cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 4 (2024)" : 22 Documents clear
Penetapan Rendemen dan Kandungan Kimia Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Kurnia Handayani, Christina Elma; Azzahra, Fara
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.79153

Abstract

Daun pepaya memiliki beberapa kandungan senyawa kimia antara lain alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, tanin, enzim papain, vitamin C dan E serta glikosida. Penarikan senyawa kimia dari daun pepaya dilakukan menggunakan pelarut etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pelarut terhadap rendemen dan kandungan kimia ekstrak daun pepaya. Jenis penelitian ini yaitu eksperimental posttest only design. Maserasi daun pepaya dilakukan selama 3x24 jam, menggunakan pelarut etanol 70% dan 96%. Ekstrak yang diperoleh diuapkan dengan cara dianginkan, hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental kemudian dilakukan perhitungan rendemen dan analisis menggunakan Independent sample t-test dan dilanjutkan dengan skrining fitokimia. Hasil dari skrining fitokimia menunjukan bahwa ekstrak daun pepaya pada kedua konsentrasi pelarut mengandung alkaloid, flavonoid, tanin dan fenolik. Perbedaan hasil skrining terlihat pada etanol 96% tidak menunjukkan senyawa saponin dan steroid. Perolehan rendemen pada ekstrak etanol 70% sebesar 9,63±0,42%; etanol 96% sebesar 7,93±0,47%. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna yaitu nilai P (<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh dari perbedaan konsentrasi pelarut terhadap rendemen dan kandungan kimia ekstrak daun pepaya.
Efektivitas Biaya Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Klinik X Sragen Akhyani, Nur; Pambudi, Risma Sakti; Khusna, Khotimatul
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.85941

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang dapat disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan dapat diterapi dengan menggunakan obat antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan potensi peningkatan kejadian bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan dapat meningkatkan biaya perawatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biaya penggunaan antibiotik pada pengobatan pasien demam tifoid di Klinik Pratama Gumilang Larasati Sragen tahun 2022. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu mengambil data secara retrospektif melalui data rekam medis yang berisi data seluruh pasien demam tifoid tahun 2022 yaitu sebanyak 96 rekam medis. Metode analisis biaya yang digunakan adalah Cost Effectiveness Analysis (CEA) dan metode Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) untuk menganalisis terapi pengobatan demam tifoid yang paling cost effective. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan terapi pasien demam tifoid di Klinik Pratama Gumilang Larasati Sragen tahun 2022 menggunakan terapi antibiotik injeksi cefotaxime dengan nilai ACER Rp. 18.513, injeksi ceftriaxone dengan nilai ACER Rp. 21.306 dan infus levofloxacin dengan nilai ACER Rp. 32.446. Kesimpulan dari penelitian ini adalah obat yang dinilai paling cost effective adalah penggunaan antibiotik injeksi cefotaxime dengan nilai ACER Rp. 18.513.
Cost Effectiveness Analysis of Anticoagulants as The Therapy of Corona Virus Disease 19 (Covid-19) Saputra, Andy Kurniawan; Andayani, Tri Murti; Trisnawati, Ika
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.86807

Abstract

Hypercoagulation is a condition characterized by increased thrombosis and is caused by various factors, one of which is SARS-CoV-2 virus infection. Anticoagulants are the main therapeutic options such as heparin and enoxaparin. The administration of these two drugs can reduce coagulation parameters such as D-dimer, PT, and fibrinogen values. The purpose of this study was to analyze the cost-effectiveness comparison of heparin and enoxaparin as anticoagulants in severe and critical COVID-19 patients. This study is an analytical observational study with a retrospective cohort design from a provider perspective. The research subjects were severe and critical COVID-19 patients who met the inclusion and exclusion criteria at Dr. Sardjito General Hospital in the period January 2021 - January 2022. The effectiveness of anticoagulants was seen through a decrease in the D-dimer value to a value of < 500 ug/ml on day 14 in medical records, safety was assessed from the incidence of bleeding recorded in medical records, while the average direct cost data during the patient's hospitalization was studied to determine cost-effectiveness with the Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). The achievement of D-dimer value < 500 μg/ml for the heparin group was 39.5% while the enoxaparin group was 48.4%, the result showed no significant difference (p=0.293). All subjects did not experience bleeding. The average direct medical cost of the heparin group was Rp. 31,296,577 and enoxaparin was Rp. 55,205,810. The ACER calculation of heparin and enoxaparin was Rp. 79,233,841 and Rp. 114,061,591 with an ICER of Rp. 2,686,431 for a decrease in D-dimer value reaching < 500 ug/ml. This shows that enoxaparin is better at reducing D-dimer values despite having a higher cost than heparin. 
Perbedaan Gambaran Klinis dan Hasil Laboratorium antara Pasien COVID-19 dengan komorbid PPOK dan non-PPOK Nurjanna, Sitti; Ikawati, Zullies; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.88530

Abstract

Coronavirus disease-19 adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut parah Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Salah satu penyakit yang dikaitkan dengan resiko tinggi perparahan penyakit COVID-19 adalah orang dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) karena COVID-19 mempengaruhi system pernafasan, kondisi kerusakan paru-paru pada pasien PPOK dapat menjadi penyebab akibat paru-paru sulit untuk melawan infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik pasien COVID-19 non PPOK dengan pasien COVID-19 komorbid PPOK yang dirawat di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) Yogyakarta pada tahun 2020 hingga 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cohort retrospektif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan sumber rekam medis beserta nilai laboratorium pasien. sampel yang memenuhi kritera inklusi dalam penelitian ini sebanyak 67 pasien yang dipilih dengan metode consecutive sampling. Hasil penelitian adanya perbedaan signifikan pada jenis kelamin (P = 0,002) dengan didominasi laki-laki (78,1%) pada kelompok PPOK dan paling banyak perempuan pada pasien non-PPOK (60%). Rentang usia pasien non-PPOK 40-60 tahun (51,4%) sedangkan pada kelompok komorbid PPOK lebih banyak berusia ≥60 tahun (93,8) (P = 0,000). Gambaran perbedaan karakteristik klinis dan temuan laboratorium kelompok pasien nonPPOK menunjukkan gejala paling umum adalah batuk (74,3), demam (57,1%), mual (45,7%) dan sesak (42,9%), sedangkan pasien dengan komorbid PPOK menunjukkan gejala paling umum ditemukan adalah sesak (90,6%), batuk (87,5%), demam (65,6%) dan lemas (50%). Terdapat perbedaan signifikan pada gejala lemas (P = 0,021) dan sesak (P = 0,000). Pada temuan nilai laboratoium pada kedua kelompok uji pasien non PPOK dan pasien dengan komorbid PPOK ditemukan paling banyak penurunan limfosit (80%; 100%), diikuti dengan kenaikan peningkatan jumlah neutrofil (85,7%; 93,8%) dan peningkatan angka leukosit (60%; 50%). Ditemukan perbedaan signifikan pada hasil laboratorium anemia               (P = 0,018), pneumonia (P = 0,004) dan Limfositopenia (P = 0,008). 
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Community Acquired Pneumonia Candraningrat, I Dewa Agung Ayu Diva; Andayani, Tri Murti; Sari, Ika Puspita
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.92448

Abstract

Community Acquired Pneumonia (CAP) merupakan infeksi yang terjadi di paru-paru yang didapatkan dari komunitas dan sering meningkatkan angka rawat inap di rumah sakit. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab CAP adalah Streptococcus pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae, dan Chlamydophila pneumoniae. Berdasarkan pada pedoman American Thoracic Society (ATS) dan Infectious Disease Society of America (IDSA), penggunaan terapi antibiotik pada pasien CAP dinilai berdasarkan stabilitas klinisnya. Ulasan artikel ini bertujuan untuk membandingkan hasil evaluasi penggunaan antibiotic yang dilihat dari stabilitas klinis dan keamanannya. Ulasan artikel bertujuan untuk membandingkan hasil penelitian yang diperoleh dari PubMed sebagai literatur dan diagram PRISMA sebagai guideline pada proses seleksi artikel. Berdasarkan hasil ulasan artikel diperoleh 10 artikel yang sesuai dengan topik dan tujuan. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik golongan betalaktam atau fluorokuinolon memiliki efikasi dan keamanan yang baik untuk pasien CAP
Narrative Review: Keberhasilan Terapi Proton Pump Inhibitor (PPI) Pada Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Amalia, Retno; Nugroho, Agung Endro; Probosuseno, Probosuseno
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.93163

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada lazimnya disangka seperti penyakit yang ringan, namun mampu menimbulkan kekambuhan dan kematian bila tidak diatasi dengan benar. Tingkat kekambuhan terapi pada pasien GERD diperkirakan bahwa 10% sampai 40% dari pasien GERD. Studi berikut berupa narrative review dengan mengunakan pustaka acuan yang mengacu pada pangkalan data Cochrane, PubMed, dan Science Direct. Penggalian pustaka acuan memakai kata kunci GERD, PPI, keberhasilan terapi GERD.  Proton Pump Inhibitor (PPI) merupakan terapi yang sangat besar pengaruhnya akan memulihkan GERD, jika dipadankan terhadap antasida, prokinetik, dan H2 bloker receptor. Proton Pump Inhibitor (PPI) telah merevolusi penatalaksanaan pasien GERD karena efek penekanan asam yang mendalam dan berkepanjangan sehingga menjadi terapi andalan, bila dibandingkan dengan obat penekan asam lainnya, PPI menunjukkan penyembuhan mukosa dan pengendalian gejala yang lebih baik. serta mencegah mukosa dan gejala kambuh.
Penilaian Rasionalitas Peresepan Rawat Jalan Berdasarkan Indikator World Health Organization (WHO) Wabula, Syahrul; Puspandari, Dyah Ayu; Widayanti, Anna Wahyuni
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.94189

Abstract

Pelayanan kesehatan diharuskan memberikan pengobatan yang rasional. Penggunaan obat menjadi penting karena merupakan bagian dari pengelolaan obat yang menunjukan efisensi dan efektifitas pelayanan kesehatan. Diyakini bahwa obat yang diresepkan dan diberikan secara tidak tepat sehingga menghambat tujuan dari pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peresepan rawat jalan RSD Kota Tidore Kepulauan sesuai dengan standar indikator WHO tentang penggunaan obat yang rasional. Dengan sumber data retrospektif, penelitian ini menggunakan 660 lembar resep pasien rawat jalan antara bulan januari hingga desember 2022 sebagai sampel untuk dianalisa. Hasil pengukuran indikator peresepan menunjukan terdapat 3,16 item rata-rata per lembar resep, persentase 70,25% obat yang diresepkan dengan nama generik dan persentase 62,38% resep yang termasuk dalam daftar obat esensial. Hasil ini belum sesuai standar indikator peresepan, sedangkan, 8,73% resep antibiotik dan 3,60% resep sediaan injeksi sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dapat disimpulkan bahwa peresepan rawat jalan RSD Kota Tidore belum mencapai peresepan yang rasional. Dengan kepatuhan peresepan obat yang rasional, dapat menjamin penggunaan obat yang tepat dan meningkatkan efisensi dan efektifitas pengobatan.
Faktor yang Mempengaruhi Manajemen Vaksin yang Efektif Di Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah: Tinjauan Literatur Pakpahan, Agustina Rotua; Kristina, Susi Ari; Widayanti, Anna Wahyuni
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.94710

Abstract

Latar Belakang Penelitian: Manajemen vaksin yang efektif dapat mencegah pemborosan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dengan berbagai tantangan, sarana dan prasarana yang kurang memadai, sumberdaya manusia yang terbatas dan beban kerja yang tinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah apakah pengelolaaan vaksin masih dapat dilakukan dengan baik? Tujuan: Mengidentifikasi dan menganalisis faktor yang mempengaruhi manajemen vaksin yang efektif di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Metodelogi: Pencarian komprehensif menggunakan 4 database yaitu Science Direct, Pubmed, PLOS One, serta GARUDA. Pencarian menggunakan kata kunci “cold chain management” AND vaccine, “effective vaccine management” AND vaccine dan “rantai dingin vaksin” dengan pembatasan tahun publikasi 2018-2022.  Dilakukan seleksi artikel menggunakan PRISMA dan ekstraksi data didapatkan 12 artikel untuk direview. Hasil dan ksimpulan: faktor yang mempengaruhi manajemen vaksin yang efektif yaitu perencanaan logistik, ketersediaan stok vaksin, stok opname vaksin, sistem pencatatan elektronik, penyimpanan vaksin sesuai suhu rekomendasi, ketersediaan peralatan cold chain, sistem Internet Of Things (IOT) untuk monitoring suhu, rencana kontijensi, panduan pemeliharaan cold chain, koordinasi yang baik, penilaian berkala atau monitoring, umpan balik hasil monitoring, penilaian Effective Vaccine Management (EVM), memiliki Standard Operating Prosedure (SOP), kepatuhan terhadap SOP, kualitas pengelola vaksin, status pendidikan petugas, pelatihan yang berkelanjutan.
Bibliometric Analysis of Herbal Used for Diabetic Food Ulcer Pratiwi, Sekar Ayu; Hertiani, Triana
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.95727

Abstract

Diabetic Foot Ulcer (DFU) is a serious condition prevalent among diabetic patients. Due to its minimal side effects and cost-effectiveness, herbal remedies have garnered attention for DFU treatment. Many researchers are exploring effective herbal treatments. Bibliometric analysis serves as a tool to understand research focus and trends and identify extensively studied or underexplored herbs. In this study, publications related to herbal treatments for DFU were obtained from the Scopus database, where 90 articles meeting the inclusion criteria were analyzed using Vosviewer 1.6.20 software. The analysis was conducted using co-occurrence methods on titles and abstracts to provide an overview of herbal research for DFU, while co-occurrence methods on keywords offer a more detailed focus. Based on keyword analysis, the most frequently cited herb in the 90 articles over the past 10 years is Aloe Vera. Meanwhile, the analysis of titles and abstracts indicates that the most cited terms are "Angiogenesis," "Ointment," and "Infection." The findings of this study are expected to guide researchers in further exploring the potential of herbal treatments for DFU, thus contributing to the development of more effective and efficient therapies for diabetic patients suffering from foot ulcers.
Valproic acid Population Pharmacokinetics in Asian Pediatric Epileptics: A Systematic Review Hidayat, Muh. Faris; Purwantiningsih, Purwantiningsih; Pinzon, Rizaldy Taslim
Majalah Farmaseutik Vol 20, No 4 (2024)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v20i4.96233

Abstract

The pharmacokinetic profile of valproic acid in pediatric subjects in Asian populations is lacking. One of the most useful ways to develop a personalized dosing strategy is to use population pharmacokinetics. The focus of this systematic review is to describe the population pharmacokinetic profile of valproic acid (VPA) and determine the variables influencing pharmacokinetic models of the drug in children with epilepsy that have been published in Asian journals. A comprehensive literature search was carried out from 2014 to 2024 on Science Direct and PubMed.  Keywords used valproic acid, valproic, VPA, sodium valproate  and population pharmacokinetic, pharmacokinetic model. In this review, four studies were considered. The pharmacokinetic model was developed by looking at several covariates that significantly affect the population pharmacokinetics of VPA using TDM data from pediatric epilepsy patients. The clearance value and volume of distribution of VPA can be seen to be in the range of 0.148 - 3.19 L/h, and 0.317 - 24 L/KgBB. In addition, subjects with SCN1A A/A genotype showed a decreased therapeutic effect of VPA. Significant covariates affecting the pharmacokinetics of VPA were age, dose, and the use of comedication with other anti-seizure drugs.

Page 1 of 3 | Total Record : 22