cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Correlation between Leukocyte Esterase Levels and Pregnancy Latency Interval in Pregnant Women with a History of Preterm Premature Rupture of Membranes Andayani, Aviasti Pratiwi; Bayuaji, Hartanto; Siddiq, Amillia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.681

Abstract

Introduction: Bacterial colonization of the vagina and cervix can lead to intra amniotic infections that increase the risk of chorioamnionitis, premature rupture of membranes, and preterm labor. Leukocyte esterase (LE) is an alternative test that is affordable and easy to perform to predict the risk of preterm labor due to urinary tract infection. We examined the correlation between leukocyte esterase levels and gestational latency interval in pregnant women with preterm premature rupture of membranes.Methods: This study is an observational study with a cross-sectional design from the medical records of singleton pregnancy patients with preterm premature rupture of membranes undergoing conservative treatment at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. Researchers analyzed the difference in mean latency interval and the correlation between leukocyte esterase levels and latency interval. The data processing results regarding the correlation between variables are presented in tables and graphs.Results: Of 101 patients, 76 patients met the inclusion criteria; 26 patients (34%) had negative results for leukocyte esterase examination, while 50 patients (66%) were positive. The average latency period of all patients was 2.16 days. The latency period ≤2 days occurred in 53% of patients, with the shortest latency period found in patients with leukocyte esterase +4 levels (1.5 days). Moreover, the ANOVA test results show that the correlation between the age latency period and leukocyte esterase levels obtained a value of f-ratio =1.44 with a p-value of 0.65, indicating no significant results at p<0.05.Conclusion: This study found no significant correlation between leukocyte esterase levels and the latency interval after preterm premature membrane rupture.Hubungan antara Kadar Leukosit Esterase dan Interval Masa Latensi Kehamilan pada Ibu Hamil dengan Riwayat Ketuban Pecah Dini pada Kehamilan PrematurAbstrakPendahuluan:Penjalaran infeksi bakteri dari kolonisasi bakteri pada vagina dan serviks menyebabkan infeksi intraamniotik yang meningkatkan risiko korioamnionitis, ketuban pecah dini, serta persalinan prematur. Penapisan infeksi saluran kemih (ISK) melalui pemeriksaan kadar leukosit esterase (LE) merupakan alternatif pemeriksaan yang terjangkau dan mudah dilakukan untuk mencegah persalinan prematur. Penelitian ini meneliti hubungan antara kadar leukosit esterase dan masa latensi kehamilan pada ibu hamil dengan ketuban pecah dini <34 minggu.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross-sectional dari rekam medik pasien hamil tunggal dengan ketuban pecah dini <34 minggu yang menjalani perawatan konservatif di RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung. Kriteria eksklusi pada penelitian ini ialah penyulit lain pada ibu dan janin dan pemberian tokolitik. Peneliti menganalisis perbedaan rerata masa latensi serta hubungan kadar leukosit esterase dengan masa latensi kehamilan pada ketuban pecah dini <34 minggu. Hasil olah data mengenai hubungan antar variabel disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.Hasil: Dari 101 pasien, terdapat 76 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, didapatkan hasil pemeriksaan leukosit esterase negatif sebanyak 34% (26 pasien), dan positif pada 66% pasien (50 pasien). Rerata masa latensi dari seluruh pasien ialah 2,16 hari. Masa latensi ≤ 2 hari terjadi pada 53% pasien dengan masa latensi paling singkat didapatkan pada pasien dengan kadar leukosit esterase +4 yaitu 1,5 hari. Pada uji Anova hubungan rerata masa latensi dengan kadar leukosit esterase didapatkan nilai rasio-f = 1,44 dengan nilai p 0.65 yang menunjukkan hasil tidak signifikan pada p<0.05.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada korelasi signifikan antara kadar leukosit esterase dengan lama masa latensi kehamilan setelah ketuban pecah dini <34 minggu.Kata kunci: Infeksi saluran kemih; leukosit esterase; ketuban pecah dini; masa latensi
The Success Rate for Diagnosing Congenital Anomalies During Prenatal Firmansyah, Silva Elifa; Pribadi, Adhi; Pramatirta, Akhmad Yogi; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.722

Abstract

Introduction: This study aimed to determine the success of prenatal diagnosis in cases of congenital abnormalities at RSHS Bandung.Methods: This study was descriptive and cross-sectional. We collected data from all neonatal patients with congenital abnormalities who received prenatal care at RSHS Bandung between January 1, 2021, and December 31, 2023. Data processing used Microsoft Excel 16.66.1 and IBM SPSS Statistics.Result: The results show that 59 patients, or 93.6%, had appropriate abnormalities diagnosed, while only 4 patients, or 6.3%, had inappropriate abnormalities.Conclusion: Prenatal diagnosis of congenital abnormalities showed a fairly high concordance value, namely 93.6%.Tingkat Keberhasilan Penegakan Diagnosis Kelainan Kongenital pada saat PrenatalAbstrakTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan diagnosis prenatal pada kasus kelainan kongenital di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional. Data diperoleh dari seluruh pasien neonatal yang disertai kelainan kongenital pada saat prenatal di RSHS Bandung 1 Januari 2021 – 31 Desember 2023. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 16.66.1 dan IBM SPSS Statistics.Hasil: Hasil yang didapatkan yaitu akurasi pasien terdiagnosis sesuai ada kelainan sebanyak 59 atau sebesar 93.6% dan terdiagnosis tidak sesuai ada kelainan sebanyak 4 atau sebesar 6.3%. Kesimpulan: Penegakan diagnosis kelainan kongenital pada saat prenatal menunjukkan nilai kesesuaian yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,6%.Kata kunci: Prenatal, kelanan kongenital,
Comparison of Clinical Characteristics between Pregnant Women Confirmed with Covid-19 with and Without Severe Preeclampsia Pangaribuan, Roma Berlian; Anwar, Anita Deborah; Sasotya, RM Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.701

Abstract

Background:Several clinical studies have reported that COVID-19 was associated with an increased risk of preeclampsia and preeclampsia-like syndrome in infected pregnant women, but the results are still controversial. This study aims to compare the clinical characteristics of pregnant women with confirmed COVID-19 with and without severe preeclampsia.Methods:This retrospective study of pregnant women confirmed for COVID-19 was carried out at RSUP Dr. Hasan Sadikin from April 1st, 2020 to April 30th, 2022. Epidemiological data, clinical features, and laboratory results of subjects with and without severe preeclampsia in pregnant COVID-19 patients were collected and analyzedResults: Eighty-six subjects were in our study, with 42 subjects with severe preeclampsia and 44 subjects without severe preeclampsia. The average age of mothers in this study was 26 years, with a more significant proportion at term. The proportion of primigravida with severe preeclampsia was significantly more than those without severe preeclampsia (71.42% vs 29.54%, p=0.02). There was no significant difference in clinical severity between patients with or without severe preeclampsia (p>0.05). Comparing laboratory parameters showed significant differences in the laboratory characteristics of hemoglobin (28.57% vs 2.2%, p=0.03) and platelets (33.33% vs 4.54%, p=0.02).Conclusion: Our study showed that the clinical characteristics and disease severity were not significantly different. Laboratory markers correlate significantly with the severity of maternal disease, so they can be used as prognostic indicators.Perbandingan Karakteristik Klinis Ibu Hamil Terkonfirmasi Covid- 19 dengan dan Tanpa Preeklamsia BeratAbstrakLatar Belakang: Beberapa studi klinis telah melaporkan bahwa Infeksi COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan risiko preeklamsia dan sindroma yang mirip preeklamsia pada wanita hamil yang terinfeksi, tetapi hasilnya masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan karakteristik klinis ibu hamil yang terkonfirmasi COVID-19 dengan dan tanpa preeklamsia berat.Metode: Penelitian secara retrospektif pada ibu hamil positif COVID-19 ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin dari tanggal 1 April 2020 sampai dengan 30 April 2022. Data berupa epidemiologi, gambaran klinis, hasil laboratorium subjek dengan dan tanpa preeklamsia berat pasien hamil COVID-19 dikumpulkan dan dianalisisHasil: Data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini adalah delapan puluh enam subjek yang terbagi atas 42 subjek dengan preeklamsia berat dan 44 subjek tanpa preeklamsia berat. Usia rata-rata ibu dalam penelitian ini 26 tahun, dengan proporsi yang lebih signifikan pada usia kehamilan cukup bulan. Proporsi primigravida dengan preeklamsia berat lebih signifikan dibandingkan dengan tanpa preeklamsia berat (71.42% vs 29.54%, p=0.02). Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada keparahan klinis di antara pasien dengan atau tanpa preeklamsia berat (p>0.05). Perbandingan parameter laboratorium didapatkan perbedaan signifikan pada karakteristik laboratorium hemoglobin (28,57% vs 2.2%, p=0.03) dan trombosit (33.33% vs 4,54%, p=0.02).Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik klinis dan keparahan penyakit tidak berbeda secara signifikan pada kedua pasien. Penanda laboratorium berkorelasi signifikan dengan tingkat keparahan penyakit ibu sehingga dapat digunakan sebagai indikator prognostik.Kata kunci: COVID-19, Karakteristik Klinis , Kehamilan, Preeklamsia Berat
Acute Fatty Liver of Pregnancy: A Rare Case Further Complicated with Disseminated Intravascular Coagulation Junita, Nuria; Bernolian, Nuswil
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.687

Abstract

Introduction: An acute fatty liver of pregnancy is a rare and potentially deadly pregnancy complication. A case of acute fatty liver of pregnancy that is complicated with disseminated intravascular coagulation is hereby presented.Case Report: A 27-years old, 36 weeks pregnant female is presented with jaundice, elevated LDH and liver enzymes, and thrombocytopenia. An emergency obstetric ultrasonography examination found an unremarkable pregnancy without a placental abruption. The patient was managed conservatively and she delivered 6 days after the presentation. The neonate was treated in the neonatal intensive care unit due to a meconium aspiration. The patient suffered from a continued uterine bleeding and she was managed with the Sayeba’s technique. The laboratory work-up showed a disseminated intravascular coagulation with anemia and thrombocytopenia. The patient was treated with a packed red cell and fresh frozen plasma transfusion. The patient required an intensive care treatment. Discussion: An acute fatty liver of pregnancy is a potentially deadly complication of pregnancy and it requires a multidisciplinary, intensive support. The acute fatty liver of pregnancy symptoms are similar to those of a HELLP syndrome. An acute fatty liver of pregnancy requires a prompt delivery followed with a intensive support. Complications of an acute fatty liver of pregnancy include a hepatic failure and a disseminated intravascular coagulation which should be managed accordingly.Conclusion: An acute fatty liver of pregnancy requires a prompt diagnosis and treatment to achieve the best possible maternal outcome.Acute Fatty Liver of Pregnancy: Kasus Jarang Dengan Komplikasi Koagulasi Intravaskular DiseminataAbstrak Pendahuluan: Acute fatty liver of pregnancy adalah komplikasi kehamilan yang langka dan dapat mematikan. Laporan ini memaparkan sebuah kasus acute fatty liver of pregnancy dengan komplikasi koagulasi intravascular diseminata.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 27 tahun, hamil 36 minggu datang dengan icterus, peningkatan kadar LDH dan enzim hati, serta trombositopenia. Pemeriksaan ultrasonografi obstetric di IGD menemukan kehamilan tanpa komplikasi dan tanpa solusio plasenta. Pasien ditatalaksana secara konservatif dan melahirkan 6 hari pasca-perawatan. Neonatus dirawat di ruang rawat intensif karena aspirasi meconium. Pasien mengalami perdarahan uterus dan ditatalaksana dengan kondom Sayeba. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya koagulasi intravaskular diseminata dengan anemia dan trombositopenia. Pasien ditatalaksana dengan transfuse packed red cell dan fresh frozen plasma. Pasien memerlukan perawatan intensif. Pembahasan: Acute fatty liver of pregnancy adalah komplikasi kehamilan yang dapat mematikan dan memerlukan tatalaksana intensif multidisipliner. Acute fatty liver of pregnancy memiliki gejala yang menyerupai sindrom HELLP. Acute fatty liver of pregnancy ditatalaksana dengan melakukan persalinan diikuti dengan terapi intensif. Komplikasi acute fatty liver of pregnancy meliputi gagal hepar dan koagulasi intravascular diseminata yang harus ditatalaksana dengan tepat.Kesimpulan: Acute fatty liver of pregnancy memerlukan diagnosis dan tatalaksana yang cepat untuk meningkatkan luaran maternal.Kata kunci: acute fatty liver of pregnancy, koagulasi intravascular diseminata, komplikasi kehamilan 
Anencephaly with Prior Caesarean Section: A Management Dilemma for Lethal Fetal Condition to Perform Labor Induction Rotinggo, Rico; Siddiq, Amillia; Hidayat, Yudi Mulyana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.756

Abstract

Introduction: A failure of cranial neuropore closure during the third to fourth week of gestation is called anencephaly. It leads to the lack of a significant part of the brain, skull, and scalp. The recommended method of delivery in lethal conditions, such as anencephaly, is vaginal delivery. This case report describes anencephalic pregnancy with a history of prior cesarean section. Labor induction held a dilemma to perform, but cesarean section poses a risk of morbidity to the mother and will not improve fetal outcomes.Case Illustration: A 37-year-old woman, G4P3A0, 26-27 weeks of pregnancy, presented with a planned termination of pregnancy. The patient was known to have congenital malformation and anencephaly. The patient had a history of prior cesarean section. During admission, the patient showed no signs of delivery. The patient was then planned for labor induction with misoprostol 50 mcg on the posterior fornix. The delivery outcome was no uterine rupture or significant bleeding.Conclusion: Vaginal delivery is the first choice for the delivery method in cases with poor prognosis. Avoiding a cesarean section will protect the mother from further morbidity from a cesarean section.Anensefali dengan Riwayat Seksio Sesarea: Dilema Manajemen untuk Kondisi Janin Yang Lethal dalam Melakukan Induksi PersalinanAbstrakPendahuluan: Kegagalan penutupan neuroporus kranial selama minggu ketiga hingga keempat kehamilan disebut anensefali. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sebagian besar otak, tengkorak, dan kulit kepala. Metode persalinan yang direkomendasikan dalam kondisi janin yang tidak bisa bertahan hidup, seperti anensefali, adalah persalinan melalui vagina. Laporan kasus ini akan menggambarkan kehamilan dengan anensefali pada pasien dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya. Induksi persalinan menimbulkan dilema untuk dilakukan, namun seksio sesarea meningkatkan risiko morbiditas bagi ibu tanpa memperbaiki hasil pada janin.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun, G4P3A0, usia kehamilan 26 - 27 minggu, datang dengan rencana terminasi kehamilan. Pasien diketahui memiliki malformasi kongenital dan anensefali. Pasien juga memiliki riwayat seksio sesarea sebelumnya. Saat masuk rumah sakit, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda persalinan. Pasien kemudian direncanakan untuk induksi persalinan dengan misoprostol 50 mcg yang dimasukkan ke fornix posterior. Hasil persalinan tidak menunjukkan adanya ruptur uterus atau perdarahan yang signifikan.Kesimpulan: Persalinan melalui vagina adalah pilihan pertama untuk metode persalinan pada kasus dengan prognosis buruk. Menghindari seksio sesarea akan melindungi ibu dari morbiditas lebih lanjut akibat seksio sesarea.Kata kunci: Anensefali; Induksi; Letal; Manajemen Persalinan; Riwayat Seksio Sesarea
Sleeve Hymen as a Penetrate Problem in a Newly Married Woman: A Rare Case Report Surya, Raymond; Aryasatiani, Ekarini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.748

Abstract

Introduction: Imperforate hymen (IH), an uncommon congenital anomaly, is a failure to completely canalize the hymen. This report aims to describe a sleeve hymen in a newly married woman and the surgical approach to the patient.Case Illustration: A 24-year-old newly married woman came to the gynecology polyclinic complaining of difficulty in sexual intercourse in the last 6 months. She felt painful and hard penile penetration since the first time of sexual intercourse. Inspection of external genitalia showed there was a hymen covering all vaginal introitus without an erythematous surface. The diagnosis indicated that the patient had a sleeve hymen. The patient underwent a U-shaped incision far away from the urethra as a hymenectomy.Discussion: Most of the IH patients are asymptomatic until menarche. Excess of estrogen status can cause the thickening of the hymen, called the sleeve hymen or “redundant” hymen. Meanwhile, epithelial cells’ failure in the center of the hymen to degenerate or excess cell proliferation may cause a microperforate hymen. There are several choices of treatment for IH, including hymenectomy (cruciate incision or hymen excision), hymen-preserving surgeries (simple vertical incision and annular hymenotomy), carbon dioxide laser, or insertion of a Foley catheter.Conclusion: Good anamnesis and physical examination can lead to the correct diagnosis of sleeve hymen. Hymenectomy is one of the alternative treatments for married women who have less concern about hymen-preserving surgery.Penebalan Himen sebagai Gangguan Penetrasi pada Wanita Baru Menikah: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Himen imperforata (HI) merupakan kelainan kongenital yang tidak lazim didefinisikan sebagai kegagalan dalam kanalisasi himen. Laporan ini bertujuan untuk menggambarkan penebalan himen pada wanita yang baru menikah dan pendekatan pembedahan kepada pasien.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita baru menikah berusia 24 tahun datang ke poliklinik ginekologi mengeluh gangguan hubungan seksual sejak 6 bulan lalu. Dia merasa sulit untuk penetrasi dan nyeri sejak pertama kali berhubungan seksual. Inspeksi pada genitalia eksterna memperlihatkan terdapat himen yang menutupi seluruh introitus vagina tanpa permukaan eritema. Diagnosis pada pasien ialah penebalan himen. Wanita tersebut dilakukan insisi bentuk U menjauhi uretra sebagai himenektomi. Diskusi: Kebanyakan pasien HI asimptomatik sampai menars. Kelebihan estrogen dapat menyebabkan penebalan himen yang dikenal sebagai himen “tidak berguna”. Sementara itu, kegagalan sel epitel di tengah himen untuk degenerasi atau kelebihan proliferasi sel dapat menyebabkan himen mikroperforata. Beberapa pilihan tatalaksana pada HI, yaitu himenektomi (insisi krusiata atau eksisi himen), pembedahan dengan konservasi himen (insisi vertikal simple dan himenotomi anular), laser CO2, atau insersi kateter Foley.Kesimpulan: Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik dapat membantu mendiaganosis penebalan himen dengan tepat. Himenektomi merupakan salah satu tatatalaksana alternatif untuk wanita yang sudah menikah.Kata kunci: himen imperforate; himenektomi; microperforate hymen; penebalan himen,
A Suspicion of Potter Syndrome in G4P2A1 at 33 Weeks Gestation with Oligohydramnios and Severe Preeclampsia: A Case Report Arafah, Muhammad Gumelar; Mose, Glen Marion; Gurnadi, Jeffry Iman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.714

Abstract

Background: Potter syndrome is a rare case caused by oligohydramnios due to kidney failure in a fetus. Potter syndrome is characterized by pulmonary hypoplasia, skeletal malformation, and kidney abnormalities.Case presentation: A 45-year-old G4P2A1 at 33 weeks gestation with oligohydramnios and severe preeclampsia came to the maternal and perinatal Emergency Unit at the Cibabat Regional General Hospital, Cimahi, complaining of labor contractions and delivered a baby. A male baby of 33 weeks gestation with a birth weight of 1295 grams was delivered. The baby had severe respiratory distress at birth, requiring resuscitation. Multiple congenital anomalies, such as widely separated eyes with epicanthic folds, low-set ears, receding chin, broad nasal bridge, and polydactyly, were noted. After 6 hours of life, the baby died due to respiratory failure.Discussion: In this case, clinical manifestations of Potter’s facies and a history of oligohydramnios support the suspicion of Potter syndrome. An autopsy or further examination was not carried out, so the etiology in this case has not been obtained.Conclusion: There was a suspicion of Potter syndrome obtained from clinical manifestations and a history of oligohydramnios.Dugaan Sindrom Potter pada G4P2A1 Parturien 33 Minggu dengan Oligohidramnion dan Preeklamsia Berat: Sebuah Laporan KasusAbstrakLatar belakang: Sindrom Potter merupakan kasus langka yang disebabkan oleh kurangnya cairan ketuban akibat gangguan pada ginjal janin. Pada kasus potter syndrome dapat ditemukan hipoplasia pulmonal, malformasi tulang, dan kelainan ginjal.Presentasi kasus: Ibu 45 tahun dengan G4P2A1 usia kehamilan 33 minggu dengan oligohidramnion dan preeklamsia berat datang ke IGD Maternal dan Perinatal RSUD Cibabat Cimahi dengan keluhan kontraksi persalinan dan melahirkan spontan bracht pervaginam. Bayi laki-laki usia 33 minggu, berat badan 1295gram, lahir dengan mengalami distress pernafasan berat dan dilakukan resusitasi. Kelainan kongenital multiple didapatkan pada bayi, yaitu jarak mata lebih lebar, adanya lipatan kulit yang menutupi sudut mata, posisi telinga lebih rendah, dagu lebih kecil, pangkal hidung yang lebih lebar, dan polidaktili. Dilakukan terapi suportif, setelah enam jam bayi meninggal karena distress pernafasan.Diskusi: Pada kasus ini ditemukan manifestasi klinis potter facies dan riwayat oligohidramnion yang mendukung kecurigaan terhadap Sindrom Potter. Pada kasus tidak dilakukan pemeriksaan otopsi maupun pemeriksaan lanjutan sehingga etiologi pada kasus ini belum didapatkan.Kesimpulan: Pada kasus ini didapatkan kecurigaan Sindrom Potter yang didapat dari manifestasi klinis dan riwayat oligohidramnion.Kata kunci: Sindrom Potter, oligohidramnion
Case Report: Cesarean Scar Pregnancy in 8 Weeks Pregnancy with History of Recurrent Pregnancy Loss Apriliyani, Sinta Nur; Adinata, Devin Gifarry; Tjahja, Raden
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.688

Abstract

Introduction: Caesarean scar pregnancy is a complication in early pregnancy implants gestational sac in the myometrium and fibrous tissues at the site of a previous uterine scar. Recurrent pregnancy loss defines loss as two or more pregnancies that do not have to be consecutive. This condition presents a substantial risk for severe maternal morbidity and associated with psychological aspects.Case Illustration: Mrs. D 37 years old, G6P2A3 in her 8 weeks pregnancy. With significant lower abdominal pain and vaginal bleeding occurs for two days in the beginning of pregnancy. Blood pressure of 70/50mmHg, pulse rate of 100x/min, respiration rate of 22x/min, temperature of 36,6°C, SpO2 of 100%, hemoglobin of 10,7 gr/dL. Abdominal examination was significant for rebound tenderness on lower abdomen. Transvaginal ultrasound which showed a fetus in uterine cavity and a moderate amount of free fluid in intraperitoneal cavity. Upon surgery, 1000cc of blood was found pooled in the peritoneal cavity, and laceration with length of 2 cm, about 5 cm below the uterine fundus.Conclusions: Caesarian scar pregnancy incident is increasing, as a result of high caesarian delivery rate, so the clinician should always ask for the past obstetrical history, particularly in patient with recurrent pregnancy loss with curettage procedure.Laporan Kasus:Kehamilan Bekas Luka Sesar pada Kehamilan 8 Minggu dengan Riwayat Keguguran BerulangAbstrakPendahuluan: Kehamilan bekas luka caesar adalah komplikasi pada awal kehamilan yang menanamkan kantung kehamilan di miometrium dan jaringan fibrosa di lokasi bekas luka rahim sebelumnya. Keguguran berulang diartikan sebagai keguguran sebagai dua atau lebih kehamilan yang tidak harus terjadi secara berurutan. Kondisi ini menimbulkan risiko besar terhadap morbiditas ibu yang parah dan berhubungan dengan aspek psikologis.Ilustrasi Kasus: Ny. D 37 tahun, G6P2A3 dalam usia kehamilan 8 minggu, dengan nyeri perut bagian bawah yang signifikan dan perdarahan vagina terjadi selama dua hari di awal kehamilan. Tekanan darah 70/50mmHg, denyut nadi 100x/menit, laju pernapasan 22x/menit, suhu 36,6°C, SpO2 100%, hemoglobin 10,7 gr/dL. Pemeriksaan perut nyeri tekan signifikan pada perut bagian bawah. USG transvaginal menunjukkan janin dalam rongga rahim dan sejumlah cairan bebas dalam rongga intraperitoneal. Setelah operasi, ditemukan 1000cc darah menggenang di rongga peritoneum, dan terjadi laserasi sepanjang 2cm, sekira 5cm di bawah fundus uteri.Kesimpulan: Kejadian kehamilan bekas luka caesar semakin meningkat akibat tingginya angka kelahiran caesar sehingga dokter harus selalu menanyakan riwayat obstetri masa lalu, terutama pada pasien dengan keguguran berulang dengan tindakan kuretase.Kata kunci: kehamilan bekas luka sesar, keguguran berulang
Neutrophil-lymphocyte Ration Difference in Squamous Cell Carcinoma and Adenocarcinoma of Cervical Cancer Sinaga, Rislefia Amadina; Aditiyono, Aditiyono; Kurniadi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.732

Abstract

Introduction: Cervical cancer is the most commonly found malignancy in female reproductive system. There are two most found types of this cancer based on histopathologic finding, adenocarcinoma and squamous cell carcinoma (SCC). Each type has different outcome, especially in later stages. Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) is an indicator that can pinpoint the inflammation severity level, hence able to predict outcome and prognosis in malignancy, including cervical cancer.Objective: This study aimed to determine the difference of NLR in both types of cervical cancer Methods: This study used retrospective analytic observational with cross-sectional design. Data was sampled from Prof. dr. Margono Soekarjo General Regional Hospital medical record from patients diagnosed with cervical cancer of both types during January to December 2022. Mann-Whitney test was performed to determine the difference of NLR value between both types of cervical cancer. Result: Between January and December 2022, 68 patients were diagnosed with cervical cancer. Of these, 37 (54.41%) had squamous cell carcinoma (SCC) and 31 (45.59%) had adenocarcinoma. The neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) ranged from 1.55 to 25.99 in SCC patients, with a mean value of [insert mean value here]. For adenocarcinoma patients, the NLR ranged from 1.32 to 11.99. Conclusion: Neutrophil-lymphocyte ratio can’t differentiate squamous cell carcinoma and adenocarcinoma of cervival cancer.Perbedaan Rasio Neutrofil Limfosit pada Kanker Serviks Tipe Karsinoma Sel Skuamosa dan Tipe AdenokarsinomaAbstrakPendahuluan: Kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan pada sistem reproduksi wanita. Berdasarkan temuan histopatologi, terdapat dua jenis kanker serviks yang paling banyak ditemukan, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (SCC). Setiap jenis memiliki hasil yang berbeda, terutama pada tahap selanjutnya. Rasio neutrofil-limfosit (NLR) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan inflamasi sehingga dapat memprediksi outcome dan prognosis pada suatu keganasan, termasuk kanker serviks.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan NLR pada kedua jenis kanker serviks Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik retrospektif dengan desain cross-sectional. Data diambil dari rekam medis RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo mengenai pasien yang terdiagnosis kanker serviks kedua jenis tersebut selama bulan Januari hingga Desember 2022. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai NLR antara kedua jenis kanker serviks tersebut. Hasil: Antara Januari dan Desember 2022, terdapat 68 pasien yang terdiagnosis kanker serviks. Dari jumlah tersebut, 37 (54,41%) menderita karsinoma sel skuamosa (SCC) dan 31 (45,59%) menderita adenokarsinoma. Rasio neutrofil terhadap limfosit (NLR) berkisar antara 1,55 hingga 25,99 pada pasien SCC, dengan nilai rata-rata [masukkan nilai rata-rata di sini]. Untuk pasien adenokarsinoma, NLR berkisar antara 1,32 hingga 11,99. Kesimpulan: Rasio neutrofil-limfosit tidak dapat membedakan karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma kanker serviks.Kata kunci: Adenokarsinoma, Kanker Serviks, Rasio Neutrofil-Limfosit,
Adolescence Eclampsia and Maternal Mortality within Sociocultural Problem in Indonesia: A Case Report Rosalina, Phang; Nurdiawan, Windi; Judistiani, Raden Tina Dewi; Permadi, Wiryawan; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.697

Abstract

Introduction: Preeclampsia and eclampsia in adolescent pregnancy is closely related, especially in low-middle income countries. It becomes a public health issue not only in the present but also in the future due to potential complications and as a reflection of the social conditions of a country. This case aims to highlight adolescence eclampsia and current sociocultural and economic problem in Indonesia.Case Report: A 15-year-old, 9-months primigravida (G1P0A0), was referred to our center due to eclamptic seizure. Blood pressure was 160/110 mmHg and cervical dilation is 4 cm with adequate pelvic diameter. After 4 hours, cervical dilation progressed to 6 cm but followed by infrequent fetal heartbeat and CTG reveals category III with late deceleration. Emergency C-section was performed and patient admitted to ICU for 5 days afterwards. However, she was deteriorated and passed away.Conclusion: In addition to physiological immaturity, adolescence pregnancies often face sociocultural problems that lead to higher rates of hypertensive disorders of pregnancy in this population. Early recognition and knowledge of risk factors for preeclampsia are essential for good management, and a faster referral system will reduce maternal mortality.Eklamsia pada Remaja dan Kematian Ibu dalam Masalah Sosial Budaya di Indonesia: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan remaja sangat erat kaitannya, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di masa sekarang, tetapi juga di masa depan karena potensi komplikasi dan sebagai cerminan kondisi sosial suatu negara. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti eklamsia pada remaja dalam kaitannya dengan masalah sosial budaya dan ekonomi saat ini di Indonesia.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 15 tahun, primigravida 9 bulan (G1P0A0), dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung karena kejang eklamsia. Tekanan darah 160/110 mmHg dan dilatasi serviks 4cm degan diameter panggul yang memadai. Setelah 4 jam, dilatasi serviks berkembang menjadi 6cm, etapi diikuti oleh detak jantung janin yang jarang dan CTG menunjukkan kategori III dengan deselerasi lambat. Operasi caesar darurat dilakukan dan pasien dirawat di ICU selama 5 hari. Namun, keadaan pasien memburuk dan meninggal dunia. Kesimpulan: Selain imaturitas fisiologis, kehamilan remaja sering menghadapi masalah sosiokultural yang menyebabkan tingginya angka hipertensi kehamilan pada populasi ini. Pengenalan dini dan pengetahuan tentang faktor risiko preeklamsia sangat penting untuk manajemen yang baik, dan sistem rujukan yang lebih cepat akan mengurangi angka kematian ibu.Kata kunci: eklampsia, kehamilan remaja, kematian ibu, masalah sosiokultural