cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan
ISSN : 24431141     EISSN : 25415301     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Higiene :Jurnal Kesehatan Lingkungan menerbitkan manuskrip tentang segala aspek kesehatan lingkungan, kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan paparan dan dampak lingkungan, serta studi terkait toksikologi dan epidemiologi lingkungan
Arjuna Subject : -
Articles 222 Documents
Efektifitas penggunaan arang limbah kulit kakao (Theobroma Cacao L.) untuk menurunkan kesadahan, salinitas dan senyawa organik air Andi Ita Juwita; Ilham Ahmad; Musdalifah Musdalifah; Emmi Bujawati; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.834 KB)

Abstract

Penelitian Aktivasi Arang Limbah Kulit  Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Variasi Waktu dan Zat Pengaktivasi telah dilakukan. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu mempelajari aktivasi arang aktif serta menguji arang aktif dalam menurunan kesadahan, salinitas dan senyawa-senyawa organik dalam air sumur. Pembuatan arang aktif dari kulit kakao ini dilakukan dengan metode aktivasi kimia menggunakan larutan H3PO4 dan KOH dengan konsetrasi 5% dan 10% dengan waktu aktivasi 60 dan 90 menit dan untuk pengalikasiannya terhadap air yang akan diuji digunakan air 500 ml dengan penambahan arang aktif 10 g yang dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirrer selama 15 menit.Arang aktif dari limbah kulit kakao dengan variasi waktu dan zat pengaktivasi, yang terbaik untuk menurunkan nilai kesadahan total yaitu dengan penggunaan H3PO4 konsentrasi 10% dengan waktu aktivasi 90 menit dapat menurunkan nilai kesadahan sebesar 22 mg/L. Untuk menurunkan nilai salinitas yang terbaik yaitu dengan penggunaan KOH 5% dengan waktu aktivasi 90 menit dapat menurunkan nilai salinitas sebesar 0,25 ppm. Untuk nilai pH hasil terbaik diperoleh pada penggunaan H3PO4konsentrasi 10% dengan waktu aktivasi 90 menit, untuk penurunan nilai TDS diperoleh pada penggunaan H3PO4konsentrasi 10% dengan lama waktu aktivasi 90 menit, dan untuk nilai BOD dan TSS yang terbaik yaitu dengan penggunaan H3PO4 5% dengan waktu aktivasi selama 60 menit. Kata Kunci  : arang aktif, konsentrasi, variasi waktu
Hubungan Kodisi Fisik Rumah dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Desa Karatung I Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe Dismo Katiandagho; Nildawati Nidawati
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 2 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.849 KB)

Abstract

Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada balita. Berdasarkan data dari Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, kasus pneumonia terbanyak adalah di wilayah kerja Puskesmas Bitung Barat sebanyak 113 kasus pneumonia pada balita yang terdiri dari 73 kasus pada laki-laki dan 40 kasus pneumonia pada perempuan. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian pneumonia pada balita di Desa Karatung I Kecamatan Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe.Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan Cross sectional study, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner, hygrometer untuk mengukur kelembaban dan meteran untuk mengukur luas ventilasi. Sampel dalam penelitian ini yaitu berdasarkan hasil perhitungan besar sampel sebanyak 67 sampel yang dijadikan sebagai responden.Hasil analisis secara bivariat dengan menggunakan uji Chi square yaitu ada hubungan yang bermakna antara kondisi dinding rumah yang tidak memenuhi syarat dengan kejadian pneumonia pada balita (p= 0,001), ada hubungan yang bermakna antara kondisi lantai rumah yang tidak memenuhi syarat dengan kejadian pneumonia pada balita (p= 0,008), ada hubungan yang bermakna antara luas ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat dengan kejadian pneumonia pada balita dengan nilai (p= 0,001)  dan ada hubungan yang bermakna kondisi kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat dengan kejadian pneumonia pada balita (p= 0,000). Saran, bagi Puskesmas Manganitu agar selalu mengawasi perkembangan kasus pneumonia pada balita yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas yang disebabkan oleh kondisi fisik rumah yang tidak memenuhi syarat. Kata Kunci  : Kondisi Fisik Rumah, Kejadian Pneumonia Pada Balita
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Panambungan Kota Makassar Nur Afiat Soraya Mursyaf; Nurdiyanah Nurdiyanah; Hasbi Ibrahim
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.839 KB)

Abstract

Puskesmas Panambungan merupakan Puskesmas yang paling tinggi angka keberhasilan pengobatan pasien TB Paru yang tertinggi di Kota Makassar sebanyak 65 pasien dan angka keberhasilan pengobatan mencapai 100%. Tujuan umum penelitian untuk mengetahui Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis (TB) Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Panambungan Kota Makassar.Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan Fenomenologi, melalui teknik wawancara mendalam. Penentuan informan dengan teknik purposive sampling yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu. Informan berjumlah 19 orang yang terdiri dari 8 Mantan Penderita TB Paru, 8 keluarga, dan 3 Kader Kesehatan TB.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan informan mengenai Pengertian penyakit tuberkulosis (TB) Paru adalah Penyakit tarroko-roko, pindah-pindah dan penyakit menular. Penyebab dan penularannya adalah  karena merokok dan minum alkohol penularannya melalui udara dan bekas makanan mantan penderita TB Paru. Gejala/Tanda-tandanya adalah batuk kurang lebih 2 minggu, batuk mengeluarkan darah. Pencegahan pertama yang dilakukan meminum air hangat pada saat ada gejala batuk ada juga yang langsung periksa ke Puskesmas dan Kepercayaan Pengobatan Pertama kali yang dilakukan oleh beberapa informan dengan meminum Daun-daunan (Miana) jika tidak ada perubahan pengobatan selanjutnya ke Tenaga Medis dan ada juga yang langsung berobat ke Tenaga Medis. Kepercayaan informan mengenai penyakit tuberkulosis (TB) paru yang di utarakan informan bermacam-macam yaitu penyakit batuk biasa, asma. Manfaat fasilitas kesehatan yang tersedia yang diutarakan Informan setelah berkunjung adanya perubahan batuk dan persaan yang lebih enak serta adanya informasi yang diketahui terkait pengobatannya.Adapun dukungan informan keluarga dan informan kader kepada informan Mantan penderita tuberkulosis (TB) Paru yang di utarakan memberikan semangat, menjaga pola makan, menemani berobat serta menjadi PMO sehingga tingkat kesembuhan informan terjamin dan  keberhasilan pengobatannya berhasil. Kata Kunci : Pengetahuan, TB Paru, Peran Keluarga, Peran Petugas Kesehatan
Risiko Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep Dwi Santy Damayati; Andi Susilawaty; Maqfirah Maqfirah
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 2 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.209 KB)

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyebab utama kedua kematian akibat penyakit menular di seluruh dunia setelah HIV/AIDS. Menurut laporan WHO, diseluruh dunia setiap tahun ditemukan 8 juta kasus baru. Indonesia merupakan negara penyumbang kasus TB terbesar kedua setelah India (23%) yaitu sebesar 10%. Jumlah kasus TB Paru BTA positif di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 176.667 kasus. Dinas Kesehatan Kabupaten pangkep mencatat jumlah kasus TB Paru pada tahun 2016 sebanyak 379 kasus. Untuk Puskesmas Liukang Tupabbiring sendiri jumlah kasus TB Paru pada tahun 2016 sebanyak 33 kasus dengan angka kematian 6 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit TB Paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain case control. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk yang tinggal di Pulau Ballang Lompo dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang terdiri dari 30 kasus dan 30 kontrol dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Pengumpulan data mengunakan kuesioner dan lembar observasi. Instrumen penelitian adalah rollmeter, thermohygrometer,dan timbangan digital. Faktor risiko kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep adalah jenis kelamin (p value= 0,438, OR= 1,714), pengetahuan (p value= 0,034, OR= 3,755), kepadatan hunian (p value= 0,747, OR= 1,522), luas ventilasi (p value= 0,045, OR= 6,000), kelembaban (p value= 0,033, OR= 5,211), dan jenis lantai (p value= 1,000, OR= 1,144). Sedangkan yang bukan merupakan faktor risiko kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep adalah umur (p value= 0,182, OR= 0,306), status gizi (p value=0,144, OR= 0,345), status merokok (p value= 0,211, OR= 0,412) dan suhu. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk mengkaji lebih mendalam mengenai variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian TB paru. Kata Kunci : Faktor Risiko, Kejadian TB Paru
Penggunaan Serbuk Buah Pare (Momordicha charantia L) Terhadap Kematian Larva Aedes aegypti Anita Dewi Moelyaningrum; Anis Yulianti Shafarini; Ellyke Ellyke
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.552 KB)

Abstract

Dengue Fever is a disease that has the higher patients in Indonesia. The disease caused by the dengue virus that transmitted by one of Aedes aegypti mosquito which usually sucks human blood. The aim of the research is to analyze the average difference of Aedes aegypti larvae death without treatment (0 g/L) and give the treatment (1.3 g/L, 1.5 g/L, 1.7 g/L). This is the True experimental research with Posttest only control design. The sample is 10 Aedes aegypti larvae instar III for each treatment so total totals 240 tail of larvae. The sampling technique is using simple random sampling because the populations are homogenous. Data were collected through by observation of larvae that died for 24 hours then analyzed using Kruskal Wallis test and continued with Post Hoc test with 5% significance level. The results showed that in the control group, the mortality of larvae at concentration 0 g/L and 1.3 g/L was not significant because p> 0,05 so statistically there was no difference of average death of Aedes aegypti larvae with the concentration. It is because of the low supply of Momordica charantia L  powder. While the concentration of 1.5 g/L and 1.7 g/L based on statistic are significant because the value of p<0.05 so that there are differences in the average death of Aedes aegypti larvae. The factor that significant be the predictors of larvae mortality is a high of the powder and duration of observation. More pare powder are given and the length of the observation so the mortality rate of the larvae is higher. So the pare powder is statistically effective start on a concentration of 1.5 g/L and 1.7 g/L with an observation time of 12 hours and 24 hours. Keywords: Concentration, time, Momordica charantia L.
Studi Penilaian Risiko Keselamatan Kerja di Bagian Boiler PT Indonesia Power UPJP Bali Sub Unit PLTU Barru Nur Hasnah; Hasbi Ibrahim; Syarfaini Syarfaini
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 2 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.601 KB)

Abstract

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) merupakan pembangkit listrik yang banyak digunakan di Indonesia yang memanfaatkan energi panas dari uap (steam) untuk memutar sudu turbin sehingga dapat digunakan untuk membangkitkan energi listrik melalui generator. Salah satu bagian terpenting dari sistem pembangkit listrik tenaga uap di Barru dan memiliki risiko tinggi mengalami ledakan dan kebakaran adalah boiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penilaian risiko keselamatan kerja yang ada di PT Indonesia Power UPJP Bali Sub Unit PLTU Barru khususnya di bagian boiler. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode deskriptif observasional, dimana proses identifikasi risiko bahaya menggunakan worksheet HAZOPS untuk mengidentifikasi bahaya pada mesin di boiler dan JSA untuk mengidentifikasi tahapan pekerjaan di boiler. Proses analisis risiko menggunakan metode semi kuantitatif berdasarkan AS/NZS 4360:2004. Hasil penelitian menunjukkan nilai risiko keselamatan kerja pada mesin di boiler yang didapat dari worksheet HAZOPS tertinggi dengan risk rating yaitu very high adalah pertama risiko temperatur lebih pada kompenen cyclone, kedua risiko temperatur lebih pada kompenen superheater. Nilai risiko keselamatan kerja pada tahapan pekerjaan pemeliharaan di boiler yang didapat dari worksheet JSA tertinggi dengan risk rating adalah kebocoran pada safety valve pada aktifitas pengetesan safety valve. Saran pada penelitian ini adalah mengkomunikasikan kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi PLTU terkait kebijakan K3, menerapkan secara menyeluruh tentang Standart operational procedure atau SOP Keselamatan kerja, menerapkan secara menyeluruh tentang cara mengidentfikasi bahaya di tempat kerja dengan menggunakan JSA, pengawasan lebih terhadap peralatan atau mesin yang sering mengalami kerusakan/penyimpangan dan pengawasan lebih terhadap sistem pengaman pada boiler, dengan mengawasi jadwal pemeliharaannya agar sistem pengaman boiler bekerja secara baik sesuai dengan fungsinya. Kata Kunci : Boiler, JSA,HAZOP, Penilaian risiko, AS/NZS 4360:2004
Uji Kerentanan untuk Insektisida Malathion dan Cypermethrine (Cyf 50 EC) Terhadap Populasi Nyamuk Aedes aegypti di Kota Makassar dan Kabupaten Barru Sukmawati Sukmawati; Hasanuddin Ishak; Andi Arsunan Arsin
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.741 KB)

Abstract

Control of use of chemical insecticides is one way to reduce the vector borne disease dengue hemorrhagic fever (DHF) which are caused by the mosquito Aedes aegypty. This study aims to find out the susceptibility in Makassar City and Barru Regency. The reseach used the quasi experimental method. Female Aedes aegypti mosquitoes that hatch sampled according to the required number as many as 450. The results reveal that in Makassar City, Aedes aegypti mosquitos are tolerant toward malathion 5% insecticide, but they are susceptible to cypermethtine (Cyf 50 EC) 1,5%. In Barru regency, Aedes aegypti mosquitos are still susceptible to malathion 5% insecticide and cypermethrine 1,5% (Cyf 50 EC). There is a difference between the two insecticides in the mortality level based on the contact duration. A comparison of exposure towards the two insecticides shows the values of LT50, LT90, LT95, and LT99. In Makassar City, Malathion 5% insecticides needs more time with the result of 328.87 minutes (5 hours), 1639.06 minutes (27 hours), 2196.94 minutes (37 hours), and 3243.43 minutes (54 hours) respectively; while the results for cypermethrine (Cyf 50 EC) 1.5% are 17.95 minutes, 29.42 minutes, 32.67 minutes, and 38.77 minutes. In Barru regency, the results for malathion 5% insecticide are 25.18 minutes, 55.37 minutes, 63.93 minutes, and 79.99 minutes; while the results for cypertmethrine (Cyf 50 EC) 1.5% are 21.77 minutes, 41.76 minutes, 47.42 minutes, and 58.05 minutes. Keywords : susceptibility testing, malathion, cypermethrine (Cyf 50 EC), Aedes aegypti
Hubungan Upaya Pengendalian Terhadap Kasus Schistosomiasis di Dataran Tinggi Lindu Kabupaten Sigi Dedi Mahyudin Syam; Andi Bungawati; Elvyrah Faisal
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.345 KB)

Abstract

Schistosomiasis di Indonesia, disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemik di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu. Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Muller dan Tesch pada tahun 1937. Pada tahun yang sama, Desa Tomado dinyatakan sebagai daerah endemis schistosomiasis oleh Brug dan Tesch, akan tetapi hospes perantara cacing penyebab penyakit tersebut baru ditemukan pada tahun 1971 yaitu siput Oncomelania di persawahan Paku, Desa Anca, Daerah Lindu. Davis dan Carney menamakannya Oncomelania hupensis lindoensis.Tujuan penelitian diketahuinya faktor determinan terhadap Kasus Schistosomiasis Di Dataran Tinggi Lindu Kabupaten Sigi. Jenis penelitian ini adalah observational analitik dengan rancangan penelitian case control. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi Lindu Kabupaten Sigi. Sampel dalam penelitian ini terbagi atas kasus dan kontrol yang diambil berdasarkan matching jenis kelamin dan umur, dengan jumlah perbandingan 1:1.Jumlah sampel 44 orang terdiri dari 22 kasus dan 22 kontrol. Pengambilan sampel penelitian ditentukan dengan metode nonrandom yaitu purposive sampling dimana peneliti memilih sampel berdasarkan pertimbangan tertentu.Hasil penelitan penggunaan sarana air bersih 21 orang (95,5%) kasus menggunakan sarana air bersih, 1 Orang (4,5%) kasus tidak menggunakan sarana air bersih, kontrol 19 orang (86,4%)  menggunakan sarana air bersih 3 orang (13,6%) tidak menggunakan sarana air bersih, dengan nilai p=0.607,kasus menggunakan jamban keluarga 18 orang (81,8%) dan 4 orang (18,2) tidak menggunakan,kontrol menggunakan jamban keluarga 21 orang (95,5%), 1 orang (4,5%) tidak menggunakan, nilai p=0,345, penggunaan APD kasus 1 orang (4,5%) dan 21 orang (95,5%) tidak menggunakan APD, kontrol 15 orang (68,5%) menggunakana APD, 7 orang (31,8%) tidak menggunakan APD,nilai p=0,000, peran kader jumlah kasus 1 orang (4,5%) berperan, 21orang (95,5%) tidak berperan, kontrol 17 orang (77,3%) berperan, 5 orang (22,7%) tidak berperan, nilai p=0,000.Kesimpulan penggunaan sarana air dan penggunaan jamban keluarga tidak berhubungan dengan kejadian Schistosomiasis. Ada hubungan bermakna penggunaan APD dan Peran kader dengan kejadian Schistosomiasis. Kata Kunci : Upaya Pengendalian,Schistosomiasis
Exploring Oral Health Behavior In Residential Gunung Masigit Village with Radon Level 2030±509 Bq/m3 and 1140+ 393 Bq/m3 Azhari azhari; Ivhatry Rizky Octavia Putri Susilo; Suhardjo SItam; Merry Annisa
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 3 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.293 KB)

Abstract

Konsep sehat pada ronga mulut adalah ilmu baru dalam revolusi sosial industrialisasi untuk mencerminkan aktualisasi diri yang berkembang dan menjadi konsep dalah penialian kesehatan secara umumnya.Faktor lingkungan salah satunya radiasi pengion radon dapat mempengaruhi kesehatan rongga mulut. Penelitian ini diperlukan untuk menilai perilaku masyarakat terhadap kesehatan rongga mulut yang tinggal di sumber mata air yang terpapar radon dengan berkonsentrasi terhadap penilaian individu tentang kondisi gigi dan mulutnya, perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut, dan perilaku pencarian pengobatan dalam kuesioner WHO 2013.
Management Waste in The Public Service Area of The Southern Konawe Hospital Lia Amelia; Erwin Azizi Jayadiparaja DM; Ridwan Adi Surya
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4 No 3 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.669 KB)

Abstract

Waste from such hospital activity is likely to result in pathogenic microorganisms and toxic chemicals that cause infection and may spread to hospital environments due to inadequate health care techniques, errors in the treatment of contaminated materials and equipment, and the provision and maintenance of sanitary facilities still not good, can cause the occurrence of transmission of diseases originating from waste and declining aesthetic value. Therefore, to improve the quality of hospital services, the need for proper waste management and in accordance with established procedures. This study aims to analyze the waste management in the Regional Public Service Agency of South Konawe District Hospital.The type of this research is quantitative descriptive research. population in this research is all officer in charge of managing waste from start of room until to final disposal which amounted to 25 people. In this study using population research because the subject amounted to 25 people. The analysis used in this study uses descriptive analysis.The results show that the problem that exists on the input aspect is the head of the sanitation installation is not a minimal Diploma Kesling. But the Nutrition Diploma. Officers sent for training are only ambulance coordinator and IPRS Coordinator while management staff never participate in specific training. In the input aspect, the budget for limba management is carried out efficiency so that there is still need from the unfulfilled waste management. In the process aspect, the problem related to the waste management process itself starts from the transportation process where the officers rarely use personal protective equipment, there is no special lane, the garbage is collected for several days to be burned, also the burning that is accommodated to wait for the third party to carry the transportation.Expected To the South Konawe Hospital, it is necessary to consider following the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 1204 / MENKES / SK / X / 2004 on the head of the sanitation installation is a minimum of Diploma 3 Environmental Health Keywords : Hospital Waste Management, Input, Output; Process

Page 9 of 23 | Total Record : 222