SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Articles
112 Documents
MENJAGA KEBERSAMAAN DI TENGAH KEBERAGAMAN (Telaah Konsep Toleransi dalam Al-Qur’an)
Abdul Matin Bin Salman
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (951.039 KB)
|
DOI: 10.32520/syhd.v6i1.200
Radikalisme dan terorisme telah menjadi isu keamanan internasional. Pasalnya, keduanya memberikan ancaman serius terhadap ketentraman dan kenyamanan global. Hal ini ditandai dengan adanya beberapa konferensi internasional yang menjadikan isu radikalisme dan terorisme sebagai isu utama dalam pembahasan. Seperti yang diselenggarakan Maret 2013 lalu di Singapore dan salah satu isu yang diangkat adalah pencegahan radikalisme yang berujung pada aksi terorisme. Atau yang baru saja terselenggara di Lombok, NTB yaitu konferensi ulama internasional tentang kontra terorisme dan sektarianisme. Kedua konferensi tersebut cukup untuk menjadi bukti bahwa radikalisme dan terorisme patut untuk diberikan perhatian penuh menyangkut keamanan global.
GENDER: STUDI PEMIKIRAN TAFSIR KONTEMPORER
Abdullah Hanafi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1084.663 KB)
|
DOI: 10.32520/syhd.v6i1.199
Gender adalah suatu konstruksi sosio-budaya, ia adalah label dari konstruksi hubungan jenis laki-laki dan perempuan yang lebih populer disebut dengan relasi gender. Maka perilaku mengenai relasi antara laki-perempuan disebut budaya gender. Pembicaraan ini telah membawa kata kesetaraan sebagai ikon penting dalam mengonstruksi kembali gender sebagai entitas sosio kultur yang dibuat, dibangun untuk menegakkan hubungan yang setara dan adil dalam kemajuan bersama untuk mencapai derajat mutu manusia dan menghindarkan pemaknaan dikotomis kultural laki-perempuan. Kaitannya dengan tafsir qur’ani, memang tidak dapat dipungkiri bahwa di sebagian mufassir klasik sering ditemukan penempatan posisi perempuan jika kita membacanya lewat nalar zaman sekarang yang sudah kontemporer terkesan diduakan, adanya superioritas dan subordinasi terhadap mereka. Oleh karena itu mendorong rekonstruksi ulang pemaknaanya dengan menggunakan nalar equilibrium melihat sesuatu tidak sebagai kiri kanan akan tetapi berusaha mencarai titik keseimbangannya.
KAJIAN KARYA-KARYA ULUM AL-QUR’AN DI INDONESIA DARI TAHUN 2009- 2017
Muhsin Muhsin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1054.766 KB)
|
DOI: 10.32520/syhd.v6i1.201
This study originated from the words of Ramli Abdul Wahid who said "That the development of the works of 'ulu> m al-Qur'an in Indonesia is slow, because there are still many lecturers who use Arabic-language references" therefore this study aims to prove whether the works of Ulum al-Qur'an in Indonesia are many or not. This can be seen from the number of works ‘Ulum al-Qur'an produced year on year. Therefore, the authors limit this research from 2009 to 2017. Previous studies have been conducted by the author himself in the author's thesis entitled "Bibliographic Study of the works of" Ulum al-Qur'an in Indonesia from 1953 to 2008 ". This study uses bibliographic methods to explain the contents of the book and the reason for writing the work. To get these works, the author will collect based on library catalogs throughout Indonesia and collected based on the year of manufacture, from 2009 to 2017. This research will conclude the number of works of "Ulum al-Qur'an" made by Indonesians.
KONSTRUKSI TAKWIL MUHAMMAD BAQIR AL-SADR
Abdul Wadud Kasful Humam
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (875.06 KB)
|
DOI: 10.32520/syhd.v6i1.202
Terminus takwil dalam tradisi penafsiran Syi’ah identik dengan interpretasi esoteris-sentris, yang telah dirilis sejak abad pertama hijriyyah.Penggunaan teori tersebut termotivasi dari keyakinan orang-orang Syi’ah tentang sosok Ali bin Abi Thalib yang kompeten dalam hal ta’wi>l. Di awal-awal perumusannya, teori ta’wi>l yang dibangun bersifat bebas-ekstrim. Namun dalam perkembangannya, terutama sejak periode modern-kontemporer teori ta’wi>l telah digeser dan orang-orang Syi’ah mulai menjadikan kesusastraan sebagai tingkatan metodologi penafsiran mereka. Di antara tokoh Syi’ah yang melakukan perombakan teori ta’wi>l adalah Muh}ammad Ba>qir al-S{adr. Menurutnya, ta’wi>l adalah istilah lain dari tafsir al-ma’na>, yaitu tafsir yang penekanannya pada eksternal (al-mis}da>q al-kha>riji) atau inner (hakikat) teks. Kemudian Muh}ammad Ba>qir al-S}adr membagi pembaca teks atau penerima wacana menjadi dua yaitu manusia secara umum dan para imam yang ma’s}u>m. Menurutnya, setiap manusia memiliki potensi untuk memahami seluruh ayat al-Qur’an dan mengeksplorasi maknanya. Namun pemahaman manusia terhadap al-Qur’an berbeda-beda sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka. Kemudian para imam yang ma’s}u>m. Mereka memiliki kualifikasi terpercaya untuk menafsirkan dan memahami makna inner (makna terdalam) al-Qur’an. Namun bukan berarti bahwa interpretasi al-Qur’an hanya merupakan hak otonom mereka. Karenanya, Muh}ammad Ba>qir al-S}adr menolak sementara riwayat yang menyatakan bahwa pemahaman al-Qur’an hanya diberikan kepada para imam. Karena selain bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis, perawi riwayat-riwayat tersebut lemah dan dikenal sebagai orang-orang yang ekstrim.
KESETARAAN GENDER MENURUT Al-QURAN
Dewi Murni;
Syofrianisda Syofrianisda
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (864.197 KB)
|
DOI: 10.32520/syhd.v6i1.203
Pembicaraan mengenai isu gender sudah banyak dikumandangkan baik dikalangan umum maupun di kalangan akademisi khususnya di Indonesia. Fokus pembicaraan ada yang bersifat umum, terutama menyangkut hak-hak dan pemberdayaan perempuan. Dan, ada yang bersifat khusus, termasuk dalam pemikiran Islam, yaitu penafsiran ayat-ayat terkait masalah perempuan. Beberapa kritikan terhadap perspektif gender dalam Al-Quran, umumnya dialamatkan kepada penafsiran tentang teks-teks tersebut oleh beberapa mufassir yang dinilai bersikap diskriminatif terhadap perempuan. Pemahaman mengenai sejauh mana obketivitas dan kejernihan kritikan tersebut, dapat dilakukan dengan memahami terlebih dahulu mengenai makna gender, kemudian menelusurinya lewat penafsiran Al-Quran, Sunnah dan penakwilan bahasa (isyari) . Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa esensi dari perspektif gender adalah ide tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Ide kesetaraan sesuai dengan prinsip dasar agama Islam sebagai rahmatan lil alamin, yang berarti juga termasuk rahmat bagi perempuan tanpa terpasung hak-haknya hanya dikarenakan berjenis kelamin perempuan.
ASABUN NUZUL: KAJIAN HISTORIS TURUNNYA AYAT AL-QUR’AN
syafril syafril
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1147.672 KB)
Kajian asbabun nuzul merupakan media yang mampu menyingkap korelasi antara nash dan realitas serta menilik sejauh mana dialektika yang terjadi antara keduanya. Ilmu ini memberikan pemahaman terhadap hubungan nash dan realitas. Bahkan mampu menguak hakikat dan latar belakang turunnya sebuah ayat; apakah ayat tersebut memberikan dukungan dan jawaban terhadap realitas yang terjadi ketika itu. Mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk mengetahui ayat al-Qur’an serta mengetahui rahasia-rahasia yang dikandungnya. Oleh karena itu, sekelompok ulama hadis dari kalangan sahabat dan tabi’in menaruh perhatian terhadap riwayat-riwayat asbabun nuzul. Semenjak dahulu bahkan hingga sekarang, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa mempelajari asbabun nuzul tidak ada manfaatnya. Lebih jauh mereka mengatakan bahwa mempelajari ilmu ini sama dengan mempelajari sejarah, sebuah sejarah yang telah usang ditelan zaman, tidak memiliki makna apa-apa. Ungkapan seperti ini sangat tidak berdasar, karena jika diteliti secara jeli ternyata mempelajari ilmu asbabun nuzul ini bukan hanya mengulas lembaran sejarah masa lalu, tetapi lebih dari itu, ilmu ini menyimpan rahasia dan manfaat yang sangat banyak.
MENDIDIK ANAK DALAM AL-QUR’AN Kajian atas Teladan Lukman al-Hakim
Nasrullah Nasrullah;
Muhammad Khairullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (922.209 KB)
Pendidikan anak dan keluarga secara umum merupakan suatu hal yang perlu ditekanan sejak awal. Karena keberhasilan dalam bidang ini turut berkontribusi bagi pembentukan watak positif dan terarah bagi seorang anak dalam hidupnnya. Al-Qur’an sebagai Kitab Pedoman bagi manusia memberikan bimbingan dan arahan tentang pendidikan kepada anak melalui suatu teladan, nasehat dan hikmah Lukman al-Hakim yang diabadikan Al-Qur’an. Petikan-petikan berharga dari pesan-pesan ini sangat fundamental bagi perkembangan dan pembentukan jiwa dan karakter anak dengan ajaran; untuk tidak menyekutukan (syirik) Allah, berbuat baik kepada orang tua dan selalu bersyukur, agar hati-hati bertindak karena setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan, selalu mendirikan shalat serta berbuat yang baik dan menjauhi kemungkaran, dan tidak bersifat sombong. Ajaran-ajaran maupun nasehat-nasehat komprehensif dan integratif di atas bisa dipetakan pada penguatan dan pendidikan ajaran tentang keimanan (tauhid), syariat dan akhlak kepada anak, yang menjadi inti dan pokok yang harus ditanamkan pada proses pendidikan anak dalam keluarga, apalagi di zaman milenium sekarang yang kompleks tantangan, pengaruh dan ancaman kepada anak.
TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN
Dewi Murni
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (879.923 KB)
Toleransi dan kebebasan beragama yang merupakan bagian dari visi teologi atau akidah Islam dan masuk dalam kerangka sistem teologi Islam sejatinya harus dikaji secara mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan beragama karena ia adalah suatu keniscayaan sosial bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama. Menurut al-Quran, kebebasan beragama berarti bahwa orang non-muslim tidak dipaksa untuk masuk Islam, mereka juga tidak dihalangi untuk menjalankan ritus keagamaan. Baik muslim maupun non-muslim dapat mengembangkan agamanya, di samping melindunginya dari serangan atau fitnah, tak peduli apakah hal ini berasal dari kalangan sendiri atau dari yang lain. Untuk itu, sejak abad 14 yang lalu, al-Quran telah memberikan perhatian khusus terhadap masalah kebebasan beragama tersebut.
MENGUNGKAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN VERSI SYIAH Kajian Tafsir Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an Karya at-Tabataba’i
fiddian Khairuddin;
Amaruddin Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (957.93 KB)
Al-Mizan adalah suatu kitab tafsir yang sangat populer di kalangan para mufasir klasik maupun kontemporer. Adalah salah satu karya terbesar dari sekian banyak karya-karya yang ditelurkan oleh at-Tabataba’i di tempat tinggalnya Qum, sang alim pun mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan kitab al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Dalam kedudukannya sebagai pandangan hidup, al-Qur’an mutlak harus bisa di pahami, sebab, tanpa al-Qur’an itu bisa di pahami mustahil umat Islam akan berhasil mengamalkan pesan-pesan yang dikandungnya secara utuh dan benar. Begitu juga dengan at-Tabataba’i, beliau berusaha memberikan pemaparan dalam tafsirnya meskipun terkadang berbeda dengan muafssir laiinya. Sebagai contoh at-Tabataba’i mengatakan tidak satupun di antara ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya tak bisa di ketahui. Pandangan at-Thabataba’i mengenai dapat di pahaminya ayat-ayat al-Qur’an itu menyangkut keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an, tidak kecuali terhadap ayat-ayat yang selama ini dinilai oleh kalangan tafsir sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Contoh lain, mufasir yang menilai huruf muqatta’ah termasuk kategori ayat-ayat mutasyabihat, al-Tabataba’i tidak beranggapan demikian. Baginya, huruf huruf muqatta’ah merupakan kode khusus antara Allah dan rasulnya di mana pengetahuan manusia tidak sampai kepadanya kecuali sekedar menduga-duga. Dalam kasus ini sikap at-Tabataba’i menjadi kontradiktif dengan pandangannya semula bahwa semua ayat-ayat al-Qur’an bisa di pahami maksudnya. Sebagai seorang ulama Syi’ah terkemuka, pemikirannya memang sangat diwarnai ideology kesyi’ahan. Hal ini telihat jelas dalam berbagai kajian yang di lakukannya sebagaimana tertuang dalam tafsir al-Mizan ini. Tampak sekali bahwa kitabnya ini sangat memperlihatkan keteguhan al-Thabataba’i berpegang pada mazhab Shi’ah, bahkan kelihatan sekali berupaya “mengkampanyekan” mazhab Shi’ah sendiri, berkenaan dengan pandangan-pandangan ideologis keshi’ahan mereka, seperti nikah mut’ah, kepemimpinan/imamah dan lainya.
MENGUNGKAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN VERSI SYIAH Kajian Tafsir Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an Karya at- Tabataba’i
fiddian Khairudin;
Amaruddin Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (957.93 KB)
Al-Mizan adalah suatu kitab tafsir yang sangat populer di kalangan para mufasir klasik maupun kontemporer. Adalah salah satu karya terbesar dari sekian banyak karya-karya yang ditelurkan oleh at-Tabataba’i di tempat tinggalnya Qum, sang alim pun mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan kitab al-Mizan fi Tafsir al- Qur’an. Dalam kedudukannya sebagai pandangan hidup, al-Qur’an mutlak harus bisa di pahami, sebab, tanpa al-Qur’an itu bisa di pahami mustahil umat Islam akan berhasil mengamalkan pesan-pesan yang dikandungnya secara utuh dan benar. Begitu juga dengan at-Tabataba’i, beliau berusaha memberikan pemaparan dalam tafsirnya meskipun terkadang berbeda dengan muafssir laiinya. Sebagai contoh at-Tabataba’i mengatakan tidak satupun di antara ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya tak bisa di ketahui. Pandangan at-Thabataba’i mengenai dapat di pahaminya ayat-ayat al-Qur’an itu menyangkut keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an, tidak kecuali terhadap ayat-ayat yang selama ini dinilai oleh kalangan tafsir sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Contoh lain, mufasir yang menilai huruf muqatta’ah termasuk kategori ayat-ayat mutasyabihat, al-Tabataba’i tidak beranggapan demikian. Baginya, huruf huruf muqatta’ah merupakan kode khusus antara Allah dan rasulnya di mana pengetahuan manusia tidak sampai kepadanya kecuali sekedar menduga-duga. Dalam kasus ini sikap at-Tabataba’i menjadi kontradiktif dengan pandangannya semula bahwa semua ayat-ayat al-Qur’an bisa di pahami maksudnya. Sebagai seorang ulama Syi’ah terkemuka, pemikirannya memang sangat diwarnai ideology kesyi’ahan. Hal ini telihat jelas dalam berbagai kajian yang di lakukannya sebagaimana tertuang dalam tafsir al-Mizan ini. Tampak sekali bahwa kitabnya ini sangat memperlihatkan keteguhan al-Thabataba’i berpegang pada mazhab Shi’ah, bahkan kelihatan sekali berupaya “mengkampanyekan” mazhab Shi’ah sendiri, berkenaan dengan pandangan-pandangan ideologis keshi’ahan mereka, seperti nikah mut’ah, kepemimpinan/imamah dan lainya.