cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Ilmu Gizi Indonesia
ISSN : 2580491x     EISSN : 25987844     DOI : -
Core Subject : Health,
Ilmu Gizi Indonesia merupakan jurnal yang dikelola oleh Universitas Respati Yogyakarta. Jurnal ini menerima naskah ilmiah di bidang gizi. Jurnal ini fokus pada bidang gizi klinik, gizi masyarakat, food science, food service, dan gizi olahraga. Ilmu Gizi Indonesia terbit dua kali dalam setahun, yaitu Bulan Agustus dan Februari.
Arjuna Subject : -
Articles 138 Documents
The effect of frying frequency on acid value and peroxides in various types of oil Rahma Laelia; Pramudya Kurnia
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.986 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i1.119

Abstract

Background: People often store frying oil that will be reused or used repeatedly for several times, especially in salted fish frying. Cooking oil that has been used repeatedly with high temperatures or contact with water and oxygen will produce acid and peroxide values. This is due to the oxidation and hydrolysis processes causing oil damage. Objective: To identify the effect of frying frequency on the acid and peroxides value in various types of oil. Methods: This research was an experiment with salted fish frying based on a completely randomized design using three treatments (first, second, and the third frying processed) with three different types of oil, that were coconut oil, palm oil, and corn oil. Acids and peroxides values were analyzed using One Way Anova test continued with Duncan Multiple Range Test (DMRT) test. Results: Acid value in the three types of oil was still within the limits of the standards value 0.6 mg KOH/g based on SNI 3741: 2013 and free fatty acid 0.3% based on SNI 7709:2012. After first until third frying, peroxide value of coconut oil was still within the standard limit, whereas in palm oil and corn oil, after second frying were exceeded of the standard limit based on SNI which have maximal value 10 mek O2/kg. Conclusion: Frying frequency were affected by acid and peroxides values of coconut oil, palm oil, as well as corn oil.
The economic status of parents and family food security as a risk factor for stunting in children under five years old in Bejiharjo Village Ulfa Malika Putri Raharja; Waryana Waryana; Almira Sitasari
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.095 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i1.130

Abstract

Background: The prevalence of stunting among children under five years old in Gunungkidul Regency are 27.9%, and in the Karangmojo II Community Health Center work area are 30.25% or 337 children under five years old. Stunting that occurs in children under five years old can have an impact on decreasing productivity, increasing the risk of degenerative diseases, decreasing intelligence, and increasing the birth of babies with low birth weight in the future. Objective: To examine the risk factors of parents' economic status and family food security against the incidence of stunting in children under five years old  in Bejiharjo Village. Methods: The type of research was an analytical (observational) survey with a case-control study approach. The subjects of this study were children aged 24−59 months. This research was conducted on February 2019. The sampling technique used to determine the area was purposive sampling, and to determine the sample was simple random sampling. The research instruments used were economic and family food security questionnaires. One hundred forty-one children under five years old became the subject in this study. Data were analyzed by using Chi-Square analysis. Results: Bivariate analysis showed economic status of parents (p=0.002; OR=3.182) and family food security (p=0.007; OR=3.164) were risk factor for stunting in children under five years old in Bejiharjo Village. Conclusion: The economic status of parents and family food security act as risk factor for stunting in infants in Bejiharjo Village
Glycemic index of nuggets made from eel flour (Monopterus albus) and tempeh flour for nutritional support for diabetic hemodialysis patients Fery Lusviana Widiany
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.407 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i1.123

Abstract

Background: Diabetes mellitus is one of the cause of end-stage renal failure and is also a comorbid of end-stage renal failure patient with hemodialysis. Diabetes is difficult to treat in diabetic hemodialysis patients. Diabetic hemodialysis patients will also experience malnutrition because of inadequate protein intake and gastrointestinal disorders such as nausea, vomiting, and anorexia, so nutritional support that meets the requirements of the diabetic hemodialysis diet is needed, which is high in protein, high in calcium, low in phosphorus, and has a low glycemic index, completed by nuggets made from a mixture of eel flour and tempeh flour. Objective: To determine the quantity and glycemic index category of nuggets made from a mixture of eel flour and tempeh flour with a proportion of 50%: 50% as nutritional support for diabetic hemodialysis patients. Methods: This experimental study using the one group intervention without control design used objects in the form of nuggets with the proportion of mixing eel flour (Monopterus albus) and tempeh flour by 50%: 50%. The measurement of glycemic index was carried out after respondents consumed test food (nuggets). Blood glucose levels measurement conducted at 30th minute, 60th minute, 90th minute, and 120th minute respectively. Results: The nugget’s glycemic index was 48.06, so it was categorized as a low glycemic index. Conclusion: Nugget made from eel flour and tempeh flour with a proportion of 50%: 50% is categorized as a food with low glycemic index, and it can be given as nutritional support for diabetic hemodialysis patients.
Aplikasi perencanaan menu makanan berbasis android di pesantren dan kelayakan penggunaannya Mevi Oktaviana Wibisono; Muhammad Iqbal
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.562 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.133

Abstract

Latar Belakang: Dalam penyelenggaraan makanan, salah satu hal penting adalah jumlah makanan dan standar porsi yang dihasilkan karena banyaknya bahan makanan akan berpengaruh terhadap porsi yang dihasilkan. Berkembangnya teknologi akan memengaruhi perkembangan dan perubahan dalam segala bidang. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melakukan penyusunan menu sesuai kebutuhan berbasis aplikasi android karena android berkembang dengan pesat melebihi sistem operasi lainnya. Tujuan: Menilai kelayakan aplikasi menu makanan untuk santri di pesantren berbasis android. Metode: Penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus dilakukan di enam pesantren di Kabupaten Jember pada tujuh petugas perencana menu makanan. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018 sampai Januari 2019. Penelitian yang dilakukan untuk menilai kelayakan aplikasi android menggunakan beberapa aspek, yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, pengguna, kepuasan penguna, dan dampak positif. Hasil: Aplikasi perencanaan menu makanan berbasis android bisa diterapkan untuk membantu perencanaan menu makanan, memberikan informasi yang mudah dipahami sehingga aplikasi android berguna dalam peningkatan kinerja, pengguna lebih menghemat waktu dan tenaga, mengikuti perkembangan teknologi sehingga aplikasi android mudah diakses dan memberikan dampak positif sehingga membantu petugas perencana menu makanan dalam melakukan pekerjaannya serta dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi para santri. Kesimpulan: Aplikasi perencanaan menu berbasis android layak digunakan di pesantren jika dinilai dari kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, pengguna, kepuasan pengguna, dan dampak positif.
Potensi cookies substitusi tepung biji kelabat (Trigonella foenum–graecum) dan jantung pisang batu (Musa balbisiana L.A.Colla) untuk meningkatkan volume ASI Giyawati Yulilania Okinarum; Lestariningsih Lestariningsih; Devillya Puspita Dewi
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.375 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.138

Abstract

Latar Belakang: Nutrisi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi air susu ibu (ASI).Volume ASI yang kurang menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan ASI eksklusif. Biji kelabat (Trigonella foenum graecum) dan jantung pisang batu (Musa balbisiana L.A.Colla) merupakan tanaman lokal Indonesia yang mengandung galactagogue dan berpotensi meningkatkan volume ASI. Sediaan cookies dengan penambahan tepung biji kelabat dan jantung pisang batu dapat menjadi salah satu alternatif camilan bernilai gizi tinggi untuk ibu menyusui. Tujuan: Mengetahui potensi cookies biji kelabat dan jantung pisang batu terhadap peningkatan volume ASI. Metode: Sebanyak 45 responden dalam penelitian ini adalah ibu postpartum di Klinik dan Praktik Mandiri Bidan (PMB) wilayah Sleman. Sampel diambil secara acak dengan blok permutasi. Desain penelitian menggunakan double-blind randomized control trial posttest only control group design. Kelompok perlakuan mendapatkan cookies dengan penambahan tepung biji kelabat dan jantung pisang batu, sebanyak 80 gram per hari. Kelompok kontrol diberi cookies tanpa substitusi kedua tepung tersebut. Perlakuan diberikan selama tujuh hari. Volume ASI diukur pada hari ke-3, ke-5, dan ke-8 setelah mengonsumsi cookies. Data dianalisis dengan uji Friedman dengan post-hoc Wilcoxon dan uji Mann Whitney. Hasil: Terdapat perbedaan volume ASI yang bermakna antara kelompok intervensi yang diberi cookies biji kelabat dan jantung pisang batu dengan kelompok kontrol (p<0,05). Perbedaan volume ASI setelah pemberian cookies biji kelabat dan jantung pisang batu ditemukan antar setiap pengukuran. Kesimpulan: Cookies substitusi biji kelabat dan jantung pisang batu dapat menjadi alternatif cemilan untuk ibu menyusui karena peranannya dalam meningkatkan volume ASI.
Perilaku higiene dan sanitasi meningkatkan risiko kejadian stunting balita usia 12-59 bulan di Banten Dewi Khairiyah; Adhila Fayasari
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.583 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.137

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan salah satu keadaan kurang gizi yang masih menjadi masalah di negara berkembang. Stunting disebabkan oleh banyak faktor terutama terkait dengan lingkungan. Tujuan: Menganalisis hubungan antara higiene dan sanitasi dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Mandala, Banten. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control, melibatkan balita usia 12-59 bulan sebanyak 41 balita stunting (TB/U <2 SD) dan 41 balita dengan status gizi normal (TB/U 2≤ x ≤2 SD) di wilayah kerja Puskesmas Mandala. Penelitian ini dilakukan pada Januari sampai Februari 2019 dan telah mendapatkan Surat Kelaikan Etik dari Komite Etik Poltekkes Kemenkes Jakarta II dengan nomor: LB.02.01/I/KE/L/021/2019. Data dikumpulkan dengan alat bantu kuesioner perilaku higiene dan kuesioner sanitasi lingkungan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square dan Spearman Correlation dengan derajat kemaknaan 95% (p<0,05). Hasil: Subjek dengan higiene yang buruk mempunyai risiko terjadi stunting (p=0,000; OR=27,28), begitu pula sanitasi lingkungan yang buruk memiliki korelasi positif dan berkekuatan sedang dengan terjadinya stunting (p=0,000; r=0,511). Kelompok balita stunting cenderung memiliki perilaku higiene dan kondisi sanitasi lingkungan yang lebih buruk daripada kelompol tidak stunting. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara perilaku higiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan.
Program edukasi terpadu di sekolah berbasis asrama untuk pencegahan anemia pada remaja putri Silvia Dewi Styaningrum; Zenni Puspitarini; Siska Puspita Sari
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.823 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.176

Abstract

Latar Belakang: Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius saat ini karena menjadi rantai penyebab masalah gizi pada generasi mendatang. Edukasi mengenai anemia tidak hanya dibutuhkan oleh remaja putri, tetapi juga jejaring di sekelilingnya agar dapat berperan bersama dalam mencegah anemia. Edukasi terpadu yang melibatkan jejaring di sekitar remaja putri diharapkan mampu mencegah anemia pada remaja putri di sekolah berbasis asrama secara efektif. Tujuan: Mengetahui pengaruh edukasi terpadu terhadap kadar hemoglobin darah remaja putri di sekolah berbasis asrama. Metode: Penelitian pre eksperimental dengan rancangan one grup pretest-posttest. Sebanyak 66 siswi boarding school di SMPIT LHI Yogyakarta menjadi sampel penelitian (purposive sampling). Darah diambil melalui pembuluh kapiler dan kadar hemoglobin diperiksa menggunakan rapid test sebelum dan sesudah intervensi berupa edukasi. Edukasi diberikan secara terpisah kepada semua sasaran yang meliputi siswi, guru, pendamping asrama, orangtua, dan petugas dapur. Uji hipotesis menggunakan paired t-test. Hasil: Pemeriksaan kadar hemoglobin sebelum intervensi edukasi menunjukkan bahwa delapan dari 66 remaja putri terdeteksi anemia, rerata kadar hemoglobin13,8 g/dl. Pemeriksaan kadar hemoglobin sesudah intervensi edukasi menunjukkan bahwa lima dari 66 remaja putri terdeteksi anemia, rerata kadar hemoglobin 14,4 g/dl. Uji hipotesis menggunakan paired t-test menunjukkan ada beda kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05). Kesimpulan: Intervensi berupa edukasi terpadu di sekolah berbasis asrama memberikan pengaruh pada peningkatan kadar hemoglobin remaja putri.
Hubungan tingkat stres, emotional eating, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh dengan status gizi pegawai Universitas Pembangunan Nasional Jakarta Rica Ervienia Sukianto; Avliya Quratul Marjan; A&#039;immatul Fauziyah
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.643 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.135

Abstract

Latar Belakang: Salah satu indikator kesehatan utama suatu negara atau masyarakat adalah status gizi. Status gizi lebih dan obesitas dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Pada tahun 2018, kasus gizi lebih meningkat menjadi 13,6% (11,5% pada tahun 2013) dan kasus obesitas menjadi 21,8% (14,8% pada tahun 2013). Berdasarkan kelompok pekerjaannya, pegawai menempati peringkat dua kelompok pekerjaan dengan prevalensi gizi lebih dan obesitas paling banyak, yaitu 30,8%. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan tingkat stress, emotional eating, aktivitas fisik, dan persen lemak tubuh dengan status gizi pegawai Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta. Metode: Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan cross-sectional. Responden sebanyak 68, dipilih secara acak dengan teknik probability proportional sampling. Data identitas responden, tingkat stres, emotional eating, dan aktivitas fisik diambil melalui wawancara dengan panduan kuesioner (DASS-14, DEBQ-13, dan Baecke). Data antropometri (tinggi badan, berat badan, dan persen lemak tubuh) diperoleh melalui pengukuran langsung. Pengolahan data dilakukan dengan uji Spearman Rank dan korelasi Pearson. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan emotional eating dengan status gizi (p= 0,604; p=0,543). Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan persen lemak tubuh dengan status gizi (p=0,005; p=0,000). Aktivitas fisik memiliki korelasi negatif dan tingkat keeratan hubungan yang rendah dengan status gizi, sedangkan persen lemak tubuh memiliki korelasi positif dengan tingkat korelasi yang sempurna. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan persen lemak tubuh dengan status gizi.
Kajian awal formulasi puding modifikasi daun salam untuk lansia berdasarkan kandungan flavonoid dan uji sensori (tekstur, warna, dan aroma) Anggi Dwi Yulinar; Theresia Pratiwi Elingsetyo Sanubari; Kristiawan Prasetya Agung Nugroho
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.358 KB) | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.144

Abstract

Latar Belakang: Penurunan kondisi tubuh lansia menyebabkan lansia cenderung sensitif dalam memilih suatu produk makanan yang akan dikonsumsi. Lansia juga termasuk kelompok umur yang berisiko tinggi terhadap penyakit kronik seperti Diabetes Melitus (DM). Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk menentukan formulasi puding modifikasi daun salam terbaik ditinjau dari kandungan flavonoid dan uji sensoris yang meliputi aspek tekstur, warna, aroma. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi studi pendahuluan dengan metode recall makan 24 jam pada lansia wanita post menopause; penentuan formulasi puding dengan ekstrak daun salam; uji kandungan flavonoid; dan uji sensoris yang meliputi aspek tekstur, warna dan aroma melalui uji hedonik. Penelitian dilakukan di empat panti wreda di Semarang. Hasil: Puding yang paling disukai oleh panelis adalah sampel B yang memiliki warna cokelat, aroma cokelat dengan kekerasan 147,2912 gf. Kandungan flavonoid tertinggi diperoleh pada sampel B (12,90 mg qe/g) diikuti sampel A (6,50 mg qe/g), sampel C (5,13 mg qe/g) dan kontrol (2,23 mg qe/g). Kesimpulan: Puding yang paling direkomendasikan adalah puding formula B yang merupakan puding yang paling disukai dengan kandungan flavonoid tertinggi.
Faktor risiko pada penderita hipertensi di Kelurahan Salatiga, Kota Salatiga Rosiana Eva Rayanti; R.L.N.K. Retno Triandhini; Lydia Limin
Ilmu Gizi Indonesia Vol 3, No 2 (2020): Februari
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/ilgi.v3i2.132

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah peningkatan tekanan dalam darah melebih batas normal yaitu 120/80 mmHg. Faktor risiko hipertensi yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti keturunan, usia, dan jenis kelamin, sedangkan faktor yang dapat diubah adalah pola makan dan aktivitas fisik. Tujuan: Mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT), aktivitas fisik, pola makan, Lingkar Pinggang Panggul (PiPa) terhadap tekanan darah (TD) di Puskesmas Sidorejo Lor, Kelurahan Salatiga. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross‐sectional pada 103 responden yaitu 32 orang laki-laki dan 71 orang perempuan. Kriteria responden usia >40 tahun, terdaftar pasien rawat jalan di Puskesmas Sidorejo Lor dengan diagnosis hipertensi. Instrumen penelitian berupa form data profil responden, alat ukur antropometri, pengukur tekanan darah, Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ). Analisis data menggunakan uji Pearson Correlation. Hasil: Terdapat hubungan antara TD sistolik dengan IMT (p=0,002; r=0,346) dan TD diastolik dengan IMT (p=0,004; r=0,313) pada wanita. Namun, tidak ada hubungan antara TD sistolik dengan aktivitas fisik (p=0,065) dan TD diastolik dengan aktivitas fisik (p=0,089). Hasil uji korelasi pada laki-laki menunjukkan terdapat hubungan antara TD diastolik dengan IMT (p=0,047; r=-0,302). Namun, tidak ada hubungan antara TD sistolik dengan IMT (p=0,082), TD sistolik dengan aktivitas fisik (p=0,430), dan TD diastolik dengan aktivitas fisik (p=0,328). Kesimpulan: Ada hubungan antara tekanan darah diastolik dengan IMT, dan tidak terdapat hubungan tekanan darah dan aktivitas fisik.

Page 7 of 14 | Total Record : 138