Articles
900 Documents
Increased availability and quality of water for communities in Ujung Kerang, Nelayan village, Medan Belawan
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2019): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (574.905 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v4i2.4115
One of the goals of the Sustainable Development Goals (SDGs) is to ensure the availability and management of sustainable water and sanitation for all. In general, the supply of clean water to the community is supplied by local government-owned water companies. However, due to network limitations or production capacity often not all people can enjoy the clean water facilities, especially the poor who live on the outskirts or outside the city. The dominant coastal area inhabited by fishing villages is identical to slums. These slums are visible in scattered rubbish, unhealthy latrines and inadequate quality and quantity of clean water. Ujung Kerang Village, Seberang Fishing Village, Medan Belawan District has a problem related to water availability, which is the unequal distribution of clean water and the quality of water that is physically turbid and tasteless. Clean water is needed in meeting the daily needs of the fishing communities to drink, wash and bathe. The limitations of the source and distribution of clean water so that the fishing village community must travel a long way to get clean water and must pay dearly to get clean water. Because of the coastal area so that the depth of a wellbore that can produce clean water quality on average must be> 50 m so that the cost of making the wellbore is expensive. Based on these problems, the solution given is to make a wellbore with a depth of ± 100 m. This well is equipped with a suction pump and pressure tank. This drill well can be utilized by ± 10 households by making a self-supporting distribution pipeline to their respective homes. Operational and maintenance costs will be borne by the people who use the wellbore water.
VERTIMINAPONIK SEBAGAI SOLUSI PEMENUHAN KEBUTUHAN IKAN DAN SAYUR PADA LAHAN KRITIS
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (367.615 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4116
UKM Mandiri Jaya dan UKM Sederhana merupakan usaha kelompok masyarakat yang belum produktif secara ekonomis, tetapi berhasrat kuat menjadi wirausahawan. Anggota UKM ini terdiri dari masyarakat ekonomi lemah. Mereka memiliki penghasilan yang sangat rendah. Kebutuhan hidup sehari-hari diperoleh melalui usaha pertanian dan peternakan ayam skala kecil. Usaha tersebut dilakukan pada lahan garapan. Sebagian dari hasil pertanian tersebut dijual ke pasar tradisional. Hal ini tentu tidak mampu memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat pada era globalisasi saat ini. Kondisi ini diperburuk lagi bila saat musim hujan, lahan akan mengalami banjir sehingga tanaman tidak dapat dipanen untuk dikonsumsi dan dijual. Selama ini mereka juga sudah mencoba memelihara ikan untuk konsumsi keluarga namun usaha tersebut tidak dikelola secara profesional sehingga tidak mampu berkembang dan otomatis tidak dapat digunakan untuk menambah pendapatan keluarga. Dari kondisi demikian tercetuslah sebuah gagasan untuk membuat desain vertiminaponik. Vertiminaponik merupakan sistem budidaya yang memadukan antara budidaya ikan secara aquaponik dan budidaya tanaman menggunakan air atau yang biasa disebut hidroponik yang disusun secara vertikal. Pada sistem ini, dengan luasan lahan yang sama maka akan dapat dihasilkan dua komoditas sekaligus, yakni sayuran organik dan ikan. Kegiatan yang telah dilakukan memberi kontribusi positif yakni hasil panen sayuran hidrophonik dan panen ikan lele sudah dinikmati oleh mitra pengabdian. Pelatihan marketing online juga sudah diberikan pada mitra.
VERTIMINAPONIK SEBAGAI SOLUSI PEMENUHAN KEBUTUHAN IKAN DAN SAYUR PADA LAHAN KRITIS
Nurhayati;
Tambunan, Mangara;
Emalisa
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (367.615 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4116
UKM Mandiri Jaya dan UKM Sederhana merupakan usaha kelompok masyarakat yang belum produktif secara ekonomis, tetapi berhasrat kuat menjadi wirausahawan. Anggota UKM ini terdiri dari masyarakat ekonomi lemah. Mereka memiliki penghasilan yang sangat rendah. Kebutuhan hidup sehari-hari diperoleh melalui usaha pertanian dan peternakan ayam skala kecil. Usaha tersebut dilakukan pada lahan garapan. Sebagian dari hasil pertanian tersebut dijual ke pasar tradisional. Hal ini tentu tidak mampu memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat pada era globalisasi saat ini. Kondisi ini diperburuk lagi bila saat musim hujan, lahan akan mengalami banjir sehingga tanaman tidak dapat dipanen untuk dikonsumsi dan dijual. Selama ini mereka juga sudah mencoba memelihara ikan untuk konsumsi keluarga namun usaha tersebut tidak dikelola secara profesional sehingga tidak mampu berkembang dan otomatis tidak dapat digunakan untuk menambah pendapatan keluarga. Dari kondisi demikian tercetuslah sebuah gagasan untuk membuat desain vertiminaponik. Vertiminaponik merupakan sistem budidaya yang memadukan antara budidaya ikan secara aquaponik dan budidaya tanaman menggunakan air atau yang biasa disebut hidroponik yang disusun secara vertikal. Pada sistem ini, dengan luasan lahan yang sama maka akan dapat dihasilkan dua komoditas sekaligus, yakni sayuran organik dan ikan. Kegiatan yang telah dilakukan memberi kontribusi positif yakni hasil panen sayuran hidrophonik dan panen ikan lele sudah dinikmati oleh mitra pengabdian. Pelatihan marketing online juga sudah diberikan pada mitra.
EVALUASI ORGANOLEPTIK PERMEN HERBAL KENCUR (Kaempferia galanga L rhizoma) DAN JAHE MERAH (Zingiber officinale var rubrum rhizoma)
Dalimunthe, Aminah;
Masfria;
Sumaiyah
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (571.036 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4117
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima masyarakat berdasatkan tingkat kesukaan rasa, aroma, warna, dan tekstur permen herbal dari kencur dan jahe merah . Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan terhadap tingkat kesukaan rasa, aroma, warna dan tekstur permen herbal dari kencur dan jahe merah (P>0,05) sehingga dapat disimpilkan bahwa masyarakat meyukai permen herbal dari kencur dan jahe merah.
EVALUASI ORGANOLEPTIK PERMEN HERBAL KENCUR (Kaempferia galanga L rhizoma) DAN JAHE MERAH (Zingiber officinale var rubrum rhizoma)
Dalimunthe, Aminah;
Masfria;
Sumaiyah
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (571.036 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4117
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya terima masyarakat berdasatkan tingkat kesukaan rasa, aroma, warna, dan tekstur permen herbal dari kencur dan jahe merah . Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan terhadap tingkat kesukaan rasa, aroma, warna dan tekstur permen herbal dari kencur dan jahe merah (P>0,05) sehingga dapat disimpilkan bahwa masyarakat meyukai permen herbal dari kencur dan jahe merah.
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERBAIKAN MANAJEMEN USAHA BAGI PENENUN SONGKET
Berlianti;
Siagian, Matias
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (369.653 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4118
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, industri kecil memiliki peran yang sangat strategis mengingat berbagai potensi yang dimilikinya. Potensi tersebut antara lain mencakup jumlah dan penyebarannya, penyerapan tenaga kerja, penggunaan bahan baku lokal, keberadaannya di semua sektor ekonomi dan ketahanannya terhadap krisis. Industri kecil bisa menjadi tempat aktualisasi diri individu-individu kreatif, yang bisa melahirkan gagasan-gagasan kreatif bernilai ekonomi tinggi. Banyak pekerja wanita yang terlibat menjadi pekerja kreatif, misalnya disubsektor kerajinan, fashion, desain dan seni pertunjukan. Ini bisa menjadi ajang penyetaraan gender karena dalam industri kecil, pekerja laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, selama mereka kreatif dan inovatif.Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirasa perlu diberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pembuatan songket kepada pengrajin songket agar mampu menghasilkan songket yang berkualitas tinggi sesuai dengan keinginan pasar secara efisien dan efektif tanpa mengurangi nilai budaya yang terkandung dalam songket. Selain itu meningkatkan ketrampilan dalam strategi pemasaran agar memiliki kemampuan dalam memasarkan songket yang di produksi, sehingga mampu menciptakan dan memiliki banyak jaringan pemasaran. Perlunya diberikan pelatihan yang memampukan pengrajin songket menghitung total pendapatan penjualan dan total biaya sehingga mampu mengetahui berapa laba yang diperoleh per satu potong songket. Diharapkan setelah pendampingan, para mitra menjadi lebih meningkat pengetahuannya, mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan sehari-harinya dan menularkan pengetahuan tersebut kepada pengrajin songket yang lain. Dengan demikian semua pengrajin songket akan lebih berkembang, menjadi semakin mandiri secara ekonomis, terjadi peningkatan pendapatan, pengrajin songket menjadi lebih produktif serta semakin optimis dalam berusaha songket sehingga perekonomian bangsa akan menjadi lebih baik.
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERBAIKAN MANAJEMEN USAHA BAGI PENENUN SONGKET
Berlianti;
Siagian, Matias
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (369.653 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4118
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, industri kecil memiliki peran yang sangat strategis mengingat berbagai potensi yang dimilikinya. Potensi tersebut antara lain mencakup jumlah dan penyebarannya, penyerapan tenaga kerja, penggunaan bahan baku lokal, keberadaannya di semua sektor ekonomi dan ketahanannya terhadap krisis. Industri kecil bisa menjadi tempat aktualisasi diri individu-individu kreatif, yang bisa melahirkan gagasan-gagasan kreatif bernilai ekonomi tinggi. Banyak pekerja wanita yang terlibat menjadi pekerja kreatif, misalnya disubsektor kerajinan, fashion, desain dan seni pertunjukan. Ini bisa menjadi ajang penyetaraan gender karena dalam industri kecil, pekerja laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, selama mereka kreatif dan inovatif.Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirasa perlu diberikan pelatihan peningkatan ketrampilan pembuatan songket kepada pengrajin songket agar mampu menghasilkan songket yang berkualitas tinggi sesuai dengan keinginan pasar secara efisien dan efektif tanpa mengurangi nilai budaya yang terkandung dalam songket. Selain itu meningkatkan ketrampilan dalam strategi pemasaran agar memiliki kemampuan dalam memasarkan songket yang di produksi, sehingga mampu menciptakan dan memiliki banyak jaringan pemasaran. Perlunya diberikan pelatihan yang memampukan pengrajin songket menghitung total pendapatan penjualan dan total biaya sehingga mampu mengetahui berapa laba yang diperoleh per satu potong songket. Diharapkan setelah pendampingan, para mitra menjadi lebih meningkat pengetahuannya, mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan sehari-harinya dan menularkan pengetahuan tersebut kepada pengrajin songket yang lain. Dengan demikian semua pengrajin songket akan lebih berkembang, menjadi semakin mandiri secara ekonomis, terjadi peningkatan pendapatan, pengrajin songket menjadi lebih produktif serta semakin optimis dalam berusaha songket sehingga perekonomian bangsa akan menjadi lebih baik.
IPTEK PENGOLAHAN KACANG GARING SIHOBUK DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (445.824 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4119
Kacang Sihobuk merupakan kacang yang berasal dari Desa Sihobuk, Tarutung, Tapanuli Utara. Sihobuk merupakan nama merek yang diambil dari nama sebuah desa produsen kacang ini. Tidak berbeda dengan kacang lain, Kacang Sihobuk memiliki rasa yang gurih dan renyah. Kacang Sihobuk merupakan sejenis makanan ringan/camilan yang mampu membuat para penikmatnya tak ingin berhenti memakannya. Pasar kacang Sihobuk diyakini akan semakin pesat berkembang ke masa akan datang. Hal ini dipicu dengan ditetapkannya Danau Toba sebagai daerah tujuan wisata utama dan diresmikannya bandara Silangit sebagai bandara internasional. Banyak wisatawan yang akan berkunjung ke daerah Tapanuli Utara dan pastinya akan mencari kuliner lokal diantaranya kacang Sihobuk. Rendahnya kapasitas produksi yang dimiliki karena mitra masih menggunakan peralatan yang sederhana dan masih bersifat tradisional dalam proses produksinya. Sehingga memakan waktu yang cukup lama dan sangat menguras tenaga. Untuk itulah diperlukan sentuhan iptek yang akan membuat proses produksinya menjadi lebih mudah dan murah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirasa perlu diberikan pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mitra pengabdian. Selain itu meningkatkan strategi pemasaran agar memiliki kemampuan dalam memasarkan kacang Sihobuk yang di produksi, sehingga mampu menciptakan dan memiliki banyak jaringan pemasaran. Perlunya diberikan pelatihan yang memampukan pengusaha kacang Sihobuk menghitung total pendapatan penjualan dan total biaya sehingga mampu mengetahui berapa laba yang diperoleh per satuan produksi. Diharapkan setelah pendampingan, mitra menjadi lebih meningkat pengetahuannya, mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan sehari-harinya dan menularkan pengetahuan tersebut kepada pengusaha kacang Sihobuk yang lain.
IPTEK PENGOLAHAN KACANG GARING SIHOBUK DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN
Sibarani, Magdalena Linda Leonita;
Hafni, Kartini Noor
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2018): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (445.824 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v3i2.4119
Kacang Sihobuk merupakan kacang yang berasal dari Desa Sihobuk, Tarutung, Tapanuli Utara. Sihobuk merupakan nama merek yang diambil dari nama sebuah desa produsen kacang ini. Tidak berbeda dengan kacang lain, Kacang Sihobuk memiliki rasa yang gurih dan renyah. Kacang Sihobuk merupakan sejenis makanan ringan/camilan yang mampu membuat para penikmatnya tak ingin berhenti memakannya. Pasar kacang Sihobuk diyakini akan semakin pesat berkembang ke masa akan datang. Hal ini dipicu dengan ditetapkannya Danau Toba sebagai daerah tujuan wisata utama dan diresmikannya bandara Silangit sebagai bandara internasional. Banyak wisatawan yang akan berkunjung ke daerah Tapanuli Utara dan pastinya akan mencari kuliner lokal diantaranya kacang Sihobuk. Rendahnya kapasitas produksi yang dimiliki karena mitra masih menggunakan peralatan yang sederhana dan masih bersifat tradisional dalam proses produksinya. Sehingga memakan waktu yang cukup lama dan sangat menguras tenaga. Untuk itulah diperlukan sentuhan iptek yang akan membuat proses produksinya menjadi lebih mudah dan murah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirasa perlu diberikan pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mitra pengabdian. Selain itu meningkatkan strategi pemasaran agar memiliki kemampuan dalam memasarkan kacang Sihobuk yang di produksi, sehingga mampu menciptakan dan memiliki banyak jaringan pemasaran. Perlunya diberikan pelatihan yang memampukan pengusaha kacang Sihobuk menghitung total pendapatan penjualan dan total biaya sehingga mampu mengetahui berapa laba yang diperoleh per satuan produksi. Diharapkan setelah pendampingan, mitra menjadi lebih meningkat pengetahuannya, mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan sehari-harinya dan menularkan pengetahuan tersebut kepada pengusaha kacang Sihobuk yang lain.
Promotive and preventive programs of heavy infection knowledge in Medan Barat district
Lubis, Bastian;
Amelia, Putri;
Akil, Muhammad
ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2019): ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Talenta Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (676.479 KB)
|
DOI: 10.32734/abdimastalenta.v4i2.4120
Sepsis is still an important health problem in the world today. The incidence of sepsis can reach 750,000 cases per year. When mothers have a vital role in family health, their lack of knowledge and concern about sepsis remains an obstacle. Therefore, we need a program to promote and prevent sepsis among mothers in West Medan District as an effort to reduce the number of sepsis in Indonesia. Coaching, training, and counseling are given to PKK mothers and Posyandu cadres regarding the prevention of severe infections that can cause sepsis. This activity began by collecting basic data using the Sepsis Knowledge Scale questionnaire and then provided counseling and training on sepsis. Then, the final results were assessed with a behavioral questionnaire and sepsis knowledge questionnaire. The activity was attended by 29 people, 20 women (72.4%) and 9 men (27.6%). No significant changes were found in the level of knowledge and behavior before and after the activity (Z-score: 0.001; p = 1,000).