cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
HALAMAN DEPAN: Metasastra Volume 6, Nomor 2, Desember 2013 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.%p

Abstract

TRANSFORMASI SANGKURIANG DALAM GODI SUWARNA (Transformation of Sangkuriang in Godi Suwarna’s) Hidayat, S.Pd., M.Hum., Sarip
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i2.253-266

Abstract

Sangkuriang dikenal sebagai tokoh dalam legenda orang Sunda. Tokoh ini kemudian banyak ditransformasikan ke dalam berbagai karya sastra. Salah satu karya sastra yang mentransformasikan tokoh ini adalah fiksi mini karya Godi Suwarna. Enam karyanya dalam buku Lalakon Awon, Godi Suwarna mentransformasikan tokoh ini menjadi seorang tukang perahu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur teks, transformasi, dan pemaknaannya. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa struktur cerita Sangkuriang bentuknya sederhana, baik dari segi alur, tokoh, maupun latarnya. Selain itu, transformasi ditengarai terjadi berupa ekspansi dan konversi. Adapun makna yang didapatkan umumnya tentang kearifan memaknai hidup.Abstract: Sangkuriang is known as a main figure in the legend of the Sundanese people. The figure has been transformed into various literary works. One of the literary works transforming it is a short fiction by Godi Suwarna. In the six works in the book of  “Lalakon”, he transformed the figure into a boatman. This study aims to describe the structure of the text, the transformation, and the meaning. The result of the research finds that the structure of the Sangkuriang  story is simple in terms of plot, character, and its background. In addition, the transformations occur in the form of expansion and conversion. Moreover, the meaning of the stories is mostly about life wisdom.
ANALISIS PENERJEMAHAN PUISI “I HEAR AMERICA SINGING” KARYA WALT WHITMAN:SEBUAH KAJIAN EKSTRATEKSTUAL (The Analysis of Poetry Translation of Walt Whitman’s “I Hear America Singing”: an Extratextual Study) Dwi Prihantono, Kahar
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2014.v7i2.173-186

Abstract

Penerjemahan sastra merupakan satu cabang disiplin penting dalam kajian penerjemahan karena disiplin ini menjadi salah satu sarana pelestarian karya-karya terbaik dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki terjemahan puisi karya Bapak Penyair Amerika, Walt Whitman, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Ismail dan Jean Jaques Kusni. Berdasarkan model analisis penerjemahan puisi pada tataran ekstratekstual yang diusulkan oleh HosseinVahid Darstjerdi d.k.k, penelitian ini mengkaji skemata, koherensi, dan implikatur puisi sumber (PSu) dan puisi sasaran (PSa). Unsur-unsur skemata yang dibahas meliputi delapan (8) unsur pembangun skemata sebagai unsur ekstratekstual, yakni pengetahuan penyair terhadap usia, jenis kelamin, ras, kebangsaan, hubungan dan nilai-nilai agama, ekonomi, profesi, dan sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa, puisi sasaran1 (PSa1) memuat kesepadanan pada sebagian besar skemata, koherensi, dan implikatur dibandingkan dengan puisi sasaran2 (PSa2) dan dari sudut pandang kedekatan puisi, PSa1 lebih dekat dekat dengan PSu.Abstract:Literary translation is an important discipline in the translation study since the discipline can be beneficial in preserving world’s best literary works. This study aims at investigating the translated poem of Walt Whitman- the father of free verse-. The poem was translated into Indone- sian by Taufik Ismail and Jean Jaques Kusni. Based on the model analysis of poetry translation at an extra-textual level proposed by Hossein Vahid Darstjerdi et al, this study examines the sche- mata, coherence, and implicature of the poem (the source poem)  and its translations (target poem). Schemata elements covered  eight   extra-textual elements, such as:  knowledge of the poet, age, sex, race, nationality, religious value, economy, profession, and history. The results of the study show that the schemata, coherence, and implicature equivalence presented in target poem1 were better organized than those in target poem2. The comparison  also proved that the target poem1 was closer to the source poem.
Perbandingan Legenda Ciung Wanara dengan Cindelaras serta Kajian Budaya Lokal Rahman, Fauzi
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2018.v11i1.31-44

Abstract

This research aims to compare the story of Ciung Wanara (West Java) and Cindelaras (East Java). In addition to comparing the two stories, this study also explores the cultural values contained in each story. The  research applies a qualitative method with comparison technique and content analysis. A comparative study uses  an analysis of one literature with another, or comparing literature with other field of art. The result of the research shows that, despite being similar, the cultural background causes the two stories  to have differences. A folktale has a cultural tradition inherent to the habit undertaken by the society in which the story develops. In the Ciung Wanara story, there is a tradition of cockfights, naming babies based on natural events, and belief in mythology. While in the story of Cindelaras, besides having the same things, we also find  the representation of culture, especially the image of the king’s mistress as instead of the queen.
ROMAN MOETIARA BERLUMPUR DAN PATJAR MERAH KEMBALI KE TANAH AIR KARYA YUSDJA: NASIONALISME ALA AKTIVIS PERGERAKAN MERAH (The Story of Moetiara Berlumpur and Patjar Merah Kembali ke Tanah Air Written Yusdja: Nationalism in Red Movement Activists Version) Atisah, Atisah
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i1.15-30

Abstract

Tulisan ini memaparkan tokoh-tokoh Pergerakan Merah dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah Belanda dalam roman Moetiara Berlumpur dan Patjar Merah Kembali ke Tanah Air karya Yusdja. Kedua roman tersebut memberi gambaran peran aktivis Pergerakan Merah yang memperjuangkan nasionalisme atau semangat kebangsaan ala Pergerakan Merah yang beraliran komunis. Bentuk nasionalisme ala Pergerakan Merah itu terefleksi dalam perjuangan yang keras (radikal) dan setia kepada partai. Mereka bergerak di lingkungan kaum buruh dan orang-orang kecil (marginal). Perlawanan para aktivis Pergerakan Merah atas penjajah, yakni dengan cara mengadakan pembongkaran jalan kereta api (Batang Oepamo), memutuskan kawat telepon, dan  menghasut  kuli-kuli tambang.Abstract:This paper describes the Red Movement leaders in fighting for independence from Dutch colonialists in the Story of  Moetiara Berlumpur and Patjar Merah kembali ke Tanah Air written  by Yusdja . Both stories illustrate the role of the Red Movement activists fighting for nationalism or national spirit in Red movement version having communist ideology. Form nationalism in Red Movement version was reflected in the hard (radical) and loyal struggle to the party. They moved in the environment of the labor and low class society. The  Red Movement activists against the colonialists were done by doing some actions, namely, destroying the railroad (Batang Oepamo), cutting  telephone wire, and inciting the mining workers.
DIASPORA PADA TOKOH PEREMPUAN PEKERJA MIGRAN DALAM KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN DI NEGERI BETON Sisilia, Nurul Maria; Rahayu, Lina Meilinawati; Aksa, Yati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i1.95-108

Abstract

Penelitian ini membahas situasi diaspora yang dialami perempuan pekerja migran di Hong Kong dalam kumpulan cerpen karya perempuan pekerja migran di Hong Kong berjudul Perempuan di Negeri Beton.  Situasi diaspora tersebut dianalisis melalui ingatan tokoh terhadap tanah air, serta norma-norma dan budaya Indonesia yang mengingatkan tokoh terhadap Indonesia.Ingatan tokoh perempuan terhadap tanah air membuat tokoh meresistensi dan bernegosiasi dengan budaya Hong Kong.Dalam penelitian ini, penulis menggunakan konsep diaspora dari Rogers Brubaker dan James Clifford untuk menganalisis diaspora dan konsep unhomely dari Homi K. Bhabha untuk menjelaskan konsep home.
HALAMAN DEPAN: Metasastra Vol. 10, No. 1, Juni 2017 Hidayat, Sarip
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2017.v10i1.%p

Abstract

SEKSUALITAS TOKOH LINGGA DALAM CERPEN “LELAKI DENGAN BIBIR TERSENYUM”: KAJIAN FEMINISME (The Sexuality of Lingga in Short Story of “Lelaki dengan Bibir Tersenyum”: A Feminism Study) Hastuti, Heksa Biopsi Puji
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2012.v5i1.11-20

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan aspek seksualitas tokoh Lingga dalam cerpen “Lelaki dengan Bibir Tersenyum” karya Radhar Panca Dahana dan menginterpretasikannya dalam perspektif feminisme. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi pustaka. Data dianalisis dengan menggunakan teori feminis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa dalam cerpen “Lelaki dengan Bibir Tersenyum” aspek seksualitas tokoh Lingga mencerminkan kebebasan bagi perempuan dalam melakukan aktivitas seksual sebagaimana yang diinginkannya. Hal ini sejalan dengan yang diperjuangkan oleh kaum feminis radikal-libertarian. Namun, jika dikaitkan dengan makna yang terkandung dalam nama Lingga, terdapat maksud tersirat dalam cerpen ini yang menunjukkan dominasi seksual sesungguhnya tetap berada pada pihak laki-laki.Abstract:The aim of this study is to describe sexuality aspect of Lingga in short story entitled “Lelaki dengan Bibir Tersenyum” written by Radhar Panca Dahana. It is also intended  interprete it within feminism perspective. This is a descriptive-qualitative research.  The data is collected by using literary method. The data analysis  applied feminism theories as references. The result showed that the sexuality aspects of Lingga reflects a freedom for women in committing whatever sexual activity as they expect to. This is in line with what radical-lybertarian feminists struggle for. Yet, if it is associated to the meaning of the word lingga, there is an implicit intention to suggest that sexual domination actually remains on the male side.
Petunjuk Penulisan Metasastra Vol 8, No 1, Juni 2015 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.%p

Abstract

TEMA SEKS DALAM LIMA NOVEL YANG DITULIS OLEH NOVELIS PEREMPUAN INDONSIA Pamungkas, Nandang Rudi
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2008.v1i1.101-108

Abstract

Akhir-akhir ini dunia sastra Indonesia diwarnai oleh kemunculan novel-novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 pada umumnya secara gambling menyampaikan berbagai hal tentang seks. Kehadiran  Larung (Ayu Utami), Ode untuk Leopold von Sacher Massoch (Dinar Rahayu) Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto), Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatien), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru juga menuai kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik..Dalam kelima novel tersebut penokohan perempuan dan tema seks begitu terasa mendominasi. Para perempuan dalam novel-novel tersebut semuanya dililit oleh permasalahan cinta dan seksual. Permasalahan tersebut di antaranya, perselingkuhan, penindasan, budaya patriarkat, dan feminisme. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh perempuan pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, tetapi secara umum cerita melibatkan begitu banyak tokoh perempuan. Dalam kelima novel tersebut kita juga melihat pergeseran cara pandang para tokoh prempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para tokoh perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gambling disuarakan dalam kelima novel tersebut.

Page 8 of 21 | Total Record : 201