Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots)
ALFAZ (Arabic Literature for Academic Zealots) is an open access and a peer-reviewed journal on Arabic Language and Literature in the world. This journal is published by the Arabic Language and Literature Departement, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Arabic Education around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles.
Articles
82 Documents
Membaca Fungsi Sastra Dinasti Banî Umayyah
Dadang Ismatullah
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 2 No 1 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (735.592 KB)
Sastra pada masa Dinasti Banî ‘Umayyah berkembang orientasinya sebagai tindakan reaktif atas problematika yang muncul di zamannya. Munculnya kelompok-kelompok politik, aliran-aliran keagamaan, fanatisme kesukuan di masa ini telah menjadi sebab atas kelahiran tema-tema baru di dalam sastra, di antaranya adalah tema al-siyâsiy (politik), naqâidh (polemik), dan syi`r al-ghazal (cinta). Dari tema-tema yang muncul tersebut, dapat dilihat bahwa pada masa ini karya sastra tidak hanya dibuat untuk tujuan personal, melainkan dipergunakan untuk kepentingan kelompok (sekte) dan kekuasaan dan bahkan karya sastra menjadi barang komoditas (takassub bi al-syi`r) yang diperjual-belikan, sehingga fungsi yang ada pun tidak hanya sekedar untuk memberikan kesenangan dan nilai guna, melainkan ada fungsi-fungsi lain yang hadir mengikuti pola perkembangan sastra pada masa itu.
Isu Gender dan Sastra Feminis dalam Karya Sastra Arab; Kajian Atas Novel Aulad Haratina karya Najib Mahfudz
Ida Nursida
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 3 No 1 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (499.921 KB)
Gender merupakan isu global yang menjadi bagian dari penegakan hak azasi manusia. Kajian Gender berkembang menjadi suatu studi khusus tentang keadilan hubungan sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan yang dibangun dari sejumlah teori sosiologi. Sebagai studi interdisipliner, issu Gender bisa dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, diantaranya refleksi sosial pada produk sastra. Gender menjadi salah satu issu penting dalam kajian karya-karya sastra. Issu gender selain menjadi sorotan dalam ruang lingkup pergaulan sosial masyarakat, juga menjadi warna dalam dunia sastra. Ketidak adilan Gender banyak terefleksi dalam dunia sastra. Issu gender memungkinkan menjadi salah satu kajian dalam karya-karya sastra dengan menggunakan metode kritik sastra feminis yang diformulasikan ke dalam Pendekatan Sosiologi Sastra. Pendekatan ini menekankan produk karya sastra sebagai dokumen sosial yang merefleksikan realitas masyarakat dalam suasana, tempat, dan kurun waktu tertentu.
Al-Muwazanah Bayna al-A'mal al-Adabiyah al-'Arabiyah al-mu'ashirah
Lalu Turjiman Ahmad
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 1 No 1 (2013): Januari-Juni 2013
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (673.357 KB)
Adanya perbedaan menandai pergeseran cara pandang terhadap sastra, di mana sastra yang dahulu dipandang sebagai cermin kehidupan semata kini beralih menjadi sebuah medium yang efektif untuk melakuan kritik sosial (dan juga poitik). Para sastrawan pun membuat suatu karya sastra yang mampu mengemban fungsi itu. Tulisan ini membandingkan tiga karya sastra Arab Mesir kontemporer: Al-Ayyâm karangan Toha Hussein, Qindîl Ummi Hâsyim karya Yahyâ Haqqî, dan Bain al-Qashrain milik Najîb Mahfûzh. Di tengah perbedaan genrenya, tiga karya tersebut menunjukkan kemiripan pada aspek gaya bahasa dan tujuan utama penulisannya. Dari aspek yang kedua ini, sejak di bagian awal dari masing-masing karya tersebut mengarah kepada kritik sosial pada titik concern masing-masing: kritik terhadap metode pengajaran, penghormatan yang berlebihan terhadap tokoh agama, dan perlakuan suami terhadap istri dalam kehidupan berumah tangga.
Tanda Baca Dalam Bahasa Arab
Hatta Raharja
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 2 No 2 (2014): Juli-Desember 2014
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (287.363 KB)
الترقيمُ لغويًّا من المادّة ( ر. ق. م ) التي تدخلُ على وضعِ النقط والحركات وبيان الحروف في الكتابة، وكي البعير، ونقش الخبز، ووشي الثوب وتطريزه. وعليهِ فالرّقم يَعني العَلامة أو الختم، أو نوع من الوشي مُخطّط، وجمعه أرقام ورقوم، وبسبب أوجه الشبه الكثيرة اختار علماء اللغة لفظة الرّقم لكلّ رمز يمثّل عددًا محدّدًا. الترقيم ( اصطلاحاً ) هو: وضع علامات اصطلاحيّة في المواضع الصّحيحة بينَ الجمل أو الكلمات لتساعد على تحقيق الإفهام والفهم، حيث تقومُ هذه العلامات بتحديد مواضع الوقف، والفصل، والوصل، والابتداء وتنويع النبرات الصّوتيّة للقارئ وفقًا لأغراض الكاتب، فتساعدهُ على إدراك المعنى وتمثّلهُ وعلى فهم العلاقات بينَ الجمل. وهي في الوقت نفسه بعض البدائل التي يستخدمها الكاتب لكثير من الإمكانيات المتوفّرة لديه لو كانَ متحدّثًا : من حركة اليدَيْن، الرأس وسحنات الوجه، ونبرات الصوت، وغير ذلك . وظيفة الترقيم هي تنظيم الكتابة والقراءة بشكل صحيح ومفيد، حيث أنّه ينسّق المادّة وينظّمها ويجعلها مؤثّرة وواضحة وهو بهذا يخدم عمليّة فهم المقروء ؛ فيساعد الكاتب على توضيح أفكاره وجعلها مؤثّرة ويساعد القارئ على فهم ما يريده الكاتب
Performing Religious Services in Trading Interaction
Ali Halidin;
Sitti Zakiah;
Mahsyar Mahsyar
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 7 No 01 (2019): June 2019
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (261.071 KB)
|
DOI: 10.32678/alfaz.Vol7.Iss01.2047
There are two communication approaches had been mentioned in this study, firstly: the cultural communication strategy, and the second: communication habit. Cultural communication seeks to describe the interests that was built by seeing the opportunities and the benefits of the trade that was occurred between the merchant community around on the two holy lands of Medina and Mecca to the visitors and pilgrims or commonly referred to as umrah pilgrims. There are two trading strategies with the use of the Indonesian language. The firstly because of the largest number of Umrah pilgrims each year to the Nabawi Mosque in Medina and illegitimate mosques in Makkah (alharam). Secondly, the habitual communication, namely mapping cultural ties was not only done by the marriage or kinship relations assimilation), but this is the cultural linkage can occur because each individual has the same interests or needs each other. The method used was descriptive qualitative, by observing, the real communication patterns was happened between Indonesian Umrah pilgrims and traders from Arab and Middle Eastern communities around the Nabawai mosque of Medina and the Haram Makkah. The specific communication pattern is trading communication with the approaching to the cultural elements and Indonesian nationalism in it, so that the impression is more interesting. It’s looked the merchants around the two holy lands were good at attracting the interest and enthusiasm to the shopping for the visitors and pilgrims from Indonesia, by greeting and offering prices using Indonesian language. While the Indonesian pilgrims are well known having the strong nationalism and cultural culture, so the flavors arose, such as feel in the village themselves and having kinship if they heard the mother's language and culture used by others.
Al-Musthalahât al-Balâghiyah fi Qâmus Al-Munawwir Li Ahmad Warson Munawwir
Fachrul Ghazi
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 2 No 1 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (642.539 KB)
Penelitian ini mengkaji terminologi ilmu Balagah di dalam Kamus Al-Munawwir yang disusun oleh Ahmad Warson Munawwir. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan sejauh mana perhatian penyusunnya terhadap peristilahan Balagah yang mencakup cabangnya yang tiga: Maʻânî, Bayân, dan Badîʻ berikut cara penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Akan dilihat akurasi penerjemahannya dengan mengacu kepada makna yang diberikan oleh para ulama Balagah terhadap istilah-istilah tersebut. Ada dua langkah dalam penelitian ini: pertama, mengidentifikasi istilah-istiah Balagah beserta terjemahan dan tambahan keterangan yang disampaikan oleh penyusun kamus; kedua, meneliti data yang didapatkan pada langkah pertama berdasarkan makna etimologis dan terminologis dari peristilahan tersebut menurut ulama Balagah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kamus Munawwir mengadung terminologi Balagah dalam ketiga cabangnya, yang mana memperlihatkan perhatian penyusunnya terhadap ilmu ini. Penyusun sering kali menyebutkan suatu kata tertentu sebagai istilah yang diasosiasikan dengan salah satu dari tiga cabang Balagah; terkadang juga ia mengabaikan hal itu. Pada bagian yang lain, penyusun menjelaskan makna literal dari suatu istilah Balagah, namun terkadang makna tersebut lebih tepat untuk istilah Balagah yang lainnya. Dalam hal ini, pengguna kamus harus mencari referensi lain.
Medan Makna Ketaatan dalam Bahasa Arab
Hatta Raharja
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 3 No 1 (2015): Januari-Juni 2015
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.325 KB)
Ada sebuah pendapat tentang jaringan kosakata yang menghubungkan antara satu dan yang lainnya sehingga mencapai kepada sebuah kata inti yang bermakna umum, yaitu “Pendapat A. Lehrer dalam Semantic Fields and Lexical Structure (Amsterdam: North Holland, 1974) yang mengutip pendapat Trier, menyatakan bahwa kosakata suatu bahasa itu terstruktur. Kosa kata suatu bahasa dapat diklasifikasikan menjadi beberapa butir leksikal yang berhubungan dengan medan konseptual dan dibagi menjadi ruang makna (semantic space) atau ranah makna (semantic domain). Beliau juga percaya bahwa medan bahasa itu tidak terisolasi, sehingga medan-medan bahasa tersebut akan bergabung bersama membentuk bagian yang lebih besar lagi sampai pada akhirnya keseluruhan kosakata dapat masuk ke dalamnya”. Penelitian ini pada dasarnya akan memperkuat pendapat Lehrer dengan menganalisis leksem-leksem di dalam Al-Qur’an yang memiliki komponen-komponen makna yang sama sehingga menemukan medan makna ketaatan dalam bahasa Arab berdasarkan kajian di Al-Qur’an. Leksem yang dikaji dalam penelitian ini ada empat, yaitu: tâ‘ah, salima, ‘awwâb, dan qânit. Leksem-leksem ini dengan berbagai perubahan bentuk kata, baik secara derivatif maupun inflektif sehingga menjadi korpus yang akan dicari komponen maknanya, serta diinformasikan tentang kedudukan makna leksem ketika berada dalam konstruksi kalimat (dibaca: ayat). Untuk itu dibutuhkan beberapa kitab tafsir. Pengumpulan korpus dilakukan dengan cara menginventarisir data yang diambil dari sumber-sumber data di kitab-kitab tafsir dan dikumpulkan agar memudahkan analisa secara komprehensif. Setelah mendapatkan komponen makna dari setiap leksem selanjutnya masing-masing komponen makna tersebut akan dibandingkan satu dengan yang lainnya. Kesimpulan yang akan dibangun di penelitian ini adalah adanya jaringan yang menghubungkan antara leksem-leksem ketaatan dalam Al-Qur’an, baik dilihat dari sisi komponen makna maupun ketika berada dalam konstruksi kalimat.
Dirasah Dalaliyah 'an Taghayyuril ma'na wa Asykalihi
Yuyun Rohmatul Uyuni
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 1 No 1 (2013): Januari-Juni 2013
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (722.212 KB)
Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relative singkat makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata berubah. Dalam perkembangan penggunaannya, kata sering mengalami perubahan makna. Perubahan tersebut terjadi karena pergeseran konotasi, rentang masa penggunaan, jarak, dan lain-lain. Namun yang jelas, perubahan-perubahan tersebut ada bermacam-macam yaitu: menyempit, meluas, amelioratif, peyoratif, dan asosiasi.
Konsep at-Tajnīs menurut ʻAlī bin ʻAbdul ʻAzīz al-Jurjānī dalam al-Wasāṭah baina al-Mutanabbī wa Khuṣūmihī
Muhammad Qozwaeni Hirpan;
Ahmad Malthuf
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 8 No 1 (2020): June 2020
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1262.237 KB)
|
DOI: 10.32678/alfaz.Vol8.Iss1.2503
This article describes the concept of tajnīs in the view of ʻAlī al-Jurjānī (best known as al-Qāḍī al-Jurjānī) in his book entitled al-Wisāṭah baina al-Mutanabbī wa Khuṣūmihī. Tajnīs, later known as jinās, literally means “similar”; “resembles”; and “in the same form”. In Arabic rhetoric theories (Balāghah), jinās is a linguistic style which combines two similar words in a sentence that share the same sound with different meaning from each other. The work of al-Qāḍī al-Jurjānī is considered as a breaktrough in classical literary criticism. From the title of the book, he tried to compromise between the poet al-Mutanabbī and his opponents who argued agaist his oppinions in poetery making. There came al-Jurjānī as a mediator by proposing ideal points of view for literary criticism which lay on objective standards. Among those standards is what he called tajnīs. By employing analytical method to the data, this study finds five classifications of jinās according to al-Qāḍī al-Jurjānī. They are tajnīs muṭlaq (exact similarity), tajnīs tām or tajnīs mustawfā (complete simmilarity), tajnīs muḍāf (similar words with one word comes in compounding words), tajnīs nāqiṣ (lack similarity), and tajnīs taṣḥīf (similarity caused by misspelling). This classification was employed by al-Qāḍī al-Jurjānī for his critic to al-Mutanabbī’s potery in the level of the wording, and can be broadly applied to all Arabic literary works.
Pernikahan Ideal Menurut Najīb al-Kailānī dalam Novel Lail wa Qudbhan (Analisis Semiotika Roland Barthes)
Rahimal Khair
Alfaz (Arabic Literatures for Academic Zealots) Vol 8 No 1 (2020): June 2020
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1062.499 KB)
|
DOI: 10.32678/alfaz.Vol8.Iss1.2350
Marriage is a husband and wife bond between men and women that is considered sacred by Muslims. This study aims to reveal how the ideal marriage in the view of Najīb al-Kailānī in a novel entitled Lail wa Qudhban with the help of Roland Barthes's semiotics theory. The research method used is a qualitative method. Data collection techniques used were documentation and data analysis techniques used were analytical descriptions. The results of the study showed that Najīb al-Kailānī in the novel Lail wa Qudbhan gave four criticisms and messages about an ideal marriage. Namely: a), marriage is not only husband and wife ties that are considered sacred but husband and wife ties aiming to meet each other's physical and spiritual needs and expecting the presence of a baby(s) or child, b), marriage should be based on sincere love, c), marriage not intended to be looked charming but still giving freedom, d), marriage is built on some considerations according to religious teachings, not because of coercion that has no clear reason. These are four messages Najīb al-Kailānī conveyed through the novel which everyone should be aware of if he/she expect happiness and peace. Neglecting these for criteria will lead the contrary, as narrated through the novel novel Lail wa Qudhban, the story ends with bad suffering and divorce, as experienced by Inayah.