cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
Hadits Tentang Perintah Membunuh Cicak (Tinjauan Hikmah Tasyri’) Zaki, Muhammad
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.11365

Abstract

AbstractThis paper will discuss the hadiths of the command to kill lizards, especially those found in al-kutub al-sittah. Outwardly, these hadiths contradict the mission of the Prophet as a blessing lil 'alamin, who was sent to spread love to all beings. The purpose of this study is to determine the validity of the hadiths about the command to kill lizards and reveal the wisdom behind the command. This research is a qualitative descriptive literature. The data were analyzed using the approach of hadith science and the wisdom of tasyri '. The results of the study concluded that the hadiths about the order to kill lizards that belong to fawaisiq animals range between sahih and hasan, therefore it is permissible to be killed but it is not an obligation only as far as encouragement. The wisdom is to avoid harm, because lizards include reptiles that carry bacteria that are harmful to health. AbstrakTulisan ini akan membahas tentang hadits-hadits perintah membunuh cicak, khususnya yang terdapat dalam al-kutub al-sittah. Secara lahiriahnya hadits-hadits ini bertolak belakang dengan misi Rasulullah sebagai rahmatan lik ‘alamin, yang di utus untuk menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui validitas hadits-hadits tentang perintah membunuh cicak dan mengungkap hikmah di balik perintah tersebut. Penelitian ini adalah kepustakaan yang bersifat deskriptif kualitatif. Data dianalisis menggunakan pendekatan ilmu hadits dan hikmah tasyri’. Hasil penelitian menyimpulkan, hadits-hadits tentang perintah membunuh cicak yang tergolong hewan fawaisiq berkisar antara shahih dan hasan, oleh karenanya boleh untuk dibunuh akan tetapi bukan suatu kewajiban hanya sebatas anjuran. Adapun hikmahnya adalah untuk menghindari dari kemudaratan, karena cicak termasuk reptil yang membawa bakteri yang berbahaya bagi kesehatan. Kata Kunci: Fuwaisiq; Hikmah; Tasyri’.
Respon Al-Qur’an atas Trend Childfree (Analisis Tafsir Maqāṣidi) Wijaya, Roma
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.11380

Abstract

AbstractChildfree, who is committed to withholding children, is seen as the basis for a couple to reach their desired goals, but on the other hand, Indonesian socio-cultural aspects, both legally and culturally, require that they have offspring. From this phenomenon, this article describes the concept of childfree which is responded to by the Qur'an with various interpretations. In this case, the main argument for responding to childfree is Q.S. Ali 'Imran: 38-39 which gives an understanding of the commitment to have children. The theory used in this research is the theory of maqāṣid interpretation analysis which was coined by Abdul Mustaqim. This theory reveals the message behind the meaning of the Qur'an, in this case examining maqāṣid on childfree responses which are considered the principle of freedom. This research is a type of library research that uses data sources in the form of journal articles, books, and other documentary data with the same theme. The results of this study are that there are no specific verses discussing childfree and there are values of maqāṣid that appear, namely hifzhh al-din containing the continuity of religious development, hifzhh al-nasl the existence of gaps that occur in the future, and hifzh al- look at the quality of society and the condition of the people's welfare. AbstrakChildfree yang berkomitmen untuk menahan memiliki anak dipandang sebagai landasan pasutri untuk menggapai cita-cita yang diinginkan, tetapi di sisi lain sosio-kultural Indonesia baik secara undang-undang maupun budaya masyarakat mengharuskan memiliki keturunan. Dari fenomena tersebut artikel ini menguraikan konsep childfree yang direspon oleh Alqurandengan berbagai penafsirannya. Dalam hal ini yang menjadi dalil utama untuk merespon childfree adalah Q.S. Ali ‘Imran: 38-39 yang memberikan pemahaman atas komitmen untuk memiliki keturunan. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori analisis tafsir maqāṣid yang dicetuskan oleh Abdul Mustaqim. Teori ini mengungkapkan pesan dibalik makna al-Qur’an, dalam hal ini mengkaji maqāṣid atas respon childfree yang dianggap sebagai prinsip kebebasan. Penelitian ini berjenis library research yang menggunakan sumber data berupa artikel jurnal, buku, serta data dokumentar lain yang setema. Hasil penelitian ini adalah ayat yang spesifik membicarakan childfree tidak ditemukan dan adanya nilai-nilai maqāṣid yang muncul yaitu hifzh al-din memuat adanya kontinuitas perkembangan agama, hifzh al-nasl adanya kesenjangan yang terjadi di masa depan, dan hifzh al-daulah melihat kualitas masyarakat dan kondisi kesejahteraan rakyat. Kata Kunci: Interpretasi; Ma’na Cum Maghza; QS. Ar-Rahman:33; Sulthan.
Konstruksi Praktik Salat Taqwiyatul Hifdzi Bagi Penghafal Al-Qur’an Di Pondok Pesantren An-nur 1 Charisma, Nur Lailatul; Enjelita, Linandha Shinta; Mustafidah, Nurul Fahmi; Hasanah, Mutimmatul; Mukaromah, Ni'matul; Idris, Muhammad Anwar
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.11559

Abstract

AbstractThis paper examines the practice of praying sunnah taqwiyatul hifdzi at Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Bululawang Malang. Researchers will examine the practice, factors and the influence of religious taqwiyatul hifdzi prayer for students who memorize the Qur'an. The methods of interview, observation, documentation and phenomenological approach as well as the use of the living hadith approach are used in this study. As for the results of this study, that the taqwiyatul hifdzi prayer at Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Malang is carried out in congregation on Thursday night, Friday Kliwon. The Hadith of the Prophet became the normative reason for the practice and the certificate given by the caregiver to the santri became the historical reason behind the practice. The benefits obtained by the perpetrators after carrying out the prayers include: strengthening the memorization of the Qur'an, nadzam, being given convenience and understanding in diniyah subject matter and getting closer to Allah. AbstrakTulisan ini mengkaji tentang praktik salat sunnah taqwiyatul hifdzi di Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Bululawang Malang. Peneliti akan mengkaji tentang praktik, faktor serta pengaruh keberagamaan salat taqwiyatul hifdzi bagi santri penghafal al-Qur’an. Metode wawancara, observasi, dokumentasi dan pendekatan fenomenologi serta pemanfaatan pendekatan living hadits digunakan dalam penelitian ini. Adapun hasil penelitian ini, bahwa salat taqwiyatul hifdzi di Pondok Pesantren An-Nur 1 Putri Malang dilakukan dengan berjamaah pada hari Kamis malam Jum’at kliwon. Hadits Nabi menjadi alasan normatif praktik tersebut serta ijazah yang diberikan pengasuh kepada santri menjadi alasan historis yang melatarbelakangi praktik tersebut. Manfaat yang diperoleh para pelaku setelah melaksanakan salat tersebut antara lain: memperkuat hafalan al-Qur’an, nadzam, diberikan kemudahan dan kefahaman dalam materi pelajaran diniyah serta mendekatkan diri kepada Allah.Kata Kunci: An-Nur 1; Living Hadits; Salat Taqwiyatul Hifdzi.
Pengumpul Harta Dalam Surat Al-Humazah (Tinjauan Semiotika Ferdinand De Saussure) hikmah, ismi wakhidatul; Yusup, Maulana; Alif, Muhammad Nur
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.11664

Abstract

AbstractThis paper examines the wealth collector in Surah al-Humazah, where they frequently disregard their obligation to worship God and are continually focused on multiplying their riches until they believe all they acquire could make them eternal. They believe they have abundant wealth, so they easily belittle others. This study employed a literature review method based on Ferdinand de Saussure's semiotic theory approach. The stages of the approach are syntagmatic analysis, paradigmatic analysis, binary opposition, and history confirmation. According to the findings of this study, there is coherence between verses in the Surah al-Humazah when using syntagmatic analysis. Second, wealth collectors are those with immoral tendencies who like to curse and blame. Also, they believe that their fortune would be able to eternalize them, making them hesitant to share. Hence, they threatened with hell huthamah. Furthermore, Surah al-Humazah has a secret message for every Muslim to practice social charity to create harmony among individuals in society.Keywords: al-Humazah; Binary opposition; Paradigmatic; syntagmatic. AbstrakTulisan ini membahas pengumpul harta yang ada dalam surat al-Humazah di mana pengumpul harta sering lalai dengan kewajiban ibadah kepada Tuhan dan selalu terfokus pada cara memperbanyak harta hingga mereka mengira harta yang mereka kumpulkan dapat mengekalkannya, merasa memiliki harta yang banyak sehingga mereka dengan mudahnya merendahkan orang lain. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan teori semiotika dari Ferdinand de Saussure dengan langkah yang pertama analisis sintagmatik, kedua analisis paradigmatik, ketiga oposisi biner, keempat mengkonfirmasi sejarah. Hasil dari penelitian ini adalah dengan analisis sintagmatik dalam surat al-Humazah terdapat koherensi antar ayat. Kedua, pengumpul harta ialah mereka yang memiliki sifat amoral yang suka mengumpat dan mencela serta menganggap hartanya dapat mengekalkannya sehingga enggan berinfak akibatnya mereka diancam dengan neraka huthamah. Selain itu surat al-Humazah memiliki pesan tersembunyi, yaitu agar setiap muslim beramal sosial dalam kehidupan bermasyarakat sehingga dalam bermasyarakat terjalin kerukunan antar sesama. Kata Kunci: al-Humazah; Oposisi Biner; Paradigmatik; Sintagmatik.
ajaz Al-Qur’an: Sebuah Diskursus Berfikir Dalam Pendidikan Islam Hidayat, M. Riyan; Fuadi, M. Yusril
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.11745

Abstract

AbstractUnderstanding the figurative meaning of majaz al-Qur'an in the context of ulum al-Qur'an entails some effort. The author will explore allusions from the majaz in terms of meaning and wisdom. The position of majaz al-Qur'an differs from that of the discourse on proverbs, which deals with concrete examples. Therefore, this study explains how the position of majaz influences the cognitive development of its readers from the perspective of educational psychology. Furthermore, this study also explores the educational value of majaz al-Qur'an. The author employs a qualitative approach with descriptive analysis to address the concern mentioned above. The findings of this study lead to features of the formation of thought in terms of educational psychology in general and the complete meaning of educational values in particular.Keywords: Education; Majaz Al-Qur'an; Psychology; Thinking.AbstrakPembahasan majaz al-Qur’an dalam studi ulum al-Qur’an membutuhkan usaha yang keras dalam memahami makna kiasannya. Kiasan-kiasan dari majaz tersebut akan penulis telusuri makna serta hikmahnya. Posisinya majaz al-Qur’an berbeda dengan diskursus Amsal yang membahas secara kongkrit tentang permisalan.  Selanjutnya, untuk mengungkap hal tersebut maka tulisan ini akan memaparkan bagaimana posisi majaz mampu membentuk konstruksi berfikir pembacanya melalui perspektif psikologi pendidikan lalu bagaimana nilai pendidikan yang terkandung dalam majaz al-Qur’an. Kemudian, untuk menjawab kegelisahan diatas maka penulis menggunakan metode kualitatif dengan deksriptif-analisis. Hasil penelitian ini selanjutnya mengarah pada aspek-aspek pembentukan berfikir yang ditinjau dari disiplin psikologi pendidikan secara umum dan secara spesifik terkandung di dalamnya makna yang penuh dengan nilai-nilai pendidikan. Kata Kunci: Berfikir; Majaz Al-Qur’an; Pendidikan; Psikologi.
Relasi Mubādalah Antara Pemerintah Dan Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19 Dalam Q.S An-Nisa' (4): 58-59 MZ, Ahmad Murtaza; Awaluddin, Raisa Zuhra Salsabila
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.11784

Abstract

AbstractThis article explores the relationship between government and society found in Q.S An-Nisa' (4): 58-59 using Qira’ah Mubādalah. Qira’ah Mubādalah is a method involving two parties that embodies the concepts of reciprocity and collaboration between the two involved parties. The steps of the study are as follows: First, determine and authenticate the Islamic teachings contained in global books that serve as the foundation for comprehension; second, identify the primary ideas contained in the texts to be analyzed; third, deduce from the second step the gender that is not indicated in the text from the text's major premise. The data source for this qualitative study is publications on the topic. According to the findings of this study, the government and society must rebuild reciprocal ties to create post-pandemic progress. This article also discusses the education and health sectors. According to the author, these two sectors are among the other two that require repair and renewal.Keywords: Covid-19; Government; Mubādalah; QS. an-Nisa: 58-59; Society. AbstrakArtikel ini mendiskusikan tentang hubungan antara pemerintah dan masyarakat yang terdapat dalam Q.S An-Nisa’ (4): 58-59 dengan menggunakan Qira’ah Mubādalah. Qira’ah Mubādalah merupakan pendekatan yang melibatkan dua belah pihak yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kesalingan dan kerja sama antara dua belah pihak yang berkaitan. Adapun langkah-langkahnya Pertama, menentukan dan menegaskan prinsip dalam ajaran Islam yang terdapat dalam teks-teks universal yang menjadi dasar dari pemahaman. Kedua, menemukan pemikiran inti yang tersimpan dalam teks-teks yang akan dilakukan penafsiran. Ketiga, menurunkan ide pokok dari teks yang terdapat dalam langkah kedua kepada jenis kelamin yang tidak disebutkan dalam teks. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif yang sumber datanya berasal dari artikel-artikel yang terkait dengan tema ini. Adapun hasil dari penelitian ini bahwa pemerintah dan masyarakat seyogyanya membangun kembali hubungan yang resiprokal sehingga dapat menciptakan kemajuan pasca pandemi. Artikel ini pula menyoroti dua sektor, yakni: pendidikan dan kesehatan. Yang kedua sektor ini menurut penulis salah dua dari sektor lain yang harus diperbaiki dan diperbaharui. Kata kunci: Covid-19; Masyarakat; Mubādalah, Pemerintah; QS. an-nisa: 58-59.
Kajian Tafsir Nusantara Terhadap Hukum Perkawinan Beda Agama Menurut Kompilasi Hukum Islam Indonesia Romdhon, Muhammad Rizqi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.12777

Abstract

AbstractInterfaith marriage remains a controversial topic forbidden under the MUI (Indonesian Ulema Council) fatwa. However, Hamka claimed in Tafsir al-Azhar that marriage between Muslim men and women from the people of the Bible is permitted. This claim raises the question of whether the law regarding interreligious marriage in the Compilation of Islamic Law is consistent with the Indonesian insight interpretation. This study aims to determine the relationship between interfaith marriage law in the Compilation of Islamic Law and the Indonesian insight interpretation of verses related to interfaith marriages. The research approach employed is qualitative content analysis employing a literature study to conclude that, first, the position of the Compilation of Islamic Law in the hierarchy of Indonesian laws and regulations is poor from a legal standpoint. Second, the rule prohibiting the marriage of women from the people of the Bible must be reconsidered because the existing reasons and local interpretations all state that it is permissible.Keywords: Indonesian insight interpretation; Interfaith marriage; The Compilation of Islamic Law.AbstrakPernikahan beda agama merupakan hal yang masih tabu, fatwa MUI pun melarangnya. Namun menariknya Hamka dalam Tafsir al-Azharnya menyatakan bahwa pernikahan laki-laki muslim dengan wanita ahlulkitab itu diperbolehkan. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah hukum pernikahan beda agama dalam Kompilasi Hukum Islam berkesesuaian dengan penafsiran tafsir nusantara? Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana korelasi hukum pernikahan beda agama dalam Kompilasi Hukum Islam dengan penafsiran tafsir-tafsir Nusantara terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan pernikahan beda agama. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat analisis konten dengan menggunakan kajian pustaka menyimpulkan bahwa, Pertama: kedudukan Kompilasi Hukum Islam dalam hierarki peraturan perundang-undangan Indonesia lemah secara hukum. Kedua: hukum menikahi perempuan ahlulkitab perlu dikaji kembali pelarangannya dikarenakan dalil-dalil yang ada beserta tafsir-tafsir Nusantara semua menyatakan boleh.Kata Kunci: Kompilasi Hukum Islam; Pernikahan Beda Agama; Tafsir Nusantara.
Indonesian Women's Leadership (Quranic Maudhu'i Interpretation of Indonesian Ministry of Religious Affairs) Azkiyah, Ulfa Mina; Sulaiman, Sulaiman; Hasan, Ilham Ali; Wisnu Wardana, Rizki Afrianto; Izah, Syafira Anisatul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.12780

Abstract

AbstractThis article answers how the Maudhu'i Landscape of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia views women's leadership in Indonesia and implementation in the field. This paper aims to reveal women's leadership in Indonesia from the point of view of interpretation and its implementation in the field. This view is backed by the leadership described in the Qur'an, although in an inappropriate field. Therefore, women's leadership became the object of study in this article. In developing countries such as Indonesia, women's leadership is open but limited by the patriarchy embraced by Indonesian society. This research is descriptive research with a central study approach whose data sources are from the Qur'an, hadith books, journals in the same direction as research, and supporting books. Despite the debate about leadership according to social experts and the sciences related to it, the Qur'an has seriously expounded on leadership itself. The discourse of leadership in the Qur'an aims to find solutions and innovations from the verses to be ideas in human relationships. Leadership is the development of human resources, natural resources, and improvements in the government system so that these three associations can change existing leadership patterns. The Maudhu'i interpretation of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia has themes that classify women's leadership in the family, women's leadership in worship, women's leadership in society, and women's leadership in the state.Keywords: Al-Qur'an; Maudhu'i Interpretation of Qur’an; Woman leadership. AbstrakArtikel ini menjawab bagaimana Landskap Maudhu’i Kementerian Agama RI memandang kepemimpinan perempuan di Nusantara serta aplikasi dilapangan. Sehingga Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap kepemimpinan perempuan di Nusantara dari sudut pandang tafsir dan aplikasi dilapangan. Hal ini dilatar belakangi oleh kepemimpinan yang dijelaskan dalam al-qur’an akan tetapi dilapangan tidak sesuai. sehingga kepermimpinan perempuan menjadi objek kajian artikel ini. Di negara berkembang seperti Indonesia kepemimpinan perempuan terbuka akan tetapi dibatasi oleh paham partiarki yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Penelitian ini masuk kedalam klaster penelitian kulitatif diskriptif dengan pendekatan kajian pusataka. Terlepas dari perdebatan tentang kepemimpinan menurut pakar sosial, serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, sesunggunya al-Qur’an telah memaparkan tentang kepemimpinan itu sendiri. Diskursus kepemimpinan di dalam al-Qur’an bertujuan untuk menemukan solusi dan inovasi dari ayat-ayat al-Qur’an sehingga menjadi gagasan dalam hubungan antar manusia dengan manusia. Kepermimpinan tersebut adalah pengembangan Sumber Daya Manusia, sumber daya alam dan perbaikan dalam sistem kepemerintahan, sehingga dari tiga soslusi ini mampu merubah pola kepemimpinan yang ada. Seperti yang ada dalam Landskap Maudhu’i Kementerian Agama RI yang mengklasifikasikannya dalam Kepemimpinan Perempuan dalam Keluarga, Kepemimpinan Perempuan dalam Ibadah, Kepemimpinan Perempuan dalam Masyarakat, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Negara.Kata Kunci: Al-Qur’an; Kepemimpinan perempuan; Tafsir Maudhu’i.
Takhrij Hadits Tarekat Dalam Kitab Al Mukhtasor Fi Ulumiddin Karya Sheikh Abdul Qadir Al Jailani Muhaini, Akhmad; Mukhtar, Naqiyah
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.12886

Abstract

AbstractThis paper examines takhrij al-hadith on the hadith that discusses the tarekat. Researchers are attempting to trace the Prophet's hadiths about tarekat in the book Al-Mukhtasor Fi Ulumiddin by Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani, focusing on library research (library research). Then, to assess the quality of these hadiths, this study investigates the transmission path (sanad) of each of these hadiths in the primary books. According to the findings of this study, hadiths about tarekat have varying attributes; some are legitimate, hasan, and daif, but all of these hadiths can be utilized as evidence because they are fadhail al a'mal. According to the hadith, Amaliah Tarekat was highly approved by the Prophet because the editorial's purpose was to awaken the spirit of worship.Keywords: Hadith; Quality; Tarekat.  AbstrakTulisan ini melakukan kajian takhrij al-hadis terhadap hadits yang menerangkan tentang tarekat. Dengan fokus pada studi pustaka (library reaserch), peneliti berusaha melacak hadits-hadits Nabi tentang tarekat dalam kitab al-mukhtasor fi ulumiddin karya Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani qsa. Kemudian untuk menganalisa kualitas hadits tersebut, tulisan ini secara khusus mengkaji jalur periwayatan (sanad) setiap hadits tersebut dalam kitab-kitab induk. Hasil penelitian ini didapatkan temuan bahwa hadis-hadis tentang tarekat mempunyai kualitas yang variative, ada yang berstatus sahih, hasan dan daif, namun semua hadits tersebut dapat dijadikan hujjah, sebab bersifat fadhail al a’mal. Adapun pemahaman dari hadis tersebut adalah amaliah tarekat sangat dianjurkan Nabi karena redaksinya adalah membangkitkan semangat beribadah. Kata Kunci: Hadits; Kualitas; Tarekat.
Konsep Ummatan Wasathan dalam Perspektif Tafsir Nusantara (Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir Al-Misbah) Nuryansah, Mohamad; Haq, Muhammad Izzul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.13113

Abstract

AbstractThis study aims to explain the notion of ummatan wasathan from an Indonesian perspective. This principle is critical to comprehend and apply in the face of the ongoing challenge of radicalism and liberalism. Individuals and groups are at odds as a result of radicalism and liberalism. There must be a resolution so that the disagreement does not last for a long time; one option is to adopt the concept of ummatan wasathan, or people in the middle. This study is a library research article using a descriptive analysis approach. The essential data is in the form of wasthan terms in interpreting An-Nur, al-Azhar, and Al-Misbah. The following are the study's findings: According to An-Nur's interpretation, ummatan wasathan are the best-chosen people because they are fair, balanced, not overly religious, and do not lack in worship. Then, according to Al-Azhar's interpretation, ummatan wasathan are those who are in the middle, who do not lean towards the world or the hereafter, who always take the straight path, and who are not mainly concerned with the spiritual and forget the physical. Furthermore, Al-Misbah's interpretation explains that ummatan wasathan (middle) is just, chosen, moderate, and excellent people. They pursue the middle path and are constantly thankful for life.Keywords: Concept; Indonesian Interpretation; Ummatan Wasathan. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengungkap konsep ummatan wasathan dalam perspektif tafsir Indonesia. Konsep tersebut penting untuk dipahami dan diimplementasikan di tengah gempuran radikalisme dan liberalisme yang terus mengancam. Radikalisme dan liberalisme menyebabkan munculnya konflik antar individu maupun kelompok. Perlu adanya penyelesaian agar konflik tidak berlangsung secara berkepanjangan, salah satu caranya dengan mengimplementasikan konsep ummatan wasathan yaitu umat yang berada di tengah-tengah. Tulisan ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan diskriptif analisis. Data utamanya berupa term ummatan wasthan dalam tafsir An-Nur, tafsir al-Azhar dan tafsir Al-Misbah. Temuan dalam tulisan ini yaitu: Pada Tafsir An-Nur dijelaskan bahwa ummatan wasathan merupakan kaum pilihan yang paling baik, bersikap adil, seimbang, tidak berlebihan dalam beragama dan juga tidak kurang dalam beribadah. Kemudian dalam Tafsir Al-Azhar disebutkan, ummatan wasathan adalah umat yang berada ditengah-tengah, tidak condong ke dunia maupun akhirat, selalu menempuh jalan yang lurus, serta bukan semata-mata mementingkan rohani sehingga melupakan jasmani. Sedangkan Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ummatan wasathan (pertengahan) merupakan umat yang adil dan pilihan, umat yang moderat dan teladan. Mereka menempuh jalan tengah dan selalu bersyukur menerima hidup. Kata Kunci: Konsep; Tafsir Indonesia; Ummatan Wasathan.

Page 10 of 15 | Total Record : 149