cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 154 Documents
Peran Sosial-Budaya Perempuan Kader Posyandu di Desa Cipacing Nareswari, Venus; Herawati, Erna
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63190

Abstract

ABSTRAK Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) adalah program layanan kesehatan ibu dan anak yang diselenggarakan oleh warga di tingkat Rukun Warga dengan dukungan teknis tenaga kesehatan. Kegiatan Posyandu merupakan bagian dari kegiatan organisasi perempuan yang bernama PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Pelaksana kegiatan Posyandu adalah anggota PKK dan mereka disebut Kader Posyandu. Para Kader Posyandu kebanyakan sangat terampil dan aktif di masyarakat sehingga mereka seringkali juga dilibatkan oleh desa untuk berbagai kegiatan selain bidang kesehatan.  Namun, kegiatan Posyandu kini tidak hanya berperan dalam bidang kesehatan melainkan dalam bidang lainnya. Penelitian ini dilakukan di Desa Cipacing sebuah Desa yang bersifat sub-urban di Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini menelusuri dan menggambarkan peran para perempuan kader Posyandu selain di bidang kesehatan. Metode yang dilakukan adalah metode kualitatif-etnografi dengan Pengumpulan data dilakukan melalui teknik pengamatan terlibat dan wawancara mendalam pada kader-kader Posyandu dan para warga desa. Analisis dilakukan dengan merujuk pada kerangka teori peran sosial-kultural dan teori peran gender. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para perempuan kader Posyandu memiliki peran sosial-budaya penting, diantaranya sebagai agen pemberdayaan ekonomi, aktivis sosial, aktivis keagamaan, pelestari tradisi lokal, serta pemegang otoritas kewilayahan. Di dalam menjalankan peran-peran itu, mereka tetap mengakar pada peran gender mereka sebagai perempuan. Kata Kunci: Perempuan, Kader, Posyandu, Peran Sosial-budaya,  GenderABSTRACT Posyandu (Integrated Service Post) is a maternal and child healthcare program organized by community members at the neighborhood level (Rukun Warga) with technical support from healthcare workers. Posyandu activities are part of a women’s organization called PKK (Family Welfare Empowerment). The activities are carried out by PKK members known as Posyandu Cadres. These cadres are often highly skilled and active in the community, which leads to their involvement in various village activities beyond healthcare. However, Posyandu activities today encompass not only health-related roles but also other areas. This study was conducted in Cipacing Village, a semi-urban area in West Java. The purpose of the research is to explore and describe the roles of female Posyandu cadres beyond the healthcare sector. The study uses a qualitative-ethnographic method, with data collected through participant observation and in-depth interviews with Posyandu cadres and village residents. The analysis refers to the theoretical frameworks of socio-cultural roles and gender roles. The findings show that female Posyandu cadres hold important socio-cultural roles, including serving as agents of economic empowerment, social activists, religious activists, preservers of local traditions, and holders of territorial authority. In performing these roles, they remain rooted in their gender roles as women.Keywords: Women, Cadres, Posyandu, Social-Cultural role, gender
Measuring the Success of SDGs Implementation Bonjeruk Village, Jonggat Sub-district, Central Lombok District, West Nusa Tenggara Izana, Nyimas Nadya; Susanti, Anik
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.65376

Abstract

ABSTRACT Sustainable development has become a key strategy in addressing the challenges of economic inequality and environmental degradation at the village level. This study aims to assess the success of implementing the Village Sustainable Development Goals (SDGs) in Bonjeruk Village, Jonggat Sub-district, Central Lombok Regency, by focusing on community participation based on Cohen and Uphoff’s theory, which includes the dimensions of planning, implementation, utilization, and evaluation. A descriptive quantitative approach was applied by distributing closed-ended questionnaires using a Likert scale to 21 respondents selected through simple random sampling, supported by observations and interviews to strengthen the analysis. The results indicate that community participation is relatively high, particularly in the utilization stage of the tourism village program, with an average score of 3.37. This is reflected in the dominance of “agree” responses, where 52.4% of respondents acknowledged that village tourism activities contribute to economic welfare, 57.1% strongly agreed that information on tourism development programs is well communicated, and 52.4% confirmed the support of the village government through resource provision. The active involvement of the community in strategic planning, program implementation, economic benefit distribution, and program evaluation illustrates a collaborative success between the village government, the Tourism Awareness Group (Pokdarwis), and local communities. The findings suggest that structured and sustainable community participation through institutions, mechanisms, and clear regulations is the key to the successful implementation of the Village SDGs in Bonjeruk, positioning the village as a model for sustainable and collaborative tourism village development.Keywords: Village SDGs, community participation, Pokdarwis, tourism village  ABSTRAK Pembangunan berkelanjutan telah menjadi strategi utama dalam mengatasi tantangan ketimpangan ekonomi dan degradasi lingkungan di tingkat desa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberhasilan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Desa (SDGs) di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dengan berfokus pada partisipasi masyarakat berdasarkan teori Cohen dan Uphoff, yang meliputi dimensi perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan evaluasi. Pendekatan kuantitatif deskriptif diterapkan dengan mendistribusikan kuesioner tertutup menggunakan skala Likert kepada 21 responden yang dipilih melalui simple random sampling, didukung oleh observasi dan wawancara untuk memperkuat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat relatif tinggi, khususnya pada tahap pemanfaatan program desa wisata, dengan skor rata-rata 3,37. Hal ini tercermin dari dominasi respons "setuju", di mana 52,4% responden mengakui bahwa kegiatan pariwisata desa berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi, 57,1% sangat setuju bahwa informasi program pengembangan pariwisata dikomunikasikan dengan baik, dan 52,4% mengkonfirmasi dukungan pemerintah desa melalui penyediaan sumber daya. Keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan strategis, pelaksanaan program, penyaluran manfaat ekonomi, dan evaluasi program menggambarkan keberhasilan kolaboratif antara pemerintah desa, Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis), dan masyarakat setempat. Temuan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat yang terstruktur dan berkelanjutan melalui kelembagaan, mekanisme, dan regulasi yang jelas adalah kunci keberhasilan implementasi SDGs Desa di Bonjeruk, memposisikan desa sebagai model pengembangan desa wisata yang berkelanjutan dan kolaboratif.Kata kunci: SDGs desa, partisipasi masyarakat, Pokdarwis, desa wisata 
Persahabatan Lawan Jenis Terhadap Preferensi Perilaku Wanita Dewasa Awal Dalam Perspektif Konstruksi Sosial Taboen, Aprianus Paskalius; Nahak, Imelda; Mite, Petrus Selestinus; Manafe, Jacklin Stefany
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.66806

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana persahabatan lawan jenis membentuk pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dewasa awal melalui proses konstruksi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, penelitian ini melibatkan enam perempuan berusia 20–30 tahun dari Pontianak, Jakarta, dan Kupang yang memiliki pengalaman persahabatan intens dengan sahabat pria. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah interaksi digital, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi lintas gender menjadi arena terbentuknya pola pikir yang lebih rasional, peningkatan kemandirian dalam pengambilan keputusan, dan penyesuaian gaya komunikasi yang lebih lugas. Proses resosialisasi nilai tampak ketika perempuan mengadopsi pola berpikir sistematis, strategi komunikasi terstruktur, dan memperoleh pemahaman baru mengenai dinamika relasi romantis. Namun, temuan juga mengungkap keberlanjutan tekanan sosial melalui norma yang mengaitkan kedekatan pria–wanita dengan potensi romansa, termasuk tantangan yang muncul pada ruang digital berupa ambiguitas relasi dan perubahan batasan interaksi. Secara keseluruhan, pemaknaan dan preferensi perilaku perempuan dalam persahabatan lawan jenis merupakan hasil interaksi dialektis antara struktur sosial, norma gender, dan agensi individu. Temuan ini memperkaya literatur sosiologi hubungan sosial terkait rekonstruksi makna gender dalam konteks persahabatan heterosocial.Kata kunci: Persahabatan Lawan Jenis, Konstruksi Sosial, Wanita Dewasa Awal, Interaksi Lintas Gender ABSTRACT This study examines how cross-gender friendships shape the meaning-making processes and behavioral preferences of early adult women through social construction. Using a qualitative phenomenological design, the research involved six women aged 20–30 from Pontianak, Jakarta, and Kupang who had intensive cross-gender friendship experiences. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and analysis of digital interactions, and were analyzed using Braun and Clarke’s thematic analysis. The findings reveal that cross-gender interactions function as a site where more rational thinking patterns, greater independence in decision-making, and more direct communication styles are formed. A process of value resocialization occurs as women adopt systematic modes of reasoning, structured communication strategies, and new understandings of romantic relationship dynamics. However, the study also identifies persistent social pressures stemming from norms that associate male–female closeness with potential romantic involvement, alongside emerging challenges in digital spaces such as relational ambiguity and shifting interaction boundaries. Overall, women’s meaning-making and behavioral preferences in cross-gender friendships are shaped through dialectical interactions among social structures, gender norms, and individual agency. These findings contribute to sociological scholarship by illuminating the reconstruction of gender meanings within heterosocial friendship contexts.Keywords: Cross-Gender Friendship, Social Construction, Early Adult Women, Heterosocial Interaction   
Ngaben: Simbolisme, Etika, Dan Tantangan Keagamaan Dalam Berkabung Di Bali Sekarningrum, Bintarsih; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Pratiwi, Ni Putu Sri
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63893

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini menyoroti adaptasi ritual keagamaan, khususnya ngaben di Bali, di tengah perkembangan era digital. Teknologi digital telah mengubah cara partisipasi masyarakat, termasuk prosesi ngaben yang kini disiarkan melalui TikTok, YouTube, dan Instagram. Studi sebelumnya membahas dampak teknologi terhadap ritual keagamaan, tetapi belum mendalami implikasi etika dan spiritual integrasi teknologi dalam ngaben, terutama keseimbangan antara inovasi digital dan pelestarian makna sakral. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana simbolisme dan praktik ngaben beradaptasi dengan teknologi, tantangan etika yang muncul, serta dampak perubahan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus diterapkan di Bali melalui wawancara mendalam dengan informan kunci: tokoh agama, anggota keluarga, dan ahli budaya. Data dianalisis menggunakan teori dramaturgi Goffman dan konsep “teater negara” Geertz. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi memperluas partisipasi dan konektivitas spiritual, tetapi juga memperkenalkan dimensi komersialisasi dan hiburan yang berpotensi mengaburkan kesakralan ngaben. Teknologi berperan ganda: mempertahankan relevansi ritual sekaligus menantang pelestarian nilai spiritualnya. Keterbatasan penelitian mencakup belum tergalinya pandangan generasi muda, aspek gender, serta cakupan wilayah yang terbatas pada Bali. Penelitian lanjutan disarankan memperluas perspektif dan lokasi. Selain itu, diperlukan pedoman etika penggunaan teknologi dalam ritual keagamaan agar inovasi digital selaras dengan pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Kata kunci: Bali, Etika Keagamaan, Dramaturgi, Ngaben, Simbolisme  ABSTRACT This study highlights the adaptation of religious rituals, particularly the Balinese ngaben, amid the rise of the digital era. Digital technology has transformed community participation, with ngaben ceremonies now broadcast via TikTok, YouTube, and Instagram. Previous studies have examined technology’s impact on religious rituals but have not deeply explored the ethical and spiritual implications of integrating technology into ngaben, especially the balance between digital innovation and preserving its sacred meaning. This research aims to explore how the symbolism and practice of ngaben adapt to technology, the ethical challenges that emerge, and the resulting impacts. A qualitative method with a case study approach was applied in Bali through in-depth interviews with key informants: religious leaders, family members, and cultural experts. Data were analyzed using Goffman’s dramaturgical theory and Geertz’s “theater state” concept. Findings reveal that digitalization expands participation and spiritual connectivity but also introduces commercialization and entertainment elements that risk obscuring the ritual’s sacredness. Technology plays a dual role: sustaining ritual relevance while challenging the preservation of its spiritual values. Limitations include the lack of perspectives from younger generations, gender dynamics, and the study’s restricted geographic scope. Further research and ethical guidelines are recommended to align digital innovation with preserving Bali’s spiritual and cultural values. Keywords: Bali, Dramaturgy, Ngaben, Religious Ethics, Symbolism 

Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 9, No 2 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 9, No 1 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 8, No 2 (2024): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 8, No 1 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 7, No 2 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 7, No 1 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 6, No 2 (2022): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 6, No 1 (2021): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 5, No 2 (2021): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 5, No 1 (2020): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 4, No 2 (2020): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 4, No 1 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 2 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 2 (2019): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 3, No 1 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 2 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 2 (2018): Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 1 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 2, No 1 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 2 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 2 (2017): SOSIOGLOBAL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 1 (2016): SOSIOGLOBAL Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 1, No 1 (2016): SOSIOGLOBAL Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi More Issue