cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
Makna Pembacaan Surah al-Fa>tihah pada Fenomena Ritual Jemaah Dzikrul Ghafilin di Desa Baron Nganjuk: Analisis Fenomenologi Alfred Schutz Wachid, Mohamad Ibnu; Ahmadi, Rizqa
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9530

Abstract

AbstractThe recitation of surah al-Fatihah 100 times is a characteristic of the tradition of Jemaah Dzikrul Ghafilin. Normatively the recitation of al-Fatihah has various virtues including the master surah of the Qur'an, being a condition of the validity of prayer, used as a healing medicine. According to the provisional argument Dzikrul Ghafilin in general his orientation is purely to draw closer to Allah. In the meaning of the congregation in Baron Nganjuk is more oriented to the hope of the granting of all hajat. He is facilitated in work, education, healing, homemaking, and all things world. This research is considered important to dig deeper into the motives of pilgrims, more precisely how the understanding of pilgrims about Dzikrul Ghafilin in Baron Nganjuk, and how the findings are phenomenological. This research is qualitatively designed, using phenomenological methods and refers to the analysis of alfred schultz's construction of meaning. As for data collection techniques, the author directly observes as well as becomes a participant, conducts interviews and collects documentation. Phenomenologically the findings of this field study are; Theological motives add faith to Allah SWT, motives to preserve the teachings of the single mursyid Dzikrul Ghafilin (Gus Miek) in order to get the blessings of Gus Miek's teachings by facilitated all worship, and the motive of self-introspection in order to become a pious person in life. The interaction of the experience of the congregation is to get the support of the new family of Dzikrul Ghafilin pilgrims, gain insight into knowledge by exchanging opinions on life issues, and mutual tolerance to help the Dzikrul Ghafilin event. AbstrakPembacaan surah al-Fatihah 100 kali ialah ciri khas tradisi Jemaah Dzikrul Ghafilin. Secara normatif pembacaan al-Fatihah memiliki berbagai keutamaan diantaranya ialah surah induk al-Quran, menjadi syarat sahnya salat, dijadikan obat penyembuh. Menurut argumen sementara Dzikrul Ghafilin secara umum orientasinya ialah murni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pemaknaan jemaah di Baron Nganjuk ini lebih berorientasi pada pengharapan terkabulnya segala hajat. Diataranya diperlancar dalam pekerjaan, pendidikan, kesembuhan, berumahtangga, dan segala perkara dunia. Penelitian ini dirasa penting untuk menggali lebih dalam motif jemaah, lebih tepatnya bagaimana pemahaman jemaah mengenai Dzikrul Ghafilin di Baron Nganjuk, beserta bagaimana hasil temuanya secara fenomenologis. Penelitian ini berdesain kualitatif, menggunakan metode fenomenologi dan mengacu analisis konstruksi makna Alfred Schultz. Adapun teknik pengumpulan data, penulis secara langsung melakukan observasi sekaligus menjadi partisipan, melakukan wawancara dan mengumpulkan dokumentasi. Secara fenomenologis hasil temuan dari penelitian lapangan ini ialah; Motif Teologis menambah keimanan kepada Allah SWT, motif melestarikan ajaran mursyid tunggal Dzikrul Ghafilin (Gus Miek) agar mendapatkan berkah ajaran Gus Miek dengan diperlancar segala hajat, dan motif intropeksi diri agar menjadi pribadi umat yang saleh dalam kehidupan. Interaksi pengalaman jemaah ialah mendapat dukungan keluarga baru jemaah Dzikrul Ghafilin, mendapatkan wawasan ilmu dengan saling bertukar pendapat masalah kehidupan, dan saling toleransi membantu acara Dzikrul Ghafilin.Kata Kunci: al-Fatihah; Dzikrul Ghafilin; Fenomenologi.
Interpretasi kata Sulthan (Kajian Ma’na Cum Maghza Terhadap Q.S. Ar-Rahman (55): 33) Wijaya, Roma; Malikah, Siti Sholihatun
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9713

Abstract

AbstractThe Qur'an with all the words and sentences in it always gives birth to a double meaning. In accordance with the point of view, the approach used is the interpreter or reader. One of the words reviewed is sulthan, because the word contains variations in meaning depending on the syntax of the sentence before and after and the context that accompanies it. Therefore, this study reveals the meaning of the word sulthan from the verse Q.S. Ar-Rahman (55): 33. The theoretical approach used is the theory of ma'na cum maghza which was pioneered by Sahiron Syamsuddin as a hermeneutic lighter at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. With the description-analysis analysis method as well as the primary source in the form of the interpretation of the word sultan from various books of interpretation and also the Qur'an itself. Then secondary sources in the form of studies related to the theme of discussion, either in the form of journals, books, and so on. The results of this study are first, this verse is used as a reference source for the science of astronomy to explore the universe, because it expresses the invitation to penetrate the heavens and the earth. Second, the word sulthan in Surah Ar-Rahman verse 33 describes the power and power of Allah over his supervision of humans and jinn. Third, in depth the Qur'an through Surah Ar-Rahman verse 33 is a proof of Allah's power. AbstrakAl-Qur’an dengan segala kata dan kalimat di dalamnya selalu melahirkan makna ganda. Sesuai dengan sudut pandang, pendekatan yang digunakan mufassir atau pembaca. Salah satu kata yang diulas adalah sulthan, karena kata tersebut mengandung variasi makna tergantung kepada sintaksis kalimat sebelum dan sesudah serta konteks yang menyertainya. Oleh karena itu, penelitian ini mengungkapkan makna kata sulthan dari ayat Q.S. Ar-Rahman (55): 33. Adapun teori pendekatan yang digunakan adalah teori ma’na cum maghza yang dipelopori oleh Sahiron Syamsuddin selaku pemantik hermeneutika di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan metode analisis deskripsi-analisis serta sumber primer berupa penafsiran kata sulthan dari berbagai kitab tafsir dan juga al-Qur’an itu sendiri. Kemudian sumber sekunder berupa kajian-kajian yang terkait dengan tema pembahasan, baik berupa jurnal, buku, dan lain sebagainya. Adapun hasil penelitian ini adalah pertama, ayat ini dijadikan sumber rujukan tentang ilmu astronomi untuk menjelajahi alam semesta, karena di dalamnya mengungkapkan dipersilahkannya menembus langit dan bumi.  Kedua,  kata sulthan dalam surah Ar-Rahman ayat 33 mendeskripsikan tentang kekuatan dan kekuasaan Allah terhadap pengawasannya kepada manusia dan jin. Ketiga, secara mendalam al-Qur’an melalui surah Ar-Rahman ayat 33 ini sebagai bukti kekuasaan Allah Kata Kunci: Interpretasi; Ma’na-Cum-Maghza; QS. ar-Rahman: 33; Sulthan.
Reinterpretasi Hadis Ketaatan Istri Terhadap Suami Perspektif Qira’ah Mubadalah Haitomi, Faisal
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.9764

Abstract

AbstractThis article discusses about the relationship between husband and wife in the family which focuses on the hadith narrated by Ibn Majah through the Musawir al-Himyari route. This hadith is one of the many religious texts that are used to legitimize the marginalization of women, especially in the family realm. This research borrows the Mublah approach offered by Faqihuddin Abdul Kodir as an analytical tool that emphasizes cooperation and/or interdependence between two parties. From the discussion presented in this paper, the author comes to the conclusion that the hadith regarding the recommendation of a wife to seek and gain the pleasure of her husband, cannot be understood as one party only as emphasized by classical scholars. Partial texts like this when viewed from the point of view of mublah, are very contrary to the teachings of Islamic principles, especially in the family which emphasizes cooperation between husband and wife for the sake of creating a sakinah family, mawaddah warahmah. Therefore, it is not only the wife who is encouraged to seek and get the pleasure of her husband, but also vice versa in this case the husband also has the same obligations as those imposed on his wife.AbstrakArtikel ini membahas terkait relasi suami dan istri di dalam keluarga yang fokus  terhadap hadits riwayat Ibnu Majah melalui jalur Musawir al- Himyari. Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak teks agama yang digunakan sebagai legitimasi atas pemarginalan perempuan, terlebih lagi dalam ranah keluarga. Riset ini meminjam pendekatan Mubadalah yang ditawarkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir sebagai pisau analisis yang menekankan kerjasama dan atau ketersalingan antara dua belah pihak. Dari diskusi yang dihadirkan dalam paper ini, penulis sampai kepada kesimpulan bahwa hadits tentang anjuran istri mencari dan mendapatkan ridho suami, tidaklah bisa difahami sebagai salah satu pihak saja seperti yang ditegaskan oleh ulama klasik. Teks- teks parsial seperti ini jika dilihat dari sudut pandang mubadalah, sangatlah bertentangan dengan ajaran prinsip Islam terutama dalam keluarga yang menekankan kerjasama antara suami dan istri demi terciptanya keluarga sakinah, mawaddah warahmah. oleh karenanya tidak hanya istri yang dianjurkan mencari dan mendapatkan ridho suami, tetapi juga sebaliknya suami dalam hal ini juga memiliki kewajiban yang sama sebagaiamana yang dibebankan kepada istri.Kata Kunci: Hadits; Mubadalah; Relasi Suami Istri.
Kritik Epistemologis Ignaz Goldziher Dan Joseph Schacht Terhadap Kitab Al-Muwattha’ Imam Malik Mutaqin, Rizal Samsul; Muazar, Dandy Syauqy
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.9908

Abstract

AbstractThis paper will try to see how the contribution of Imam Malik with his book al-Muwattha' to the development of hadith, and how the orientalist criticism of the book. In other words, how do orientalists criticize al-Muwattha' as the first generation of books in the writing of hadith. The research conducted in this study is a literature study using the book of al-Muwattha' Imam Malik as the primary source. The result of this research is Goldziher said that al-Muwattha' is more appropriately called a law book than a hadith book. Schact said: there is not a single authentic hadith contained in the book al-Muwattha', so that criticism has implications for doubting the authentic hadith as the word of the Prophet, and the Prophet there is not a single authentic hadith from the Prophet. AbstrakTulisan ini akan mencoba melihat bagaimana kontribusi Imam Malik dengan kitabnya al-Muwattha’ terhadap perkembangan hadis, dan bagaimana kritik orientalis terhadap kitab itu. Dengan kata lain, bagaimana orientalis mengkritik al-Muwattha’ sebagai kitab generasi pertama dalam penulisan hadis. Penelitian yang dilakukan dalam studi ini adalah studi literatur dengan menggunakan kitab al-Muwattha’ Imam Malik sebagai sumber primer. Hasil dari penelitian ini ialah Goldziher mengatakan bahwa al-Muwattha’ lebih tepat disebut kitab hukum daripada disebut kitab hadis. Schact mengatakan: tidak ada satupun hadis yang shahih yang terdapat dalam kitab al-Muwattha’, sehingga dari kritik itu berimplikasi pada keraguan terhadap hadis yang otentik sebagai sabda Nabi, dan Nabi tidak ada satu pun hadis yang otentik dari Nabi. Kata Kunci: Critics; Hadith Literature; Orientalists; Kitab al-Muwattha’.
Penafsiran Masa Sahabat, Di antara Perbedaan Pemahaman dan Perpecahan Umat. Sadewa, Mohammad Aristo
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.10014

Abstract

AbstractThis paper aims to trace the history of the development of interpretation in the time of the Companions. This research uses a comparative-descriptive method with a qualitative approach. So it can be concluded that the development of the interpretation of the Companions period cannot be separated from the different conditions of the Companions in understanding the Qur'an. In addition, at that time there was also a division among the friends. The differences in understanding and division of the people have implications for the interpretation carried out. Differences in understanding do not have such a big impact, while the division of the ummah has a very big impact on interpretation. The division of the ummah which resulted in the emergence of distorted interpretations under the pretext of justifying their sect. The sources of interpretation carried out are the Qur'an, Hadith, Ijtihad, and Ahl-Kitab. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk melacak sejarah perkembangan tafsir di masa sahabat. Penelitian ini menggunakan metode komparatif-deskriptif dengan pendekatan kulitatif.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan penafsiran masa sahabat tidak terlepas dari kondisi sahabat yang berbeda dalam memahami al-Qur’an. Ditambah lagi pada saat itu muncul juga sebuah perpecahan di antara para sahabat. Dari perbedaan pemahaman dan perpecahan umat tersebut berimplikasi kepada penafsiran yang dilakukan. Perbedaan pemahaman tidak berdampak begitu besar, sedangkan perpecahan umat dampaknya begitu besar bagi penafsiran. Perpecahan umat yang mengakibatkan munculnya penafsiran yang menyeleweng dengan dalih untuk menjustifikasi alirannya. Sumber-sumber penafsiran yang dilakukan ialah dengan al-Qur’an, Hadits, Ijtihad, dan Ahl-Kitab. Kata Kunci: Perbedaan Pemahaman; Perpecahan Umat; Tafsir Sahabat.
KARAKTER FUNDAMENTAL DI DALAM AL-QUR’AN Respon Atas Keberadaan Ayat Mutasyabih Masruchin, Masruchin; Wahyudin, Wahyudin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10311

Abstract

AbstractThis study explains the fundamental response to the existence of the mutasyabihat verses (verses with ambiguous interpretation) found in Surah Al-Imran: 7. The research method chosen was library research. The findings of this study show that the mutasyabih verse in the Qur'an has the potential for two or more meanings. This knowledge elicits two counterproductive arguing responses, which subsequently take on the personality of thinking and moving. The first is a character is known as zaigun (misguided), who seeks takwil and/or purposefully produces defamation. Rasikhun is the second (who studies knowledge). AbstrakTulisan ini memaparkan tentang respon fundamental atas keberadaan ayat mutasyabihat yang tercantum dalam surat Al-Imran: 7. Metode penelitian dalam tulisan ini berbasis pada kajian pustaka (library research). Hasil dari penelitian ini mengungkapkan ayat mutasyabih di dalam al-Qur’an, mengandung kemungkinan dua makna atau lebih. Informasi ini mengundang dua respon argumentatif kontraproduktif yang kemudian menjadi karakter berfikir dan bergerak. Pertama karakter yang disebut zaigun (condong kepada kesesatan) yang berupaya mencari-cari takwil dan atau sengaja menimbulkan fitnah. Dan kedua adalah rasikhun (yang mendalami ilmu).Kata Kunci: Fundamentalisme; Mutasyabih; Rasikhun; Respon Argumentatif; Zaighun.
Pemaknaan Waliy (Awliya’) Sebagai Pemimpin Dalam Pandangan Mufassir Klasik dan Modern Septiawadi, Septiawadi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10324

Abstract

AbstractThe study of the scriptures through interpretations is a way to provide solutions to stem conflicts in socio-political relations in a pluralistic society. By using a qualitative method with a library research approach, this research will examine the meaning of waliy or awliya' from classical and modern commentators. The commentator's view explains that the mention of waliy or awliya' is a term that indicates close friendship, help from enemies used in asylum asking for protection. Wali is closer to its use outside of political leadership, while its use in political space and regional power uses the term waalin. AbstrakKajian terhadap kitab suci melalui penafsiran-penafsiran adalah suatu jalan untuk memberikan solusi membendung pertikaian dalam hubungan social politik ditengah masyarakat yang majemuk. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research) penelitian ini akan mengkaji makna waliy atau awliya’ dari mufassir klasik dan modern. Pandangan mufassir menjelaskan bahwa penyebutan waliy atau awliya’ merupakan istilah yang menunjukkan persahabatan dekat, pertolongan dari musuh yang digunakan dalam persuakaan minta perlindungan. Wali lebih dekat penggunaannya diluar kepemimpinan politik, sedangkan penggunaan pada ruang politik dan kekuasaan wilayah memakai istilah waalin.Kata Kunci: Pemimpin; Penafsiran; Waliy-Awliya’.
Konsep Jihad dalam Al-Qur’an (Kritik Hermeneutika Otoritatif Khaled Abu El-Fadh) Ahlan, Ahlan; Redho, M. Ragap
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10428

Abstract

AbstractThis paper aims to explore the meaning of jihad using the analytical knife of Authoritative Hermeneutics which was initiated by Khaled Abu El Fadh. The view of Jihad that has spread widely in society is the result of a misunderstanding of hard-line Islamic groups. Such a mistake in thinking requires a reduction in thinking to be able to provide understanding to the community about a more inclusive teaching concept. This study uses a qualitative approach with descriptive analysis method. The results in this study reveal that the idea of Jihad according to Authoritative Hermeneutics is not the same as qital, in the Qur'an Jihad does not refer to battle or war. Jihad in Islam can mean an effort to harmonize a safe life in society, by not spreading worries, to bring about the suitability of life regardless of differences by prioritizing humanistic principles, as well as joint efforts to build a more decent life that avoids poverty in the midst of an increasingly developing era. It can be concluded from this paper that jihad is not only related to war but also talks about the moral and spiritual formation of people who uphold human values, tolerance, justice and equality in life by not creating gaps and worries in social life. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengupas makna jihad dengan menggunakan pisau analis Hermeneutika Otoritatif yang digagas oleh Khaled Abu El Fadh . Pandangan tentang Jihad yang telah banyak menyebar dalam masyarakat merupakan hasil dari kesalahan berpikir kelompok Islam garis keras. Kesalahan berpikir yang demikian, diperlukan reduksi pemikiran untuk dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sebuah konsep ajaran yang lebih inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan metode Deskriptif analisis. Hasil dalam penelitian ini mengungkapkan bahwasannya gagasan Jihad menurut Hermeneutika Otoritatif tidak sama dengan qital, dalam al-Qur’an Jihad tidak merujuk pada pertempuran atau perang. Jihad dalam Islam bisa bermakna usaha menyelaraskan hidup yang aman dalam masyarakat, dengan tidak menebar kekhawatiran, menghadirkan kesesuaian hidup tanpa memandang perbedaan dengan mengedepankan prinsip humanistik, serta usaha bersama membangun kehidupan yang lebih layak yang terhindar dari kemiskinan di tengah kemajuan zaman yang semakin berkembang. Dapat disimpulkan dari tulisan ini bahwa jihad tidak hanya berkaitan dengan peperangan tapi juga berbicara tentang pembentukan moral dan spiritual umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan dan kesetaraan hidup dengan tidak menciptakaan kesenjangan dan kekhawatiran dalam hidup bermasyarakat.Kata Kunci: Hermeneutika Otoritatif Khaled Abu El Fadh; Jihad; Qital.
Pembacaan Surat At-Taubah Dalam Tradisi “Tobatan” pada Usia Kehamilan Tujuh Bulan di Dusun 2 Umbulkadu Desa Sendang Asri Lampung Tengah Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 15 No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v15i2.10719

Abstract

AbstractThis article examines the implementation of the "Repentance" tradition for pregnant women when they are seven months old by reading the letter at-Taubah to offer a prayer to pregnant women. Researchers want to examine the origin and implementation, where "Penance" is another term for "mitoni". By studying the history and how it is implemented, the researcher uses a literature review and interviews with figures in Sendang Asri village. From the results of this study, the people of Sendang Asri, especially hamlet 2 Umbulkadu, have been carrying out the "Repentance" tradition for a long time which was brought by one of the clerics from Java who lived in the village and the implementation of "Tobat" was carried out by seven people to read the letter at-Taubah with hope that mothers and babies who are being conceived will get health and safety until the time of delivery. AbstrakArtikel ini mengkaji tentang pelaksanaan tradisi “Tobatan” untuk ibu hamil ketika berusia tujuh bulan dengan membaca surat at-Taubah untuk memanjatkan do’a kepada ibu yang sedang mengandung. Peneliti ingin mengkaji asal usul serta pelaksanaannya, dimana “Tobatan” adalah sebuah istilah lain dari “mitoni”. Dengan mengkaji historis serta cara pelaksanaannya, peneliti menggunakan kajian pustaka serta wawancara dengan tokoh yang ada di kampung Sendang Asri. Dari hasil penelitian ini bahwa masyarakat Sendang Asri khususnya dusun 2 Umbulkadu melakukan tradisi “Tobatan” sudah cukup lama yang dibawa oleh salah satu tokoh Kiyai dari Jawa yang menetap di kampung tersebut dan pelaksanaan “Tobatan” dilakukan oleh tujuh orang untuk membaca surat at-Taubah dengan harapan agar ibu dan bayi yang sedang dikandung mendapatkan kesehatan serta keselamatan hingga waktu melahirkan.Kata Kunci: Mitoni; Surat at-Taubah; Tradisi Tobatan.
Pemikiran William Montgomery Watt Tentang sosok Muhammad dalam karyanya Muhammad Prophet And Tasteman Adz Dzikri, Danang Fachri; Solehah, Ni'matus
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i1.10941

Abstract

AbstractMany of the experts in Islamic studies both Eastern (Occidental) and Western (Orientalist) describe concepts related to the Prophet Muhammad. One of them is William Montgomerry Watt, an English orientalist. The purpose of this study is to determine the subjectivity and objectivity of orientalist figures in studying Islamic history. This study uses a qualitative research method with a library research approach. Watt is one of the figures who examines Muhammad's life with thoughts based on a socio-cultural approach. Then Richard Bell, one of the teachers who also influenced Watt's thinking a lot. In his book, Muhammad Prophet and Tasteman, Watt tries to accommodate the previous book about Muhammad. Was Muhammad the Prophet? or as a statesman? Or even as a second?. AbstrakBanyak dari para pakar kajian Islam baik Timur (oksidentalis) ataupun Barat (Orientalis) menjabarkan konsep-konsep yang berkaitan dengan Nabi Muhammad. Salah satunya yaitu William Montgomerry Watt, orientalis yang berkebangsaan Inggris. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui subjektivitas dan objektifitas tokoh orientalis dalam mengkaji sejarah Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Watt merupakan salah satu tokoh yang mengkaji kehidupan Muhammad dengan pemikiran-pemikiran yang dilandasi dengan pendekatan sosio-kultur. Kemudian Richard Bell, salah seorang guru yang juga banyak banyak mempengaruhi pemikiran Watt. Dalam bukunya yang berjudul Muhammad Prophet and Tasteman, Watt mencoba mengakomodir buku tentang Muhammad yang sebelumnya. Apakah Muhammad sebagai Nabi? atau Sebagai Negarawan? Atau bahkan sebagai kedua?. Kata Kunci: Kajian Islam di Barat; Muhammad Prophet and Tasteman; William Montgomerry Watt.

Page 9 of 15 | Total Record : 149