cover
Contact Name
Alfian Rokhmansyah
Contact Email
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Phone
+6285385388335
Journal Mail Official
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia 75123
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 603 Documents
IDENTITY OF TIMO CRUZ CHARACTER THROUGH NEEDS FULFILLMENT IN THE "COACH CARTER" MOVIE Ryanshan Gunawan; Singgih Daru Kuncara; Erna Wati
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.543 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i3.698

Abstract

ABSTRACT This research aimed to find out how Timo Cruz as the main character in Coach Carter movie obtained his real identity by examining the needs Timo Cruz fulfilled using Abraham Maslow's theory of Five Hierarchy of Needs. To begin with, the researcher analyzed the needs that Timo Cruz fulfilled from the first stage to the fifth stage. After analyzing the needs, the researcher then analyzed the four identities from James Marcia's theory. Furthermore, the researcher identified what stage of needs that could be linked up to the identity. The method used in this research was qualitative research. The data were analyzed through Abraham Maslow's theory about Five Hierarchy of Needs and Four Identity Status by James Marcia. The movie was analyzed by the characters’ conversation and dialogue script. The researcher used some steps to collect the data to be examined. In analyzing the data, the researcher was watching the movie several times, comprehended the dialogues and the pictures of the movie related to needs fulfillment and identity of Timo Cruz character. The researcher found the needs of Timo Cruz character based on the Abraham Maslow's theory on five needs; physiological needs, safety needs, social needs, esteem needs and self-actualization needs. The researcher also found the identity of Timo Cruz that focused on four identities; identity foreclosure, diffusion, moratorium and achievement. Afterwards, the researcher explained the most dominant needs like social needs and identity from character Timo Cruz. Key words: needs, identity  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara tokoh utama dalam film Coach Carter, Timo Cruz memperoleh identitas sebenarnya dengan mengkaji berbagai kebutuhan yang telah dipenuhi olehnya melalui teori Hirarki Lima Kebutuhan dari Abraham Maslow. Pada langkah awal, peneliti menganalisa kebutuhan-kebutuhan yang telah dipenuhi oleh Timo Cruz mulai tingkatan pertama sampai pada tingkatan kelima. Selanjutnya peneliti menganalisa empat identitas dari teori James Marcia. Pada langkah ini, peneliti mengidentifikasi tingkatan kebutuhan apa yang memiliki hubungan dengan identitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisa menggunakan teori Hirarki Lima Kebutuhan oleh Abraham Maslow dan teori Empat Identitas oleh James Marcia. Percakapan-percakapan para tokoh serta naskah dialog lah yang dianalisa dari film ini. Peneliti menggunakan beberapa cara dalam mengumpulkan data-data untuk dianalisa selanjutnya. Dalam menganalisa data-data tersebut, peneliti telah menonton film ini beberapa kali, kemudian menghubungkan beberapa dialog dan adegan yang ada dalam film Coach Carter dengan pemenuhan kebutuhan dan identitas dari tokoh Timo Cruz. Peneliti menemukan adanya pemenuhan kebutuhan oleh tokoh Timo Cruz berdasarkan teori Lima Kebutuhan Abraham Maslow; kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk diapresiasi, dan kebutuhan aktualisasi diri. Selain lima kebutuhan tersebut, peneliti juga menemukan identitas Timo Cruz berdasarkan pada empat identitas James Marcia: pengambilan identitas, difusi identitas, penundaan identitas, dan pencapaian identitas. Setelah itu, peneliti menjelaskan kebutuhan yang paling berpengaruh seperti kebutuhan sosial dan identitas dari tokoh Timo Cruz. Kata kunci: kebutuhan, identitas 
Pra-Isi Admin Jurnal ILMU BUDAYA
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.648 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i4.1277

Abstract

RATIONALITY VALUE IN JOSTEIN GAARDER’S SOPHIE’S WORLD Sari Rabbiyani; Singgih Daru Kuncara; Nita Maya Valiantien
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.32 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i2.676

Abstract

Abstract The purpose of this study is to find the rationality value as seen in Sophie Amundsen’s character and to know how that rationality value defines her character. This study is categorized as a descriptive qualitative design. The source of data is taken from the Sophie’s World novel by Jostein Gaarder. This study used rationality theory from the rationalist such as Socrates, Plato, and Descartes, with the addition from Suwardi Endraswara and Ranjabar. The result of this research showed that the rationality values found in Sophie’s World novel are reasoning, doubting, and finding the agreement. The most appear rationality value is Sophie’s reasoning. When Sophie accept her lesson about philosophy, she shows her reasoning in case of receive her philosophical lesson. From her reasoning, Sophie’s character changed. Philosophy taught her about thinking rationally, logically, systematic, and critical. Thus, we can see that Sophie Amundsen is a dynamic character. From those three rationality values, Sophie Amundsen becomes thoughtful, skeptic, and has an understanding to others opinion that make her become wiser. Key words: rationality, philosophy, reasoning, doubting, agreement. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menemukan nilai rasionalitas dalam novel Dunia Sophie, serta mengetahui bagaimana nilai rasionalitas tersebut mendefinisikan karakter Sophie Amundsen. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dari novel Sophie’s World karya Jostein Gaarder. Penelitian ini menggunakan teori rasionalitas yang diambil dari beberapa filsuf rasionalis seperti Socrates, Plato, dan Descartes, dengan beberapa tambahan dari Suwardi Endraswara dan Ranjabar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai rasionalitas yang ditemukan dalam novel Sophie’s World adalah penalaran, keraguan, dan persetujuan. Nilai rasionalitas yang dominan adalah penalaran yang dilakukan oleh Sophie. Ketika Sophie menerima pelajaran tentang filsafat, ia menunjukkan proses penalaran dalam hal menyerap pelajarannya tersebut. Dari penalaran yang sering dilakukannya, karakter Sophie mengalami perubahan. Filsafat menjadikan Sophie dapat berpikir rasional, logis, sistematis, dan kritis, sehingga dapat  kita lihat bahwa Sophie Amundsen adalah karakter yang dinamis. Dari tiga nilai rasionalitas tersebut, Sophie Amundsen menjadi seorang yang penuh pemikiran, skeptis, dan dapat mengerti pendapat orang lain sehingga menjadikannya seorang karakter yang bijak. Kata kunci: rasionalitas, filsafat, penalaran, keraguan, persetujuan
ASAL-USUL NAMA PULAU DERAWAN, MARATUA, KAKABAN, DAN SANGALAKI DI KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR Afrianto Afrianto; Mursalim Mursalim; Syamsul Rijal
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.73 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.977

Abstract

ABSTRAKAsal-usul Nama Pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur,  adalah salah satu Sastra daerah yang semakin lama semakin jarang dijumpai dan mulai banyak ditinggalkan, maka seharusnya sastra daerah tetap dilestarikan agar generasi penerus masih mengenal sastra daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang mendeskripsikan terjadinya legenda asal-usul nama pulau Derawan Maratua, Kakaban, dan Sangalaki. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, teknik wawancara, teknik  dokumentasi dan penyajian data tersebut menggunakan teknik catat untuk mengklarifikasi data. Penelitian asal-usul nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki dapat dianalisis secara morfologi dan semantik sehingga ditemukan bentuk kata dan makna nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki di Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Nama pulau Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki yang terdiri atas satu kata dibahas menurut proses pembentukan kata, makna nama pulau, dan latar belakang pembentukan nama pulau. Kata Derawan, Maratua, Kakaban, dan Sangalaki merupakan kata yang berasal dari bahasa Bajau, yang memiliki kemiripan dari segi makna dalam bahasa Indonesia dengan proses morfologis. Derawan perubahan terjadi pada fonem pe menjadi de, sehingga Derawan (Bajau) menjadi perawan (Indonesia), Maratua perubahan terjadi pada fonem mara menjadi mer, sehingga Maratua (Bajau) menjadi Mertua (Indonesia), Kakaban kemiripan terjadi dari segi bunyi, kata kaka (dalam bahasa Indonesia) mendapat akhiran ban menjadi Kakaban (dalam bahasa Bajau), Sangalaki kemiripan terdapat dari segi bunyi dengan proses pembubuhan, fonem sanga pada laki menjadi Sangalaki (dalam bahasa Bajau), mendapat proses reduplikasi menjadi laki-laki (dalam bahasa Indonesia).Kata Kunci: Asal-Usul, Derawan, Maratua, Kakaban, SangalakiABSTRACTThe origin of the names Derawan Island, Maratua Island, Kakaban Island and Sangalaki Island in Berau East Borneo, are one of the regional literature thats getting rarely encountered and began to abandoned, so as the regional literature need to be preserved so as the next generations still know the regional literature. The used of methods in this research is descriptive methods which describe the origins legend of the name Derawan Island, Maratua, Kakaban and Sangalaki. The technique of data collection is observation technique, interview technique, documentation technique, and presentation of the data using the note technique to clarified the data. Research of origin names Derawan Island, Maratua, Kakaban and Sangalaki can be analyzed by using Morphology and Semantic until founded the words formation and the meaning of the origins names of Derawan Island, Maratua, Kakaban, and Sangalaki in Berau of East Borneo. Names of Derawan Island, Maratua, Kakaban, and Sangalaki that consist of one word explained based on formation words process, the meaning of Island, and background formation of island. The words of Derawan, Maratua, Kakaban, and Sangalaki are one of the words that came from Bajau language, it has similarity from meaning in Indonesia by using Morphology process. Derawan change to the phoneme pe into de, so Derawan (Bajau) became perawan (Indonesia), Maratua change to the phoneme “Mara” into “Mer”, so Maratua (Bajau) became Mertua (Indonesia). Kakaban’s similarity happen from the sound “Kaka” words (in Indonesia) got the suffix “ban” became “Kakaban” (in Bajau), Sangalaki’s similarity can  be found from the sound by affixing process, the “sanga’s” phoneme in laki became Sangalaki (in Bajau), having the reduplication process to be laki-laki (in Indonesia). Keywords: Origins, Derawan, Maratua, Kakaban, Sangalaki.
REDUPLIKASI DALAM BAHASA DAYAK MURUT TAHOL DI DESA TAU LUMBIS KECAMATAN LUMBIS OGONG KABUPATEN NUNUKAN Adrianus, Nopli; Mursalim, Mursalim; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.243 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i1.853

Abstract

ABSTRACT This research has been completed with the purpose to describe about the process of reduplication, the varieties of reduplication, the types of reduplication and the meaning of reduplication in Dayak Murut Tahol Language. Thus, based on the result of the research, the researcher wishes that it will gives more immense understanding about reduplication in Dayak Murut Tahol language, also it will roles the contribution as the data in primordialism language, even as the application of Indonesia linguistics knowledge into regional language, especially in Dayak Murut Tahol language. In this research, the researcher uses the descriptive qualitative method. The data collection techniques that the researcher uses are writing or noting, data selection, and data aggregation. Besides, the data analysis techniques are descriptive qualitative technique and agih method. Then, based on the research, the result are the forms of reduplication and the processes of reduplication. However, the forms of reduplication are the whole reduplication, example: lakou-lakou (jalan-jalan), and the half reduplication, example: angalap-alap (mengambil-ambil). Furthermore, the processes of reduplication are the whole-reduplication process, example: rangan-rangan, the basic form is rangan, the whole-reduplication is rangan-rangan, which means “friends”, and the half-reduplication process, example: sekunyib-kunyib, which means “smiling”, prefix se- + kunyib created the words of sekunyib-kunyib, which means “friends”. The categories of reduplication are: 1. Nomine, example: ali-ali (brothers/sisters), 2. Verb, example: lakou-lakou (walk around), 3. Adjective, example: mangit-mangit (angry), 4. Numeral, example: ruo-ruo (both). Moreover, the meanings of reduplication are, 1. Explain of plurality, example: abuk-abuk (hairs), 2. Explain of the most, example: sabuoi-buoino (forever). 3. Explain of the counterfeit, example: karita-karitaan (car-toys), 4. Explain of approximately, example: kasilou-silouan (approximately yellow/almost yellow).  Keywords: reduplication, Dayak Murut Tahol language ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan tentang proses reduplikasi, macam-macam bentuk reduplikasi, jenis reduplikasi dan makna reduplikasi dalam bahasa Dayak Murut Tahol. Dari hasil penelitian ini penulis berharap dapat memberi gambaran tentang reduplikasi bahasa Dayak Murut Tahol, agar dapat berguna sebagai sumbangan data kebahasaan daerah dan juga sebagai penerapan ilmu linguistik bahasa Indonesia ke dalam bahasa daerah, khususnya bahasa Dayak Murut Tahol. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah teknik catat, seleksi data, pengelompokan data. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan  adalah teknik deskripsi kualitatif dan metode agih. Berdasarkan penelitian, dihasilkan bentuk reduplikasi seluruh, misalnya: lakou-lakou (jalan-jalan), reduplikasi sebagian, misalnya: angalap-alap (mengambil-ambil), sedangkan proses reduplikasinya adalah proses reduplikasi utuh, misalnya: rangan-rangan, bentuk dasar rangan, reduplikasi seluruh rangan-rangan, artinya ‘teman-teman’, dan proses reduplikasi sebagian, misalnya: sekunyib-kunyib, artinya tersenyum-senyum, prefiks se- + kunyib menghasilkan berupa kata sekunyib-kunyib, artinya ‘tersenyum-senyum’. Kategori reduplikasi adalah: (1) nomina contohnya ali-ali (adik-adik), (2) verba contohnya lakou-lakou (jalan-jalan), (3) adjektiva contohnya mangit-mangit (marah-marah), (4) numeralia contohnya ruo-ruo (dua-dua). Sedangkan makna reduplikasi yang dihasilkan yaitu: (1) menyatakan banyak, contohnya abuk-abuk (rambut-rambut). (2) menyatakan paling, contohnya sabuoi-buoino (selama-lamanya), (3) menyatakan tiruan contohnya karita-karitaan (mobil-mobilan), (4) menyatakan agak contohnya kasilou-silouan (kekuning-kuningan). Kata kunci: reduplikasi, bahasa Dayak Murut Tahol 
ENGLISH REGISTERS IN ALLKPOP NEWS ARTICLES Irhana, Amalia; Arifin, M Bahri; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.925 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i1.667

Abstract

This research is intended to describe English registers found in Allkpop news articles. The major problem in this research are to find out the English registers found in Allkpop news articles, to identify word formation process undergone by the English registers found in Allkpop news articles, to identify types of changes in meaning served by the English registers found in Allkpop news articles when compared with their lexical meaning in the dictionary, and to identify language functions served by the English registers found in Allkpop news articles. This research belongs to qualitative research employing descriptive method that was performed by collecting data, classifying, analyzing, and then interpreting the data. As the data, the researcher used English registers found in Allkpop news articles that purposively taken in April, 2016. The results of the analysis are as follows. First, there are a total of 30 units of English registers found in Allkpop news articles posted in April, 2016. These 30 units of English registers of words and phrases are found in 503 news articles posted in April, 2016. Second, almost all of English registers that have undergone morphological process are made of compounding process. Third, all of the English registers have different meaning when they are compared with their lexical meaning in the dictionary. The most dominant type of changes in meaning is widening of meaning in which of the total 30 English registers, 21 are identified have undergone widening of meaning process. Fourth, the most dominant language function based on language functions served by the sentences of the news articles that contain English registers is representational function.Keywords: Allkpop, changes in meaning, language function, register, word formation
AN ANALYSIS OF ILLOCUTIONARY ACT AND PERLOCUTIONARY ACT OF JUDY HOPPS' UTTERANCES IN ZOOTOPIA MOVIE (2016) Nadeak, Magdalena Febriwati; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.319 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i4.713

Abstract

ABSTRACT In this research, the researcher focused on finding the types of illocutionary act, the context of illocutionary act and whether Judy Hopps’ utterances affected the hearers performing the perlocutionary act in Zootopia movie. The researcher used two theories by George Yule and Dell Hymes in order to answer the three research questions; what types of illocutioay acts performed by Judy Hopps’ utterances, what the contexts of ilocutionay acts found in Judy Hopps’ utterances and how successful the illocutionary acts of Judy Hopps’ utterances affected the hearers performing the perlocutionary acts in Zootopia movie. Illocutionary act is performing an act by saying something. There were five types of illocutionary act, such as: representatives, directives, commissives, expressives and declarations. Zootopia movie is a story about a little rabbit; named Judy Hopps as the main character in Zootopia movie. She is an idealistic, cheery, and optimistic and then she wants to be a police officer in Zootopia city. Using descriptive qualitative method, the data of this research were gathered from the utterances containing the types and the context of illocutionary act also whether Judy Hopps’ utterances affected the hearers performing the perlocutionary act in the conversation of Zootopia movie. The results showed that there were thirteen utterances in the form of representative which can be categorized into statements of fact, assert, conclusion, inform, affirm, and report. Thirteen directive utterances in the form of commands, orders, insist, ask, entreat, request. Commissives appeared in the form of commit, promising, refuse, wishing and threatening. Expressives which appear in the form of complimenting, deploring, greeting, mocking, thanking, praising, apologizing, and leave-taking. The last type of illocutionary act was declaration which appeared in the form of approving. Keywords: Zootopia movie, types of illocutionary act, the context of illocutionary act, the perlocutionary act  ABSTRAK Dalam penelitian ini, peneliti fokus mengetahui jenis-jenis tindak ilokusi, konteks tindak ilokusi dan apakah ungkapan-ungkapan Judy Hopps mempengaruhi pendengar menampilkan efek dari tindak ilokusi tersebut di film Zootopia. Peneliti menggunakan dua teori dari George Yule dan Dell Hynes untuk menjawab tiga rumusan-rumusan masalah, yaitu: apa saja jenis-jenis tindak ilokusi yang ditampilkan dari ungkapan-ungkapan Judy Hopps; apa saja konteks-konteks yang di temukan pada ungkapan-ungkapan Judy Hopps dan bagaimana sukses atau tidak suksesnya tindak ilokusi pada ungkapan-ungkapan Judy Hopps yang mempengaruhi pendengar dalam menampilkan efek dari tindak ilokusi tersebut dari ungkapan Judy Hopps. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Ada lima jenis-jenis tindak ilokusi, yaitu: representative, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Film Zootopia adalah kisah tentang seekor kelinci, dia adalah Judy Hopps sebagai pemeran utama dalam film Zootopia. Dia adalah seekor kelinci yang idealistik, riang, optimis, dan kemudian dia ingin menjadi seorang polisi di kota Zootopia. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data penelitian ini dikumpulkan dari ungkapan-ungkapan yang berisi jenis tindak ilokusi, konteks tindak ilokusi dan ungkapan-ungkapan Judy Hopps yang mempengaruhi pendengar menampilkan efek dari tindak ilokusi tersebut dari ucapan Judy Hoops. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga belas ungkapan dalam bentuk representative yang dapat dikategorikan kedalam menyatakan suatu fakta, menuntut, kesimpulan, memberitahukan, menegaskan, dan melaporkan. Tiga belas ungkapan direktif dalam bentuk memerintah, pemesanan, meminta dengan tegas, bertanya, memohon dengan sangat dan meminta. Komisif muncul dalam bentuk melakukan, member, harapan, menolak, berharap, dan mengancam. Ekpresif muncul dalam bentuk memuji, menyesalkan, salam, menghina, meminta maaf, dan berpisah. Jenis terakhir dari tindakan ilokusi adalah deklaratif yang muncul dalam bentuk mengakui.  Kata kunci: film Zootopia, jenis-jenis tindak ilokusi, konteks, efek
ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI Purnamasari, Ayu; Hudiyono, Yusak; Rijal, Syamsul
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.954 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i2.681

Abstract

ABSTRACT The research will analyze social facts, social events, and social behavior that occurs in the community and social change on the main character in Bekisar Merah novel. The method used in this research is qualitative descriptre method. Qualitative research is a research to understand phenomenon about what has experienced by the subject of usearch. The writer get the data by reading and recording technique. That is reading the whole novel and then recording the relevant datas which is connects to the analyzed object and conclude it, the result is there is a social fact included social symptom, norm and law. Social symptom influenced by proverties and education at society in Krangsoga village. Norms in the Bekisar Merah is norm of decency is helping each others work together in society and religion norm. verdict meant in Bekisar Merah novel is a rule, which is norm and sanction made to arrange human behavior. Social event happened in Bekisar Merah novel is with Darsa having affair with Sipah that make everyone talk about it and the when. Many coconuts trees collapsed for electricity lane. Social behavior includes habitant psychology at of village. There is social alteration of main participant Lasi. Change from village woman become a rich man’s wife which make herself as ‘Bekisar Merah’ in a city.  Key words: social fact, social behavior, social alterationABSTRAK Penelitian ini akan menganalisis fakta sosial, peristiwa sosial, perilaku sosial yang terjadi di masyarakat dan perubahan sosial pada tokoh utama dalam novel Bekisar Merah. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi kualitatif. Penelitian kualitatif adalah yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Penulis memperoleh data dengan teknik baca dan teknik catat. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu adanya fakta sosial yang meliputi gejala sosial, norma dan hokum. Gejala sosial dipengaruhi kemiskinan dan pendidikan pada masyarakat desa Karangsoga. Norma yang terdapat dalam novel Bekisar Merah adalah norma kesusilaan yaitu saling membantu, bergotong royong pada masyarakat dan adanya norma keagamaan. Hukum yang di maksud dalam novel Bekisar Merah adalah peraturan yang berupa norma dan sanksi yang dibuat dengan tujuan untuk mengatr tingkah laku manusia. Peristiwa sosial yang terjadi dalam novel Bekisar Merah adalah ketika Darsa berselingkuh dengan Sipah yang membuat semua orang membicarakannya dan peristiwa ketika pohon kelapa banyak direbahkan untuk masuknya jalur listrik. Perilaku sosial meliputi psikologi masyarakat desa pada novel. Adanya perubahan sosial pada tokoh utama yaitu Lasi, perubahan dari wanita desa hingga menjadi istri orang kaya yang membuat dirinya menjadi ‘Bekisar Merah’ di sebuah kota. Kata kunci: fakta sosial, peristiwa sosial, perubahan sosial 
ILLOCUTIONARY ACT IN THE MAIN CHARACTERS’ UTTERANCES IN MIRROR MIRROR MOVIE Rahayu, Fita Nur; Arifin, M. Bahri; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.464 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1065

Abstract

ABSTRACT The aims of this research were to find out the types of illocutionary act of the main characters’ utterances in Mirror Mirror movie by Searle’s theory of illocutionary act and to find the context underlying illocutionary act of the main characters by Hymes’ SPEAKING model in Mirror Mirror movie. This research was descriptive qualitative because the data were the utterances of the characters in the Mirror Mirror movie. There were some steps in collecting the data: downloading the movie script, watching the movie several times, reading and observing the dialogue in the movie and selecting Queen and Snow White’s utterances that contain illocutionary act. In the data analysis, the researcher applied Miles and Huberman’s procedures namely data reduction, data display and conclusion drawing/verification. The results of the research show that there are 55 utterances of the main characters that contain illocutionary act. The data were classified into five namely are representatives (4), directives (37), declaratives (0), commissives (2), expressives (12). Of the total 55 illocutionary acts, directives are the most frequent types of illocutionary act because the main characters mostly expressed their utterances in direct way such as by ordering, requesting, asking and commanding. Conversely, the declarative types of illocutionary act were not appeared in this research because the characters that performed the utterance that contain illocutionary act were not selected as the object to analyze. There were eight factors affecting the illocutionary act of the main characters using the context of Hymes’ SPEAKING model. They are setting, participants, ends, act, sequences, key, instrumentalities and genre. Keywords: Speech Act, Illocutionary Act, SPEAKING model by Hymes,Mirror Mirror Movie  ABSTRAK  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari jenis-jenis tindak ilokusi pada tuturan tokoh-tokoh utama dalam film Mirror-Mirror menggunakan teori dari Searle dan untuk menemukan konteks pada tindak ilokusi tokoh-tokoh utama menggunakan SPEAKING model dari Hymes. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif karena data berupa tuturan tokoh-tokoh di film Mirror Mirror. Ada beberapa langkah dalam mengumpulkan data: mengunggah naskah film, menonton film beberapa kali, membaca dan meneliti percakapan didalam film dan memilih tuturan Snow White dan Queen yang mengandung tindak ilokusi. Didalam data analysis, peneliti menerapkan prosedur Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi/ penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 55 tuturan tokoh-tokoh utama yang mengandung tindak ilokusi. Data diklasifikasikan menjadi lima yaitu representatives (4), directives (37), declaratives (0), commissives (2), expressives (12). Dari total 55 tindak ilokusi, directives adalah jenis tindak ilokusi yang paling sering muncul karena tokoh-tokoh utama sebagian besar mengekspresikan tuturan mereka secara langsung seperti memesan, meminta, bertanya dan menyuruh. Sebaliknya, tindak ilokusi declaratives tidak muncul dalam penelitian ini karena tokoh-tokoh yang melakukan tuturan yang mengandung tindak ilokusi tidak dipilih sebagai objek untuk dianalysis. Ada delapan faktor yang mempengaruhi tindak ilokusi menggunakan teori konteks SPEAKING dari Hymes. Mereka adalah setting, participants, ends, act, sequences, key, instrumentalities and genre. Kata Kunci: Tindak Tutur, Tindak Ilokusi, SPEAKING model oleh Hymes, Film Mirror Mirror
WOMEN’S LANGUAGE FEATURES FOUND IN FEMALE CHARACTER’S UTTERANCES IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Oktapiani, TIka; Natsir, M; Setyowati, Ririn
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.104 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i3.672

Abstract

ABSTRACT The research entitled women’s language features found in female character’s utterances in The Devil Wears Prada Movie, aims to identify the women’s language features based on Lakoff’s theory and also to identify language functions served by women’s language features found in The Devil Wears Prada movie based on Jakobsen’s theory. This research was conducted by using descriptive qualitative method, while for collecting the data were watching the movie several times, reading script movie and underlining female character’s utterances containing the women’s language features. From ten features of women’s language, the researcher found nine features used by the female character in The Devil Wears Prada Movie. They are lexical hedges or fillers (7), tag question (3), rising intonation on declarative (2), empty adjectives (3), precious color term (1), intensifiers (10), super polite form (4), hypercorrect grammar (0), avoidance of strong swear words (3) and emphatic stress (3). Intensifiers are the most frequent women’s language features used by female characters in The Devil Wears Prada movie because they want to emphasize or strengthen their utterances deeply to attract addressee’s attention using intensifiers. Meanwhile, hypercorrect grammar did not occur in this research because the female characters mostly used informal language in their dialogue to shorten the gap among the characters. Then, there are language functions served by women’s language found in female character’s utterances in The Devil Wears Prada movie. They are expressive function, directive function and metalinguistic function. Key words: women’s language, women’s language features, The Devil Wears Prada  ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fitur-fitur bahasa wanita berdasarkan teori Lakoff dan juga untuk mengidentifikasi fungsi bahasa yang disajikan oleh fitur bahasa wanita yang terdapat dalam film The Devil Wears Prada berdasarkan teori Jakobsen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, sedangkan untuk mengumpulkan data adalah menonton film, membaca naskah film dan menggari bawahi ucapan karakter perempuan yang mengandung fitur-fitur bahasa wanita. Dari sepuluh fitur bahasa wanita, peneliti menemukan sembilan fitur yang digunakan oleh karakter wanita dalam The Devil Wears Prada Movie, lexical hedges atau filler7), tag question (3), rising intonation on declarative (2), empty adjectives (3), precise color term (1), intensifiers (10), super polite form (4), hypercorrect grammar (0), avoidance of strong swear word (3) dan emphatic stress (3). Intensifiers adalah fitur bahasa wanita yang paling sering digunakan oleh karakter wanita dalam film The Devil Wears Prada karena mereka ingin menekankan atau memperkuat ucapan mereka secara mendalam untuk menarik perhatian penerima dengan menggunakan intensifiers. Sementara itu, tata bahasa hypercorrect tidak terjadi dalam penelitian ini karena karakter wanita kebanyakan menggunakan bahasa informal dalam dialog mereka untuk memperpendek jarak antar karakter. Kemudian, ada fungsi bahasa yang disajikan oleh bahasa wanita yang ditemukan dalam ujaran karakter wanita dalam film The Devil Wears Prada. Mereka adalah fungsi ekspresif, fungsi direktif dan fungsi metalinguistik. Kata kunci: bahasa wanita, fitur-fitur bahasa wanita, The Devil Wears Prada

Page 5 of 61 | Total Record : 603


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Oktober 2025 Vol 9, No 3 (2025): Juli 2025 Vol 9, No 2 (2025): April 2025 Vol 9, No 1 (2025): Januari 2025 Vol 9 (2025): Special Issue "SESANTI 2025" Vol 8, No 4 (2024): Oktober 2024 Vol 8, No 3 (2024): Juli 2024 Vol 8, No 2 (2024): April 2024 Vol 8, No 1 (2024): Januari 2024 Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023 Vol 7, No 4 (2023): Oktober 2023 Vol 7, No 3 (2023): Juli 2023 Vol 7, No 1 (2023): Januari 2023 Vol 6, No 4 (2022): Oktober 2022 Vol 6, No 3 (2022): Juli 2022 Vol 6, No 2 (2022): April 2022 Vol 6, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 5, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 5, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 5, No 2 (2021): April 2021 Vol 5, No 1 (2021): Januari 2021 Vol 4, No 4 (2020): Oktober 2020 Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 4, No 2 (2020): April 2020 Vol 4, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 3, No 2 (2019): April 2019 Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 2, No 3 (2018): Edisi Juli 2018 Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018 Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018 Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018 Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018 Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017 Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017 Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017 Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017 Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017 Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017 Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017 Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017 More Issue