cover
Contact Name
Aji Septiaji
Contact Email
ajiseptiaji@gmail.com
Phone
+6285294606969
Journal Mail Official
jurnaldiglosiaunma@gmail.com
Editorial Address
Jalan. K.H. Abdul Halim, No. 103, Kabupaten Majalengka
Location
Kab. majalengka,
Jawa barat
INDONESIA
Diglosia
Published by Universitas Majalengka
ISSN : 25495119     EISSN : 25495119     DOI : -
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia tergabung dalam Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya (PPJB-SIP). Jurnal ini memuat artikel ilmiah penelitian dan gagasan konseptual atau kajian teoretis dalam bidang pendidikan, kebahasaan, dan kesusastraan Indonesia. Setiap artikel melalui peer review process. Adapun scope penelitian pada jurnal ini yaitu (1) sastra (teori, kritik, dan sejarah sastra); (2) Keterampilan dan pembelajaran sastra; (3) Keterampilan dan pembelajaran bahasa; (4) Analisis wacana; (5) Penelitian linguistik, sosiolinguistik, dan psikolinguistik; (6) Evaluasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (7) Kurikulum pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (8) Model atau media pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (9) Kajian kebudayaan Indonesia; dan (10) penelitian lainnya yang relevan. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan FEBRUARI dan AGUSTUS.
Articles 297 Documents
Kesulitan Menulis pada Anak Disabilitas: Studi Kasus Anak Gangguan Disleksia Usia 8 Tahun Rai Bagus Triadi; Frilia Shantika Regina
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.636 KB)

Abstract

Kompetensi menulis merupakan salah satu kemampuan produktif yang berbarengan dengan kompentensi berbicara. Kedua bentuk kemampuan produktif tersebut merupakan hasil implementasi dari kemampuan reseptif yang berbentuk kompetensi membaca dan menyimak.  Pada proses pembentukan kompetensi menulis terjadi berdasarkan beberapa tahap, dimulai dari tahap mencoret, tarik garis, hingga coretan yang membentuk huruf. Tahapan tersebut biasa dilewati oleh semua anak, tetapi berbeda dengan anak disabilitas dengan kekhususan disleksia yang mempunyai perbedaan dalam memahami bentuk hingga merangkai bentuk-bentuk tersebut menjadi sebuah kata. Pada penelitian ini peneliti mencoba mendeskripsikan kesulitan menulis pada anak disabilitas usia delapan tahun dengan studi kasus disleksia. Kesulitan tersebut didasari oleh beberapa faktor, antara lain faktor pola pembelajaran, pola pendekatan, lingkungan, dan kompetensi subjek penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, artinya penelitian ini berupaya mendeskripsikan keadaan kompetensi menulis subjek penelitian saat ini apa adanya, tanpa dilakukan sebuah interverensi. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mendeskripsikan bentuk kesulitan yang dihadapi subjek penelitian dalam peningkatan kemampuan menulis. Berdasarkan hasil observasi dan analisis data yang dilakukan kemampuan subjek penelitian dalam kompetensi menulis dapat dikatakan tidak sesuai dengan anak seusianya, artinya kemampuan subjek penelitian itu berada di bawah kemampuan anak usia 8 tahun pada umumnya, faktor-faktor yang dikriteriakan kurang meliputi pengenalan huruf, penyusunan huruf , penulisan huruf pada rangkaian kata yang panjang dan kesulitan menuliskan beberapa huruf konsonan. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi sebuah kriteria yang permanen apabila pola pembelajarannya tidak diubah. Dapat dinyatakan demikian karena peneliti mengamati pola pembelajaran menulis yang dilakukan kepada subjek penelitian sedikit keliru karena disamaratakan dengan siswa yang lainnya.Kata kunci: kemampuan menulis, anak disabilitas, kekhususan disleksia  Writing competence is one of the productive abilities along with speaking competence. Both forms of productive abilities are the result of the implementation of receptive abilities in the form of reading and listening competencies. In the writing competency formation process occurs based on several stages, starting from the stage of scribbling, drawing lines, to scribbles that form letters. This stage is usually passed by all children, but it is different from children with disabilities with dyslexia who have differences in understanding shapes to assemble these forms into a word. In this study, researchers tried to describe the difficulty of writing in children with disabilities aged eight years with a case study of dyslexia. This difficulty is based on several factors, including factors of learning patterns, approach patterns, environment, and the competence of the research subject. This study uses a qualitative descriptive research method, meaning that this research seeks to describe the current state of the writing competence of the research subject as it is, without any intervention. In addition, this study also seeks to describe the form of difficulties faced by research subjects in improving writing skills. Based on the results of observations and data analysis carried out, the ability of the research subject in writing competence can be said to be incompatible with children of his age, meaning that the ability of the research subject is below the ability of children aged 8 years in general, the factors that are believed to be lacking include letter recognition, lettering , writing letters in long series of words and difficulty writing some consonants. These factors can become a permanent criterion if the learning pattern is not changed. It can be stated that because the researcher observes the writing learning pattern carried out on the research subject is slightly wrong because it is generalized with other students.Keywords: writing ability, children with disabilities, dyslexia specificity
PEMILIHAN PERANGKAT RETORIKA PADA PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM MEMPROMOSIKAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM BIDANG PENDIDIKAN Noermanzah Noermanzah
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.25 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pemilihan perangkat retorika pada pidato presiden Republik Indonesia dalam mempromosikan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Metode penelitian menggunakan analisis wacana kritis model Van Dijk. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, wawancara, dan catat. Teknik analisis pada tiga kerangka dimensi yaitu pada teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Uji keabsahan data menggunakan uji validitas pakar dan triangulasi sumber data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo dalam menggunakan perangkat retorika, baik dalam bentuk kalimat, diksi, kohesi, dan koherensi bukan hanya memberikan janji saja pada masyarakat dalam setiap bahasa yang disampaikan dalam pidatonya, tetapi benar-benar dilaksanakan khususnya pada program pendidikan. Walaupun ada beberapa program pendidikan yang menjadi janji dan harapan di masa yang akan datang, tetapi sebagian besar dilaksanakan pada masa kerjanya. Perlu diketahui bahwa perangkat retorika yang disusun pada pidato resmi di bidang pendidikan disusun oleh tim kerja kepresidenan. Berbeda dengan pidato tidak resmi lebih dominan disusun oleh presiden secara pribadi sehingga terlihat pidato yang disampaikan masih ada yang menggunakan kalimat minor dan mayor, diksi slang, diksi konotasi, diksi jargon, idiom, dan kohesi elipsis yang seharusnya dihindari dalam penggunaan pidato kenegaraan presiden Republik Indonesia.Kata kunci: perangkat retorika, pidato presiden, kebijakan pemerintah, bidang pendidikan The objective of this research was to explain the selection of rhetorical instruments in the speech of the President of the Republic of Indonesia in promoting government policies in education. The research method used is Van Dijk model of critical discourse analysis. Data collection techniques using documentation techniques, interviews, and notes. The analysis technique is based on three dimensional frameworks, namely the text, social cognition, and social context. The data validity test used expert validity test and data source triangulation. The results show that specifically President Susilo Bambang Yudhoyono and President Joko Widodo in using rhetorical tools, both in the form of sentences, diction, cohesion, and coherence, not only give promises to the public in every language delivered in their speeches, but are actually implemented specifically in education programs. Although there are several educational programs that have made promises and hopes for the future, most of them were implemented during their tenure. It should be noted that the rhetoric set in formal speeches on education was compiled by the presidential working team. In contrast to informal speeches, the more dominant is composed by the president personally so that there are still speeches that use minor and major sentences, slang diction, connotation diction, jargon diction, idioms, and elliptical cohesion which should be avoided in the use of the state speech of the president of the Republic of IndonesiaKeywords: rhetoric devices, presidential speeches, government policies, education
KONFLIK BATIN TOKOH MARIAMIN DALAM NOVEL AZAB DAN SENGSARA KARYA MERARI SIREGAR Dewi Robiatul Adawiyah
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.142 KB)

Abstract

Keberadaan tokoh dalam suatu cerita fiksi memiliki peranan penting dalam menyampaikan pesan kepada pembaca. Sebuah cerita fiksi memiliki tokoh-tokoh dengan karakteristik dan perwatakan yang berbeda-beda. Munculnya tokoh dengan membawa kisah perjalan hidup, secara tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi psikologis para tokoh atau pelaku cerita lainnya. Kondisi kejiwaan yang dialami para tokoh dapat mengalami perubahan tergantung situasi yang dihadapi. Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya sastra. Artikel ini berfokus pada konflik batin yang dialami oleh tokoh bernama Mariamin dalam novel Azab dan Sengsara karya Merarai Siregar dan novel ini sebagai objek penelitian. Konflik batin yang dialami Mariamin sangatlah banyak dan beragam, konflik mendekat-mendekat, menjauh-mendekat, dan konflik menjauh-menjauh. Mariamin adalah sosok perempuan yang ramah, penyabar, cerdas, dan kuat. Kata Kunci: konflik batin, tokoh, novel The existence of a character in a fictional story has an interest in conveying a message to the reader. A fictional story that has characters with different characters and characters. The emergence of a character with a story about the journey of life can indirectly affect the psychological condition of the characters or other story actors. The psychological conditions that change the characters can change depending on the dependent situation. It is true that literary psychology pays attention to problems related to the psychological elements of fictional characters contained in literary works. This article focuses on the inner conflicts that a character named Mariamin in Merarai Siregar's Azab and Sengsara is looking for and this novel as an object of research. The inner conflicts that run through Mariamin are many and varied, conflicts are getting closer, closer and farther away. Mariamin is a friendly, patient, intelligent and strong woman. Keywords: inner conflicts, characters, novels
Instagram: Pengaruhnya dalam Kesantunan Berbahasa Mahasiswa Rista Tantia Rahmawati; Hendaryan Hendaryan; Herdiana Herdiana; Taufik Hidayat
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.792 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pengaruh penggunaan instagram dalam kesantunan berbahasa mahasiswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh dalam akun instagramnya. Penelitian ini menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tuturan mahasiswa dalam akun instagramnya memiliki maksim yang sesuai yakni maksim kebijaksanaan, maksim kedewasaan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim pemufakatan, dan maksim kesimpatian. Penelitian ini juga melibatkan skala kesantunan yakni skala kerugian, skala pilihan, skala ketidaklangsungan, skala keotoritasan, dan skala jarak. Penelitian berimplikasi dalam pembentukan karakter, karena saat kesantunan dalam berbahasa di terapkan dalam berkomunikasi setiap hari maka tidak akan ada ujaran yang menyakiti orang lain.Kata kunci: media sosial instagram, kesantunan berbahasa This study aims to describe the characteristics of the influence of using Instagram on students' language politeness. This study's source of data is the utterances of Galuh University Teacher Training and Education Faculty students in their Instagram account. This research uses recording techniques and note-taking techniques. The results of this study indicate that the students' utterances in their Instagram account have the appropriate maxims, namely maxim of wisdom, the maxim of maturity, maxim of appreciation, maxim of simplicity, maxim of consensus, and maxim of sympathy. This research also involves a politeness scale, namely the scale of the loss, the scale of choice, the scale of unsustainability, the scale of authority, and the distance scale. Research has implications for character building because when politeness in a language is applied in communicating every day, there will be no speech that hurts others.Keywords: instagram social media, language politeness
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA BIDANG MORFOLOGI DAN EJAAN PADA JUDUL YOUTUBE DI CHANNEL BAIM PAULA Ely Irmawati; Nabela Putri Indah Sari; Paraga Aji Kusumahastuti
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.196 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan berbahasa bidang morfologi dan ejaan pada judul Youtube di Channel Baim Paula. Masalah yang dianalisis adalah kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi dan ejaan pada judul Youtube di Channel Baim Paula. Teori kesalahan berbahasa yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori bersinonim Tarigan. Teori pembatasan kesalahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori membatasi kesalahan berbahasa Corder. Teori morfologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori morfologi Rahmadi. Analisis pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat. Hasil analisis ditemukan kesalahan berbahasa bidang morfologi dan ejaan pada judul Youtube di Channel Baim Paula berupa penyingkatan morfem kesalahan morfologi yang meliputi; penyingkatan morf {ber-}, {di}, {me-}, {meN-}, (ter-}, {-in}, {-an}, {per-an}, {di-kan), {me-kan}, {men-i}, {-lah), {meN-kan}, {meN-}, kesalahan penggunaan tanda titik (.), kesalahan penggunaan tanda koma (,), kesalahan penggunaan tanda hubung (-), kesalahan penggunaan tanda tanya (?), kesalahan penggunaan tanda seru (!), kesalahan penulisan huruf miring, kesalahan penulisan huruf abjad, dan kesalahan penulisan bentuk ulang.Kata kunci: kesalahan morfologi, kesalahan ejaan, Youtube This study was designed to describe the morphological and spelling errors in the Youtube title on the Baim Paula Channel. The problem that was analyzed was a mistake made in the field of morphology and spelling in the Youtube title on the Baim Paula Channel. The theory of error used in this study is Tarigan's synonym theory. The theory that refutes used in this study is the theory that refutes Corder. The morphological theory used in this study is Rahmadi's morphological theory. The analysis in this study used a qualitative descriptive method, data collection was carried out by listening and note taking techniques. The results of the analysis found errors in changing the sphere of morphology and spelling in the Youtube title in the Baim Paula Channel consisting of morphological levels of morphological errors that included; morphic abbreviations {bent}, {at}, {me}, {meN-}, (ter-}, {-in}, {-an}, {per-}, {in-right), {me-kan}, {men-i}, {-lah), {meN-kan}, {meN-}, misuse of the dot (.), misuse of commas (,), misuse of hyphens (-), errors use of question marks (?), errors in using exclamation points (!), errors in italics, errors in letters of the alphabet, and errors in re-use.Keywords: morphological error, spelling error, Youtube
Maling (Drama Tarling) untuk Pembelajaran Merancang Pementasan dan Mendemonstrasikan Drama sebagai Seni Pertunjukan pada Siswa SMA Saroni Saroni; Nana Triana Winata
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.303 KB)

Abstract

Seni pertunjukan tarling di Indramayu merupakan pertunjukan teater tradisional. Kondisi ideal yang diharapkan adalah seni pertunjukan tarling sebagai identitas daerah Indramayu tetap lestari, tetapi ternyata semakin pudar dan tak bertenaga. Dengan demikian, perlu adanya revitalisasi budaya lokal melalui pemberdayaan generasi muda. Upaya revitalisasi seni pertunjukan tarling merupakan upaya pemertahanan eksistensi kesenian tradisional tarling kepada generasi muda. Revitalisasi perlu segera dilakukan karena seni pertunjukan tarling telah hampir punah karena tidak menjadi sebuah industri yang berasal dari kreativitas senimannya. Dalam pembelajaran sebuah perencanaan sangat dibutuhkan guru dalam proses mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Perencanaan pembelajaran ini dapat membantu guru untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran di kelas. Perencanaan yang dilakukan guru yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajara (RPP). RPP yang disusun guru bahasa Indonesia di SMA dalam pembelajaran merancang dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan telah mengikuti ketentuan yang sesuai dengan Kurikulum 2013 pada kompetensi dasar 3.19.1 yaitu mengidentifikasi isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton, dan 3.19.2 yaitu merancang pementasan dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan dengan memerhatikan tata panggung, kostum, tata musik, dan sebagainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) rencana pelaksanaan pembelajaran drama tarling pada materi merancang pementasan dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan, 2) hasil melatih drama tarling pada siswa SMA (pembentukan kelompok, penulisan naskah, proses latihan, dan proses perekaman drama), 3) kendala dalam melatih drama tarling pada siswa SMA, 4) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam melatih drama tarling pada siswa SMA. Adapun metode pada penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, sosialisasi, pelatihan, diskusi, dan monitoring. Hasil penelitian, peserta yang mengikuti pelatihan sejumlah 30 siswa SMA se-Indramayu. Pelatihan MALING (Drama Tarling) dalam penelitian ini meliputi olah tubuh, olah mimik, olah suara, dan olah imajinasi. Kendala dan upaya untuk mengatasi hal yang dihadapi oleh peneliti dalam melaksanakan pelatihan MALING (Drama Tarling) terlihat dari beberapa segi antara lain; peserta didik, waktu, dan bahan ajar.Kata Kunci: Drama, Tarling, Siswa SMA, Indramayu
Kajian Semiotik Mitos Lauk Dewa di Desa Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat Fathiyyah Sekar Widiasri; Dian Indira
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.007 KB)

Abstract

Lauk Dewa (Ikan Dewa) merupakan mitos yang terkenal di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Melalui kajian semiotik akan dikaji makna di balik mitos Lauk Dewa tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan makna mitos dengan menganalisis makna denotatif, dan konotatif terlebih dahulu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan ialah teori semiotik Roland Barthes. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari studi kepustakaan berupa artikel dari jurnal-jurnal dan literature review. Hasil dari penelitian adalah: 1) makna denotatif dari Lauk Dewa adalah ikan berjenis Kancra Bodas/Kancra Putih (Labaebarbus Dournensis); 2) makna konotatif dari Lauk Dewa adalah sosok prajurit Prabu Siliwangi yang dikutuk menjadi ikan karena membantah perintah raja; dan 3) mitos yang dihasilkan berupa kepercayaan bagi siapapun yang menangkap atau mengonsumsi Lauk Dewa  akan mendapat hukuman berupa musibah. Lauk Dewa juga memberi keberkahan bagi siapapun yang dapat menyentuhnya.Kata kunci: mitos, lauk Dewa, Cigugur, semiotik, Roland Barthes Lauk Dewa is a famous myth in Cigugur Village, Kuningan, West Java. The meaning behind the myth of Lauk Dewa will be examined through a semiotic study. The purpose of this research is to describe the meaning of myth by analyzing denotative and connotative meanings first. This research uses descriptive qualitative method. The theory used is Roland Barthes' semiotic theory. Sources of data in this research is literature studies in the form of articles from journals and literature reviews.  The results of the study were: 1) the denotative meaning of Lauk Dewa was a type of fish Kancra Bodas / Kancra Putih (Labaebarbus Dournensis); 2) the connotative meaning of Lauk Dewa is the figure of the warrior Prabu Siliwangi who was cursed to be a fish because he denied the king's orders; and 3) the resulting myth is the belief that anyone who steals or consumes Lauk Dewa will receive punishment in the form of a disaster. Lauk Dewa also gives blessings to anyone who can touch it.Keywords: myth, Lauk Dewa, Cigugur, Semiotics, Roland Barthes
DEKONSTRUKSI FEMINISME DAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT DALAM NOVEL IBUK KARYA IWAN SETYAWAN Primasari Wahyuni; Rika Novita Kusumaningrum
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.58 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dekonstruksi feminisme dan kondisi sosial masyarakat dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi dan feminisme dengan metode analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi yang bersumber dari novel Ibuk karya Iwan Setyawan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode baca dan catat. Teknik analisis data dengan langkah-langkah: menetapkan tujuan penelitian, merumuskan temuan penelitian, mentabulasikan dan pemberian koding, interpetasi, dan penarikan kesimpulan.  Uji keabsahan data menggunakan triangulasi teori dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekonstruksi feminisme dan kondisi sosial masyarakat dalam novel Ibuk digambarkan melalui tokoh utama perempuan bernama Ngatinah. Ngatinah merupakan perempuan Jawa yang lahir dan dibesarkan di Batu, Malang, Jawa Timur. Sebagai seorang perempuan yang lahir dan dibesarkan di Jawa, Ngatinah mendobrak budaya Jawa yang masih kental menggunakan ideologi patriarki. Dalam memilih pasangan hidup, Ngatinah tidak mau dijodohkan dan memilih pasangannya sendiri. Demikian halnya dalam hal pendidikan, sebagai korban ideologi patriarki yang memarginalkan perempuan, Ngatinah bertekad agar kelima anaknya, baik perempuan maupun laki-laki harus mengenyam pendidikan tinggi. Namun demikian, wacana kultural budaya Jawa masih sangat terasa dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan. Pemikiran maju Ngatinah terkait dengan kebebasan memilih pasangan hidup dan pentingnya pendidikan belum mampu menembus ideologi patriarki yang terlanjur mengakar kuat dalam budaya Jawa.Kata kunci: dekonstruksi feminisme, kondisi sosial masyarakat, novelThe research aimed to describe the deconstruction of feminism and social conditions in the Ibuk novel by Iwan Setyawan. This study uses a deconstruction approach and feminism with content analysis methods. The data collection technique uses documentation techniques which are derived from the Ibuk novel by Iwan Setyawan. The data was collected using the read and note method. Data analysis techniques with the steps: setting research objectives, formulating research findings, tabulating and providing coding, interpretation, and drawing conclusions. Data validity test used theory triangulation and member check. The results showed that the deconstruction of feminism and social conditions in society of “Ibuk”  novel was depicted through a female protagonist named Ngatinah. Ngatinah is a Javanese woman who was born and raised in Batu, Malang, East Java. As a woman who was born and raised in Java, Ngatinah broke the Javanese culture which is still strong using patriarchy ideology. In choosing a living partner, Ngatinah will not be crowned and choose his own partner. Similarly, in the case of education, as a victim of the patriarchoidean ideology that is the case of women, Ngatinah is determined that the five children are both female and male to be educated. Nevertheless, Javanese cultural discourse is still very pronounced in the novel “Ibuk” by Iwan Setyawan. Ngatinah's forward thinking is related to the freedom to choose couple and the importance of education has not been able to penetrate the patriarchism ideology that has already been firmly rooted in Javanese culture. Keywords: deconstruction of feminism, social conditions of society, novel
ISU KORUPSI DAN PEREMPUAN DALAM METROPOP MY PARTNER KARYA RETNI S.B Tania Intan
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 5, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.921 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengungkap isu korupsi dan menganalisis tokoh perempuan di dalam novel metropop My Partner(2012) karya Retni S.B. Metode yang digunakan dalam telaah ini adalah deskriptif kualitatif dengan memadukan pendekatan struktural dan sosiologi sastra. Pendekatan struktural digunakan untuk memahami aspek penokohan dan latar sosial dalam cerita. Sosiologi sastra dimanfaatkan untuk memahami korupsi sebagai fenomena patologi sosial. Data berupa kata, frasa, dan kalimat yang relevan dengan tujuan penelitian dikumpulkan dengan teknik simak catat setelah dilakukan pembacaan tertutup. Data selanjutnya diklasifikasi dan diinterpretasi, kemudian dianalisis dengan teori-teori yang relevan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metropop tidak selalu berkelindan dengan pergaulan kelas atas dan gaya hidup mewah para tokohnya, melainkan juga dapat menggunakan tema sekunder yang realistis dan membumi seperti isu korupsi. Korupsi menjadi titik awal kemunculan masalah-masalah lain dalam novel, seperti disorganisasi keluarga, hilangnya sumber daya, dan pelecehan seksual. Tokoh perempuan yang ditampilkan dalam novel bersifat kuat, sensitif, dan tegar menghadapi berbagai kendala yang ia hadapi. Namun, pada akhirnya, perempuan tetap diposisikan sebagai pihak yang lemah, korban, dan diselamatkan oleh laki-laki yang ditampilkan superior dan dominan.
PENGGUNAAN GOOGLE CLASSROOM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN READING COMPREHENSION DI UNIVERSITAS DARMA PERSADA Yoga Pratama; Fridolini Fridolini
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.697 KB)

Abstract

Kemajuan informasi dan teknologi telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan termasuk pendidikan. khususnya teknologi internet yang memberikan efek positif terhadap pendidikan khususnya dalam proses khususnya pembelajaran pemahaman membaca dalam Bahasa Inggris. Di masa lalu, pembelajaran membaca masih menggunakan metode konvensional seperti buku, modul, dan papan tulis, tetapi saat ini seiring dengan kemajuan zaman dosen dan mahasiswa dapat menggunakan teknologi multimedia interaktif seperti, smartphone, dan desktop computer yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, inovatif, kreatif dan interaktif. Dalam penelitian kualitatif ini penulis mencoba menganalisis teknologi baru yaitu google classroom sebagai solusi untuk masalah lama dalam pengajaran pemahaman membaca dalam Bahasa Inggris.Kata Kunci: mengajar, bahasa Inggris, membaca, google classroom, teknologi The Advances of information and technology have influenced many aspects of life including education. Especially the internet which has a very positive effect on education, especially in the process, especially reading comprehension in English. In the past, teaching Reading still used conventional methods such as books, modules, and blackboards, but nowadays in this digital era with the advancement of time lecturers and students can use interactive multimedia technologies such as smartphones and desktop computers that can make learning more effective, innovative, creative and interactive. In this qualitative study, the author tries to analyse the new technology, the Google classroom as a solution of the old problems in studying Reading comprehension.Keywords: teaching, English, Reading, Google classroom, technology

Page 7 of 30 | Total Record : 297