cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Volume 8 Nomor 1 Maret 2025" : 25 Documents clear
Characteristics of Epithelial Ovarian Cancer at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Period from January 2020 to September 2023 Zaen, Wildana Ilmia Uli El Nuha; Agustiansyah, Patiyus; Oktharina, Eka Handayani; Sanif, Rizal; Purnamasari, Septi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.762

Abstract

Objective: To determine the characteristics of epithelial ovarian cancer patient at Dr. Mohammad Hoesin Palembang General Hospital from January 2020 to September 2023.Methods: This study is a descriptive observational study utilizing secondary data from the Medical Records Department. The inclusion criteria included all patients diagnosed with epithelial ovarian cancer based on anatomical pathology results from the Medical Records Department at Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital, covering the period from January 2020 to September 2023.Results: A total of 153 patient medical records met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study findings revealed that the majority of epithelial ovarian cancer patients were aged 45–59 years (pre-elderly) (51%), had an normal Body Mass Index of 18.5–22.9 kg/m² (57.5%), were most commonly diagnosed at FIGO Stage IIIC (42.5%), had no family history of the disease (98.7%), and were nulliparous (32.7%)Conclusion: Epithelial ovarian cancer patients were predominantly found in the pre-elderly age group, with a normal Body Mass Index, the majority diagnosed at stage IIIC, without a family history, and nulliparous.Karakteristik Kanker Ovarium Epitel di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode Januari 2020 – September 2023AbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik pasien kanker ovarium epitel di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2020 – September 2023Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif observasional menggunakan data sekunder dari Instalasi Rekam Medis. Kriteria inklusi, yaitu seluruh pasien yang didiagnosis kanker ovarium epitel berdasarkan hasil patologi anatomi di Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2020 – September 2023.Hasil: Mayoritas pasien kanker ovarium epitel berusia 45 – 59 tahun (pra-lanjut) (51%), Indeks Massa Tubuh normal 18,5–22,9 kg/m2 (57,5%), mayoritas pada stadium IIIC (42,5%), tidak memiliki riwayat keluarga (98,7%), dan nuliparitas (32,7%).Kesimpulan:Penderita kanker ovarium epitel sebagian besar ditemukan pada kelompok usia pra-lansia, dengan ndeks Massa Tubuh normal, sebagian besar berada pada stadium IIIC, tidak memiliki riwayat keluarga, dan nuliparitas.Kata kunci: Kanker Ovarium Epitel, Karakteristik.
Characteristics of Pregnancy and Birth Outcomes among Expectant Teenage Mothers: A Single Center of Retrospective Study of 10 Years Approach Tanjaya, Hendri; Riani, Mutiara; Darmawan, Budi; Mardjuki, Edihan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.787

Abstract

Objective: This study aims to analyze the characteristics and birth outcomes of Indonesian adolescents who have experienced pregnancy.Methods: This study assessed hospital-based retrospective cross-sectional study of 112 deliveries of teenage pregnancy. Bivariate analysis was conducted to examine the direct impact of each independent variable on the outcome variable. Following bivariate analysis, assumptions for logistic regression were examined using a variable with a p-value of <0.25.Result: Adolescent pregnancy was associated with a notably higher risk of anemia, postpartum hemorrhage, and low Apgar score at birth at 1 minute (p<0.05). Moreover, most adolescent pregnancies show complications. However, the rate of cesarean section deliveries was lower.Conclusion: Adolescent pregnancies are associated with negative effects on neonates and maternal figures. It remains a severe health problem that impacts all countries worldwide. Adolescence is not a good period for pregnancy. Improving the quality of health education and healthcare services is crucial for better outcome of adolescent pregnancy.Karakteristik Kehamilan dan Hasil Persalinan pada Kehamilan Remaja: Sebuah Studi Tunggal, Studi Retrospektif dengan Pendekatan 10 TahunAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan prognosis persalinan pada remaja di Indonesia.Metode: Sebuah studi potong lintang retrospektif berbasis rumah sakit terhadap 112 persalinan dari kehamilan remaja dilakukan dalam penelitian ini. Analisis bivariat dilakukan untuk memeriks a dampak langsung dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Regresi logistik dilakukan dengan menggunakan variabel yang memiliki nilai p kurang dari 0,25 setelah analisis bivariat.Hasil: Kehamilan remaja dikaitkan dengan risiko anemia yang lebih tinggi, perdarahan pascapersalinan, dan skor APGAR yang rendah saat lahir pada menit ke-1 (p<0,05). Sebagian besar kehamilan juga mengalami komplikasi. Namun, tingkat persalinan operasi caesar lebih rendah.Kesimpulan: Kehamilan pada remaja berkaitan dengan berbagai komplikasi pada ibu dan neonatus, sehingga menjadi masalah kesehatan yang memengaruhi negara di seluruh dunia. Masa remaja bukanlah periode ideal untuk kehamilan, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan dan layanan kesehatan guna memperbaiki prognosis kehamilanKata Kunci: Kehamilan, Komplikasi, Prognosis kehamilan, Remaja 
Factors Affecting Breastfeeding Practice among Mothers with Hospitalized Neonates Lestari, Peby Maulina; Ramadanti, Afifa; Latifah, Murwani Emasrissa; Sutrisno, Muhammad Al Farisi; Andrina, Hana; Stevanny, Bella
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.707

Abstract

Introduction: Breastfeeding is essential for premature infants, as it reduces morbidity while enhancing cognitive development, ultimately supporting a more productive adulthood. However, in the United States, where 10–12% of infants are born prematurely, hospitalization in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) presents significant challenges to breastfeeding practices as it introduces barriers such as maternal stress, mother-infant separation, limited visitation, and inadequate support, which hinder successful breastfeeding. Method: This review used several databases, namely Google Scholar, Science Direct, Elsevier, Medline, PubMed, Proquest, dan Wiley Online Library to search original and review articles in English about breasfeeding, internsive care unit, and risk factors in the last 10 years. Other reference sources used were guidelines and textbooks.Result: The findings reveal that breast milk’s bioactive components play a critical role in protecting against morbidity during NICU hospitalization, while also fostering cognitive development. Factors influencing breastfeeding practices include demographic (maternal age, education), biological (maternal and infant health), attitudinal (breastfeeding confidence), social (family support), and hospital regulations (NICU policies).Conclusion: Factors affecting breastfeeding practice among mothers with hospitalized neonates include planned pregnancy, medical interventions, and family support. NICU hospitalization can be a significant barrier to breastfeeding due to inadequate support, visitation time, mother-infant separation, maternal stress and anxiety, and clinical conditions.Faktor-Faktor yang Memengaruhi Praktik Menyusui pada Ibu dengan Neonatus Rawat InapAbstrakPendahuluan: Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sangat penting bagi bayi prematur karena dapat mengurangi morbiditas sekaligus meningkatkan perkembangan kognitif, yang pada akhirnya mendukung kehidupan dewasa yang lebih produktif. Namun, di Amerika Serikat, di mana 10–12% bayi lahir prematur, rawat inap di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) menghadirkan tantangan signifikan terhadap praktik menyusui akibat berbagai hambatan seperti stres maternal, pemisahan ibu dan bayi, waktu kunjungan yang terbatas, serta dukungan yang tidak memadai, yang menghalangi keberhasilan menyusui.Metode: Tinjauan pustaka ini menggunakan beberapa basis data, yaitu Google Scholar, Science Direct, Elsevier, Medline, PubMed, Proquest, dan Wiley Online Library, untuk mencari artikel asli dan ulasan dalam bahasa Inggris tentang menyusui, unit perawatan intensif, dan faktor risiko dalam 10 tahun terakhir. Sumber referensi lainnya yang digunakan adalah pedoman dan buku teks.Hasil: Kumpulan bukti yang ada di literatur saat ini menunjukkan bahwa komponen bioaktif dalam ASI memiliki peran penting dalam melindungi bayi dari morbiditas selama hospitalisasi di NICU, sekaligus mendukung perkembangan kognitif. Faktor-faktor yang memengaruhi praktik menyusui meliputi faktor demografis (usia ibu, pendidikan), biologis (kesehatan ibu dan bayi), sikap (kepercayaan diri dalam menyusui), sosial (dukungan keluarga), dan kebijakan rumah sakit (aturan di NICU).Kesimpulan: Faktor-faktor yang memengaruhi praktik menyusui pada ibu dengan bayi yang dirawat di NICU meliputi kehamilan yang direncanakan, intervensi medis, dan dukungan keluarga. Rawat inap di NICU dapat menjadi penghalang signifikan terhadap keberhasilan menyusui akibat kurangnya dukungan, waktu kunjungan yang terbatas, pemisahan ibu dan bayi, stres dan kecemasan maternal, serta kondisi klinis bayi.Kata Kunci: Air susu ibu, Faktor risiko, Ibu, Menyusui, NICU
Diagnostic Approach to Vaginismus and How to Differentiate it from Dyspareunia Farhanah, Aninda Yasmin; Sukarsa, Mochamad Rizkar Arev; Armawan, Edwin; Achmad, Eppy Darmadi; Sasotya, R. M Sonny; Rinaldi, Andi; Ma’soem, Aria Prasetya; Praharsini, Raden Kania; Imantika, Efriyan; Nurtanio, Setiawan; Arwan, Berriandi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.689

Abstract

Introduction:Vaginismus is a recurrent or persistent spasm of the muscles of the outer third of the vagina that interferes with coitus. The diagnosis of vaginismus is challenging since it requires the exclusion of possible organic comorbidities. Vaginismus needs to be differentiated from dyspareunia. This article comprehensively discusses the approach to diagnosis and management of vaginismus and highlights its differences from dyspareunia.Methods: A literature search was conducted in PubMed®, ScienceDirect, and Google Scholar databases on February 7–8, 2024, using Boolean combinations of the specified keywords. No specific timeframe was used. Editorials, commentaries, and articles other than written in English and Indonesian were excluded.Results: The review found that vaginismus is characterized by involuntary pelvic floor muscle contractions and significant anxiety towards penetration, which is diagnosed mainly through patient history and physical examination. In contrast, dyspareunia encompasses a wider range of pain, which may be superficial or deep and can result from various physiological or psychological factors. Differentiating between the two conditions requires a detailed clinical interview, physical examination, and possibly additional tests to identify the specific cause.Conclusion: Treatment for vaginismus focuses on reducing fear and pelvic muscle spasms, while dyspareunia focuses on addressing the underlying cause and pain management.Pendekatan Diagnosis pada Vaginismus dan Cara Membedakannya dengan DispareuniaAbstrakPendahuluan: Vaginismus adalah spasme otot-otot sepertiga bagian luar vagina yang berulang atau terus-menerus dan mengganggu koitus. Diagnosis vaginismus menantang dan memerlukan eksklusi kemungkinan komorbiditas organik. Vaginismus perlu dibedakan dengan dispareunia. Artikel ini membahas pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan vaginismus secara komprehensif dan menyoroti perbedaannya dengan dispareunia.Metode: Pencarian literatur dilakukan di basis data PubMed®, ScienceDirect, dan Google Scholar pada tanggal 7 – 8 Februari 2024 dengan menggunakan kombinasi Boolean dari kata kunci yang ditentukan. Tidak ada jangka waktu tertentu yang digunakan dalam pencarian artikel untuk tinjauan literatur ini. Editorial, komentar, dan artikel yang tidak berbahasa Inggris dan Indonesia tidak disertakan.Hasil: Tinjauan menunjukkan bahwa vaginismus ditandai oleh kontraksi involunter otot dasar panggul serta kecemasan signifikan terhadap penetrasi. Diagnosis utama didasarkan pada riwayat pasien dan pemeriksaan fisik. Sebaliknya, dispareunia mencakup spektrum nyeri, baik superfisial maupun dalam, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor fisiologis atau psikologis. Untuk membedakan kedua kondisi tersebut, diperlukan wawancara klinis yang mendetail, pemeriksaan fisik, dan tes tambahan guna mengidentifikasi penyebab spesifik.Kesimpulan: Terapi untuk vaginismus berfokus pada pengurangan rasa takut dan spasme otot panggul, sedangkan dispareunia berfokus pada penanganan penyebab yang mendasari dan manajemen nyeri.Kata kunci: Diagnosis, dyspareunia, tatalaksana, vaginismus
Surgical Approach for Uterine Perforation due to Gestational Trophoblastic Neoplasia: A Case Report Susilo, Sulaeman Andrianto; Homenta, Christian; Mawardinata, Phindo; Sinaga, Ferry Iskandar Kharisma; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.776

Abstract

Introduction: The most common life-threatening complication of gestational trophoblastic neoplasia (GTN) is uterine perforation. In several cases, a surgical approach becomes inevitable. However, there are numerous considerations regarding the technique of hysterectomy.Case Presentation: A 37-year-old (P1A2) woman came to the ER with severe abdominal pain 12 h before admission. The patient had been previously diagnosed with GTN and was scheduled to undergo methotrexate chemotherapy. However, due to the development of an acute abdomen, accompanied by low hemoglobin levels and free fluid showing signs of uterine perforation, an emergency total abdominal hysterectomy was performed. The intra-operative findings revealed intra-abdominal bleeding and uterine perforation at the right fundal side of the uterus. The patient underwent postoperative chemotherapy and showed significant improvement. Conclusion: Regardless of the efficacy of chemotherapy in GTN, abdominal hysterectomy proved to be beneficial for treating uterine perforation in an emergency setting.Pendekatan Pembedahan pada Perforasi Uterus Akibat Tumor Trofoblastik Gestasional : Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Komplikasi paling umum yang mengancam jiwa dari Tumor Trofoblastik Gestasional (TTG) adalah perforasi uterus. Pendekatan pembedahan tidak dapat dihindari dalam beberapa kasus. Namun, ada banyak pertimbangan mengenai teknik pembedahan dalam setiap kasus.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun (P1A2) datang ke UGD dengan nyeri perut hebat 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien didiagnosis dengan neoplasia trofoblastik gestasional dan dijadwalkan untuk kemoterapi metotreksat. Abdomen akut, kadar hemoglobin rendah, cairan bebas menunjukkan tanda perforasi uterus. Temuan intraoperatif adalah perdarahan intra-abdomen dan perforasi uterus di sisi fundus kanan uterus. Histerektomi abdomen total darurat dilakukan. Pasien menjalani kemoterapi pasca-operasi dengan kondisi yang membaik.Kesimpulan:Terlepas dari efektivitas kemoterapi pada TTG, histerektomi abdominal bermanfaat untuk mengobati perforasi uterus dalam keadaan darurat.Kata kunci: Histerektomi, perforasi uterus, trofoblastik neoplasia 
Management of Ovarian Cancer in the Second Trimester of Pregnancy: A Case Report and Literature Review Syarief, Sri Dewi Rahmawati; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Anwar, Ruswana; Suardi, Dodi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.778

Abstract

Introduction: Ovarian carcinoma during pregnancy is a rare but clinically significant condition that requires swift and precise management to optimize maternal and fetal outcomes. This case report highlights the successful conservative surgical management of malignant mucinous ovarian cancer diagnosed in the second trimester. It provides insights into the feasibility and safety of surgical intervention during pregnancy, contributing valuable evidence to the existing literature on oncologic care during pregnancy.Case Illustration: A 21-year-old woman, G1P0A0, presented at 17-18 weeks of gestation with no complaints related to her pregnancy but reported abdominal enlargement over the past three months. At 6 weeks gestation, the patient was diagnosed with an ovarian cyst, later confirmed as a large cystic mass on the right ovary with papillary components through ultrasound. The IOTA simple rules indicate that the mass was suspected to be malignant. The provisional diagnosis was suspected ovarian malignancy with a differential diagnosis of multilocular ovarian cyst. The patient underwent a planned right oophorectomy at 18 weeks gestation. Histopathology revealed a mucinous malignant tumor of the right ovary that had not invaded the right fallopian tube. The pregnancy was continued, and the patient was closely monitored, with plans for further evaluation postpartum.Conclusion: This case highlights the feasibility and safety of conservative surgical management of ovarian cancer in the second trimester, demonstrating that timely intervention can optimize both maternal and fetal outcomes. The successful continuation of pregnancy after surgery reinforces the importance of individualized, multidisciplinary approaches to oncologic care during pregnancy.Penatalaksanaan Kanker Ovarium pada Kehamilan Trimester Kedua: Sebuah Laporan Kasus dan Tinjauan PustakaAbstrakPendahuluan: Karsinoma ovarium pada kehamilan merupakan kondisi yang jarang terjadi tetapi, memiliki implikasi klinis yang signifikan. Penatalaksanaannya memerlukan keputusan yang cepat dan tepat untuk mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Laporan kasus ini menyoroti keberhasilan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium mucinous ganas yang terdiagnosis pada trimester kedua kehamilan. Kasus ini memberikan wawasan mengenai kelayakan dan keamanan tindakan bedah selama kehamilan, serta berkontribusi terhadap literatur ilmiah terkait onkologi kehamilan.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 21 tahun, G1P0A0, datang pada usia kehamilan 17 – 18 minggu tanpa keluhan, namun melaporkan pembesaran perut selama tiga bulan terakhir. Pada usia kehamilan 6 minggu, pasien didiagnosis dengan kista ovarium yang kemudian dikonfirmasi sebagai massa kistik besar pada ovarium kanan dengan komponen papiler melalui pemeriksaan ultrasonografi. Berdasarkan IOTA simple rules, massa tersebut dicurigai ganas. Diagnosis sementara adalah dugaan keganasan ovarium dengan diagnosis banding kista ovarium multilokular. Pasien menjalani operasi ooforektomi kanan yang terencana pada usia kehamilan 18 minggu. Hasil histopatologi menunjukkan tumor mukinosa ganas pada ovarium kanan yang tidak menyerang tuba falopi kanan. Kehamilan dilanjutkan, dan pasien dipantau secara ketat dengan rencana evaluasi lebih lanjut setelah persalinan.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti kelayakan dan keamanan manajemen bedah konservatif pada kanker ovarium trimester kedua. Intervensi yang tepat dapat mengoptimalkan hasil bagi ibu dan janin. Keberhasilan kelanjutan kehamilan setelah tindakan bedah ini menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi pasien dalam penatalaksanaan kanker pada kehamilan.Kata kunci: kanker ovarium, kehamilan, kanker ovarium musinosum
Relationship Between Severe Preeclampsia, Gestational Hypertension, Impending Eclampsia, Preeclampsia, Superimposed Preeclampsia, and Chronic Hypertension on Fetal Outcomes at Respati Maternal and Child Hospital, Tasikmalaya Utama, Firman Drajat; Desyari, Gina; Haruman, Kikeu Rizki; Perdana, Rikisetya Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.765

Abstract

Objective: This study aims to explore the impact of preeclampsia on fetal outcomes at birth.Methods: This research used a total sampling method with a cross-sectional design. The data were from all pregnant patients and newborns delivered at Respati Maternity and Children’s Hospital, Tasikmalaya, in 2023. Hypertensive disorders included preeclampsia, severe preeclampsia (SPE), superimposed preeclampsia, gestational hypertension (GHT), impending eclampsia, and chronic hypertension, while fetal outcomes included birth weight and prematurity.Results: A total of 1,190 subjects were included. There was an association between birth weight and SPE (p < 0.01, PR = 7.64), GHT (p < 0.01, PR = 13.33), and superimposed preeclampsia (p < 0.05, PR = 5.24). A significant association was found between prematurity and SPE (p < 0.01, PR = 2.79), impending eclampsia (p < 0.05, PR = 3.63), superimposed preeclampsia (p < 0.01, PR = 4.47), and chronic hypertension (p < 0.05, PR = 3.63). No significant associations were found between other variables and low birth weight or prematurity.Conclusion: There is an association between SPE and superimposed preeclampsia with low birth weight and prematurity, between GHT and low birth weight, and between impending eclampsia and prematurity.Hubungan antara Preeklampsia Berat, Hipertensi Gestasional, Impending Eklampsia, Preeklampsia, Superimposed Preeklampsia, dan Hipertensi Kronis terhadap Luaran Janin di RSIA Respati TasikmalayaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai dampak preeklampsia terhadap luaran bayi saat lahir.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode total sampling, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan data pasien ibu hamil dan janin yang dilahirkan di RSIA Respati Tasikmalaya pada tahun 2023. Variabel gangguan hipertensi meliputi preeklampsia, preeklampsia berat (PEB), superimposed preeklampsia, hipertensi gestasional (HTG), impending eklampsia, dan hipertensi kronis, sedangkan variabel luaran bayi meliputi berat badan lahir (BBL) dan prematuritas.Hasil: Sebanyak 1.190 subjek dikumpulkan. Terdapat hubungan yang signifikan antara BBL dengan PEB (p < 0,01, PR = 7,64), HTG (p < 0,01, PR = 13,33), dan superimposed preeklampsia (p < 0,05, PR = 5,24). Terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas dengan PEB (p < 0,01, PR = 2,79), impending eklampsia (p < 0,05, PR = 3,63), superimposed preeklampsia (p < 0,01, PR = 4,47), dan hipertensi kronis (p < 0,05, PR = 3,63). Tidak ditemukan hubungan antara variabel lainnya dan BBLR atau prematuritas.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara PEB dan superimposed preeklampsia dengan berat badan lahir rendah dan prematuritas, terdapat hubungan antara HTG dan BBLR, dan terdapat hubungan antara impending eklampsia dan prematuritas.Kata kunci: Fetomaternal, Luaran Janin, Preeklampsia, RSIA Respati.
Risk of Malposition in a 56-Year-Old Female Lippes Loop IUD User: A Case Report Sepriano, Muhammad Ardi Levrian; Susilo, Artha Falentin Putri; Sasotya, Raden Mas Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.766

Abstract

Introduction: The intrauterine device (IUD) stands as a widely utilized contraceptive modality globally, renowned for its effectiveness and long-term reliability. However, within the spectrum of potential complications, the occurrence of perforation, though rare, represents a significant concern due to its potential for serious sequelae. Perforation entails the unintended penetration of the uterine wall by the IUD, leading to its migration beyond the uterine cavity. Despite its gravity, perforation often presents as an asymptomatic phenomenon, with some cases remaining undetected for extended durations following insertion. Lippes loop IUD complications are relatively low risk like malposition, embedded, or perforation.Case Report: This study documents a notable case involving a 56-year-old, P1A0, who had been utilizing an intrauterine device for a remarkable 31-year period. Referred from Hermina Arcamanik Hospital, the patient sought intervention for IUD removal, notwithstanding the absence of associated symptoms. Notably, physical examination and laboratory analyses yielded unremarkable findings, highlighting the latent nature of this complication. Further diagnostic elucidation through ultrasound examination confirmed the presence of a Lippes Loop (LL) IUD embedded within the uterine cavity. The intrauterine device (IUD) became embedded, rendering it impossible to remove. The IUD extraction is performed using hysteroscopy. Subsequent peri hysteroscopic extraction of the IUD unveiled partial embedding within the posterior uterine cavity, necessitating precise intervention to mitigate potential complications. Fortunately, postoperative surveillance revealed an absence of pain or hemorrhagic complications, culminating in the patient’s discharge on the first postoperative day. Conclusion: Constituted primarily of plastic material, LL IUDs offer prolonged utility devoid of significant adverse sequelae, underscoring their role as a viable contraceptive option with a slight risk of embedded for women seeking enduring contraception.Risiko Malposisi pada Akseptor Lippes Loop IUD pada Wanita Usia 56 Tahun: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan metode kontrasepsi yang banyak digunakan di seluruh dunia karena efektivitas dan keandalannya dalam jangka panjang. Namun, di antara berbagai potensi komplikasi, perforasi menjadi salah satu kekhawatiran utama meskipun jarang terjadi, mengingat potensi dampak serius yang dapat ditimbulkannya. Perforasi terjadi ketika IUD secara tidak sengaja menembus dinding rahim, menyebabkan migrasi IUD keluar dari kavitas uterus. Meskipun serius, komplikasi ini sering ersifat asimtomatik dan tidak terdeteksi dalam jangka waktu lama setelah pemasangan. Komplikasi IUD tipe lippes loop dapat terjadi seperti malposisi, embedded atau perforasi, tetapi pada kasus yang jarang. Presentasi Kasus: Studi ini melaporkan kasus menarik pada seorang wanita berusia 56 tahun, P1A0, yang telah menggunakan IUD selama 31 tahun. Pasien dirujuk dari RS Hermina Arcamanik untuk menjalani prosedur pengangkatan IUD, meskipun tidak mengalami gejala terkait. Pemeriksaan fisik dan analisis laboratorium tidak menunjukkan kelainan, menekankan sifat laten komplikasi ini. Pemeriksaan ultrasonografi lebih lanjut mengonfirmasi keberadaan IUD jenis Lippes Loop (LL) yang tertanam di dalam kavitas rahim. Prosedur histeroskopi dilakukan karena IUD tertanam di dalam kavitas rahim sehingga membuat IUD sulit untuk diekstraksi secara normal. Saat prosedur histeroskopi, ditemukan bahwa sebagian IUD tertanam di dinding posterior rahim, memerlukan intervensi presisi guna mencegah komplikasi lebih lanjut. Pemantauan pascaoperasi tidak menunjukkan adanya nyeri atau komplikasi perdarahan, dan pasien dipulangkan pada hari pertama setelah operasi.Kesimpulan: Karena terbuat dari bahan dasar plastik, IUD LL menawarkan masa pemakaian yang lama tanpa menimbulkan efek samping yang signifikan, menjadikannya pilihan kontrasepsi yang andal, namun dengan risiko kecil terjadi embedded bagi wanita yang mencari solusi kontrasepsi jangka panjang.Kata kunci: Alat kontrasepsi dalam rahim, embedded, lippes loop, risiko
Tubal Pathology in Infertility Tjahyadi, Dian
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.845

Abstract

Infertility is a complex reproductive issue which requires thorough evaluation and targeted intervention. A key cause of female infertility is fallopian tube dysfunction, which plays role in egg transport and fertilization. Structural damage to the tubes, including blockages, adhesions, and deformities, significantly reduces fertility potential. One major cause of tubal disease is sexually transmitted infections, especially Chlamydia trachomatis and Neisseria gonorrhoeae, which can lead to pelvic inflammatory disease (PID). 1 In regions where Mycobacterium tuberculosis infection is still prevalent, genital tuberculosis is another contributor to tubal disease, causing inflammation and eventual obstruction. Chronic infection promotes scarring, narrowing, and complete obstruction of the fallopian tubes. Additionally, endometriosis can also exacerbate tubal dysfunction by creating adhesions and disrupting normal tube anatomy
Overview of Menstrual Patterns in Female Patients Diagnosed with Tuberculosis with a History of Infertility at DOTS Polyclinic Hasan Sadikin Hospital and Community Health Centers in Bandung City Madjid, Tita Husnitawati; Utomo, Suhendro Rahmat; Susilo, Artha Falentin Putri; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Arya, Insi Farisa Desy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i1.725

Abstract

Introduction: Female genital tuberculosis (FGTB) is one of the leading causes of infertility in countries with high cases of tuberculosis. However, there is a lack of data showing the menstrual patterns of FGTB patients in Indonesia. This study was conducted to describe the menstrual patterns of female patients diagnosed with TB and who have a history of infertility at the Directly Observed Treatment Short Course Polyclinic of Hasan Sadikin Hospital and community health centers in Bandung City.Method: This is a descriptive observational study using primary data. The subjects were outpatient TB patients with a history of infertility in the Directly Observed Treatment Short Course polyclinic of Hasan Sadikin Hospital and community health centers in Bandung City from 2018 to 2022. Data collection was conducted through questionnaire-based interviews.Results: Out of 950 TB patients of childbearing age recorded in medical records, 41 patients matched the specified criteria. The menstrual disorders experienced by patients included polymenorrhagia, oligomenorrhea, amenorrhea, prolonged menstrual cycles, irregular cycles, hypomenorrhea, heavy menstrual bleeding, and intermenstrual bleeding.Conclusion: The most common menstrual disorders in TB patients with a history of infertility were irregular cycles (36.6%), hypomenorrhea (31.7%), and oligomenorrhea (19.5%).Gambaran Pola Menstruasi pada Pasien Perempuan dengan Diagnosis Tuberkulosis dan Riwayat Infertilitas di Poli DOTS RSHS dan Puskesmas Kota BandungAbstrakPendahuluan: Female genital tuberculosis merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pada negara dengan kasus tuberkulosis yang tinggi. Sebagai salah satu dari gejalanya, belum ada data yang menunjukkan pola menstruasi dari pasien female genital tuberculosis di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola menstruasi pada pasien wanita dengan diagnosis tubekulosis dan memiliki riwayat infertilitas di Poliklinik Directly Observed Treatment Short Course Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Puskesmas Kota Bandung.Metode: Penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer. Subjek penelitian adalah pasien tuberkulosis wanita dengan riwayat infertilitas yang dirawat jalan di poliklinik Directly Observed Treatment Short Course Rumah Sakit Hasan Sadikin dan 4 Puskesmas di Kota Bandung dari tahun 2018 - 2022. Subjek diperoleh melalui wawancara berbasis kuesioner.Hasil: Dari 950 pasien tuberkulosis wanita usia subur yang terdata di rekam medis, didapatkan 41 data pasien yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Gangguan menstruasi yang dialami pasien dapat berupa polimenore, oligomenore, amenore, siklus menstruasi yang memanjang, siklus yang irreguler, hipomenore, heavy menstrual bleeding, dan perdarahan intermenstrual.Kesimpulan: Gangguan menstruasi yang paling sering terjadi pada pasien TB dengan riwayat infertilitas adalah siklus yang irreguler (36.6%), hipomenore (31.7%), dan oligomenore (19.5%).Kata Kunci: Infertilitas, Kota Bandung, Pasien TB wanita, Pola Menstruasi.

Page 1 of 3 | Total Record : 25