cover
Contact Name
Yaqzhan
Contact Email
yaqzhanjurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yaqzhanjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan
ISSN : 24077208     EISSN : 25285890     DOI : -
Jurnal Yaqzhan adalah jurnal ilmiah yang fokus dalam publikasi hasil penelitian dalam kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan januari dan juli. Jurnal Yaqzhan terbuka umum bagi peneliti, praktisi, dan pemerhati kajian filsafat, agama dan kemanusiaan. Jurnal ini dikelola oleh Jurusan Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab Dakwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2015.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
BERADU OUTFIT ALA SUBKULTUR IBUKOTA : CITAYAM FASHION WEEK DALAM TELAAH FENOMENOLOGI EDMUND HUSSERL Aditia Muara Padiatra; Suci Nofita Sari
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11019

Abstract

ABSTRAK: Citayam Fashion Week merupakan fenomena yang mulai ramai di media sosial belum lama ini (2022), fenomena ini sendiri merupakan sebuah ajang berkumpulnya anak-anak muda dari beberapa daerah penyangga Jakarta, seperti dalam hal ini Citayam, Bojonggede, serta Depok. Bergaungnya fenomena ini kemudian dan gaungnya dimedia sosial menimbulkan suatu pola yang kemudian menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Penelitian ini sendiri menggunakan metode study deskriptif kualitatif dengan sumber kepustakaan. Hasil dari penelitian mengungkapkan bahwasanya fenomena ini bukanlah sekedar aksi anak muda yang ingin mencari eksistensi di pedestrian Kawasan elite ibu kota, namun merupakan suatu bentuk reaksi daripada anak-anak muda terhadap ruang publik sebagai kawasan yang setara. Hal ini juga menandaskan Jakarta sebagai sebuah ikon daripada gerakan suburban tersebut. 
ANALISIS BAHASA AGAMA DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA MENURUT ALIRAN POSITIVISME LOGIS Eka Safitri; Ihsan Sa'dudin
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11771

Abstract

This paper seeks to reveal and analyze the language of religion in the perspective of logical positivism. Where the discussion of religious languages is a complicated and much debated discussion. In the philosophy of flow which criticizes the language of religion is a logical flow of positivism because according to the flow of logical positivism everything that cannot be measured has no meaning. This flow is more concerned with efforts to determine the meaning or meaninglessness of a statement in philosophy and science, not on the statement whether right or wrong. In the language of religion, first, the expressions used to explain the object of metaphysical thought, especially about God. Second, the language of the scriptures, especially the language of the Qur'an. Third, the language of religious ritual is so real, the strength and function of a religious symbol. It can be concluded that the flow of logical positivism philosophy with religion cannot be connected because it has a different language scope, which repels each other regarding the discussion of logical positivism having the principle of verification in the language of religion about divinity (metaphysics).
KONSEP KEADILAN JURGEN HABERMAS DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT KONTEMPORER Syahrul Kirom
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.10608

Abstract

AbstrakKeadilan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan oleh setiap hak asasi manusia. Penegakan Keadilan kadang sangat timpang yang dilakukan aparat penegak hukum. Tumpul ke atas, tajam ke bawah. Faktar itu seringkali muncul di Indonesia. Hal ini yang perlu kita tegakkan dalam mengimplementasikan prinsip keadilan kepada siapapun. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptis-analitis. Dengan menggunakan   metode hermeneutika. Tujuan dari metode ini digunakan untuk memahami konsep keeadilan Jurgen Habermas, Sedangan kerangka teori teori dari keadilan Pemikiran Jurgen Habermas dalam menganalisis praktik keadilan di Indonesia pada zaman kontemporer saat ini. Hasil dari penelitian menjelaskan untuk menegakkan keadilan, maka diperlukan rasionalitas-komunikatif agar nantinya pada tindakan komunikatif nilai nilai keadilan dapat dilaksanakan. Oleh karena itu,  Untuk mencapai prinsip prinsip dasar keadilan konsensus ada beberapa faktor di antarnya. Pertama, bahwa dalam mengungkapkan sesuatu, orang harus benar-benar mengemukakan kebenaran. Kedua, dalam mengemukakan kebenaran itu, orang harus mengupayakan keadilan satu terhadap yang lain. Ketiga, orang harus benar-benar saling tulus dan bersungguh-sungguh menjalin relasi satu dengan yang lain.
ANALISIS STRUKTUR KOREOGRAFI TARI PAKUJAJAR BERDASARKAN TEORI MIMESIS PLATO Ayu Vinlandari Wahyudi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11774

Abstract

Tari Pakujajar merupakan tarian khas Kota Sukabumi yang berasal dari cerita Legenda Kota Sukabumi, yang tentunya mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Sunda terdiri dari cageur, bageur, bener, pointer, tur singer. Tari Pakujajar merupakan sebuah tarian dengan karakter gagah yang menggambarkan kegagahan serta ketangguhan seorang ksatria. Karakter gagah dalam Tari Pakujajar ini tercermin melalui koreografinya, yang di dalamnya terdapat gerak tiruan baik dari alam maupun kehidupan manusia. Dalam menjabarkan makna filosofis dari struktur koreografi, penelitian ini menggunakan sebuah teori sebagai landasanya, yaitu Teori Mimesis Plato. Teori tersebut berpandangan bahwa karya seni adalah suatu bentuk tiruan dari alam dan juga kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta mendeskripsikan makna filosofis dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung pada struktur koreografi Tari Pakujajar berdasarkan Teori Mimesis Plato. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yakni melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan Teori Mimesis Plato, struktur koreografi dalam Tari Pakujajar ini mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang terdiri dari dari cageur, bageur, bener, pinter, singer. Hal tersebut terlihat dari makna filosofis ragam-ragam gerak Tari Pakujajar seperti gerakan adeg-adeg, sirig, sembah, jangkung ilo, gedig, capang, nyawang, jalak pẻngkor (ẻngkẻng gigir), gedut, laras konda, dan mincid.
MERDEKA BELAJAR : SEBUAH LEGITIMASI TERHADAP KEBEBASAN DAN TRANSFORMASI PENDIDIKAN (Sebuah Tinjauan Pedagogi Kritis Menurut Paulo Freire) Anselmus Yata Mones; Siti Masitoh; Mochamad Nursalim
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11599

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan korelasi pemikiran Paulo Freire terhadap praktik pendidikan di Indonesia terutama tentang kebijakan kurikulum merdeka dan tawaran Paulo Freire terhadap persoalan yang dihadapi dalam dunia pendidikan kita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini studi pustaka di mana peneliti mengumpulkan berbagai sumber penelitian dan referensi lainnya yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan memecahkan persoalan yang dikemukakan. Persoalan yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan praktik pelaksanaan kurikulum yang tidak merata karena sumber daya manusia yang tidak memungkinkan untuk dilakukan standarisasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan perspektif pedagogi kritis dari tokoh filsafat pendidikan, yakni Paulo Freire. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada korelasi antara pemikiran Paulo Freire dan kurikulum Merdeka. Poin penting yang menjadi titik tumpu adalah kebebasan dan kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan adalah hak setiap warga Negara. Namun perlu dipertimbangkan karakteristik wilayah terutama keberpihakan terhadap masyarakat dan wilayah yang masih tertinggal dalam dunia pendidikan. Rekomendasi yang diajukan kepada pihak pemerintah adalah agar dilakukan pemerataan pendidikan serta percepatan pembangunan di daerah tertinggal.
THE ROLE OF THE MEANING OF IJMĀL SURAH AL-FĀTIHAH IN FORMULATING EDUCATIONAL INTERPRETATION OF SURAH AL-BAQARAH [2]: 1-20 BASED ON TAZKIYAT AL-NAFS Itah Miftahul Ulum; Mustopa Mustopa
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11698

Abstract

ABSTRACT: This study analyzes the meaning of ijmāl in al-Fātihah with the meaning of ifshāl in al-Baqarah [2]: 1-20. As for the research problem in this research is how formulation of educational interpretation with a transdisciplinary approach. The research method used is al-tafsīr al-tahlīli which analyzes the relevance of al-Fātihah [1]: 1-4, 5-6 with al-Baqarah [2]: 1-9; and the relevance of al-Fātihah [1]: 6-7 with al-Baqarah [2]: 1-20 as a whole until it becomes the original interpretation of researcher. The research findings show, al-Fātihah [1]: 1-6 contains the meaning of monotheism relating to the themes (1) prayer and infāq; (2) social interaction between believers, disbelievers and hypocrites; (3) science; (4) education and learning outcomes; (5) propaganda; (6) human ethics and ability to subdue nature; (7) the benefits of al-Quran for believers; and (8) dzikr. The relevance to the meaning of ijmāl al-Fātihah [1]: 6-7 with al-Baqarah [2]: 1-20 in formulating educational interpretations is related to the believers who empower their fitrah and reason until they are on the straight path. As for the disbelievers and the hypocrites who are angered by Allah and are heretical because they do not empower their fitrah and reason in understanding ayah qawliyah and ayah kawniyah.
RESOLUSI KONFLIK PERSPEKTIF LEWIS A. COSER (Studi Tentang “Tradisi Damai” Masyarakat Desa Batu Badak Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur) Musahwi Musahwi; Pitriyani Pitriyani
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.12020

Abstract

Memberi arti pada konflik sosial secara positif bagi masyarakat Indonesia cenderung sulit ditemukan. Kebanyakan konflik sosial dipahami secara destruktif terhadap tatanan sosial. Hal ini dapat berakibat pada cara menghadapi dan menyelesaikan pertentangan dengan cara menentang atau setidak-tidaknya, menegasikan salah satu pihak. Sehingga resolusi konflik sosial hanya mampu meredam dengan tekanan dan sewaktu-waktu konflik dapat menyala seperti api dalam sekam. Artikel ini ingin menghadirkan hal sebaliknya melalui perspektif konflik dari Lewis Coser dengan mengkaji “Tradisi Damai” pada masyarakat Desa Batu Badak Lampung Timur. Tesis Lewis Coser menempatkan konflik secara positif dan fungsional terhadap tatanan struktur sosial. Pada masyarakat Desa batu Badak banyak dihuni oleh para pendatang sejak program transmigrasi bergulir. Konflik sosial sering menyebabkan ketegangan antar etnis maupun agama. Namun, masyarakat memiliki cara unik menyelesaikan konflik, yaitu membangun “Tradisi Damai” di antara masyarakat yang berkonflik, sehingga resolusi konflik sosial berakhir dengan keintiman dan sistem keanekaragaman sosial berjalan secara harmoni. “Tradisi Damai” selaras dengan konsep katup penyelamat (safety valve) gagasan utama resolusi konflik Lewis Coser.
ANALISIS SEMIOTIK JOHN FISKE: KOMODIFIKASI TUBUH PEREMPUAN DALAM PROGRAM TV THE HOTMAN Mochamad Arbani; Eni Maryani
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11493

Abstract

Peran perempuan dalam media massa, khususnya televisi sulit untuk dipisahkan terkait bagaimana ia ‘digambarkan’ agar menghibur ketika ditonton. Program televisi The Hotman memerlihatkan bagaimana perempuan dikomodifikasi lewat kebertubuhannya agar dapat menarik perhatian penontonnya. Penggunaan perempuan sebagai komoditi di dalam praktek kapitalisasi media membuat sejumlah persoalan terkait dengan bagaimana teks atau tanda terhadap kebertubuhan perempuan dibentuk. Dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana teks-teks yang mengomodifikasi pada kebertubuhan perempuan dalam program televisi The Hotman dijelaskan menggunakan Semiotik John Fiske meliputi kode-kode yang ada pada 3 tahapan yaitu level realitas, level representatif dan level ideologi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada level realitas, peran perempuan menjadi sekunder dan ditampilkan hanya karena bentuk kebertubuhannya serta juga penggunaan pakaian, makeup dan gestur dibuat agar dapat menjadi daya tarik bagi penontonnya. Sedangkan pada level representasi, penggunaan teknik editing, pemilihan shot, musik dan suara memperkuat objektifikasi pada kebertubuhan perempuan lewat narasi, pemilihan peran, dialog dan karakter berupa perilaku yang sering membahas hal-hal yang syarat seksual secara ambiguitas. Terakhir pada level ideologis, The Hotman sengaja menggunakan tubuh perempuan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Program acara televisi ini bukan hanya dilihat sebagai acara hiburan semata, tetapi secara ideologis lebih melihat pada tubuh perempuan sebagai komoditas dibandingkan sebagai eksistensi seseorang (misal keterampilan, profesi, bakat maupun pencapaian perempuan). Sistem kapitalisasi media secara sengaja terus melanjutkan komodifikasi terhadap kebertubuhan perempuan karena dinilai menguntungkan secara ekonomi tanpa memahami resiko yang berakibat pada perempuan itu sendiri.Kata Kunci: Komodifikasi, Kebertubuhan Perempuan, Semiotik John Fiske, Televisi, The Hotman
FILOSOFI SUNAN GUNUNG JATI “INGSUN TITIP TAJUG LAN FAKIR MISKIN” SEBAGAI UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN DI KOTA CIREBON DALAM TELAAH TEORI CULTURE POVERTY Alfian Febriyanto
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i1.13808

Abstract

ABSTRACT: This article discusses the philosophy of Sunan Gunung Jati " ingsun titip tajug lan fakir miskin" as an effort to alleviate poverty in Cirebon City in a culture poverty theory study. The purpose of this study is to present a new view that comes from culture poverty theory in poverty alleviation efforts in Cirebon. Thus the formulation of the problem in this paper is how culture poverty theory views Sunan Gunung Jati's philosophy "Ingsun entrusts tajug and the poor" in poverty alleviation efforts in Cirebon. This study uses a qualitative descriptive method. The theoretical framework used is culture poverty theory. The results of the research show that culture poverty theory sees social reality as full of inequality and injustice. The development of capitalism resulted in the polarization of social classes in society. This social class polarization occurs due to the concentration of wealth in one part of the social class and the concentration of poverty in another. So far, poverty alleviation carried out by the private sector is often carried out through corporate social responsibility (CSR) programs. It's just often just a formality only. The government is obliged to prosper all citizens. The private sector is responsible for alleviating poverty in the vicinity of the industrial location. People who are classified as poor also have a responsibility to get out of this condition immediately
TRADISI WEH-WEHAN DI KALIWUNGU KENDAL, JAWA TENGAH (KAJIAN FILSAFAT NILAI MAX SCHELER) Naili Ni'matul Illiyyun; Adinda Rizqi Arbaningrum
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v9i1.10156

Abstract

ABSTRAK: Tradisi weh-wehan masih relevan dilakukan untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW di Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah. Adat keagamaan tersebut dilaksanakan dengan membagikan makanan ataupun benda kepada para tetangga dan sanak saudara sebagai wujud rasa syukur atas nikmat Tuhan. Weh-wehan menjadi penting di masyarakat Kaliwungu karena selain sebagai implementasi wujud rasa syukur, juga sebagai sebuah identitas khas Kaliwungu yang penting untuk dilestarikan. Sayangnya masyarakat sekarang ini telah acuh dalam pelaksanaan budaya weh-wehan ini, kurangnya partisipasi anak muda menjadikan acara weh-wehan ini menjadi tidak seramai dahulu. Kurangnya partisipasi tersebut menjadi masalah yang ada di Kaliwungu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lebih jauh nilai yang terkandung dalam tradisi weh-wehan dan untuk mengetahui urgensi tradisi weh-wehan di Kaliwungu, Kendal. Dengan menggunakan pendekatan naratif deskriptif dalam prespektif Max Scheler, data diambil dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih relevannya nilai yang digagas oleh Scheler dalam tradisi weh-wehan. Nilai kesenangan, nilai vitali, nilai kerohanian, dan nilai kesucian. Dalam tradisi weh-wehan setiap elemen yang ada di Kaliwungu turut serta dalam tradisi tersebut, sehingga menciptakan hubungan yang rukun. Adapun urgensi pelaksanaan tradisi weh-wehan antara lain: sebagai media untuk bersilahturahmi, sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan juga sebagai pemahaman makna filosofis weh-wehan.Kata Kunci: Hirarki nilai, Maulid Nabi, Berbagi makanan, Sumpil, Ketuwinan. ABSTRACT: In Kaliwungu, Kendal, Central Java, the weh-wehan ritual is still used to honor the Prophet Muhammad SAW's birthday. As a show of gratitude for God's blessings, this religious custom entails giving food or objects to neighbors and family. Weh-wehan is significant in the Kaliwungu community because, in addition to being a manifestation of gratitude, it also represents a unique Kaliwungu identity that must be preserved. Unfortunately, today's society is uninterested in implementing this weh-wehan culture, and the lack of young people's participation makes this weh-wehan event less packed than it once was. In Kaliwungu, this lack of participation is a concern. The goal of this research is to learn more about the ideals embodied in the weh-wehan tradition and to determine the importance of the tradition in Kaliwungu, Kendal. The data was gathered utilizing interview and observation techniques and a descriptive narrative approach in the perspective of Max Scheler. The findings of this study show that Scheler's values are still important in the weh-wehan tradition. The worth of pleasure, vitality, spirituality, and holiness are all important factors to consider. Every element of Kaliwungu participates in the weh-wehan tradition, which creates a harmonious interaction. In terms of the importance of adopting the weh-wehan tradition, it serves as a vehicle for friendship, among other things; as a means of becoming closer to God; as well as a philosophical understanding of the meaning of weh-wehan.Keyword: Value hierarchy, Maulid Nabi, Foods giving, Sumpil, Ketuwinan.