cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan)
ISSN : 24610437     EISSN : 25409131     DOI : -
Jukung adalah jurnal yang berisikan hasil-hasil penelitian ilmiah meliputi bidang rekayasa dan teknologi lingkungan yang dikelola oleh Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Jukung diterbitkan dua kali dalam setahun setiap bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
PENINGKATAN KANDUNGAN PROTEIN MIE BASAH DENGAN PENAMBAHAN DAGING IKAN BELUT (Monopterus albus Zuieuw) Candra Candra; Hafni Rahmawati
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.054 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4665

Abstract

Tujuan riset ini adalah mempelajari pengaruh penambahan daging ikan belut (Monopterus albus Zuieuw) terhadap karakteristik kimia dan organoleptik mie basah. Mie basah yang beredar di pasaran memiliki kandungan nutrisi kurang baik, yaitu kadar airnya mencapai 52% sehingga daya awet rendah hanya bisa bertahan 40 jam pada suhu ruang, berbau asam, berlendir dan kadar protein rendah (4%). Penambahan daging ikan belut pada mie basah sebanyak 4 taraf yaitu 0; 1,5; 3; dan 4,5 %. Data hasil menunjukan peningkatan signifikan (p<0,05) untuk kadar protein, lemak dan abu. Sedangkan pada kadar air dan karbohidrat terjadi perubahan signifikan (p<0,05). Berdasarkan data hasil uji organoleptik, peningkatan signifikan (p<0,05) untuk nilai rasa dan aroma, tetapi terjadi penurunan signifikan pada nilai tekstur dan warna (p<0,05).Kata kunci : belut, mie basah, organoleptic, protein. The object of the research was studying wet noodle chemistry and organoleptic characteristic adding with eel (Monopterus albus Zuieuw) meat. Wet noodles in the market have a low nutrition. That were low protein (4%), high moisture (52%), short durrability (40 hours) in room temperature, sour odor and much mucus. The treatment for wet noodles adding with eel meat have 4 levels (0; 1,5; 3; and 4,5 %). The result were significant (p<0,05) increased for protein, lipid, and ash, but  significant (p<0,05) changed for moisture and carbohydrate. Organoleptic characteristic were showed significant (p<0,05) increased for taste and odor specifications, but significant (p<0,05) decreased for texture and color.Key words : eel meat, organoleptic, protein, wet noodle.
PENGARUH KONSENTRASI PEKTIN KULIT PISANG TERHADAP KINERJA MEMBRAN SILIKA YANG DIAPLIKASIKAN PADA AIR PAYAU Muthia Elma; Mahmud Mahmud; Lilis Suryani; Akhbar Akhbar; Fitri Ria Mustalifah; Erdina L.A Rampun; Dhiyaur Rahmah; Nur Baity
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.62 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i2.7318

Abstract

Banjarmasin berada di ketinggian rata-rata 0,16 m dibawah permukaan laut. Sumber air bersih seperti sungai dan sumur yang jika musim kemarau atau saat air laut pasang dapat menjadi asin karena intrusi air laut. Sehingga, dalam penggunaannya perlu mendapat perlakuan khusus untuk menghilangkan kadar garam yang terkandung dalam air seperti teknologi membran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan pektin kulit pisang dengan konsentrasi berbeda terhadap kinerja membran silika-pektin pada proses desalinasi air payau. Membran yang digunakan berasal dari Tetraethyl orthosilicate (TEOS) dengan pektin dari limbah kulit pisang sebagai template. Penyisipan pektin dari limbah kulit pisang dilakukan untuk meningkatkan hidrostabilitas dan memperkuat struktur silika pada membran.  Kinerja membran diuji melalui proses pervaporasi pada suhu ruang (25oC).  Pervaporasi dilakukan dengan mengumpulkan permeat kedalam cold trap yang fasenya diubah menjadi uap pada saat pemisahan dan dikondensasi kembali dengan bantuan nitrogen cair.  Pervaporasi air payau artifisial (NaCl 0,3%) sebagai umpan diuji menggunakan membran silika dengan konsentrasi pektin 1% dan 2,5% kalsinasi 300 oC.  Hasil dari penelitian ini, fluks air yang didapat rata-rata 4,53 kg.m2.h-1 (1%) dan 7,14 kg.m2.h-1 (2,5%) dengan rejeksi garam yang diperoleh >90%. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi pektin yang digunakan akan menghasilkan fluks yang lebih tinggi. Kata kunci: desalinasi, membran silika pektin, pektin kulit pisang, pervaporasi. Banjarmasin has an average height of 0.16 m below sea level. Clean water sources such as river and well during hot season or high tides become salty due to sea water intrusion. Therefore, it needs special treatment to remove the levels of salt contained in water using membrane technology.  The purpose of this research is to understand the effect of the addition of pectin from banana peel with different concentrations on the performance of the silica-pectin membrane in the brackish water desalination process. Membrane was prepared from Tetraethyl orthosilicate (TEOS) with pectin from banana peel waste as a template. Pectin addition from banana peel waste is done to increase hydrostability and strengthen silica structure in the membrane. Membrane performance was tested through pervaporation at room temperature (25oC). Pervaporation is carried out by collecting permeats into cold trap whose phases are converted to gas during separation and re-condensed using liquid nitrogen. Artifisial brakish water pervaporation (NaCl 0.3%) applied as feed was treated by using silica membranes with pectin concentrations of 1% and 2.5% at calcination temperatures of 300oC.  The results of this study, observed average water flux obtained was 4.53 kg.m2.h-1 (1%) and 7.14 kg.m2.h-1 (2.5%) with salt rejection obtained > 90 %. Keywords:banana peel pectin, desalination, pectin silica membrane, pervaporation
EFEKTIVITAS MEDIA FILTER DALAM MENURUNKAN TSS DAN LOGAM Fe PADA AIR SUMUR GALI Euis Nurul Hidayah; Shofi Nasyi&#039;atul Hikmah; Muhammad Firdaus Kamal
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.917 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i2.7313

Abstract

Masyarakat Desa Tambak Rejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, masih mengunakan air sumur sebagai kebutuhan sehari-hari. Air sumur perlu dilakukan pengolahan agar layak dikonsumsi dengan menggunakan berbagai jenis media melalui proses filtrasi. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh jenis media terhadap penurunan TSS dan logam Fe yang terkandung pada air sumur gali dengan single media filter. Reaktor yang digunakan yaitu slow sand filter dengan aliran down flow kecepatan 0,4 m/jam. Parameter yang diuji adalah Total Suspended Solid (TSS) dan logam Fe. Variasi dalam penelitian ini yaitu jenis dan ketinggian media filter. Media yang digunakan yaitu pecahan gerabah, pasir bancar, dan manganese greensand dengan ketinggian media 20 dan 30 cm. Sampel yang digunakan adalah air sumur gali daerah Tambak Rejo, Waru Sidoarjo. Analisis TSS dengan metode Gravimetri dan Fe dengan Spektrofotometri. Hasil yang diperoleh menunjukan media pasir bancar mampu bekerja lebih baik daripada media yang lainnya. Persentase penurunan konsentrasi TSS pada ketinggian 20 dan 30 cm sebesar 76,92% dan 80,00% dan penurunan konsentrasi Fe pada ketinggian 20 dan 30 cm sebesar 80,00% dan 84,19%. Hal ini menunjukan bahwa variasi jenis dan ketinggian media berpengaruh terhadap penurunan konsentrasi TSS dan Fe. Air yang dihasilkan telah memenuhi baku mutu air bersih sehingga aman untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kata kunci: Fe, pasir bancar, pecahan gerabah, manganese greensand, total suspended solidThe citizen of Tambak Rejo Village, Waru District, Sidoarjo Regency, still use well water as their daily activities. Well water needs to be processed so that it is suitable for consumption by using various types of media through the screening process. The purpose of the study was to determine the effect of the type of media in decrease TSS and Fe contained in well water dug with a single media filter. The reactor used is a slow sand filter with a downflow speed of 0.4 m/hour. The parameters tested were Total Suspended Solid (TSS) and Fe. Variations in this study are the type and height of the filter media. The media used are pottery fragments, bancar sand, and manganese greensand with media heights of 20 and 30 cm. The sample used was well water dug in the area of Tambak Rejo Village, Waru District, Sidoarjo Regency. TSS analysis with Gravimetric and Fe methods with Spectrophotometry. The results obtained show that bancar sand media is able to work better than other media. The percentage decrease in TSS concentration at the height of 20 and 30 cm was 76.92% and 80.00% and a decrease in Fe concentration at the height of 20 and 30 cm was 80.00% and 84.19%.This shows that variations in the type and height of the media influence the decrease in TSS and Fe concentrations. The water produced meets the quality standards of clean water so it is safe to meet daily activities. Keywords: Fe, bancar sand, pottery fragments, manganese greensand, total suspended solid
PENGARUH OZONISASI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS WARNA DAN KADAR BESI (Fe) PADA AIR GAMBUT Chairul Abdi; Riza Miftahul Khair; Siti Aisyah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.215 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v3i1.3196

Abstract

Air permukaan yang berasal dari daerah berawa, daerah pasang surut dan dataran rendah umumnya sulit dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Hal ini dikarenakan sumber air permukaan atau air tanah di daerah tersebut adalah air gambut dengan karakteristik yang dimiliki yaitu derajat keasaman tinggi, kandungan organik yang tinggi dan berwarna merah kecokelatan. Sehingga metode yang dapat dilakukan dalam pengolahan khusus air gambut yang memiliki intensitas warna yang tinggi disamping juga terkandung unsur logam Fe yaitu salah satunya dengan melalui proses ozonisasi yang memanfaatkan sifat ozon sebagai oksidator.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH dan waktu kontak pada kinerja ozon terhadap penurunan intensitas warna dan kadar Fe pada air gambut.  Ozonisasi dilakukan dengan variasi waktu 10, 20, 40, 60, 80, 100 dan 120 menit. Sampel air gambut sebelum dikontakkan oleh ozon telah diatur dalam keadaan pH basa (pH 9) dengan menggunakan regulator pH berupa larutan NaOH.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ozonisasi pada sampel air gambut dalam kondisi pH 9 mampu menyisihkan intensitas warna sebesar 78,31% selama 120 menit dan menyisihkan kadar Fe sebesar 23,81% selama 10 menit.Kata kunci : Air gambut, Fe, ozon, ozonisasi, warna. Surface water which comes  from the boggy areas, tidal areas and lowlands are generally difficult to use as a source of raw water. This is because the source of surface water or groundwater in the area is peat water with the characteristics high acidity, high organic content and the colored red-brown. So that the method can be performed in specialized processing of peat water that has high color intensity and also contained metal element Fe is one of them through ozonation process utilizing ozone as an oxidant. This study was aimed to determine the effect of pH and contact time on the performance of ozone to decrease the intensity of color and Fe content in the peat water. Ozonation was done by varying the time 10, 20, 40, 60, 80, 100 and 120 minutes. Peat water samples before is contacted by ozone have been arranged in an alkaline pH (pH 9) by using a pH regulator such as NaOH. The results of this study show that ozonation in water samples of peat under conditions of pH 9 are capable of removing the color intensity of 78.31% for 120 minutes and capable of removing  Fe content of 23.81% for 10 minutes. Keywords: Color, Fe, ozone, ozonation, peat water.
ANALISIS KUALITAS AIR DENGAN PENENTUAN STATUS MUTU AIR SUNGAI JAING KABUPATEN TABALONG Yuniarti Yuniarti; Danang Biyatmoko
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.559 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i2.7319

Abstract

Sungai Jaing merupakan salah satu sungai yang melintas di Kabupaten Tabalong dengan panjang 39 km yang bermuara di Sungai Tabalong. DAS Jaing memiliki luas area ± 298 km2bagian dari DAS Barito di Kalimantan Selatan. Sungai Jaing diklasifikasi sebagai sungai kelas I (satu). Alih fungsi lahan cukup besar terjadi disekitar daerah aliran sungai jaing, bagi sektor pertambangan batubara, sektor migas, sektor industri, perkebunan dan pertanian. Banyaknya aktivitas ini menyebabkan sungai jaing berpotensi cukup besar mengalami penurunan kualitas. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa beberapa kegiatan berpotensi memasukkan unsur pencemar ke Sungai Jaing yang mana kemungkinan membuang limbah produksi secara langsung ataupun run off (limpasan) limbah produksi kedalam sungai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kualitas Sungai Jaing melalui penentuan Status Mutu Air dari Sungai Jaing. Wilayah penelitian dilaksanakan di Sungai Jaing sejauh 39 Km di Kabupaten Tabalong, Kualitas air sungai diukur dan diamati pada 3 titik pengambilan sampel terhadap parameter fisika, kimia dan biologi. Analisis kualitas dan penentuan status mutu air menggunakan metode STORET dan metode indeks pencemaran. Hasilnya adalah (1) parameter DO, BOD, COD, Fecal coliform dan Total Coliform telah melebihi baku mutu air sungai Kelas I menurut Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan                    No. 5 Tahun 2007 sehingga menyatakan kualitas air sungai jaing menurun ( 2) Terjadi pergeseran status mutu air sungai jaing dari hulu ke hilir yang ditandai dengan nilai STORET dan nilai indeks pencemaran (IP) yang cenderung semakin meningkat berdasarkan kriteria sungai menurut PP nomor 82 Tahun 2001. Nilai STORET sungai jaing adalah antara -108 sampai dengan -110 dengan status mutu Cemar Berat dan nilai indeks pencemaran (IP) berkisar antara 4,027 sampai dengan 4,173 yang menyatakan bahwa status mutu air sungai jaing adalah cemar ringan. Kata Kunci: Indeks polusi, kualitas air, metode STORET, status kualitas. Sungai Jaing is one of the rivers that flows in Tabalong District which has length of 39 km and empties into the Tabalong River. The Jaing watershed has an area of ± 298 km2 of the Barito watershed in South Kalimantan. This river is classified as class I (one) river. Several activities for the coal mining sector, oil and gas sector, industrial sector, plantation and agriculture considered to take over the land function widely surrounding the river. Those activities actually have a potential to reduce the water quality of the river. Field observations found pollutants which are likely to dispose of production waste directly or run off (run off) of production waste into the river. Hence, the purpose of this study was to analyze the quality of Sungai Jaing through determining the status of water quality from Sungai Jaing. The research area was carried out in Sungai Jaing as far as 39 Km in Tabalong District where river water quality was measured and observed at 3 sampling points based on physical, chemical and biological parameters. Quality analysis and determination of water quality status using the STORET method and pollution index method. The results are (1) the parameters of DO, BOD, COD, Fecal coliform and Total Coliform have exceeded Class I river water quality standards according to Governor of South Kalimantan Regulation No. 5 of 2007 stating that the quality of river water is decreasing (2) There is a shift of the water quality status of the Sungai Jaing from upstream to downstream which is characterized by the STORET value and pollution index value which tends to increase based on a river criteria according to PP number 82 of 2001. In addition, STORET value of river jaing is between -108 to -110 with the status of Heavy Pollution quality and the pollution index value (IP) ranges from 4,027 to 4,173 which states that water quality status of the Sungai Jaing is mild pollution.  Keywords : Water Quality, Quality Status, STORET Method, Pollution Index
EVALUASI KEBERADAAN SISA KLOR BEBAS DI JARINGAN DISTRIBUSI IPA SUNGAI LULUT PDAM BANDARMASIH Elma Sofia; Rony Riduan; Chairul Abdi
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 1, No 1 (2015): September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.04 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v1i1.1043

Abstract

ABSTRAK Disinfektan yang sering sekali digunakan adalah senyawa klor.Dari khlorinasi air mengakibatkan adanya residu dari klor.Residu klor terdapat dalam 2 bentuk yaitu residu klor terikat, dan residu klor bebas. Menurut Permenkes No.492/Menkes/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, keberadaan senyawa klor bebas dalam distribusi jaringan  yang diperbolehkan adalah 0,2 – 0,5 mg/l. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengaruh konsentrasi injeksi klor terhadap sisa klor bebas di pelanggan dan pengaruh jarak distribusi pada sistem jaringan distribusi IPA Sungai Lulut PDAM Bandarmasih. Penelitian menggunakan  software EPANET 2.0 untuk mengetahui kondisi Eksisting serta simulasi  jaringan distribusi air PDAM Bandarmasih. Pada simulasi jika menggunakan injeksi konsentrasi klor di awal distribusi air sebesar 0,8 mg/l maka akan dihasilkan sisa klor yang memenuhi batas sisa klor yang diijinkan yaiu 0,2-0,5 mg/l namun itu hanya terjadi pada pelanggan yang dekat dengan reservoir. Untuk pelanggan yang jarak distribusi air cukup jauh dari reservoir sisa klor akan habis pada sistem jaringan sehingga sisa klor yang dihasilkan pada pelanggan yang jauh dari reservoir kurang dari 0,2 mg/l. Hal ini dapat berdampak negatif karena apabila sisa klor kurang dari 0,2 mg/l pada pelanggan maka bakteri patogen yang berada di dalam air masih tersisa. Sehingga dapat disimpulkan, sisa konsentrasi klor di jaringan distribusi bergantung pada injeksi konsentrasi klor di awal distribusi dan jarak distribusi air dari reservoir ke pelanggan.Semakin besar injeksi konsentrasi klor maka semakin besar pula sisa klor yang dihasilkan di air yang diterima oleh pelanggan.Semakin jauh jarak distribusi air dari reservoir ke pelanggan maka semakin kecil sisa klor yang sampai ke pelanggan.Kata kunci : konsentrasi injeksi klor, sisa klor bebas, jarak distribusi air
PENGARUH PROSES HIBRID KOAGULASI DUA TAHAP DAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI POLISULFON TERHADAP PENYISIHAN BAHAN ORGANIK ALAMI AIR GAMBUT Raissa Rosadi; Mahmud Mahmud; Chairul Abdi
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 3, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.011 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v3i2.4031

Abstract

ABSTRAK Penyisihan kandungan bahan organik alami (BOA) pada air gambut dengan menggunakan membran ultrafiltrasi polisulfon mempunyai kendala berupa terjadinya fouling membran. Proses hibrid koagulasi satu tahap dan ultrafiltrasi diketahui hanya mampu menyisihkan kandungan BOA yang bersifat hidrofobik dan sebagian kandungan hidrofilik. Penggunaan koagulasi dua tahap diduga mampu mengurangi potensi fouling pada membran, serta lebih baik dalam menyisihkan kandungan BOA hidrofobik dan hidrofilik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis dan tekanan optimum pada proses hibrid koagulasi dua tahap dan UF-PSf dalam menyisihkan kandungan BOA air gambut, serta mengetahui pengaruh praperlakuan koagulasi dua tahap terhadap perubahan nilai fluks pada membran UF-PSf. Proses koagulasi menggunakan alat jar test dengan koagulan Al2(SO4)3. Sistem filtrasi pada membran UF-PSf menggunakan sistem aliran dead-end. Kondisi operasi optimum pada proses hibrid koagulasi dua tahap dan UF-PSf didapatkan pada dosis 175 mg/L dan tekanan filtrasi 3 bar dengan besar penyisihan BOA zat organik KMnO4 dan UV254 berturut-turut sebesar 97,32% dan 96,02%%. Praperlakuan koagulasi dua tahap memberikan pengaruh terhadap nilai fluks yang semakin besar pada proses hibrid koagulasi dua tahap dan UF-PSf. Nilai fluks pada tekanan optimum 3 bar yaitu sebesar 154,84 L/m2.jam. Kata kunci:   Air gambut, bahan organik alami,  fouling membran, koagulasi dua tahap, membran ultrafiltrasi polisulfon. ABSTRACT  Removal of natural organic matter (NOM) on peat water by Polysulfone ultrafiltration membrane (UF-PSf) have some of promblem, namely membrane fouling. Hybrid process of one-stage coagulation and UF-PSf can remove hydrophobic and some hydrophilic content of NOM. Two stage coagulation was allegedly able to decrease membrane fouling, and better to remove hydrophobic and hydrophilic content of NOM. The purpose of this reseach is to find the optimum dose and pressure on two stage coagulation and UF-PSf hybrid process to remove NOM in peat water, and to known the effect of two stage coagulation pretreatment towards flux value changes on UF-PSf membranes. The coagulation process using jar test instrument with Al2(SO4)3 coagulant. The filtration system on the UF-PSf membrane using dead-end flow system. The optimum dose and pressure on hybrid process of two stage coagulation and UF-PSf is 175 mg/L and 3 bar with BOA removal of organic subtances KMnO4 and UV254 respectively amounted to 97,32% and 96,02%. Two stage coagulation pretreatment giving icreasing the flux value on two stage coagulation and UF-PSf hybrid process. The flux value of optimum pressure at 3 bar is 154,84L/m2.hours.  Keywords:    peat water, natural organic matter (NOM), fouling membrane, two stage coagulation,           polysulfone ultrafiltration membrane.
ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN LINGKUNGAN DI KELURAHAN PAHANDUT KECAMATAN PAHANDUT KOTA PALANGKA RAYA KALIMANTAN TENGAH Muh Azhari; Rudy Yoga Lesmana
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.745 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i2.7314

Abstract

Permasalahan lingkungan dari usaha kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan, papan dan transportasi harus dilakukan penanganan dengan baik. Misalnya seperti pengaruh kegiatan transportasi udara terhadap kondisi kualitas lingkungan setempat  seperti kegiatan di Bandara Cilik Riwut Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode kualitatif dengan analisis data instrumen seperti Sound Level Meter Instrument, Anemometer, GPS, Flight Radar, Google Maps Application & WECPNL Instrument (Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level)  dan pengambilan data dilakukan selama tiga hari sesuai dengan kedatangan dan keberangkatan pesawat. Hasil penelitian dengan analisis WECPNL menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di hari ke 2 lebih besar dibandingkan hari ke 3 dan hari ke 3 lebih besar dari hari ke 1 (87,2  > 82,2 > 75,9) dengan nilai rata-rata WECPNL sebesar 81,7. Kebisingan di bandara Cilik Riwut di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah termasuk kebisingan regional tingkat II dan III. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir Risiko kebisingan tersebut yaitu dengan melakukan kegiatan rekayasa keteknikan dan menanam vegetasi yang berfungsi mengurangi kebisingan Kata kunci: Bandara, Kebisingan, Lingkungan. The environmental problems of the efforts of human activities to meet the needs of life, such as clothing, food, housing and transportation must be handled properly. For example, such as the influence of air transportation activities on local environmental quality conditions such as activities at Cilik Riwut Airport, Pahandut Village, Pahandut District, Palangka Raya City, Central of Kalimantan. The research method used is a qualitative method with data analysis instruments such as Sound Level Meter Instrument, Anemometer, GPS, Flight Radar, Google Maps Application and WECPNL Instrument (Weighted Equivalent Continuous Percepived Noise) and data collection is carried out for three days in accordance with the arrival and departure of the aircraft. Results of research with  WECPNL analysis show that the noise level on the second day is greater than the third day and the third day is greater than the first day (87,2  > 82,2 > 75,9) with  score average value is 81,7. Noise at Cilik Riwut airport in Palangka Raya City, Central Kalimantan including regional level II and III noise. activities that can be carried out are carrying out engineering activities and planting vegetation which have the function of reducing noise. Keyword: Airport, Environmental, Noice.
PENERAPAN MODEL HORTONUNTUK KUANTIFIKASI INFILTRASI TEGAKAN KARET DI DAS MALUKA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Syarifuddin Kadir; Badaruddin Badaruddin; Yunisa Pratiwi
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 5, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.773 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v5i2.7320

Abstract

DAS Maluka seluas 89.506,19 Ha terdapat sub DAS Banyu Irang dan sub DAS Bati Bati serta secara administrasi tersebar di 3 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. DAS Maluka didominasi kekritisan lahan agak kritis 63%, kelerengan lereng didominasi tingkat kelerengan 0-8% 79,88%, tutupan lahan didominasi tutupan lahan perkebunan 17,91%, Kerusakan lingkungan di DAS Maluka telah menjadi keprihatinan banyak pihak, hal ini ditandai dengan meningkatnya bencana alam yang dirasakan, seperti bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan yang semakin meningkat. Rendahnya kapasitas infiltrasi sebaliknya tingginya Surface run off  penyebab utama terjadinya bencana alam yang terkait dengan tata air. Penelitian ini menggunakan model Horton yang bertujuan mengetahui infiltrasi terhadap berbagai kelas umur tegakan karet (Hevea brasiliensis). Metode penelitian menggunakan doubel ring infiltrometer pada kelas umur 4 tahun, 8 tahun dan 12 tahun. Hasil penelitian diperoleh bahwa:1) Kapasitas infiltrasi 96,906 mm/jam, 103,981 mm/jam dan 104,651 mm/jam; 2) volume infiltrasi sebesar 93,432 m3,  95,945 m3, 591 m3; 3) semakin tinggi kelas umur tegakan karet semakin tinggi laju, kapasitas dan volume infitrasi. Kata kunci : infiltrasi, surface run off , vegetasi tegakan karet.  The Maluka watershed covers an area of 89,506.19 Ha, there are the Banyu Irang sub-watershed and the Bati Bati sub-watershed and are administratively spread across 3 regencies / cities, namely Tanah Laut Regency, Banjar Regency and Banjarbaru City South Kalimantan Province. The Maluka watershed is dominated by criticality of the rather critical land 63%, the slope is dominated by the slope level of 0-8% 79.88%, land cover is dominated by plantation land cover 17.91%, environmental damage in the Maluka watershed has become a concern of many parties, this is indicated by increasing perceived natural disasters, such as floods, landslides and increasing drought. The low infiltration capacity, on the other hand, is the high Surface run off, the main cause of natural disasters related to water management. This study uses the Horton model that aims to determine infiltration of various age groups of rubber stands (Hevea brasiliensis). The research method uses a doubel ring infiltrometer in the age class of 4 years, 8 years and 12 years. The results showed that: 1) Infiltration capacity of 96,906 mm / hour, 103,981 mm / hour and 104,651 mm/ hour; 2) infiltration volume of 93,432 m3, 95,945 m3, 591 m3; 3) the higher the age of rubber stand age, the higher the rate, capacity and volume of inflation. Keywords: infiltration, surface run off and rubber stand vegetation.
PENYISIHAN KADAR AMONIAK PADA LIMBAH CAIR DOMESTIK DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM CONSTRUCTED WETLAND BIO-RACK Muhammad Al Kholif; Sugito Sugito
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 6, No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.883 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v6i1.8235

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji efisiensi jenis tanaman dan waktu tinggal dalam menurunkan kandungan amoniak pada air limbah domestik menggunakan Bio-Rack Wetland. Bio-rack merupakan sistem baru dalam media pengolahan constructed wetland. Bio-rack wetland dijalankan dengan variasi waktu tinggal selama 15 jam dan 20 jam. Media bio-rack terbuat dari pipa PVC dengan ukuran diameter 22 mm. Tumbuhan yang ditanam pada media bio-rack adalah Typha latifolia dan Phragmites australis. Efisiensi penyisihan suhu, pH, dan amoniak pada reaktor bio-rack wetland dilakukan berdasarkan prosedur laboratorium. Efisiensi sistem bio-rack wetland yang terbaik dalam menyisihkan pencemar amoniak yaitu tanaman Typha latifolia dengan efisiensi penyisihan sebesar 35,2% pada waktu tinggal 20 jam. Sedangkan pada tanaman Phragmites australis mampu menyisihkan kadar amoniak sebesar 28,4% dengan waktu tinggal 20 jam. Efisiensi penyisihan parameter uji terbukti lebih baik pada bio-rack wetland dengan tanaman Typha latifolia pada waktu tinggal 20 jam. Kata Kunci: Amoniak, Bio-rack Wetland, Phragmites australis, Typha latifolia, Waktu Tinggal. This study aims to assess the efficiency of plant species and residence time in reducing ammonia content in domestic wastewater using Bio-Rack Wetland. Bio-rack is a new system in the constructed wetland processing media. Wetland bio-rack is run with a variation of the residence time of 15 hours and 20 hours. Bio-rack media is made of PVC pipes with a diameter of 22 mm. Plants grown on bio-rack media are Typha latifolia and Phragmites australis. The removal efficiency of temperature, pH, and ammonia in the wetland bio-rack reactor is carried out based on laboratory procedures. The best efficiency of the bio-rack wetland system in removing ammonia pollutants is Typha latifolia plants with a removal efficiency of 35.2% at a residence time of 20 hours. Whereas the Phragmites australis plant can set aside ammonia levels of 28.4% with a residence time of 20 hours. The removal efficiency of the test parameters was proven to be better in the wetland bio-rack with Typha latifolia plants at a residence time of 20 hours. Keywords: Ammonia, Bio-rack Wetland, Phragmites australis, Typha latifolia, the length of time.

Page 9 of 20 | Total Record : 200