cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
Makna Kadhib dalam QS. Ali Imran [3]: 94 Perspektif Tafsir Fath al-Qadir Karya al-Shawkani Nur Falah, Muhammad Zulfikar; an-Najaa, Sarah Safinah
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.17626

Abstract

AbstractThis article explicitly reveals the meaning of "kadhib" in QS. A<li Imra>n [3]: 94 from the perspective of the Fath al-Qadir interpretation. This is based on the background that the term regarding lying is an interesting discussion, fundamentally conducted for hidden purposes that can only be known by the individual themselves. This research employs a descriptive analytical method through literature review with relevant and credible sources such as books, journals, theses, and others. Before exploring the content of the Quran, the author discusses the biography of al-Shawkani and the profile of his tafsir book. The results of this study indicate that the context of QS. A<li Imra>n [3]: 94, according to the Fath al-Qadir interpretation, is actualized in relation to the characteristics of the Jewish people. Although not specifically explained, al-Shawkani interprets the word "kadhib" in QS. A<li Imra>n [3]: 94 as a lie committed intentionally, and the implications of his statement lean more towards an element of inconsistency with the essence behind reality.Keywords: Kadhib; QS. A<li Imra>n [3]: 94; Tafsir Fath} al-Qadi>r. AbstrakArtikel ini mengungkap secara eksplisit tentang makna kadhib dalam QS. A<li Imra>n [3]: 94 perspektif tafsir Fath} al-Qadi>r. Hal ini diambil melalui latar belakang bahwa terma perihal berbohong menjadi salah satu pembahasan menarik, yang pada dasarnya dilakukan atas dasar tujuan tersembunyi dan tidak dapat diketahui selain dirinya sendiri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis melalui penelusuran pustaka dengan sumber yang relevan dan kredibel seperti buku, jurnal, skripsi, dan lainnya. Sebelum mengeksplorasi isi Al-Qur'an, penulis membahas biografi al-Shawkani dan profil kitab tafsirnya. Hasil penelitian ini adalah konteks pada QS. A<li Imra>n [3]: 94, menurut tafsir Fath} al-Qadi>r, diaktualisasikan kepada sifat kaum Yahudi. Meskipun tidak dijelaskan secara spesifik, al-Shawkani memaknai kata kadhib dalam QS. A<li Imra>n [3]: 94 dengan kebohongan yang dilakukan secara sengaja dan implikasi pernyataannya lebih mengarah kepada unsur ketidaksesuaian terhadap hakikat dibalik realitas. Kata Kunci: Kadhib; QS. A<li Imra>n [3]: 94; Tafsir Fath} al-Qadi>r.
Madzhab Kualitas Ashahhul Asanid Prespektif Imam al-Dhahabi fransiska, Nanda; Arianti, Vira Dindia; Muhid, Muhid; Nurita, Andris
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171812100

Abstract

AbstractThis article is specifically for knowing hadith narrators in their capacity as narrators, so their study is included in the field of Rijal al-Hadith science. In further discussion, from this branch of knowledge emerged the science of al-Jarh wa al-Ta'dil and the science of Tarikh al-Ruwah. namely the sciences that discuss the credibility, personal integrity and intellectual capacity of the narrators as well as living history (biography). In collecting data, the library research method was used (library). And this research is included in descriptive qualitative research with a literature review approach. This study attempts to discuss more deeply the thoughts of Imam al-Dhahabi> on hadith critics.Keywords: Asanid Hadith; Hadith criticism; Imam al-Dhahabi.AbstrakArtikel ini khusus untuk memperoleh kajian ashahhul ashanid hadis yang membahas perawi hadis dalam kepasitasnya sebagai perawi, maka kajiannya termasuk dalam bidang ilmu Rijal al-Hadis. Dari cabang ilmu ini muncul al-Jarh wa al-Ta’dil dan ilmu Tarikh al-Ruwah yakni ilmu-ilmu yang membahas tentang kreadibilitasnya, integritas pribadi dan kapasitas intelektual para perawi serta sejarah hidup (biografi). Sehingga tujuan dari peneliti untuk menemukan kualitas ashahhul ashanid menurut prespektif imam al-Dhahabi>. Penelitian ini masuk ke dalam metode penelitian kualitatif diskriptif dengan pendekatan kajian pustaka. Dalam pengumpulan data digunakan metode library reseach (kepustakaan). Penelitian ini lebih memfokuskan mengenai pemikiran imam al-Dhahabi> pada kualitas tingkatan kesahihan perawi hadis.Kata Kunci: Asanid Hadis; Imam al-Dhahabi>; Kritik Hadis
Kontekstualisasi Hadis dalam Penggunaan Parfum Heriansyah, Dafis; Hasanah, Uswatun; Nur, Sulaiman Mohammad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171830600

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to discuss the contextualization of hadith in the use of perfume today. This study uses a qualitative research design with the type of data library research (library) from the Kutubus Sittah book. The results obtained from this research are that the recommendation for the use of perfume for men is the sunnah of muakkad. If contextualized, the use of perfume is not only in prayer but is also recommended outside of prayer. Meanwhile, if we contextualize the prohibition on the use of perfume for women, the prohibition is not absolute and adapts to the surrounding environmental conditions. However, when you are outside the house and meet lots of people, the types of women's perfumes are limited to colors and scents. However, when at home, women can use any perfume with a strong or light shape, color and aroma because there are no restrictions prohibiting this.Keywords: Contextualization; Hadith; Perfume. AbstrakTujuan penelitian ini untuk membahas kontekstualisasi hadis dalam penggunaan parfum di zaman sekarang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan jenis data library research (kepustakaan) yang diambil dari kitab Kutubus Sittah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tentang anjuran penggunaan parfum bagi laki-laki hukumnya adalah sunah muakkad, jika dikontekstualisasikan maka penggunaan parfum tidak hanya di dalam salat tetapi dianjurkan juga di luar salat. Sedangkan, untuk larangan penggunaan parfum bagi wanita jika dikontekstualisasikan maka larangan tersebut tidak bersifat mutlak dan menyesuaikan kondisi lingkungan sekitar. Namun, ketika berada di luar rumah dan bertemu dengan banyak orang, jenis parfum wanita menjadi terbatas pada warna dan aroma. Tetapi ketika berada di dalam rumah, wanita boleh menggunakan parfum apapun dengan bentuk, warna dan aroma yang kuat ataupun ringan karena tidak ada larangan yang melarang hal tersebut. Kata Kunci: Hadis; Kontekstualisasi; Parfum.
Penggunaan Semiotika Simbol Warna Dalam Visual Mushaf Al-Qur’an: Studi Kasus Penggunaan Al-Qur’an Hafalan Latin For Kids Di Daarul Qur’an Bahtera Solokan Jeruk Kabupaten Bandung Amalia, Ilma; Sya'ban, Ijal; Rusmana, Dadan
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171865800

Abstract

AbstractSemiotics as a science that becomes a bridge in understanding the sea of literature from the Qur'an is something that must be studied when studying the Qur'an. Of the many studies discussed in semiotics, one of them is the application of symbols in the Qur'an. In this modern era, the Al-Qur’an does not only appear with symbols indicating waqf but also appears with color symbols that represent tajwid and other artisans. This paper aims to reveal the results of research on color symbols in the Qur'anic mushaf in the modern era. The methodology used by the author in this paper is a qualitative method with a descriptive analysis approach. The results of the study show that the application of symbols in semiotic studies is evident in the Qur'an printed in the millennial era, especially in symbols in the form of colors. The application of color in modern Al-Qur’an manuscripts makes the Al-Qur’an more informative, especially for children who are just learning the Qur'an. The color symbols in the Al-Qur’an mushaf are very helpful in memorizing the Al-Qur’an.Keywords: Alquran; Color; Symbol. AbstrakSemiotika sebagai sebuah ilmu yang menjadi jembatan dalam memahami lautan sastra dari al-Qur’an menjadi hal yang wajib dipelajari saat mengkaji tentang al-Qur’an. Dari banyaknya kajian yang dibahas dalam ilmu semiotika, salah satu diantaranya adalah aplikasi pada symbol. Di era modern ini, al-Qur’an tidak hanya tampil dengan simbol-simbol yang menandakan waqaf tetapi juga tampil dengan simbol warna yang mengartikan tajwid dan artian lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian mengenai simbol warna dalam mushaf al-Qur’an di era modern. Adapun metodologi yang dilakukan oleh penulis dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi simbol dalam kajian semiotika terdapat jelas pada al-Qur’an yang dicetak di era millennial utamanya pada simbol-simbol yang berupa warna. Pengaplikasian warna dalam mushaf al-Qur’an modern membuat al-Qur’an lebih informatif terutama untuk anak-anak yang baru belajar al-Qur’an dan sangat membantu meraka dalam menghafal al-Qur’an. Kata Kunci: Alquran; Simbol; Warna.
Dampak Konsumsi Kendaraan Listrik Terhadap Lingkungan dalam Prespektif Al-Qur’an; QS. Al-Rum ayat 41 Harahap, Amiruddin Tayib; Windra, Ahmad; Paridatussaudiah, Paridatussaudiah; Sohibi Harahap, Ali Musolli
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024181889000

Abstract

AbstractVehicle usage is expanding as technology advances, including the use of electric vehicles, which impact the environment. This article analyzes the history of electric vehicles, as well as the source and environmental impact of electric vehicle batteries, by examining Qurthubi, Al-Zuhaili, and M. Qurasy Shihab's interpretation of Surah ar-Rum Verse 41, which deals with the destruction on Earth. The writer used the literature research method to complete this study. According to the research findings, electric vehicles have been used since the 1990s, with batteries being the primary material sourced from mineral mines. Poor mining and processing of battery waste can disrupt the Earth's balance, negatively influencing the environment. Imam Qurthubi, Wahbah al-Zuhailiy, and M. Qurasy Shihab interpret the term fasad in QS. Ar-Rum verse 41 refers to physical and non-physical damage on land and at sea. Essentially, all of this is the product of human activity, so the solution to environmental preservation through the usage of electric vehicles harms other regions of the globe, resulting in negative environmental consequences.Keywords: Al-Qur’an; Ar-Rum 41; Effects; Electric vehicles; Environment. AbstrakSeiring dengan berkembangnya teknologi, penggunaan kendaraan semakin meningkat, termasuk dalam penggunaan kendaraan listrik yang menimbulkan efek terhadap lingkungan. Artikel ini membahas tentang sejarah kendaraan listrik, sumber dan dampak baterai kendaraan listrik terhadap lingkungan, dengan melihat kepada penafsiran Qurthubi, Al-Zuhaili, dan M. Qurasy Shihab terhadap surat ar-Rum Ayat 41 terkait kerusakan yang terjadi di muka bumi. Dalam menyelesaikan artikel ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa kendaraan listrik sudah digunakan sejak tahun 1990-an dengan baterai sebagai bahan utamanya yang dihasilkan dari tambang mineral. Penambangan dan pengolahan limbah baterai yang tidak baik dapat merusak keseimbangan bumi sehingga berdampak buruk bagi lingkungan. Imam Qurthubi, Wahbah al-Zuhailiy, dan M. Qurasy Shihab menafsirkan kata fasad pada QS. Ar-Rum ayat 41 dengan kerusakan yang terjadi di darat dan di laut, baik secara fisik maupun non fisik. Pada dasarnya semua itu disebabkan karena perbuatan tangan manusia, sehingga solusi pelestarian lingkungan melalui penggunaan kendaraan listrik justru harus merusak belahan bumi lainnya yang mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan. Kata Kunci: Al-Qur’an; Ar-Rum 41; Dampak; Kendaraan Listrik; Lingkungan.
Study of Munasabah on Words of Sakinah Mawaddah Rahmah and Its Stylistics Khalim, Muhammad Nur; Taufiq, Mirwan Akhmad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171908300

Abstract

AbstractThe Holy Qur’an is a sacred book for Muslims. The reader can understand its meanings and secrets from different aspects, including munasabah and stylistics. This study aims to know the secrets of the appropriate choice of the words sakinah (serenity), mawaddah (affection),and rahmah (mercy) and their arrangement in verse among married couples who wanted a permanent marriage without regret according to the Qur’anic approach. This study relied on the descriptive analytical method of these three words that appeared in Surah Al-Rum, verse 21. The method of collecting its data was based on reviewing and repeated reading of that verse according to the opinions of mufassir who interpreted this verse. The study reached results that the interpreters differed in understanding the meanings of these three words, especially the meaning of sakinah between the meaning of reassurance, tranquillity, and well-being at the economic level. However, they agreed that sakinah is the primary goal in the marital relationship, and affection and compassion are two means of achieving the success of the marital relationship. The spatial arrangement of these words is highly eloquent in terms of munasabah and style.Keywords: Marital relationship; Munasabah; Quranic approach; Quranic stylistic. AbstrakAl-Qur'an adalah kitab suci bagi umat Islam, dimana pembaca dapat memahami makna dan rahasianya dari berbagai aspek, termasuk munasabah dan stilistika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rahasia pemilihan kata sakinah (ketenangan), mawaddah (kasih sayang), dan rahmah (rahmah) serta susunannya dalam ayat di kalangan pasangan suami istri yang menginginkan pernikahan tetap tanpa penyesalan dalam pandangan al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis terhadap ketiga kata yang muncul dalam Surat Al-Rum ayat 21. Cara pengumpulan datanya berdasarkan penelaahan dan pembacaan ulang terhadap ayat tersebut sesuai dengan pendapat mufassir. Kajian ini menghasilkan bahwa para mufassir berbeda dalam memahami makna ketiga kata tersebut, khususnya makna sakinah antara makna ketentraman, dan kesejahteraan dalam tataran ekonomi. Namun mereka sepakat bahwa sakinah adalah tujuan utama dalam hubungan perkawinan, dan kasih sayang serta kasih sayang merupakan dua sarana untuk mencapai keberhasilan hubungan perkawinan. Penataan ruang kata-kata ini sangat fasih dalam hal munasabah dan gayanya.Kata Kunci: Hubungan Suami Isteri; Munasabah; Pendekatan Al-Qur’an; Stilistika Al-Qur’an.
Analisis Metode Tafsir ayat Al-Qur’an: Kajian Terhadap manuskrip Kitab Bahjat Al-ʻUlūm Karya Abu Layst As-Samarqandi Birri, Fatkhul; Saifudin, Ahmad; Wijaya, Roma
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024181919000

Abstract

AbstractExamining a manuscript will uncover numerous aspects of Islam. The Bahjat Al-ʻUlūm was discovered in Magelang City. This study aims to analyze the verses found in the manuscript of Bahjat Al-ʻUlūm by Abu Layts As-Samarkandi and elucidate the method and style of interpretation used. This study employed a descriptive analysis method with library study. The book Bahjat Al-ʻUlūm discusses the 'ilm al-kalam and includes nine Qur'anic verses. The analysis of these verses reveals that two verses illustrate the muqaddimah (preface); Allah’s trait Al-Razzaq is addressed in the third and fourth verses, belief in the angels is explored in the fifth verse, the names of prophets are mentioned in the sixth verse, the rewards for the believers and disbelievers are discussed in the seventh and eighth verses, and faith is elaborated in the ninth verse. The Quranic verses mentioned serve as a legal foundation. The author has determined that the verses were interpreted using the ijmali approach with a sufhi style.Keywords: Abu Layst As-Samarqandi, Bahjat Al-ʻUlūm, Manuscript, and Interpretation. AbstrakKajian pada sebuah manuskrip akan mengungkapkan berbagai aspek keislaman. Salah satu manuskrip yang ditemukan di Kota Magelang yakni manuskrip Bahjat Al-ʻUlūm. Tujuan penelitian untuk mempelajari ayat-ayat dalam manuskrip kitab Bahjat Al-ʻUlūm karya Abu layts assamarkandi, kemudian menjelaskan mengenai metode dan corak penafsirannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan studi kepustakaan. Kitab Bahjat Al-ʻUlūm menjelaskan tentang ilmu kalam dan terdapat sembilan ayat  Al-Qur’an. Temuan analisis ayat-ayat tersebut yaitu: dua ayat menjelaskan muqaddimah, Sifat Al-Razzaq dibahas pada ayat ketiga dan keempat, iman kepada malaikat dibahas pada ayat kelima, nama-nama nabi dibahas pada ayat keenam, respon orang mukmin dan kafir dibahas pada ayat ketujuh dan kedelapan, dan iman dijelaskan pada ayat kesembilan. Ayat-ayat  Alquran yang dikutip dimaksudkan sebagai landasan hukum. Setelah mempelajari ayat-ayat tersebut penulis mengetahui bahwa metode yang digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat tersebut adalah metode ijmali dengan corak tafsir shufi. Kata Kunci: Abu Layst As-Samarqandi, Bahjat Al-ʻUlūm, Naskah, dan Tafsir.
Pemimpin Ideal Perspektif Hadis: Refleksi Menyongsong Pemilihan Umum Tahun 2024 Hendro, Beko; Indanu, Rahmat Agum; Tauhid, Muhammad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171930200

Abstract

AbstractThis research examines the criteria for leaders from a hadith perspective, especially in facing the 2024 general election. This paper aims to examine the meaning and criteria for leaders found in hadith sources. This research is the result of library research using qualitative methods. The data used consists of primary sources in the form of various hadith books which discuss the criteria for leaders, as well as secondary sources in the form of books, articles, journals and other references relevant to the discussion theme. The data analysis method used is descriptive analytical. This article explains the political and electoral system in Indonesia, including the challenges and polemics that often arise, such as the quality of leadership and political polarization. This research found seven prophetic characteristics that leaders must have, namely: being religious and understanding religious values, having knowledge and managerial knowledge, acting fairly in leadership, being able to carry out and fulfilling the mandate given, having integrity and honesty, having a responsible attitude and understand that everyone is responsible to Allah and the society they lead and has experience, spiritual maturity, maturity and wisdom even though they are still young. Keywords: Leader Criteria, 2024 Election, Fairness, Trustworthiness, Experience, Responsibility.Abstrak:Penelitian ini mengkaji tentang kriteria pemimpin perspektif hadis, terutama dalam menghadapi pemilihan umum tahun 2024. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna dan kriteria pemimpin yang terdapat dalam sumber-sumber hadis. Penelitian ini merupakan hasil dari penelitian kepustakaan dengan metode kualitatif. Data yang digunakan terdiri dari sumber primer berupa berbagai kitab hadis yang membahas tentang kriteria pemimpin, serta sumber sekunder berupa buku, artikel, jurnal dan referensi lain yang relevan dengan tema pembahasan. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitis. Artikel ini menjelaskan sistem politik dan pemilu di Indonesia, termasuk tantangan dan polemik yang sering muncul, seperti kualitas kepemimpinan dan polarisasi politik. Penelitian ini menemukan tujuh katakter sifat-sifat profetik yang harus dimiliki pemimpin yaitu: beragama dan memahami nilai-nilai agama, memiliki ilmu pengetahuan dan manajerial, berlaku adil dalam kepemimpinan, mampu menjalankan dan menunaikan amanah yang diberikan, berintegritas dan jujur, memiliki sikap bertanggungnjawab dan memahami bahwa semua ada perbertanggungjawabnya kepada Allah dan masyarakat yang dipimpinnya serta memiliki pengalaman, kematangan spiritual, kedewasaan dan kebijaksanaan walau masih dalam usia muda.  Kata Kunci: Kriteria Pemimpin, Pemilu 2024, Adil, Amanah, Pengalama, Tanggung jawab.
Sifat-sifat Khabariyah dalam Hadis-hadis Nabi Saw. (Kajian terhadap Syarah Imam al-Qasthalani dalam Kitab Irsyâd al-Sâri Syarah Shahih al-Bukhari) Ikhwani, Ahmad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002023171943300

Abstract

AbstractOne form of our belief in Allah is to believe in the qualities that Allah has, that all the characteristics that He has are not the same as the characteristics that exist in His creatures, such as yad, wajh, 'ain and others as if they attribute human characteristics to Allah. . This research aims to examine the hadith about the characteristics of Khabariyyah in the book Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhari written by Imam Al-Qasthalani using the Asy'ariyyah method approach. The research method used is a type of library research (libari research) which focuses on the book Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhari. From the results of this research, it was found that when al-Qasthalani understood the Khabariyah hadith, he used the Asy'ariyyah school-style method while still prioritizing the credibility of the hadith scholars when he found there were hadiths that were not in accordance with the Ash'ariyyah method.Keywords: Ash'ariyyah method; al-Qasthalani; Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhari; the nature of the Khabariyyah. AbstrakSalah satu bentuk keyakinan kita kepada Allah adalah mengimani sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah, bahwa segala sifat yang dimilikiNya tidaklah sama dengan sifat yang ada pada makhluknya, seperti yad, wajh, ‘ain dan lainnya seolah-olah menyematkan sifat-sifat manusia kepada Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadis tentang sifat-sifat khabariyyah dalam kitab Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhari yang dikarang oleh imam Al-Qasthalani dengan pendekatan metode Asy’ariyyah. Metode penelitian yang digunakan dengan jenis penelitian kepustakaan (libari research) yang terfokus pada kitab Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhari. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa bahwa al-Qasthalani ketika memahami hadis khabariyah tersebut menggunakan metode ala madzhab Asy’ariyyah dengan tetap mengutamakan kredibilitas para ulama hadis ketika ditemukan ada hadis yang secara dhahir tidak sesuai dengan metode asy’ariyyah. Kata Kunci: al-Qasthalani; Irsyâd al-Sâri li Syarh Shahîh al-Bukhari; metode asy’ariyyah; sifat Khabariyyah.
Contextualizing the Hadith on Tying Hair in a Ponytail during Prayer: A Ma'ani al-Hadis Study Dwi Junita, Rina; Muhajirin, Muhajirin; Zulfikar, Eko
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024182047100

Abstract

This article examines the hadith prohibiting someone from wearing a ponytail when performing prayer. There are so many hairstyles nowadays and demands, this is difficult for some people, both men and women, to avoid. Is it contrary to the hadith of the Prophet or not! This is interesting to research further. How to understand the hadith in the current context is a solution to find answers put forward using the ma'ani al-hadith method, so that the hadith is contextualized according to current developments. By using qualitative methods, this article concludes that the understanding of the hadith above is that there are provisions for the period in which it occurred. The hadith prohibition of wearing hair in a ponytail during prayer can actually change into a separate context so that it can be changed to allow wearing hair in a ponytail during prayer. Contextualization in this context refers to efforts to understand and interpret a religious teaching or commandment, in this case the hadith, by considering different cultural, social and time contexts. In this case, contextualizing the hadith "prohibition of wearing hair in a ponytail during prayer" involves understanding that the rule may be adapted to current realities that are different from the time in which the hadith was conveyed. This emphasizes that the understanding and application of Islamic law is not static, but can adapt to changing times and different social conditions.