cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
The Relationship between Maternal Characteristics and Neonatal Outcomes of Premature Rupture of Membranes Yulius, Will Hans; Aditiyono, Aditiyono; Pramatirta, Akhmad Yogi; Salima, Siti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.682

Abstract

Introduction: Premature rupture of the membranes occurs when the amniotic membrane bursts before 37 weeks of gestation. Preterm labour is the primary cause of perinatal and neonatal death, with premature membrane rupture accounting for 40% of cases. This study aimed to investigate the relationship between the incidence of premature rupture of membranes (PROM) with maternal characteristics and neonatal outcomes.Method: This study was carried out through medical record analysis in premature rupture of membrane patients at the Regional General Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo for the period July 2022 to March 2023 using descriptive and analytical methods with a cross-sectional study design. Results: Among 139 patients with PROM, the majority of patients are less than 35 years old, multipara, term birth, and education level below junior high school. For neonatal outcomes, both infants with PROM and without PROM, the majority were born with normal weight, first and fifth-minute APGAR without asphyxia, and male. The results found a significant relationship between gestational age, maternal education level, birth weight, and neonatal APGAR scores on the incidence of PROM.Conclusions: premature rupture of membrane significantly impact neonatal outcome including birth weight, first-minute APGAR, and fifth-minute APGAR.Hubungan Karakteristik Maternal dan Luaran Neonatus Kasus Ketuban Pecah DiniAbstrakPendahuluan: Ketuban pecah dini terjadi ketika selaput ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu. Persalinan prematur adalah penyebab utama kematian perinatal dan neonatal dengan ketuban pecah dini mencapai 40% kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian ketuban pecah dini dan karakteristik ibu dan luaran neonatal.Metode: Penelitian ini dilakukan melalui analisis rekam medis pada pasien ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Margono Soekarjo periode Juli 2022 hingga Maret 2023. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitik dengan desain studi cross-sectional.Hasil: Dari 139 pasien ketuban pecah dini, mayoritas pasien berusia kurang dari 35 tahun, multipara, lahir cukup bulan, dan tingkat pendidikan di bawah SMP. Untuk luaran neonatal, baik bayi dengan ketuban pecah dini, maupun tanpa ketuban pecah dini, mayoritas lahir dengan berat badan normal, APGAR menit pertama dan kelima tanpa asfiksia, dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara usia kehamilan, tingkat pendidikan ibu, berat badan lahir, dan skor APGAR neonatus terhadap kejadian ketuban pecah dini.Kesimpulan: ketuban pecah dini berdampak signifikan terhadap luaran neonatal termasuk berat badan lahir, APGAR menit pertama, dan APGAR menit kelima..Kata kunci: ketuban pecah dini, karakteristik maternal, luaran neonatus, study analitik 
Asymptomatic Uterine Fibroid: The Best Management for Improved QOL in Women by Comparing Laparoscopic and Laparoscopy Hysterectomy (Evidence-Based Medicine) Rahmi, Trisha Alya; Gunardi, Eka Rusdianto; Nabila Budi, Yasmine Syifa; Agustina, Nana; Pramayadi, Cepi Teguh
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.746

Abstract

Introduction: Uterine Fibroids (UFs) are benign smooth-muscle neoplasms typically originating from the myometrium. Hysterectomy is the most common non-pregnancy-related surgical procedure performed on women. Laparoscopy Hysterectomy (LH) is currently accepted as a safe and efficient way to manage benign uterine disease with a lower risk of trauma and morbidity. A qualitative approach, which focuses on the Quality of Life of each patient, should help navigate which treatment is more beneficial.Case Illustration: A 56-year-old woman (G0P0) came for a health screening. It was known that about 10 years ago, the patient had a history of uterine myoma. Currently, the patient has no complaints, no abdominal pain, no history of bleeding, history of regular menstruation, and no dysmenorrhea. The patient underwent abdominal laparotomy bilateral salpingo-oophorectomy hysterectomy. Methods: We searched through 3 databases: Pubmed, Cochrane, and ProQuest with the keywords: “Abdominal Hysterectomy” OR “Laparoscopy Hysterectomy” AND “UFS-QOL” with critical review based on the criteria of the Oxford Centre for Evidence-Based Medicine for Qualitative-Studies. Conclusion: Studies show that laparoscopic hysterectomy increased patients’ QOL after the procedure, which revolves around symptom elimination and pain reduction. To ensure holistic and best-practice management, an individual assessment of each patient’s condition according to their symptoms and demographics is needed. Fibroid Uterus Asimptomatik: Penanganan Terbaik untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Wanita dengan Membandingkan Histerektomi Laparoskopi dan Laparoskopi (Evidence-Based Medicine)AbstrakPendahuluan: Fibroid Uterus (UFs) merupakan neoplasma jinak otot polos yang biasanya berasal dari miometrium. Histerektomi adalah prosedur bedah non-kehamilan yang paling umum dilakukan pada wanita. Laparoskopi Histerektomi (LH) merupakan salah satu cara yang aman dan efisien untuk menangani penyakit uterus jinak dengan risiko trauma dan morbiditas yang lebih rendah. Pendekatan kualitatif yang berfokus pada kualitas hidup setiap pasien akan membantu menentukan pengobatan mana yang lebih bermanfaat.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 56 tahun (G0P0) datang untuk pemeriksaan kesehatan. Diketahui sekitar 10 tahun yang lalu pasien memiliki riwayat mioma uteri. Saat ini pasien tidak memiliki keluhan apa pun, tidak ada nyeri perut, tidak ada riwayat perdarahan, riwayat menstruasi teratur, dan tidak ada dismenore. Pasien menjalani laparatomi abdomen histerektomi salpingo-ooforektomi bilateral. Metode: Peneliti mencari melalui 3 database: Pubmed, Cochrane, ProQuest dengan kata kunci: “Abdominal Histerektomi” ATAU “Histerektomi Laparoskopi” DAN “UFS-QOL” dengan tinjauan kritis berdasarkan kriteria Oxford Centre for Evidence Based Medicine for Qualitative-Studies. Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa histerektomi laparoskopi telah terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien setelah prosedur dengan tujuan untuk menghilangkan gejala dan mengurangi rasa sakit. Untuk memastikan penatalaksanaan yang holistik dan praktik terbaik, diperlukan penilaian individual terhadap kondisi setiap pasien sesuai dengan gejala dan demografinya.Kata kunci: Fibroid Uterus, Kuesioner Gejala Fibroid Uterus, Laparoskopi Histerektomi, Abdominal Histerektomi
Wound Dehiscence Following Obstetrics and Gynecology Surgeries: An Observational Study at a Tertiary Hospital in Bandung Mantilidewi, Kemala Isnainiasih; Firdaus, Nur’adilah; Kurniadi, Andi; Erfiandi, Febia; Kireina, Jessica; Natasya, Windy; Harsono, Ali Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.658

Abstract

Introduction: Wound dehiscence is a severe postoperative complication that disrupts an abdominal wound closure which can be caused by endogenous or exogenous flora that infect a surgical wound. Many factors are responsible for surgical site infection in obstetric and gynecology patients considering all the basic standards are ideally maintained in tertiary care hospitals. To identify the characteristics of surgical wound dehiscence (SWD) patients who underwent obstetric and gynecological surgeries at Dr. Hasan Sadikin Hospital from 2021 to 2022.Methods: This study utilized a quantitative descriptive approach with a retrospective design. Results: A total of 43 subjects were included in the study and were divided into three groups based on their surgery type: obstetrics (n=11), gynecology (n=7), and gynecological oncology (n=25). The majority of SWD cases were associated with gynecological oncology surgeries. The patients were predominantly aged 18-65 years (88%), had superficial SWD (65%), normal BMI (37%), were non-smokers (67%), had a history of steroid medication usage (63%), received prophylactic antibiotics (63%), underwent elective surgery (58%), had laparotomy surgeries (100%), with a duration of ≥180 minutes (35%), and intraoperative bleeding of ≤1500 cc (63%). The surgical wounds were primarily classified as clean type (47%), and therapeutic antibiotics were administered to the majority of patients (74%).Conclusion: Most of our findings were consistent with existing theories. However, the discrepancies observed in some outcomes can serve as an evaluative tool to assess the adherence of current practices to established guidelines. It is crucial to consider the risk factors for SWD when developing preventive strategies.Dehisensi Luka Pascaoperasi Obstetri dan Ginekologi: Sebuah Studi Observasi di Rumah Sakit Tersier Di BandungAbstrakPendahuluan: Dehisensi luka pascaoperasi merupakan komplikasi serius yang dapat mengganggu penutupan luka di perut yang disebabkan oleh adanya flora bersumber secara endogen atau eksogen yang menginfeksi luka operasi. Banyak faktor yang berperan dalam infeksi daerah operasi walaupun sudah dilakukannya semua standar operasional yang selalu dipertahankan di rumah sakit perawatan tersier. Untuk mengetahui karakteristik pasien dehisensi luka pascaoperasi obstetri dan ginekologi di RSUP Dr. Hasan Sadikin.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang menganalisis faktor praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif dari subjek penelitian. Hasil: Pada studi ini, terdapat 43 subjek yang selanjutnya dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan jenis operasinya: obstetri (n=11), ginekologi (n=7), dan onkologi ginekologi (n=25). Sebagian besar kasus berhubungan dengan operasi onkologi ginekologi, berusia 18 - 65 tahun (88%), memiliki dehisensi luka superfisial (65%), indeks massa tubuh normal (37%), bukan perokok. (67%), memiliki riwayat penggunaan obat steroid (63%), menerima antibiotik profilaksis (63%), menjalani operasi elektif (58%), menjalani operasi melalui laparotomi (100%), dengan durasi ≥180 menit (35%), memiliki luka operasi tipe bersih (47%), mengalami perdarahan intraoperative ≤1500 cc (63%), dan mendapatkan antibiotik terapeutik (74%).Kesimpulan: Sebagian besar hasil studi didapatkan sesuai dengan teori yang telah ada. Kesenjangan yang ditemukan pada luaran studi dapat menjadi alat evaluasi untuk menilai ketaatan pada praktik yang dilakukan untuk kemudian dijadikan pedoman praktik. Penting juga untuk mempertimbangkan faktor risiko dari dehisensi luka pascaoperasi ketika akan mengembangkan strategi preventif.Kata kunci: dehisensi luka pasca operasi, faktor risiko, praoperasi, intraoperasi, pascaoperasi
The Role of Microvascular Density (MVD) in Cervical Cancer: A Article Review Winata, I Gde Sastra; Aryana, Made Bagus Dwi; Marta, Kadek Fajar; Christyani, Fenyta
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.720

Abstract

Introduction: The development, invasion and metastasis process of cervical cancer is closely related to the ability of cancer cells in the process of tumor oxygenation and the process of angiogenesis. Angiogenesis plays a very important role in the growth, metastasis and progression of tumor cells. Microvascular Density (MVD) is an examination that counts the number of microvasculature compared to the area of tissue analyzed by histology and immunohistochemistry. Method: This study reviewed literature by searching the Pubmed, ScienceDirect, and Cochran Library Database. The search query included “microvascular” and “cervical cancer”. The study was reviewed using the Preferred Reporting Item for Systemic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) standards. The scope of analysis was restricted to clinical trials conducted from 2011 to 2023Result: Currently, MVD examination is an examination that is often carried out to evaluate the process of intratumor angiogenesis in cancer. By knowing the MVD value in cancer sufferers, it is hoped that it can be considered in determining therapy and assessing the outcome of the course of cervical cancer which can be considered as a prognostic factor. Apart from that, it can complement the theory of other biomolecular prognostic factors that play a role in cervical cancer such as vascular endothelial growth factor (VEGF), Ki-67 protein, p53 tumor suppressor gene, oxygenation factors, especially hypoxia inducible factors-1α (HIF-1α), enzymes protease (matrix metalloproteinase), and cell adhesion molecules (E-Kadherin, catenin).Conclusion: The role of MVD in cervical cancer sufferers as an indicator of prognosis and success of therapy.Peranan Kepadatan Mikrovaskuler (MVD) pada Kanker Serviks: Sebuah Ulasan ArtikelAbstrakPendahuluan: Proses perkembangan, invasi dan metastasis kanker serviks erat kaitannya dengan kemampuan sel kanker dalam proses oksigenasi tumor dan proses angiogenesis. Angiogenesis memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan, metastasis, dan perkembangan sel tumor. Kepadatan Mikrovaskular (MVD) merupakan pemeriksaan yang menghitung jumlah mikrovaskular dibandingkan dengan luas jaringan yang dianalisis secara histologi dan imunohistokimia. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed dan ScienceDirect dan Cochrane Library. Pencarian dilakukan menggunakan istilah “mikrovaskular” dan “kanker serviks”. Penulisan sistematik review disesuaikan dengan pedoman Professed Reporting for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Semua studi yang diinklusi merupakan uji klinis pada periode tahun 2011 – 2023.Hasil: Saat ini MVD merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan untuk mengevaluasi proses angiogenesis intratumor pada kanker. Dengan mengetahui nilai MVD pada penderita kanker diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan terapi dan menilai luaran perjalanan penyakit kanker serviks yang dapat diperhitungkan sebagai faktor prognosis. Selain itu dapat melengkapi teori faktor prognostik biomolekuler lain yang berperan dalam kanker serviks seperti faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF), protein Ki-67, gen penekan tumor p53, faktor oksigenasi, terutama faktor pemicu hipoksia-1 α (HIF-1 α), enzim protease (matrix metalloproteinase), dan molekul adhesi sel (E-Kadherin, catenin).Kesimpulan: MVD pada penderita kanker serviks berperan sebagai indikator prognosis dan keberhasilan terapiKata kunci: Kepadatan vaskular, kanker serviks, diagnosis
Amniotic Membrane Graft and Hysteroscopic Adhesiolysis as Treatment for Asherman Syndrome Case Rusly, Dewi Karlina; Ritonga, Mulyanusa Amarullah; Rachmawati, Anita; Rinaldi, Andi; Djuwantono, Tono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.603

Abstract

Introduction: Secondary amenorrhea which caused by intrauterine adhesions is called Asherman’s syndrome. This occurs when the uterine cavity becomes partially or completely blocked, which can damage the basal layer of the endometrium and cause the formation of adhesive cicatricial tissue. The prevalence or incidence of Asherman Syndrome ranges from 2.84-5.5% in women. Case Report: A woman 33 years old had a history of amenorrhea for 2 years and three times curettage due to miscariage. Ultrasound findings showed 1.35 cm long cicatrix in the uterine cavity, and probe had only entered 3 cm. The patient underwent hysteroscopy adhesiolysis and grafting of intrauterine amniotic membrane. The intrauterine catheter was monitored for 1 month. Postoperatively the patient also received estradiol valerate therapy 3 x 2 mg for three months. Management of Asherman syndrome with hysteroscopy adhesiolysis with direct observation accompanied by grafting of amniotic membrane using intrauterine catheter tube is one of the techniques to overcome recurrent intrauterine adhesion. Conclusion:  Secondary amenorrhea in Asherman syndrome is better treated operatively with direct observation of the hysteroscopy and adhesiolysis. The using of amniotic membrane graft and supportive therapy are very helpful for the success of endometrial growth and preventing recurrent adhesions, increase the menstrual volume and chances of pregnancy.Pencangkokan Selaput Ketuban dan Histeroskopi Adhesiolisis sebagai Penatalaksanaan untuk Kasus Sindrom AshermanAbstrakPendahuluan: Amenorea sekunder yang disebabkan oleh perlengketan intrauterin disebut sindrom Asherman dengan prevalensi berkisar antara 2,84 - 5,5%.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 33 tahun mempunyai riwayat amenore 2 tahun dan kuretase sebanyak 3 kali akibat abortus. Temuan USG menunjukkan cicatrix sepanjang 1,35 cm di rongga rahim, sondage hanya masuk 3cm. Pasien menjalani histeroskopi adhesiolisis dan pemasangan cangkok selaput ketuban intrauterin. Kateter intrauterin dipantau selama 1 bulan. Pascaoperasi pasien juga mendapat terapi estradiol valerat 3 x 2mg selama tiga bulan. Penatalaksanaan sindrom Asherman dengan histeroskopi adhesiolisis dengan observasi langsung disertai pemasangan cangkok selaput ketuban menggunakan selang kateter intrauterin merupakan salah satu teknik yang efekstif untuk mengatasi adhesiolisis intrauterin berulang.Kesimpulan: Amenore sekunder pada sindrom Asherman lebih baik ditangani secara operatif dengan observasi langsung berupa histeroskopi dan adhesiolisis. Pemasangan cangkok selaput ketuban dan terapi suportif sangat membantu keberhasilan pertumbuhan endometrium dan mencegah perlengketan berulang, meningkatkan volume darah saat menstruasi dan peluang terjadinya pembuahan.Kata kunci: Adhesi intrauterin, Histeroskopi, Pencangkokan selaput ketuban, Rekonstruksi endometrium, Sindrom Asherman.
The Challenge in Differentiating Acute Fatty Liver of Pregnancy from Other Hepatic Disorders in Parturient Women – A Case Report Santoso, Tiffanie Almas; Andrea, Demirel; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.752

Abstract

Introduction: Liver disorder during pregnancy can arise from pregnancy-related factors or other underlying causes. One significant example is Acute Fatty Liver of Pregnancy (AFLP), a rare but life-threatening obstetric emergency that typically occurs in the third trimester or early postpartum period. Diagnosis of AFLP is carried out using the Swansea criteria, and its clinical management varies depending on the severity of the condition.Case Illustration: A 23-year-old woman, at 33-34 weeks of gestation in a multifetal pregnancy, presented with abdominal contractions and jaundice. The patient was diagnosed with AFLP using the Swansea criteria, Following the diagnosis, the patient delivered twins and received multidisciplinary care. After seven days of inpatient care, jaundice improved, symptoms resolved, and there were no signs of coagulation disorders.Discussion: AFLP is a rare condition that normally occurs in the third trimester, with risk factors including multiple pregnancies and metabolic disorders. Symptoms can be nonspecific but may lead to acute liver failure, thereby timely diagnosis and management are crucial. Treatment primarily involves prompt delivery and supportive care to manage complications such as hypoglycemia and renal failure.Conclusion: Early identification of AFLP can be challenging due to its similarities with other conditions, but the Swansea criteria can help assess its severity and potential complications for both mothers and fetuses.Tantangan dalam Membedakan Acute Fatty Liver dalam Kehamilan dengan Penyakit Hati Lainnya pada Wanita Parturien – Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Penyakit hati selama kehamilan dapat berkaitan dengan kehamilan atau memiliki penyebab lain. AFLP, sebuah keadaan darurat obstetri yang langka dan mengancam jiwa yang terjadi pada trimester ketiga atau periode postpartum awal, didiagnosis menggunakan kriteria Swansea dan memerlukan penanganan klinis yang bervariasi karena spektrum keparahannya. Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 23 tahun pada usia kehamilan 33 - 34 minggu dengan kehamilan multifetal datang dengan kontraksi abdomen dan jaundice. Pasien terdiagnosis acute fatty liver of pregnancy (AFLP) dengan menggunakan kriteria Swansea. Pasien melahirkan bayi kembar dan menerima perawatan multidisiplin pascasalin. Setelah tujuh hari perawatan rawat inap, jaundicenya membaik, dan gejalanya menghilang, tanpa tanda-tanda gangguan koagulasi. Diskusi: AFLP adalah kondisi langka yang biasanya terjadi pada trimester ketiga, dengan faktor risiko termasuk kehamilan ganda dan gangguan metabolik. Gejalanya tidak spesifik, tetapi dapat menyebabkan gagal hati akut sehingga diagnosis dan penanganan yang tepat waktu sangat penting. Perawatan utamanya melibatkan persalinan yang cepat dan perawatan suportif untuk menangani komplikasi seperti hipoglikemia dan gagal ginjal.Kesimpulan: Identifikasi dini AFLP bisa menjadi tantangan karena kesamaannya dengan kondisi lain, tetapi kriteria Swansea dapat membantu menilai keparahan dan komplikasi potensial bagi ibu dan janin.Kata kunci: Acute Fatty Liver pada Kehamilan; Diagnosis ; Parturien; Penyakit Hati
Cesarean Scar Pregnancy: Case Series Munizar, Munizar; Yolanda, Febrina; Utami, Niken Asri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.745

Abstract

Tujuan: Kehamilan bekas luka sesar (CSP) merupakan kehamilan ektopik yang serius, dengan embrio tertanam pada jaringan parut dari operasi caesar sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan empat kasus CSP dan membahas penanganannya.Metode: Kasus yang dilaporkan melibatkan empat wanita dengan usia kehamilan 13-14 minggu yang mengalami perdarahan pervaginam dan nyeri abdomen. Diagnosis CSP dilakukan melalui ultrasonografi transvaginal. Penanganan melibatkan laparatomi eksplorasi, hysterotomi segmental, dan reseksi jaringan abnormal.Hasil: Semua pasien didiagnosis dengan CSP berdasarkan temuan USG yang menunjukkan jaringan abnormal dan hipervaskularisasi pada bekas luka sesar. Prosedur bedah dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, dan setelah operasi, kondisi pasien stabil.Kesimpulan: CSP merupakan kondisi yang semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah persalinan sesar. Diagnosis awal melalui USG transvaginal sangat penting untuk mencegah komplikasi yang serius, seperti plasenta akreta. Penanganan bervariasi dari terapi medikamentosa hingga prosedur bedah, tergantung pada kondisi pasien. Edukasi mengenai risiko CSP pada kehamilan berikutnya sangat dianjurkan.
Diagnosis and Management of Utero-Sigmoid Fistula Cases: Case Report Arwan, Berriandi; Rinaldi, Andi; Sasotya, R. M. Sonny; Achmad, Eppy Dharmadi; Sukarsa, Moch. Rizkar Arev
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.698

Abstract

Introduction: Intrauterine devices (IUDs) are a common form of contraception due to their affordability and effectiveness. But they can also result in migration into the myometrium, which can cause utero-sigmoid fistulas. Utero-sigmoid fistulas is a rare but dangerous side effect of intrauterine device migration, which can make diagnosis and device retrieval challenging. Here, we present a case report that highlights the diagnosis and the management of utero-sigmoid fistula.Case Presentation: A 63-year-old woman came to the hospital due to feces appearing from her vagina. Later, it was confirmed from vaginal touch examination. On US examination, the IUD was found to have migrated to the deeper part of the uterus and a defect was confirmed as a fistula between the sigmoid colon and the uterus by contrast-enhanced abdominal MSCT. The patient then underwent a joint surgery consisting of wedge reesection of the uterus + fistula repair by the digestive surgery team, and hysterotomy + bilateral salpingectomy by the obgyn team. The procedure was success, and the fistula was closed, however the IUD was not retrieved during surgery. The patient had no early post-operative problem.Conclusion: The management of utero-sigmoid fistulas varies greatly and is not standardized. The diagnosis can be confirmed by hysteroscopy or surgical exploration, although non-invasive imaging techniques like MRI can aid in the process. Even though utero-sigmoid fistulas are uncommon, physicians need to be aware of this possible IUD complications.Diagnosis dan Tatalaksana Kasus Fistula Utero-Sigmoid: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan bentuk kontrasepsi yang umum digunakan karena harganya terjangkau dan efektif. Namun, AKDR dapat bermigrasi ke dalam miometrium yang dapat menyebabkan pembentukan fistula utero-sigmoid. Fistula utero-sigmoid adalah efek samping yang jarang terjadi tetapi berbahaya akibat migrasi AKDR. Migrasi AKDR dapat menjadi tantangan untuk diagnosis penyebab fistula utero-sigmoid dan penyulit saat prosedur pengambilan AKDR. Laporan kasus ini akan membahas mengenai diagnosis dan penanganan fistula utero-sigmoid.Presentasi Kasus: Seorang wanita berusia 63 tahun datang ke rumah sakit mengeluhkan feses yang keluar dari vaginanya. Kemudian, hal itu dikonfirmasi saat pemeriksaan vagina. Pada pemeriksaan USG ditemukan IUD yang berpindah ke bagian uterus yang lebih dalam dan suatu defek yang terkonfirmasi sebagai fistula antara kolon sigmoid dan uters melalui MSCT abdomen dengan kontras. Kemudian pasien menjalani operasi bersama yang terdiri dari wedge reesection pada rahim + repair fistula oleh tim bedah digestif, dan histerotomi + salpingektomi bilateral oleh tim obgyn. Prosedur berjalan dengan baik dan fistula berhasil ditutup, namun AKDR tidak diambil pada saat operasi. Tidak didapati komplikasi akut pascaoperasi.Kesimpulan: manajemen fistula utero-sigmoid sangat bervariasi dan belum terstandardisasi. Diagnosis dapat dikonfirmasi melalui histereskopi atau eksplorasi pembedahan, namun teknik pencitraan non-invasif seperti MRI dapat membantu proses diagnosis. Meskipun fistula utero-sigmoid jarang terjadi, klinisi tetap harus waspada akan komplikasi ini akibat dari IUDKata kunci: AKDR, Diagnosis, Fistula utero-sigmoid, manajemen,
Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover Jurnal, Obgynia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.777

Abstract

Profile and Pregnancy Outcome in Preeclampsia with and Without Cardiac Abnormalities Complication Aqilah, Nurjihan Syarifah; Pribadi, Adhi; Cool, Charlotte Johanna; Aziz, Muhammad Alamsyah; Pramudyo, Miftah; Astuti, Astri; Putra, Ridwan Abdullah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 3 November 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i3.742

Abstract

Introduction: This study was conducted to determine the profile of maternal characteristics and outcomes, as well as neonatal outcomes of mothers giving birth with preeclampsia and complications of cardiac abnormalities compare to preeclampsia without complications of cardiac abnormalities.Methods: This study used a descriptive cross-sectional research method with purposive sampling.Results: Out of 78 samples, there were 10 pregnant women with cardiac abnormalities. The predominant age is in the 18 - 35 years range at 51 (65.4%) samples. Comorbidities found were eclampsia 8 (10.3%) and HELLP syndrome 3 (3.8%). There was no maternal mortality. The major method of delivery was perabdominal in preeclampsia with cardiac abnormalities 10(100.0%). The neonatal outcome obtained APGAR scores of 7-10 as many as 57 (73.1%) babies, 8 (10.2%) babies with score 4-6, and 13 (16.7%) babies with score 0-3. There were 16 (20.5%) babies born with SGA, 58 (74.4%) with AGA, and 4 (5.1%) with LGA. Most neonatal born with normal APGAR score (58 babies or 74.4%). In the PE group with heart defects, there was 1 (10.0%) baby with severe asphyxia as in stillbirth. While in preeclampsia without cardiac abnormalities 11 (16.2%) babies were born with severe asphyxia and 8 (10.2%) stillbirths.Conclusion: The maternal outcomes were (1) comorbidities of eclampsia and HELLP syndrome, (2) the majority of delivery methods being caesarean section., and in neonatal outcomes, most babies were born with normal APGAR score and appropriate gestational age (AGA).Profil dan Luaran Kehamilan pada Preeklamsia dengan dan Tanpa Komplikasi Kelainan JantungAbstrakPendahuluan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil karakteristik dan luaran maternal, serta luaran neonatal ibu melahirkan dengan preeklamsia dengan komplikasi kelainan jantung dan preeklamsia tanpa komplikasi kelainan jantung.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif potong lintang dan pengambilan sampel penelitian purposif.Hasil: Dari 78 sampel, didapatkan 10 ibu hamil dengan kelainan jantung. Usia paling banyak ada pada rentang usia 18 - 35 tahun 51(65.4%) sampel. Penyakit pernyerta didapatkan eklamsia 8(10.3%) dan sindrom HELLP 3(3.8%). Tidak ditemukan kematian ibu. Metode persalinan terbanyak yaitu perabdominal pada PE dengan kelainan jantung 10(100.0%). Hasil luaran neonatal kelahiran bayi tunggal, didapatkan skor APGAR 7-10 sebanyak 57(73.1%) bayi, 8(10.2%) bayi dengan skor 4-6, dan 13(16.7%) bayi dengan skor 0-3. Terdapat 16(20.5%) bayi lahir dengan SGA, 58(74.4%) dengan AGA, dan 4(5.1%) dengan LGA. Hasil luaran neonatal terbanyak dengan kondisi APGAR normal (58 bayi atau 74.4%). Pada kelompok PE dengan kelainan jantung ditemukan 1(10.0%) bayi dengan luaran asfiksia berat begitu pun dengan stillbirth. Sedangkan pada PE tanpa kelainan jantung sebanyak 11(16.2%) lahir dengan asfiksia berat dan 8(10.2%) stillbirth.Kesimpulan: Luaran kehamilan yang ditemukan yaitu (1) penyakit penyerta berupa eklamsia dan sindrom HELLP, (2) metode persalinan terbanyak yaitu caesarean section, dan hasil luaran neonatal terbanyak adalah dengan kondisi APGAR normal dan AGA.Kata kunci: Luaran kehamilan; Luaran neonatal; Preeklamsia dengan kelainan jantung