cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
historis.ummat@gmail.com
Editorial Address
http://journal.ummat.ac.id/index.php/historis
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah
ISSN : 26224763     EISSN : 26141167     DOI : https://doi.org/10.31764/historis
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Historis merupakan jurnal yang memuat naskah atau hasil penelitian di bidang kependidikan khususnya sejarah yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Mataram dengan ISSN 2549-7332 (Print) dan ISSN 2614-1167 (Online). Terbit pertama kali Juni 2017. Adapun ruang lingkup Jurnal Historis berupa hasil penelitian pendidikan & pengembangan kependidikan di bidang sejarah, sosial, sosiologi, budaya, adat istiadat, permainan rakyat, lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang sejarah dan sosial dalam pengembangan pemuda, remaja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Artikel yang masuk ke meja tim redaksi akan melalui proses seleksi mitra bestari/editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
KIPRAH BUPATI BROTODININGRAT DALAM POLITIK LOKAL DI KARISIDENAN MADIUN (1869-1900) Alip Sugianto; Khoirurosyidin Khoirurosyidin
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i2.7266

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas tentang kiprah Bupati Brotodinigrat di Karisidenan Madiun. Metodologi yang digunakan melalui empat tahapan yaitu huristik, kritik, interprestasi, dan historiografi. Hasilnya adalah Bupati Brotodiningrat menjabat bupati pada usia 21 tahun dengan menjadi Bupati Sumoroto, dan pada usia 27 menjadi bupati Ngawi. Selama menjadi Bupati Ngawi beliau memprakarsai berdirinya Masjid Agung, setelah itu dipindah menjadi Bupati Madiun yang ke 23. Selama menjadi Bupati Madiun terjadi konflik dengan residen Madiun, beliau selalu menolak tunduk terhadap kepentingan belanda sehingga seringkali terjadi konflik yang disematkan kepada beliau. Permasalahan tersebut pertama terkait kebijakan kolonial terhadap petani yang dianggap merugikan pribumi yang ditentang oleh Bupati, kedua kekacauan di Madiun yang dilakukan oleh para jagoan membuat pemerintah belanda kewalahan, ketiga kasus pencurian di ruah residen belanda yang mengakibatkan Brotodiningrat diasingkan di Padang. Pada Akhirnya sang Bupati divonis tidak bersalah, Pada akhirnya setiap kebenaran akan menentukan jalan. Abstract:  This article discusses the work of the Regent of Brotodinigrat in Karisidenan Madiun. The methodology used goes through four stages, namely huristic, critique, interpretation, and historiography. The result was that the Regent of Brotodiningrat became regent at the age of 21 by becoming the Regent of Sumoroto, and at the age of 27 he became the regent of Ngawi. During his tenure as Regent of Ngawi, he initiated the establishment of the Great Mosque, after which he was moved to become the 23rd Regent of Madiun. During his tenure as Regent of Madiun, there was a conflict with the resident of Madiun, he always refused to submit to Dutch interests so that conflicts often occurred which were pinned to him. The first problem was related to colonial policies against farmers who were considered detrimental to the natives which was opposed by the Regent, the second was the chaos in Madiun carried out by the heroes that overwhelmed the Dutch government, and the third was the case of theft in a Dutch resident's house which resulted in Brotodiningrat being exiled in Padang. In the end the Regent was found not guilty. In the end, every truth will determine the way.
MASYARAKAT ARAB DAN AKULTURASI BUDAYA SASAK DI KOTA MATARAM (TINJAUAN HISTORIS) Ilmiawan Ilmiawan; Dian Eka Mayasari Sri Wahyuni; Ahmad Afandi; Iskandar Iskandar; Rosada Rosada
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.7418

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Masyarakat Arab dan Akulturasi Budaya Sasak Di Kota Mataram (Suatu Tinjauan Historis). Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Arab masuk di tanah gumi sasak sekitar abad 1545 semenjak islam masuk dan dilanjutkan oleh para ulama yang datang dari Hadrami Yaman Selatan sekitar abad 18-20-an bahkan sampai sekarang telah membentuk sebuah kelompok sosial yang dapat dipastikan telah terjadi interaksi dan proses saling mempengaruhi antara Masyarakat Arab dengan keturunannya dan masyarakat gumi sasak. Keterikatan itu juga dapat kita lihat pada komunitas masyarak arab yang mendiami Perkampungan Arab Kota Tua Ampenan Mataram. Masyarakat arab masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan Islam dengan tetap mempertahankan musik gambus untuk memeriahkan acara perkawinan, sehingga masyarakat arab belum dapat sepenuhnya berbaur dengan masyarakat setempat, akan tetapi masyarakat Arab selalu menghadiri setiap ada undangan acara perkawinan masyarakat Sasak. Hubungan masyarakat Arab dan Sasak dalam interaksi sosial menghasilkan pola hubungan kebiasaan baru yang saling mempengaruhi sehingga terciptanya kebiasaan dan kebudayaan baru yang saling diadopsi antara masyarakat Arab dan masyarakat Sasak. Sehingga terjadilah proses asimilasi dan akulturasi dari interaksi sosial antara masyarakat Arab sebagai pendatang dan masyarakat Sasak sebagai pribumi.Abstract: This study aims to describe the Arab Community and Cultural Acculturation of Sasak In Mataram City (A Historical Review). The research method used in this study is a descriptive qualitative research method with a historical method approach. The results showed that Arabs entered the land of gumi sasak around the 1545 century since Islam entered and continued by scholars who came from Hadrami South Yemen around the 18th-20th century even today has formed a social group that can be ascertained there has been interaction and mutual influence between Arabs and their descendants and the gumi sasak community. The attachment can also be seen in the Arab community that inhabits the Old City Arab Village of Ampenan Mataram. Arab society still upholds Islamic cultural values while maintaining gambus music to enliven the wedding ceremony, so the Arab community has not been able to fully blend in with the local community, but the Arab community always attends every invitation to the Sasak wedding ceremony. Arab and Sasak public relations in social interactions resulted in a pattern of new habitual relationships that influenced each other to create new habits and cultures that were mutually adopted between Arabs and Sasak peoples. Thus there was a process of assimilation and acculturation of social interaction between Arabs as immigrants and Sasak people as natives.
KAJIAN POSKOLONIALISME ROBERT J.C. YOUNG DAN RELEVANSINYA DALAM PENULISAN BUKU SNI JILID 4-6 Mochammad Nginwanun Likullil Mahamid
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i2.7110

Abstract

Abstrak: Robert J.C. Young merupakan tokoh ahli poskolonialisme yang aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan negara-negara yang terjajah, baik secara fisik, materi, maupun identitas/budaya, semangat itulah yang kemudian menginspirasi banyak kalangan yang satu frekuensi dengan Young untuk menolak adanya kolonialisme dan imperialisme, serta menggalang gerakan kemerdekaan di seluruh dunia, selain itu karya-karya yang pernah ditulis Young turut andil dalam merumuskan ide/gagasan pokok mengenai poskolonialisme, yang mendorong lahirnya tulisan-tulisan baru yang dapat menumbuhkan semangat nasionalisme bagi bangsa terjajah, atau baru saja meraih kemerdekaan. Penelitian ini mencoba menemukan relevansi antara kajian poskolonialisme Robert J.C. Young dengan penulisan buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) jilid 4-6, yang begitu fenomenal dalam perkembangan historiografi di Indonesia, mengingat kemunculannya yang tak lama setelah bangsa Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Dengan menggunakan kajian unit analisis dan pendekatan sejarah, penelitian ini menguraikan setidaknya ada empat ide pokok poskolonialisme yang digagas Young berkaitan dengan studi sejarah, di antaranya ambivalensi, hibriditas, orientalisme, dan subaltern. Meski demikian, pertanyaan lain kembali muncul, yakni apakah penulisan buku SNI jilid 4-6 telah menerapkan ide poskolonialisme sebagaimana mestinya, atau malah dimanfaatkan oleh sebagian pihak untuk kepentingan tertentu, yang justru bisa menimbulkan konflik internal bangsa Indonesia.Abstract: Robert J.C. Young is an expert on postcolonialism who is active in fighting for the independence of the colonized countries, both physically, materially, and identity/culturally. This spirit has inspired many people who share the same frequency as Young to decline colonialism and imperialism and mobilize independence movements worldwide. In addition, the works that have been written by Young also contributed to formulating the main ideas regarding postcolonialism, which encouraged the birth of new writings that could foster the spirit of nationalism for the colonized or newly independent nations. This study aimed to find out the relevance between the postcolonial studies by Robert J.C. Young and the writing of Sejarah Nasional Indonesia (SNI) book volume 4-6, which was phenomenal in developing historiography in Indonesia. This was due to its emergence shortly after the Indonesian nation declared its independence. By using a unit analysis study and a historical approach, this study described at least four main ideas of postcolonialism initiated by Young in relation to historical studies, including ambivalence, hybridity, orientalism, and subaltern. However, another question that arose again was whether the writing of SNI book volume 4-6 has implemented the idea of postcolonialism properly or has been used by some parties for certain interests, which can actually lead to internal conflicts in the Indonesian nation.
TAU NUWA SEBAGAI RITUS INISIASI DIRI BAGI KAUM PRIA DEWASA DALAM MASYARAKAT ADAT RENDU Maria Goretty Djandon
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i2.7188

Abstract

Abstrak: Tau nuwa merupakan suatu ritus inisiasi diri atau ritus pengukuhan bagi anak laki-laki dewasa yang sudah berkeluarga menjadi dewasa secara adat, karena secara biologis seorang laki-laki meskipun sudah dewasa dan sudah pula berkeluarga, namun masih terbilang belum dewasa secara adat, sehingga hak-hak adat yang harus diperankan oleh seorang laki-laki dewasa seperti menjadi pemimpin atau pemandu upacara adat tidak boleh dijalankannya. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah proses pelaksanaan ritus inisiasi tau nuwa pada masyarakat adat Rendu, dan 2) Makna apa sajakah yang terdapat dalam ritus inisiasi tau nuwa pada masyarakat adat Rendu? Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengungkapkan proses pelaksanaan ritus inisiasi tau nuwa pada masyarakat adat Rendu. 2) Mengungkapkan makna yang terdapat dalam ritus inisiasi tau nuwa pada masyarakat adat Rendu. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Tekhnik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dan tekhnik analisis data dilakukan melalui reduksi data, pemaparan data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus tau nuwa masih tetap dilakukan oleh masyarakat adat Rendu khususnya kaum laki-laki dewasa yang sudah berkeluarga supaya dapat melakukan segala kewajiban yang berhubungan dengan berbagai kegiatan adat dalam masyarakat. Ritus inisiasi tau nuwa bagi masyarakat adat Rendu memiliki makna antara lain makna religius, makna kebersamaan dan makna persaudaraan.Abstract:  Tau nwa is a rite of self-initiation or a rite of passage for adult men who are married to become adults based on the tradition itself. It is said that the confirmation of adult men who are married to become adults according to tradition, because biologically a man, even though he is an adult and has a family, is still not mature according to tradition, so that the customary rights that must be played by a man He is an adult and has a family, such as being a leader or guide for traditional ceremonies, he is not allowed to carry out. The problems in this research are: 1) How is the process of implementing the tau nuwa initiation rite in the Rendu indigenous community?  2) What are the meanings contained in the tau nuwa initiation rite of the Rendu indigenous people? This study aims to: 1) Describe the process of implementing the tau nuwa initiation rite in the Rendu indigenous community. 2) Expressing the meaning contained in the tau nuwa initiation rite in the Rendu indigenous community. This research uses qualitative research and descriptive research type. Data collection techniques were carried out through observation, interviews and documentation. And the data analysis technique is done through data reduction, data exposure and conclusion drawing. The results show that the tau nuwa rite is still carried out by the Rendu indigenous people, especially adult men, in the sense that they are already married so that they can carry out all obligations related to various traditional activities in the community. The tau nuwa initiation rite for the Rendu indigenous community has meanings, including religious meaning, the meaning of togetherness and the meaning of brotherhood.
POTENSI WISATA KAMPUNG ADAT TUTUBHADA DESA RENDU TUTUBHADA KECAMATAN AESESA SELATAN KABUPATEN NAGEKEO Saddam, Saddam; Maemunah, Maemunah; Palahuddin, Palahuddin; Sulystyaningsih, Naning Dwi; Rahmandari, Ismi Arifiana
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i2.7827

Abstract

Abstrak: Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan alam dan juga keanekaragaman budaya serta adat istiadat seperti provinsi lain di Indonesia. Keanekaragaman tersebut diantaranya adalah keanekaragaman budaya, alam, kuliner serta peninggalan-peninggalan sejarah yang sangat kental dengan adat serta tradisi-tradisi yang masih dijalankan oleh masyarakat hingga saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di Kampung Adat Tutubhada Desa Rendu Tutubhada Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, di sini peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kampung adat Tutubhada memiliki potensi wisata seperti, bangunan rumah adat yang masih asli, benda-benda peninggalan sejarah disetiap rumah adat dikampung adat Tutubhada, serta mempunyai ritual-ritual adat serta atrakasi-atraksi, seperti, tinju adat, tarian, potong kerbau, dan masih banyak lagi, serta hasil karya kerajinan tangan masyarakat Tutubhada yang mempunyai daya tarik wisata. Kampung Adat Tutubhada memiliki potensi wisata kebudayaan berupa bangunan megalitikum yang masih asli.Abstract: East Nusa Tenggara has natural wealth and also cultural diversity and customs like other provinces in Indonesia. This diversity includes cultural, natural, culinary, and historical relics that are very thick with customs and traditions that are still run by the community to this day. The research method used is qualitative descriptive. The research was conducted in Kampung Adat Tutubhada Rendu Tutubhada Village, South Aesesa District of Nagekeo Regency. The data sources used are primary and secondary. Data collection techniques use observation, interviews, and documentation, here researchers act as key instruments. Data analysis is carried out through three stages, namely data reduction, data presentation, and verification. The results showed that the traditional village of Tutubhada has tourism potential such as, traditional house buildings that are still original, historical relics in every traditional house in the Tutubhada traditional village, and has traditional rituals and attractions, such as, customary boxing, dance, buffalo cutting, and many more, as well as the handicrafts of the Tutubhada people who have tourist attractions. Kampung Adat Tutubhada has the potential of cultural tourism in the form of megalithic buildings that are still original.
IMPLIKASI YURIDIS POLITIK DINASTI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2020 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA (STUDI KASUS KABUPATEN BIMA) Anies Prima Dewi; Zaini Bidaya; Rangga Isra Rakarasiwi
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i2.6519

Abstract

Abstrak: Praktek politik dinasti kian subur setelah mahkamah konstitusi melalui pembacaan putusan perkara nomor 33/PUU-XIII/2015 mencabut pasal 7 huruf r UU Nomor 8 tahun 2015 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota karena bertentangan dengan Pasal 28 i ayat (2) UUD NRI 1945. Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti merumuskan masalah yaitu bagaimana implikasi yuridis politik dinasti di Kabupaten Bima berdasarkan Undang-undang Nomor 6 tahun 2020 dan bagaimana dampak politik dinasti di Kabupaten Bima. Hasil penelitian yang dilaksanakan, dapat diambil kesimpulan bahwa implikasi yuridis politik dinasti di Kabupaten Bima berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2020 bahwa dinamika politik lokal merupakan bagian dari refleksi ‘wajah’ politik nasional, dan membuka ruang bagi terciptanya politik dinasti, walaupun lahirnya Undang-undang Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota sebetulnya tidak sesuai dengan kehendak rakyat yang tidak menginginkan adanya politik dinasti. Kenyataanya menunjukan lahirnya Undang-undang pilkada membuka keikutsertaan keluarga dari petahana dalam politik dinasti. Melihat data beberapa politik dinasti ternyata Undang-undang tersebut berpengaruh dalam pemilihan kepala daerah. Dampak politik dinasti di Kabupaten Bima yaitu sebagai berikut: politik dinasti dianggap hanya melenggangkan kekuasaan segelintir orang, tidak memberi ruang kepada orang lain yang lebih kompeten, untuk bergabung ke dalam partai atau pemerintahan, sulit menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih, dan inasti politik tidak tepat jika diterapkan di Indonesia karena bukan negara kerajaan.Abstract: The political practice of the dynasty is increasingly fertile after the constitutional court through the reading of the verdict of case number 33 / PUU-XIII / 2015 revoked article 7 letter r of Law No. 8 of 2015 concerning the election of Governors, Regents and Mayors because it is contrary to Article 28 I paragraph (2) of the 1945 NRI Constitution. Based on the background above, researchers formulated the problem of how the juridical implications of dynastic politics in Bima Regency based on Law No. 6 of 2020 and how the political impact of dynasties in Bima Regency. The results of the research carried out, can be concluded that the juridical implications of dynastic politics in Bima Regency based on Law No. 6 of 2020 that local political dynamics are part of the reflection of the 'face' of national politics, and open space for the creation of dynastic politics, although the birth of Law No. 6 of 2020 on the Election of Governors, Regents, and Mayors is not following the will of the people who do not want the existence of Dynastic politics. The birth of the electoral law opened the family participation of the incumbent in dynastic politics. Looking at the data of several dynastic politics it turns out that the law affects the election of regional heads. The political impact of the dynasty in Bima Regency is as follows: dynastic politics is considered to only tolerate the power of a few people, does not give space to others who are more competent, to join the party or government, difficult to create a good and clean government, and political inaction is not appropriate if applied in Indonesia because it is not a royal state.
TRADISI SELAMATAN PERAHU MASYARAKAT PESISIR DIDESA BUGIS KECAMATAN SAPE KABUPATEN BIMA Dian Eka Mayasari Sri Wahyuni; Rosada Rosada
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 2 (2021): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i2.7895

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui terbentuknya tradisi selamatan perahu dan proses pelaksanaan selamatan perahu di Desa Bugis Kecamatan Sape Kabupaten Bima. penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data meliputi reduksi data, penuajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yaitu Terbentunya Tradisi Selamatan Perahu (syukuran sampa) dikenalka oleh Masyarakat Nelayan Desa Bugis Sejak sebelum masa pemrintahan Sultan Abdul Kahir (1640 M). Proses pelaksanaan acara selamatan perahu pada masyarakat pesisir di Desa Bugis melalui dua tahap yaitu: prosesi pertama ini merupakan awal tradisi selamatan dimulai, disebut dengan hanta haju (peletakan kayu), prosesi kedua dilakukan dari do‟a selamatan akan berhasilnya atau selesainya pembuatan perahu yang dikerjakan selama minimal bulan ketika perahu turun kelaut akan mengadakan selamatan karena kepercayaan masyarakat perahu akan mendapatkan rezeki dan jauh dari musibah ketika sudah melakukan selamatan.Abstract: The purpose of this study was to determine the formation of a tradition of boat salvation and the process of carrying out boat salvation in the Bugis Village, Sape District, Bima Regency. this research is descriptive qualitative. Data collection techniques include observation, interviews and documentation. Data analysis includes data reduction, data assessment and conclusion drawing. The results of the study are the establishment of a Boat Rescue Tradition (thanksgiving until) known by the Bugis Village Fishermen Society since before the reign of Sultan Abdul Kahir (1640 AD). The process of carrying out a boat salvation event on coastal communities in Bugis Village through two stages: the first procession is the beginning of the tradition of salvation starting, called hanta haju (laying of wood), the second procession carried out from do'a salvation will succeed or completion of the boat for at least a month when the boat goes down to sea it will hold a salvation because the trust of the boat community will get sustenance and far from disaster when they have done their salvation.
PENGARUH PENGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN POWTOON TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN SEJARAH DI KELAS XI IPS SMAN 2 PERCUT SEI TUAN Elvansya, Zulfahdilla
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2022): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v7i1.9465

Abstract

Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran powtoon terhadap hasil belajar siswa di kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan Tahun Pelajaran 2021/2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kulitatif dengan disain kuantir eksperimen. Populasi dalam pnelitian ini merupakan seluruh siswa kelas XI dengan pengambilan sampel dilakukan dengan cara Teknik cluster random sampling. Sampel yang dipilih adalah kelas XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen dengan pengunaan media pembelajaran powtoon yang berjumlah 36 orang dan kelas XI IPS-2 sebagai kelas kontrol dengan mengunakan media Gambar yang berjumlah 30 orang. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian adalah tes pilihan berganda. Soal sudah divalidasi oleh tim validator. Analisa data yang digunakan adalah dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata pre test kelas eksperimen adalah 46,6 dan kelas kontrol adalah 46,4. setelah pembelajaran selesai diberikan post test dengan hasil nilai rata-rata kelas eksperimen 80,43 dan kelas kontrol 71.1. Analisis uji normalitas dan uji homogenitas pada kedua kelas diketahui bahwa data berdistribusi normal dan kedua kelas berasal dari kelompok yang homogen. Hasil uji t satu pihak diperoleh thitung> ttabel yaitu (04,67 > 1,671 ), artinya ada pengaruh yang signifikan dalam penguatan media pembelajaran powtoon terhadap hasil belajar siswa pada materi kedudukan jepang di Indonesia kelas XI IPS di SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan Tahun Pembelajaran 2021/2022.Abstract: This study aims to determine the effect of powtoon learning media on student learning outcomes in class XI IPS at SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan for the academic year 2021/2022. The research method used is a qualitative method with a quantitative experimental design. The population in this research is all students of class XI with the sampling is done by means of cluster random sampling technique. The sample selected was class XI IPS 1 as an experimental class using the Powtoon learning media, amounting to 36 people and class XI IPS-2 as a control class using image media, amounting to 30 people. The test instrument used in the study was a multiple choice test. The questions have been validated by the validator team. Analysis of the data used is by using the t test. The results showed that the average pre-test score for the experimental class was 46.6 and the control class was 46.4. After the learning is complete, a post test is given with the results of the average value of the experimental class being 80.43 and the control class 71.1. Analysis of the normality test and homogeneity test in both classes showed that the data were normally distributed and both classes came from homogeneous groups. The results of the one-party t-test obtained tcount > ttable, namely (04.67 > 1.671), meaning that there is a significant influence in strengthening Powtoon learning media on student learning outcomes on the material of Japanese position in Indonesia in class XI IPS at SMA Negeri 2 Percut Sei Tuan. 2021/2022.
KEARIFAN LOKAL TEKI FE'A DHADHO RADHA DALAM MEMBANGUN SOLIDARITAS SOSIAL PADA MASYARAKAT ADAT RENDU DI KECAMATAN AESESA SELATAN KABUPATEN NAGEKEO Djandon, Maria Goretty
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2022): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v7i1.9318

Abstract

Kearifan lokal teki fe’a dhadho radha, merupakan salah satu kearifan lokal pada masyarakat adat Rendu yang hidup dan berkembang di Kecamatan Aesesa Selatan  Kabupaten Nagekeo. Kebudayaan lokal ini merupakan warisan dari para leluhur yang harus di laksanakan dan di lestarikan dari generasi ke generasi, yang syarat dengan  nilai-nilai kemanusisaan. Dalam realitanya, kearifan lokal teki fe’a dhadho radha yang berarti (berat sama dipikul, ringan sama dijinjing), ini menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan nilai persatuan yang sampai saat ini masih tetap dilaksanakan. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: a. Bagaimana eksistensi kearifan lokal teki fe’a dhadho radha pada  masyarakat adat Rendu di Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo? b. Nilai-nilai solidaritas apa sajakah yang terdapat dalam kearifan lokal teki fe’a dhadho radha pada  masyarakat adat Rendu di Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo?Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dan teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, pemaparan data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal teki fe’a dhadho radha masih tetap dilakukan oleh masyarakat adat Rendu sampai saat ini, karena merupakan warisan leluhur yang harus di rawat dan dilestarikan dari waktu ke waktu oleh generasi penerusnya. Dalam kearifan lokal teki fe’a dhadho radha terdapat berbagai nilai yang menjadi pedoman hidup masyarakat adat Rendu antara lain nilai gotong royong atau to’o jogho waga sama, nilai keharmonisan atau muzi modhe ne’e keka bho’a  sa`o lange, nilai  persaudaraan atau ka’e azi moko doa dan nilai persatuan atau kolo sa toko tali sa tebu. Nilai-nilai inilah yang menjadi pegangan hidup masyarakat adat Rendu sampai saat ini.
POTRET KEHIDUPAN MASYARAKAT BINJAI TAHUN 1930-1933 Sartika, Fuji; Lukitaningsih, Lukitaningsih
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2022): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v7i1.9523

Abstract

Abstrak: Penelitian ini  memiliki 3 (tiga) tujuan. Pertama, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kota Binjai saat terjadinya aktivitas perkebunan di Sumatera Timur. Kedua, penelitian ini juga diharapkan dapat menunjukkan aktivitas sosial dan ekonomi kehidupan masyarakat Binjai tahun 1930-1933. Ketiga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang dirasakan oleh kota Binjai pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Hal ini akan mengungkapkan kearifan lokal yang ada di kota Binjai pada masa itu. Sejak 1822 Binjai sudah menjadi suatu Bandar Pelabuhan yang ramai digunakan dari berbagai wilayah. Masyarakat dari Stabat, Tanjung Pura, Selesai dan Kebun Lada melakukan suatu aktivitas perdagangan di kota Binjai yang dikenal dengan Bandar Sinembah. Di Bandar Sinembah ini menjual segala pemenuhan kebutuhan pokok dan rempah yang diperdagangkan. Pada tahun 1970 an kota Binjai adalah kota yang sangat ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan penduduk dari pekerja perkebunan Nusantara. Pada tahun 1982 kota Binjai menjadi kota madya setelah ibukota Langkat dipindahkan ke Stabat berdasarkan peraturan pemerintah no. 5 tahun 1982. Metode yang peneliti gunakan adalah metode sejarah, yang memiliki empat langkah atau tahapan dalam penelitiannya yang meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiograf. Penulis menganalisis foto-foto mengenai Binjai dengan berbagai referensi yang penulis. Abstract:  This research aimed for three purposes. Firstly, this research aimed to know how Binjai was when the plantation activity happened in East Sumatera. Secondly, this research also aimed to indicate social and economical activity in Binjai in 1930-1933. Thirdly, this research aimed to know the impact perceived by the local residence during the Dutch colonial period. This thing would disclose Binjai's local culture at that time. Since 1882, binjai has become a crowded port city utilized by any regions. People from Stabat, Tanjung Pura, Selesai, and Kebun Lada made some trading activities in Binjai which was known as Bandar Sinembah. Bandar Sinembah provided all of daily needs and spice. In 1970s, Binjai was a place visited by a lot of residence and worker of Plantation Archipelago. In 1982, Binjai was officially become a city right after Langkat was relocated to Stabat based on PP No. 5 1982. The method used by the researcher was historical method, which consists of four steps: heuristic, verification, interpretation, and historiography. The researcher analyzed pictures of Binjai based on various references.

Page 9 of 14 | Total Record : 137