cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
Analisis Tafsir Maqāṣidī Muḥammad Ṭāḥir bin ‘Āsyūr Pada Ayat Qiṣāṣ Rohman, Abdul; Zulaiha, Eni; Taufiq, Wildan
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.13195

Abstract

AbstractThis paper discusses the concept of maqāṣidī Ibn 'Asyūr's interpretation and its implementation in qiṣāṣ verses. The purpose of this paper is to find out the construction of maqāṣidī Ibn 'Āsyūr's interpretation and the implementation of the interpretation of the qiṣāṣ verses in the Qur'an. The method used is descriptive analysis with literature study. The analytical approach used is the Jasser Audah systems approach. The result obtained is that the maqāṣidī interpretation constructed by Ibn 'Āsyūr is generally oriented towards achieving benefit and rejecting damage. Its achievement is based on the realization of safeguarding the five most basic things, namely protecting religion, soul, lineage, property, and mind; This benefit is realized in three forms of maqāṣid, namely maqāṣid 'ām (general), maqāṣid khāṣṣ (special) and maqāṣid juziyyah (partially); Implementation of the interpretation of the maqāṣidī Ibn 'Āsyūr concept in the verse qiṣāṣ results in an interpretation that qiṣāṣ law has five main objectives (maqāṣid), namely enforcing fair laws, preventive goals, nuanced equality, protecting life and creating stability and security of society.Keywords: Ibn ‘Āsyūr; Interpretation of Maqāṣidī; Qiṣāṣ. AbstrakTulisan ini membahas tentang konsep tafsir maqāṣidī Ibn 'Asyūr dan implementasinya pada ayat-ayat qiṣāṣ. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui konstruksi tafsir maqāṣidī Ibn 'Āsyūr dan implementasi penafsiran pada ayat-ayat qiṣāṣ dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan studi pustaka. Pendekatan analisis yang digunakan adalah pendekatan sistem Jasser Audah. Hasil yang didapatkan adalah bahwa tafsir maqāṣidī yang dikonstruksikan oleh Ibn 'Āsyūr pada umumnya berorientasi pada pencapaian kemaslahatan dan penolakan pada kerusakan. Pencapaiannya didasarkan pada terjaganya lima hal yang paling mendasar, yaitu menjaga agama, jiwa, keturunan, harta dan akal; kemaslahatan ini diwujudkan dalam tiga bentuk maqāṣid, yaitu maqāṣid 'ām (umum), maqāṣid khāṣṣ (khusus) dan maqāṣid juziyyah (sebagian); Implementasi penafsiran konsep maqāṣidī Ibn 'Āsyūr dalam ayat qiṣāṣ menghasilkan tafsir bahwa hukum qiṣāṣ memiliki lima tujuan utama (maqāṣid), yaitu menegakkan hukum yang berkedilan, tujuan preventif, bernuansa persamaan hukum, melindungi kehidupan serta menciptakan stabilitas dan keamanan masyarakat. Kata Kunci: Ibn ‘Āsyūr; Qiṣāṣ; Tafsir Maqāṣidī.
Rekontruksi Ajaran Sufistik Era Medsos (Kajian Konsep Zuhud) Wijaya, Roma
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.13768

Abstract

AbstractThe dynamics of contemporary phenomena that occur today are so many of the emergence of the moral degradation of spirituality. With the development of technology, the doctrine of Sufism has been adjusted so that it can be accepted by the general public and becomes a counter to the negative impacts of social media so that it can be interpreted in the era of social media. This study explores the concept and contextualization of zuhud. Through the descriptive and interpretative analysis method, the analysis describes the basic meaning of the concept of zuhud, then looks at its development and is related to the era of social media. The sources used are various studies on zuhud in journals, books, and so on, as well as the elaboration of references on digital technology, especially social media platforms. The results of this study are first the meaning of zuhud, which is defined as a spiritual capital that is not excessive. Second, the contextualization of zuhud is understood in the era of the development of information technology, especially social networking platforms, it means social media as needed.Keywords: Contextualization; Social media; Zuhud concept.AbstrakDinamika fenomena kekinian yang terjadi saat ini begitu banyak munculnya degradasi moral spiritualitas. Dengan berkembangnya teknologi, ajaran tasawuf telah disesuaikan agar dapat diterima oleh masyarakat luas dan menjadi counter terhadap dampak negatif media sosial sehingga dapat dimaknai di era media sosial. Kajian ini mengeksplorasi konsep dan kontekstualisasi zuhud. Melalui metode analisis deskriptif dan interpretatif, analisis tersebut mendeskripsikan makna dasar dari konsep zuhud, kemudian melihat perkembangannya dan dikaitkan dengan era media sosial. Sumber yang digunakan adalah berbagai kajian tentang zuhud dalam jurnal, buku, dan sebagainya, serta penjabaran referensi tentang teknologi digital khususnya platform media sosial. Hasil penelitian ini pertama adalah pengertian zuhud yang diartikan sebagai modal spiritual yang tidak berlebihan. Kedua, kontekstualisasi zuhud diaplikasikan di era perkembangan teknologi informasi, khususnya platform jejaring sosial, artinya media sosial sesuai kebutuhan yang adaptabel.Kata Kunci: Kontekstualisasi, Konsep zuhud, Media sosial.
Silsilah Sanad Qirā’āt Syaikh ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī Dalam Tafsir Turjumān al-Mustafīd Nailul Huda, Ade; Amnar, Akhyar
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.13857

Abstract

AbstractThis research seeks to uncover the origins of sanad qirā’āt Syekh ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī, which he used in Tafsir Turjumān al-Mustafīd. Abd Raūf al-Sinkilī did not mention any qirā’āt allusions in Tafsir Turjumān al-Mustafīd. This finding demonstrates that al-Sinkilī obtained qirā’āt through talaqqi or musyāfahah directly from his masters rather than through commentary books. The research is qualitative and employs library research methods as well as historical methodologies. A descriptive analysis is used to describe the data. The findings of this investigation showed that the genealogy of sanad qirā’āt owned by ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī was obtained from his master named Ibrāhim al- Kuranī and proceeded to Imam Zakariā al-Anshārī, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, and Imam Jalāl al-Dīn al-Mahallī.Keywords: Al-Sinkili; Sanad Qiraat; Turjumān al-Mustafīd. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap silsilah sanad qirā’āt Syekh ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī yang digunakannya dalam Tafsir Turjumān al-Mustafīd. Dimana Abd Raūf al-Sinkilī tidak menyebutkan satupun rujukan qirā’āt yang digunakan dalam Tafsir Turjumān al-Mustafīd. Ini menunjukkan bahwa al-Sinkilī mendapatkan qirā’āt melalui talaqqi atau musyāfahah langsung dari guru-gurunya, bukan merujuk dari kitab-kitab tafsir. Jenis penelitian dalam artikel ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode library research dan pendekatan historical approach. Adapun data diuraikan secara deskriptif analisis. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa silsilah sanad qirā’āt yang dimiliki ‘Abd al-Ra’ūf al-Sinkilī didapat melalui gurunya Ibrāhim al- Kuranī dan bersambung kepada Imam Zakariā al-Anshārī lalu Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalānī dan Imam Jalāl al-Dīn al-Mahallī.Kata Kunci: Al-Sinkili; Sanad Qira’at; Turjumān al-Mustafīd.
Antropomorfisme Yahudi Dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Klasik dan Modern) Ramadani, Bayu Rindy; Muttaqein, Ahmad; Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.13898

Abstract

AbstractThis research seeks to interpret the verses that show the attitude anthropomorphism towards God. Because Jews are the most fiercely opposed to Islam and have a great hostility toward Islam, this study tries to understand the verses that reflect the attitude of Jewish anthropomorphism towards God. The library research method was combined with the Maudhu'i methodology in this study. Researcher employs content-analysis techniques to get a valid conclusion based on the object of study. As a result of this research, Jews believe Allah is a God who is stingy and parsimonious since Allah's hands are bound, so that can conclude from this study that when we come across verses like this, not not interpret them the way Jews do. But must communicate its latent meaning through diverse interpretation methods so its explicit meaning does not stick to usKeywords: Anthropomorphism; Attitude; Yahudi. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meinterpretasikan ayat-ayat yang menunjukkan sikap antropomorfisme Yahudi terhadap Allah. Sebab Yahudi adalah yang paling keras menentang Islam dan kental permusuhannya dengan Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan maudhu’i. Peneliti menggunakan teknik content-analys untuk dapat menarik suatu kesimpulan yang valid berdasarkan objek kajian. Hasil dari penelitian ini ialah kalangan Yahudi berasumsi bahwa Allah adalah Tuhan yang kikir, pelit, sebab tangan Allah telah terbelenggu, sehingga dapat disimpulkan bahwa tatkala bertemu dengan ayat-ayat seperti ini, jangan memahaminya sebagaimana kalangan Yahudi memahami. Akan tetapi harus mengungkapkan makna implisitnya dengan berbagai metode tafsir, sehingga kita tidak terjebak kedalam makna eksplisitnya. Kata Kunci: Antropomorfisme; Sikap; Yahudi.
ANALISIS MAKNA HURUN ‘IN DALAM AL-QUR’AN (KAJIAN TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Malia, Hayuni; Atmi, Syifaun Nufus
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171556700

Abstract

AbstractGenerally, the meaning of the word hurun ‘in as an expression for angel is limited to the denotation meaning, so it tends to be sensual, matrealistic and discriminatory that refers to one gender. Therefore, the purpose of this research is to reveal the connotative (broader) meaning of angels expressed by the word hurun ‘in. This research use Roland Barthes’ semiotic theory as an analytical tool to review the concept of angels in the Qur’an. in order to find the full meaning of the word hurun ‘in. The Result of the research, the hidden (connotative) meaning of the word hurun ‘in in the Qur’an was discovered. The Qur’an does not mention angels limited to a female figure who has absolute beauty. Angels are not only created for male believers. However, it is also intended for female believers, as an imbalance for the provisions they prepare when in the world. Allah made angels as a sign of love for servants who are faithful to maintain the perfection of love for Him, who always enrich their faith, and strengthen their devotion to Allah SWT. Therefore, the interpretation of hurun ‘in cannot be limited to the literal meaning, a deeper exploration is needed to reveal the true meaning, so that gender bias does not occur.Keywords: Al-Qur’an; Hurun ‘in, Roland Barthes. AbstrakUmumnya pemaknaan terhadap kata hurun ‘in sebagai ungkapan untuk bidadari sebatas pada makna denotasi, sehingga cenderung sensual, bersifat matrealistis dan diskriminatif yang mengacu pada salah satu gender. Atas dasar itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna yang konotatif (yang lebih luas) dari bidadari yang diungkapkan dengan kata hurun ‘in. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Bartehs sebagai pisau analisis untuk meninjau kembali konsep bidadari dalam al-Qur’an, dalam rangka pencarian makna yang utuh terkait kata hurun in. Hasil penelitian, ditemukan makna yang tersembunyi (konotatif) dari kata hurun ‘in dalam al-Qur’an. Al-Qur’an tidak menegaskan bidadari terbatas pada sosok perempuan pemilik kecantikan yang mutlak, bidadari tidak hanya diciptakan untuk laki-laki mukmin. Akan tetapi, juga diperuntukkan bagi perempuan beriman, sebagai sebuah imbalan atas bekal yang mereka persiapkan ketika di dunia. Allah menjadikan bidadari sebagai tanda kasih bagi hamba-hamba yang istiqamah menjaga keindahan cinta kepadaNya, yang senantiasa memperindah iman, dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Oleh karenanya, pemaknaan terhadap hurun ‘in tidak bisa hanya sebatas pada makna literal, diperlukan penelusuran lebih mendalam untuk mengungkap makna yang sebenarnya, agar tidak terjadi bias gender. Kata Kunci: Al-Qur’an; Hurun ‘in, Roland Barthes.
Aplikasi Semiotika Roland Barthes terhadap Makna Takwa dalam QS. al-Hajj [22]: 37 falah, zulfikar; rohmah, miftahur
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.15834

Abstract

AbstractThis article examines how Roland Barthes' semiotics can be used to understand the meaning of piety in QS. Al-Hajj: 37. The author's background involves the application of the definition of piety as it pertains to the role of the physical and spiritual as it has existed in humans. This study aims to ascertain the true meaning of the word "piety" as it appears in QS. Al-Hajj: 37 from a semiotic standpoint. The descriptive analysis used in this article's research was discovered through library research. Before helping one comprehend how Roland Barthes' semiotics can be applied to the meaning of piety in QS. Al-Hajj: 37. Following a description of Roland Barthes' semiotic theory, the author then discusses the meaning of "piety" in the Qur'an. When Roland Barthes' semiotics are applied to parse the meaning of piety in QS, it leads to the conclusion that there are two levels of the signification of Al-Hajj: 37. In summary, the relational interpretation between the signifiers lafaz al-taqwa and al-wiqayah has been known to be central to the denotative and connotative meanings of piety.Keywords: QS. al-Hajj: 37; Roland Barthes; Semiotics; The meaning of piety. AbstrakArtikel ini menganalisa tentang aplikasi semiotika Roland Barthes terhadap makna takwa dalam QS. al-H{ajj: 37. Latar belakang yang diambil penulis adalah implementasi makna takwa yang disebutkan telah melibatkan peran jasmani dan rohani sebagaimana telah bersemayam dalam diri manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna hakiki terma takwa pada QS. al-H{ajj: 37 perspektif semiotika Roland Barthes. Metode penelitian dalam artikel ini menggunakan deskriptif analisis yang diperoleh melalui library research. Sebelum mengarah kepada pemahaman perihal aplikasinya semiotika Roland Barthes terhadap makna takwa dalam QS. al-H{ajj: 37, penulis memaparkan dahulu terkait teori semiotika Roland Barthes, dilanjutkan pembahasan terma takwa dalam al-Qur’an. Sehingga menghasilkan bahwa terdapat dua tingkatan signifikasi pada pengaplikasian semiotika Roland Barthes dalam mengurai makna takwa dalam QS. al-H{ajj: 37. Singkatnya, makna denotatif dan konotatif makna takwa telah diketahui terfokus pada interpretasi relasional antara lafaz al-taqwa> sebagai penanda dan al-wiqa>yah sebagai petanda. Kata Kunci: Makna takwa; QS. al-H{ajj: 37; Roland Barthes; Semiotika.
Tafsir Kesedihan: Solusi Al-Qur’an Terhadap Problem Al-Huzn dalam Kehidupan Zulfikar, Eko; Iskandar, Iskandar
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.15962

Abstract

AbstractThis article aims to find out the solutions offered by the Qur’an in overcoming al-H{uzn (sadness) that afflicts human life. But before revealing it, the author explains in advance the factors that led to the emergence of al-H{uzn according to the Qur’an. By using a descriptive analytical thematic method, the author concludes that the meaning of al-H{uzn in the Qur'an is a feeling of sadness experienced by a person that can have a positive or negative effect on his life. The factors that cause the emergence of al-H{uzn according to the Qur’an are feelings of fear, misfortune and poverty. The Qur'an also provides a solution to eliminate the sadness that permeates human life, namely by being patient, establishing prayer, always istiqa>mah, fearing Allah, dhikr to Him, and multiplying infaq. These five solutions can be used as guidelines as well as normative foundations by Muslims so that in life they avoid sadness and worryKeywords: Al-H{uzn, al-Qur'an, life, solution, interpretation AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui solusi yang ditawarkan al-Qur’an dalam mengatasi al-H{uzn (kesedihan) yang menghinggapi kehidupan manusia. Namun sebelum mengungkapnya, penulis menerangkan terlebih dahulu faktor-faktor yang menyebabkan munculnya al-H{uzn menurut al-Qur’an. Dengan menggunakan metode tematik secara deskriptif analitis, penulis menyimpulkan bahwa makna al-H{uzn dalam al-Qur’an adalah perasaan sedih yang dialami seseorang yang dapat berpengaruh positif maupun negatif dalam kehidupannya. Adapun faktor yang menyebabkan munculnya al-H{uzn menurut al-Qur’an adalah perasaan takut, mendapat musibah dan kemiskinan. Al-Qur’an juga memberikan solusi untuk menghilangkan kesedihan yang menyelami kehidupan manusia, yaitu dengan bersabar, mendirikan shalat, senantiasa istiqa>mah, bertakwa kepada Allah, berzikir kepada-Nya, dan memperbanyak infak. Lima solusi ini dapat dijadikan pedoman sekaligus landasan normatif oleh umat Islam agar dalam menjalani hidup terhindar dari kesedihan dan kerisauan.Kata Kunci: Al-H{uzn, al-Qur’an, kehidupan, solusi, tafsir
Bantahan Sunni Terhadap Syiah Tentang Ketidak Keadilan (‘Adalah) Sahabat Zumaro, Ahmad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.16013

Abstract

AbstractThe objective of this study is to evaluate the suitability of Shia and Sunni's respective justifications for the companions. This study uses a hermeneutic approach and a qualitative library research design. The findings of this study support the Shia belief that companions can be any person, whether or not they are Muslims and regardless of their moral behavior. Shia also holds that the companions who do not name and reject Ali as caliph have betrayed the Prophet's wishes and are committing an act of injustice. The Sunni viewpoint, in contrast to the Shia belief, holds that the Companions were all just because they were chosen as believers to defend and propagate the Islamic teachings, and the Companions did not betray the Prophet regarding the leadership of 'Ali (a.s.) when the Prophet said at Ghadir Khum.Keywords: ‘Adalah; Ahlussunnah; Shia.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesusuaian dalil yang digunakan Syiah maupun Sunni dalam menetapkan keadilan sahabat. Peneletian ini merupakan penelitian kualitatif library research dengan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Syiah memandang bahwa sahabat adalah semua orang baik yang beragama Islam maupun tidak dan berbuat baik ataupun maksiat. Selain itu, Syiah juga meyakini bahwa sahabat yang tidak mengangkat dan mengingkari Ali sebagai khalifah telah menghianati wasiat Nabi saw. dan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan sahabat. Berbeda dengan keyakinan Syiah, Sunni berpandangan bahwa sahabat seluruhnya adil, sebab mereka adalah orang mukmin yang terpilih untuk memperjuangkan dan menyebarkan ajaran agama Islam. Dan para sahabat tidak berkhianat kepada Nabi saw. mengenai kepemimpinan Ali ra. saat Nabi saw. berkata di Ghadir Khum. Kata Kunci: ‘Adalah sahabat; Ahlussunnah; Syiah.
Problematika Tafsir Al-Qur’an di YouTube: Pendakwah Online Indonesia dan Pemahamannya atas Covid-19 Baihaqi, Yusuf; Matin, Abdul; Kusnadi, Kusnadi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.16756

Abstract

AbstractYouTube as a social media video platform that is easily accessible and has a wide reach, is often used to share ideas and thoughts, more so when the Corona pandemic hit the world, including preachers. This article examines the interpretation of preachers on YouTube media about Covid-19. This article employed the descriptive analysis, where the author examined online da'wah material on YouTube, specifically focusing on their Qur'anic interpretation of Covid-19 to be analyzed based on the Qur'anic language approach and interpretation principles. The study of the online Qur'anic interpretation material shows that there are problems with online preachers in interpreting the Qur'an as their response to the Covid-19 outbreak. The author identifies two main factors contributing to the birth of these problems: 1) a partial and non-integrative understanding of the Qur'anic text and 2) limited mastery of the Qur'anic language.Keywords: Covid-19; Interpretation of the Qur'an in Indonesia; Online Dakwah; Problems; YouTube.AbstrakKeberadaan YouTube sebagai sebuah platform video media sosial yang mudah diakses dan memiliki jangkauan yang luas, kerap digunakan untuk berbagi ide, gagasan dan pemikiran, lebih lagi disaat pandemi Corona melanda dunia, tidak terkecuali para pendakwah. Artikel ini mengkaji seputar penafsiran para pendakwah di media YouTube seputar Covid-19. Dalam artikel ini metode yang digunakan adalah deskriptif analitis, penulis menguji materi dakwah online di YouTube, dengan secara khusus fokus kepada penafsiran al-Qur’an mereka atas Covid-19, kemudian menganalisanya berdasarkan pendekatan bahasa al-Qur’an dan kaidah penafsirannya. Kajian atas materi tafsir al-Qur’an online tersebut menunjukkan bahwa terdapat problematika pada pendakwah online dalam menafsirkan al-Qur’an sebagai respon mereka atas wabah Covid-19. Penulis mengindentifikasi dua faktor utama yang berperan menyebabkan lahirnya problematika tersebut. Pertama, pemahaman yang bersifat parsial dan tidak integratif terhadap teks al-Qur’an. Kedua, keterbatasan dalam penguasaan bahasa  al-Qur’an.Kata Kunci: Covid-19; Dakwah Online; Problematika; Tafsir Al-Qur’an di Indonesia; YouTube.
Kepahitan Hidup Maryam dalam Kisah Al-Qur’an Masykuroh, Siti; Yana, Rina; Isnaeni, Ahmad; Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.16772

Abstract

AbstractMaryam Binti Imran is a revered female who Allah selected as the only female sanctified by Him and the best female. Allah tried Maryam during the period of her life that is chronicled in the Qur'anic narrative because it is so bitter. The study aims to shed light on Maryam's life stages throughout her lifetime. This study is descriptive and analytical through pure literature, focusing on discussing bitter moments in Maryam's life as described in the Qur'an. According to the study's findings, Maryam's long period of bitterness was an effort on Allah's part to get her ready to share in His Majesty. The first step in the preparation was accepting her mother's vow and selecting Zakaria as her best caregiver, who taught her about taqwa and preserving her purity. Allah's extensive preparations for the birth of the extraordinary figure known as Isa was aimed at Maryam's pregnancy and her extraordinary labor.Keywords: Maryam; Quranic story; Tribulation. AbstrakMaryam Binti Imran adalah sosok seorang perempuan langit yang dipilih Allah sebagai perempuan terbaik dan menjadi satu satunya perempuan yang disucikan oleh Allah. Bentangan kehidupan Maryam sebagaimana digambarkan dalam kisah al-Qur’an begitu sarat dengan kepahitan, Allah mengujinya dengan kepahitan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fase-fase kehidupan Maryam semasa hidupnya. Kajian ini bersifat deskriptif analitis melalui kepustakaan murni, yang menfokuskan bahasan pada episode-episode kepahitan dalam bentangan kehidupan Maryam sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an. Temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa bentangan kepahitan yang dihadapi Maryam adalah cara Allah mempersiapkan Maryam untuk menjadi sebagian dari tanda kebesaran-Nya. Persiapan dimulai sejak diterima-Nya nadzar sang ibunda dan dipilihnya pengasuh terbaik-Zakaria- yang mengajarkannya tentang taqwa dan terjaganya kesucian pribadinya. Kehamilan Maryam dan persalinan yang luarbiasa adalah tujuan dari semua persiapan panjang yang Allah bentangkan untuk lahirnya sosok luar biasa yaitu Isa.Kata Kunci: Kepahitan Hidup; Kisah Al-Qur’an; Maryam.

Page 11 of 15 | Total Record : 149