cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 114 Documents
SELF PORTRAIT TENTANG KEHILANGAN DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI Prasetya Yudha Dwi Sambodo; Kusrini Kusrini; Tanto Harthoko
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.201 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2556

Abstract

AbstrakMelalui foto, seseorang tidak hanya merekam secara mekanis, melainkan masih mempunyai ruang untuk menciptakan ungkapan personalnya. Penciptaan karya seni ini mengungkapkan realitas personal akan nilai di balik peristiwa kehilangan yang dialami. Self portrait (potret diri) di sini hadir sebagai pengantar atas narasi dari hal yang tersirat dalam sebuah peristiwa kehilangan yang sifatnya lebih ke non-fisik, seperti kehilangan peran, waktu, keseimbangan, dan lainnya. Usaha memvisualisasikan narasi tentang kehilangan melalui self portrait yang artistik tidak terlepas dari pemanfaatan teknik fotografi yang digunakan. Selain eksplorasi tubuh dan benda yang menjadi penanda utama, efek yang dihasilkan dari teknik fotografi seperti slow shutter speed, double exposure, open flash, zoom, reflection, flare, dan lainnya juga dimanfaatkan menjadi penanda dalam keseluruhan narasi visual tentang kehilangan yang dibangun. Hasil penciptaan karya seni ini memanfaatkan perbendaharaan bahasa foto dengan menciptakan suatu hubungan logis dari objek-objek foto yang masing-masing sudah dikaitkan dengan ide atau makna tertentu. Makna tidak hanya dihasilkan lewat pose, melainkan juga benda dan teknik yang digunakan. Beberapa teknik yang biasanya dihindari dalam pemotretan seperti overexposed, blur, shaking, dan out of focus digunakan untuk menciptakan bahasa foto yang unik dan segar. Kata kunci: self portrait, kehilangan, fotografi ekspresi AbstractSelf Portrait about Loss in Fine Art Photography. Through a photo, someone is not only recorded mechanically, but also still has space or room to create their personal expression. The result of creating this art revealed the value of personal reality behind the suffer from a loss occurence. Self portrait in this context comes as an introduction for narratives of thing that is implicit in an occurrence of loss which has non physical character, such as losing role, time, the balances, and so on. Visualizing the narratives of losing through artistic self portrait could not be separated from the use of techniques in photography. Beside the exploration of the body and the things that became a major marker, the resulting effect of the techniques of photography such as slow shutter speed, double exposure, open flash, zoom, reflection, and flare could also be used as a maker in overall visual narrative about losing that was summed up. The creation of this art applied the ‘language’ of photo by creating a logical relationship from each photo object of which was associated with certain idea or meaning. The meaning was not only generated through the pose, but also through the objects and techniques which were used. Some techniques in photography were avoided to be used such as overexposed, blur, shaking, and out of focus to create the language of photo which was unique and fresh.  Keywords: self portrait,  loss, fine art photography
EKSOTIKA SUKU MENTAWAI DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER Rindha Mita Purwaningsih; Pamungkas Wahyu Setiyanto; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.212 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2550

Abstract

AbstrakObjek penciptaan karya fotografi membahas eksotika kegiatan sehari-hari suku pedalaman Mentawai, Siberut Selatan. Penciptaan karya didasari oleh minimya informasi tentang keseharian masyarakat pedalaman dusun Buttui dan diciptakan karya ini, diharapkan mampu memberi gambaran dan informasi tentang kehidupan para suku pedalaman di Mentawai melalui fotografi dokumenter. Penciptaan karya fotografi ini berorientasi dengan eksotika kegiatan sehari-hari suku Mentawai sebagai dasar acuan proses penciptaan dengan metode observasi,eksplorasi, pemotretan. Karya foto dibuat dalam fotografi dokumenter, dengan mengambil peristiwa-peristiwa yang menarik lewat bidang jurnalistik. Suatu cara pandang baru dan inspiratif bagi yang melihat dan merasakan dapat membuka mata kita seutuhnya tentang lingkungan budaya di sekitar kita yang mulai terkikis oleh kerasnya kemajuan dan ketatnya perkembangan zaman. Kata kunci: eksotika, suku Mentawai, fotografi dokumenter     AbstractExotica of Mentawai Tribe in Documentary Photography.  This abstract discusses the daily exotica of object creation in the heart of Mentawai, South Siberut. This work, with a lack of source information, is based on the daily lives of rural people in Buttui village. It is created with the hopes of capturing and giving information about the tribe lives in rural Mentawai through documentary photography. This abstract is oriented in Mentawai tribe as a basis creation process using observation, exploration, and experimental methods. The photographs are made with documentary photography that captures enticing events through journalism. A new perspective and inspirationwill completely open people’s eyes, for those who see and feel, on the nowadays cultural environment which slowly eroded by the rough progress and tight developmental era.  Keywords: exotica, Mentawai tribe, documentary photography
ORIENTASI FOTOGRAFI PENGUNJUNG ANJUNGAN WISATA DI KAWASAN MANGUNAN: KAJIAN FUNGSI FOTO POTRET DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Pitri Ermawati
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1387.788 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2551

Abstract

Abstrak Penelitian ini bermaksud menjelaskan orientasi fotografi pengunjung yang berfoto di anjungan wisata kawasan Mangunan dengan objek penelitian berupa foto potret di media sosial Instagram. Menerapkan metode penelitian deskriptif-kualitatif, analisis kritis dilakukan dalam pembacaan foto-foto potret menggunakan telaah fungsi foto potret Soeprapto Soedjono, serta telaah aspek teknis-fisik fotografi potret yang dikemukakan oleh Famous Photographers School. Mengambil sampel berupa lima foto dari lima akun Instagram yang berlatar di lima anjungan wisata di kawasan Mangunan, hasil penelitian menunjukkan tiga fungsi foto potret yang diunggah oleh para pengunjung yang merupakan subjek foto sekaligus pemilik akun Instagram; yaitu fungsi personal, sosial, dan komersial. Dalam upaya mewujudkan foto potret yang sesuai dengan fungsi-fungsi tersebut, pengunjung tampak memperhitungkan aspek teknis-fisik fotografi potret berupa pencahayaan, pose, dan background. Adapun poperti, kurang mendapatkan perhatian dikarenakan tidak semua anjungan menyediakannya. Kata kunci: fotografi, anjungan, foto potret, Instagram   AbstractVisitors’ Photography Orientation of Scenery Stages in Mangunan Tourism Area: Study of The Functions of Portrait Photos in Social Media Instagram. This research explains the photography orientation of visitors who taking photograph of theirselves (portrait) on the scenary stages (selfie spots) in Mangunan tourism area, by studying their portraits in social media Instagram. This research allows the descriptive-qualitative method. It uses the study of the portrait  functions explained by Soeprapto Soedjono to read and to analise the portrait photos. It also studies the physical-technical aspect in portrait photography explained by Famous Photographers School applied by the visitors. There are five portrait photo samples from five Instagram accounts which setting are on scenery stages in Mangunan tourism area. This research conclusion shows three functions of the portrait photos uploaded by the visitors, either as the Instagram account owners and the subjects (sitters) of those photos: personal function, social function, and commercial function. In order to make her/ his portrait matches on the function desired, visitor seems to care about physical-technical aspects on portrait photography: lighting, pose, and background. Another element is property, which is the most ignorable element due to it’s rare availability on the spot.   Keywords: photography, scenary stage, portrait photo, Instagram
REPRESENTASI AROMA PARFUM DENGAN PENDEKATAN METAFORA DALAM FOTOGRAFI PRODUK Rassel Rassel; M. Kholid Arif Rozaq; M. Fajar Apriyanto
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.817 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2552

Abstract

Abstrak Terdapat banyak merek parfum yang beredar di pasaran. Hal tersebut tentu mempersulit konsumen untuk menentukan aroma yang cocok dengan keinginan dan kepribadiannya, karena pada umumnya konsumen tidak mengenal jenis bebauan yang menjadi bahan pembuatan parfum secara spesifik. Berdasarkan hal ini muncul gagasan untuk mencocokkan aroma parfum dengan beberapa kepribadian lalu merepresentasikan aroma parfum tersebut melalui media fotografi. Informasi tentang produk parfum yang telah dikumpulkan melalui observasi akan ditampilkan secara visual fotografi dengan menggunakan objek pendukung yang memiliki interpretasi secara metafora sedekat mungkin dengan aroma, bentuk botol kemasan, tujuan, dan inspirasi pembuatan parfum, atau kepribadian dalam color rosette test. Karya fotografi yang diciptakan merupakan karya fotografi produk yang pemotretannya dilakukan di dalam ruangan dengan menggunakan sumber pencahayaan berupa lampu flash dengan tambahan peralatan penunjang berupa softbox, lightbox, blackglass, dan color gel. Teknik fotografi yang diterapkan pada proses penciptaan karya meliputi teknik pencahayaan seperti hi-key dan low-key disertai penggunaan teknik high speed pada beberapa karya yang menggunakan objek pendukung yang bergerak. Karya tugas akhir fotografi ini diharapakan dapat membantu konsumen menginterpretasikan aroma parfum secara visual agar lebih mudah memilih produk parfum yang disukai sesuai dengan kepribadian yang dimiliki.Kata kunci: representasi, aroma parfum, fotografi produk, color rosette test, kepribadian   Abstract Representation of Parfum Aroma with Metafora Approach in Produt Photography. There are many brands of perfume circulating in the market, it certainly makes it difficult for consumers to determine the scent that matches the desires and personality because consumers generally do not recognize the type of smell that became the ingredient of perfume making specificly. Based on this came the idea to match the scent of perfume with some personality and then represent the fragrance of the perfume through the photography. Information about perfume products that have been collected through observation will be visually displayed photographically by using a support object that has metaphorically interpreted as close as possible to the fragrance, the shape of the packaging bottle, the purpose and inspiration of the perfume making, or the personality in the color rosette test. The work of photography created is the work of product photography that shoot indoors by using the flash lights as the light source with additional supporting equipment such as softbox, lightbox, blackglass, and color gel. Photography techniques applied to the process of creating works are photography lighting techniques such as hi-key and low-key and by the use of high speed techniques on some works that use moving support objects. This photography work is expected to help consumers interpret the perfume scent visually to help them choose the preferred perfume product in accordance with their personality. Keywords: representation, perfume's fragrance, product photography, color rosette test, personality  
JUKSTAPOSISI FOTOGRAFI DI NOVEL GRAFIS ‘THE PHOTOGRAPHER’ Adya Arsita
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.849 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2554

Abstract

AbstrakPenelitian ini hendak mengkaji fungsi-fungsi dokumenter dalam karya fotografi yang divisualisasikan berdampingan dengan gambar-gambar komik dalam sebuah novel grafis berjudul ‘The Photographer: Into War-Torn Afghanistan with Doctors without Borders’.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah nilai dokumenter karya foto bisa tetap diapresiasi layaknya foto dokumenter ataukah ada peralihan fungsi ketika dua jenis piktorial disandingkan bersamaan. Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisis adalah metode kualitatif yang menganggap bahwa setiap petunjuk adalah penting untuk dianalisis.  Kemudian potongan-potongan informasi yang didapat dikaji dengan pendekatan fotografi dokumenter. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam ranah ilmu kajian fotografi sekaligus kajian komik (comic studies). Dalam ranah fotografi, fotografi dokumenter akan makin ‘berbicara’ dan memaksimalkan fungsinya ketika terbantu dengan teks piktorial lain. Untuk ranah kajian komik, hadirnya citraan fotografi justru akan memperjelas pesan yang hendak disampaikan kepada khalayak melalui gambar-gambarnya. Kata kunci: jukstaposisi, fotografi, novel grafis, dokumenter    AbstractJuxtaposition of Photography in a Graphic Novel Titled ‘The Photographer’. This research studied the documentary function in photography works visualized side to side with the comic drawings in a graphic novel titled ‘The Photographer:Into War-Torn Afghanistan with Doctors without Borders’. The aim of this research was to find out whether the documentary photographs are still appreciated as they are, or there are any changes of function when those two pictorials are juxtaposed. The method employed in this research was qualitative method which considered that each clue was important to be analyzed.  Then, each of them would be studied using approaches from the view point of documentary photography.  The result of this research hopefully could give a contribution to the photography studies and comic studies. Photographs will ‘speak louder’ and will have their greatest value when supported by other kind of pictorials.  While in comic studies, the photographs will be able to send messages better through their drawings when juxtaposed with photographs. Keywords:  juxtaposition, photography, graphic novel, documentary
PAKU SEBAGAI REPRESENTASI DIRI DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI Tri Mukti Yuliana; Arti Wulandari; Syaifudin Syaifudin
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.288 KB) | DOI: 10.24821/specta.v2i2.2555

Abstract

AbstrakSebuah foto selain berfungsi untuk merekam realitas objektif juga dapat memberikan ruang berekspresi secara personal bagi fotografernya. Karya fotografi yang diciptakan di sini mengangkat persoalan diri dan direpresentasikan melalui objek paku bersama objek-objek lain yang mendukung narasi tentang diri. Eksistensi diri tentunya tidak lepas dengan lingkungan yang ditinggali. Manusia lahir dalam sebuah keluarga dan kemudian bertemu dan berinteraksi dengan berbagai macam lingkungan sosial. Narasi tentang diri dihadirkan secara tersirat dan mengangkat persoalan seperti fenomena lingkungan yang mempengaruhi terbentuknya diri. Visualisasi penciptaan karya fotografi ini menggunakan teknik penggabungan foto untuk menghasilkan karya sesuai dengan narasi yang dibangun. Selain itu, untuk memvisualisasikan representasi diri melalui objek paku, objek paku juga akan dieksplorasi dan diinteraksikan dengan objek-objek pendukung. Objek-objek tersebut belum tentu memiliki hubungan fungsi dalam dunia nyata. Narasi yang akan dibangun melalui objek paku ini ialah dengan mencari kode serta makna-makna simbolis objek sehingga hasil visual dalam foto menjadi beragam dan menarik.Kata kunci: paku, representasi diri, fotografi ekspresi, simbol   AbstractNail as Self Representation in Fine Art Photography. A photograph, aside of capturing reality, it can be used as a space to express photographer's feeling and his personal perspective about the world. Photographs created here were about self matters represented through nail alongside with another objects as the story of self. Self existence is always related with the place of someone’s lives. People are born in a family and interact with many social environments. These matters of self talks about social phenomenon that affect personal self development. The narations which already gathered were presented implicitly in the photos. These photographs' creation were visualized by combining several photos into one, creating surreal image. Besides, visualizing the idea was applied by exploring and interacting the nail with another objects which were considered relevant with the concept. These object sometimes had no functional relation in reality. The concept of narration here was built up from symbolic meaning of the objects so the visualization of the photographs could be various and became more interesting.Keywords: nail, representation of self, fine art photography, symbol
REPRESENTASI BUNGA DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI Galuh Paramithasari; Mahendaradewa Suminto; Zulsih Maryani
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.907 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1895

Abstract

Memotret tanpa menggunakan kamera bukan lagi sesuatu yang mustahil. Adanya alternatif lain untuk menciptakan sebuah karya seni tanpa menggunakan kamera merupakan sebuah transformasi dari ide lama. Sebelum fotografi berkembang, di zaman fotografi analog, memotret tanpa menggunakan kamera disebut dengan fotogram. Namun, di zaman fotografi digital memotret tanpa menggunakan kamera bisa saja diciptakan dengan menggunakan alat bernama scanner. Penciptaan karya fotografi ini sering disebut juga dengan scanography singkatan dari scanner photography atau dikenal juga dengan scanner-art. Kedua teknik ini menghasilkan sebuah karya seni tanpa menggunakan kamera, namun prinsip kerja fotografinya tetap menggunakan cahaya. Dalam penciptaan seni fotografi ini, scanography diperkenalkan sebagai media berekspresi yang baru dalam dunia fotografi. Visual yang dihasilkan dari teknik scanography memperlihatkan detail objek seperti fotografi makro sebagai wujud kedekatan antara objek dengan perasaan-perasaan yang bergejolak untuk disampaikan melalui sebuah karya. Perasaan-perasaan seperti  ketakutan, kebahagiaan, kesedihan, impian kemudian direpresentasikan oleh bunga. Objek bunga digunakan sebagai wujud identitas diri seniman sebagai seorang perempuan dengan perasaan-perasaan yang dialami dalam kehidupannya. Pemanfaatan objek di sekitar sebagai permainan tanda dan simbol yang dirasa tidak asing untuk digabungkan ke dalam sebuah karya memperkuat makna dan perasaan yang sedang dialaminya. Eksplorasi-eksplorasi yang dihasilkan juga tidak lepas dari permainan teknik fotografi dan komposisi fotografi untuk membentuk sebuah visual yang menarik.Eksplorasi untuk mengembangkan fotografi dengan pemanfaatan media scanner ternyata bisa berkembang dengan baik secara visual dan teknik, sehingga karya seni fotografi yang berbeda bisa diwujudkan.Kata kunci : representasi, bunga, fotografi ekspresi, scanography, scanner
POTRET PEREMPUAN DAYAK IBAN, KAYAN, DESA, DAN SUNGKUNG DI KALIMANTAN BARAT Rizqi -; Mahendradewa Suminto; Pitri Ermawati
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.495 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1897

Abstract

Penciptaan karya fotografi ini bermaksud merekam identitas kebudayaan subsuku Dayak yaitu Dayak Iban, Kayan, Desa, dan Sungkung khususnya pada perempuan-perempuan Dayak yang masih memiliki dan menjalankan tradisi leluhur. Tradisi-tradisi leluhur yang dijalankan para perempuan Dayak yaitu memanjangkan daun telinga, bertato, memakai gelang besi, menenun, membuat kerajinan manik-manik, dan menganyam. Foto potret ini memunculkan masing-masing karakter subsuku Dayak dengan aspek-aspek fotografi potret meliputi penataan pose, ekspresi, porsi subjek, komposisi, cahaya, properti pendukung, latar belakang, lokasi pemotretan, dan kostum yang digunakan. Karya fotografi yang dihasilkan berupa foto potret dalam ranah dokumenter yang dapat menyampaikan realita sosial. Karya foto potret ini, diharapkan menjadi suatu peninggalan yang berharga untuk bangsa yang dapat digunakan untuk kembali mengingat dan melihat awal dari keberadaan sekarang.Kata-kata kunci: potret, Dayak, Iban, Kayan, Desa, Sungkung, fotografi
CAPTAIN MARVEL: KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF TOKOH SUPERHERO Nur Amir Fauzi
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.358 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2957

Abstract

Captain Marvel: Gender Equality in the Perspective of Superhero.  Gender equality is something that can be a concern lately so it can be used as an issue in the creation of a work of art, because the ‘value’ of women is considered lower than men in various activities or daily activities. A big American movie studio, Marvel Studios, released a film with a female superhero named Captain Marvel. The emergence of the film made the writer want to examine about this superhero much deeper.  The method employed for this paper was deconstruction approach by linking it to the phenomenon occurring in the society.  Hopefully this article will strengthen the perspective of gender equality by studying the character of Captain Marvel through her portrayed character, sign, and color of her superhero costume. Keywords: Captain Marvel, gender equality, superhero, Marvel Studios, movie
PENGUNGKAPAN MAKNA INTRINSIK MELALUI TEORI IKONOGRAFI PADA FOTO ANAK ROHINGYA DI MEDIA REPUBLIKA ONLINE EDISI 17-23 SEPTEMBER 2017 Dessy Rahmawati; Pamungkas Wahyu Setiyanto; Irwandi Irwandi
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.891 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2835

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna intrinsik pada foto anak Rohingya di media Republika Online edisi 17-23 September 2017. Pengungkapan makna intrinsik dilakukan dengan teori ikonografi melalui tiga tahapan, yaitu pra-ikonografi, analisis ikonografi, dan interpretasi ikonologi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan melakukan penafsiran dan interpretasi data yang berupa foto. Subjek penelitian ini adalah foto anak Rohingya yang dimuat di media Republika Online edisi 17-23 September 2017. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur dan studi dokumen. Hasil dari penelitian menunjukkan foto anak Rohingya menggambarkan penderitaan yang dialami akibat kekerasan yang terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar. Dari sampel foto anak Rohingya menunjukkan adanyaancaman baru yang harus dihadapi oleh anak Rohingya setelah meninggalkan negara asal. Ancaman tersebut adalah pertama, kelaparan yang berdampak pada gizi buruk. Kedua, kamp pengungsian yang terendam banjir dan posisi tenda berdempetan yang berdampak pada anak tidak bisa bergerak aktif serta lumpuhnya aktivitas para penghuni. Ketiga, ketiadaan fasilitas untuk berlindung dari hujan yang berdampak pada kesehatan akibat suhu dingin air hujan yang berpotensi melemahkan daya tahan tubuh dan penyempitan pembuluh darah. Kata kunci: makna intrinsik, ikonografi, foto anak Rohingya   ABSTRACT  The Disclosure of Intrinsic Significance Through Iconography Theory in the Photographs of Rohingya Children in Republika Online on 17th to 23th September 2017 Edition.The purpose of this research is to describe the intrinsic significance in the photographs of Rohingya children which are uploaded in Republika Online on 17th to 23th September 2017 editions. The disclosure of intrinsic significance in the photographs will using the theory of iconography, which is through the three stages of the theory: pre-iconography, iconographic analysis and iconological interpretation. This is a qualitative research by doing the interpretation of the data with photographs form. The subjects of this research are children photos that were uploaded in Republika Online on 17th to 23th September 2017 editions. The data for the research are get from literature and document study. The result of the photographs study shows that Rohingya children are exposed to violence in the state of Rakhine, Myanmar. samples of Rohingya children photographs showing the new threats that must be faced by the child Rohingya after leaving the origin country. The threat is first, hunger have impact malnutrition. Secondly, the threat refugee camps which flooded and tend position which crowded have impact the children that they can’t move actively and occupants activity paralyzed. Third, the absence of facilities to protect from rain have impact on health due to cold temperatures of rain water that potentially weaken the body resistance and constriction of blood vessels.  Keywords: intrinsic significance, iconography, Rohingya children photographs  

Page 3 of 12 | Total Record : 114