cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 114 Documents
LAKON PUNAKAWAN DALAM KARYA FOTOGRAFI SENI Gea Rosa; Arti Wulandari; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.38 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2790

Abstract

Abstrak Penciptan karya seni ini bermula dari keprihatinan terhadap pementasan wayang yang sudah mulai ditinggalkan di era milenial ini, sangat disayangkan apaila pementasan tersebut hilang begitu saja. Padahal kesenian ini sangat banyak memberikan pelajaran yang dapat membentuk karakter generasi muda menjadi lebih baik. Sebagai seorang yang lahir dan besar di Jawa, berkewajiban untuk turut andil dalam melestarikan kesenian peninggalan nenek moyang ini. Penciptaan karya seni ini mengambil tokoh Punakawan yang beranggotakan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tokoh-tokoh wayang tersebut diambil karena perannya dalam dunia pewayangan sangat besar. Penciptaan karya seni ini memvisualkan cuplikan lakon Punakawan ke dalam karya fotografi seni. Selain itu, ingin menyampaikan pesan moral yang terdapa dalam lakon Punakawan di  karya fotografi seni. Karya visual ini  mengandung elemen-elemen  pendukung sesuai dengan topik yang diangkat. Elemen-elemen  tersebut digabungkan dengan teknik montase yang diproses menggunakan digital imaging dan dicetak di media kertas foto.   Dengan demikian, visual yang dihadirkan sesuai dengan harapan dan pesan yang akan disampaikan bisa tersampaikan dengan baik. Kata kunci : lakon, Punakawan, fotografi seni Abstract Punakawan Play in Fine Art Photography. The creation of this art work originated from the concern about puppet showa that already  abandoned in this millenial era. It is unfortunate if the show just disappear. Exen trough this art provides a lot of knowledge that can estabilish young generation  character to be better. As a person born and raised in Java,  emerged a sense of  having an obligation to take part in perserving traditional arts. The creation of this art work takes in the figure of a slownman who consist of Semar, Gareng, Petruk and Bagong.  The Puppet caracter is taken, because of the role in the world  of puppetry is very large. The creation of this artwork visualizes snoppet of the clown. Storie into photographic artwork. Moreover, want  to convey a moral  message contained in the storie of clowns into photography artwork. The creation contain elemens that supporting as compatible as the topic raised. The  elements  combaineed with montage technique that proceeded using digital imaging and printed on photo paper, so the visual that served consistent to the hope. Also the message delivered,conveyed well. Keywords: Punakawan, play, fine art photography
Ilustrasi Fitur Aplikasi Plunq Versi 3.6.7 dalam Fotografi Komersial Gressandy Rangga Irawan; Edial Rusli; Adya Arsita
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.077 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.2834

Abstract

 Kegiatan perjalanan atau travelling merupakan salah satu kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia sehingga muncul banyak penyedia jasa perjalanan, baik secara offline maupun online.Plunq adalah salah satu aplikasi yang menyediakan layanan untuk saling berbagi perjalanan secara online dan sebagai pasar online (Online Marketplace) bagi para pegiat wisata lokal di seluruh Indonesia.Aplikasi ini memiliki beberapa fitur, salah satunya adalah fitur Rencana Perjalanan yang memuat beberapa komponen untuk menciptakan sebuah rencana perjalanan.Kata kunci :ilustrasi, fitur, Plunq, fotografi komersial 
Pin Up Style dalam Fotografi Fashion Kontemporer Tiara Sekar Adhitia; M. Kholid Arif Rozaq; M. Fajar Apriyanto
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1778.056 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.3123

Abstract

Fashion becomes a social symbol that gives the cultural identity to a person. Pin up style has existed since the late 1950s. This style which is a combination of urban style and pop culture is identical with a light, tight, and semi-open dress. The image sticking on pin up style fashion makes the women called as "teasing ladies". The chosen genre is contemporary fashion photography that is a genre in photography which aims to show the clothes and other fashion items influenced by the impact of modernization.The result of this final assignment project is a series of fashion photography which uses the fashion style of 1950s that is pin up style. In every visualization of the creation of this photographic work, it aims to present the story based on the ideas and the concepts as well as to introduce the type of pin up style for each photograph. The background, the property, the make up, the hair style, as well as the surrounding objects are used to support the story in the resulted photographs. Keywords: pin up style, fashion, contemporary fashion photography
OPERATOR WANITA TAMBANG BATU BARA DI SANGATTA KUTAI TIMUR DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER Isroviana Isroviana; Pitri Ermawati; Kusrini Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1191.974 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2808

Abstract

AbstrakSaat ini supir masih menjadi pekerjaan lelaki. Dunia pertambangan bukanlah pekerjaan yang mudah bagi wanita yang berprofesi sebagai operator dump truck heavy duty berukuran 14x17x6 m. Pekerjaan yang terlihat santai secara fisik, sebenarnya harus dibekali dengan mental yang kuat. Bukan hanya karena faktor lingkungan tetapi juga mayoritas rekan kerja mereka adalah lelaki. Peran ganda yang mereka miliki menjadi menarik ketika diangkat menjadi isu. Mulanya, bekerja adalah pilihannya sendiri namun saat ini mereka menjadi tulang punggung keluarga, tanggung jawabnya tidak lagi hanya memasak, mengurus anak, dan rumah tangga. Mereka bekerja selama 12 jam dengan dua tanggung jawab berbeda. Penciptaan karya ini dibuat dalam bentuk fotografi dokumenter dengan penggunaan warna foto hitam putih. Metode yang digunakan untuk penciptaan karya ini adalah observasi, wawancara, dan studi EDFAT. Sedangkan dalam pemilihan dan penyusunan alur foto menggunakan teknik elemen foto cerita dengan gaya deskriptif yang tidak menuntut susunan foto. Dengan demikian, cerita yang disampaikan memiliki kekuatan yang mendalam tentang operator wanita tambang batu bara tersebut, mereka bekerja dengan hati dan nyali. Dengan pekerjaan yang berat secara mental, para operator wanita memiliki cara sendiri untuk meringankan rasa lelah dan mengusir bosan dalam durasi pekerjaan yang tidak sebentar. Kata kunci: operator wanita, tambang batu bara, fotografi dokumenter  AbstractFemale Operatosr for Coal Mining in Sangatta East Kutai in Documentary Photography. At this time, being a driver is as man's job, not for woman. Mining world is not an easy job for woman as an 14 x 17x 6 m² dump heavy duty truck operator. The job that may look easy and relax physically but need strong mentality. Not only considering environmental factor but also their opposite sex workmate. The duality in their responsibility become very interesting issues. Not only take care of the household but also as their family's bread winner. this paper presented in black and white in documentary photography and using observation, interview and EDFAT study as the main methods. The descriptions style being choose in arranging and picking the pictures in order to widen the ideas given. Therefore the pictures can reveal deeper about the dual responsibilities the mining female workers taken in daily life and also reveal the way they are resting and relaxing the hard jobs. Keywords: female operators, coal mining, documentary photography 
MEMORABILIA: OLD PHOTOGRAPHIC PROCESSES APPLICATION ON FUNCTIONAL OBJECTS Alan Ridho Irezalnov; Irwandi Irwandi; Arti Wulandari
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.039 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.2844

Abstract

 Memorabilia: Old Photographic Process Application on Functional Objects. It is a concept of creating photographic artwork as a personal expression of memories that have passed for a long time, or have just been overlooked because they are triggered by an object or moment and are always ringing in the mind so that they bring back memories of the past. As one of several old photographic processes, Vandyke print is a photo printing technique in the nineteenth century with monochrome (sepia) color characters that fits perfectly with the old impression of representing memorabilia memories that are realized in visual form. In this creation, functional objects are used as photo print media. Material or objects used as media to express ideas are such as something impressive,  penetrating into feeling, thought, or action.  Generally  the material is understood to be passive, but on this context, things become active because they can trigger someone's memory of memorabilia. The works aim to bring back the memory of the past by printing old photographic processes by responding to functional objects which have personal stories and leave an impression. Apart from provoking the memories of the past, the photographic works could also become a personal reference of how important those memorabilia were.  Keywords: memorabilia, old photographic process, functional objects
DEKONSTRUKSI SOSIAL MELALUI FOTO HOAX Afusa Nidya Kinasih
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.333 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.2842

Abstract

Social Deconstruction Through Hoax Photo. The Governor of DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama was sentenced to 2 years in prison due to a blasphemy case that occurred in 2016 ago. As a result of this incident, the FPI mass organization (Front Pembela Islam) held an action "411 AksiDamai" which was led directly by FPI chairman Habib Rizieq Shihab with demands to thoroughly investigate Ahok as a suspect in the blasphemy case. On the other hand, the community is separated into two camps. This incident made AganHarahap, a digital artist make creative manipulations, as if Ahok and Habib Rizieq had made peace. In essence, people are dragged by the media to form a social flow that has the power to force. Social currents that may be created in the crowd of cyberspace are seen as contestation of opinion. Agan tried to shake up the political fact into a reality that is formed using Photoshop software.
Pecinan Tambak Bayan Surabaya Dalam Fotografi Dokumenter Alfian Rizal Andre Ciputra; Pitri Ermawati; Syaifudin Syaifudin
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1736.749 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.2837

Abstract

Documentary Photography of Chinatown in Tambak Bayan Surabaya. Chinese etchnic of Surabaya has been living in the settlement, called Tambak Bayan Surabaya, around Kalimas River. Most of the families living there are the third and fourth generation of the Chinese ethnic whom  migrated to Surabaya several years ago. Those families occupied the buildings formerly were horse stables during colonial period. Their economic condition was classified as middle to lower class. Hence,  they did not have other choices but those settlements. Documentary photography is a way to describe their everyday conditions in a 4x4 quadrangle house that is high. Chinese identities that surround their homes are each the size of each family inhabiting the house. The families residing in Chinatown Tambak Bayan Surabaya can be visualized into several documentary photographic works showing their condition and their dwelling places.  Keywords: documentary photography, Chinatown’s Tambak Bayan Surabaya, Chinese New year 
VISUALISASI TIGA WASTRA ETNIK NUSANTARA PADA KARYA BUSANA OERIP INDONESIA DALAM FOTOGRAFI FASHION EDITORIAL Yogi Febrianto; M. Fajar Apriyanto; M. Kholid Arif Rozaq
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.692 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2832

Abstract

AbstrakPenciptaan karya ini menghadirkan busana yang memadukan tiga wastra etnik Nusantara karya Oerip Indonesia yang diprakarsai oleh Dian Erra Kumalasari dalam bentuk foto fashion editorial. Wastra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain penuh makna. Fotografi fashion editorial digunakan untuk mengilustrasikan sebuah cerita, artikel, teks, atau ide dalam konteks majalah atau untuk memperindah tema tertentu secara visual, khsususnya visual fotografi. Unsur kebudayaan berupa wastra divisualisasikan ke dalam karya foto melalui proses eksplorasi ide dan ekperimentasi. Proses penciptaan karya ini juga melalui beberapa tahap perwujudan yakni perancangan, persiapan, pemotretan, dan editing. Hasilnya adalah beberapa karya fotografi fashion editorial yang menampilkan busana-busana yang memadukan tiga wastra etnik dengan tujuan untuk memperkenalkan merek fashion Oerip Indonesia kepada khalayak luas. Selain itu, karya-karya fotografi yang diciptakan juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai wacana apresiasi tambahan dalam mengenal ragam budaya Indonesia yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern.Kata kunci: wastra, busana, Oerip Indonesia, fotografi fashion, editorial  AbstractVisualization ff Three Nusantara Ethnic’s Wastra by Oerip Indonesia’s Fashion Works in Editorial Fashion Photography. The creation of this photography work presents fashion that combines three Nusantara ethnic’s wastra by Oerip Indonesia which was initiated by Dian Erra Kumalasari in the form of editorial fashion photography. Wastra comes from Sanskrit which means cloth full of meaning. Editorial Fashion Photography is used to illustrate a story, article, text, or idea in the context of a magazine or to beautify a particular theme visually, especially visual photography. The creation of this photographic work is a process of reproduction of cultural elements in the form of wastra into a form of photographic work through the process of exploring ideas and experimentation which is then manifested in the form of works of fashion photography. The process of creating this photographic work also through several stages of embodiment such as designing, preparation, shooting up to the editing stage. The photography work created in are some editorial fashion photography works featuring outfits that combine three ethnic wastras with the aim of introducing Oerip Indonesia's fashion brand to a wide audience. In addition, photography works created are also expected to be useful as a discourse of additional appreciation in recognizing the variety of Indonesian culture that can be applied in modern lifeKeywords: wastra, clothing, Oerip Indonesia, fashion photography, editorial
Pekerja Wanita Pengelola Tembakau Jember dalam Fotografi Dokumenter Morinda Lismawarta Citrifolia; Pamungkas Wahyu Setiyanto; Kusrini Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.97 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.2848

Abstract

Objek penciptaan karya fotografi ini membahas tentang kegiatan dan sisi lain pekerja wanita tembakau Jember di PTPN X. Sejak dulu pemerintahan Hindia-Belanda memilih pekerja wanita karena pengelolaan tembakau memerlukan keterampilan, ketekunan dan wanita tidak mempunyai kelainan buta warna. Penciptaan karya ini didasari oleh minimnya informasi tentang pekerja wanita tembakau di Indonesia sehingga karya ini diharapkan mampu memberi gambaran dan informasi tentang kehidupan para pekerja wanita tersebut dengan aktivitasnya di gudang tembakau. Karya berorientasi dengan kegiatan para pekerja tembakau sebagai dasar acuan proses penciptaan dengan menggunakan metode observasi, eksplorasi, dan eksperimental. Wujud karya berupa fotografi dokumeter mengarah ke jenis fotgrafi human interest yang membahas kehidupan para pekerja wanita pengelola tembakau, baik saat bekerja maupun sisi lain kehidupan mereka sehari-hari.Kata Kunci : pekerja wanita, tembakau, fotografi dokumenter
Teknik Penerjemahan Abstrak dalam Jurnal Fotografi Febriansyah Ignas Pradana
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.416 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i1.3036

Abstract

Teknik Penerjemahan Abstrak dalam Jurnal FotografiFebriansyah Ignas PradanaSekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan YogyakartaEmail: ignaspradana@gmail.com  AbstrakPada hakikatnya ketika seseorang menerjemahkan sebuah pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran maka ia telah menjadi seorang penerjemah. Teknik penerjemahan digunakan oleh penerjemah, baik lisan dan tulis, untuk memindahkan sebuah pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Pemilihan teknik penerjemahan berpengaruh terhadap keberhasilan penyampaian pesan dan gagasan. Penelitian ini mendeskripsikan (1) teknik penerjemahan yang digunakan oleh penulis dalam penulisan abstrak berbahasa Inggris dalam sebuah jurnal fotografi, dan (2) persentase teknik penerjemahan yang paling dominan digunakan. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat dalam abstrak berbahasa Inggris yang diterjemahkan dari abstrak berbahasa Indonesia. Data diperoleh dari jurnal fotografi nasional yaitu Jurnal Specta volume 2 no. 2 yang diterbitkan pada tahun 2018. Data dianalisis berdasarkan teori teknik penerjemahan yang dikemukakan Molina dan Albir (2002). Hasil menunjukkan bahwa penulis paling dominan menggunakan teknik penerjemahan literal dalam menerjemahkan abstrak berbahasa Inggris dalam jurnal fotografi. Hasil dari penelitian ini sangat erat dengan ideologi penerjemahan yang digunakan oleh penerjemah. Kata Kunci: Teknik Penerjemahan, Jurnal Fotografi, Specta, Ideologi, Penerjemahan.  

Page 4 of 12 | Total Record : 114