural role, gender
Measuring the Success of SDGs Implementation Bonjeruk Village, Jonggat Sub-district, Central Lombok District, West Nusa Tenggara Izana, Nyimas Nadya; Susanti, Anik
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.65376

Abstract

ABSTRACT Sustainable development has become a key strategy in addressing the challenges of economic inequality and environmental degradation at the village level. This study aims to assess the success of implementing the Village Sustainable Development Goals (SDGs) in Bonjeruk Village, Jonggat Sub-district, Central Lombok Regency, by focusing on community participation based on Cohen and Uphoff’s theory, which includes the dimensions of planning, implementation, utilization, and evaluation. A descriptive quantitative approach was applied by distributing closed-ended questionnaires using a Likert scale to 21 respondents selected through simple random sampling, supported by observations and interviews to strengthen the analysis. The results indicate that community participation is relatively high, particularly in the utilization stage of the tourism village program, with an average score of 3.37. This is reflected in the dominance of “agree” responses, where 52.4% of respondents acknowledged that village tourism activities contribute to economic welfare, 57.1% strongly agreed that information on tourism development programs is well communicated, and 52.4% confirmed the support of the village government through resource provision. The active involvement of the community in strategic planning, program implementation, economic benefit distribution, and program evaluation illustrates a collaborative success between the village government, the Tourism Awareness Group (Pokdarwis), and local communities. The findings suggest that structured and sustainable community participation through institutions, mechanisms, and clear regulations is the key to the successful implementation of the Village SDGs in Bonjeruk, positioning the village as a model for sustainable and collaborative tourism village development.Keywords: Village SDGs, community participation, Pokdarwis, tourism village  ABSTRAK Pembangunan berkelanjutan telah menjadi strategi utama dalam mengatasi tantangan ketimpangan ekonomi dan degradasi lingkungan di tingkat desa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberhasilan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Desa (SDGs) di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dengan berfokus pada partisipasi masyarakat berdasarkan teori Cohen dan Uphoff, yang meliputi dimensi perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan evaluasi. Pendekatan kuantitatif deskriptif diterapkan dengan mendistribusikan kuesioner tertutup menggunakan skala Likert kepada 21 responden yang dipilih melalui simple random sampling, didukung oleh observasi dan wawancara untuk memperkuat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat relatif tinggi, khususnya pada tahap pemanfaatan program desa wisata, dengan skor rata-rata 3,37. Hal ini tercermin dari dominasi respons "setuju", di mana 52,4% responden mengakui bahwa kegiatan pariwisata desa berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi, 57,1% sangat setuju bahwa informasi program pengembangan pariwisata dikomunikasikan dengan baik, dan 52,4% mengkonfirmasi dukungan pemerintah desa melalui penyediaan sumber daya. Keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan strategis, pelaksanaan program, penyaluran manfaat ekonomi, dan evaluasi program menggambarkan keberhasilan kolaboratif antara pemerintah desa, Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis), dan masyarakat setempat. Temuan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat yang terstruktur dan berkelanjutan melalui kelembagaan, mekanisme, dan regulasi yang jelas adalah kunci keberhasilan implementasi SDGs Desa di Bonjeruk, memposisikan desa sebagai model pengembangan desa wisata yang berkelanjutan dan kolaboratif.Kata kunci: SDGs desa, partisipasi masyarakat, Pokdarwis, desa wisata 
Persahabatan Lawan Jenis Terhadap Preferensi Perilaku Wanita Dewasa Awal Dalam Perspektif Konstruksi Sosial Taboen, Aprianus Paskalius; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Selestinus; Manafe, Jacklin Stefany
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.66806

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana persahabatan lawan jenis membentuk pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dewasa awal melalui proses konstruksi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, penelitian ini melibatkan enam perempuan berusia 20–30 tahun dari Pontianak, Jakarta, dan Kupang yang memiliki pengalaman persahabatan intens dengan sahabat pria. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah interaksi digital, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi lintas gender menjadi arena terbentuknya pola pikir yang lebih rasional, peningkatan kemandirian dalam pengambilan keputusan, dan penyesuaian gaya komunikasi yang lebih lugas. Proses resosialisasi nilai tampak ketika perempuan mengadopsi pola berpikir sistematis, strategi komunikasi terstruktur, dan memperoleh pemahaman baru mengenai dinamika relasi romantis. Namun, temuan juga mengungkap keberlanjutan tekanan sosial melalui norma yang mengaitkan kedekatan pria–wanita dengan potensi romansa, termasuk tantangan yang muncul pada ruang digital berupa ambiguitas relasi dan perubahan batasan interaksi. Secara keseluruhan, pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dalam persahabatan lawan jenis merupakan hasil interaksi dialektis antara struktur sosial, norma gender, dan agensi individu. Temuan ini memperkaya literatur sosiologi hubungan sosial terkait rekonstruksi makna gender dalam konteks persahabatan heterosocial.Kata kunci: Persahabatan Lawan Jenis, Konstruksi Sosial, Wanita Dewasa Awal, Interaksi Lintas Gender ABSTRACT This study examines how cross-gender friendships shape the meaning-making processes and behavioral preferences of early adult women through social construction. Using a qualitative phenomenological design, the research involved six women aged 20–30 from Pontianak, Jakarta, and Kupang who had intensive cross-gender friendship experiences. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and analysis of digital interactions, and were analyzed using Braun and Clarke’s thematic analysis. The findings reveal that cross-gender interactions function as a site where more rational thinking patterns, greater independence in decision-making, and more direct communication styles are formed. A process of value resocialization occurs as women adopt systematic modes of reasoning, structured communication strategies, and new understandings of romantic relationship dynamics. However, the study also identifies persistent social pressures stemming from norms that associate male–female closeness with potential romantic involvement, alongside emerging challenges in digital spaces such as relational ambiguity and shifting interaction boundaries. Overall, women’s meaning-making and behavioral preferences in cross-gender friendships are shaped through dialectical interactions among social structures, gender norms, and individual agency. These findings contribute to sociological scholarship by illuminating the reconstruction of gender meanings within heterosocial friendship contexts.Keywords: Cross-Gender Friendship, Social Construction, Early Adult Women, Heterosocial Interaction   
Ngaben: Simbolisme, Etika, Dan Tantangan Keagamaan Dalam Berkabung Di Bali Sekarningrum, Bintarsih; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Pratiwi, Ni Putu Sri
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63893

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini menyoroti adaptasi ritual keagamaan, khususnya ngaben di Bali, di tengah perkembangan era digital. Teknologi digital telah mengubah cara partisipasi masyarakat, termasuk prosesi ngaben yang kini disiarkan melalui TikTok, YouTube, dan Instagram. Studi sebelumnya membahas dampak teknologi terhadap ritual keagamaan, tetapi belum mendalami implikasi etika dan spiritual integrasi teknologi dalam ngaben, terutama keseimbangan antara inovasi digital dan pelestarian makna sakral. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana simbolisme dan praktik ngaben beradaptasi dengan teknologi, tantangan etika yang muncul, serta dampak perubahan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus diterapkan di Bali melalui wawancara mendalam dengan informan kunci: tokoh agama, anggota keluarga, dan ahli budaya. Data dianalisis menggunakan teori dramaturgi Goffman dan konsep “teater negara” Geertz. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi memperluas partisipasi dan konektivitas spiritual, tetapi juga memperkenalkan dimensi komersialisasi dan hiburan yang berpotensi mengaburkan kesakralan ngaben. Teknologi berperan ganda: mempertahankan relevansi ritual sekaligus menantang pelestarian nilai spiritualnya. Keterbatasan penelitian mencakup belum tergalinya pandangan generasi muda, aspek gender, serta cakupan wilayah yang terbatas pada Bali. Penelitian lanjutan disarankan memperluas perspektif dan lokasi. Selain itu, diperlukan pedoman etika penggunaan teknologi dalam ritual keagamaan agar inovasi digital selaras dengan pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Kata kunci: Bali, Etika Keagamaan, Dramaturgi, Ngaben, Simbolisme  ABSTRACT This study highlights the adaptation of religious rituals, particularly the Balinese ngaben, amid the rise of the digital era. Digital technology has transformed community participation, with ngaben ceremonies now broadcast via TikTok, YouTube, and Instagram. Previous studies have examined technology’s impact on religious rituals but have not deeply explored the ethical and spiritual implications of integrating technology into ngaben, especially the balance between digital innovation and preserving its sacred meaning. This research aims to explore how the symbolism and practice of ngaben adapt to technology, the ethical challenges that emerge, and the resulting impacts. A qualitative method with a case study approach was applied in Bali through in-depth interviews with key informants: religious leaders, family members, and cultural experts. Data were analyzed using Goffman’s dramaturgical theory and Geertz’s “theater state” concept. Findings reveal that digitalization expands participation and spiritual connectivity but also introduces commercialization and entertainment elements that risk obscuring the ritual’s sacredness. Technology plays a dual role: sustaining ritual relevance while challenging the preservation of its spiritual values. Limitations include the lack of perspectives from younger generations, gender dynamics, and the study’s restricted geographic scope. Further research and ethical guidelines are recommended to align digital innovation with preserving Bali’s spiritual and cultural values. Keywords: Bali, Dramaturgy, Ngaben, Religious Ethics, Symbolism 
Social Capital-Based Community Assistance for Coastal Communities around the PT Arutmin Indonesia – NPLCT Port Izana, Nyimas Nadya; Susanti, Anik; Aturohani, Bai
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.70314

Abstract

ABSTRAK Masyarakat pesisir di sekitar Pelabuhan batubara PT Arutmin Indonesia-NPLCT di Desa Sarang Tiung menghadapi kerentanan sosial ekonomi berupa ketergantungan nelayan pada lemahnya kelembagaan lokal, serta terbatasnya akses terhadap peluang pemberdayaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis modal sosial yang dimiliki masyarakat dan merumuskan model awal strategi pemberdayaan berbasis modal sosial yang relevan dengan konteks Desa Sarang Tiung. Pendekatan kualitatif partisipatif digunakan melalui kombinasi Participatory Rural Appraisal (PRA), Focus Group Discussion (FGD), dan pemetaan sosial yang diadaptasi untuk memetakan jaringan kepercayaan, relasi kekuasaan, dan posisi aktor kunci dalam sistem sosial-ekonomi pesisir. Temuan penelitian menunjukkan adanya modal sosial kuat berupa solidaritas, kerja sama, dan norma lokal antar kelompok, namun terhambat oleh rendahnya literasi keuangan, ketergantungan ekonomi pada penadah, peran pemuda dan perempuan yang belum optimal, serta keterbatasan akses pasar. Penelitian ini menghasilkan prototipe model berbasis modal sosial yang menempatkan kelembagaan nelayan sebagai node utama jejaring kolaborasi desa lembaga pendidikan mitra eksternal dan menjadi landasan bagi perancangan program pemberdayaan yang berkelanjutan di kawasan pesisir sekitar pelabuhan.Kata kunci: Masyarakat Pesisir, Pelembagaan Masyarakat,, Modal SosialABSTRACT  Coastal communities living around PT Arutmin Indonesia-NPLCT coal port in Sarang Tiung Village face socio‑economic vulnerabilities in the form of fishermen’s dependence on intermediaries, weak local institutions, and limited access to empowerment opportunities. This study aims to analyze the social capital of the community and to formulate an initial model of a social capital–based empowerment strategy that is relevant to the context of Sarang Tiung Village. A participatory qualitative approach was employed by combining Participatory Rural Appraisal (PRA), Focus Group Discussion (FGD), and social mapping, which were adapted to map networks of trust, power relations, and the positions of key actors within the coastal socio‑economic system. The findings reveal strong social capital in the form of solidarity, cooperation, and local norms across groups, but this is constrained by low financial literacy, economic dependence on middlemen, the sub‑optimal roles of youth and women, and limited market access. This study produces a prototype social capital–based model that positions fishermen’s organizations as the main node in a collaboration network linking the village, educational institutions, and external partners, and serves as a foundation for designing sustainable empowerment programs in coastal areas surrounding the port.Keywords: Coastal Communities, Community Institutionalization, Social Capital
Makna Upacara Adat “Naik Garudo” Pada Tradisi Pernikahan Di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Kota Jambi Nurwati, Nunung; Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Yunita, Desi; Lesmana, Aditya Candra
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.66534

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengungkap makna simbolik dan interaksi sosial dalam prosesi pernikahan adat Naik Garudo di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi. Prosesi ini ditandai dengan arak-arakan pengantin di atas replika burung garuda, yang sarat dengan simbol kekuatan, kesucian, dan kehormatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara, observasi partisipatif, serta dokumentasi. Informan dipilih melalui purposive dan snowball sampling, meliputi pemangku adat, keluarga pengantin, dan masyarakat yang terlibat langsung. Validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Naik Garudo memiliki makna simbolik yang kompleks. Simbol garuda, pakaian adat, mahkota, hingga lantunan salawat dipahami sebagai sarana komunikasi sosial yang menegaskan transformasi status pengantin, memperkuat solidaritas, serta menjaga legitimasi budaya. Analisis dengan teori interaksionisme simbolik Mead menjelaskan bahwa makna simbol lahir dan dimodifikasi melalui interaksi sosial. Konsep ritual dan simbol Turner menegaskan fungsi prosesi sebagai rite of passage, sedangkan konsep identitas sosial Tajfel & Turner memperlihatkan peran tradisi ini dalam membangun identitas kolektif masyarakat Mersam. Kesimpulannya, prosesi Naik Garudo tidak hanya merupakan ritual adat, tetapi juga arena reproduksi nilai budaya dan pembentukan identitas sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelestarian tradisi melalui dukungan masyarakat dan kebijakan kebudayaan agar tetap relevan di tengah modernisasi.Kata Kunci: Budaya, Identitas, Ritual, Sosial ABSTRACT This study explores the symbolic meaning and social interaction in the traditional wedding procession Naik Garudo in Mersam District, Batanghari Regency, Jambi. The procession, where the bride and groom are paraded on a Garuda replica, symbolizes strength, purity, and honor. A qualitative descriptive approach was applied through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Informants were chosen via purposive and snowball sampling, involving customary leaders, families, and community members. Data validity was ensured through source, method, and time triangulation. Findings indicate that Naik Garudo holds layered symbolic meanings. The Garuda, traditional attire, crown, and chanting of salawat are social symbols reflecting the couple’s transition of status, communal solidarity, and cultural legitimacy. Through Mead’s symbolic interactionism, these meanings emerge and evolve within social interaction. Turner’s ritual and symbol concept situates the procession as a rite of passage, while Tajfel and Turner’s social identity concept shows its role in reinforcing Mersam’s collective identity. In conclusion, Naik Garudo is not merely a wedding tradition but an arena where cultural values are reproduced and social identity is shaped. The study highlights the importance of preserving this tradition through community engagement and cultural policies to ensure its continuity and relevance in the context of modernization.Keywords: Culture, Identity, Ritual, Social
Dinamika Kerentanan dan Strategi Penghidupan Masyarakat Pesisir Tambak Lorok dalam Perspektif Sustainable Livelihoods Framework Nisa, Nadia Zahratun; Lukkitawati, Lukki
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.69359

Abstract

ABSTRAK  Wilayah pesisir merupakan ruang hidup yang rentan terhadap tekanan ekologis dan sosial ekonomi, terutama bagi rumah tangga nelayan skala kecil yang bergantung pada sumber daya alam. Di Indonesia, perubahan iklim, degradasi lingkungan pesisir, dan transformasi sektor perikanan meningkatkan ketidakpastian penghidupan. Namun, studi sebelumnya cenderung memisahkan aspek ekonomi dan lingkungan serta belum menempatkan modal sosial sebagai strategi adaptif dalam kerentanan yang kompleks. Selain itu, penggunaan Sustainable Livelihoods Framework sering belum menekankan vulnerability context pada tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kerentanan penghidupan rumah tangga nelayan di Tambak Lorok, Semarang, serta peran modal sosial dalam meresponsnya. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus eksplanatori digunakan melalui wawancara, observasi, dan data sekunder, dianalisis dengan SLF pada aspek shocks, trends, dan seasonality. Hasil menunjukkan kerentanan multidimensi akibat tekanan lingkungan, perubahan struktural, dan fluktuasi musiman. Modal sosial berfungsi sebagai adaptasi defensif, tetapi belum mampu mengatasi kerentanan struktural jangka panjang secara efektif dan berkelanjutan bagi nelayan lokal.Kata kunci: Kerentanan Penghidupan, Modal Sosial, Nelayan Pesisir, Tambak Lorok ABSTRACTCoastal areas are living spaces that are vulnerable to ecological and socio-economic pressures, particularly for small-scale fishing households that depend on natural resources. In Indonesia, climate change, coastal environmental degradation, and transformations in the fisheries sector are increasing livelihood uncertainty. However, previous studies have tended to separate economic and environmental aspects and have not positioned social capital as an adaptive strategy within this complex vulnerability. Furthermore, the application of the Sustainable Livelihoods Framework has often failed to emphasise the vulnerability context at the local level. This study aims to analyse the livelihood vulnerability of fishing households in Tambak Lorok, Semarang, and the role of social capital in responding to it. A descriptive qualitative approach with an explanatory case study was employed, utilising interviews, observations, and secondary data, analysed using the SLF across the dimensions of shocks, trends, and seasonality. The results indicate multidimensional vulnerability resulting from environmental pressures, structural changes, and seasonal fluctuations. Social capital functions as a defensive adaptation, but has not yet been able to effectively and sustainably address long-term structural vulnerabilities for local fishermen.Keywords: Vulnerability Context, Social Capital, Coastal Fishermen, Tambak Lorok.
Evaluasi Efektivitas Kebijakan Pelayanan Sosial Disabilitas Berbasis Network Governance Arista, Sasccanassa; Ba'diah, Siti; Salim, Luthfi; Muslimin, Muslimin
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.70523

Abstract

ABSTRAK Program Pelayanan Sosial Jejaring Masyarakat di Provinsi Lampung sebagai model network governance berbasis kearifan lokal untuk mengoprasionalkan penyandang disabilitas, namun pada pengoprasionalan pelayanan sosial masih jauh dari kata sejahtera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui evaluasi efektifitas kebijakan pelayanan sosial disabilitas berbasis network governance. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sosiologis melalui teknik wawancara dengan pejabat dinas sosial, aparatur lapangn lintas sektor, dan disabilitas beserta keluarga yang meneria manfaat. Hasil penelitian menunjukkan adanya diskoneksi struktural  antara idealisme regulasi makro dan realitas operasional di lapangan. Meskipun program ini berhasil memobilisasi tata kelola network governance yang melibatkan 18 fasilitator untuk menjangkau 100 penerima manfaat, sitem keberlanjutannya lumpuh akibat pemangkasan anggaran lokus daerah secara drastis dari 15 kabupaten menjadi hanya 4 kabupaten pada tahun 2026. Yansos Jejama mengalami reduksi fungsional karena terjebak pada pendekatan medis-karitatif jangka pendek seperti pembagian sembako, obat-obatan, dan alat bantu. Kesimpulan penelitian bantuan material musiman gagal membangun kapasitas kemandirian ekonomi, melainkan membuat stigma kelompok disabilitas sebagai objek santunan. Pasca-kunjungan tim, penyandang disabilitas masih berhadapan dengan stigma struktural, pengucilan sosial, dan diskriminasi fisik di tengah masyarakat. Studi ini berkontribusi mendekonstruksi klaim keberhasilan administratif sepihak, sekaligus menegaskan bahwa efektivitas tata kelola pelayanan publik harus menyentuh dekonstruksi stigma kultural pada tingkat mikro-interaksional masyarakat.Kata Kunci: Evaluasi Kebijakan, Yansos Jejama, Kesejahteraan Sosial, Penyandang Disabilitas, Lampung Timur, Network Governance.ABSTRACT The Community Network Social Services Program in Lampung Province is a network governance model based on local wisdom to operationalize people with disabilities, but the operationalization of social services is still far from being prosperous. The research aims to evaluate the effectiveness of network governance-based disability social service policies. The method used is qualitative with a sociological approach through interview techniques with social service officials, cross-sector field officials, and people with disabilities and families who receive benefits. The research results show that there is a structural disconnect between the idealism of macro regulation and the operational reality on the ground. Even though this program was successful in mobilizing network governance involving 18 facilitators to reach 100 beneficiaries, its sustainability system was paralyzed due to drastic regional budget cuts from 15 districts to only 4 districts in 2026. Yansos Jejama experienced a functional reduction because it was trapped in a short-term medical-charitative approach such as distributing basic necessities, medicines and assistive devices. The research conclusion is that seasonal material assistance fails to build the capacity for economic independence, but instead stigmatizes disability groups as objects of compensation. After the team's visit, people with disabilities still faced structural stigma, social exclusion and physical discrimination in society. This study contributes to deconstructing unilateral claims of administrative success, while emphasizing that the effectiveness of public service governance must touch on the deconstruction of cultural stigma at the micro-interactional level of society.Keywords: Policy Evaluation, Yansos Jejama, Social Welfare, Persons with Disabilities, East Lampung. Network Governance. 
Power Relations Between Actors in Coffee Agroforestry in Rural West Java: A Political Ecology Study Rezeki, Evi Sri; Abdoellah, Oekan S.; Mulyanto, Dede
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.67913

Abstract

ABSTRACTThis article examines the coffee agroforestry system in West Java not merely as an environmental conservation strategy, but as an arena of contested power relations. The study aims to analyze power relations in the form of social relations of land and tree production, labor, and capital through a political ecology and actor-oriented framework. Drawing on an ethnographic approach, the research is based on participatory observation and in-depth interviews with farmers, laborers, environmental activists, policymakers, and local capital providers. The findings show that tree ownership functions as a primary claim over space amid tenure insecurity. Relations between formal landowners, cultivators/farmers, and laborers are not only hierarchical but also ambivalent. Farmers deploy everyday forms of resistance and survival strategies such as intercropping vegetables, refusing to pay profit-sharing or rent, ceb-cul arrangements, pruning coffee trees, and killing shade trees. The study concludes that coffee agroforestry is not simply a conservation practice, but a contested socio-political space. It calls for greater recognition of farmers’ rights and more equitable redistribution of power.Keywords: Power Relations; Coffee Agroforestry; Social Relations Of Production; Political Ecology; Ethnographic. ABSTRAKArtikel ini mengkaji sistem agroforestri kopi di Jawa Barat tidak hanya sebagai strategi konservasi lingkungan, tetapi juga sebagai arena kontestasi kekuasaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi kuasa dalam bentuk relasi sosial produksi lahan serta pohon, tenaga kerja, dan modal menggunakan kerangka pemikiran ekologi politik dan berorientasi aktor. Pendekatan etnografis penelitian ini didasarkan pada observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan petani, buruh tani, aktivis lingkungan, pemangku kebijakan, dan pemodal lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan pohon berfungsi sebagai klaim utama atas ruang di tengah ketidakpastian tenurial lahan. Relasi antara pemilik lahan formal, penggarap, dan buruh bukan hanya bersifat hirarkis, tetapi juga bersifat ambivalen. Petani kecil mengembangkan berbagai bentuk perlawanan sehari-hari dan strategi bertahan hidup seperti tumpangsari sayuran, menolak membayar bagi hasil dan sewa, sistem ceb-cul, pemangkasan pohon kopi, dan mematikan pohon penaung. Studi ini menyimpulkan bahwa agroforestri kopi bukan sekadar praktik konservasi, tetapi ruang sosial-politik yang diperebutkan. Studi ini menyarankan pengakuan yang lebih besar terhadap hak-hak petani kecil dan kebijakan redistribusi kuasa yang adil.Kata kunci: Agroforestri Kopi; Relasi Sosial Produksi; Relasi Kekuasaan; Ekologi Politik; Etnografi
Cross-Sector Networks And Social Capital In MSME Development: An Urban Sociology Study In Situbondo Widowati, Widowati; Masruroh, Binti; Soffi, Dewi Ariyanti
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.69430

Abstract

ABSTRACT This study analyzes the role of social capital in strengthening networks and cross-sector collaboration among Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in urban Situbondo using the framework of Pierre Bourdieu, particularly bonding, bridging, and linking social capital. A qualitative case study approach was employed, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving MSME actors and stakeholders. The findings show that MSMEs primarily rely on bonding social capital rooted in family, community, and religious ties, which supports business continuity but limits access to broader markets and resources. Bridging social capital, reflected in cross-sector collaboration, expands networks, enhances information exchange, and creates wider market opportunities. Linking social capital plays a strategic role in connecting MSMEs with formal institutions such as government and financial sectors. The novelty of this study lies in its integrative analysis of the transformation from bonding-based survival strategies to bridging and linking-oriented expansion strategies in an urban MSME context. Theoretically, this study extends Bourdieu’s concept by demonstrating the dynamic interaction of social capital forms in shaping network expansion and economic mobility.Keywords: Social Capital, MSME, Collaboration, Networks, Bourdieu ABSTRAK Studi ini menganalisis peran modal sosial dalam memperkuat jejaring dan kolaborasi lintas sektor antar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Situbondo perkotaan dengan menggunakan kerangka kerja Pierre Bourdieu, khususnya bonding, bridging, dan linking social capital. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan pelaku UMKM dan pemangku kepentingan. Temuan menunjukkan bahwa UMKM terutama mengandalkan ikatan modal sosial yang berakar pada ikatan keluarga, komunitas, dan agama, yang mendukung kelangsungan bisnis tetapi membatasi akses ke pasar dan sumber daya yang lebih luas. Menjembatani modal sosial, tercermin dalam kolaborasi lintas sektor, memperluas jaringan, meningkatkan pertukaran informasi, dan menciptakan peluang pasar yang lebih luas. Menghubungkan modal sosial memainkan peran strategis dalam menghubungkan UMKM dengan lembaga formal seperti sektor pemerintah dan keuangan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada analisis integratif transformasi dari strategi bertahan hidup berbasis ikatan menjadi strategi ekspansi berorientasi jembatan dan menghubungkan dalam konteks UMKM perkotaan. Secara teoritis, penelitian ini memperluas konsep Bourdieu dengan menunjukkan interaksi dinamis bentuk modal sosial dalam membentuk perluasan jaringan dan mobilitas ekonomi.Keywords: Modal Sosial, UMKM, Kolaborasi, Jaringan, Bourdieu  

Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 9, No 2 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 9, No 1 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 8, No 2 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 8, No 1 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 7, No 2 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 7, No 1 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 6, No 2 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 6, No 1 (2021): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 5, No 2 (2021): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 5, No 1 (2020): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 4, No 2 (2020): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 4, No 1 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 2 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 2 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 1 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 2 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 2 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 1 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 1 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 2 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 2 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 1 (2016): SOSIOGLOBAL Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 1 (2016): SOSIOGLOBAL Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi More Issue