cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
Metafora Panggung Teatrikal: Kritik Seni Ekspresivistik pada Tiga Ilustrasi Sampul Novel George Orwell Karya Wulang Sunu Ferdiansyah Ferdiansyah; Suwarno Wisetrotomo; Candra Krida Mustika; I Gede Arya Sucitra
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.18900

Abstract

Buku karya George Orwell kini merupakan salah satu buku dengan cetak ulang terbanyak di Indonesia. Salah satu yang menarik adalah beberapa bukunya yang diilustrasikan Wulang Sunu menjadi buku yang menyajikan visual yang sangat autentik. Berbeda dengan buku-buku lainnya, ketiga Buku George Orwell: “Animal Farm”, “1984”, dan “Down and out in Paris and London” disajikan dan divisualkan secara ekspresif melalui elemen visual yang menggambarkan situasi panggung pertunjukan. Penggunaan elemen visual pertunjukan sendiri seolah memberikan ruang dan tafsiran tersendiri tentang relasi antara metafora visualnya dengan konteks dalam bukunya. Penelitian ini menganalisis lebih jauh bagaimana relevansi antara metafora panggung pertunjukan dan konteks dari bukunya sehingga metafora tersebut menghasilkan keautentikan dan keunikan gagasan dari sang ilustrator dengan menggunakan pendekatan kritik seni ekspresivistik. Hasil dari penelitian menunjukkan pentingnya ilustrator Wulang Sunu menghadirkan keautentikan dan keunikan melaui metafora panggung dengan terkonsep, melalui itu karya ilustrasinya memiliki kedalaman gagasan, emosi dan keunikan. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan pendekatan kritik seni terhadap ilustrasi kontemporer, sekaligus menegaskan posisi ilustrator sebagai subjek yang sah dalam medan seni rupa terapan. Theatrical Stage Metaphor: Expressivist Art Criticism in Three Novel Cover Illustrations of George Orwell by Wulang Sunu ABSTRACT George Orwell's book is now one of the most reprinted books in Indonesia. One of the interesting things is that some of his books illustrated by Wulang Sunu are books that present very authentic visuals. Unlike other books, George Orwell's 3 books: "Animal Farm", "1984", and "Down and out in Paris and London" are presented and visualized expressively through visual elements that depict the stage situation. The use of visual entertainment elements itself seems to provide its own space and interpretation of the relationship between his visual metaphor and the context in his book. This study further analyzes how the relevance between the stage metaphor and the context of his book so that the metaphor produces authenticity and uniqueness of the illustrator's ideas using an expressionist art criticism approach. The results of the study show the importance of illustrator Wulang Sunu presenting authenticity and uniqueness through a conceptual stage metaphor, through which his illustrations have depth of ideas, emotions and are unique. This study is expected to broaden the horizons of the art criticism approach to contemporary illustration, while at the same time emphasizing the position of the illustrator as a legitimate subject in the field of applied Art.
Membongkar Gejolak Batin Van Gogh: Estetika Lukisan Starry Night dalam Perspektif Ekspresivisme Amalia Haryani; Helmin Ramadan; Kheisya Kirpalani
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.18348

Abstract

Ketidaktahuan publik akan nilai emosi dalam seni sering kali memicu salah penilaian terhadap karya hasil pergolakan batin. Masalah krusial ini dapat dijawab melalui analisis The Starry Night karya Vincent van Gogh. Kajian ini memosisikan teori ekspresivisme Benedetto Croce sebagai fondasi utama untuk memahami citra artistik sebagai ekspresi intuisi batin sebelum mewujud dalam bentuk fisik, serta mengintegrasikan konsep ketulusan emosional Leo Tolstoy yang menekankan bahwa kekuatan estetik bergantung pada kejujuran transmisi perasaan seniman kepada penikmatnya. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif-analitik, penelitian menerapkan analisis visual yang komprehensif terhadap elemen rupa spesifik seperti gelombang langit yang berputar, kontras warna ekstrem, dan tekstur impasto, yang kemudian diperkaya melalui wawancara reflektif bersama seniman dan akademisi guna memperluas konteks interpretatif. Fokus analisis diarahkan pada cara struktur visual bekerja sebagai medium penyaluran emosi dan pembentuk pengalaman estetis. Hasil kajian menunjukkan bahwa The Starry Night merepresentasikan keseimbangan dinamis antara keteraturan komposisi dan luapan emosional yang intens, sekaligus menandai transisi dari penderitaan pribadi menuju pencarian makna spiritual. Dengan demikian, nilai estetika karya tidak hanya berakar pada keindahan bentuk semata, tetapi juga pada kedalaman pengalaman batin yang diolah menjadi ungkapan visual universal sehingga mampu menjembatani penderitaan manusia dengan keindahan yang lahir dari penghayatan emosional yang tulus. Uncovering Van Gogh's Inner Turmoil: The Aesthetics of Starry Night from the Perspective of Expressionist Theory ABSTRACT Misunderstanding emotion as beauty causes people to misinterpret an artist's inner turmoil. This crucial issue can be addressed through an analysis of Vincent van Gogh's The Starry Night. This study grounds its theoretical framework in Benedetto Croce’s expressivism, which views artistic images as expressions of inner intuition before manifesting in physical form, and integrates Leo Tolstoy’s concept of emotional sincerity, which emphasizes that aesthetic power relies on the honest transmission of the artist's feelings to the viewer. Utilizing a qualitative descriptive-analytic approach, the research applies a comprehensive visual analysis of specific formal elements such as the swirling sky, extreme color contrasts, and impasto texture, further enriched by reflective interviews with artists and academics to broaden the interpretive context. The analysis focuses on visual method structures function as a medium for emotional channeling and aesthetic formation. The results indicate that The Starry Night represents a dynamic balance between compositional order and intense emotional overflow, marking a transition from personal suffering toward a search for spiritual meaning. The conclusion asserts that the aesthetic value of the work is rooted not merely in the beauty of form but in the depth of inner experience processed into a universal visual expression, thereby bridging human suffering with beauty born from sincere emotional appreciation.
Kegiatan Illegal Logging di Kawasan Hutan Lindung sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis Pop Surealis Ervinia Cahya; Triyono Widodo; Abdul Rahman Prasetyo
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.19786

Abstract

Kegiatan illegal logging tiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan tanpa adanya solusi untuk menangani dan dampaknya bisa membawa bencana keseimbangan ekosistem yang rusak. Berdasarkan permasalahan latar belakang tersebut penulis terdorong untuk memvisualisasikan dalam karya illegal logging sebagai ide Penciptaan karya Seni Lukis. Proses pembuatan karya dibuat dengan tema kerusakan lingkungan tentang illegal logging, hal ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis, dari hasil pengamatan dan pengumpulan referensi mengenai isu kerusakan lingkungan akibat illegal logging. Tujuan dibuat karya seni lukis ini sebagai media interaksi dengan masyarakat melalui karya seni lukis. Metode yang digunakan yaitu metode dari L.H. Chapman terdiri dari tiga tahap yaitu, tahap menemukan gagasan, menyempurnakan, dan visualisasi. Penciptaan karya seni lukis ini bertujuan agar meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kepedulian terhadap lingkungan. Hasil dari penelitian ini menghasilkan enam karya lukis berobjek tentang kegiatan illegal logging yang dilakukan tanpa izin dan berdampak buruk pada ekosistem lingkungan sekitar. Keenam karya tersebut berjudul berburu pohon, Gone, Nonton TV, Hope, Invasi, Puppet Show. Illegal Logging Activities in Protected Forest Areas as an Idea for the Creation of Surreal Pop Paintings ABSTRACT Illegal logging activities each year experience a significant increase without any solution to deal with and the impact can bring disaster to the balance of a damaged ecosystem. Based on these background problems, the author is motivated to visualize illegal logging as an idea for the creation of paintings. The process of making the work is made with the theme of environmental damage regarding illegal logging, this is based on the author's personal experience, from observations and collection of references regarding the issue of environmental damage due to illegal logging. The purpose of making this painting is as a medium for interaction with the public through painting. The method used is the method of L.H. Chapman consists of three stages, namely the stage of finding ideas, perfecting, and visualizing. The creation of this painting aims to increase public awareness about environmental care. The results of this study resulted in six paintings with the object of illegal logging activities carried out without permits and having a negative impact on the surrounding environmental ecosystem. The six works are entitled Tree Hunt, Gone, Watch TV, Hope, Invasion, Puppet Show.
Hubungan Persepsi Pitch Musikal dan Attention State dengan Rekognisi Emosi atas Prosodi Indra Kusuma Wardani; Ahmad Insanu Firmansyah; Lourentia Audreynita Osella Saputra; Josephine Christy Putri Heryanda
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.19957

Abstract

Kemampuan merekognisi emosi dalam komunikasi diyakini menjadi salah satu hal esensial yang berpotensi menghasilkan pola komunikasi yang lebih konstruktif dan empatik. Dalam hal ini prosodi, yakni melodi dan irama ujaran, menjadi salah satu elemen bahasa yang memungkinkan individu memahami emosi kalimat di luar urutan sintaksisnya. Penelitian ini menguji persepsi pitch musikal bersamaan dengan kondisi atensi sebagai prediktor atas kemampuan merekognisi emosi pada prosodi. Studi dilakukan pada 33 mahasiswa dengan menggunakan alat ukur berupa MBEA (Montreal Battery Evaluation of Amusia), Emotion Prosody Task, dan pengukuran atensi menggunakan piranti berbasis EEG, NeuroSky. Melalui analisis regresi berganda ditemukan bahwa kedua variabel prediktor tidak berhubungan secara signifikan dengan variabel outcome dan model regresi yang dihasilkan hanya mampu menjelaskan 2% variabilitas variabel outcome. The Relationship of Musical Pitch Perception and Attention State to Emotional Prosody Recognition ABSTRACT The ability to recognize emotions in communication is considered an essential factor that may contribute to more constructive and empathetic communication patterns. In this context, prosody, namely the melody and rhythm of speech, serves as a linguistic element that enables individuals to understand the emotional meaning of utterances beyond their syntactic structure. This study examined musical pitch perception together with attentional state as predictors of emotional prosody recognition ability. The study was conducted on 33 university students using the Montreal Battery Evaluation of Amusia (MBEA), an Emotional Prosody Task, and EEG-based attention measurement with a NeuroSky device. Multiple regression analysis revealed that neither predictor variable was significantly associated with the outcome variable, and the resulting model accounted for only 2% of the outcome's variability.
Transformasi Sosial Masyarakat Melalui Kegiatan Musik Tradisi Paguyuban Ertero Nada Kalakijo Yogyakarta Lutfia Okta Riwayati; Tika Puspita Sari; Ayu Sarah Yanty Pasaribu
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.17567

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses transformasi sosial melalui aktivitas kesenian tradisional di Kalakijo, mengidentifikasi faktor pendukung terjadinya transformasi tersebut, serta menganalisis dampak sosial dari keterlibatan masyarakat dalam kegiatan seni tradisi. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi dan sosiologi musik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Paguyuban Musik Klenting Ertero Nada mendorong partisipasi aktif masyarakat lintas usia dalam kegiatan kesenian, meningkatkan kesadaran budaya lokal, serta membuka peluang ekonomi melalui sektor pariwisata. Transformasi sosial yang terjadi meliputi perubahan peran sosial individu, pola interaksi antarwarga, serta terbentuknya identitas komunitas yang lebih kohesif. Temuan penelitian ini diharapkan memberikan pemahaman bahwa musik tradisi dapat menjadi medium efektif dalam proses perubahan sosial berkelanjutan di komunitas desa wisata. Community Social Transformation through Traditional Music Activities: “The Ertero Nada” Association in Kalakijo, Yogyakarta ABSTRACT This study aims to examine the process of social transformation through traditional artistic activities in Kalakijo, identify the supporting factors that enable such transformation, and analyze the social impact of community involvement in traditional art practices. The research employs a descriptive qualitative method with an ethnographic and sociology of music approach. Data were collected through in‑depth interviews, participatory observation, and documentation. The results indicate that the presence of the Paguyuban Musik Klenting Ertero Nada has encouraged active participation of community members across different age groups in artistic activities, enhanced local cultural awareness, and opened up economic opportunities through the tourism sector. The social transformation observed includes changes in individual social roles, patterns of interaction among residents, and the formation of a more cohesive community identity. This study’s findings are expected to contribute to the understanding that traditional music can serve as an effective medium for sustainable social change in village tourism communities.
Penciptaan Tari Baputa Mangko Ka Tagak: Representasi Nilai Permainan Gasiang Minangkabau Fitriani Fitriani
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.19184

Abstract

Penelitian ini bertujuan menciptakan karya tari Baputa Mangko Ka Tagak yang terinspirasi dari permainan tradisional Minangkabau, gasiang (gasing), sebagai representasi nilai kebersamaan, kekuatan, dan keseimbangan. Penelitian ini berangkat dari kesenjangan kajian yang masih menempatkan permainan tradisional sebatas objek etnografis dan belum banyak dieksplorasi sebagai basis metodologis dalam kerangka practice-based research. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian penciptaan (practice as research) melalui tahapan eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Data diperoleh melalui observasi permainan gasiang, wawancara dengan pelaku tradisi, dokumentasi, serta refleksi praktik koreografis. Analisis dilakukan secara tematik dan estetis untuk mengidentifikasi transformasi nilai budaya ke dalam struktur gerak dan dramaturgi. Hasil menunjukkan bahwa simbolisme gerak putaran, penggunaan kain panjang sebagai representasi tali, serta konfigurasi kelompok penari secara efektif merepresentasikan nilai kebersamaan, kekuatan, dan keseimbangan. Penelitian ini berkontribusi secara metodologis dalam penguatan praktik penelitian penciptaan tari berbasis tradisi serta secara kultural dalam revitalisasi permainan tradisional Minangkabau melalui medium pertunjukan. Creation of the Baputa Mangko Ka Tagak Dance: Representation of the Values of the Gasiang Minangkabau Game ABSTRACT This study aims to create a dance work entitled Baputa Mangko Ka Tagak, inspired by the Minangkabau traditional game gasiang (spinning top), representing the values of togetherness, strength, and balance. The research addresses the gap in previous studies that mainly positioned traditional games as ethnographic objects rather than as methodological foundations within a practice-based research framework. Employing practice-as-research methodology, the study involved stages of exploration, improvisation, and composition. Data was collected through observation, interviews with tradition bearers, documentation, and choreographic reflective practice. The analysis was conducted thematically and aesthetically to examine the transformation of cultural values into movement structures and dramaturgy. The findings indicate that circular movement symbolism, the use of a long cloth as a rope representation, and group formations effectively embody the values of togetherness, strength, and balance. This study contributes methodologically to dance creation research grounded in tradition and culturally to the revitalization of Minangkabau traditional games within contemporary performance practice.