cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
historis.ummat@gmail.com
Editorial Address
http://journal.ummat.ac.id/index.php/historis
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah
ISSN : 26224763     EISSN : 26141167     DOI : https://doi.org/10.31764/historis
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Historis merupakan jurnal yang memuat naskah atau hasil penelitian di bidang kependidikan khususnya sejarah yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Mataram dengan ISSN 2549-7332 (Print) dan ISSN 2614-1167 (Online). Terbit pertama kali Juni 2017. Adapun ruang lingkup Jurnal Historis berupa hasil penelitian pendidikan & pengembangan kependidikan di bidang sejarah, sosial, sosiologi, budaya, adat istiadat, permainan rakyat, lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang sejarah dan sosial dalam pengembangan pemuda, remaja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Artikel yang masuk ke meja tim redaksi akan melalui proses seleksi mitra bestari/editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
KRITIK ETOS, PANDANGAN DUNIA, DAN SIMBOL-SIMBOL SAKRAL TERHADAP PANDANGAN CLIFFORD GEERTZ Fatia Inast Tsuroya
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.3606

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas Etos, Pandangan Dunia, dan  simbol-simbol Sakral dalam pandangan Clifford Geertz dengan menggunakan metode Kualitatif deskriptif dan pendekatan intepretatif. Kajian tentang pemikiran Geertz ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan tentang bagaimana Clifford Geertz melihat Etos, Pandangan Dunia dan simbol-simbol yang dipunyai oleh manusia terhadap suatu golongan sehingga menamakannya sebagai simbol-simbol suci yang bersifat normatif serta mempunyai kekuatan yang besar dalam pelaksanaannya. Maka dapat diketahui bahwa  hal itu disebabkan oleh simbol-simbol suci yang bersumber pada etos dan pandangan hidup  merupakan dua unsur paling hakiki bagi eksistensi manusia dan juga karena simbol-simbol suci ini tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia sehari-hari, sebagaimana Geertz menegaskan bahwa agama semata-mata bukanlah sebuah metafisik. Meskipun Geertz adalah seorang ahli antopolog akan tetapi menurut Asad penelitiannya belumlah kompleks karena dari definisi tersebut Geertz hanya menggambarkan bagaimana simbol-simbol suci membentuk pengetahuan dan sikap manusia terhadap hidup. Geertz belum menampakkan bagaimana pengertian simbol-simbol suci yang telah dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman manusia dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu memformulasikan konsepsi-konsepsi mengenai suatu hukum yang berlaku dilingkungan masyarakat sangatlah penting.Abstract: This article discusses the Ethos, WorldView, and Sacred symbols in Clifford Geertz's view using descriptive Qualitative methods and interpretive approaches. This study of Geertz's thinking was conducted to describe how Clifford Geertz saw the Ethos, WorldView, and symbols that man had of a group, thus naming them as normative sacred symbols and having great power in their execution. So it can be known that it is caused by sacred symbols derived from the ethos and view of life are two of the most intrinsic elements for human existence and also because these sacred symbols can not be released in everyday human life, as Geertz asserts that religion is not merely metaphysical. Although Geertz is an anthologist, according to Asad his research has not been complex because of this definition Geertz only describes how sacred symbols shape human knowledge and attitudes towards life. Geertz has not yet revealed how the understanding of sacred symbols has been influenced by human experiences in real life. Therefore formulating conceptions of a law that applies in the community is very important.
PRODUCTIVE READING ACTIVITY DALAM MEMPELAJARAI SOSIOLOGI DAN LINGUISTIK Caltira Rosiana
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.3423

Abstract

Abstrak: Productive  Reading Activity yang di desain  dalam Penelitian Tindakan Kelas Kolaborasi merupakan revolusi pembelajaran Bahasa Inggris dengan mengkombinasikan seluruh skill pembelajaran Bahasa Inggris, yakni berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. Hal ini merupakan menjawab danmengarahkan tantangan dunia pendidikan, agar dapat menstimul proses berfikir kritis mahasiswa melalui serangkaian proses pembelajaran berdasarkan pada Higher Thinking Order Skill (HOTS). Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah  (1) Pengurangan  ketidak efektifan membaca buku saintifik yang dilakukan oleh mahasiswa dalam proses pembelajaran, dan mengubah pemikiran mahasiswa bahwa membaca adalah kegiatan produktif, bukan receptif, (2) Stimulus yang diarahkan pada mahasiswa tidak hanya berfikir kritis tetapi juga membuat mahasisiwa lebih aktif dan kreatif, (3) Productive Reading Activity tidak hanya dapat diaplikasikan oleh dosen dalam subjek pembelajaran sosiologi tetapi seluruh cabang linguistik lainnya.Abstract: Productive Reading Activity designed in Collaborative Class Action Research is a revolution in English learning by combining all English learning skills, namely speaking, listening, reading, and writing. This is to answer and direct the challenges of education, to be able to stimulate the critical thinking process of students through a series of learning processes based on higher thinking order skills (HOTS). The findings resulting from this study are (1) Reducing the ineffectiveness of reading scientific books carried out by students in the learning process, and changing students' thinking that reading is a productive activity, not receptive, (2) Stimulus directed at students not only critical thinking but also making students more active and creative, (3) Productive Reading Activity can not only be applied by lecturers in sociology learning subjects but all other linguistic branches.
MAKNA SIMBOLIS GUTI FU DI DESA BHERAMARI KECAMATAN NANGAPANDA KABUPATEN ENDE Rero, Dentiana; Kusi, Josef
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.5101

Abstract

Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini adalah tentang makna simbolis dari upacara Guti fu bagi masyarakat Nangakeo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna simbolis dari upacara Guti fu bagi masyarakat Nangakeo. Permasalahan ini diteliti dengan menggunakan teori interaksi simbolik yang digagaskan oleh Stryker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yakni pengumpulan data, reduksi data, pemaparan data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebudayaan potong rambut (Guti fu) yang harus dilaksanakan setiap keluarga baru yang dikarunia keturunan namun bagi anak bayi pertama dalam satu keluarga sebagai tanda simbolis untuk  melindungi anak dari pengaruh dunia luar sepreti dari aspek pergaulan, mentalitas, karakter, kesehatan dan lain-lain. Dan adapun makna yang terkandung dalam upacara Guti fu yaitu makna religius, makna sosial, dan makna pelestarian. Untuk melaksanakan upacara yang berkaitan dengan budaya guti fu di butuhkan perlengkapan yang memiliki makna khusus, agar anak bayi tidak mengalami hambatan-hambatan untuk kelancaran upacara guti fu, karena upacara ini adalah salah satu wujud kepercayaan yang diturunkan secara turun-temurun. Dalam hal ini upacara guti fu menjadi salah satu tradisi kebudayaan adat istiadat masyarakat Nangakeo yang harus laksanakan dalam keluarga.Abstract: The problem in this study is about the symbolic meaning of the Guti fu ceremony for the Nangakeo people. The purpose of this research is to find out the symbolic meaning of the Guti fu ceremony for the Nangakeo people. This problem was examined using the theory of symbolic interaction initiated by Stryker. The method used in this study is the qualitative method. With a qualitative descriptive approach. Data collection techniques are observation, interview, and documentation. While data analysis techniques are data collection, data reduction, data exposure, conclusion drawing, or verification. The results of this study showed that the culture of haircuts (Guti fu) must be implemented in every new family that is blessed with offspring but for the first baby in one family as a symbolic sign to protect the child from the influence of the outside world as a result of the aspects of the association, mentality, character, health, and others. And the meaning contained in the ceremony Guti fu is religious, social meaning, and the meaning of preservation. To carry out the ceremony related to guti fu culture in need of equipment that has a special meaning, so that the baby does not experience obstacles to the smoothness of the ceremony guti fu, because this ceremony is one form of belief that is passed down through generations. In this case, the guti fu ceremony became one of the traditional cultural traditions of nangakeo people that must be carried out in the family.
KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS: BERDAGANG DAN MENYEBARKAN AGAMA KATOLIK DI NUSA TENGGARA TIMUR Samingan Samingan; Yosef Tomi Roe
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.4441

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedatangan bangsa Portugis di Nusa Tenggara Timur dalam berdagang dan menyebarkan agama Katolik.  Metode digunakan penelitian yaitu metode sejarah (historical method). Adapun langkah-langkah metode sejarah, yaitu mengumpulkan sumber (heuristik), kritik sumber atau verifikasi, interpretasi, historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini, yaitu kedatangan bangsa Portugis ke Nusa Tenggara Timur tidak terlepas dari pengaruh perdagangan rempah yang menjadi daya minat tinggi pasaran Eropa. Produk kayu Cendana merupakan barang unggulan yang memiliki daya beli tinggi di Eropa. Berbagai setrategi dan daya pikat hingga akhirnya Portugis dapat menguasai perdagangan kayu Cendana bahkan sampai membuat pos pertahanan di Nusa Tenggara Timur. Selain mencari rempah produk kayu Cendana Bangsa Portugis juga memiliki tujuan yaitu menyebarkan agama Katolik. Wilayah-wilayah yang menjadi bagian kekusaan perdagangan Portugis di Nusa Tenggara Timur merupakan tujuan utama misionaris.
RESPON MAHASISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM (SPEI) DI STEI HAMFARA YOGYAKARTA Utomo, Yuana Tri; Marianti, Dina Juni
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.5324

Abstract

Abstrak: Peneliti mendeskripsikan bagaimana respon mahasiswa terhadap materi pembelajaran Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (SPEI) di kelas apakah mudah, sedang atau sulit dalam memahami. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta angkatan 2019 yang mengikuti matakuliah SPEI. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana respon pembelajaran dan meningkatkan profesionalitas pembelajaran di kelas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis data primer dan sekunder. Data primer menggunakan pertanyaan terbuka dengan teknik pengambilan sample judgment purposive sampling, sementara data sekunder dengan kajian literatur. Hasilnya rata-rata mahasiswa yang mudah memahami materi di kelas 71.405%, sedang 16.65% dan sulit 11.93% dengan sebagian besar respon memiliki kendala jaringan internet. Informasi terdahulu merupakan faktor utama dalam memahami pembelajaran, dan fasilitas sudah baik. Rekomendasinya yaitu dengan melakukan pengujian terhadap materi pra kelas untuk mengukur informasi terdahulu mahasiswa. Penelitian ini berkontribusi untuk meningkatkan keterampilan profesionalitas dan kualitas pembelajaran.Abstract:  The researcher describes how the student response to the History of Islamic Economic Thought (SPEI) learning material in the classroom is whether it is easy, medium or difficult to understand. The study was conducted on 2019th batch of STEI Hamfara Yogyakarta students who took the SPEI course. The aim is to find out how the learning responses and improve the professionalism of learning in the classroom. This study uses a qualitative descriptive method by analyzing primary and secondary data. The primary data used open-ended questions with a judgmental purposive sampling technique, while the secondary data used a literature review. The result is that the average student who easily understands the material in class is 71.405%, moderate 16.65% and difficult 11.93% with most of the responses having internet network problems. Prior information is a major factor in understanding learning, and the facilities are good. The recommendation is to test the pre-class material to measure the students' previous information. This research contributes to improving professional skills and learning quality.
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL PURPOSIVE DAN SNOWBALL SAMPLING Ika Lenaini
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.4075

Abstract

Dalam penelitian kualitatif, komponen yang sangat berarti salah satunya merupakan pemilihan dari responden yang hendak digunakan dalam riset. Semacam halnya dalam riset kuantitatif, dalam riset kualitatif butuh terdapatnya tehnik sampling. Biasanya periset kualitatif kerap memakai tehnik sampling purposif buat memastikan responden yang hendak digunakan dalam riset. Meski kita ketahui kalau masih banyak tipe tehnik samping yang bisa digunakan dalam riset kualitatif.Fokus ulasan pada makalah ini ialah, metode pengembangan sample purposive serta snowball sampling. Dimana, Sampling Purposif( Purposive sampling) ialah tata cara yang di jalani oleh periset dalam memastikan kriteria menimpa responden mana saja yang bisa diseleksi sebagai sampel. Sebaliknya snowball sampling, ialah Metode sampling dicoba dengan metode memakai data ilustrasi awal buat mengenali ilustrasi yang lain yang penuhi kriteria
MAKNA SIMBOLIS GUTI FU DI DESA BHERAMARI KECAMATAN NANGAPANDA KABUPATEN ENDE Dentiana Rero; Josef Kusi
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.4754

Abstract

Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini adalah tentang makna simbolis dari upacara Guti fu bagi masyarakat Nangakeo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna simbolis dari upacara Guti fu bagi masyarakat Nangakeo. Permasalahan ini diteliti dengan menggunakan teori interaksi simbolik yang digagaskan oleh Stryker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yakni pengumpulan data, reduksi data, pemaparan data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebudayaan potong rambut (Guti fu) yang harus dilaksanakan setiap keluarga baru yang dikarunia keturunan namun bagi anak bayi pertama dalam satu keluarga sebagai tanda simbolis untuk  melindungi anak dari pengaruh dunia luar sepreti dari aspek pergaulan, mentalitas, karakter, kesehatan dan lain-lain. Dan adapun makna yang terkandung dalam upacara Guti fu yaitu makna religius, makna sosial, dan makna pelestarian. Untuk melaksanakan upacara yang berkaitan dengan budaya guti fu di butuhkan perlengkapan yang memiliki makna khusus, agar anak bayi tidak mengalami hambatan-hambatan untuk kelancaran upacara guti fu, karena upacara ini adalah salah satu wujud kepercayaan yang diturunkan secara turun-temurun. Dalam hal ini upacara guti fu menjadi salah satu tradisi kebudayaan adat istiadat masyarakat Nangakeo yang harus laksanakan dalam keluarga.Abstract: The problem in this study is about the symbolic meaning of the Guti fu ceremony for the Nangakeo people. The purpose of this research is to find out the symbolic meaning of the Guti fu ceremony for the Nangakeo people. This problem was examined using the theory of symbolic interaction initiated by Stryker. The method used in this study is the qualitative method. With a qualitative descriptive approach. Data collection techniques are observation, interview, and documentation. While data analysis techniques are data collection, data reduction, data exposure, conclusion drawing, or verification. The results of this study showed that the culture of haircuts (Guti fu) must be implemented in every new family that is blessed with offspring but for the first baby in one family as a symbolic sign to protect the child from the influence of the outside world as a result of the aspects of the association, mentality, character, health, and others. And the meaning contained in the ceremony Guti fu is religious, social meaning, and the meaning of preservation. To carry out the ceremony related to guti fu culture in need of equipment that has a special meaning, so that the baby does not experience obstacles to the smoothness of the ceremony guti fu, because this ceremony is one form of belief that is passed down through generations. In this case, the guti fu ceremony became one of the traditional cultural traditions of nangakeo people that must be carried out in the family.
MASYARAKAT ARAB DAN AKULTURASI BUDAYA SASAK DI KOTA MATARAM (TINJAUAN HISTORIS) Ilmiawan, Ilmiawan; Sriwahyuni, Dian Eka Mayasari; Afandi, Ahmad; Iskandar, Iskandar; Rosada, Rosada
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.5005

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Masyarakat Arab dan Akulturasi Budaya Sasak Di Kota Mataram (Suatu Tinjauan Historis). Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Arab masuk di tanah gumi sasak sekitar abad 1545 semenjak islam masuk dan dilanjutkan oleh para ulama yang datang dari Hadrami Yaman Selatan sekitar abad 18-20-an bahkan sampai sekarang telah membentuk sebuah kelompok sosial yang dapat dipastikan telah terjadi interaksi dan proses saling mempengaruhi antara Masyarakat Arab dengan keturunannya dan masyarakat gumi sasak. Keterikatan itu juga dapat kita lihat pada komunitas masyarak arab yang mendiami Perkampungan Arab Kota Tua Ampenan Mataram. Masyarakat arab masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan Islam dengan tetap mempertahankan musik gambus untuk memeriahkan acara perkawinan, sehingga masyarakat arab belum dapat sepenuhnya berbaur dengan masyarakat setempat, akan tetapi masyarakat Arab selalu menghadiri setiap ada undangan acara perkawinan masyarakat Sasak. Hubungan masyarakat Arab dan Sasak dalam interaksi sosial menghasilkan pola hubungan kebiasaan baru yang saling mempengaruhi sehingga terciptanya kebiasaan dan kebudayaan baru yang saling diadopsi antara masyarakat Arab dan masyarakat Sasak. Sehingga terjadilah proses asimilasi dan akulturasi dari interaksi sosial antara masyarakat Arab sebagai pendatang dan masyarakat Sasak sebagai pribumi.Abstract: This study aims to describe the Arab Community and Cultural Acculturation of Sasak In Mataram City (A Historical Review). The research method used in this study is a descriptive qualitative research method with a historical method approach. The results showed that Arabs entered the land of gumi sasak around the 1545 century since Islam entered and continued by scholars who came from Hadrami South Yemen around the 18th-20th century even today has formed a social group that can be ascertained there has been interaction and mutual influence between Arabs and their descendants and the gumi sasak community. The attachment can also be seen in the Arab community that inhabits the Old City Arab Village of Ampenan Mataram. Arab society still upholds Islamic cultural values while maintaining gambus music to enliven the wedding ceremony, so the Arab community has not been able to fully blend in with the local community, but the Arab community always attends every invitation to the Sasak wedding ceremony. Arab and Sasak public relations in social interactions resulted in a pattern of new habitual relationships that influenced each other to create new habits and cultures that were mutually adopted between Arabs and Sasak peoples. Thus there was a process of assimilation and acculturation of social interaction between Arabs as immigrants and Sasak people as natives.
RESPON MAHASISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM (SPEI) DI STEI HAMFARA YOGYAKARTA Yuana Tri Utomo; Dina Juni Marianti
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.6851

Abstract

Abstrak: Peneliti mendeskripsikan bagaimana respon mahasiswa terhadap materi pembelajaran Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (SPEI) di kelas apakah mudah, sedang atau sulit dalam memahami. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta angkatan 2019 yang mengikuti matakuliah SPEI. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana respon pembelajaran dan meningkatkan profesionalitas pembelajaran di kelas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis data primer dan sekunder. Data primer menggunakan pertanyaan terbuka dengan teknik pengambilan sample judgment purposive sampling, sementara data sekunder dengan kajian literatur. Hasilnya rata-rata mahasiswa yang mudah memahami materi di kelas 71.405%, sedang 16.65% dan sulit 11.93% dengan sebagian besar respon memiliki kendala jaringan internet. Informasi terdahulu merupakan faktor utama dalam memahami pembelajaran, dan fasilitas sudah baik. Rekomendasinya yaitu dengan melakukan pengujian terhadap materi pra kelas untuk mengukur informasi terdahulu mahasiswa. Penelitian ini berkontribusi untuk meningkatkan keterampilan profesionalitas dan kualitas pembelajaran.Abstract:  The researcher describes how the student response to the History of Islamic Economic Thought (SPEI) learning material in the classroom is whether it is easy, medium or difficult to understand. The study was conducted on 2019th batch of STEI Hamfara Yogyakarta students who took the SPEI course. The aim is to find out how the learning responses and improve the professionalism of learning in the classroom. This study uses a qualitative descriptive method by analyzing primary and secondary data. The primary data used open-ended questions with a judgmental purposive sampling technique, while the secondary data used a literature review. The result is that the average student who easily understands the material in class is 71.405%, moderate 16.65% and difficult 11.93% with most of the responses having internet network problems. Prior information is a major factor in understanding learning, and the facilities are good. The recommendation is to test the pre-class material to measure the students' previous information. This research contributes to improving professional skills and learning quality.
KOLU LANU SEBAGAI UPACARA TOLAK BALA PADA MASYARAKAT ADAT JAWAMAGHI DI DESA SOBO KECAMATAN GOLEWA BARAT KABUPATEN NGADA Maria Goretty Djandon
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.6818

Abstract

Abstrak: Pulau Flores memiliki berbagai upacara adat, khususnya pada masyarakat adat Jawamaghi di Desa Soba memiliki berbagai upacara untuk tolak bala. Salah satu upacara tolak bala pada masyarakat adat Jawamaghi adalah upacara Kolu Lanu. Upacara kolu lanu dilakukan oleh pasangan suami atau istri yang pernah menikah dan mau menikah lagi. Upacara ini dilakukan dengan tujuan agar anak-anak dari hasil perkawinan yang pertama tidak kena tula yaitu gena lanu atau kena lanu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan upacara kolu lanu, dan makna apa saja yang terkandung dalam upacara kolu lanu?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, pemaparan data,dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitiaan menujukkan bahwa upacara kolu lanu masih tetap dijalankan oleh pasangan suami atau istri yang pernah menikah dan ingin menikah lagi. Bagi masyarakat adat Jawamaghi di Desa Sobo, upacara ini wajib dilakukann agar anak-anak dari hasil perkawinan yang pertama tidak kena tula atau gena lanu. Dan bagi anak-anak dari hasil perkawinan pertama sudah boleh menerima barang-barang pemberian dari bapak atau mama yang baru. Bagi masyarakat adat Jawamaghi upacara kolu lanu memiliki makna yaitu makna regius, makna sosial dan makna keharmonisan.Abstract: Flores Island has a variety of traditional ceremonies, especially in the Jawamaghi people in Soba Village has various ceremonies to reject bala. One of the repulsion ceremonies in the Jawamaghi indigenous people is the Kolu Lanu ceremony. Kolu lanu ceremony is done by a married couple who have been married and want to marry again. This ceremony is done with the aim that the children of the first marriage do not get tula namely gena lanu or kena lanu. The purpose of this research is to know how the process of conducting kolu lanu ceremony, and what meanings are contained in the ceremony kolu lanu?. This research uses the qualitative method, data collection techniques are done through observation, interview, and documentation. Data analysis techniques are carried out through data reduction, data exposure, and conclusion drawing. The results of the research showed that the kolu lanu ceremony is still carried out by married couples who have been married and want to marry again. For the Jawamaghi indigenous people in Sobo Village, this ceremony must be done so that the children from the first marriage do not get tula or gena lanu. And for children from the first marriage can already receive gifts from the new father or mother. For the indigenous people of Jawamaghi kolu lanu ceremony has the meaning of regius, social meaning, and the meaning harmony.

Page 8 of 14 | Total Record : 137