cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Fatwa Hukum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Tanjungpura (Bagian Hukum Keperdataan, Bagian Hukum Pidana, Bagian Hukum Tata Negara, Bagian Hukum Ekonomi, dan Bagian Hukum Internasional.
Arjuna Subject : -
Articles 3,081 Documents
IMPLEMENTASI PASAL 32 KONVENSI HAK-HAK ANAK TERKAIT PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK KORBAN EKSPLOITASI EKONOMI DI KOTA PONTIANAK NIM. A1011181036, NAKUMI NIKITAMA NATASYA MANULLANG
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Economic exploitation of children remains a significant issue in the city of Pontianak, where many children are compelled to work as beggars, street performers, or laborers in environments that are detrimental to their development. This study seeks to examine the implementation of Article 32 of the Convention on the Rights of the Child in protecting such children in Pontianak. The research employs a normative-empirical method, analyzing both the relevant legal provisions and their implementation in society. It adopts an international legal approach, utilizing legal sources such as international treaties, scholarly doctrines, and general principles of law. The findings indicate that institutions in Pontianak responsible for providing legal protection to children subjected to economic exploitation have not yet fully carried out their mandates in accordance with Article 32 of the Convention on the Rights of the Child. Keywords: Implementation, Convention on the Rights of the Child, Child Economic Exploitation, Legal Protection, Pontianak Abstrak Eksploitasi ekonomi terhadap anak masih jadi masalah besar di Kota Pontianak, di mana banyak anak harus bekerja sebagai pengemis, pengamen, atau buruh dalam lingkungan yang tidak layak untuk tumbuh kembangnya. Penelitian ini mencoba melihat bagaimana Pemerintah dan lembaga-lembaga yang berwenang di Kota Pontianak mengimplementasikan mandat yang tertulis di dalam Pasal 32 Konvensi Hak-Hak Anak. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian normatif empiris yang mengkaji ketentuan hukum yang berlaku dan bagaimana implementasinya di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan hukum internasional yang meliputi bahan hukum seperti perjanjian internasional, doktrin, dan prinsip-prinsip hukum umum. Berdasarkan hasil penelitian, lembaga-lembaga di Kota Pontianak yang berwewenang untuk memberikan perlindungan hukum terhadap anak korban eksploitasi ekonomi masih belum maksimal sesuai dengan Pasal 32 Konvensi Hak-Hak Anak Kata Kunci: Implementasi, Konvensi Hak Anak, Eksploitasi Ekonomi Anak, Perlindungan Hukum, Kota Pontianak
ANALISIS PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM PERJANJIAN JUAL BELI ALBUM DAN MERCHANDISE K-POP MELALUI SISTEM PRE-ORDER (Studi Kasus WONUSLIEBE) NIM. A1011211225, FITRIANA YULISTIANINGSIH
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT The development of the K-Pop album pre-order system through digital platforms has raised consumer protection issues, as seen in the case of WONUSLIEBE in the pre-order of SEVENTEEN's FML album in 2023. The business failed to fulfill its obligation to deliver the goods after consumers made their payments. This study aims to analyze consumer protection in sales agreements for K-Pop albums and merchandise through the pre-order system at Wonusliebe based on Law Number 8 of 1999 concerning Consumer Protection, as well as to analyze the legal consequences of default in pre-order refund agreements at Wonusliebe This research uses a normative legal research method with a descriptive-analytical nature. The approaches used include a legal approach, a conceptual approach, and a case approach. The data used consists of primary legal materials, including the 1945 Constitution, the Civil Code, Law No. 8 of 1999, and Law No. 11 of 2008 along with its amendments, as well as secondary legal materials in the form of literature and legal journals. Data collection techniques were conducted through literature review and document analysis, with data analysis using qualitative methods. The result show that consumer protection in pre-order transactions for K-Pop albums and merchandise on Wonusliebe is still not optimal. Although there is an adequate legal framework, in practice, violations of consumer rights still occur, specifically violations of Article 4(b) and (c), Article 7(a) and (b), and Article 8(1)(f) of the Consumer Protection Law. This indicates a gap between ideal law and reality on the ground. Legal protection for consumers can be achieved through preventive and repressive approaches. The breach of contract committed by Wonusliebe's business actors results in legal consequences in the form of an obligation to compensate consumers, consisting of a breach of contract in the pre-order sales agreement and a breach of contract in the refund agreement. Dispute resolution is prioritized through amicable means, while still leaving open the possibility of court proceedings if mediation fails Keywords: Consumer Protection, Pre-Order, Default ABSTRAK Perkembangan sistem pre-order album K-Pop melalui platform digital menimbulkan permasalahan perlindungan konsumen, seperti yang terjadi pada kasus WONUSLIEBE dalam pre-order album SEVENTEEN-FML tahun 2023. Pelaku usaha gagal memenuhi kewajiban penyerahan barang setelah konsumen melakukan pembayaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan konsumen dalam perjanjian jual beli album dan merchandise K-Pop melalui sistem pre-order di Wonusliebe berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, serta menganalisis akibat hukum wanprestasi dalam perjanjian pengembalian dana pre-order di Wonusliebe. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan sifat deskriptif-analitis. Pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan studi kasus, pendekatan perundang-undangan, dan pendekatan konseptual. Data yang digunakan berupa bahan hukum primer yang terdiri dari UUD 1945, KUHPerdata, UU No. 8 Tahun 1999, dan UU No. 11 Tahun 2008 beserta perubahannya, serta bahan hukum sekunder berupa literatur dan jurnal hukum. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi dokumen, dengan analisis data menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan konsumen dalam transaksi pre-order album dan merchandise K-Pop di Wonusliebe masih belum optimal. Meskipun telah ada kerangka hukum yang memadai, dalam praktiknya masih terjadi pelanggaran terhadap hak-hak konsumen berupa pelanggaran Pasal 4 huruf b dan c, Pasal 7 huruf a dan b, serta Pasal 8 ayat (1) huruf f UUPK. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara hukum ideal dan kenyataan di lapangan. Perlindungan hukum bagi konsumen dapat dilakukan melalui pendekatan preventif dan represif. Wanprestasi yang dilakukan oleh pelaku usaha Wonusliebe menimbulkan akibat hukum berupa kewajiban memberikan ganti rugi kepada konsumen, yang terdiri dari wanprestasi dalam perjanjian jual beli pre-order dan wanprestasi dalam perjanjian pengembalian dana. Penyelesaian sengketa diprioritaskan melalui jalur kekeluargaan dengan tetap membuka kemungkinan jalur pengadilan jika musyawarah gagal. Kata Kunci: Perlindungan Konsumen, Pre-Order, Wanprestasi
PENYALURAN ZAKAT FITRAH OLEH AMIL DI LUAR MUSTAHIQ DI MASJID AL-MANAR DESA TEMPAPAN KUALA NIM. A1011211069, WAHIDAH
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Zakat is a form of worship prescribed in Islam and obligatory for every able Muslim. Zakat has a very important function, namely helping those in need and realizing social justice in society. One type of zakat is zakat fitrah which must be paid every month of Ramadan and must be distributed to eight groups of mustahiq as regulated in the Qur'an, Surah At-Taubah, verse 60 and Law Number 23 of 2011 concerning Zakat Management. However, in practice, the distribution of zakat fitrah carried out by amil at the Al-Manar mosque in Tempapan Kuala village has not been in accordance with these provisions, because in addition to zakat fitrah being distributed to the poor, needy, amil, and converts, zakat fitrah is also distributed to parties such as village shamans, midwives, gravediggers, Quran teachers, muezzins, ma'asyiral, preachers, and mosque imams. The research problem is formulated as follows: "What factors cause the distribution of zakat fitrah by amils outside the mustahiq (recipients) at the Al-Manar Mosque in Tempapan Kuala Village?" The purpose of this study is to determine the factors that cause the distribution of zakat fitrah outside the mustahiq, the legal consequences, and the efforts that can be made to ensure that zakat fitrah distribution complies with Islamic law. This research is an empirical juridical legal study with a qualitative descriptive approach. The data used were obtained through field research and library research. The data collection techniques used by the author were: first, direct communication (interviews) with data sources, namely the zakat committee and religious leaders of the Al-Manar Mosque in Tempapan Kuala Village. Second, indirect communication (questionnaires) with the community receiving zakat fitrah outside the mustahiq at the Al-Manar Mosque in Tempapan Kuala Village. The study population included religious leaders, the zakat collection committee, and recipients of zakat fitrah outside the mustahiq (receiver recipients) at the Al-Manar Mosque in Tempapan Kuala Village. The purposive sampling included religious leaders, two members of the zakat collection committee, and eight recipients of zakat fitrah outside the mustahiq at the Al-Manar Mosque in Tempapan Kuala Village. The results indicate that the distribution of zakat fitrah by amil to parties outside the mustahiq is driven by factors such as appreciation and gratitude, annual customs, amil's lack of understanding of zakat law, and inaccurate data collection of mustahiq. The consequences of this practice are that zakat becomes invalid according to sharia, is not well-targeted, and reduces social justice. Therefore, it is necessary to socialize zakat law, accurately record mustahiq, and establish a professional zakat collection committee so that zakat can be managed properly in accordance with Islamic law. Keywords: Distribution, Zakat, Fitrah, Amil, Mustahiq Abstrak Zakat merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam dan wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu. Zakat memiliki fungsi yang sangat penting yaitu membantu orang yang membutuhkan dan mewujudkan keadilan sosial dalam masyarakat. Salah satu jenis zakat yaitu zakat fitrah yang wajib dibayarkan setiap bulan Ramadhan dan harus disalurkan kepada delapan golongan mustahiq sebagaimana diatur dalam Al-Qur"™an surat At-Taubah ayat 60 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan Zakat. Namun pada praktiknya, penyaluran zakat fitrah yang dilakukan oleh amil di masjid Al-Manar desa Tempapan Kuala belum sesuai dengan ketentuan tersebut, karena selain zakat fitrah disalurkan kepada fakir, miskin, amil, dan mualaf, zakat fitrah juga disalurkan kepada pihak-pihak seperti dukun kampung, dukun beranak, penggali kubur, guru ngaji, muazin, ma"™asyiral, khatib, dan imam mesjid. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu "Faktor apa yang menyebabkan penyaluran zakat fitrah oleh amil diluar mustahiq di Masjid Al-Manar Desa Tempapan Kuala?". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang menyebabkan terjadinya penyaluran zakat fitrah diluar mustahiq, akibat hukumnya, serta upaya yang dapat dilakukan agar penyaluran zakat fitrah sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Penelitian ini merupakan penelitian hukum yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis data yang digunakan diperoleh melalui penelitian lapangan (Field Research) dan penelitian kepustakaan (Library Research). Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis yaitu yang pertama adalah teknik komunikasi secara langsung (Interview) terhadap sumber data yaitu panitia zakat dan pemuka agama masjid Al-Manar Desa Tempapan Kuala. Kemudian yang kedua yaitu teknik komunikasi tidak langsung (Questioner) yaitu masyarakat penerima zakat fitrah diluar mustahiq di masjid Al-Manar Desa Tempapan Kuala. Populasi penelitian mencakup pemuka agama, panitia amil zakat, dan penerima zakat fitrah diluar mustahiq dimasjid Al-Manar Desa Tempapan Kuala, sedangkan sampel diambil secara purposive meliputi pemuka agama, dua orang panitia amil zakat fitrah dan delapan orang penerima zakat fitrah diluar mustahiq di masjid Al-Manar Desa Tempapan Kuala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran zakat fitrah oleh amil kepada pihak diluar mustahiq disebabkan oleh faktor penghargaan dan ucapan terima kasih, kebiasaan tahunan, kurangnya pemahaman amil terhadap hukum zakat, serta pendataan mustahiq yang kurang tepat. Akibat praktik ini yaitu zakat menjadi tidak sah secara syariat, belum tepat sasaran dan berkurangnya keadilan sosial. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi hukum zakat, pendataan mustahiq secara tepat dan pembentukan panitia amil zakat yang profesional agar zakat dapat dikelola secara benar sesuai dengan syariat Islam. Kata Kunci: Penyaluran, Zakat, Fitrah, Amil, Mustahiq
PELAKSANAAN PEMUNGUTAN RETRIBUSI PELAYANAN KEBERSIHAN DI KELURAHAN AKCAYA KOTA PONTIANAK NIM. A1011181005, FADIA HAYA
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This type of research is empirical legal research that aims to examine and analyze the workings of law in society as reflected in the legal behavior of the community. The data analysis in this study is qualitative in nature, consisting of descriptions, opinions, and narratives from interviews or observations. Secondary data collection techniques were carried out using content analysis of laws and regulations, documents or records, literature, and research results related to the research problem. Primary data collection was carried out using interviews and observations. The results of this study show that the environmental agency has sought to implement sanitation service fees in the Akcaya sub-district and increase the effectiveness of collection by simplifying payment, one of which is by combining PDAM (water company) payments and sanitation service fees. The obstacles to the implementation of sanitation service fees are the inaccurate data on the objects of the fees, the diverse economic conditions of the community, the level of public awareness, and the lack of strict sanctions. Keywords: Akcaya, Public Cleaning Services, Fees Abstrak Jenis penelitian ini adalah Penelitian Yuridis Empiris yang bermaksud untuk mengkaji dan menganalisis bekerjanya hukum di dalam masyarakat yang tercermin ke dalam perilaku hukum masyarakat. Analisis data dalam penelitian ini bersifat kualitatif yaitu berupa deskripsi, pendapat, narasi dari hasil wawancara atau observasi. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan content analysis terhadap peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen atau catatan, literatur serta hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Untuk pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinas lingkungan hidup telah mengupayakan terlaksananya retribusi pelayanan kebersihan di kelurahan akcaya serta meningkatkan efektivitas pemungutan dengan mempermudah pembayaran salah satunya dengan menggabungkan pembayaran PDAM dan retribusi pelayanan kebersihan. Adapun hambatan dari terlaksananya retribusi pelayanan kebersihan adalah faktor data objek retribusi yang belum akurat, kondisi ekonomi masyarakat yang beragam, tingkat kesadaran masyarakat dan sanksi yang kurang tegas. Kata kunci : Akcaya, Pelayanan Kebersihan, Retribusi.
ANALISIS YURIDIS PERAN OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM MENGAWASI PENGGUNAAN CRYPTOCURRENCY DI INDONESIA NIM. A1012211167, SYARIF ACHMAD FIQQIH PUTRA ALKADRIE
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Cryptocurrency is a rapidly growing digital investment instrument characterized by high volatility and significant risks. In Indonesia, oversight of cryptocurrency was initially under the authority of the Commodity Futures Trading Regulatory Agency (Bappebti), but has since been transferred to the Financial Services Authority (OJK) in accordance with Law Number 4 of 2023 concerning the Development and Strengthening of the Financial Sector (P2SK Law). This study analyzes the supervisory challenges faced by Bappebti and the emerging role of OJK as the new regulatory authority. The findings indicate that Bappebti faced limitations in regulation and consumer protection, while the increasing value of transactions and the growing number of crypto investors pose potential risks to financial system stability. Based on discussions between Bappebti and the Fiscal Policy Agency (BKF), as well as reports from the Financial Stability Board (FSB), it is concluded that the rapid growth of cryptocurrency brings the potential for complexity in maintaining financial sector stability. Therefore, the decision to transfer regulatory authority to OJK represents a forward-looking government policy aimed at anticipating future challenges in the digital financial sector. The delegation of authority to OJK is considered a strategic move by the government to address the evolving dynamics of the digital financial landscape. With the issuance of OJK Regulation Number 27 of 2024, OJK now holds more comprehensive supervisory powers within the digital financial asset ecosystem. ABSTRAK Cryptocurrency merupakan instrumen investasi digital yang berkembang pesat namun memiliki volatilitas tinggi dan risiko signifikan. Di Indonesia, pengawasan terhadap cryptocurrency awalnya dilakukan oleh Bappebti, namun kini dialihkan kepada OJK sesuai dengan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang P2SK. Penelitian ini menganalisis kendala pengawasan oleh Bappebti serta peran OJK sebagai otoritas baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bappebti memiliki keterbatasan dalam regulasi dan perlindungan konsumen, sementara peningkatan nilai transaksi dan jumlah investor kripto berisiko terhadap stabilitas sistem keuangan. Berdasarkan hasil diskusi antara Bappebti, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), serta laporan dari Financial Stability Board (FSB), disimpulkan bahwa pertumbuhan pesat cryptocurrency membawa potensi kompleksitas terhadap stabilisasi sektor keuangan. Oleh karena itu, keputusan untuk mengalihkan pengawasan ke OJK merupakan bentuk kebijakan forward looking pemerintah dalam mengantisipasi tantangan sektor keuangan digital masa depan.. Pengalihan kewenangan ke OJK dianggap sebagai langkah strategis pemerintah menghadapi tantangan sektor keuangan digital. Dengan terbitnya POJK Nomor 27 Tahun 2024, OJK kini memiliki wewenang pengawasan yang lebih komprehensif dalam ekosistem aset keuangan digital. Kata Kunci: Otoritas Jasa Keuangan, Cryptocurrency, Bappebti, Pengawasan, Peralihan
TANGGUNG JAWAB DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DALAM MENERBITKAN AKTA KELAHIRAN MENGGUNAKAN SATU KATA DI KABUPATEN SEKADAU NIM. A1011191039, NURUL AGUSTINE
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study analyzes the issuance of birth certificates bearing single-word names in Sekadau Regency, notwithstanding Article 5 Paragraph (3) of Minister of Home Affairs Regulation No. 73 of 2022, which stipulates that a name must consist of at least two words. The persistence of this practice is rooted in local traditions and beliefs that long names may become a burden for children or even cause illness, prompting parents to adopt single-word names instead. The research employs an empirical descriptive approach, with data obtained through interviews and questionnaires involving the Civil Registry Office (Disdukcapil) and parents during the period 2022"“2025. The data were analyzed qualitatively by correlating field practices with the prevailing legal framework. The findings reveal that Disdukcapil continues to accommodate applications for single-word names, subject to applicants signing a Statement of Absolute Responsibility (SPTJM). This practice does not give rise to any legal or administrative consequences, as no explicit sanctions are prescribed for the use of single-word names in civil registry documents. Nevertheless, Disdukcapil undertakes efforts to strengthen regulations and provide public education to enhance awareness of the importance of compliance with legal naming provisions. It is recommended that socialization activities be intensified and that public awareness be further improved. Keywords: Birth Certificate, Single-Word Name, Civil Registry Office, Responsibility "ƒ Abstrak Penelitian ini membahas praktik penerbitan akta kelahiran dengan nama satu kata di Kabupaten Sekadau, meskipun Pasal 5 Ayat (3) Permendagri No. 73 Tahun 2022 mewajibkan minimal dua kata. Fenomena ini dipengaruhi tradisi dan kepercayaan masyarakat bahwa nama panjang dapat menjadi beban atau mendatangkan penyakit, sehingga lebih sering disingkat menjadi satu kata. Metode penelitian menggunakan pendekatan empiris deskriptif dengan data dari wawancara dan angket terhadap Disdukcapil serta orang tua (periode 2022"“2025). Analisis dilakukan secara kualitatif, menghubungkan praktik di lapangan dengan aturan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Disdukcapil tetap melayani penerbitan akta kelahiran dengan nama satu kata, dengan syarat pemohon menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM). Praktik ini tidak menimbulkan akibat hukum maupun sanksi administratif karena belum ada ketentuan yang mengatur larangan secara tegas. Meski begitu, Disdukcapil berupaya melakukan edukasi dan penguatan regulasi agar masyarakat memahami pentingnya kesesuaian penamaan dengan aturan hukum. Disarankan agar sosialisasi lebih ditingkatkan dan kesadaran masyarakat semakin terbentuk. Kata Kunci: Akta Kelahiran, Nama Satu Kata, Disdukcapil, Tanggung Jawab
PELAKSANAAN PEMBAYARAN PAJAK RESTORAN OLEH PELAKU USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (STUDI KASUS DI RESTORAN HOKAIDO RAMEN DI KOTA PONTIANAK) NIM. A1011211092, KHAIRUNISA PRATAMI
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Tax can be described substantively as an individual payment obligation deposited to the state in the amount of income or assets owned, which is also a mandatory contribution of the people to the state owed by individuals and bodies that are coercive based on the Law without receiving direct compensation for state needs. MSMEs are an important part of the economy because they are dubbed as the driving force of the local economy and influential contributors to the creation of innovative jobs. The purpose of this study is to analyze the responsibility of micro, small and medium business actors for paying Restaurant Tax, to analyze or describe the obstacles faced by MSME business actors so that they have not carried out their responsibilities in terms of paying taxes. This research is an empirical research whose data refers to the relationship between law and real human behavior. The data used in this study are primary data by means of interviews/questionnaires and secondary data through books, scientific journals, websites, and others. The analysis is descriptive, with the intention of describing the existing situation by using scientific research methods and solving problems based on the data and facts collected. The results of this study are that the Hokaido Ramen Restaurant in Pontianak City has not fulfilled its responsibility in paying restaurant tax or Building Tax (Pb1) due to Covid-19 that occurred several years ago, Hokaido Ramen was negligent in paying taxes which caused Bapenda to raid and sticker cafes and restaurants with arrears of around IDR 1.5 billion with values ranging from IDR 75 million to some reaching IDR 400 million. However, Hokaido Ramen is known to have paid its taxes to the Regional Tax Service Office, namely Bapenda. Keyword : Regional Tax, Restaurant Tax or Building Tax (Bt1), Micro, Small and Medium Enterprises Abstrak Pajak secara substansif dapat dideskripsikan sebagai kewajiban pembayaran individu yang disetorkan kepada negara dengan jumlah harta yang dimiliki dijadikan tolak ukur dalam pembayaran pajak, yang mana juga merupakan kontribusi wajib rakyat kepada negara terutang oleh orang pribadi dan badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung untuk keperluan negara. UMKM adalah bagian penting dari ekonomi karena dijuluki sebagai motor penggerak ekonomi lokal dan kontributor yang berpengaruh pada penciptaan lapangan kerja yang berinovasi. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk menganalisis tanggung jawab pelaku usaha mikro, kecil dan menengah terhadap pembayaran Pajak Restoran, Untuk menganalisis atau menggambarkan kendala yang dihadapi pelaku usaha UMKM sehingga belum melaksanakan tanggung jawabnya dalam hal pembayaran pajak. Penelitian yang ini merupakan penelitian Empiris yang mana datanya mengacu pada keterkaitan hukum dengan perilaku nyata manusia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan cara wawancara/kuesioner dan sekunder yaitu melalui buku, jurnal ilmiah, situs web, dan lain-lain. Analisisnya bersifat Deskriptif, dengan maksud untuk menggambarkan keadaan yang ada dengan mepergunakan metode penelitian ilmiah serta memecahkan masalah berdasarkan data dan fakta yang terkumpul. Hasil Penilitian ini adalah Restoran Hokaido Ramen di Kota Pontianak belum melakukan tanggung jawabnya dalam pembayaran pajak restoran atau Pajak Bangunan (Pb1) dikarenakan covid-19 yang terjadi beberapa tahun lalu, Hokaido Ramen melakukan kelalaian dalam pembayaran pajak yang menyebabkan Bapenda merazia dan melakukan stikerisasi terhadap Kafe-Kafe dan restoran-restoran dengan besaran nilai yang tertunggak kisaran Rp1,5 Milyar dengan nilai mulai dari RP75 juta hingga ada yang mencapai Rp400 juta. Namun Hokaido Ramen diketahui sudah melunasi pembayaran pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak Daerah yaitu Bapenda. Kata Kunci : Pajak Daerah, Pajak Restoran atau Pajak Bangunan (Pb1), Usaha Mikro Kecil dan Menengah
PERLINDUNGAN HUKUM HAK CIPTA GAME LUAR NEGERI DI INDONESIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA NIM. A1011181161, AUFA DZULFAR RINALLDY
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract In this era of very advanced technological development, application developers or Developers create entertainment applications in the form of online games that can be played on various online media such as smartphones and personal computers. This video game can be easily accessed by the public. This study discusses the Legal Protection of Copyright for Foreign Games in Indonesia Based on Law Number 28 of 2014 Concerning Copyright. Then it will also discuss how the procedures that can be carried out by the Creator holding the Copyright of foreign Games will register their Copyright in Indonesia. It will also discuss the rights obtained by the Creator or Copyright holder of foreign games who register their Copyright in Indonesia, in the form of Exclusive Rights which include Moral Rights and Economic Rights. It will also discuss how long the Copyright protection period is valid and legal protection against violations that may occur against the Copyright. By using normative legal research methods (legislative approach) conducted by reviewing various data sources related to the research problem. The primary legal material used in this study is Law Number 28 of 2014 concerning Copyright. There are also secondary legal materials that provide explanations to primary legal materials, such as the TRIPS (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights) agreement, the Directorate General of Intellectual Property (DJKI) Module, law books, research journals and expert opinions. By using normative legal research methods (legislative approach) conducted by reviewing various data sources related to the research problem. The primary legal material used in this study is Law Number 28 of 2014 concerning Copyright. There are also secondary legal materials that provide explanations to primary legal materials, such as the TRIPS (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights) agreement, the Directorate General of Intellectual Property (DJKI) Module, law books, research journals and expert opinions. So it can be found that the procedure for recording Copyright carried out by the Creator or Copyright holder of foreign games is carried out through an Intellectual Property consultant based on Article 67 Paragraph (3) of Law Number 28 of 2014 concerning Copyright. This recording is carried out with the aim of ensuring the protection of Exclusive Rights obtained by the Creator or Copyright holder of foreign games in the form of Moral Rights and Economic Rights. The legal protection obtained by the Creator or Copyright holder is in the form of legal protection that applies for a period of 50 years against the Copyright of games which in this case are included in the Copyright of video games for possible Copyright violations. Keywords: Copyright Registration, Copyright of Foreign Games in Indonesia, Copyright Registration of Foreign Games in Indonesia, Legal Protection of Game Copyright. Abstrak Di zaman perkembangan teknologi yang sangat maju ini, para pengembang aplikasi atau Developer menciptakan aplikasi hiburan berupa game online yang bisa dimainkan di berbagai sarana online seperti smartphone dan personal computer. Video game ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Penelitian ini membahas mengenai Perlindungan Hukum Hak Cipta Game Luar Negeri Di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Kemudian akan dibahas juga tentang bagaimana prosedur yang dapat dilakukan oleh Pencipta pemegang Hak Cipta dari Game luar negeri akan mencatatkan Hak Ciptanya di Indoneisa. Akan dibahas juga hak-hak yang didapat oleh Pencipta atau pemegang Hak Cipta game luar negeri yang mencatatkan Hak Ciptanya di Indonesia, berupa Hak Eksklusif yang meliputi Hak Moral dan Hak Ekonomi. Akan dibahas juga berapa lama jangka waktu perlindungan Hak Cipta berlaku dan perlindungan hukum terhadap pelanggaran yang mungkin akan terjadi terhadap Hak Cipta tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif (pendekatan perundang-undangan) yang dilakukan dengan menelaah berbagai sumber data yang berkaitan dengan masalah penelitian. Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini dalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Terdapat juga bahan hukum sekunder yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, seperti perjanjian TRIPS (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights), Modul Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), buku hukum, jurnal penelitian dan pendapat para ahli. Sehingga dapat ditemukan hasil bahwa prosedur pencatatan Hak Cipta yang dilakukan oleh Pencipta atau pemegang Hak Cipta game luar negeri dilakukan melalui konsultan Kekayaan Intelektual berdasarkan Pasal 67 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Pencatatan ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan perlindungan Hak Eksklusif yang didapat oleh Pencipta atau pemegang Hak Cipta game luar negeri berupa Hak Moral dan Hak Ekonomi. Perlindugan hukum yang didapatkan oleh Pencipta atau pemegang Hak Cipta berupa perlindungan hukum yang berlaku dalam jangka waktu 50 tahun terhadap Hak Cipta game yang dalam hal ini termasuk ke dalam Hak Cipta permainan video atas pelanggaran Hak Cipta yang mungkin saja terjadi. Kata kunci: Pencatatan Hak Cipta, Hak Cipta Game luar negeri di Indonesia, Pencatatan Hak Cipta Game luar negeri di Indonesia, Perlindungan Hukum terhadap Hak Cipta game.
PENERAPAN SANKSI ADAT TERHADAP PEMBAKARAN LAHAN AKIBAT PEMBUKAAN LADANG DI DESA UNTANG KECAMATAN BANYUKE HULU KABUPATEN LANDAK NIM. A1011211060, OKTAPIANUS RENDI
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract In Untang village, land clearing is typically carried out communally through a local practice known as pangari, where farmers assist one another from the initial clearing of the field to planting and harvesting. Farming in this community is not only an agricultural activity but also involves sacred customary rituals. Therefore, failing to follow the established procedures for land clearing-particularly through burning-may be considered a customary offense. This research examines the application of customary sanctions against land burning resulting from land clearing activities in Untang Village, Banyuke Hulu District, Landak Regency. The aim of this study is to explore in greater depth the implementation of customary sanctions for land burning due to shifting cultivation, to identify the factors influencing the enforcement of these sanctions among farmers, to reveal the forms of sanctions imposed, and to describe the measures taken by customary authorities in addressing such cases. This research employs an empirical legal research method with a descriptive-explanatory approach. Data were collected through library research and field studies, using techniques such as field observation, interviews, questionnaires, and surveys. The data were analyzed using a qualitative approach. The findings indicate that the application of customary sanctions for land burning in Untang Village is carried out according to the Dayak Banyadu customary system, in the form of fines proportionate to the level of damage caused. The enforcement of these sanctions among farmers who neglect traditional land-clearing procedures, particularly through burning, is influenced by economic factors and family relations, which in turn affect their level of compliance with customary law. Dispute resolution is conducted through customary deliberations, ritual apologies (nyorok), and compensation to the affected parties. This process reflects the principles of restorative justice and upholds the local values of the Dayak Banyadu indigenous community. Keywords: Application Of Customary Sanctions, Land Fire, Land Clearing Abstrak Masyarakat di Desa Untang biasanya membuka lahan dengan cara gotong royong atau pangari untuk saling membantu antara peladang satu dengan peladang lainnya, mulai dari membuka lahan perladangan, menanam, hingga panen. Selain itu kegiatan berladang bukan hanya sekedar bercocok tanam tetapi juga mengandung unsur ritual adat yang sakral dalam pelaksanaannya, sehingga apabila masyarakat tidak menerapkan metode atau tata cara dalam pembukaan ladang maka akan dianggap sebagai pelanggaran adat. Penelitian ini mengkaji tentang Bagaimana Penerapan Sanksi Adat Terhadap Pembakaran Lahan Akibat Pembukaan Ladang Di Desa Untang Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak?. Adapun tujuan penelitian ini untuk menggali lebih dalam mengenai penerapan sanksi adat terhadap pembakaran lahan akibat pembukaan ladang di Desa Untang Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak, menjelaskan faktor yang mempengaruhi penerapan sanksi adat bagi peladang, mengungkapkan bentuk sanksi yang diterapkan bagi peladang, dan menguraikan upaya yang dilakukan oleh fungsionaris adat bagi peladang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris dengan sifat penelitian deskriptif eksplanatoris. Sumber data dikumpulkan melalui studi pustaka (library research) dan studi lapangan (field study). Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, kuisioner dan angket dengan analisis data menggunakan pendekatan kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa penerapan sanksi adat terhadap pembakaran lahan akibat pembukaan ladang di Desa Untang Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak dilakukan secara adat Dayak Banyadu yang berupa sanksi adat pembayaran denda adat sesuai dengan tingkat kerugian yang terjadi. faktor yang mempengaruhi penerapan sanksi adat bagi peladang yang abai terhadap tata cara pembukaan ladang dengan cara membakar disebabkan oleh faktor ekonomi dan hubungan kekeluargaan sehingga mempengaruhi tingkat kepatuhan peladang terhadap hukum adat. Penyelesaian dilakukan melalui musyawarah adat, permintaan maaf secara adat (nyorok), dan pemberian ganti rugi kepada pihak yang dirugikan. Proses ini mencerminkan prinsip keadilan restoratif dan menjaga nilai-nilai lokal masyarakat adat Dayak Banyadu. Kata Kunci: Penerapan Sanksi Adat, Pembakaran Lahan, Pembukaan Ladang
ANALISIS YURIDIS PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP JASA LAUNDRY DI WILAYAH KABUPATEN KUBU RAYA NIM. A1011181108, DONNI ARYO PRAYOGO
Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study examines legal protection for consumers using laundry services in Kubu Raya Regency. In practice, consumers often suffer losses due to the negligence of business operators, such as damaged or lost clothing or services that do not meet agreements. This situation highlights an imbalance in the legal relationship between consumers as the weaker party and business operators as service providers. This study aims to analyze the existing legal protection mechanisms, identify challenges faced, and provide recommendations to enhance legal protection for laundry service consumers. This research employs a normative juridical method with a statutory and case study approach. Data were obtained through literature studies, interviews with consumers and business operators, and surveys conducted in the study area. The analysis focuses on Law Number 8 of 1999 on Consumer Protection, emphasizing consumer rights, business operators' responsibilities, and legal remedies available to consumers in cases of loss. The results show that preventive legal protection can be implemented through the drafting of written agreements between business operators and consumers, education on consumer rights, and active supervision by relevant agencies. Curative legal protection involves dispute resolution through mediation, compensation, and legal action if mediation fails to reach an agreement. However, this study identified several challenges, such as low consumer awareness of their rights, limited knowledge of business operators about their legal obligations, and weak oversight by local governments. To address these challenges, the study recommends strengthening consumer protection regulations, increasing education for consumers and business operators, optimizing mediation mechanisms, and establishing a specialized supervisory body for the laundry service sector. Additionally, local governments are expected to play an active role in ensuring quality service standards in this sector. This study provides significant contributions to understanding consumer legal protection in the laundry service sector and offers strategic steps to create a more balanced and fair relationship between consumers and business operators. Effective legal protection is expected to enable consumers to receive safe and quality services, while business operators can conduct their business responsibly. Keywords: Legal protection, consumers, laundry services, negligence, mediation, Kubu Raya Regency Abstrak Penelitian ini membahas perlindungan hukum terhadap konsumen dalam penggunaan jasa laundry di Kabupaten Kubu Raya. Dalam praktiknya, konsumen sering menghadapi kerugian akibat kelalaian pelaku usaha, seperti pakaian yang rusak, hilang, atau hasil layanan yang tidak sesuai dengan kesepakatan. Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam hubungan hukum antara konsumen sebagai pihak yang lemah dan pelaku usaha sebagai penyedia layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme perlindungan hukum yang ada, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan perlindungan hukum bagi konsumen jasa laundry. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus. Data diperoleh melalui studi pustaka, wawancara dengan konsumen dan pelaku usaha, serta survei yang dilakukan di wilayah penelitian. Analisis dilakukan terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan fokus pada hak-hak konsumen, tanggung jawab pelaku usaha, serta upaya hukum yang dapat ditempuh konsumen ketika terjadi kerugian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum preventif dapat dilakukan melalui penyusunan perjanjian tertulis antara pelaku usaha dan konsumen, edukasi mengenai hak-hak konsumen, serta pengawasan aktif oleh instansi terkait. Perlindungan hukum kuratif melibatkan penyelesaian sengketa melalui mediasi, pemberian kompensasi, dan langkah hukum apabila mediasi tidak mencapai kesepakatan. Namun, penelitian ini menemukan beberapa kendala, seperti rendahnya kesadaran konsumen terhadap hak-hak mereka, kurangnya pengetahuan pelaku usaha tentang kewajiban hukum, dan lemahnya pengawasan oleh pemerintah daerah. Untuk mengatasi kendala tersebut, penelitian ini merekomendasikan penguatan regulasi perlindungan konsumen, peningkatan edukasi bagi konsumen dan pelaku usaha, optimalisasi mekanisme mediasi, serta pembentukan lembaga pengawas khusus di sektor jasa laundry. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan dapat memainkan peran aktif dalam memastikan standar pelayanan yang berkualitas di sektor ini. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami perlindungan hukum konsumen di sektor jasa laundry, serta menawarkan langkah-langkah strategis untuk menciptakan hubungan yang lebih seimbang dan adil antara konsumen dan pelaku usaha. Dengan adanya perlindungan hukum yang efektif, diharapkan konsumen dapat memperoleh layanan yang aman dan berkualitas, sementara pelaku usaha dapat menjalankan kegiatan bisnisnya secara bertanggung jawab. Kata Kunci: Perlindungan hukum, konsumen, jasa laundry, kelalaian, mediasi, Kabupaten Kubu Raya

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 4 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 3 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 2 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 8, No 1 (2025): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 7, No 4 (2024): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 7, No 3 (2024): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 7, No 2 (2024): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 7, No 1 (2024): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 6, No 4 (2023): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 6, No 3 (2023): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 6, No 2 (2023): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 6, No 1 (2023): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 5, No 4 (2022): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 5, No 3 (2022): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 5, No 2 (2022): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 5, No 1 (2022): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 4, No 4 (2021): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 4, No 3 (2021): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 4, No 2 (2021): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 4, No 1 (2021): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 3, No 4 (2020): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 3, No 3 (2020): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 3, No 2 (2020): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 3, No 1 (2020): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 2, No 4 (2019): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 2, No 3 (2019): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 2, No 2 (2019): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 2, No 2 (2019): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 2, No 1 (2019): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 2, No 1 (2019): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 4 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 4 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 3 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 3 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 2 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 2 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 1 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum Vol 1, No 1 (2018): E-Jurnal Fatwa Hukum More Issue