cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi
Published by Universitas Lampung
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
REVITALISASI SEPAKBOLA INDONESIA SEBAGAI UPAYA RESOLUSI KONFLIK OLEH KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA (KEMENPORA) - (Studi Kasus Konflik PSSI padaMasa Pemerintahan JokoWidodo dan Jusuf Kalla) AKBAR, MOHAMMAD
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku A- Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.563 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan dinamika revitalisasi yang dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sebagai bentuk dari resolusi konflik yang sedang terjadi di dalam sepakbola Indonesia. Resolusi konflik ini merupakan langkah yang dilakukan pada masa pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) terhadap Persatuan Sepakbola seluruh Indonesia (PSSI) yang mengelola sepakbola Indonesia.Teori yang digunakan dalam penelitian ini teori public relations, khususnya teori citra Frank Jefkins yang digunakan untuk melihat bagaimana kesan dan gambaran publik sepakbola Indonesia terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Teori lain yang digunakan adalah teori revitalisasi yang digunakan untuk mengukur sejauh mana proses atau cara pemerintah untuk menjadikan sepakbola Indonesia sebagai upaya memperbaiki citra pemerintah dengan melakukan pembenahan terhadap PSSI. Lalu teori konflik Lewis Coser digunakan untuk melihat faktor-faktor yang memunculkan terjadinya konflik dalam sepakbola.Untuk paradigma penelitian digunakan konstruktivisme, dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus Hasil penelitian dan analisis didasarkan kepada wawancara, observasi, dokumen dan pemberitaan media.Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa konflik ini sengaja diciptakan untuk meningkatkan citra yang positif bagi pemerintahan Jokowi-JK. Konflik ini digunakan sebagai cara pemerintah untuk mengkonsolidasikan pengaruhnya di PSSI.
KONSTRUKSI NARASI KADER PENGGERAK LEMBAGA KESWADAYAAN MASYARAKAT RATNA DEWI, LIZA DWI; MARYANI, DINI; MARYANI, DINI
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku B - Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.665 KB)

Abstract

Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) adalah program pencegahan dan peningkatan kualitas pemukiman kumuh yang merupakan penjabaran dari pelaksanaan Rencana strategis Dirjend Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 2015 – 2019. Namun di tingkat akar rumput, program ini tidak semua berjalan dengan baik. Salah satunya adalah di Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Berkat kehadiran seorang kader, sebuah Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang vakum, berhasil digerakkan. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: Bagaimana konstsruksi narasi kader dalam menggerakkan LKM. Teori yang digunakan adalah Narative Paradigm and Storytelling karya Walter Fisher. Teori ini mengatakan bahwa pesan persuasif yang efektif bukanlah pesan tentang fakta rasional, melainkan lebih kepada pesan narasi yang mampu meyakinkan khalayak tentang alasan / argumen/ justifikasi yang baik (good reasons) untuk terlibat dalam suatu tindakan tertentu. Metode yang digunakan adalah Hermeneutika, yang merupakan studi yang menekankan suatu pembacaan detail atau pengujian terhadap teks. Yang dimaksud teks di sini dapat berwujud sebuah percakapan, tulisan, ataupun gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader mengkonstruksikan narasinya dengan cara: 1. Menanyakan kepada masyarakat apa masalah yang dihadapi; 2. Memberikan contoh-contoh keberhasilan kader di lokasi lain untuk membangun kredibilitas kader; 3. Membalik masalah/keluhan masyarakat tersebut dalam pesan-pesan persuasif solutif sehingga masyarakat yakin kader tersebut menjawab permasalahan yang ada. 4. Menyusun kalimat-kalimat dengan jargon kearifan lokal sehingga pesan mudah diterima masyarakat. 5. Memperkuat narasinya dengan pembuktian pelaksanaan di lapangan sehingga gerakan sosial terwujud. Kata Kunci: Narasi, Kader, Gerakan Sosial.
EKSISTENSI “JASENG” (BAHASA JAWA SERANG) SEBAGAI UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA DALAM PROGRAM SUDUT KELAS DI RADIO KAMPUS TIRTA FM PRIANA, RONNY YUDHI SEPTA
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku A- Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.811 KB)

Abstract

Pemertahanan identitas kelompok dapat dilakukan melalui pemertahanan bahasa yang berlaku dalam kelompok masyarakat tersebut. Perkembangan tekhnologi dan informasi berdampak pula pada pergeseran budaya dan bahasa hal ini disebabkan oleh adanya interaksi yang dilakukan oleh setiap individu dengan individu lain yang berbeda latar belakang budaya dan bahasa. Bahasa merupakan media yang dapat merepresentasikan identitas baik individu maupun sosial. Identitas suatu kelompok masyarakat dapat diperlihatkan melalui jenis bahasa yang digunakan dan cara bicara setiap anggota kelompok masyarakat tersebut. Bahasa merupakan bagian dari budaya yang melekat pada kelompok masyarakat penggunanya. Bahasa Jawa Serang (Jaseng) merupakan bahasa daerah yang berlaku dan digunakan oleh sebagian masyarakat Provinsi Banten khususnya yang berdomisili di Kota Serang. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mempertahankan bahasa dan menjaga eksisitensi bahasa yaitu melalui penggunaan bahasa Jaseng sebagai bahasa penghantar dan tema program pada Radio Komunitas. Yang menjadi kajian dalam tulisan ini adalah bagaimana media komunitas dimanfaatkan sebagai media pemertahanan bahasa melalui proses produksi, distribusi dan konsumsi program siaran. Data penelitian adalah bahasa yang digunakan dalam penghantar dan tema program siaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Dimana peneliti mendeskripsikan hasil temuan. Hasil penelitian menujukkan bahwa media komunitas dapat menjadi alternatif dan solusi untuk pemertahanan bahasa dan budaya suatu kelompok masyarakat.
KEKUATAN NILAI KEARIFAN LOKAL SEBAGAI MEDIA PERSUASIF DALAM MEREDAM KONFLIK ISU SARA PADA PILKADA TAHUN 2017 PRATIWI, SRI
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku A- Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.985 KB)

Abstract

Pilkada atau pemilihan kepala daerah yang akan dilaksanakan secara serentak pada tahun 2017 akan menghadapi kemungkinan konflik berbau sara, hal ini akan membawa dampak negatif bagi satu kesatuan bangsa. Indonesia memiliki beragam budaya yang menghasilkan nilai kearifan lokal sehingga dapat menjadi satu kekuatan. Kekuatan dari nilai yang dimiliki oleh budaya kita ini dapat dijadikan satu media persuasif dalam mengajak masyarakat kita untuk mengendalikan emosi dalam diri. Penelitian ini berusaha untuk mengetahui nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat sehingga dapat menjadi kekuatan dalam meredam konflik isu sara, sekaligus untuk mengetahui media yang tepat dalam mengkomunikasikan kepada publik tentang pentingnya nilai kearifan lokal. Peneliti melakukan penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan fokus pada nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Indonesia, kemudian media apa yang digunakan dalam mengkomunikasikan kepada publik tentang nilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa kita sehingga dapat meredam isu sara yang kerap terjadi dalam pesta demokrasi. Data dikumpulkan melalui wawancara, dan dokumentasi. Lokasi penelitian berada di kota Medan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa (1) nilai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat berdasarkan pada nilai yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika dan juga Pancasila, dan (2) media yang efektif yang dapat digunakan dalam mengkomunikasikan kepada publik tentang pentingnya nilai kearifan lokal melalui pagelaran budaya, pembelajaran di sekolah, media film yang mengangkat unsur budaya, dan sosialisasi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud.
IMPLEMENTASI PERMENDAGRI NOMOR 13 TAHUN 2011 SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DI PEMERINTAHAN BUDIANA, HERU RYANTO; PRASTOWO, FX ARI AGUNG; SANI, ANWAR
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku B - Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.699 KB)

Abstract

Permasalahan-permasalahan yang muncul di negara ini dari tingkat nasional sampai tingkat desa semakin membuktikan bahwa peran dan fungsi humas memiliki arti penting. Bagaimana humas idealnya mengkomunikasikan informasi tentang kinerja atau apa yang telah, sedang dan akan dilakukan pemerintah. Penyampaian informasi tersebut dimaksudkan bukan sekedar agar masyarakat mengetahuinya, tapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah untuk membangun opini positif pemerintah, mind set masyarakat, dan muaranya adalah tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam membangun negeri. .Namun demikian, perkembangan dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintahan sekarang semakin berat, sehingga fungsi humas tidak hanya dilaksanakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika. Pemerintah melalui kementerian komunikasi dan informatika telah membuat terobosan baru dengan merekrut petugas humas, namun demikian keberadaannya bukan tanpa masalah, karena pemerintah sebelumnya telah memiliki pranata humas dan kemendagri telah mengeluarkan Permendagri no 13 tahun 2011 tentang kewenangan humas pemerintah di lingkungan pemerintah dalam negeri. Tidak adanya komunikasi dan koordinasi menjadi titik persoalan komunikasi pemerintahan baik di level pusat sampai dengan level daerah. Kata Kunci : Komunikasi, Humas, Pemerintah
AKSES REMAJA PADA TELEVISI LOKAL DI LAMPUNG SEBAGAI MEDIA INFORMASI DAN HIBURAN DENGAN KONTEN KEDAERAHAN OKTIANI, HESTIN; SULISTYARINI, DHANIK; ARYANTI, NINA YUDHA
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku B - Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.776 KB)

Abstract

Artikel ini merupakan ringkasan hasil penelitian yang membahas mengenai bagaimana akses remaja di Bandar Lampung pada televisi lokal di Lampung. Televisi lokal memiliki konten kedaerahan yang lebih banyak dibanding televisi nasional dan televisi berjaringan. Konten kedaerahan meliputi berita, informasi tentang Lampung dan hiburan yang terkait dengan budaya Lampung. Konten kedaerahan seharusnya menjadi nilai lebih bagi televisi lokal untuk menjaga eksistensinya dalam menghadapi kompetisi di industri penyiaran televisi karena idealnya menjadi pilihan utama masyarakat Lampung, termasuk remaja di Lampung. Metode penelitian ini adalah survey, dengan responden remaja penonton televisi lokal di Bandar Lampung yang dipiilh secara acak. Bandar Lampung dipilih sebagai lokasi penelitian karena di wilayah ini siaran televisi lokal dapat ditangkap dengan baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun penetrasi remaja pada internet semakin tinggi, televisi masih menjadi pilihan bagi sebagian remaja di Bandar Lampungi. Tetapi tidak banyak remaja yang mengakes televisi lokal Lampung. Beberapa faktor yang membuat remaja di Bandar Lampung jarang mengakses siaran televisi lokal Lampung adalah format penyajian yang kurang menarik, konten tentang Lampung diangggap belum cukup dan kurang bervariasi, serta kesulitan untuk mengakses karena belum semuanya bersiaran dengan jaringan internet. Kata Kunci: televisi lokal, akses informasi
PARTISIPASI BLOGGER DALAM KEGIATAN FESTIVAL KRAKATAU (Studi Kasus Tentang Partisipasi Blogger dalam Mempromosikan Wisata dan Budaya Provinsi Lampung melalui Kegiatan Festival Krakatau) EVADIANTI, YULI; TRIWILOPO, SENDY
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku B - Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.125 KB)

Abstract

Penelitian ini tentang partisipasi blogger dalam kegiatan Festival Krakatau. Tujuan penelitian mengetahui partisipasi blogger dalam kegiatan Festival Krakatau. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasusdengan teori interaksi simbolik. Maksud dari penggunaan teori tersebut adalah agar orang (wisatawan) tertarik datang ke Provinsi Lampung untuk menikmati kebudayaan, kesenian, dan wisata unggulan yang ada di Lampung. Teknik pengambilan data pada penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu memilih orang-orang tertentu yang sesuai dengan syarat dan kriteria yang ditentukan penulis.Blogger yang digunakan sebagai informan sebanyak tiga orang. Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui pemahaman komunitas blogger dalam kegiatan Festival Krakatau. Hasil penelitian ini diketahui bahwa jumlah wisatawan asing dan domestik dari tahun ke tahun bertambah, antusiasme akan kegiatan ini terlihat dari pertunjukkan budaya dan seni dari berbagai kabupaten/kota Provinsi Lampung dan luar provinsi. Kata kunci : Blogger,Festival, Festival Krakatau
PRIMORDIALISME SEMU VERSUS GERAKAN ANTIKORUPSI - (Studi Kritis Pemberitaan Tangkap Tangan Irman Gusman di Media Daring Sumatera Barat dan Nasional) Gautama, Mohammad Isa
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku A- Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.011 KB)

Abstract

Korupsi merupakan endemik paling berbahaya saat ini di Indonesia, dampak negatifnya tidak saja merambah sisi ekonomi, namun juga mendegradasi nilai-nilai dan standar moral di tengah masyarakat. Berbagai barometer baik di tingkat nasional maupun internasional, masih menempatkan Indonesia sebagai negara korup. Korupsi dilakukan di berbagai level, mulai dari level terendah hingga para pejabat publik, bahkan pejabat tinggi negara. Baru-baru ini korupsi juga dilakukan oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah, Irman Gusman. Media massa memberitakannya secara gencar, tak terkecuali media lokal dan nasional. Penelitian ini menganalisis pemberitaan tindak korupsi yang dilakukan Irman Gusman sebagai tokoh elit politik yang dimuat di media daring lokal dan nasional. Peneliti menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) melalui pendekatan Analisis Framing versi Robert N. Entman. Data yang dikumpulkan bersumber dari pemberitaan dua media daring nasional (kompas.com dan detik.com), serta dua media daring lokal di Sumatera Barat (covesia.com, gosumbar.com, dan klikpositif.com). Pertanyaan utama studi adalah: Bagaimana proses seleksi berita serta penonjolan pada aspek tertentu tergambar dalam pemberitaan di masing-masing media sekaitan dengan pembentukan opini masyarakat? Kedua, posisi apa yang dipilih oleh media bersangkutan dalam hal pemberitaan kasus Irman Gusman sekaitan agenda pemberantasan korupsi di Indonesia dewasa ini? Temuan utama penelitian adalah terdapat bias primordialisme semu yang bersumber dari pemahaman subjektif dalam pemberitaan media daring lokal. Sebaliknya, media nasional secara implisit cukup konsisten memprioritaskan agenda kampanye antikorupsi secara proporsional dalam pemberitaannya. Hal ini memperkuat konsep dasar analisis wacana bahwa media ternyata tidaklah benar-benar netral dalam memberitakan apa pun, lebih-lebih yang menyangkut kepentingan sosial-politik dan budaya. Kata Kunci: korupsi, pemberitaan, analisis framing, primordialisme.
OPTIMALISASI PERANAN PETUGAS ‘WARNET’ DALAM MENGANTISIPASI PENGAKSESAN SITUS PORNO OLEH PELANGGAN DI BAWAH UMUR MAHAMERUAJI, JIMI N.; HAFIAR, HANNY
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku B - Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.351 KB)

Abstract

Keberadaan Internet sebagai new media telah merambah setiap lapisan masyarakat. Hal ini membuka peluang yang direspons dengan menjamurnya Warung Internet. Jenis usaha ini dapat dianggap sebagai salah satu upaya bisnis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengakses informasi melalui internet. Namun, seiring dengan perkembangan program software internet, fungsi warnet bergeser tak sekedar menyediakan fasilitas informasi, namun juga melayani kebutuhan entertainment. Terdapat beberapa lapisan masyarakat yang mendatangi internet sekedar untuk bermain game online, termasuk anak-anak. Pada kondisi tertentu, saat menggunakan internet, dapat saja pengguna melihat adanya situs-situs yang memiliki konten yang buruk, misalnya situs yang bermuatan pornografi. Hal ini menjadi persoalan serius manakala, pelanggan yang masih anak-anak yang tentu saja masih berada di bawah umur, secara tak sengaja membuka dan melihat isi situs tersebut. Oleh karena itu diperlukan peranan petugas warnet dalam meminimalisasi ekses buruk dari situs semacam ini bagi pelanggannya. Berdasarkan hal tersebut, riset ini bertujuan untuk melihat adanya upaya untuk mengoptimalisasikan peranan petugas warnet dalam mengantisipasi pengaksesan situs yang mengandung unsur pornografi oleh pelanggannya yang masih berada di bawah umur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi kepada para petugas warnet di beberapa warnet yang banyak dikunjungi anak-anak. Adapun hasilnya menunjukan terdapat berbagai kendala sehubungan upaya petugas untuk memberi pemahaman tentang efek negatif pornografi kepada anak-anak. Namun demikian, terdapat pula upaya yang dilakukan oleh petugas warnet yang terdiri dari beberapa tahapan komunikasi yang disampaikan kepada pelanggannya yang masih di bawah umur. Kata Kunci: komunikasi, petugas warnet, internet, pornografi, anak-anak
PERSONAL BRANDING DAN RETORIKA KOMUNIKATOR POLITIK PADA PEMILUKADA DKI JAKARTA 2017 - (Analisis Retorika Atas Teks Pidato sebagai Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Pada Penentuan Nomor Urut Peserta Pemilu) WAHID, UMAIMAH
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku A- Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.649 KB)

Abstract

Pemilihan umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 menjadi perhatian dan pembicarakan publik Jakarta, Indonesia bahkan dunia. Dalam Pemilukada komunikator politik yaitu calon gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta berlomba membentuk personal branding untuk memperoleh persepsi dan opini positif publik Jakarta yang akan menberikan hak pilih pada hari pemungutan dan penghitungan suara, 15 Februari 2017. Salah satu sarana pembentukan opini publik adalah pidato politik, dan yang menjadi fokus penelitian ini adalah pidato politik dan proses pembentukan personal branding komunikator politik.. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui, menjelaskan dan melakukan interpretasi mengenai pembentukan personal branding kandidat gubernur pemilukada Jakarta melalui teks pidato yang disebut sebagai ?pidato politik pertama?. Teori yang digunakan adalah Komunikasi politik khususnya komunikator politik, pembicaraan dan pidato politik, teori retorika Roderick P. Hart melukiskan ?alam pikiran retorika? dengan konsep utama yaitu scientifically demonstrable, artistically creative, philosophically reasonable dan socially concerned dan teori public relations khususnya personal branding. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme, pendekatan kualitatif dan metode analisis retorika. Personal branding dipandang sangat penting dibentuk sejak awal (dini) oleh komunikator politik khususnya politisi yang ikut pilkada mampu mengdongkrak popularitas dan kepercayaan publik. Teks pidato pada agenda penentukan nomor urut nyatanya dipergunakan secara maksimal oleh calon kandidat terutama pasangan Agus Yudhoyono-Silviana Murni sebagai pasangan yang cenderung diragukan. Oleh karenanya pidato politik bukanlah pidato biasa, melainkan pidato yang dapat melahirkan pembicaraan politik di kalangan masyarakat dan karenanya harus dipikirkan dengan seksama terkait isi, gaya bahasa dan siapa komunikator yang menyampaikan pidato. Pidato politik mewakili dan menjelaskan apa, siapa, bagaimana dan mengapa pasangan kandidat yang dapat membentuk personal branding.