cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
MAKKI DAN MADANI SEBAGAI CABANG ULUM AL-QUR’AN Desri Nengsih; Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alquran turun kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur dalam jangka waktu lebih kurang 23 tahun. Sebagian dari ayat Alquran ada yang diturunkan di kota Mekkah dan ada yang turun di kota Madinah, ada yang turun pada waktu musim panas, dan ada yang turun pada waktu musim dingin, ada yang turun ketika dalam perjalanan, dan ada yang turun pada waktu malam hari maupun siang hari. Kondisi ini menggugah perhatian ulama dan ahli tafsir untuk melakukan penelitian lebih jauh terhadap Alquran terutama berkaitan dengan tempat turunnya ayat tersebut, sehingga memunculkan suatu ilmu baru terhadap Alquran agar mendapatkan pemahaman yang utuh dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Alquran yakni Ilmu Makki dan Madani.
TAFSIR DARI SEGI CORAKNYA Lughawi, Fiqhi Dan Ilmiy Dewi Murni
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir lughawi menjelaskan kitab suci al-Qur'an melalui interpretasi semiotic dan semantic yang meliputi etimologis, morfologis, leksikal, gramatikal, dan retorikal. Tafsir lughawi ini merupakan salah satu corak yang dilakukan oleh mufassir untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an. Al-Qur’an mempunyai gaya bahasa yang sangat tinggi, maka mufassir yang akan menafsirkan al-Qur’an dengan corak ini harus memiliki kapasitas dan criteria tertentu. Tafsir lughawi ini sudah mulai muncul pada abad kedua dan ketiga hijriyah.Tafsir Fiqhi adalah corak tafsir yang lebih menitikberatkan kepada pembahasan masalah-masalah fiqhiyyah dan cabang-cabangnya serta membahas perdebatan/perbedaan pendapat seputar pendapat-pendapat imam madzhab. Tafsir fiqhi ini juga dikenal dengan tafsir Ahkam, yaitu tafsir yang lebih berorientasi kepada ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an (ayat-ayat ahkam).Tafsir ilmu adalah suatu metode tafsir yang berusaha menjalaskan istilah-istilah yang ilmiyah dalam al-Qur’an dan menghasilkan berbagai macam teori ilmiyah dan filsafat. Jadi, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan tafsir ilmi adalah seorang mufassir yang berusaha menjelaskan makna yang terkandung dalam al-Qur’an dengan metode atau pendekatan ilmiyah atau ilmu mengetahuan. Melalui ketiga pendekatan ini menunjukkan bahwa al-Qur’an sumber ilmu pengetahuan yang dapat dikaji melalui pendekatan maupun corak apapun.
MENGARIFI AL-QUR’AN SEBAGAI RISALAH RAMAH LINGKUNGAN Nasrullah Nasrullah; M Khairullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjaga alam dan ramah terhadap lingkungan adalah suatu tindakan etis dalam kapasitas eksistensial kehidupan manusia. Sebab, alam serta lingkungan sekitar dan manusia itu sendiri ditakdirkan adanya jalinan pada relasi ko-eksistensial yang saling terikat sekaligus terkait. Al-Qur’an sebagai Kitab Suci memberikan suatu pemahaman dalam panduan kearifan kesadaran menjaga alam dan lingkungan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa alam adalah mitra kehidupan manusia dalam tugas ke-khalifahan di muka bumi. Alam bukan lah objek eksploitasi oleh manusia, akan tetapi sifatnya fungsional dan proporsional. Pendekatan manusia terhadap alam tidak boleh secara antroposentris an sich, tapi juga hendaknya melibatkan kesadaran teosentris. Ada relasi piramidal antara manusia-alam-dan Tuhan. Pada dimensi kearifan yang dapat dipetik ialah, bahwa, al-Qur’an membimbing manusia untuk dapat mengenal posisi alam sebagai sama-sama sebagai makhluk yang tunduk pada Khaliq, menyadari tugas manusia sebagai khalifah untuk kemakmuran bumi, memiliki tanggung jawab terhadapnya untuk tidak merusaknya. Dengan beberapa kearifan inilah harusnya manusia belajar untuk mengaktualkan dan membumikan al-Qur’an sebagai risalah ramah lingkungan
MENGUNGKAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN VERSI SYIAH Kajian Tafsir Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an Karya at- Tabataba’i fiddian Khairudin; Amaruddin Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Mizan adalah suatu kitab tafsir yang sangat populer di kalangan para mufasir klasik maupun kontemporer. Adalah alah satu karya terbesar dari sekian banyak karya-karyayang ditelurkan oleh at-Tabataba’i di tempat tinggalnya Qum, sang alim pun mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan kitab al-Mizan fi Tafsir al- Qur’an. Dalam kedudukannya sebagai pandangan hidup, al-Qur’an mutlak harus bisa di pahami, sebab, tanpa al-Qur’an itu bisa di pahami mustahil umat Islam akan berhasil mengamalkan pesan-pesan yang dikandungnya secara utuh dan benar. Begitu juga dengan at-Tabataba’i, beliau berusaha memberikan pemaparan dalam tafsirnya meskipun terkadang berbeda dengan muafssir laiinya. Sebagai contoh at-Tabataba’i mengatakan tidak satupun di antara ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya tak bisa di ketahui. Pandangan at-Thabataba’i mengenai dapat di pahaminya ayat-ayat al-Qur’an itu menyangkut keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an, tidak kecuali terhadap ayat-ayat yang selama ini dinilai oleh kalangan tafsir sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Contoh lain, mufasir yang menilai huruf muqatta’ah termasuk kategori ayat-ayat mutasyabihat, al-Tabataba’i tidak beranggapan demikian. Baginya, huruf huruf muqatta’ah merupakan kode khusus antara Allah dan rasulnya di mana pengetahuan manusia tidak sampai kepadanya kecuali sekedar menduga-duga. Dalam kasus ini sikap at-Tabataba’i menjadi kontradiktif dengan pandangannya semula bahwa semua ayat-ayat al-Qur’an bisa di pahami maksudnya. Sebagai seorang ulama Syi’ah terkemuka, pemikirannya memang sangat diwarnai ideology kesyi’ahan. Hal ini telihat jelas dalam berbagai kajian yang di lakukannya sebagaimana tertuang dalam tafsir al-Mizan ini. Tampak sekali bahwa kitabnya ini sangat memperlihatkan keteguhan al-Thabataba’i berpegang pada mazhab Shi’ah, bahkan kelihatan sekali berupaya “mengkampanyekan” mazhab Shi’ah sendiri, berkenaan dengan pandangan-pandangan ideologis keshi’ahan mereka, seperti nikah mut’ah, kepemimpinan/imamah dan lainya.
MUKJIZAT NUMERIK DALAM AL-QUR’AN Studi Terhadap Mukjizat Angka 7 Abd Ad-Da’im Al-Kahil Ridha Hayati; Muhammad Misbahul Munir
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini akan membahas mukjizat angka 7 dalam al-Qur’an yang digagas oleh Abd ad-Da’im al-Kahil. Sebelum ini, pembahasan tentang mukjizat angka telah dikenalkan oleh Rasyad Khalifah dengan teori angka 19-nya, tetapi ia tidak menggunakan metode yang berbasis al-Qur’an dan ilmiah. Al-Kahil dengan metode deretnya yang ditarik dari al-Qur’an dan sesuai secara matematis, mendapatkan keharmonisasian dan kekoherensian angka 7 dalam al-Qur’an pada setiap surah, ayat, kata, dan bahkan huruf-huruf istimewa dalam al-Qur’an. Angka 7 sering ditemukan berulang yang mengindikasikan keistimewaan angka ini dalam al-Qur’an. Selain itu, angka 7 juga dapat ditemukan dalam struktur alam raya, sunnah, aktivitas ibadah dan kehidupan sehari-hari yang menunjukkan kemukjizatan angka ini dibanding angka-angka lainnya.
NILAI-NILAI QUR’ANI DALAM MENGATASI PERILAKU ADIKTIF GENERASI MUDA TERHADAP GADGET Nasrullah Nasrullah; Syarifudin Syarifudin; Muhammad Khairullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia moderen yang melahirkan suatu era revolusi teknologi dan informasi digital, telah menandai suatu babakan khas bagi kehidupan manusia. Perkembangan yang pesat dalam dunia teknologi informatika secara fenomenal merubah suatu gaya sekaligus hidup manusia saat ini. Adaptasi-adaptasi berlangsung secara evolutif bahkan revolutif. Suka tidak suka, mau tidak mau, kehidupan di sektor yang dominan ditarik pada arus besar dunia yang diistilahkan dengan cyber ini. Persoalan adaptasi ternyata tidak segampang peralihan dari suatu tempat ke tempat lain. Namun, dalam konteks ini, ada suatu permasalahan besar, karena menyangkut kebiasaan dan norma-norma sekaligus ada dimensi ideologis tersendiri. Salah satu alat yang diciptakan dalam perangkat dunia informasi dan teknologi ialah gadget. Hampir saat ini semua kalangan masyarakat menggunakannya. Akan tetapi, kelompok yang rawan menggunakannya adalah generasi muda. Sebab, ada kekhawatiran berdasarkan sebuah penelitian, bahwa tingkat penggunaan di kelompok ini, cukup signifikan berpengaruh pada hal-hal yang negatif. Misal kesibukan pada dunia gadget membuat lalai dari tugas dan tanggung jawab serta fakta ditemukan penyerapan informasi yang terkategori belum cukup umur dan terkadang ikut terlibat pada perkara cyber crime. Pada dasarnya, kemanfaatan gadget juga besar adanya, sekaligus memiliki potensi negatif di dalamnya. Atas dasar itu, tulisan ini berkontribusi sebagai suatu tawaran nilai yang diambil dari nilai-nilai al-Qur’an seperti: optimalisasi memperkuat pendidikan keluarga untuk anak-anaknya sebagai generasi muda, mengarahkan anak untuk bijak dalam menghargai dan menggunakan waktu, dan mengajarkan jika mendapat informasi agar mencerna dengan nalar sehat dan mempertimbangkan baik-buruknya. Nilai-nilai tersebut hendaknya bisa sebagai guidance khusunya bagi generasi muda untuk bijak dalam menggunakan gadget sesuai dengan keperluan dan kemanfaatannya, tidak terjebak pada prilaku adiktif dan abai pada eksistensi diri dan tanggung jawabnya.
PANDANGAN QURAISH SHIHAB TERHADAP PENGAJARAN TAFSIR AL-QUR’AN DI PERGURUAN TINGGI Raja Muhammad Kadri; Syafril Syafril
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepakaran Quraish Shihab dalam bidang al-Qur’an dan tafsir tidak diragukan lagi, karena studinya mulai dari S1 sampai dengan S3 dibidang Ilmu al-Qur’an dan tafsir. Pengalamannya dalam mengajar dibidang tersebut juga sudah cukup lama. Sehingga melalui latar belakang keilmuan dan pengalaman mengajar tersebut, beliau memiliki gagasan dan pandangan tersendiri terhadap pengajaran tafsir yang selama ini dianggap kurang mengena bagi mahasiswa di perguruan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang mendalami bidang al-Qur’an dan tafsir. Pandangan dan gagasan nya, diungkapkan dalam beberapa tulisan. Diantara pandangan nya terhadap pengajaran tafsir di perguruan tinggi yaitu mengenai materi pokok yang harus diajarkan, orientasi pembelajaran, dan kunci dari keberhasilan pengajaran tafsir al-Qur’an di perguruan tinggi tersebut.
KONSEP MUNÂSABAH DALAM KAJIAN AL-QUR’AN Rahmatus Sa’idah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

يتناول هذ االبحث علماً هاماً من علوم القرآن الكريم وأصلاً هاماً منأصول التفسير . ألا وهو علم المناسبة الذي يبحث في وجوه الارتباطوالاتصال في القرآن الكريم طبقاً لترتيب التلاوة في المصحف العثماني .والذي يُشكل بدوره ركيزةً أساسية في إعجاز القرآن الكريم، من حيثتصنيف العلماء فيه قديماً وحديثاً، وبيان آرائهم في أوجه الاتصالوالتناسب في القرآن الكريم وتطبيقات ذلك في مصنفاتهم، وأهم ما يميزهذه المصنفات، وأبرز ما يُستدرك عليها من موضوعات لها أثرها الواضحفي الدراسات القرآنية
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF LINGUISTIK Fahrul Usmi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

From a linguistic perspective, the Qur'an has a very beautiful and balanced composition of words and phrases. The beauty of the language is a miracle in itself for this holy book. If it is explored and analyzed in depth using its knowledge, it will find a variety of useful values from the aspect of the language referred to. Among the values that can be expressed are educational values. When the Qur’an as holy book chooses the pronoun and indicative word used, linguistically it is not a coincidence, but deliberately said by the Almighty God like that. For example, when God told about Adam in heaven, 1). Allah told Adam to stay in heaven and please enjoy all the facilities, but don't even ever approach this tree. 20 utterances. Allah said to Adam when His prohibition was violated by Adam because of being consumed by the seduction of the devil, Allah said; "Didn't I forbid you to approach that tree?". To designate the same goods / objects, Allah SWT uses different pronouns. What does it mean; in heaven, Adam and his wife were very close to Allah and Allah was close to them so that the word near (haadzihi in Arabic) was used, but Adam and his wife violated Allah's prohibition, then the transgression caused humans to move part away from Allah's grace and Allah also moved part away from humans, so that at that time the word for distant indicator was used (tilkuma Arabic). Allah knows all the best 'a'lam bi al-shawwab
TRADISI MAANTAR NIAT KE MAQBARAH SYEKH ABDURRAHMAN SIDDIK Fiddian Khairudin; Asmariani Asmariani; Ali Murtopo
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maantar niat adalah salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat di daerah Indragiri Hilir, Riau. Terdapat maqbarah (pemakaman) Syekh Abdurrahman Siddik, seorang ulama kharismatik asal Martapura Kalimantan Selatan, teladan masyarakat, mampu berpartisipasi dalam membina masyarakat. Tradisi mantar niat dilaksanakan dengan mengantar sesuatu berupa materi sebagai nazar atau janji. Konteks niat dengan arti nazarlah yang menjadi unsur utama dalam pengertian tradisi maantar niat ke tempat pemakaman Syekh Abdurrahman Siddik, materi yang diantar antara lain uang, makanan, atau hewan ternak sesuai niat masing-masing. Islam memandang nazar sebagai janji untuk berbuat baik, keharusan atau kewajiban berbuat kebaikan untuk dilaksanakan jika tujuan yang diinginkan tercapai. Dengan teori konstruksi sosial, berjenis yuridis-empiris, menggunakan pendekatan sosiologis, sehingga didapatilah bahwa latar belakang dan tujuan masyarakat melaksanakan tradisi maantar niat adalah melaksanakan nazar, berhajad, dan berziarah.

Page 8 of 12 | Total Record : 112