cover
Contact Name
Fahruddin
Contact Email
jurnalalam84@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fahruddin65@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 20864604     EISSN : 25498819     DOI : -
Jurnal yang memuat hasil - hasil penelitian terkait ilmu alam dan lingkungan termasuk review meliputi lingkungan, kelautan, konservasi, mikrobiologi, bioaktif, dan yang relevan.
Arjuna Subject : -
Articles 175 Documents
Prospective LCA Sistem Integrasi Elektrokoagulasi-Filtrasi Air Baku di SDN 008 Balikpapan Utara Kartikasari, Ika Bayu; Rengganis, Sekar Inggar; Zannaria, Noneng Dewi; Pratiwi, Reno; Munanto, Galuh Boyo
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/pve86c47

Abstract

Kualitas air baku di SDN 008 Balikpapan Utara belum memenuhi standar air bersih karena tingginya kekeruhan dan keberadaan partikel koloid yang sulit disisihkan melalui filtrasi konvensional. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan sistem elektrokoagulasi–filtrasi serta mengevaluasi dampak lingkungannya menggunakan pendekatan prospective life cycle assessment (pLCA). Penelitian dilakukan melalui pengujian elektrokoagulasi skala laboratorium yang dikembangkan menjadi rancangan skala lapangan berkapasitas 1.200 L. Analisis life cycle inventory (LCI) dilakukan berdasarkan konsumsi energi listrik, peluruhan anoda aluminium, pembentukan lumpur, dan emisi gas hidrogen, sedangkan penilaian dampak lingkungan menggunakan metode ReCiPe 2016 Midpoint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrokoagulasi mampu menurunkan kekeruhan dari 19,31 NTU menjadi 0,09 NTU, meningkatkan pH dari 5,66 menjadi 8,68, dan meningkatkan dissolved oxygen dari 1,70 mg/L menjadi 6,33 mg/L. Kebutuhan energi listrik sistem sebesar 2,88 kWh/siklus dengan konsumsi anoda aluminium sebesar 30,2 g/siklus. Hasil LCIA menunjukkan kategori dampak terbesar berasal dari agricultural land occupation dan climate change. Environmental hotspot utama sistem berasal dari konsumsi energi listrik dan penggunaan anoda aluminium sehingga diperlukan optimasi operasional untuk meningkatkan keberlanjutan sistem pengolahan air.
Analisis Kandungan COD dan Besi (Fe) pada Air Limbah di Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Indikator Pencemaran Lingkungan Nur Isra; Wina, Lun; Supriadi, Adi; Siahaya, Martha Ekawati
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/3gd7bb53

Abstract

Air limbah merupakan salah satu sumber pencemar yang dapat menurunkan kualitas lingkungan apabila tidak diolah sesuai baku mutu yang berlaku. Parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan logam berat besi (Fe) menjadi indikator penting dalam menilai tingkat pencemaran air limbah karena keduanya mencerminkan kandungan bahan pencemar organik, anorganik, serta logam yang berpotensi mengganggu ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan logam berat besi (Fe) pada air limbah workshop dan domestik di perkebunan kelapa sawit, kemudian disesuaikan hasil pengujian dengan baku mutu air limbah yang berlaku. Metode yang digunakan adalah pengujian laboratorium terhadap lima sampel air limbah. Parameter COD dianalisis menggunakan metode refluks tertutup dengan spektrofotometer UV-Vis mengacu pada SNI 6989.2:2019, sedangkan kadar Fe dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA/AAS) pada panjang gelombang 248,3 nm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada parameter COD, sampel kode 1 dan 2 dari limbah workshop kelapa sawit serta sampel kode 3 dari limbah domestik tidak memenuhi baku mutu, sedangkan sampel kode 4 dan 5 memenuhi baku mutu. Pada parameter Fe, sampel kode 1 dan 2 memiliki kadar Fe sebesar 28,0920 mg/L dan 12,7949 mg/L sehingga melebihi baku mutu 5 mg/L, sedangkan sampel kode 3, 4, dan 5 memenuhi baku mutu dengan kadar Fe masing-masing 0,1256 mg/L, 0,0254 mg/L, dan 0,0219 mg/L. Analisis menunjukkan bahwa beberapa sampel air limbah memiliki konsentrasi COD dan Fe yang masih melebihi ambang batas, sehingga penguatan sistem pengolahan diperlukan, terutama pada tahap pra-pengolahan, filtrasi, dan pengendalian sumber pencemar, untuk mencegah degradasi kualitas lingkungan.
Dimensi Serat dan Nilai Turunan Serat Kayu Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) dan Waru (Hibiscus tiliaceus L.) Kutana, Agung Nugrawan; Prayogo, Yanico Hadi; Wahyudi, Imam; Hanifah, Nisrina Putri; Pangestu, Kidung Tirtayasa Putra; Prayitno, Joko
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/fw12ft30

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi serat dan nilai turunan serat kayu gmelina (Gmelina arborea Roxb.) dan waru (Hibiscus tiliaceus L.) serta membandingkan karakteristik anatomi serat kedua jenis kayu tersebut. Sampel kayu dimaserasi menggunakan metode Schultze dan diamati secara mikroskopis pada pembesaran 40× dan 100×. Parameter yang diukur meliputi panjang serat, diameter serat, diameter lumen, dan tebal dinding sel. Data dimensi serat digunakan untuk menghitung nilai turunan serat berupa Runkel ratio, flexibility ratio, felting power, Muhlsteph ratio, dan coefficient of rigidity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu gmelina memiliki panjang serat 1251,65 µm, diameter serat 31,10 µm, diameter lumen 18,26 µm, dan tebal dinding sel 6,42 µm, sedangkan kayu waru memiliki panjang serat 1083,96 µm, diameter serat 22,69 µm, diameter lumen 15,72 µm, dan tebal dinding sel 3,48 µm. Nilai turunan serat kayu gmelina berturut-turut adalah Runkel ratio 0,70, flexibility ratio 0,59, felting power 40,24, Muhlsteph ratio 31,10, dan coefficient of rigidity 0,21, sedangkan kayu waru memiliki nilai Runkel ratio 0,44, flexibility ratio 0,69, felting power 47,77, Muhlsteph ratio 51,97, dan coefficient of rigidity 0,15. Berdasarkan total nilai turunan dimensi serat, kayu waru memperoleh skor 250 dan termasuk kelas kualitas II, sedangkan kayu gmelina memperoleh skor 200 dan termasuk kelas kualitas III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu waru memiliki serat yang lebih fleksibel dengan lumen relatif lebih besar dan dinding sel lebih tipis, sedangkan kayu gmelina memiliki serat yang lebih besar namun lebih kaku akibat dinding sel yang lebih tebal.
Aktivitas Hiperglikemik Kombinasi Ekstrak Daun Bidara (Ziziphus mauritiana Lam.) dan Ginseng (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.) Terhadap Mencit Terinduksi Deksametason Andi Emelda; Irma Santi; Sheinny Paradise; Alfachirah, Nurul Alyah; Ananda Naura
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/4payy092

Abstract

Hyperglycemia is characterized by elevated blood glucose levels that may progress to diabetes mellitus if left uncontrolled. This study aimed to evaluate the antihyperglycemic activity of a combination of ethanol extracts of bidara leaves (Ziziphus mauritiana Lam.) and ginseng leaves (Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn.), and to determine the effective dose capable of reducing blood glucose levels in mice administered dexamethasone subcutaneously for 14 days. This study employed an experimental method with a pretest-posttest control group design. A total of 20 mice were divided into five treatment groups: normal control, negative control (without therapy), positive control (metformin therapy), and two combination-dose groups receiving 75 mg/kg body weight of bidara leaf extract combined with 40 mg/kg body weight of ginseng leaf extract, and 100 mg/kg body weight of bidara leaf extract combined with 60 mg/kg body weight of ginseng leaf extract. The parameters observed were blood glucose levels before and after treatment. The treatment period lasted for 14 days, and blood glucose levels were measured using a glucometer. Data were analyzed using a one-way ANOVA. The results showed that the combination of extracts significantly reduced blood glucose levels (p < 0.05). The highest reduction was observed in mice receiving the combination of 100 mg/kg body weight of bidara leaf extract and 60 mg/kg body weight of ginseng leaf extract. These findings indicate that the combination of bidara and ginseng leaf extracts has potential antihyperglycemic activity in dexamethasone-induced hyperglycemic mice.
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis Untuk Pemetaan Potensi Kekeringan dan Strategi Mitigasi di Kabupaten Bone Rahma Musyawarah; Mat Rasul; Rahmawati Nurkarima
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70561/cxx81e71

Abstract

Bencana kekeringan merupakan salah satu ancaman lingkungan yang dapat memberikan dampak signifikan terhadap kondisi sosial, ekonomi, ketersediaan air, dan keberlanjutan sektor pertanian. Kabupaten Bone sebagai salah satu wilayah agraris di Sulawesi Selatan memiliki kerentanan terhadap kekeringan yang perlu dikaji secara spasial sebagai dasar dalam menentukan strategi mitigasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi wilayah terdampak bencana kekeringan di Kabupaten Bone serta merumuskan strategi mitigasi yang dapat diterapkan berdasarkan kondisi dan karakteristik wilayah. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis spasial melalui metode Weighted Overlay menggunakan ArcGIS 10.8. Parameter yang digunakan meliputi jenis tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan, curah hujan, kerapatan vegetasi, dan suhu permukaan. Selanjutnya, analisis SWOT digunakan untuk menentukan strategi mitigasi berdasarkan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi upaya penanggulangan kekeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Bone didominasi oleh klasifikasi berpotensi kekeringan dengan persentase sebesar 81,85%, sedangkan wilayah tidak berpotensi sebesar 13,05% dan wilayah sangat berpotensi sebesar 5,13%. Berdasarkan hasil analisis SWOT, strategi mitigasi yang direkomendasikan berada pada strategi WO (Weakness-Opportunities), yang diarahkan pada pengurangan kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang tersedia. Strategi tersebut meliputi pembentukan forum atau desa tangguh kekeringan, penyuluhan dan pelatihan mitigasi bencana, pengembangan sistem peringatan dini berbasis BMKG dan aplikasi sederhana, gotong royong dalam konservasi air dengan memanfaatkan kearifan lokal, serta integrasi upaya mitigasi kekeringan ke dalam RPJM Desa. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah yang lebih adaptif terhadap ancaman kekeringan di Kabupaten Bone.