cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
Kontruksi konsep go green dalam perspektif Hadis (Studi analisis ma‘ani al-Ḥadῑs terhadap hadis-hadis ekologi pada ṣaḥīḥ al-bukhārī kitab al-hartṡ wa al-muzāra‘ah) Ma'rifatulloh, Khoirunnisa; Daib Insan Labib, Muhammad Alfreda; Muchlis, Ahmad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024182059300

Abstract

AbstractThis study analyzes the development of the concept of going green from the perspective of Hadith. The book Ṣaḥīḥ al-Bukhārῑ kitab al-Ḥarṡ wa al-Muzāraʻah has various hadiths on environmental protection (go green). This study employs a qualitative method based on library research, books, journals, and scholarly works. The study is based on the Prophet's Hadith, confirmed by Yusuf al-Qaradawi's hadith matan. It involves compiling relevant hadiths, understanding sabāb al-wurūd, determining the meaning of vocabulary in the hadith text, and concluding the concept of go green. This study aims to investigate how the concept of go green, as expressed in the Prophet's Hadith through Bukhari's narration, can be understood using Yusuf al-Qaradhawi's theory of understanding. The study's findings include utilizing vacant land by planting trees to prevent it from becoming neglected. Second, become accustomed to planting trees because it is a noble activity that merits charity. Third, do not cut down trees illegally, as this can harm the environment and humanity.Keywords: Concept; Go green; Maʻānῑ al-Ḥadῑṡ; Qardhawi. AbstrakTulisan ini membahas tentang kontruksi konsep go green dalam perspektif Hadis. Dalam hadis Nabi Muhammad saw yang tercantum dalam kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārῑ kitab al-Ḥarṡ wa al-Muzāraʻah tercantum beberapa hadis yang terkait dengan konsep pelestarian lingkungan (go green). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didasarkan pada library research, buku, jurnal maupun kitab para ulama’. Penelitian ini juga berlandaskan pada hadis Nabi dan diteguhkan dengan pemikiran matan hadis menurut Yusuf al-Qaradawi, yakni dengan menghimpun hadis-hadis yang relevan, memahami sabāb al-wurūd, memastikan makna kosakata dalam teks hadis kemudian menyimpulkan konsep go green. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep go green berdasarkan hadis Nabi melalui riwayat Bukhari jika ditelaah menggunakan teori pemahaman Yusuf al-Qaradhawi. Hasil penelitian diantaranya, pertama, memanfaatkan lahan kosong dengan menanami pohon sehingga lahan tersebut tidak terbengkalai. Kedua, membiasakan diri untuk mulai menanam pohon karena hal tersebut merupakan perilaku mulia dan bernilai sedekah. Ketiga, tidak menebang pohon secara liar karena hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif baik bagi bumi maupun bagi manusia. Kata Kunci: Go green; Konsep; Maʻānῑ al-Ḥadῑṡ; Qardhawi.
PERSPEKTIF ISLAM DAN BUDHA TERHADAP FENOMENA PENISTAAN AGAMA (Studi Komparatif Al-qur’an dan Tripitaka) Anggraini, Tri Faizah
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024182087500

Abstract

AbstractThis study aims to determine how the Holy Qur'an and Tripitaka respond to the phenomena of blasphemy. This study employs a qualitative research method with a library approach to achieve this purpose. The data originated from two sources: primary sources and secondary sources. This study used a descriptive-comparative analysis model to analyze the data. The study's findings reveal an agreement prohibiting the reviling, insulting, and degrading of the noble values held by each religion. In terms of how the two holy scriptures respond to blasphemers, they have distinct and often opposing narratives. The Qur'an promotes a rigid approach, but the Tripitaka suggests correcting erroneous interpretations for perpetrators of religious distortion.Keywords: Al-qur’an; Blasphemy; Comparative; Tripitaka. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan perspektif kitab suci al-Qur’an dan Tripitaka dalam merespon fenomena penistaan agama. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tekhnik pustaka. Data-data yang menjadi otoritas penelitian ditemukan melalui dua sumber, yakni sumber primer dan sumber sekunder. Sebagai pisau analisa data, penelitian ini menggunakan model analisis deskriptif-komparatif. Dari pengkajian yang telah dilakukan, ditemukan hasil berupa kesepakatan larangan mencaci, menghina dan merendahkan konsep luhur yang diyakini oleh setiap agama. Terhadap respon bagi pelaku penistaan agama, kedua kitab suci memiliki narasi khas yang cenderung berbeda. Al-qur’an lebih menekankan kepada sikap tegas, sementara Tripitaka menganjurkan untuk memberikan koreksi terhadap interpretasi yang keliru bagi pelaku pendistorsian agama. Kata Kunci: Al-qur’an; Komparatif; Penistaan Agama; Tripitaka.
Pembacaan QS. Al-Nas (114): 4-5 dan Konsep Original Sins (Analisis The Quran and The West Karya Kenneth Cragg) Dzakiy, Ahmad Farih; Mufid, Abdul; Masuwd, Mowafg
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024182134100

Abstract

AbstractThis study investigated Surah Al-Nas verses 4-5, which describe the concept of original sin in Christianity and compare it to the concept of original sin in Islam. This study employed the Qur'anic text analysis approach and compared it to Kenneth Cragg's ideas in his book The Qur'an and the West. The Qur'anic text analysis method was utilized to thoroughly understand the verse's content. In contrast, Cragg's thought approach examines the perceived concept of original sin in Western tradition. The outcomes of this study demonstrate a fundamental distinction between the concept of original sin in Christianity, which regards sin as an inheritance from Adam, and the concept in Islam, which emphasizes individual responsibility for one's acts. This study adds to the knowledge of the fundamental distinctions between the two major religious traditions in their views on the original sin and their recognition of the human concept of God.Keywords: Original sin; Religious Understanding; The Qur’an and The West. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis Surah Al-Nas ayat 4-5 yang menggambarkan konsep dosa asal dalam agama Kristen, dan membandingkannya dengan konsep dosa asal dalam Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks al-Qur'an dan membandingkannya dengan pemikiran Kenneth Cragg dalam bukunya The Qur’an and The West. Metode analisis teks al-Qur'an digunakan untuk memahami makna ayat secara mendalam, sedangkan pendekatan pemikiran Cragg digunakan untuk melihat bagaimana konsep dosa asal dipahami dalam tradisi Barat. Temuan penelitian ini menunjukkan perbedaan mendasar antara konsep dosa asal dalam agama Kristen, yang menempatkan dosa sebagai warisan Adam, dengan konsep dalam Islam, yang tekanan tanggung jawab individu atas perbuatannya sendiri. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang perbedaan esensial antara dua tradisi agama besar dalam pandangan terhadap asal mula dosa dan kesadarannya terhadap pemahaman manusia tentang dasar-dasar dengan Tuhan. Kata Kunci: Dosa Asal; Pemahaman Agama; The Quran and The West.
Karakteristik Mushaf Nusantara Telaah Kodikologi Mushaf Standar Indonesia, Baḥriyah dan Al-Quddûs Bi Al-Rasm Al-‘Uśmâni prasetiawati, eka; Husin Al-Munawar, Said Agil; Muhammad, Ahsin Sakho
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024182202000

Abstract

AbstractThe paper examines the codicological elements of three Nusantara Mushafs: Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Baḥriyah, and Al-Quddûs Bi Al-Rasm Al-'Uśmâni. This study employs a qualitative methodology based on library research with a comparative approach. The study found that MSI had the following characteristics: manzil, juz, hizb, ruku', a simplified waqaf sign, and punctuation on fatḥah qâimah, kasrah qâimah, and ḍammah maqlûbah. Mushaf Baḥriyah features 15 lines per page, no sukun, no tasydid, and no small mîm sign. Waqaf follows the as-Sajawandi school and has 12 lines. Mushaf Al-Quddûs features tarkîb tannin for pronuncing izhar, mutatâbi' tannin for pronuncing idgâm, ikhfâ', and iqlâb, and zaidah letters use mustadîr sifrun, a little alif harakat. The three Nusantara Mushafs differ in their use of tanwins, waṣal hamzah, mad ṭabî'i reading markings, waqaf, and rasm. MSI and Al-Quddûs follow the Khalaf Husaini school, while Baḥriyah follows the as-Sajawandi school.Keywords: Al-Qur’an; Characteristics; Codicology; Mushaf Nusantara. AbstrakTulisan ini membahas tentang karakteristik mushaf Nusantara serta menganalisa aspek kodikologi dari ketiga mushaf Nusantara: Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Baḥriyah dan Al-Quddûs Bi Al-Rasm Al-‘Uśmâni. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didasarkan pada library research, dengan pendekatan komparatif. Hasil penelitian ini adalah karakteristik MSI terdapat manzil, juz, hizb, ruku’; mempunyai tanda waqaf yang disederhanakan; aspek tanda baca pada fatḥah qâimah, kasrah qâimah dan ḍammah maqlûbah. Sedangkan karakteristik Mushaf Baḥriyah, setiap halaman terdiri dari 15 baris, mad ṭabî’i tanpa sukun, idgâm tanpa tasydid dan iqlâb juga tanpa tanda mîm kecil, waqafnya mengikuti mazhab as-Sajawandi ada 12. Karakteristik Mushaf Al-Quddûs, tanda tanwin tarkîb untuk bacaan izhar, tanwin mutatâbi’ untuk bacaan idgâm, ikhfâ’, dan iqlâb; huruf zaidah memakai sifrun mustadîr, harakat alif kecil. Terdapat perbedaan dari ketiga mushaf Nusantara yaitu penggunaan tanwin, hamzah waṣal, harakat bacaan mad ṭabî’i, tanda waqaf dan rasm-nya. Tanda waqaf MSI dan Al-Quddûs cenderung mengikuti mazhab Khalaf Husaini, sedang Baḥriyah mengikuti mazhab as-Sajawandi. Kata Kunci: Al-Qur’an; Karakteristik; kodikologi; Mushaf Nusantara.
Riffat Hassan's Thoughts on Gender Issues in the Qur'an Hakiki, Kiki Muhamad; Rohmatika, Ratu Vina
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/002024182212500

Abstract

AbstractOne Muslim feminist figure who is not so sure about the interpretations of traditional interpreter is Riffat Hasan. In her works, she tries to reconstruct verses that have been interpreted with patriarchal bias, especially verses related to women. In her interpretation, Riffat Hasan offers four important points of her ideas. First, the theory of creation (An-Nisa: 1), (Al-'Araf: 189), (Az-Zumar: 6). This theme, according to her, is important to be reconstructed because the concept of equality and inequality comes from the concept of creation Second, the position of women (An-Nisa':34). According to him, in relation to position, the Qur'an does not distinguish between men and women. Third, regarding purdah (al-Ahzab verse 59). In interpreting these verses, Riffat Hassan takes three steps, namely (1) a normative-idealist and historical-empirical approach by reinterpreting the verses of the Qur'an, (2) deconstructing religious thought that (according to her) is gender biased, and (3) reconstructing religious thought that is not gender biased.Keywords: Deconstruction; Gender Issues; Riffat Hasan; Tafsir Al-Qur'an. AbstrakSalah satu tokoh feminis Muslim yang tidak begitu yakin dengan penafsiran para mufassir tradisional adalah Riffat Hasan. Dalam karya-karyanya, ia mencoba merekonstruksi ayat-ayat yang selama ini ditafsirkan dengan bias patriarki, terutama ayat-ayat yang berkaitan dengan perempuan. Dalam penafsirannya, Riffat Hasan menawarkan empat poin penting gagasannya. Pertama, teori penciptaan (An-Nisa: 1), (Al-'Araf: 189), (Az-Zumar:6). Tema ini menurutnya penting untuk direkonstruksi karena konsep kesetaraan dan ketidaksetaraan berasal dari konsep penciptaan Kedua, posisi perempuan (An-Nisa':34). Menurutnya, dalam kaitannya dengan kedudukan, al-Qur'an tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Ketiga, mengenai purdah (al-Ahzab ayat 59). Dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut, Riffat Hassan melakukan tiga langkah, yaitu (1) pendekatan normatif-idealis dan historis-empiris dengan cara melakukan penafsiran ulang atas ayat-ayat al-Qur’an, (2) melakukan dekonstruksi terhadap pemikiran keagamaan yang (menurutnya) bias gender, dan (3) melakukan rekonstruksi terhadap pemikiran keagamaan yang tidak bias gender. Kata Kunci: Dekontruksi; Isu Gender; Riffat Hassan; Tafsir Al-Qur’an.
PEMAHAMAN HADIS TSAUB SYUHROH DAN RELEVANSINYA DENGAN FENOMENA OOTD DI MEDIA SOSIAL Oktarina, Rika; Muhajirin, Muhajirin; Nadhiran, Hedhri
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.22233

Abstract

AbstractThe Outfit of the Day (OOTD) phenomenon has spread rapidly among millennials via social media, resulting in excessive contemporary clothing trends, raising the question of whether these trends are permissible or even prohibited by religion. This phenomenon is intriguing to investigate using a qualitative approach and the tsaub syuhroh hadith as the foundation for analysis. This research aims to determine the meaning of the hadith tsaub syuhroh and how it relates to the phenomenon of OOTD trends on social media. The findings revealed that OOTD on social media is a modern-era fashion trend that aims to show off what is being worn, which is prohibited in Islam. This concept is consistent with HR. Ibn Majah forbids a Muslim or Muslimah from dressing shuhroh or attempting to attract the attention of others.Keywords: Hadith; OOTD; Tsaub Syuhroh.AbstrakFenomena Outfit of The Day (OOTD) sangat marak di kalangan milenial melalui media sosial dan berakibat pada tren pakaian kekinian yang terlihat berlebihan sehingga menimbulkan persoalan apakah tren tersebut diperbolehkan atau justru dilarang agama. Fenomena ini menarik untuk diteliti dengan menggunakan metode kualitatif dengan hadis tsaub syuhroh sebagai landasan analisis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemahaman hadis tsaub syuhroh dan relevansinya dengan fenomena trend OOTD di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OOTD di sosial media merupakan salah satu tren fashion era modern yang bertujuan untuk memamerkan apa yang dipakai, sehingga hal ini dialarang dalam agama Islam. Hal ini sejalan dengan HR. Ibnu Majah yang melarang seorang muslim atau Muslimah berpaikaian syuhroh atau berpakaian dengan tujuan menarik perhatian orang lain. Kata Kunci: Hadits; OOTD; Tsaub Syuhroh.
Konsepsi Riwayat Asbab al-Nuzul Perspektif al-Suyuti (Telaah Kitab Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul) Nur Ilham, Mochammad Faiz; Khulwani, Khulwani; Musafa'ah, Suqiyah
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.22664

Abstract

AbstractOne of the important works in the study of Asba>b al-Nuzu>l is Luba>b al-Nuqu>l fi> Asba>b al-Nuzu>l written by al-Suyu>t}i>. This article seeks to uncover the profile of his work and explore more deeply related to the conception of asba>b al-nuzu>l the perspective of Jala<l al-Di>n al-Suyu>t}i> (d. 911 H), especially in his work entitled Luba>b al-Nuqu>l fi> Asba>b al-Nuzu>l. This study is important to carry out because Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i> is considered to have a more mature conception in formulating the study of asba>b al-nuzu>l. To elaborate the problem, this research will use a descriptive-qualitative method, data taken based on literature data including scientific articles, books, books, and other scientific sources related to the research, so that this research is included in the category of library research. The results of this study show that al-Suyu>t}i> carried out a theoretical-methodological development of the study of asba>b al-nuzu>l. In addition, al-Suyu>t}i> also reconceptualized the study of asba>b al-nuzu>l including the understanding of  asba>b al-nuzu>l, the source of obtaining of asba>b al-nuzu>l, methodological steps in formulating the asba>b al-nuzu>l, and the urgency of understanding the asba>b al-nuzu>l.Keywords: All article type, you should provide maximum 5 keyword and minimum 3 keyword, written in alphabetical, and used; AbstrakSalah satu karya penting dalam kajian Asba>b al-Nuzu>l adalah Luba>b al-Nuqu>l fi> Asba>b al-Nuzu>l yang ditulis oleh al-Suyu>t}i>. Artikel ini berupaya mengungkap profil karyanya tersebut serta menelusuri lebih mendalam terkait konsepsi kajian asba>b al-nuzu>l perspektif Jala<l al-Di>n al-Suyu>t}i> (w. 911 H) khususnya dalam karyanya berjudul Luba>b al-Nuqu>l fi> Asba>b al-Nuzu>l. Kajian ini penting untuk dilakukan karena Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i> dinilai memiliki konsepsi yang lebih matang dalam merumuskan kajian asba>b al-nuzu>l. Untuk mengelaborasi permasalahan, penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif-kualitatif, data yang diambil berbasis data kepustakaan meliputi artikel ilmiah, buku, kitab, dan sumber-sumber ilmiah lain yang berhubungan dengan penelitian, sehingga penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa al-Suyu>t}i> melakukan pengembangan teoritis-metodologis atas kajian asba>b al-nuzu>l. Selain itu, al-Suyu>t}i> juga melakukan rekonsepsi kajian asba>b al-nuzu>l meliputi pengertian riwayat asba>b al-nuzu>l, sumber memperoleh riwayat asba>b al-nuzu>l, langkah metodologis dalam merumuskan riwayat asba>b al-nuzu>l, serta urgensitas memahami riwayat asba>b al-nuzu>l.
Wife Beating Debates: The Qur’anic Notion of Ḍaraba in Light of Mubādalah Discourse Luthfia, Asya Dwina
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 19 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v19i1.22714

Abstract

Abstract A literal reading of QS. 4:34 may justify corporal punishment of husbands in the household. This research shows that many Muslims have found it difficult to reconcile this verse with their conscience since it was revealed. This study aims to understand how the word ḍaraba is interpreted not literally, both in the views of traditional and modern mufassirs. This study is classified as a literature research by using the qirā'ah mubādalah approach in understanding the word ḍaraba. The findings are that by considering the qirā'ah mubādalah, it is clear that violence, including beating, is not an appropriate way to deal with the issue of nushūz in marriage, in accordance with the principles of a healthy marital relationship (mu'äsyarah bil ma'rūf). The mubādalah viewpoint places a strong emphasis on collaboration, understanding, and reciprocity from the spouses. To strengthen the marital relationship, this view encourages the rejection of violence and promotes constructive actions and behaviors. The Qur'ān offers solutions to marital problems, including reconciliation, piety, and acts of kindness (ihsan). Keywords: Ḍaraba; Domestic violence; Mubādalah; Religion and Gender.   Abstrak Pembacaan harfiah dari QS. 4:34 dapat membenarkan hukuman fisik terhadap suami di dalam rumah tangga. Penelitian ini menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang merasa sulit untuk mendamaikan ayat ini dengan hati nurani mereka sejak ayat ini diturunkan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kata ḍaraba dimaknai tidak secara harfiah, baik dalam pandangan mufassir tradisional maupun mufassir modern. Penelitian ini tergolong dalam penelitian pustaka dengan menggukan pendekatan qirā'ah mubādalah dalam memahami kata ḍaraba. Hasil temuan yang didapatkan bahwa dengan mempertimbangkan qirā'ah mubādalah, jelaslah bahwa kekerasan, termasuk pemukulan, bukanlah cara yang tepat untuk menangani masalah nushūz dalam pernikahan, sesuai dengan prinsip-prinsip hubungan pernikahan yang sehat (mu'äsyarah bil ma'rūf). Sudut pandang mubādalah memberikan penekanan yang kuat pada kolaborasi, pemahaman, dan timbal balik dari pasangan. Untuk memperkuat hubungan pernikahan, pandangan ini mendorong penolakan terhadap kekerasan dan mendorong tindakan dan perilaku yang konstruktif. Al-Qur'an menawarkan solusi untuk masalah-masalah perkawinan, termasuk rekonsiliasi, kesalehan, dan tindakan yang baik (ihsan). Kata Kunci: Agama dan Gender; Ḍaraba; Kekerasan dalam rumah tangga; Mubādalah.
Menjalin Relasi Interpretasi Al Qur'an Antara Nalar Kritis dan Moderasi Akib, Moh.
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.23236

Abstract

AbstractThis research is driven by the urgent need to understand how critical reasoning and moderation can be integrated into the interpretation of the Qur'an, particularly in addressing contemporary challenges such as radicalism and the misinterpretation of religious texts. The study aims to explore and formulate an interpretive approach that is not only deep but also capable of integrating critical reasoning with the principles of moderation in understanding the teachings of the Qur'an. The research employs a qualitative approach, focusing on text analysis and literature review. This study includes an examination of both classical and contemporary exegetical works to understand the various interpretive approaches available. Additionally, the research involves in-depth interviews with Qur'anic scholars and ulama to gain a more comprehensive and diverse perspective on the best ways to combine critical reasoning and moderation in the context of Qur'anic interpretation. The findings indicate that combining critical reasoning with the principles of moderation in Qur'anic interpretation can result in a more comprehensive, relevant, and contextual understanding of sacred texts, which not only aligns with current social realities but also contributes to the development of a more inclusive and adaptive Qur'anic exegesis that responds to the ever-changing dynamics of the times.Keywords: Criticality; Qur'anic Interpretation; Tolerance. AbstrakPenelitian ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana nalar kritis dan moderasi dapat diintegrasikan ke dalam penafsiran Al-Qur'an, terutama dalam menjawab tantangan kontemporer seperti radikalisme dan penyalahgunaan penafsiran teks-teks keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan merumuskan pendekatan penafsiran yang tidak hanya mendalam, tetapi juga mampu mengintegrasikan nalar kritis dengan prinsip-prinsip moderasi dalam memahami ajaran-ajaran Al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan fokus pada analisis teks dan tinjauan literatur. Penelitian ini mencakup kajian terhadap karya-karya tafsir klasik dan kontemporer untuk memahami berbagai pendekatan penafsiran yang tersedia. Selain itu, penelitian ini juga melibatkan wawancara mendalam dengan para sarjana dan ulama Alquran untuk mendapatkan perspektif yang lebih komprehensif dan beragam tentang cara-cara terbaik untuk menggabungkan nalar kritis dan moderasi dalam konteks penafsiran Alquran. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa menggabungkan nalar kritis dengan prinsip-prinsip moderasi dalam penafsiran Alquran dapat menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif, relevan, dan kontekstual terhadap teks-teks suci, yang tidak hanya selaras dengan realitas sosial saat ini, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan penafsiran Alquran yang lebih inklusif dan adaptif yang merespons dinamika zaman yang terus berubah. Kata Kunci: Interpretasi Al Qur'an, Kritikalitas, Toleransi.
Kedudukan Al-Hadis dalam Perkembangan Bahasa Arab Djamaluddin, Burhanuddin; Bimantoro, Prabu; Erizal, Erizal
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 18 No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v18i2.23320

Abstract

AbstractThis research discusses the position and influence of Hadith in the development of the Arabic language, focusing on its impact on vocabulary, grammatical structure, stylistic elements, and specific cases. The aim of this study is to explain how Hadith affects these aspects and to highlight the implications of this influence on the culture and religious identity of Muslims. The method used is a literature review of primary and secondary sources, including authentic Hadith and analyses of Arabic literary works. The results indicate that Hadith not only enriches the Arabic language with religious vocabulary and syntactic structures but also influences the stylistic and rhetorical aspects of Arabic literature, reflecting a rich intellectual heritage within the Arab-Islamic tradition.Keywords: Arabic; Grammatical Structure; Hadith; Influence; Vocabulary. AbstrakPenelitian ini membahas bagaimana kedudukan ataupun pengaruh Hadis dalam perkembangan bahasa Arab yang fokus pengaruhnya terhadap kosakata, struktur tata bahasa, gaya bahasa, dan kasus-kasus khusus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Hadis mempengaruhi aspek-aspek ini dan menyoroti implikasi dari pengaruh tersebut terhadap budaya dan identitas keagamaan umat Islam. Metode yang digunakan adalah studi pustaka terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, termasuk hadis-hadis sahih dan analisis literatur sastra Arab. Hasilnya menunjukkan bahwa Hadis tidak hanya memperkaya bahasa Arab dengan kosakata keagamaan dan struktur sintaksis, tetapi juga mempengaruhi gaya bahasa dan retorika sastra Arab, mencerminkan warisan intelektual yang kaya dalam tradisi Arab-Islam. Kata Kunci: Bahasa Arab; Hadis; Kosakata; Pengaruh; Struktur Tata Hahasa.