cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Kandungan Klorofil dan Fukosantin serta Pertumbuhan Skeletonema costatum pada Pemberian Spektrum Cahaya Yang Berbeda Rizqi Umi Arifah; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.166 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19986

Abstract

Skeletonema costatum mengandung klorofil-a, klorofil-c, dan fukosantin yang menyebabkan selnya berwarna hijau kecoklatan. Klorofil dan fukosantin memiliki berbagai manfaat, salah satunya dalam bidang kesehatan sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-obesitas, anti-diabetes. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan pigmen pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum cahaya yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, kandungan klorofil dan fukosantin S. costatum. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2018 di Laboratorium Biologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro dan pengujian laboratoris di Laboratorium BPIK Srondol, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris. Diatom S. costatum dikultivasi dengan tiga spektrum cahaya yang berbeda yaitu putih, biru, dan merah. Pertumbuhan sel S. costatum diamati sampai 2 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa kering hasil kultivasi diekstraksi menggunakan metanol. Kadar pigmen ekstrak metanol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan identifikasi pigmen dengan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya putih secara signifikan meningkatkan kandungan klorofi- a S. costatum dibandingkan spektrum cahaya merah, namun tidak berbeda nyata terhadap spektrum cahaya biru. Pertumbuhan, kandungan klorofil-c dan fukosantin S. costatum pada pemberian spektrum cahaya yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata. Skeletonema costatum contains chlorophyll-a, chlorophyll-c, and fucoxanthin giving to its cells. Chlorophyll and fucoxanthin have various benefits, e.g. in the medicine field as anti-bacterial, anti-oxidant, anti-inflammatory, anti-obesity, and anti-diabetes. Light is one of the environmental factor that affects the growth and pigment content of microalgae. This study aims to determine the spectrum of light that influences growth, chlorophyll content and fucoxanthin of S. costatum. This research was conducted in January-March 2018 at the Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University and laboratory testing at the BPIK Srondol Laboratory, Semarang. The method used was a laboratory experimental method. Diatom S. costatum was cultivated with three different spectrums of light (white, blue, and red). Growth of S. costatum cells was observed up to 2x24 hours and then harvested for biomass calculations. Dry biomass was extracted using methanol. Pigment content of The S. costatum methanol extract was analyzed using UV-Vis spectrophotometer and pigments identification using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the chlorophyll content of S. costatum under white light spectrum was significantly higher from the red light spectrum, but not significantly different from blue light spectrum. Growth, chlorophyll-c and fucoxanthin content of S. costatum didn’t show significant differences under different light spectra.
Karakterisasi Bakteri yang Berasosiasi dengan Penyakit Pink-Blotchdi P. Sambangan, Karimunjawa Nirwani Soenardjo
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.057 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i1.6928

Abstract

Sindrome penyakit blotch yang menyerang karang massive mengakibatkan kehancuran sistem ekologi terumbu karang. Penyebaran penyakit ini berjalan sangat cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan karang. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri yang berasosiasi dengan sindrom penyakit pink-blotch (PBS) pada karang. Pelaksanaan penelitian  meliputi sampling karang yang dilakukan dengan ScubaDiving pada kedalaman 3 dan 10 meter, identifikasi dan dokumentasi jenis karang yang terserang penyakit secara in situ dengan underwatercamera Nikonos, isolasi dan purifikasi bakteri yang berasosiasi dengan sindrome penyakit blotch, contagious coral experiments skala laboratoris,   postulat Koch’s experiment dilakukan di dalam laboratorium dan di lapangan dengan teknik syringe. Identifikasi bakteri yang berasosiasi dengan penyakit karang PBS secara mikrobiologis dilakukan untuk mengetahui genus agen penyebab penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri yang berasosiasi dengan sindrome penyakit pink-blotch adalah genus Erythrobacter sp.   Kata kunci: terumbu karang, pink-blotch, Erythrobacter sp
Kadar Logam Berat Pb, Cd Dan Kelimpahan Perifiton Pada Ekosistem Lamun Di Pantai Barat Bandengan Jepara Himatul Aliyah Febriana; Pujiono Wahyu Purnomo; Suryanti Suryanti
Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.996 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v5i2.15729

Abstract

Ekosistem lamun merupakan ekosistem yang memiliki produktivitas primer yang tinggi, hal tersebut didukung oleh keberadaan perifiton yang melekat pada permukaan daun lamun. Pengaruh tersebut dapat berkurang akibat adanya kegiatan perikanan atau aktivitas antropogenik yang menyebabkan pencemaran kandungan logam berat seperti Pb dan Cd. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis lamun, kelimpahan perifiton dan kandungan logam berat pada daun lamun serta hubungan kelimpahan perifiton dengan kandungan logam berat di Pantai Barat Bandengan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dilaksanakan pada bulan Maret - April 2016 di Pantai Barat Bandengan pada lingkungan lamun padat,  sedang dan jarang. Sampling menggunakan metode purposive random dengan menentukan obyek yang diambil sebagai sampel berdasarkan kerapatan lamun. Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Barat Bandengan adalah Thalassia sp. Rata-rata kelimpahan perifiton pada kerapatan lamun padat, sedang dan jarang adalah 1742 (SD = 641,09)  ind/cm2, 1481 (SD = 369,06) ind/cm2, dan 1249 (SD = 116,15) ind/cm2. Perifiton yang ditemukan dari Kelas Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, Rodhophyceae, Dinophyceae dan Chlorophyceae. Hasil logam berat  Pb dan Cd selama tiga kali sampling diperoleh nilai yang sama yaitu Pb <100 mg/gr dan Cd <10 mg/gr Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa adanya kandungan logam berat Pb dan Cd tidak mempengaruhi keberadaan perifiton pada daun lamun di perairan Pantai Barat Bandengan. Kata kunci: Lamun, Perifiton, Logam Berat Pb dan Cd
Struktur Komunitas Rumput Laut di Perairan Pasir Panjang Desa OlibuuKabupaten Boalemo, Gorontalo Edi Wibowo; Raden Ario; Suryono Suryono; Nur Taufiq; Destalino Destalino
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.366 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19081

Abstract

Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh pantai Indonesia, terutama wilayah pantai yang mempunyai rataan terumbu karang.  Perbedaan mendasar sistem hidupnya dengan tumbuhan darat adalah dalam pengambilan zat-zat makanan. Tumbuhan darat sangat bergantung pada akar sebagai alat pengambil/ penyerap zat hara dari substrat, sedangkan rumput laut menyerap zat hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya dari medium air dengan cara difusi melalui permukaan substansi fisiknya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas rumput laut di perairan Pasir Panjang Pulau Limbah, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Metoda penelitian yang digunakan adalah bersifat diskriptif.Adapun pengumpulan data dilakukan dengan metode sample survey methods. Hasil penelitian menunjukan bahwa perairan Pulau Limbah di dominasi oleh Rumput Laut Coklat dengan kelimpahan tertinggi Padina australis. Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) Rumput Laut tertinggi terdapat pada stasiun C dengan nilai rerata: 1,854 dan yang terendah pada Stasiun A dengan nilai rerata: 1,469. Nilai Indeks Keseragaman (E)  nilai tertinggi terdapat pada Stasiun C dengan nilai rerata: 0,679 dan terendah pada stasiun A dengan nilai rerata: 0,668. Nilai indeks Dominansi (C) tertinggi terdapat pada Stasiun A dengan nilai rerata : 0,251 dan nilai terendah stasiun B dengan nilai rerata: 0,187. Analisis Ragam (Anova) menunjukan bahwa stasiun penelitian memberikan perbedaan yang nyata (P≤0,05) terhadap nilai Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E) serta Indeks Dominasi (C).  Seaweed including thallus plants that are found almost all over the coast of Indonesia, especially on beaches that have coral reefs. Seaweed is a photosynthetic organism as well as plants on land. The fundamental difference of his life system is in the taking of food substances. Ground plants realy heavily on roots as a nutrient removal device from the substrate, while seaweed absorbs the nutrients needed for its growth from the water medium by diffusion through the surface of its physical substance. This study aims to determine the structure of seaweed communities in Limbah Island Waters, District Paguyaman Beach. The results showed that the waters of Limbah Island is dominated by brown seaweed with the highest species abundance was Padina australis. The highest index value of Seaweed diversity (H’) was found at station C with average: 1,854 and the lowest at station A with a mean of: 1,469. For uniformity index value (E) the highest value is at station C with average: 0,679 and the lowest at station A with a mean of: 0,668. The highest index value of dominance (C) is at station A with a mean of: 0,251 and the lowest value at station B with a mean of: 0,187. The result of the analysis of variance (Anova) showed that the research station give a significant difference (P≤0,05) to the Diversity Index (H’), Uniformity Index (E) and Domination Index (C).
Karakteristik Pola Arus Dalam Kaitannya dengan Kondisi Kualitas Perairan dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Kawasan Taman Nasional Laut Karimunjawa Muhammad Yusuf; Gentur Handoyo; Muslim Muslim; Sri Yulina Wulandari; Heriyoso Setiyono
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.311 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i5.6918

Abstract

Perairan Kepulauan Karimunjawa memiliki karakteristik yang spesifik secara geografis maupun ekologis karena terletak di tengah lautan yang jauh dari daratan utama, dikelilingi oleh banyak pulau-pulau kecil dan hamparan terumbu karang, sehingga perairannya termasuk semi tertutup. Kondisi ini memberikan keuntungan karena menjadi daerah jebakan unsur hara. Arah dan pola sebaran spasial unsur hara (nitrat dan fosfat) dan Fitoplankton sangat dipengaruhi oleh bagaimana arah dan kecepatan arus yang terjadi serta tipe dan kondisi perairan yaitu semi tertutup. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola arus (arah dan kecepatan) dalam kaitannya dengan kondisi kualitas perairan terutama sebaran nitrat, fosfat, dan kelimpahan individu fitoplankton di perairan Kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah arus dari hasil model adalah dominan menuju ke arah Barat, dan hasil ini sesuai dengan arah arus dari pengukuran secara in-situ di stasiun-stasiun yang diteliti. Kecepatan arus maksimal untuk permukaan laut termasuk kategori sedang, yaitu sebesar 0,309 m/detik dengan kecepatan rata-rata 0,055 m/detik. Dilihat dari arah sebaran paramater kualitas air terutama nitrat dan fosfat menunjukkan bahwa konsentrasi yang relatif lebih besar berada di pulau-pulau yang terletak di sebalah Barat, seperti P. Parang dan P. Nyamuk (nitrat), dan P. Nyamuk untuk unsur fosfat. Kelimpahan fitoplankton yang tinggi juga terdapat di pulau-pulau yang lokasinya terletak di sebalah Barat seperti pulau Parang (sisi Timur dan Selatan), dan pulau Nyamuk (semua sisi). Ada kecenderungan bahwa arah sebaran parameter kualitas air yang memiliki konsentrasi lebih tinggi terutama suhu, pH, oksigen terlarut, dan nitrat ternyata mengikuti arah sebaran arus yang tejadi.   Kata Kunci: Pola Arus, Kualitas Perairan, Fitoplankton, Karimunjawa.
PENGARUH KENAIKAN AIR LAUT PADA EFEKTIFITAS BANGUNAN UNTUK PERLINDUNGAN PANTAI KOTA SEMARANG Buddin A Hakim; Suharyanto Suharyanto; Wahju Krisna Hidajat
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.353 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i3.6954

Abstract

Adanya interaksi lautan dan daratan akan berpengaruh terhadap kondisi Pantai, Perairan Semarang yang berbatasan langsung dengan laut lepas berpotensi terjadi abrasi akibat dari energi gelombang yang mengenai daratan, faktor kenaikan air laut sebagai pengaruh dari perubahan iklim secara langsung akan mempengaruhi luasan abrasi yang terjadi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proyeksi kenaikan air laut, memperkirakan daerah abrasi serta mengetahui efektifitas bangunan groin dalam menanggulangi abrasi di Pantai Semarang. Identifikasi daerah abrasi dan tingkat efektifitas penanggulangan abrasi dilakukan dengan pemodelan menggunakan software CEDAS 2.01 sedangkan analisis spasial menggunakan software ArcGIS 9.3, sebagai inputan model data didapatkan dari analisis data Angin dan data pasang surut Kota Semarang serta survei data lapangan mengenai morfologi pantai dan kondisi sedimen di lokasi penelitian. Dari analisis data Pasang Surut didapatkan Proyeksi Kenaikan Muka Air Laut di Perairan Semarang diberikan dengan persamaan regresi y = 8,8209 x – 17367, R2 = 0,9453, dengan nilai kenaikan air laut sebesar 7.806 cm/tahun. Dari Hasil pemodelan didapatkan bahwa jika tidak ada upaya perlindungan yang dilakukan di Pantai maka pada tahun 2015 dilokasi penelitian akan mengalami abrasi sebesar 116.307 m2 dan meningkat pada tahun 2020 sebesar 174.593 m2 dengan lokasi abrasi berada di Kelurahan Jerakah, Tugurejo Karanganyar, Randu Garut, dan Kelurahan Mangkang Wetan, sedangkan dari skenario penambahan bangunan pantai jenis groin untuk menanggulangi abrasi didapatkan bahwa pembangunan Groin dengan jarak yang semakin pendek antara groin satu dengan yang lainnya lebih efektif dalam menanggulangi abrasi pantai di lokasi penelitian dibandingkan dengan pembangunan Groin yang panjang tetapi jarak antar groinnya terlalu panjang.   Kata Kunci : Kenaikan Air Laut, Prediksi Daerah Abrasi, Efektifitas Bangunan, Pantai Semarang
Pemetaan Batimetri dan Sedimen Dasar di Perairan Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat Angga Dwi Saputra; Heryoso Setiyono; Agus Anugroho Dwi Saputro
Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.194 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v5i1.11294

Abstract

Perairan Karangsong adalah wilayah pesisir di Kabupaten Indramayu  dan merupakan kawasan penting bagi perekonomian masyarakat setempat. Adanya rencana pengembangan serta perawatan infrastruktur di wilayah Pesisir Karangsong secara berkelanjutan diperlukan adanya penelitian mengenai batimetri, kelerengan perairan dan sedimen dasar. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kedalaman perairan, profil perairan, kelerengan serta jenis sedimen dasar di Perairan Karangsong. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif. Metode pengambilan data kedalaman dan sedimen dasar dilakukan di wilayah yang dianggap mewakili kerakteristik wilayah seluruhnya. Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Karangsong, Kabupaten Indramayu berkisar antara 1 meter sampai 11 meter dengan nilai kelerengan berkisar antara 0,250◦ hingga 0,277◦ dengan rata-rata kelerengan adalah hampir datar. Perairan Karangsong, Kabupaten Indramayu memiliki tipe pasang surut campuran condong harian ganda dengan nilai nilai Formzahl sebesar 0,57. nilai-nilai elevasi Perairan Karangsong meliputi MSL 64 cm, HHWL 118,9 cm, LLWL 9,19 cm, LWL 10 cm dan HWL 110 cm. Jenis Sedimen Dasar di Perairan Karangsong, Kabupaten Indramayu adalah pasir (silt) dan pasir lanauan (silty sand). Kata kunci: Batimetri, Sedimen Dasar, Kelerengan, Perairan Karangsong.  
Potensi Antibakteri dari Bakteri Berasosiasi Thalassia hemprichii dari Perairan Lemukutan Nora Idiawati; Mega Sari Juane Sofiana; Diah Wulandari Rousdy
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.797 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16190

Abstract

Thalassia hemprichii merupakan jenis lamun yang ada di perairan Lemukutan. T. hemprichii berpotensi menghasilkan senyawa antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari bakteri berasosiasi lamun T. hemprichii dari perairan Lemukutan. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan 6 dari 8 isolat bakteri berasosiasi T. hemprichii aktif terhadap bakteri uji. Aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening di sekitar isolat bakteri berasosiasi T. hemprichii. Isolat bakteri LM07 menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat terhadap 4 bakteri uji. LM07 menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Vibrio cholera, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella typhimurium. Thalassia hemprichii is a species of marine seagrass in the Lemukutan waters. It has a potency as a antibacterial source. The aim of the research was to obtained bacteria associated T. hemprichii. The result of this research showed six of eight bacterial strains have antibacterial activity. A growth inhibition zone formed as a clear zone around bacterial strains. LM07 showed the highest antibacterial activity. This bacteria inhibited the growth of S. aureus, V. cholera, P. aeruginosa dan S. typhimurium.
KAJIAN POLA ARUS DI PANTAI MARINA ANCOL DAN PENGARUHNYA TERHADAP RENCANA REKLAMASI Dwi Yuliasari; Muhammad Zainuri; Denny Nugroho Sugianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.326 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i5.6909

Abstract

Arus merupakan parameter penting dalam proses pengangkutan pasir dari mulut teluk menuju wilayah hulunya, kolam pelabuhan dan estuaria. Arus di Pantai Marina, Ancol memperlihatkan pola yang kompleks dan lebih banyak dipengaruhi oleh angin, meskipun bangunan dan reklamasi pantai juga turut mempengaruhi. Secara keseluruhan terbentuknya arus di Pantai Marina, Ancol merupakan resultan dari beberapa jenis arus seperti arus yang dibangkitkan oleh pasang surut, angin dan arus sejajar pantai. Pemisahan arus menggunakan software World Current 1.03 didapatkan hasil kecepatan arus total = 2,67 m/det, arus pasut = 0,41 m/det, dan arus residu = 2,64 m/det. Hubungan antara fluktuasi arah dan kecepatan arus dengan pola pasang surut yang terjadi dapat ditunjukkan dengan pendekatan model menggunakan software SMS versi 8.0 dan 8.1. Hubungan ini dapat dilihat dengan adanya pergerakan arah arus yang cenderung bolak-balik, yaitu  pada saat kondisi pasang arah arus cenderung ke arah Timur Laut – Barat dan pada saat surut arah arus ke arah Barat –Timur laut dengan kecepatan arus 0,004 m/det – 0,13 m/det. Hasil simulasi model pola arus untuk rencana reklamasi pantai menunjukan tidak adanya perubahan pola arus yang signifikan dibandingkan dengan pola arus di pantai Marina, Ancol sebelum reklamasi pantai, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya rencana reklamasi pantai di Ancol, tidak berpengaruh terhadap pola arus di pantai Marina, Ancol.   Kata Kunci : Arus, Pasang Surut, Pantai Marina, Ancol, Reklamasi
Analisis Kelimpahan Mikroalga Epifit Pada Lamun Enhalus acoroides Di Perairan Pulau Karimunjawa, Jepara Cantik Sitta Devayani; Retno Hartati; Nur Taufiq-Spj; Hadi Endrawati; Suryono Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.447 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23739

Abstract

Padang lamun berfungsi sebagai daerah asuhan, pemijahan, tempat mencari makan dan habitat bagi biota laut, diantaranya: ikan, meiofauna, maupun mikroalga epifit. Mikroalga epifit dapat digunakan sebagai salah satu unsur indikator dalam ekosistem perairan terkait dengan kesuburan dan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan mikroalga epifit pada daun lamun Enhalus acoroides yang  dilakukan pada Oktober 2018 dengan metode diskriptif. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive random sampling dengan tiga stasiun yaitu di perairan Pantai Nyamplungan (Stasiun 1), Pantai Bobi (Stasiun 2) dan Pelabuhan Syahbandar (Stasiun 3). Sampel daun lamun E. acoroides dipotong menjadi tiga bagian, yaitu ujung (UA dan UB), tengah (TA dan TB) dan pangkal (PA dan PB) daun. Untuk mendapatkan sampel mikroalga epifit dilakukan dengan metode pengerikan. Hasil penelitian  di semua  stasiun ditemukan tiga kelas yakni Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax dan Prorocentrum. Kelimpahan total mikroalga epifit tertinggi terdapat pada Stasiun 3 (11.234 sel/cm2) dan terendah pada Stasiun 2 (6.717 sel/cm2). Kelimpahan mikroalga epifit pada ujung daun bagian permukaan atas (UA) menghasilkan jumlah tertinggi yakni 5.682 sel/cm² dan bagian yang terendah terdapat pada posisi tengah daun bagian permukaan bawah (TB) sebanyak 3.292 sel/cm². Posisi menempel pada bagian lamun berpengaruh terhadap kelimpahan mikro alga epifit. Seagrass bed has a function as  nursery, spawning, and feeding ground, as well as a habitat for marine biota such as fish, meiofauna, and epiphytic microalgae. Epiphytic microalgae can be used as one of the indicators in aquatic ecosystems related to productivity and pollution. The aims of this study were to know the composition and abundance of epiphytic microalgae on Enhalus acoroides leaves. This research was done on October 2018 by using descriptive method. The sample was taken from three stations, ie.  Nyamplungan (Station 1), Bobi Beach (Station 2) and Syahbandar Port (Station 3). The seagrass samples of  Enhalus acoroides leaves were cut into three parts i.e. tip (UA & UB), middle (TA & TB)  and base (PA & PB) part of the leaves to obtain the samples of epiphytic microalgae by using scratching method. The results of the study found three classes, i.e.  Bacillariophyceae, Dinophyceae and Cyanophyceae. The genus most commonly found were Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax and Prorocentrum. The highest total abundance of epiphytic microalgae was at Station 3 (11.234 sel/cm2) and the lowest at Station 2 (6.717 sel/cm2). The abundance of  epiphytic microalgae based on different part of seagrass leaves showed that the upper surface of the leaf tip (UA) has highest abundance (5.682 cell/cm²) and the bottom surface of the middle leaf (TB) has the lowest abundance (3.292 cell/cm²). The posisiton of attachment affect on the abundance of epiphyte microalgae.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue