cover
Contact Name
M Taufik Rahmadi
Contact Email
taufikrahmadi@unimed.ac.id
Phone
+6281262337575
Journal Mail Official
jurnalgeografi@unimed.ac.id
Editorial Address
Jalan Willem Iskandar Pasar V Medan Estate, 20221, Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Geografi
ISSN : 20858167     EISSN : 25497057     DOI : -
Jurnal Geografi is published as a scientific communication media in the field of Geography Education in particular and Geography in general, as well as other related fields, for faculty members, alumni of Geography Education both from the Faculty of Social Sciences of State University of Medan and alumni of geography from other universities. As a medium of scientific communication, this magazine serves to provide a means of publication for the field of development of concepts and theoretical studies, including actual issues that are relevant in the field of Geography Education in particular and Geography in general. The content of the writing does not have to be in line with the editorial policy. The magazine is published twice a year in February and August and is distributed as a publication for geography education, geography or other related fields. Circulation for the limited circle and enthusiasts can get it by changing the cost of printing and postage.
Articles 324 Documents
PENGENDALIAN KAWASAN WISATA ALAM DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETATARUANGAN Minah Sinuhaji
JURNAL GEOGRAFI Vol 1, No 1 (2009): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v1i1.6365

Abstract

Kawasan wisata alam pada hakekatnya, memiliki potensi tata ruang sebagaikawasan objek wisata alam yang, penyembangannya harus didukung oleh faktorfisik dan faktor sosial. Dalam pemanfaatan kawasan wisata alam dalamkehidupan, pada saat ini, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi, sangat memerlukan pengendalian pemanfaatan ruang secara dini,sebelum merupakan ancaman bagi kehidupan yaitu dengan mengikuti UU No. 24 /1992, tentang penataan ruang. Dalam hal ini yang perlu ditekankan adalah:1. Pengawasan usaha usaha untuk menjaga konsekuensi pemanfatan ruangdengan fungsii ruang yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang2. Penerbitan dalam ketentuan ini adalah usha untuk mengambil tindakan agarpemanfaatan ruang yang direncanakan terwujud.Kata Kunci : Kawasan wisata alam dan ketataruangan
Analisis Zone Agroekologi untuk Strategi Pengelolaan DAS Berkelanjutan Astrid Damayanti
JURNAL GEOGRAFI Vol 5, No 1 (2013): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v5i1.8080

Abstract

Salah satu tujuan pengelolaan DAS terkait dengan upaya produktivitas penggunaan sumberdaya biotik (flora dan fauna) yang berbasis kegiatan pertanian. Agar dapat mendukung kegiatan pertanian secara berkelanjutan, maka perlu menggunakan lahan dengan cara pengelolaan yang sesuai. Makalah ini membahas langkah-langkah strategis pengelolaan DAS dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan produktivitas pertanian yang berkelanjutan. Secara khusus juga dihubungkan dengan penggunaan teknik analisis zone agroekologi untuk mewujudkan tujuan tersebut. Hasil studi literatur ini memperlihatkan bahwa sistem informasi geografi atau teknik penginderaan jauh dapat membantu untuk mengevaluasi sistem produksi yang tepat untuk suatu lahan dan mencari alternatif komoditas untuk diusahakan dengan cepat dan tepat dalam rangka mencari solusi pembangunan pertanian saat ini.Kata kunci: berkelanjutan, DAS, pengelolaan, zone agroekolo.
Kajian Tingkat Pencemaran Air di Kawasan Perairan Danau Toba Desa Silima Lombu Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir Dedy Harianja; Muhammad Ridha Syafii Damanik; Restu Restu
JURNAL GEOGRAFI Vol 10, No 2 (2018): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v10i2.10534

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Kualitas perairan Danau Toba ditinjau dari parameter fisika (suhu, kekeruhan, warna, bau dan rasa), kimia (pH, DO, BOD, COD, Amonia, Nitrat dan fosfat) dan biologi (kelimpahan fitoplankton dan indeks keseragaman) di Desa Silima Lombu Kecamatan Onanrunggu Kabupaten Samosir berdasarkan baku mutu air bersih, (2) Tingkat pencemaran perairan ditinjau dari parameter fisika dan kimia di Danau Toba Desa Silima Lombu dengan menggunakan metode Storet, (3) kualitas perairan Danau Toba ditinjau dari parameter biologi (kelimpahan fitoplankton dan indeks keseragaman) di Danau Toba Desa Silima Lombu. Lokasi penelitian berada di kawasan perairan Danau Toba Desa Silima Lombu. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2017. Populasi penelitian adalah perairan Danau Toba. Penentuan lokasi sampel dilakukan dengan cara purposive sampling dengan menentukan 3 stasiun pengambilan sampel.  Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik pengukuran, teknik observasi dan teknik dokumenter, kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :  hasil pengukuran kualitas perairan Danau Toba di kawasan Desa Silima Lombu yang tergolong normal adalah suhu berkisar 240C-260C, kekeruhan 0,77 NTU-1,90 NTU, warna perairan semakin dekat keramba semakin berubah, semakin dekat dengan keramba bau dan rasa perairan terasa pekat dan bau pakan campur amis ikan, pH 8,4-8,12, DO 8,010 mg/l-8,650 mg/l, amonia 0,08 mg/l – 0,24 mg/l dan nitrat 1,2 mg/l – 5,4 mg/l, dan yang tergolong tinggi BOD 0,990 mg/l-90,76 mg/l, COD 3,093 mg/l-283 mg/l dan fosfat 0,01 mg/l- 0,21 mg/l, dan jika ditinjau dengan menggunakan metode Storet, perairan dikategorikan dikelas C (cemar sedang). Tingkat kesuburan perairan menurut kriteria Soegianto adalah eutrofik (subur) dan pengukuran tingkat pencemaran menggunakan indeks keseragaman fitoplankton adalah 1,125-2,471 termasuk dalam kategori tercemar sedang. Kata kunci : Kualitas perairan, Keramba jaring apung
ANALISIS KADAR HARA PUPUK ORGANIK KASCING DARI LIMBAH KANGKUNG DAN BAYAM Elfayetti Elfayetti; Mahara Sintong; Kamarlin Pinem; L. Primawati
JURNAL GEOGRAFI Vol 9, No 1 (2017): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v9i1.6042

Abstract

Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodeversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah(International Federation of Organic Agriculture Movements,2014). Geografi Pertanian merupakan mata kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unimed. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterapkan di Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unimed merupakan matakuliah wajib pada semester genap, tepatnya pada semester IV (empat). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pertumbuhan berat cacing tanah pada pupuk kascing dari limbah kangkung dan bayam dan untuk mengetahui kandungan hara N, P, K dan pH kascing dari limbah kangkung dan bayam pada tanah ultisol. Untuk mengatasi permasalahan pada pupuk organik, maka harus diupayakan bagaimana memperoleh pupuk yang memiliki unsur hara yang padat dan pengadaannya relatif murah dan mudah. Pemanfaatan limbah organik untuk budidaya cacing tanah merupakan salah satu tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Rendahnya bahan organik, N, P, K menunjukkan bahwa tanah pada percobaan ini membutuhkan bahan organik. Pemberian bahan organik seperti cacing diharapkan dapat meningkatkan Produktivitas Ultisol dimana Kascing mempunyai sifat-sifat kimia, fisika, dan biologi tanah yang baik, sehingga dapat meningkatkan serapan hara dan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Jenis makanan berpengaruh terhadap pertumbuhan cacing tanah dan kualitas kascing yang dihasilkan. 2.Terdapat perbedaaan pada bobot cacing tanah yang dihasilkan dengan adanya perbedaan jenis makanan. Jenis makanan bayam memberikan tingkat pertumbuhan cacing tanah terbaik dengan terjadinya pertambahan bobot sebesar 650 gram yang awalnya hanya 250 gram. 3. Dari beberapa parameter sifat kimia dan biologi kascing, maka jenis makanan bayam memberikan nilai N tertinggi yaitu 0,52 dan pada pakan kangkung terdapatnilai p tertinggi yaitu 0,35.Kata Kunci : pertanian, oganik, pupuk, kascing
PEMETAAN STRUKTUR SITUS COT SIDI ABDULLAH PENINGGALAN KERAJAAN SAMUDERA PASAI BERDASARKAN SEBARAN MODEL RESISTIVITAS Agus Hari Pramana; Faisal Abdullah; Tomi Afrizal; Nazli Ismail
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 2 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i02.17205

Abstract

Metode DC-Resistivity konfigurasi Wenner telah diaplikasikan pada situs cagar budaya Cot Sidi Abdullah (CSA) di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudra Pasai, Kabupaten Aceh Utara. Data geolistrik diukur pada 8 lintasan sejajar dengan spasi lintasan 5 meter dari arah utara - selatan sepanjang situs dan spasi elektroda 0,5 meter. Berdasarkan hasil model penampang 2D diperoleh zona yang bersifat konduktif dengan kisaran nilai resistivitas 0,1 – 80 Ωm dan zona resistif dengan nilai reistivitas berkisar antara 100 – 600 Ωm dengan ketebalan lapisan 1 meter. Keberadaan zona yang relatif konduktif disebabkan oleh adanya intrusi air asin yang terdapat disekeliling daerah itu, yaitu area tambak dan sungai. Sedangkan zona resistif terdapat secara merata di semua lintasan yang umumnya berada di tengah–tengah lintasan dan dapat diprediksikan sebagai bagian dari situs yang tertimbun dibawah permukaan. Zona resistif berupa batu bata yang berada di sekeliling situs dan menahan intrusi air asin masuk ke tengah. Oleh karena itu bangunan Situs CSA diprediksi memiliki luasan sekitar 26 m x 35 m dengan bangunan sekeliling berupa batu bata dengan ketebalan dinding situs 1,5 meter. Sedangkan bagian tengah adalah timbunan pasir yang tidak dipengaruhi oleh air asin.Kata kunci: Metode geofisika, Arkeologi, Cot Sidi Abdullah, Metode DC - Resistivity, Resolusi Model, RekontruksiThe DC-Resistivity method with Wenner configurations was applied to the cultural heritages of Cot Sidi Abdullah (CSA) in Kuta Krueng Village, Samudra Pasai District, North Aceh Regency. Resistivity data were measured on 8 parallel lines with 5 meterline spacing from north to south of the sites and 0.5 meter electrode spacing. The 2D model results show that there are conductive region with the value of resistivity from 0.1-80 Ωm and resistive region with resistivity values ranging from 100 - 600 with a thickness of 1 meter. The existence of the relatively conductive region is caused by the sea water intrusions which is found surrounding the area, such as fish and river areas. However the resistive region is evenly found in all of the lines which are generally located in the middle of line and it was predicted as a part of Cot Sidi Abdullah site buried under the surface. The resistive region is consist of brick wall structures which surrounding the site can hold the sea water intrusions into the center of the sites. Therefore it can be concluded that the CSA Site has 26 m x 35 m areas which is surrounded by the brick structures with 1.5 meters thick. Howeverthe middle part of the site is filled with a sand material that is not affected by salt water.Key words: Geophysics Method, Archaeology, Cot Sidi Abdullah, DC- Resistivity Method, Model Resolution, Reconstruction
Keadaan Desa Balimbingan Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun Walbiden Lumbantoruan
JURNAL GEOGRAFI Vol 3, No 1 (2011): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v3i1.7287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan Desa Balimbingan ditinjau dari matapencaharian, penerapan teknologi baru, pendidikan, sarana dan prasarana serta pengelolaan administrasi. Populasi dalam penelitian ini adalah Desa Balimbingan dan sekaligus sebagai sampel penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni studi dokumenter dan analisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Matapencaharian penduduk di Desa Balimbingan sudah Beraneka ragam yang mayoritas (91,30 %) hidup dari usaha non pertanian (2) Pada umumnya (90%) petani telah menerapkan teknologi baru sehingga produksi padi meningkat dari 3-5 ton/ha menjadi 4-5,8 ton/ha, produksi jagung dari 3-4 ton/ha menjadi 4-4,5 ton/ha,kelapa sawit dari 0,5-1 ton/ha menjadi 0,5-1,6 ton/ha dan kakao dari 0,5-0,75 ton/ha menjadi 0,5-0,96 ton/ha (3) Pendidikan formal penduduk mencapai 69,70 % tamat SD (sudah melebihi standar yaitu 60%). (4) Ketersediaan sarana dan prasarana transportasi serta komunikasi menyebabkan hubungan Desa Balimbingan semakin lancar ke kota Kecamatan Tanah Jawa dan Kota Kabupaten Simalungun, ini diperlihatkan ketersediaan sarana mobil penumpang (30 unit), becak bermotor (225 unit), truk (10 unit), dan prasarana jalan (sepanjang 8 km jalan aspal dan diperkeras) sehingga arus barang dan manusia menjadi lancar. Selain itu juga karena ketersediaan sarana komunikasi televisi (sudah seluruhnya penduduk memanfaatkannya), radio (800 unit), handphone (600 unit), telepon rumah (120 unit) dan wartel (7 unit) sehingga mereka lebih akses terhadap perubahan, (5) Pengelolaan desa oleh setiap perangkat desa sudah terlaksana sesuai dengan tugasnya atau sistim administrasi telah berjalan dengan baik. Dengan demikian Desa Balimbingan ditinjau dari matapencaharian, penerapan teknologi baru, pendidikan, sarana dan prasarana serta pengelolaan administrasi tergolong desa swasembada.Kata Kunci : Desa Balimbingan, Desa Swasembada
Kajian Pelaksanaan Program Rehabilitasi Hutan Mangrove Pasca Tsunami Di Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Meilinda Suriani; Bahagia Bahagia
JURNAL GEOGRAFI Vol 4, No 1 (2012): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v4i1.7932

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kajian pelaksanaan program rehabilitasi hutan mangrove pascatsunami di Kecamatan Baitussalam. Penelitian dilakukan melalui perangkat observasi lapangan, wawancara dan kuisioner. Populasi pada penelitian ini adalah pemerintah dan masyarakat yang berada di Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh besar. Hasil penelitian lapangan masyarakat pada Kecamatan Baitusalam, bahwa peranan pemerintah pada program rehabilitasi hutan mangrove sebagai upaya penanggulangan bencana alam gempa dan tsunami yang lebih besar didukung oleh lembaga donor atau NGO yang mengalokasikan dana program rehabilitasi dari negara donor pada wilayah penelitian. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove pasca tsunami sangat tinggi. Hal ini didukung adanya trauma yang dialami oleh masyarakat yang menganggap bawha akibat kerusakan ekosistem mangrove menyebabkan dampak bencana alam gempa dan tsunami yang besar  menimpa wilayah penelitian. Dari perhitungan persentase masyarakat untuk melaksanakan program rehabilitasi mangrove di Kecamatan Baitussalam diperoleh tingkat partisipasi yang sangat baik sebesar 81,56 %. Hal ini mengisyaratkan bahwa besarnya keinginan untuk berpartisipasi masyarakat pada program rehabilitasi hutan mangrove di Kecamatan Baitussalam disebabkan oleh kebutuhan yang mendasar terhadap penanggulangan kerusakan hutan mangrove akibat bencana alam gempa dan tsunami yang menyebabkan trauma yang mendalam pada masyarakat. Kata kunci : Rehabilitasi hutan mangrove, pasca tsunami, partisipasi masyarakat.
Pola Keruangan Budaya Oloh Salam Masyarakat Kalimantan Tengah dengan Pendekatan Geospasial Evi Fitriana
JURNAL GEOGRAFI Vol 10, No 1 (2018): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v10i1.7988

Abstract

 AbstrakIslam masuk ke Indonesia mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal. Proses penyampaian islam dengan cirinya yang apresiatif dengan budaya lokal serta memihak dengan warga setempat menyebabkan Islam diterima sebagai agama baru. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan budaya Oloh Salam, kebudayaan lokal suku Dayak, sejarah persebaran islam di Kalimantan Tengah dan deskripsi budaya Oloh Salam. Oloh salam adalah orang-orang Dayak yang memilih memeluk agama Islam namun masih terdapat sisa-sisa kepercayaan primitif tercampur dengan unsur-unsur agama Islam. Beberapa aspek budaya oloh salam yang khas meliputi upacara kehidupan disebut juga gawi belum dan upacara kematian atau gawi matei serta aspek seni. Kekhasan ini merupakan keunikan tersendiri bila ditinjau berdasarkan letak geografisnya yaitu di Pulau Kalimantan. Metode penelitian menggunakan studi pustaka, data dan informasi kemudian diolah mengunakan pendekatan geospasial dengan overlay peta. Hasil overlay menjelaskan pola keruangan budaya Oloh Salam membentuk pola memanjang sungai dan pantai. Hal ini menunjukkan bahwa persebaran islam dimulai dari pesisir kemudian berlayar melalui sungai untuk memperluas ajaran islam khususnya di Kalimantan Tengah. Kata kunci: budaya, Oloh Salam, pola keruangan AbstractIslam entry into Indonesia is able to adapt to local culture. The process of conveying Islam with cultural approach makes Islam readily accepted by local communities. Islam that is appreciative with local culture and taking sides with local people causes Islam to be accepted as a new religion. This Study aims to determine the spatial pattern Oloh Salam culture, local culture of Dayak, history of the Islamic spread in Central Kalimantan, and definition of Oloh Salam culture. Dayak’s culture in Central Kalimantan who has follow Islamic religion is called Oloh Salam. The conversion process of Dayak etnic from their religion become Islam is the impact of the opening of river routes from upstream to downstream. Some typical cultural aspects include the ceremony of life is also called gawi and death ceremony or gawi matei. The research method used in the literature study, data and information obtained then processed using geospatial approach by overlaying the map. The results showed that the spatial pattern of the Oloh Salam culture formed a longitudinal pattern of rivers and beaches. This proves that, the spread of Islam began in the coastal areas then sailed through the river channel to expand the spread of Islam to spread to remote areas especially in Central Kalimantan. Key words: spatial pattern, culture, Oloh Salam 
ANALISIS PERSEBARAN INTRUSI AIR LAUT PADA AIRTANAH FREATIK DI DESA RUGEMUK KECAMATAN PANTAI LABU KABUPATEN DELI SERDANG Nahor M Simanungkalit; Walbiden Lumbantoruan
JURNAL GEOGRAFI Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Geografi
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v8i2.5778

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui salinitas airtanah oleh intrusi air laut pada aqifer air tanah freatik di Desa Rugemuk (2) Mengetahui ketinggian batasan antara air tawar dan air asin (zona interface ) pada air tanah di Desa Rugemuk, (3) Mengetahui sebaran intrusi air laut pada aqifer airtanah freatik melalui sumur penduduk di Desa Rugemuk.Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rugemuk. Populasi dari penelitian ini adalah air tanah di Desa Rugemuk, dengan sumur gali sebagai sumber data. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik acak sistematis random (systematic random sampling) yaitu sebanyak 27 sumur gali mewakili 27 grid (bujur sangkar) 2 cm x 2 cm.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, studi dokumenter, dan teknik pengukuran. Teknis analisis data yaitu dengan teknis analisis deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Intrusi air laut pada air tanah freatik di Desa Rugemuk memiliki nilai salinitas yang bervariasi berkisar 0,9 – 3,55 g/l. Salinitas berbahaya (kadar garam > 2,1 %o) berkisar 40,74 % , salinitas meragukan (kadar garam 0,525 – 1,4 %o) berkisar 22,23 %, dan salinitas diizinkan (kadar garam 0,525 – 1,4 %o) berkisar 37,03 %. (2) Keadaan zona interface di Desa Rugemuk masih dalam kondisi yang seimbanga (masih jauh dibawah muka air tanah yaitu berkisar 16 s/d 179,2 m). (3) Persebaran intrusi airlaut di Desa Rugemuk bervariasi, ditandai dengan perbedaan kadar garam pada jarak geometrik yang sama dari garis pantai.Kata Kunci : Intrusi Air Laut, Interface, Sebaran Intrusi Air Laut
Fenomena Migrasi Dan Urban Bias di Indonesia Nasrullah Hidayat
JURNAL GEOGRAFI Vol 12, No 1 (2020): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v12i01.16236

Abstract

AbstactPenulisan ini bertujuan mengkaji feneomena migrasi di Indonesia. Maraknya urbanisasi dalam artian migrasi pun menyebabkan kerugian baik untuk desa maupun untuk kota, hanya dalam waktu 20 tahun penduduk kota bertambah hampir 50%, sebaliknya setengah penduduk desa sekarang mengalami perubahan menjadi penduduk kota. Pada tahun 2005 jumlah penduduk kota sebesar  47,9% sementara pada tahun 2025 jumlah  penduduk kota diprediksikan akan meningkat menjadi 68% Meningkatnya urbanisasi membuat kemiskinan terkonsentrasi di kota,akan tetapi hal ini terjadi karena adanya pandangan masyarakat desa bahwa kota merupakan harapan nyata dalam memutus rantai kemiskinan kemiskinan. Terjadinya migrasi diperkotaan atau ( urbanisasi) tidak akan menjadi masalah jika pemerintah dari kota-kota tujuan para migran mampu menciptakan lapangan kerja dan fasilitas publik yang mencukupi. Namun bila saja daya dukung kota sebagai suatu tempat publik sudah berada pada level yang kritis , maka pememrintah melalui berbagai macam kebijakannnya perlu turun tangan guna mengurangi dampak buruk dari urbanisasi tersebut. Urbanisasi berlebih perlu dikendalikan agar tidak berkembang makin liar dan semakin membebani kota-kota tujuan kaum migran.Kata kunci: Fenomena, Migrasi, Urban BiasThe Study purpose to discuss the migration phenomenon in Indonesia. The rise of urbanization in the sense of migration also causes losses both for villages and for cities, in just 20 years increased by almost 50%, on the contrary half the village population is now becoming residents of the city. In 2005 the population of the city was 47.9% while in 2025 the population of the city was predicted to increase to 68%. Increased urbanization made poverty concentrated in the city, but this happened because of the view of the village community that the city represented the best hope for getting out of poverty. The occurrence of urban migration or (urbanization) will not be a problem if the government of the destination cities of migrants is able to create adequate employment and public facilities. But if the carrying capacity of the city as a public place is at a critical level, the government through various policies needs to intervene to reduce the adverse effects of urbanization. Excessive urbanization needs to be controlled so that it does not grow wilder and increasingly burden cities of migrants.Key words: Phenomenon, Migration, Urban Bias

Page 7 of 33 | Total Record : 324