cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 114 Documents
STRATEGI KREATIF ROY GENGGAM DALAM PEMOTRETAN IKLAN Willy Pamungkas; Kurniawan Adi Saputro; Kusrini -
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.776 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1901

Abstract

Anak-anak adalah objek yang dapat dieksplorasi dengan berbagai macam aspek dan pendekatannya dalam pemotretan. Setiap fotografer memiliki cara tertentu dalam memotret anak-anak, karena mereka memiliki perilaku yang susah diatur dan suasana hati yang mudah berubah. Seperti halnya Roy Gajah Seto Genggam Nusantoro atau dikenal sebagai Roy Genggam, fotografer dengan banyak pengalaman ini mempunyai cara tertentu dalam memotret anak-anak. Salah satu pemotretan iklan yang melibatkan anak-anak sebagai peduduk, adalah iklan Cussons pada 2014 dan 2016.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi kreatif Roy Genggam dalam pemotretan iklan Cussons. Metode wawancara serta studi dokumen dan arsip, digunakan dalam mengumpulkan data-datanya. Data yang didapat, dianalis dan dikaitkan dengan teori lalu disajikan secara deskriptif atas fakta-fakta yang ditemukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 12 cara yang dilakukan Roy Genggam serta tim RGP (Roy Genggam Photography) dalam memotret anakanak. Roy Genggam juga menggunakan tiga strategi kreatif dalam pemotretan iklan Cussons, yaitu strategi anak-anak sebelum pemotretan, strategi anak-anak saat pemotretan dan strategi hasil foto.Ketiga strategi tersebut terbentuk dari nalurinya dalam menghadapi masalah saat mewujudkan harapan-harapannya dalam pemotretan iklan Cussons. Kata kunci: strategi kreatif, Roy Genggam, fotografi, anak-anak 
KAJIAN SEMIOTIKA TERHADAP MASKULINITAS DALAM FOTO IKLAN ROKOK GUDANG GARAM DJAJA EDISI ‘RAHASIA DJAJA’ TAHUN 2015 Prasetyo Wicaksono Achmad; Irwandi -; Kurniawan Adi Saputro
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.104 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1906

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna foto iklan rokok Gudang Garam Djaja. Selain memiliki makna tersurat, sebuah foto iklan juga memiliki makna tersirat. Fotografi kerap kali digunakan seorang produsen untuk media ilustrasi iklan mereka, tak terkecuali bagi produsen rokok. Meskipun masyarakat telah mengetahui bahaya dan akibat yang ditimbulkan dari merokok, rokok tetap menjadi komoditas yang laku di tengah masyarakat Indonesia. Iklan secara langsung mempengaruhi hal tersebut, melalui iklan-iklan yang menjual produk rokok mereka kepada konsumen maupun calon konsumen baru, iklan ikut mempengaruhi persepsi pandangan mengenai rokok. Larangan penggunaan produk rokok secara vulgar melalui PP Nomor 81 Tahun 1999 menyebabkan produsen rokok untuk membuat konsep iklan yang tidak menggunakan atau menggambarkan kegiatan merokok sama sekali. Sering kali, foto iklan rokok menggunakan model maupun konsep yang menggambarkan imaji maskulinitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, di mana peran peneliti sebagai instrumen penelitian dan disajikan secara deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotika konotasi. Melalui metode tersebut, akan ditemukan pemaknaan pada tingkat denotasi dan konotasinya. Hasil dari penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa konotasi yang menebal menjadi sebuah mitos dalam masyarakat. Imaji maskulinitas yang ditampilkan dalam foto iklan rokok Gudang Garam Djaja merupakan stereotip yang ada dan diyakini oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Kata kunci: semiotika, maskulinitas, foto iklan, rokok
DAMPAK FOTOGRAFI JURNALISTIK DI SURAT KABAR NASIONAL PADA MASA KAMPANYE PEMILIHAN DAERAH DKI JAKARTA DALAM MEMENGARUHI PEMILIH Ignasius Liliek Senaharjanta
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.276 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2461

Abstract

AbstrakPenelitian ini memiliki tujuan untuk melihat seberapa besar dampak foto jurnalistik dalam memengaruhi pemilih, terutama pada masa pemilihan umum kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Kerangka teoretis dalam penelitian ini menggunakan konstruksi sosial dan agenda setting untuk mengetahui bagaimana media melakukan konstruksi pada saat melakukan pemberitaan pada masa kampanye pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa surat kabar Kompas dan Republika dalam memublikasikan pemberitaan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta memiliki agenda yang berbeda. Kompas, dalam pemberitaannya tampak memihak kepada salah seorang kandidat calon kepala daerah, namun masih memberikan porsi seimbang untuk publikasi dari pasangan kandidat calon kepala daerah yang lain. Sementara itu, Republika memberikan  perhatian lebih terhadap salah satu pasangan kandidat calon kepala daerah DKI Jakarta. Pemberitaan yang ditampilkan dalam bentuk visual foto jurnalistik banyak didominasi oleh pasangan salah satu calon kepala daerah DKI Jakarta. Foto jurnalistik akan memiliki dampak atau pengaruh untuk membentuk opini publik atau pemilih, apabila foto mengenai sebuah isu diberitakan secara terus-menerus oleh media.Kata kunci: foto jurnalistik, pilkada DKI, konstruksi sosial, agenda setting AbstractThe Impacts of Photojournalism in Local Newspaper During The Jakarta Regional Head Election Campaign in Influencing The Voters.  This research aims to analyze the impact of photojournalism in influencing the voters especially during the regional head election on the second round.  This research was conducted using qualitative method. The theoretical framework used in this research was social construction and agenda setting to analyze how the media have constructed the news and published it during the regional election. Based on the result and the discussion of this research, it could be concluded that Kompas and Republika newspaper had different agenda in publishing news on Jakarta regional election. Kompas, although seems to tend on one of the candidates, still published proportional information for both candidates, whereas Republika gave more portion towards one specific candidate. The publication presented on the newspaper especially photos of one specific candidate dominated the news release. Photojournalism will give impacts and influences for the voters' public opinion when it is published continuously by the media.Keywords: photojournalism, Jakarta regional election, social construction, agenda setting
TRADISI MEKARE-KARE DI DESA BALI AGA TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER I Wayan Aquaris Yanuarta; Pitri Ermawati; Kusrini Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1705.606 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2468

Abstract

AbstrakPenciptaan seni fotografi "Tradisi Mekare-kare di Desa Bali Aga Tenganan Pegringsingan dalam Fotografi Dokumenter" adalah penciptaan karya fotografi yang bertujuan untuk memaparkan serangkaian prosesi tradisi Mekare-kare (Perang Pandan) secara visual. Visualisasi dimulai dari rangkaian prosesi Nyikat, Hud Apisan, Metabuh Tuak, Ngastiti hingga puncak tradisi atau ritual Mekare-kare. Tradisi ini merupakan tradisi terbesar dan terpenting masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan karena merupakan ritual utama dan terbesar untuk memuja Dewa Indra. Data untuk pembuatan karya diperoleh dari hasil observasi dan eksplorasi, yaitu mengamati warga desa dan lingkungannya secara langsung di Desa Tenganan Pegringsingan, serta eksplorasi melalui serangkaian wawancara tentang tradisi Mekare-kare. Dalam perwujudannya, penciptaan karya fotografi dokumenter ini menggunakan pendekatan EDFAT (entire, detail, frame, angle, time). Metode ini dipilih agar memperoleh visualisasi yang bervariasi, detail subjek dapat terekam dengan baik, dapat menangkap setiap informasi secara utuh, dan memudahkan untuk merangkai karya menjadi sebuah cerita yang lengkap. Hasil karya fotografi yang terangkum dalam karya menceritakan rangkaian persiapan ritual Mekare-kare hingga saat ritual Perang Pandan. Setiap karya menyampaikan informasi secara mendalam tentang subjek foto pada tradiri Mekare-kare.Kata kunci:  tradisi, Mekare-kare, Tenganan Pegringsingan, fotografi dokumenter                                                       AbstractTradition of Mekare-kare in Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village in Documentary Photography.The creation of "The Mekare-kare Tradition in Bali Aga Tenganan Pegringsingan Village in Documentary Photography" is the creation of photography works which aimed at exposing a series of Mekare-kare (Perang Pandan) tradition processions visually. Visualization started from a series of processions as Nyikat, Hud Apisan, Metabuh Tuak, Ngastiti to the peak ritual called Mekare-kare. Due to the largest and the most important tradition of Tenganan Pegringsingan village, it is the main and the greatest ritual to worship the God Indra.  Data were obtained from observation and exploration, observing the inhabitans and its surrounding directly in Tenganan Pengringsingan Village as well as exploring through a series of interview about Mekare-kare tradition.This photography project applied EDFAT method approach (entire, detail, frame, angle, time). This method was chosen in order to obtain varied visualizations, recording details of the subject properly, capturing comprehensive information, and making it easy to assemble the work into a complete story.  Resulting photography works depicted a series of ritual preparation of Mekare-kare until the execution of Perang Pandan. Each photo tried to deliver in-depth information about the subject of the photo at the Mekare-kare tradition.Keywords: tradition, Mekare-kare, Tenganan Pegringsingan, documentary photography
TRANSPARENT AFGHAN CAMERA: KARYA FOTOGRAFI PERFORMATIF DAN PARTISIPATORIS Fajar Apriyanto; Irwandi Irwandi; Ade Aulia Rahman
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.257 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2464

Abstract

AbstrakKemajuan teknologi fotografi digital dewasa ini bagi kalangan fotografer kreatif merupakan tantangan, namun di sisi lain juga merupakan sesuatu yang menjemukan. Foto-foto yang dihasilkan oleh para seniman fotografi masa kini tidak lagi terfokus pada persoalan reproduksi realitas secara harfiah, tetapi lebih pada penggunaan medium fotografi sebagai sarana penyuaraan ide. Muncul karya-karya yang mencerminkan eksplorasi lebih jauh melalui media fotografi, terutama di sisi sifat-sifat interaktif dalam fotografi. Dapat diduga hal ini terjadi karena ‘terlalu’ instannya proses fotografi digital sehingga menghilangkan selera para seniman untuk mencipta dengan kamera digital. Afghan camera merupakan salah satu jalan keluar bagi fotografer untuk keluar dari kejenuhan tersebut. Dalam penelitian ini afghan camera dihadirkan kembali dalam wujud karya performatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) studi pustaka; (2) rekonstruksi dan perancangan; (3) percobaan; dan (4) perwujudan. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, perancangan afghan camera memerlukan ketelitian dan perencanaan yang matang. Dengan demikian, transparent afghan camera dapat tetap berfungsi sebagai kamera serta dapat menjadi karya fotografi ruang interaktif dan performatif.Kata kunci: afghan camera, fotografi, partisipatoris  AbstractTransparent Afghan Camera:  A Performative and Participatory Photography.  Nowadays the technology development of camera has been a challenge for creative photographers, but on the other side it has also become dull.  Photographs created by photographers have not only focused on the reproduction of reality literally, but more to the use of photography as a medium in vocalizing ideas.  Therefore, photographs reflecting a further exploration with photography, particularly on their interactivity, have emerged.   It is assumed as because of the very instant process of digital photography, so it eliminates the passion of the artist to create photograph using a digital camera. Afghan camera is one of solutions for photographers to leave the boredom.  In this research, afghan camera is represented in a performative way.  The methods used were as follows; (1) literary study, (2) planning and reconstruction; (3) experimentation; and (4) materialization. The result showed that the planning to reconstruct the afghan camera had to be done carefully and thoroughly.  The planning ranged from the material to the accuracy in the execution.Keywords: afghan camera, participatory, photography
FOTO PRODUK AMANDA GRIYA KEBAYA DENGAN ELEMEN PENDUKUNG BANGUNAN CAGAR BUDAYA DI YOGYAKARTA Tyas Afrian; Edial Rusli; Adya Arsita
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1895.064 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2469

Abstract

AbstrakKebaya yang dulu mendapat sorotan sebagai pakaian kuno kini menjadi pakaian yang modern dan modis. Melalui media fotografi fashion, akan menarik apabila baju kebaya modifikasi dapat divisualisasikan dengan latar belakang bangunan cagar budaya di Yogyakarta sebagai elemen pendukung sehingga memberikan kesan tersendiri bagi para penikmat seni. Fotografi fashion dipilih karena mampu menampilkan produk yang dijual. Dalam karya ini, tantangan yang menarik adalah eksekusi dengan menyatukan kebaya yang modern dengan latar pemotretan berupa bangunan cagar budaya di Yogyakarta, terlebih apabila detail kebaya dapat jelas terlihat. Untuk itu, dilakukan serangkaian metode untuk menggali data yaitu observasi, studi pustaka, dan wawancara. Dlam penciptaan karya dilakukan melalui tahapan ini, yaitu kontemplasi, pravisualisasi, persiapan, eksekusi, hingga pascaproduksi. Karya foto produk dari Griya Amanda Kebaya dalam fotografi fashion ini tidak sekadar menampilkan busana secara visual, tetapi terdapat muatan informasi tentang kebaya dan bangunan yang dipakai. Melalui karya-karya ini didapatkan bahwa kebaya yang disandingkan dengan bangunan cagar budaya menjadi lebih menarik dan mudah dalam menyampaikan atau menanamkan brand image kepada audience, sehingga audience tertarik untuk menyewa atau membuat kebaya di Amanda Griya Kebaya. Kata kunci: Amanda Griya Kebaya, kebaya, cagar budaya, fotografi fashion  Abstract Product Photography of Amanda Griya Kebaya with Cultural Heritage Buildings in Yogyakarta as Supporting Elements.  Kebaya (a traditional Javanese blouse worn by women) which was considered as an old-fashioned dress, now becomes a modern and stylish dress, of course through a long and uneasy journey. With the medium of fashion photography, it will be interesting if the modified kebaya dress can be visualized with the background of cultural heritage buildings in Yogyakarta as supporting elements, so that it will give a certain impression for art enthusiasts. Fashion photography was chosen because it can show the product that will be sold. Fashion photography aims to make the designed dress looks interesting so that people would be eager to buy it. In this project, the challenge to combine the modern kebaya with the background of cultural heritage buildings in Yogyakarta is interesting to be executed, especially if the details of the kebaya can be seen clearly. To answer that challenge, a series of processes was carried out with some methods namely observation, literature review, and also interview. The steps that were carried out in this project were started with the description of the kebaya dress of Amanda Griya Kebaya, contemplation, pra-visualization, preparement, excecution, until post-production. The result came with the photographs of Amanda Griya Kebaya's product with the supporting element of cultural heritage buildings in Yogyakarta. In the implementation, it was not only creating an artwork that shows the dress visually, but also adding a content of information about the kebaya itself and the buildings used as the backgrounds. Through all of the photoworks, it can be concluded that the kebaya dress combined with cultural heritage building is more interesting and it is also easier to communicate or advertise the brand image to the audience, so that the audience will be interested to rent or order kebaya dress in Amanda Griya Kebaya. Keywords: kebaya, cultural heritage buildings, fashion photography, griya
SAMPAH POLA KONSUMTIF DALAM KARYA FOTOGRAFI STILL LIFE Arief Pristianto; Tanto Harthoko; Arti Wulandari
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.422 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2465

Abstract

AbstrakSampah menjadi persoalan yang tidak pernah selesai, dari zaman purba hingga sekarang, keberadaannya semakin banyak dan mulai tidak terkendali. Berbagai berita baik di media cetak maupun elektronik selalu menawarkan bermacam-macam produk yang menggiurkan masyarakat untuk melakukan peran konsumtif, dan akan berbahaya jika masyarakat tidak menyadari bahwa dari sisa konsumtif akan terjadi sampah. Penciptaan karya fotografi ini bertujuan untuk memunculkan foto-foto tentang sampah pola konsumtif dari penulis. Berdasarkan atas pola konsumtif tersebut diperoleh data otentik tentang perilaku konsumsi diri sendiri yang kemudian dikonstruksi menjadi rancangan untuk pemotretan. Foto yang dihasilkan merupakan karya seni fotografi still life dalam ranah fotografi kontemporer. Karya-karya yang dihasilkan menunjukkan bahwa kamera bukan hanya merepresentasikan ide dan perilaku kelompok manusia, melainkan juga dapat merepresentasikan pola tindakan biologis manusia.Kata kunci: sampah, pola konsumtif, still life, fotografi seni  AbstractWaste of Consumptive Behavior in Still Life Photography. Waste becomes a never ending issues, from the ancient times to the present, it is getting more and more and even  it is getting out of hand. Various news either in printed and electronic media has always offered a variety of tantalizing products to perform the role of the consumer society, and it will be dangerous if people are not aware that the residual consumption will end up as wastes.The creation of this photography work aims to bring photographs of waste as a result of author’s consumptive behavior.Based on the mentioned consumptive behavior, a set of authentic data about own consumptive behavior was collected and constructed as master plan for the photography creation. Resulting photographs show thay thay belong to the genre of still life photography in the domain of contemporary photography.  The photographs proved that camera was not only able to represent ideas and the habit of certain people, but also to represent the pattern of human’s biological life. Keywords: waste, consumptive behavior, still life, fine art photography 
REPRESENTASI PHOTO OF THE YEAR WORLD PRESS PHOTO (WPP) 2005-2016 Kusrini Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.003 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2466

Abstract

Abstrak                                                                                                             Photo of the Year dari kontes foto World Press Photo (WPP) merupakan penghargaan tahunan yang diberikan Yayasan World Press Photo.  Penghargaan tersebut untuk menghormati kreativitas fotografer dalam karya visual dan ketrampilan membuat gambar yang menangkap dan mewakili suatu peristiwa, yang di dalamnya terdapat isu besar atau penting bagi foto jurnalistik. Kajian foto ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana representasi peristiwa yang terdapat pada foto pemenang Photo of the Year World Press Photo 2005-2016. Data-data dikumpulkan dengan metode dokumen dan arsip serta literatur. Foto-foto yang dikaji dipilih melalui purposive sampling yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sarana tambahan yang digunakan untuk memilih foto adalah kial (gerak-gerik) subjek foto yang atraktif atau terdapat “aksi” yang mencolok secara visual. Dari foto terpilih, dianalisis melalui teori representasi dengan menggunakan pendekatan semiotika dari Roland Barthes tentang foto jurnalistik. Dari analisis foto dapat ditemukan jika foto-foto disajikan dengan pengolahan teknik yang kuat dan profesional sehingga kesan visual yang muncul tidak hanya dramatis, tetapi juga ironis. Foto-foto pemenang World Press Photo of the Year tersebut mampu menyajikan moment sesaat, namun menentukan (decicive moment) sehingga konstruksi peristiwa mampu menjelaskan lebih dari tampilan visualnya, juga sarat dengan konteks lingkungan fisik dan sosial. Kata kunci: representasi, Photo of the Year, World Press Photo, jurnalistik  Abstract Representation of Photo of The Year from World Press Photo (WPP) 2005-2016.Photo Of the Year from the World Press Photo (WPP) photo contest is an annual award given by the World Press Photo Foundation to honor the creativity of the photographer in the visual work and the skill in creating an image that captures and represents an event containing a big or important issue for photojournalism. This photo study was conducted to find out how the representation of events contained in the winning photo Photo of the Year World Press Photo 2005-2016. The data was collected by document and archive method along literature. Whereas the photos reviewed, be elected through purposive sampling in accordance with the objectives of the study. An additional means applied to select the photo was gesture (movement) showing an attractive photo subject or visually striking "action". The selected photographs were analyzed using theory of representation and semiotics approach from Roland Barthes about photojournalism. From photo analysis, it could be discovered that the photos were presented with a powerful and professional processing technique, so that the visual impression appearing was not only dramatic, but also ironic.  Photographs of World Press Photo Of the Year winners were able to present decicive moment, allowing construction of events explaining more of the visual appearance, also loaded with the context of social and physical environment. Keywords: representation, Photo of the Year, World Press Photo, journalistic
MENYUSUN KEMBALI INGATAN DAN KENANGAN DALAM STAGED PHOTOGRAPHY Eri Rama Putra; Soeprapto Soedjono; Zulisih Maryani
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.721 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i1.2467

Abstract

AbstrakKenangan merupakan apa yang pernah ada dan terjadi pada masa lalu dan menjadi bagian dari memori kehidupan banyak orang. Dengan kemampuannya yang bersifat dokumentatif, fotografi mampu merekam yang abstrak menjadi nyata. Fotografi terlahir untuk memburu objektivitas dengan kemampuannya dalam menggambarkan realitas visual. Praktik fotografi adalah pintu masuk untuk melihat dan menyelami banyak hal. Karya-karya ini dibuat menggunakan arsip-arsip foto yang berlokasi di Yogyakarta sebagai bentuk kenangan visual milik subjek yang digunakan sebagai acuan untuk direkonstruksi dengan metode staged photography. Metode ini dilakukan dengan upaya menata dan mengatur subjek, teknik fotografi, dan alur narasi untuk menampilkan perubahan-perubahan yang terjadi. Lewat praktik fotografi yang dilakukan, para subjek diajak untuk bernostalgia merasakan kembali kenangan-kenangannya. Secara tidak langsung, para subjek diajak untuk lebih peduli pada fotografi dengan menjaga dan memelihara arsip-arsip foto yang dimilikinya.Kata kunci: kenangan, staged photography, rekonstruksi, arsip foto   AbstractReconstructing Memory and Remembrance in Staged Photography. Recollection is something which existed and happened in the past and became a part of people’s life memory. With its documentative ability, photography could record abstract things into something real. Photography was born to hunt objectivity through the ability in picturing visual reality. The practice of photography is also a gateway to see and delve into many things. This project used photo archives located in Yogyakarta as a form of visual recollection from the subjects which would be used as the reference to be reconstructed with staged photography method. This method was conducted by arranging and managing the subject, choosing the appropriate photography techniques, and create the the narrative plot in order to show the changes which have occured. Through this project, the subjects were invited to reminisce the memory by recollecting their memories. It also urged the subjects to be more caring in keeping and preserving their photo archives.Keywords: reconstruction, recollection, photo archive, staged photography 
FOTOGRAFI SEBAGAI MEDIA MONITORING URBAN FARMING BERBASIS PENDOKUMENTASIAN DAN PARTISIPASI ANAK DALAM MENCIPTAKAN LINGKUNGAN RAMAH ANAK DI WILAYAH PEGIRIAN SURABAYA Idealita Ismanto
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1486.003 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2549

Abstract

AbstrakPenelitian ini membahas permasalahan tentang monitoring urban farming yang dilakukan oleh anak dengan menggunakan media pembelajaran fotografi sebagai pendokumentasian lingkungan tempat tinggal anak di wilayah pegirian Surabaya. Persoalan yang diangkat membahas bagaimana  peran media fotografi digunakan sebagai monitoring urban farming di wilayah pegirian Surabaya  serta dampak monitoring keluarga dan anak dengan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan ramah anak di wilayah pegirian Surabaya. Metode yang digunakan yakni observasi dan wawancara. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan kesimpulan dengan penelitian kualitatif. Dapat disimpulkan bahwa hasil dari monitoring urban farming berbasis pendokumentasian dan partisipasi anak dalam menciptakan lingkungan ramah anak di wilayah Pegirian Surabaya dengan menggunakan media fotografi dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendokumentasikan perubahan lingkungan yang terjadi, fotografi dapat digunakan sebagai alat agar anak dan masyarakat bisa berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan ramah anak, dan dampaknya bagi keluarga yang diberikan tanaman urban farming mengalami perubahan perilaku menjadi lebih baik dalam merawat tanaman dan menjaga lingkungan serta hubungan antar anggota keluarga dan antar warga menjadi lebih erat. Kata kunci: monitoring, urban farming, fotografi, partisipasi anak    AbstractPhotography as Monitoring Media on The Urban Farming Based on Documentation and Child Participation in Creating Children Friendly Environment in Pegirian Surabaya.  This study discusses the problem of urban farming monitoring conducted by children by using photography learning media as a documentation of the environment where children live in the Surabaya area. The issues addressed discuss how the role of photography media is used as urban farming monitoring in Surabaya area and the impact of family and child monitoring with the participation of children in creating child friendly environment in Surabaya area. The method used is observation and interview. Data analysis activities started from the data collection stage, the reduction phase, the data presentation stage, and the conclusion with qualitative research. It can be concluded that the results of urban farming monitoring based on documentation and participation of children in creating child friendly environment in Pegirian area Surabaya by using photography media can be used as a reference to document the environmental change that happened, photography can be used as a tool so that children and society can participate in the activity child-friendly environment, and its impact on the family given the urban farming crop experienced better behavioral changes in caring for plants and maintaining the environment and relationships between family members and between citizens became more intimate. Keywords: monitoring, urban farming, photography, child participation 

Page 2 of 12 | Total Record : 114