cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Reduction of Maternal Calponin 1: Evidence to Support Natural Progesterone Superiority to Nifedipine in the Treatment of Uncomplicated Premature Contraction Madjid, Tita Husnitawati; Judistiani, Tina Dewi; Heryawan, Iwan; Effendi, Jusuf
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.661

Abstract

Introduction: Premature contractions precede preterm birth, which is still a challenging subject as it may contribute to neonatal mortality. Treatment is often aimed at providing some time window for lung maturation. This study aims to compare the efficacy of nifedipine versus progesterone in postponing preterm birth and to provide evidence of the biological process by changes in maternal serum calponin 1 level.Method: An oral dose of 20 mg nifedipine given three times daily was compared to a single dose of 400 mg intra-vaginal natural progesterone in a single-blinded, non-randomized controlled trial. Selected subjects were normal, singleton pregnancies between 28 - 34 weeks of gestational age with premature contraction and intact amniotic membrane. The primary outcome was a reduction in the frequency and strength of contraction, and the secondary measure was the adjustment of serum calponin before and after the intervention.Results: This finding was supported by reducing calponin levels in maternal sera. Despite the reduction of frequency and strength of contractions occurring in the nifedipine arm, serum calponin level increased, indicating that the myometrial contractility pathway was not completely deterred.Conclusion: This study revealed that natural progesterone was superior to nifedipine in treating premature contraction. It was also supported by evidence of maternal sera calponin level reduction, indicating disruption of the contraction pathway.Penurunan Serum Calponin 1 Ibu: Bukti yang Mendukung Keunggulan Progesteron Alami dibandingkan Nifedipine dalam Pengobatan Kontraksi Dini Tanpa KomplikasiAbstrakPendahuluan: Kelahiran prematur selalu didahului oleh kontraksi prematur. Hingga saai ini kelahiran prematur masih menjadi topik yang menantang karena dapat berkontribusi pada kematian neonatal. Pengobatan sering bertujuan memberikan waktu untuk pematangan paru-paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas nifedipin versus progesteron dalam menunda kelahiran prematur dan untuk memberikan bukti proses biologis melalui perubahan kadar serum calponin 1 ibu.Metode: Dosis oral 20mg nifedipin yang diberikan tiga kali sehari dibandingkan dengan dosis tunggal 400mg progesteron alami intra-vagina dalam uji coba single-blinded non-randomized controlled. Subjek yang dipilih adalah kehamilan normal, kehamilan tunggal usia kehamilan antara 28 - 34 minggu dengan kontraksi prematur dan selaput ketuban yang utuh. Hasil utama adalah pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi dan ukuran sekunder adalah penyesuaian serum calponin sebelum dan sesudah intervensi.Hasil: Temuan ini didukung oleh penurunan kadar calponin dalam serum ibu. Meskipun terjadi pengurangan frekuensi dan kekuatan kontraksi pada lengan nifedipin, kadar serum calponin meningkat yang mungkin mengindikasikan bahwa jalur kontraktilitas miometrium tidak sepenuhnya terhalang.Kesimpulan: Hasilnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa progesteron alami lebih unggul daripada nifedipin dalam pengobatan kontraksi dini. Hal ini juga didukung oleh bukti penurunan kadar serum calponin ibu yang mengindikasikan gangguan pada alur kontraksi.Kata kunci: Calponin 1, Kontraksi dini, Kelahiran prematur, Nifedipine, Progesteron
Placenta Senescence and the Genesis of Preeclampsia: Is There Any Potential Role? – A Review Nugraha, Azka Ardian; Nugrahani, Annisa Dewi; Adriansyah, Putri Nadhira Adinda; Shodiq, Ja’far; Santoso, Dhanny Primantara Johari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.706

Abstract

Introduction: Preeclampsia is a hypertensive disorder of pregnancy and is responsible for around 800 maternal deaths. The etiologies of preeclampsia remain unidentified, although the premature senescence of the placenta is a possible cause. To date, various markers such as oxidative stress and mitochondrial dysfunction have been identified to be related to placental aging.Method: This study uses a narrative review approach; the search engines used are Scopus, PubMed, and Cochrane. The keyword combinations are placenta senescence AND aging AND preeclampsia, while excluding the results that are correspondence or not written in English.Results: The senescence of the placenta has a role in the pathophysiology of preeclampsia. The epigenetic alterations marked by the changes in the trophoblast’s telomere length as the result of the damage done by ROS to the mitochondria marked by various biomarkers can lead to accelerated cell death.Conclusion: Preeclampsia is due to premature placental aging and apoptosis, resulting in widespread blood vessel lining dysfunction.Penuaan Plasenta dan Asal Mula Preeklampsia: Adakah Peran Potensial? – Sebuah TinjauanAbstrakPendahuluan: Preeklampsia adalah gangguan hipertensi pada kehamilan yang menyebabkan sekitar 800 kematian ibu. Penyebab preeklampsia masih belum diketahui, namun penuaan dini plasenta merupakan salah satu penyebabnya. Sampai saat ini, berbagai markah seperti stress oksidatif dan disfungsi mitokondria telah teridentifikasi berhubungan dengan penuaan plasenta.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan naratif dan mesin pencari yang digunakan adalah Scopus, PubMed, dan Cochrane. Kombinasi kata kunci yang digunakan adalah penuaan plasenta DAN penuaan DAN preeklampsia dan mengecualikan hasil yang bersifat korespondensi atau tidak ditulis dalam bahasa Inggris.Hasil: Penuaan plasenta memiliki peran dalam patofisiologi preeklampsia. ROS merusak mitokondria dengan mengubah panjang telomer trofoblas. Perubahan tersebut dapat menyebabkan percepatan kematian sel yang bisa ditandai dengan berbagai biomarkerKesimpulan: Preeklampsia disebabkan oleh penuaan plasenta dini dan apoptosis yang mengakibatkan disfungsi lapisan pembuluh darah yang meluas.Kata kunci: Perubahan Epigenetik, Stres Oksidatif, Penuaan Plasenta, Preeklampsia
Correlation of Vitamin D and Antimullerian Hormone Level in Infertile Women with Polycystic Ovary Syndrome and Obesity Usman, Fatimah; Saleh, Irsan; Effendi, Kms. Yusuf; Putra, Hadrians Kesuma; Abadi, Adnan; Siahaan, Salmon Charles Pardomuan Tua; Kesty, Cindy; Rizda, Dian Permata; Stevanny, Bella; Lestari, Peby Maulina
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.723

Abstract

Introduction: Increasing amount of research indicates that women with PCOS are more likely to have a shortage in vitamin D with abnormally high anti-Müllerian hormone (AMH) levels. This study aims to assess the correlation between vitamin D and Anti-Mullerian Hormone (AMH) levels in infertile women with polycystic ovarian syndrome (PCOS) and obesity. Method: This observational cross-sectional study examined all obese women with PCOS who sought infertility treatment at Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang from August 2021 to November 2021. PCOS diagnosis was determined using the Rotterdam criteria. All research subjects underwent a physical examination and transvaginal ultrasound to evaluate body mass index (BMI) and polycystic ovary morphology. Blood samples were collected to evaluate their testosterone, AMH, and vitamin D levels. Statistical analysis was performed using the Spearman correlation test with IBM® SPSS Statistics version 24. Results: Thirty infertile women with PCOS and obesity were included in the study, with average age of 31.17±4.48 years and average BMI of 33.45±2.67 kg/m2. The majority of the subjects had polycystic ovary morphology (86.7%) and oligomenorrhea (76.7%). No correlation between BMI and vitamin D as well as AMH levels was found in infertile women with PCOS and obesity. The Spearman test showed moderate negative correlation (p = 0.011. r = -0.458) between vitamin D and AMH levels in infertile women with PCOS and obesity. Conclusion: There is a moderate negative correlation between vitamin D and AMH levels among infertile women with PCOS and obesity. Further research is required to comprehend the role of vitamin D in female fertility.Korelasi Vitamin D dan Kadar Hormon Anti-Müllerian pada Wanita Infertil dengan Sindrom Ovarium Polikistik dan ObesitasAbstrakPendahuluan: Semakin banyak penelitian melaporkan bahwa wanita dengan PCOS cenderung mengalami defisiensi vitamin D dengan penignkatan kadar hormon anti-Müllerian (AMH). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan vitamin D dan kadar AMH pada wanita infertil dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK) dan obesitas.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional potong lintang terhadap seluruh wanita infertil dengan SPOK dan obesitas yang di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Agustus 2021 hingga November 2021. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam. Seluruh subjek penelitian menjalani pemeriksaan fisik dan ultrasonografi transvaginal untuk menilai indeks massa tubuh (IMT) dan morfologi ovarium polikistik. Sampel darah dikumpulkan dari semua wanita untuk mengukur kadar testosteron, AMH, dan vitamin D. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman menggunakan IBM® SPSS Statistics versi 24.Hasil: Tiga puluh wanita infertil dengan SOPK dan obesitas dilibatkan dalam penelitian ini dengan usia rata-rata 31,17±4,48 tahun dan rata-rata IMT 33,45±2,67 kg/m2. Mayoritas subjek memiliki morfologi ovarium polikistik (86,7%) dan oligomenore (76,7%). Tidak ada korelasi antara IMT dan vitamin D maupun kadar AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Uji Spearman menunjukkan korelasi negatif sedang (p=0.011.r=-0.458) antara kadar vitamin D dan AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Kesimpulan: Kadar vitamin D berkorelasi negatif dengan kadar AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami peran vitamin D pada kesuburan wanita.Kata kunci: Anti-Müllerian Hormone, Indeks Massa Tubuh, Obesitas, Sindrom Ovarium Polikistik, Vitamin D
Exploring the Intricacies of Encephalocele Case in Pregnancy: Unraveling Risk Factors, Diagnostic Difficulty, and Implications for Maternal and Fetal Health Martani, Rizky Alamsyah; Santoso, Dhanny Primantara Johari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.708

Abstract

Introduction: Encephaloceles are a type of neural tube defect that carries a significant risk of death and health complications. Ultrasonography can be utilized for the early detection of encephaloceles starting from 11 weeks of gestation. This case report describes the diagnosis of an occipital encephalocele using ultrasonography during the third trimester of pregnancy and the subsequent monitoring of the condition until delivery. This report serves as a reminder of the potential implications and the importance of ongoing research in prenatal diagnosis of encephalocele to improve diagnostic and therapeutic strategies.Case Report: A 23-year-old woman, gravida 2, para 1 (G1P0A0), presented with lower abdominal pain without uterine contractions at 38 weeks of pregnancy, was consulted in the Department of Obstetrics and Gynecology of Slamet General District Hospital. She did nine antenatal visits; and three were performed through ultrasonography by a general practitioner. The occipital posterior defect was visualized with protruding mass consistent with an encephalocele during the third trimester when she was admitted to Slamet General Hospital Garut. A baby born by cesarean section with an encephalocele died three hours later.Discussion: Encephaloceles can be detected using two-dimensional (2D) and three-dimensional (3D) sonography as early as 11 weeks; however, most instances are typically diagnosed during the second trimester. Using advanced imaging technology and skilled sonographers, an encephalocele can be diagnosed at 14 weeks.Conclusion: Prenatal screening through ultrasonography and other advanced imaging techniques plays a significant role in identifying encephalocele prenatally. Understanding potential risk factors, including genetic predispositions and environmental influences, is important to better counsel patients on preventive strategies.Eksplorasi Kasus Kehamilan dengan Ensefalokel : Faktor Risiko, Kesulitan Diagnostik, dan Implikasi untuk Kesehatan Ibu dan JaninAbstrakPendahuluan: Ensefalokel adalah jenis cacat tabung saraf yang membawa risiko kematian dan komplikasi kesehatan yang signifikan. Ultrasonografi dapat digunakan untuk deteksi dini ensefalokel mulai dari usia kehamilan 11 minggu. Laporan kasus ini menjelaskan diagnosis ensefalokel oksipital menggunakan ultrasonografi selama trimester ketiga kehamilan, dan pemantauan kondisi selanjutnya hingga persalinan. Laporan ini menjadi pengingat pada implikasi potensial dan pentingnya penelitian yang sedang berlangsung dalam diagnosis ensefalokel prenatal untuk meningkatkan strategi diagnostik dan terapeutik.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 23 tahun, gravida 2, para 1 (G1P0A0), datang dengan keluhan nyeri perut bagian bawah tanpa kontraksi uterus pada usia kehamilan 38 minggu ke Departemen Obstetri dan Ginekologi di RSUD Slamet Garut. Pasien telah menjalani sembilan kali perawatan antenatal, tiga di antaranya dilakukan dengan ultrasonografi oleh dokter umum. Defek posterior oksipital divisualisasikan dengan massa yang menonjol konsisten dengan encephalocele pada trimester ketiga ketika admisi di RSUD Slamet Garut. Bayi lahir melalui operasi seksio sesarea dengan klinis encephalocele lalu meninggal tiga jam kemudian.Diskusi: Encephalocele dapat dideteksi dengan sonografi dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) sejak usia 11 minggu, namun sebagian besar kasus biasanya didiagnosis selama trimester kedua. Encephalocele dapat didiagnosis pada usia 14 minggu menggunakan teknologi ultrasonografi, tetapi deteksinya didasarkan oleh kemampuan operator. Kesimpulan: Skrining prenatal melalui ultrasonografi dan teknik pencitraan canggih lainnya memainkan peran penting dalam mengidentifikasi ensefalokel prenatal. Memahami faktor risiko potensial, termasuk faktor genetik dan lingkungan adalah penting untuk memberikan konseling yang lebih baik kepada pasien tentang strategi pencegahan.Kata kunci: Counseling, Diagnosis, Occipital Encephalocele, Risk Factors
Correlation of Early-Onset and Late-Onset Preeclampsia with Increased Lactic Dehydrogenase Serum Levels Kezia Sitorus, Lois Tabitha; Priyanto, Edy; Zulvayanti, Zulvayanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.711

Abstract

Introduction: Preeclampsia is a hypertensive disorder during pregnancy that is associated with 2-8% of pregnancy-related complications worldwide. Lactate Dehydrogenase (LDH) is a dominant intracellular cytoplasmic enzyme of anaerobic glycolysis and is released into the general circulation during cell death. This enzyme is increased in preeclampsia due to glycolysis and chronic anoxemia due to placental ischemia. The effect of LDH on pregnancy-related complications, such as preeclampsia, is now gaining attention. This study aims to assess the difference in LDH serum levels in early- and late-onset preeclampsia. Methods: This is an analytical observational study with a retrospective approach and cross-sectional design. The sample consists of 106 patients with early- and late-onset preeclampsia at RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo from July to December 2022. Data analyzed in this study was collected from medical records.Results: This study found that 65.09% of the subjects were less than 35-years-old, 76.42% were multiparous, 64.15% had term birth, and 77.01% had a BMI >30. The mean LDH level in early-onset preeclampsia was 292.38 + 255.05 (141–1507), while the mean in late-onset preeclampsia was 181.60 + 43.13 (103–319). The cut-off value for LDH levels in preeclampsia patients was 185.5 U/L. A significant correlation was found between mean BMI and LDH levels (p=0.0001) and between mean maternal age and LDH levels (p=0.0001).Conclusion: There was a significant relationship between the onset of preeclampsia, mean BMI, and mean maternal age and LDH levels.Hubungan antara Kejadian Preeklamsia Awitan Dini dan Lanjut dengan Peningkatan Serum Laktat DehidrogenaseAbstrakPendahuluan: Preeklamsia adalah kelainan hipertensi pada kehamilan yang berhubungan dengan 2 – 8% komplikasi terkait kehamilan di seluruh dunia. Laktat dehidrogenase (LDH) adalah enzim sitoplasma intraseluler dominan dari glikolisis anaerobik dan dilepaskan ke sirkulasi umum selama kematian sel. Enzim ini meningkat pada preeklamsia akibat glikolisis dan anoksemia kronis akibat iskemia plasenta. Pengaruh LDH terhadap komplikasi terkait kehamilan seperti preeklamsia kini mulai mendapat perhatian. Studi ini bertujuan untuk menilai perbedaan kadar serum LDH pada preeklamsia awitan dini dan lanjut.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan retrospektif dan desain potong lintang. Sampel terdiri atas 106 pasien dengan preeklamsia awitan dini dan lanjut di RSUD Prof Dr. Margono Soekarjo periode Juli-Desember 2022. Data diperoleh dari rekam medis.Hasil: Ditemukan bahwa 65,09% subjek berusia kurang dari 35 tahun, sebanyak 76,42% subjek multipara, sebanyak 64,15% subjek mengalami kelahiran aterm, sebanyak 77,01% subjek memiliki IMT >30. Rerata kadar LDH pada preeklamsia awitan dini ditemukan 292,38 + 255,05 (141–1507), sedangkan rerata pada preeklamsia awitan lanjut adalah 181,60 + 43,13 (103–319). Nilai cut off kadar LDH pada pasien preeklamsia ditemukan 185,5 U/L. Hubungan signifikan ditemukan antara rerata IMT dengan kadar LDH (p=0,0001) dan rerata usia ibu dengan kadar LDH (p=0,0001).Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara awitan preeklamsia, rerata IMT dan rerata usia ibu dengan kadar LDH.Kata kunci: preeklamsia, lactic dehydrogenase, preeklamsia awitan dini, preeklamsia awitan lanjut
The Correlation Between Anemia and Chronic Energy Deficiency in Pregnant Women With the Incidence of Low Birth Weight at the Ciwaringin Cirebon Health Center in 2020 – 2022 Roswita, Kania Widya; Nurbaniwati, Nunung; Sedayu, Sedayu
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.751

Abstract

Objective: This study aims to analyze the association of anemia and Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women with the incidence of Low Birth Weight (LBW) in Puskesmas Ciwaringin Cirebon in 2020 - 2022.Methods: This study was a cross-sectional study with 339 respondents. Medical records were used as secondary data. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis (using chi-square test), and multivariate analysis (using logistic regression test).Results: The percentage of mothers with a history of LBW based on this study reached 69.6%, pregnant women with anemia reached 68.4%, and pregnant women with CED reached 73%. Similarly, a significant association was found between anemia among pregnant women and LBW (p-value 0.001; PR= 2.940). A significant association was also found between CED and LBW (p-value 0.001; PR= 2.115). Anaemia was a factor that had a greater likelihood of causing LBW (Exp(B) = 12.596) than CED (Exp(B) = 3.707).Conclusion: There is an association between anemia and CED in pregnant women with the incidence of LBW in Puskesmas Ciwaringin Cirebon in 2020 - 2022.Hubungan Antara Anemia dan Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah di Puskesmas Ciwaringin Tahun 2020 – 2022AbstrakTujuan:Penelitian ini menganalisis hubungan terkait anemia dan KekuranganEnergi Kronik (KEK) pada ibu hamil dengan kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Puskesmas Ciwaringin Cirebon tahun 2020 - 2022.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 339 responden. Rekam medis digunakan sebagai data sekunder. Analisis data meliputi analisis univariat, analisis bivariat (menggunakan uji chi-square), dan dan analisis multivariat (menggunakan uji regresi logistik).Hasil: Presentase ibu dengan riwayat BBLR berdasarkan penelitian ini mencapai 69,6%, ibu hamil dengan anemiamencapai 68,4%, dan ibu hamil dengan KEK mencapai 73%. Demikian pula, hubungan yang signifikan juga ditemukan antara anemia pada ibu hamil danBBLR (p value0,001; PR= 2,940). Hubungan yang signifikan juga ditemukan antara KEK dengan kejadian BBLR dengan (p value 0,001; PR= 2,115). Anemia merupakan faktor yang memiliki kemungkinan lebih besar menyebabkan BBLR (Exp(B) = 12.596) dibandingkan KEK(Exp(B) = 3.707).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara anemia dan KEK pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Puskesmas Ciwaringin Cirebon tahun 2020 - 2022.Kata kunci: Anemia; Kekurangan Energi Kronik; Berat Bayi Lahir Rendah
Case Report: Effective Pregnancy Management in Uterus Didelphys Lubis, Munawar Adhar; Fakhrizal, Edy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.738

Abstract

Introduction: Uterus didelphys is a rare congenital anomaly resulting from incomplete fusion of the Müllerian ducts, accounting for 10% of such anomalies. It often goes unnoticed until reproductive age, sometimes causing dyspareunia or dysmenorrhea. This anomaly is associated with increased obstetric risks, including higher rates of miscarriages, preterm births, breech presentations, and lower live birth rates. Diagnosis is typically achieved through imaging techniques such as ultrasound, hysterosalpingography, or magnetic resonance imaging. Case Report: This case study involves a 37-year-old primigravida at 34 weeks gestation presenting with premature contractions. Ultrasound revealed a singleton foetus in the breech position, and speculum examination identified two cervical os. The patient had a history of primary infertility and was diagnosed with uterus didelphysis during fertility assessments. Despite the complexities associated with this condition, she successfully conceived through artificial insemination. Her pregnancy was closely monitored, and due to the presence of labour signs and uterus didelphys condition, a planned Caesarean section was performed, resulting in the delivery of a healthy infant. Conclusion: This case underscores the importance of individualised care and continuous monitoring in managing pregnancies complicated by uterine anomalies to mitigate associated risks and improve maternal and foetal outcomes.Laporan Kasus: Managemen Efektif Kehamilan Pada Uterus DidelphysAbstrakPendahuluan: Uterus didelphys merupakan anomali kongenital langka yang disebabkan oleh fusi duktus Müllerian yang tidak sempurna, yang mencakup 10% dari anomali tersebut. Kondisi ini sering tidak disadari hingga usia reproduksi, terkadang menyebabkan dispareunia atau dismenore. Anomali ini dikaitkan dengan peningkatan risiko obstetrik, termasuk tingkat keguguran yang lebih tinggi, kelahiran prematur, presentasi bokong, dan tingkat kelahiran hidup yang lebih rendah. Diagnosis biasanya dicapai melalui teknik pencitraan seperti Ultrasonografi, histerosalpingografi, atau pencitraan resonansi magnetik.Laporan Kasus: Studi kasus ini melibatkan seorang primigravida berusia 37 tahun dengan usia kehamilan 34 minggu yang mengalami kontraksi prematur. Ultrasonografi menunjukkan janin tunggal dalam presentasi bokong dan pemeriksaan spekulum mengidentifikasi dua ostium serviks. Pasien memiliki riwayat infertilitas primer dan didiagnosis dengan uterus didelphysis selama penilaian kesuburan. Meskipun kondisi ini rumit, ia berhasil hamil melalui inseminasi buatan. Kondisi kehamilan pasien dipantau secara ketat, namun karena adanya tanda-tanda persalinan disertai kondisi uterus didelphys, maka diputuskan untuk dilakukan operasi caesar. Pasca operasi kondisi ibu dan bayi sehat.Kesimpulan: Kasus ini menggarisbawahi pentingnya perawatan individual dan pemantauan berkelanjutan dalam mengelola kehamilan yang rumit karena anomali uterus untuk mengurangi risiko dan menjaga keselamatan ibu dan bayi.Kata kunci: uterus didelphys, anomali uterus kongenital, risiko obstetrik, operasi caesar
The Relationship Between Pre-Pregnancy Body Mass Index and the Incidence of Preeclampsia in Primigravida at Cibabat Regional Hospital Utami, Hasri Larasati; Gurnadi, Jeffry Iman; Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.972

Abstract

Objective: This study investigates the association between pre-pregnancy body mass index (BMI) and the incidence of preeclampsia in primigravida women.Methods: This cross-sectional study includes women who delivered at Cibabat General Hospital between 2023 and 2024. Pre-pregnancy BMI (kg/m²) was classified according to WHO categories: underweight (less than 18.5), normal (18.5–22.9), overweight (23.0–24.9), obese class I (25.0–29.9), and obese class II (≥30.0). The Spearman-Rho correlation coefficient was employed to analyze the relationship between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia. Result: Our study demonstrated that, among 217 participants, 159 (73.3%) experienced preeclampsia. The proportion of women with an overweight/obese BMI who have preeclampsia is higher (36%-38%) compared to those with normal BMI (19%) and underweight BMI (15%). The Spearman-Rho correlation coefficient suggested a positive correlation between pre-pregnancy BMI and the incidence of preeclampsia (r = 0.367; p < 0.001), indicating that an increased BMI is statistically associated with an increased risk of preeclampsia.Conclusion: A BMI is associated with an increased risk of preeclampsia in primigravida women.Hubungan antara Indeks Massa Tubuh Sebelum Kehamilan terhadap Kejadian Preeklamsia pada Ibu Primigravida di RSUD CibabatAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara IMT pra-kehamilan dan insiden preeklamsia pada ibu primigravida.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dan melibatkan ibu primigravida yang menjalani persalinan di RSUD Cibabat pada periode 2023 hingga 2024. IMT partisipan sebelum kehamilan dikategorikan berdasarkan standar WHO: berat badan kurang (< 18.5), normal (18.5-22.9), berat badan berlebih (23.0 – 24.9), obesitas tipe 1 (25.0 – 29.9), dan obesitas tipe 2 (≥30.0). Data kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan metode spearman-rho correlation coefficient untuk menetukan korelasi antara IMT pra kehamilan dan kejadian preeklampsia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan, dari 217 partisipan pada penelitian ini, 73,3% diantaranya mengalami kejadian preeklamsia. Proporsi preeklampsia tampak lebih tinggi pada partisipan dengan berat badan berlebih/obesitas (36–38%) dibandingkan dengan partisipan dengan IMT normal (19%) dan IMT kurang berat badan (15%). Hasil uji spearman-Rho correlation coefficient menunjukkan korelasi positif antara IMT pra-kehamilan dan kejadian preeklamsia (r = 0,367; p < 0,001), mengindikasikan peningkatan IMT sebelum kehamilan berhubungan dengan risiko preeklamsia.Kesimpulan: Peningkatan IMT pra-kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko preeklamsia pada wanita primigravida.Kata kunci: Edukasi prakonsepsi; Indeks massa tubuh; Primigravida 
Reevaluating Predictors of Extremely Low Birth Weight: The Dominance of Hemoglobin over Maternal Age and the Discovery of 9.25 g/dL as a New Risk Threshold Normala, Ajeng; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.937

Abstract

AbstractObjectives: Extremely Low Birth Weight (ELBW) is a critical factor influencing neonatal morbidity and mortality. Maternal anemia has been linked to negative pregnancy outcomes; the precise hemoglobin threshold for predicting ELBW risk remains poorly defined, especially in low-resource environments.Methods: A cross-sectional observational study was carried out at Ciawi District Hospital between 2019 and 2020. Data from medical records on maternal hemoglobin levels (g/dL) and neonatal birth weights (grams) were extracted for analysis. Statistical methods employed included the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests, as well as ROC curve analysis.Results: The study comprised 320 cases. The optimal cutoff value for maternal hemoglobin to accurately predict ELBW was identified as 9.25 g/dL (AUC 0.615; p = 0.045). Mothers with hemoglobin levels below this threshold exhibited a 2.1-fold increase in the risk of delivering ELBW infants (p = 0.039). Additionally, the negative predictive value was determined to be 94.05%, indicating that this threshold may serve as a viable screening tool for assessing the risk of ELBW.Conclusion: Maternal hemoglobin levels below 9.25 g/dL are significantly correlated with an elevated risk of ELBW. This threshold may function as an effective early screening parameter for identifying high-risk pregnancies, thereby improving maternal and neonatal health outcomes.Keywords: Birth Weight, ELBW, Hemoglobin, Maternal Anemia, Risk Screening Evaluasi Ulang Prediktor Berat Badan Lahir Sangat Rendah: Dominasi Hemoglobin pada Usia Ibu dan Penemuan 9,25 g/dL sebagai Ambang Risiko Baru AbstrakTujuan: Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLR) merupakan faktor penting yang memengaruhi morbiditas dan mortalitas neonatal. Anemia ibu telah dikaitkan dengan hasil kehamilan yang negatif. Ambang hemoglobin yang tepat untuk memprediksi risiko BBLR masih belum didefinisikan dengan baik, terutama di lingkungan dengan sumber daya rendah.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi observasional potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Daerah Ciawi antara tahun 2019 dan 2020. Dilakukan analisis data dari catatan medis tentang kadar hemoglobin ibu (g/dL) dan berat badan lahir neonatal (gram). Metode statistik yang digunakan meliputi uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney, dan analisis kurva ROC.Hasil: Studi ini terdiri atas 320 kasus. Nilai batas optimal hemoglobin ibu untuk memprediksi BBLR secara akurat diidentifikasi sebesar 9,25 g/dL (AUC 0,615; p = 0,045). Ibu dengan kadar hemoglobin di bawah ambang batas ini menunjukkan peningkatan risiko melahirkan bayi ELBW sebanyak 2,1 kali lipat (p = 0,039). Selain itu, nilai prediktif negatif ditetapkan sebesar 94,05%, yang menunjukkan bahwa ambang batas ini dapat berfungsi sebagai alat skrining yang layak untuk menilai risiko ELBW.Kesimpulan: Kadar hemoglobin ibu di bawah 9,25 g/dL berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko ELBW. Ambang batas ini dapat berfungsi sebagai parameter skrining dini yang efektif untuk mengidentifikasi kehamilan berisiko tinggi sehingga meningkatkan hasil kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
Pregnancy With Multidrug-Resistant Pulmonary Tuberculosis and Autoimmune Hemolytic Anemia Complicated by Intrauterine Growth Restriction - A Case Report Permata, Putri Indah; Aditya, Renny; Putri, Ruth Widhiati Raharjo; Isa, Mohamad; Kurniawan, Sigit Prasetia; Nurrasyidah, Ira
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.878

Abstract

AbstractIntroductionIntrauterine growth restriction (IUGR) is a major obstetric complication often caused by maternal infections and anemia. We present a case of IUGR in a pregnant woman caused by multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) and autoimmune hemolytic anemia (AIHA).Case presentationA 37-year-old G5P2A2 woman with confirmed MDR-TB and AIHA was treated with levofloxacin, clofazimine, cycloserine, ethambutol, bedaquiline, and methylprednisolone. Fetal biometry showed estimated fetal weight below the 10th percentile, with a significantly declining growth curve thereafter. After administration of fetal lung maturation at 33 – 34 weeks, she underwent an elective cesarean section at 35 – 36 weeks. A female infant weighing 1,840g was delivered. The treatment for MDR-TB and AIHA in the mother was continued afterward.ConclusionPregnancies complicated by MDR-TB and AIHA require strict monitoring and individualized multidisciplinary treatment. Further research is needed to establish treatment strategies that improve maternal and fetal outcomes in similar cases.Keywords : Autoimmune hemolytic anemia; intrauterine growth restriction; multidrug resistance; pregnancy; tuberculosis. Kehamilan dengan Tuberkulosis Paru Resisten Obat Ganda dan Anemia Hemolitik Autoimun yang Diperberat oleh Pertumbuhan Janin Terhambat – Laporan Kasus AbstrakPendahuluanIUGR adalah komplikasi obstetrik yang dapat disebabkan infeksi dan anemia pada maternal. Pada kasus ini dipresentasikan kasus wanita hamil dengan IUGR yang disebabkan multidrug resistant TB (MDR-TB) dan autoimmune hemolytic anemia (AIHA).Ilustrasi kasusIbu hamil 37 tahun G5P2A2 datang dengan TB-MDR dan AIHA. Pasien menjalani terapi TB-MDR dengan levofloksasin, klofazimin, sikloserin, etambutol, dan bedaquiline, serta metilprednisolon untuk AIHA. Pada fetal biometri ditemukan estimated fetal weight (EFW) di bawah 10 persentil dengan kurva pertumbuhan janin menurun signifikan setelahnya. Setelah dilakukan induksi pematangan paru janin pada usia kehamilan 33 - 34 minggu,  operasi sesar elektif dilakukan pada usia kehamilan 35 – 36 minggu melahirkan bayi perempuan dengan berat janin 1840gram. Pengobatan TB-MDR dan AIHA pada ibu dilanjutkan setelahnya.KesimpulanKehamilan dengan TB dan AIHA memerlukan pemantauan ketat dan terapi multidisiplin yang terindividualisasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan.Kata kunci : Hemolitik anemia autoimun; kehamilan; pertumbuhan janin terhambat; resisten obat; tuberkulosis.