cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Korelasi Intensitas Cahaya Dan Suhu Terhadap Kelimpahan Fitoplankton Di Perairan Estuari Ujung Piring Bangkalan Muhammad Zainuri; Novi Indriyawati; Wasiqatus Syarifah; Ainul Fitriyah
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.44763

Abstract

Fitoplankton merupakan mikroorganisme yang memiliki pigmen klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Dalam proses fotosintesis fitoplankton membutuhkan cahaya matahari, sehingga cahaya matahari menjadi faktor utama terhadap perkembangbiakan fitoplankton. Selain itu intensitas cahaya dapat mempengaruhi tinggi rendahnya suhu suatu perairan, sehingga suhu juga akan berpengaruh terhadap distribusi dan keberadaan fitoplankton. Penelitian ini akan menjelaskan korelasi intensitas cahaya dan suhu dengan kelimpahan fitoplakton di perairan estuari. Metode yang digunakan adalah regresi linier sederhana untuk mengetahui korelasi intensitas cahaya dan suhu terhadap kelimpahan fitoplankton. Hasil analisa data intensitas cahaya terhadap kelimpahan fitoplankton menunjukkan nilai R2 = 0,087 yang artinya bahwa kelimpahan fitoplankton dipengaruhi oleh intensitas cahaya sebesar 8,7 %, dan 91,3 % dipengaruhi oleh faktor lain. Sedangkan hasil analisa data suhu terhadap kelimpahan fitoplankton menunjukkan nilai R2= 0,016 yang artinya bahwa kelimpahan fitoplankton dipengaruhi oleh suhu sebesar 1,6 %, dan 98,4 % dipengaruhi oleh faktor lain yang salah satunya adalah intensitas cahaya matahari. Dari hasil nilai R pada penelitian dapat disimpulkan bahwa intensitas cahaya memiliki korelasi rendah terhadap kelimpahan fitoplankton dan suhu terhadap kelimpahan fitoplankton memiliki korelasi sangat rendah.    Phytoplankton are microorganisms that have chlorophyll pigments, they can carry out photosynthesis. In the process of photosynthesis, phytoplankton need sunlight, so that sunlight is the main factor in the proliferation of phytoplankton. In addition, light intensity can affect the low temperature of a waters, so that the temperature will also affect the distribution and existence of phytoplankton. This study will explain the correlation between light and temperature with phytoplankton in estuary waters. The method used is simple linear regression to determine the correlation between light and temperature on phytoplankton. The results of the analysis of light intensity data to the abundance of phytoplankton showed the value of R2 = 0.087, it’s mean that phytoplankton is influenced by light intensity by 8.7 %, and 91.3 % is influenced by other factors. While the results of analysis of temperature data to the abundance of phytoplankton showed the value of R2 = 0.016, which means that the phytoplankton is influenced by temperature by 1.6%, and 98.4% by other factors, one of which is the intensity of sunlight. From the results of the R value, it can be said that light intensity has a low correlation to the phytoplankton and temperature to the phytoplankton has a very low correlation.
Konsentrasi Fe dan Batas Aman Konsumsi Kerang Hijau (Perna viridis) dari Perairan Tambak Lorok Liningga Adiningtyas; Endang Supriyantini; Ita Widowati; Mimie Saputri
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.45754

Abstract

Di daerah Tambak Lorok terdapat banyak aktivitas manusia, baik di daratan maupun perairan yang dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi logam berat, salah satunya logam Fe. Salah satu organisme yang hidup di Perairan Tambak Lorok dan mampu mengakumulasi logam Fe adalah kerang hijau (Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan konsentrasi logam berat Fe dalam air, sedimen, dan jaringan lunak daging kerang hijau (P. viridis) serta untuk mengetahui tingkat keamanan konsumsi kerang hijau (P. viridis) harian terhadap logam Fe dari Tambak Lorok, Semarang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret dan April 2021 dengan menggunakan metode eksploratif kuantitatif. Kadar logam Fe dianalisis dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam Fe dalam air berkisar antara 0,16-1,69 mg/L; sedimen 4,39-88,07 mg/kg; dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) 0,19-2,76 mg/kg. Kandungan logam Fe dalam air menunjukkan peningkatan, sedangkan kandungan Fe dalam sedimen dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) mengalami penurunan pada bulan April. Nilai BCF (Bioconcentration Factor) < 100 yang menunjukkan akumulasi kerang hijau (P. viridis) terhadap logam Fe rendah. Untuk mengetahui batas aman konsumsi daging kerang hijau per minggu dilakukan penghitungan MTI (Maximum Tolerable Intake). Batas aman konsumsi kerang hijau untuk wanita dengan berat badan 45 kg adalah 657,96 kg/minggu dan 877,28 kg/minggu bagi laki-laki dengan berat badan 60 kg.    Many human activities seen in Tambak Lorok, both on land and in waters, may cause an increase in the concentration of heavy metals, such as Fe. One of the organisms that live in Tambak Lorok Waters and are able to accumulate Fe is the green mussels (Perna viridis). This study aims to determine the concentration of Fe in water, sediment, and soft tissue of green mussel (P. viridis) and to determine the safety level of daily consumption of green mussels (P. viridis) against Fe from Tambak Lorok, Semarang. This study was conducted on March and April 2021 using quantitative exploratory methods. The metal content of Fe was analyzed by AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Fe content in water ranged from 0.16 to 1.69 mg/L; sediment 4.39-88.07 mg/kg; and soft tissue of green mussels (P. viridis) 0.19-2.76 mg/kg. Fe content in water showed an increase, while the Fe content in sediment and soft tissue of green mussels (P. viridis) decreased in April. The BCF (Bio Concentration Factor) value is < 100, which indicates accumulation of green mussels (P. viridis) against Fe metal is low. To determine the safety limit of green mussel consumption per week, MTI (Maximum Tolerable Intake) was calculated. The safety limit for green mussel consumption for women weighing 45 kg is 657,96 kg/week and 877.28 kg/week for men weighing 60 kg. 
Keragaman Fitoplankton dan Potensi Harmfull Algal Blooms (HABs) di Perairan Sungai Musi Bagian Hilir Provinsi Sumatera Selatan Riris Aryawati; Melki Melki; Inda Azhara; Tengku Zia Ulqodry; Muhammad Hendri
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.47843

Abstract

Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai jalur transportasi dan berbagai aktivitas lainnya. Sungai Musi merupakan habitat fitoplankton yang dapat menjadi indikator kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kelimpahan, keragaman, keseragaman, dominansi, dan  menganalisis potensi HABs fitoplankton di Perairan Sungai Musi bagian hilir. Hasil pengamatan pada 10 stasiun, ditemukan 6 genus fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae (Bacillaria, Coscinodiscus, Ghemponema, Navicula, Skeletonema, Strepthotecha), 6 genus dari kelas Chlorophyceae (Chlorella, Hydrodiction, Micrasterias, Pediastrum, Platydorina, Spirogyra), 1 genus dari kelas Cyanophyceae (Oscillatoria). Hasil analisis diperoleh kelimpahan sebesar 10-483 sel/L, indeks keanekaragaman (H’) 0,89-1,57, indeks keseragaman (E) 0,75-0,99, dan indeks dominansi (C) 0,25-0,46 dengan genus fitoplankton di kelimpahan tertinggi Spirogyra dan terendah Bacillaria. Hasil pengamatan menunjukkan parameter fisika-kimia termasuk kategori baik untuk pertumbuhan fitoplankton dan ditemukan beberapa jenis fitoplankton yang berpotensi HABs (Coscinodiscus, Skeletonema, Oscillatoria).    The Musi River, the longest river on the island of Sumatra, is widely used by the community as a transportation route and for various other activities. Therefore, the Musi River is a habitat for phytoplankton and can be a bioindicator of water quality. This study aims to determine the success of analysing the abundance, diversity, uniformity, dominance and potential of HABs phytoplankton downstream of the Musi River. Observations of 10 sampling stations found six genera from the class Bacillariophyceae (Bacillaria, Coscinodiscus, Ghemponema, Navicula, Skeletonema, Streptotheca), six genera from the class Chlorophyceae (Chlorella, Hydrodiction, Micrasterias, Pediastrum, Platydorina, Spirogyra), one genus class Cyanophyceae (Oscillatoria). The results of the analysis obtained an abundance of 18-483 cells/L, the diversity index (H') 0.89-1.57, uniformity index (E) 0.75-0.99, and dominance index (C) 0.25-0.46 with the phytoplankton genus in the highest abundance of Spirogyra and the lowest Bacillariophyceae. Furthermore, the results of the observations show that the physicochemical parameters are in a suitable category for phytoplankton growth and found several types of phytoplankton that have the potential for HABs (Coscinodiscus, Skeletonema, Oscillatoria).
Pemodelan Arus dan Muatan Padatan Tersuspensi di Perairan Estuari Muara Bengawan Solo Ujung Pangkah Gresik Zainul Hidayah; Minkhatul Maula; Maulinna Kusumo Wardhani
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.42322

Abstract

Ujung Pangkah merupakan muara dari Sungai Bengawan Solo yang merupakan salah satu sungai terpanjang di Indonesia. Secara administrasi, daerah ini masuk kedalam wilayah Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik. Aliran Sungai Bengawan Solo yang bermuara di perairan estuari ini membawa sedimen yang terlarut dalam bentuk Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) yang persebarannya dipengaruhi oleh pergerakan arus.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sirkulasi arus di perairan estuari Ujung Pangkah Gresik dan menganalisis pengaruh pergerakan arus dan pasang surut terhadap sebaran MPT. Simulasi model hidrodinamika digunakan pada penelitian ini dengan input data utama adalah pasang surut dan batimetri. Hasil penelitian menjelaskan bahwa model hidrodinamika yang diperoleh untuk menjelaskan pergerakan arus pasang surut dengan kecepatan berkisar antara 0,12 -0,38 m/s. Pola sebaran menunjukkan bahwa konsentrasi MPT yang tinggi umumnya terjadi pada saat kondisi perairan surut, sedangkan pada saat kondisi pasang, nilai konsentrasi MPT cenderung rendah. Pada saat kondisi surut terendah, hasil simulasi menunjukkan konsentrasi MPT yang tinggi (360 - >440 mg/l) tepat di mulut sungai dan menyebar ke bagian utara muara. Sementara itu, di bagian timur dan selatan muara, konsentrasi MPT relatif lebih rendah, berkisar antara 80–240 mg/l. Model hidrodinamika yang diperoleh cukup baik untuk menjelaskan pergerakan arus dan MPT (MAPE <20%).   Ujung Pangkah is the estuary of the Bengawan Solo River which is one of the longest rivers in Indonesia. Administratively, this area is included in the Ujung Pangkah District, Gresik Regency. The flow of the Bengawan Solo River into the estuary carries dissolved sediments in the form of suspended solids which distribution is influenced by current movements. This study aims to determine the pattern of current circulation in the Ujung Pangkah estuary and analyze the effect of current and tidal movements on the distribution of suspended solids. Hydrodynamic model simulation is used in this study with the main data inputs are tides and bathymetry. The results of the study explain that the hydrodynamic model explain the movement of tidal currents with velocities ranging from 0,12 to 0,38 m/s. The distribution pattern shows that high suspended solids concentrations generally occur during low tide conditions, whereas during high tide conditions, suspended solids concentrations tend to be low. At the lowest low tide, the simulation results show high suspended solids concentrations (360 to >440 mg/l) at the estuary and distributed to the northern part of the estuary. Meanwhile, in the eastern and southern parts of the estuary, suspended solids concentrations were relatively lower, ranging from 80–240 mg/l. The hydrodynamic model obtained in this study was sufficient to explain the current movement and MPT (MAPE <20%).
Infeksi Jamur pada Penyu di Pelestarian Penyu Pulau Kelapa Dua, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Hani’atun Nurfajriyah; Retno Hartati; Subagiyo Subagiyo; Isai Yusidarta; Mustalafin Mustalafin
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.47765

Abstract

Penyu merupakan jenis reptil yang langka secara global berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species, dan salah satu masalah dihadapi dalam kegiatan pelestarian penyu adalah penyakit, diantaranya disebabkan oleh jamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jamur yang menginfeksi penyu, mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur, prevalensi infeksi jamur serta kondisi sanitasi dan keterkaitannya dengan kejadian infeksi jamur pada penyu di Pelestarian Penyu, Pulau Kelapa Dua, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pengamatan terjadinya infeksi dilakukan terhadap 216 ekor penyu yang ada di pelestarian penyu, yaitu pada flipper, mata, leher, pangkal ekor dan bagian plastron. Setiap dijumpai adanya infeksi jamur, dilakukan pengambilan sampel jamur dengan metode swabbing. Jumlah individu penyu yang terinfeksi dihitung dan dibandingkan dengan jumlah seluruh penyu yang diamati (diperoleh angka prevalensi infeksi jamur). Sampel jamur selanjutnya diisolasi pada media PDA (Potato Dextrose Agar) menggunakan metode spread plate. Isolat murni yang didapat diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis (menggunakan mikroskop dengan pewarnaan menggunakan Lactophenol cotton blue).  Penelitian yang dilakukan di bulan Januari 2020 mendapatkan tiga ekor penyu hijau (Chelonia mydas) berusia 9 bulan yang terinfeksi jamur, sehingga angka prevalensi infeksi adalah 0,014% (sangat rendah). Hal ini dimungkinkan karena kondisi sanitasi yang baik dan pergantian air 2 kali sehari sehingga parameter kualitas air di bak pemeliharaan, seperti suhu, salinitas dan pH sesuai dengan persyaratan untuk pemeliharaan penyu. Isolate jamur yang menginfeksi penyu di pelestarian penyu ini teridentifikasi sebagai anggota dari genus Fusarium.   Turtles are endangered reptile based on the IUCN Red List of Threatened Species, and one of the problems faced in turtle conservation activities is disease, including fungi. This study aimed to identify the species of fungi that infect turtles, the prevalence of fungal infections and sanitary conditions and their relationship to the incidence of fungal infections in turtles in Turtle Conservation, Kelapa Dua Island, Thousand Islands Marine National Park, DKI Jakarta. Observations of the occurrence of infection were carried out on 216 turtles, i.e. on their flippers, eyes, neck, base of the tail and the plastron. When a fungal infection was found, fungal samples were taken using the swabbing method. The number of infected individual turtles was counted and the prevalence rate of fungal infection was obtained. The fungi samples were then isolated on PDA (Potato Dextrose Agar) media using the spread plate method. The pure isolates obtained were identified macroscopically and microscopically (using a microscope with staining using Lactophenol cotton blue). Research conducted in January 2020 found that three 9-month-old green turtles (Chelonia mydas) infected with fungi, so the prevalence rate of infection was 0.014% (very low). This is possible due to good sanitation conditions in which the water was changed twice a day so that the water quality parameters in the rearing tank, such as temperature, salinity and pH are in accordance with the requirements for turtle rearing. The isolates of fungi that infect turtles in turtle conservation were identified as members of the genus Fusarium.
Evaluasi Pemodelan Jalur Evakuasi Tsunami Wilayah Kepesisiran Pantai Krakal dan Pantai Slili Gunungkidul An Nisa Nur Hera Anggarwati; Djati Mardiatno; Estuning Tyas Wulan Mei
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.46458

Abstract

Bencana tsunami menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Pencegahan dan pengurangan risiko bencana tsunami dapat dilakukan dengan pembuatan jalur evakuasi. Perkembangan teknologi dan sistem informasi geografis (SIG) memberikan pemodelan jalur evakuasi untuk mitigasi bencana tsunami. Tujuan penelitian yaitu menganalisis hasil pemodelan jalur tsunami dengan metode Least Cost Distace berbasis raster dan Network Analysis berbasis data vektor dan melakukan evaluasi dengan melibatkan masyarakat. Penelitian dengan pendekatan eksplanatoris sekuensial, metode analisis data kuantitatif pada tahap pertama yang diikuti oleh pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap kedua yang dibangun berdasarkan hasil awal kuantitatif. Penelitian menggunakan data primer berupa citra spot 7 yang dideliniasi sesuai Landuse dan dianalisis dengan 2 metode pemodelan jalur evakuasi. Hasil analisis di validasi dengan data sekunder berupa data lapangan melalui wawancara mendalam kepada narasumber meliputi pedagang, wisatawan maupun masyarakat local yang sedang beraktivitas di sekitar pantai serta kondisi jalur evakuasi sebenarnya. Metode pemodelan jalur evakuasi menggunakan 2 metode memperlihatkan hasil pemodelan jalur evakuasi menggunakan data vektor melalui Network Analysis dan data raster melalui Least Cost Distance (LCD) tidak selamanya menghasilkan rute yang berbeda. Perbedaan hasil dipengaruhi oleh faktor topografi, lereng, hambatan dan penghalang jalan. Hasil evaluasi kedua jalur evakuasi yang dilakukan kepada para informan menunjukkan bahwa kejenuhan narasumber lebih memahami jalur evakuasi yang dibuat dengan pemodelan Network Analysis. Hal ini dikarenakan jalur evakuasi tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi eksisting di lapangan yang sudah dibuat dan disusun oleh BPBD Yogyakarta.   The tsunami disaster caused damage and loss of life. Prevention and reduction of tsunami disaster risk can be done by making evacuation routes. The development of technology and geographic information systems (GIS) provides modeling of evacuation routes for tsunami disaster mitigation. The research objectives are to analyze the results of the tsunami path modeling using the raster-based Least Cost Distace method and the vector data-based Network Analysis and to conduct an evaluation involving the community. Research with a sequential explanatory approach, quantitative data analysis method in the first stage followed by qualitative data collection and analysis in the second stage which was built based on the initial quantitative results. This study uses primary data in the form of spot 7 images which are delineated according to Landuse and analyzed by 2 evacuation route modeling methods. The results of the analysis were validated by field data through in-depth interviews with informants including traders, tourists and local people who were doing activities around the beach. Evacuation route modeling method using 2 methods shows the results of evacuation route modeling using vector data through Network Analysis and raster data through Least Cost Distance (LCD) do not always produce different routes. Differences in results are influenced by topography, slopes, obstacles and roadblocks. The results of the evaluation of the two evacuation routes carried out to the informants showed that the saturation of the informants better understood the evacuation routes made with Network Analysis modeling. This is because the evacuation route is not much different from the existing conditions in the field that have been made and compiled by BPBD Yogyakarta.
Pengembangan Dan Karakterisasi Bioplastik Karagenan-Alginat-Gliserol Dengan Perlakuan Kalsium Klorida Ali Ridlo; Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Dinda Ayuniar Zanjabila
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.48020

Abstract

Material biopolimer tunggal seperti alginat dan karagenan tidak memiliki sifat fisiko-kimia dan mekanik yang mencukupi untuk digunakan sebagai produk spesifik seperti bioplastik, sehingga diperlukan kombinasi agar diperoleh hidrogel yang lebih kuat dan tahan air. Ion Ca2+ berperan sebagai crosslinker polimer bermuatan negative (alginat dan karagenan) serta meningkatkan struktur jaringan, sifat reologi dan hidrofobisitasnya, dengan cara berikatan silang dengan gugus karboksil alginat daan gugus sulfat karagenaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dalam larutan CaCl2 terhadap karakteristik (ketebalan, keburaman, ketahanan air, biodegradabilitas, kuat tarik dan elongasi) bioplastik alginat-karagenan-gliserol. Alginat diperoleh dari ekstraksi Sargassum sp., sedangkan karagenan diperoleh dari ekstraksi rumput laut K. alvarezii yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Bioplastik dibuat dengan cara mencampur 1,5 g karagenan dan 0,5 g alginat dalam 146 mL akuades pada suhu 90℃ selama 45 menit, lalu ditambahkan gliserol 2 mL  pada suhu 70℃ dan dihomogenkan selama 15 menit, kemudian dicetak pada cetakan gelas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50℃ selama 18 jam. Setelah itu bioplastik dilepas dari cetakannya dan direndam dalam larutan CaCl2 (1%; 2%; 3% dan 4%) selama 5 menit lalu dikeringkan pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dalam larutan CaCl2 meningkatkan secara signifikan (p < 0,05) kuat tarik, ketahanan air, dan opacity dan menurunkan ketebalan, elongasi, dan biodegradabilitas bioplastik alginat-karagenan-gliserol. Ketebalan dan kuat tarik bioplastik alginat-karagenan-gliserol yang dihasilkan telah memenuhi Japanese Industrial Standard.Single biopolymer materials such as alginate and carrageenan do not have sufficient physico-chemical and mechanical properties to be used as specific products such as bioplastics, so a combination is needed to obtain stronger and water-resistant hydrogels. The Ca2+ ion acts as a crosslinker for negatively charged polymers (alginate and carrageenan) and improves the network structure, rheological properties and hydrophobicity, by cross-linking with the carboxyl group of alginate and the sulfate group of carrageenan. This study aims to determine the effect of immersion in CaCl2 solution on the characteristics (thickness, opacity, water resistance, biodegradability, tensile strength and elongation at break) of alginate-carrageenan-glycerol bioplastic. Alginate was obtained from the extraction of Sargassum sp., while carrageenan was obtained from the extraction of K. alvarezii seaweed from Jepara, Central Java. Bioplastics were made by mixing 1.5 g of carrageenan and 0.5 g of alginate in 146 mL of distilled water at 90℃ for 45 minutes, then adding 2 mL of glycerol at 70℃ and homogenized for 15 minutes, then molded on a glass mold and dried in the oven at 50℃ for 18 hours. after that, the bioplastic was removed from the mold and immersed in a solution of CaCl2 (1%; 2%; 3% and 4%) for 5 minutes and then dried at room temperature. The results showed that immersion in CaCl2 solution significantly increased (p < 0.05) tensile strength, water resistance, and opacity and decreased thickness, elongation, and biodegradability of alginate-carrageenan-glycerol bioplastics. The thickness and tensile strength of the alginate-carrageenan-glycerol bioplastic produced complies with the Japanese Industrial Standard.
Estimasi Cadangan Karbon Mangrove Berdasarkan Perbedaan Tahun Tanam Rehabilitasi Mangrove (2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017) di Kawasan Ekowisata Mangrove Pandansari, Kabupaten Brebes Yasser Ahmed; Cahyadi Adhe Kurniawan; Ganis Riyan Efendi; Rudhi Pribadi; Frans Alexander Nainggolan; Mohamad Bangkit Gunung Surya Samudra
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.40871

Abstract

Ekosistem mangrove sangat rentan terhadap kerusakan yang ditimbulkan baik oleh bencana alam maupun karena ulah manusia. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekosistem mangrove adalah dengan melakukan rehabilitasi mangrove. Hal ini cukup penting dilakukan mengingat ekosistem mangrove sangat baik dalam proses penyerapan gas CO2 diudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hutan mangrove di pesisir Desa Kaliwlingi mampu menyerap karbon dari udara berdasarkan tahun tanam rehabilitasi mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2021 dengan menggunakan metode deskriptif. Metode pengambilan data karbon mangrove mengacu pada panduan pengukuran dan penghitungan cadangan karbon dari Standar Nasional Indonesia (SNI 7724:2011) tahun 2011. Pengambilan data karbon meliputi karbon atas permukaan (above ground), bawah permukaan (below ground) dan sedimen.  Perhitungan nilai kandungan biomassa berdasarkan rumus allometrik tiap spesies dan uji laboratorium untuk sampel sedimen. Nilai total estimasi cadangan karbon atas permukaan (above ground) dan bawah (below ground) yaitu sebesar 660,38 ton/ha dan 417,93 ton/ha, sedangkan untuk estimasi cadangan karbon berdasarkan spesies mangrove yang didominasi oleh Rhizophora mucronata yaitu sebesar 312,075 ton/ha. Nilai total kandungan karbon pada sedimen paling tinggi sebesar 289,08 ton/ha pada stasiun tanam 2005 dan kedalaman 5-10 cm memiliki nilai total karbon paling tinggi sebesar 335,23 ton/ha.  Mangrove ecosystems are very vulnerable to damage caused by both natural and human-made disasters. One of the activities that can be done to improve the condition of the mangrove ecosystem is to carry out mangrove rehabilitation. This is quite important considering that the mangrove ecosystem is very good at absorbing CO2 gas in the air. This study aims to determine how much mangrove forest on the coast of Kaliwlingi Village can absorb carbon from the air based on the planting year of mangrove rehabilitation. This research was conducted in January 2021 using a descriptive method. Method of mangrove carbon data collection refers to the guideline for measuring and calculating carbon stocks from the Indonesian National Standard (SNI 7724:2011) in 2011. Carbon data collection includes above ground (above ground), below ground (below ground), and sediment. The calculation of the value of the biomass content is based on the allometric formula for each species and laboratory tests for sediment samples. The total value of the estimated above-ground and below-ground carbon stocks is 660.38 tons/ha and 417.93 tons/ha, while the estimated carbon stocks are based on mangrove species dominated by Rhizophora mucronata are 312.075 tons. /Ha. The highest total value of carbon content in sediments was 289.08 tons/ha at the 2005 planting station and a depth of 5-10 cm had the highest total carbon value of 335.23 tons/ha.
Dampak Variabilitas Iklim Inter-Annual (El Niño, La Niña) Terhadap Curah Hujan dan Anomali Tinggi Muka Laut di Pantai Utara Jawa Tengah Meida Yustiana; Muhammad Zainuri; Denny Nugroho Sugianto; Mahardiani Putri Naulia Batubara; Anistia Malinda Hidayat
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.48377

Abstract

El Niño dan La Niña memiliki pengaruh signifikan terhadap dinamika cuaca di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak fenomena tersebut terhadap curah hujan (CH) dan anomali tinggi muka laut (TML) di Pantai Utara Jawa Tengah meliputi wilayah Brebes, Pemalang, Pekalongan dan Semarang menggunakan analisis kuantitatif deskriptif selama  1993 – 2020. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah anomali TML, anomali suhu permukaan laut, dan data observasi CH bulanan dari pos hujan Pusdataru dan BMKG. Data tersebut ditampilkan dalam bentuk grafik anomali CH dan grafik overlay indeks Nino 3.4 dan anomali TML yang dikelompokkan berdasarkan data komposit 3 bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada periode pengamatan terjadi 2 kali El Niño sangat kuat pada November 1997 dan November 2015 dan juga 2 kali La Niña kuat pada Januari 2000 dan Januari 2008 dengan periode perulangan rerata setiap 8 tahun. Hubungan signifikan antara El Niño dan La Niña yang diwakili oleh indeks Nino 3.4 terhadap CH di Indonesia terjadi pada periode September-Oktober-November (SON), dengan nilai koefisien korelasi -0.53692 – (-0.7304). Masih dalam periode yang sama, hubungan anomali CH dan anomali TML juga menunjukkan nilai koefisien korelasi tertinggi di Semarang, Pekalongan dan Pemalang sebesar 0.546202 - 0.676914.  El Niño and La Niña are two of several components of climate variability which has significant influence toward weather dynamics over Indonesia, including on the North Coast of Central Java. For this reason, this research aims to determine the impact of these two phenomena on rainfall and sea level anomaly (SLA) on the North Coast of Central Java covering Brebes, Pemalang, Pekalongan, and Semarang Regions using descriptive quantitative analysis using data from 1993 – 2020. The data used in this study were SLA, sea surface temperature anomaly in the Nino 3.4 region, and monthly rainfall observation data from the Pusdataru and BMKG rain posts, displayed in the form of a rainfall anomaly graph and an overlay graph of the Nino 3.4 index and SLA and grouped based on 3 months composite data. The analysis result showed that during the observation period there were two strong El Niño, in November 1997 and 2015, and also two strong La Niña in January 2000 and 2008 with a repeating period every eight years. The significant relationship between El Niño and La Niña represented by the Nino index 3.4 on rainfall in Indonesia occurred in September-October-November (SON), with a correlation coefficient of -0.53692 – (-0.7304). Still in the same period, the relationship between rainfall anomaly and SLA also showed that the highest correlation coefficient value occurs in the SON month in Semarang, Pekalongan, and Pemalang at 0.546202 - 0.676914.
Gastropoda Mangrove Terebralia palustris (Linnaeus 1767) di Pantai Payum Kabupaten Merauke Papua Dandi Saleky; Rika Anggraini; Sendy L. Merly; Arina Ruzanna; Muhammad Fauzan Isma; Jemmy Manan; Agus Putra Abdul Samad; Riri Ezraneti; Syahrial Syahrial
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.46376

Abstract

Gastropoda banyak ditemukan di ekosistem mangrove dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan maupun kerapatan hutan mangrove. Salah satu gastropoda yang ditemukan adalah Terebralia palustris yang sering dijadikan sebagai bioindikator kesehatan mangrove. Kajian T. palustris (Linnaeus 1767) dilakukan pada bulan September 2020 di hutan mangrove Pantai Payum Merauke Papua dengan 3 stasiun pengamatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan, hubungan panjang berat tubuh, kualitas dan penciri lingkungannya serta faktor penentu distribusi dan kepadatan T. palustris di Pantai Payum. T. palustris maupun mangrove dikumpulkan dengan membuat transek garis sepanjang 50 m tegak lurus garis pantai dan dibuat petak-petak contoh berukuran 10 x 10 m untuk mangrove serta 1 x 1 m (di dalam plot 10 x 10 m) untuk T. palustris. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kepadatan T. palustris bervariasi di setiap stasiun pengamatan dengan kepadatan tertinggi berada pada Stasiun 2 (54,20 ind/m2) dan terendahnya pada Stasiun 3 (19,67 ind/m2). Pola pertumbuhan T. palustris bersifat allometrik negatif. Untuk kualitas lingkungan secara keseluruhan, hasil penghitungan memperlihatkan bahwa kerapatan mangrovenya tergolong tinggi (> 1000 ind/ha) dengan parameter kualitas perairan untuk suhunya berkisar antara 28,33 – 31,67°C, DO 5,60 – 7,67 mg/L, pH 6,83 – 7,53 dan salinitas 29,33 – 30,00‰. Analisis PCA memperlihatkan bahwa penyebaran stasiun pengamatan dan karakteristik lingkungan membentuk 2 kelompok dengan kelompok pertama Stasiun 3 dipengaruhi oleh salinitas, suhu, DO dan kerapatan mangrove yang tinggi, sedangkan kelompok kedua Stasiun 1 dan 2 dipengaruhi oleh pH yang tinggi serta diameter batang mangrove yang besar. Berdasarkan hasil analisis PCA, faktor penentu distribusi dan kepadatan T. palustris adalah suhu, DO dan kerapatan mangrove.   Many mangrove habitats contain gastropods, which are greatly influenced by environmental conditions and the density of mangrove trees. One of the gastropods discovered was Terebralia palustris, which is frequently employed as a bioindicator of mangrove health. A research of T. palustris (Linnaeus, 1767) was done in September 2020 at three observation sites in the mangrove forest of Payum Beach, Merauke Papua. This study aims to evaluate the density, the relationship between body length and weight, the quality and characteristics of the environment, and the distribution and density determinants of T. palustris in Payum Beach. T. palustris and mangroves were gathered by constructing a 50 m perpendicular to the seashore line transect and creating 10 x 10 m plots for mangroves and 1 x 1 m plots (within a 10 x 10 m plot) for T. palustris. The study revealed that the density of T. palustris fluctuated at each observation station, with the highest density occurring at Station 2 (54.20 ind/m2) and the lowest density occurring at Station 3 (19.67 ind/m2). The T. palustris growth pattern is negative allometric. The calculation findings indicate that the mangrove density is high (> 1000 ind/ha) and that the water quality parameters range from 28.33 to 31.67°C, DO 5.60 to 7.67 mg/L, pH 6.83 to 7.53, and salinity 29.33 to 30.00‰. PCA analysis revealed that the distribution of observation stations and environmental parameters formed two groups, with Station 3 influenced by salinity, temperature, DO, and a high mangrove density, and Stations 1 and 2 influenced by a high pH and a big mangrove trunk diameter. According to the results of PCA analysis, the distribution and density of T. palustris are determined by temperature, DO, and mangrove density.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue