cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
NASIONALISME PENDUDUK PERBATASAN ENTIKONG-SERAWAK DALAM PERSPEKTIF KEBAHASAAN Evi Noviyanti
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5164

Abstract

The population in the border area is the stronghold of the leading Indonesian. Sense of nationalism they have to stay awake, for the integrity of NKRI awake.However, their presence in remote areas causing less attention from thegovernment for incompleteness of facilities and inadequate infrastructure. Thissituation is a factor decreasing their sense of nationalism. Entikong is a districtdirectly adjacent to the Sarawak state of Malaysia. Striking differences whencomparing the social and economic situation in Entikong with towns in Sarawak.This discussion aims to discuss the sense of nationalism from the perspective oflinguistic Entikong population. Data obtained from direct observation andinterviews with residents in the district Entikong. From the foregoing it is knownthat sense of nationalism of Entikong people in linguistic perspective is quit high. Penduduk yang berada di daerah perbatasan merupakan benteng terdepanbangsa Indonesia. Oleh karena itu, rasa nasionalisme mereka harus tetapterjaga agar integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga.Namun, keberadaan mereka di daerah yang terpencil menyebabkan merekakurang mendapat perhatian dari pemerintah. Kelengkapan sarana danprasarana jauh dari kata memadai. Keadaan yang demikian dapat menjadifaktor penyebab surutnya rasa nasionalisme penduduk yang tinggal di daerahperbatasan. Entikong merupakan sebuah kecamatan yang berbatasan langsungdengan negara bagian Serawak, Malaysia. Perbedaan cukup mencolok dapatditemui jika membandingkan keadaan sosial dan ekonomi di Entikong dengankota-kota di Serawak, Malaysia. Pembahasan ini bertujuan untuk membahasrasa nasionalisme penduduk Entikong dari perspektif kebahasaan. Datadiperoleh melalui opservasi langsung dan wawancara dengan penduduk dikecamatan Entikong. Dari pembahasan ini diketahui bahwa walaupun terdapatperbedaan yang signifikan antara Entikong dan Serawak, nasionalismependuduk Entikong dalam perspektif kebahasaan cukup tinggi.
JIWA BAHARI MASYARAKAT MANDAR DALAM KALINDAQDAQ (Maritime Spirit of Mandar Society in Kalindaqdaq) NFN Jemmain
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5185

Abstract

Kalindaqdaq is an oral literary work of Mandar society forming poetry and contented  much  by  its  supporting  society.  Kalindaqdaq  is  related  closely  tofeeling, thought, and background of who creates it. Thus, kalindaqdaq can arise in any condition of human life. Problem of research is focused on kalindaqdaq describing maritime spirit of Mandar society. The aim is to describe and toexplain kalindaqdaq relating to maritime spirit owned by Mandar society. This research is descriptive qualitative describing object as it should be. Result ofresearch shows that maritime spirit of Mandar society is described in kalindaqdaq, it is caused by Mandar society is coastal society in which part of them live in Mandar bay. Kalindaqdaq adalah salah satu bentuk sastra lisan Mandar yang berbentukpuisi dan sangat digemari oleh masyarakat pendukungnya. Kalindaqdaq sangat erat hubungannya dengan perasaan, pikiran, dan latar belakang orang yangmenciptakannya. Dengan demikian kalindaqdaq dapat muncul dalam berbagaimacam situasi dalam kehidupan manusia. Masalah penelitian ini difokuskan pada kalindaqdaq yang menggambarkan jiwa bahari masyarakat Mandar. Tujuannya untuk mendeskripsikan dan menjelaskan kalindaqdaq yang berkaitan dengan jiwa bahari yang dimiliki oleh masyarakat Mandar. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif yang menggambarkan objek sesuai apa adanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jiwa bahari masyarakat Mandar tergambar dalam kalindaqdaq, karena memang masyarakat Mandar adalah masyarakat bahari yang sebahagian besar mendiami pesisir Teluk Mandar.
MENGUNGKAP MAKSUD TERSEMBUNYI PERTANYAAN ANAK USIA 5 TAHUN DALAM PERCAKAPAN KELUARGA I Wayan Pageyasa
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5165

Abstract

This research problem is what are the hidden meaning of five age children‟squestion in family conversation? The purpose of this research is to describe and gain  a  deep  understanding  of  the  hidden  meaning  of  five  aged  children‟s question in family conversation. The design used in this study was decriptive qualitative design. The result of the study: (1) the hidden meaning of five age children‟s quetion in family conversation are the ruling in five forbid ask and reject, (2) understand the question, in particular the purpose hidden in the question, a person must consider the context of the speech very well. Without it, the hidden meaning of five aged children‟s quetion in family conversation cannot be interpreted correctly. A similar question when different context would lead to differences in meaning. Masalah penelitian ini adalah: Apa maksud tersembunyi pertanyaan anak usia  5  tahun  dalam  percakapan  keluarga?  Penelitian  ini  bertujuan  untukmendekripsikan dan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang maksud tersembunyi pertanyaan anak usia lima tahun dalam percakapan keluarga yang berbahasa Indonesia. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalahrancangan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh: (1) maksud tersembunyi dalam pertanyaan anak usia lima tahun dalam percakapan keluargaada lima, yakni memerintah, mengajak, melarang, meminta, dan menolak, (2) dapat memahami pertanyaan, khususnya maksud dan fungsi tersembunyi dalam pertanyaan,  seseorang  harus  memperhatikan  konteks  tuturan  dengan  baik.Tanpa hal tersebut, implikatur pertanyaan tidak dapat dimaknai dengan benar. Suatu pertanyaan yang sama apabila berbeda konteksnya akan menimbulkanperbedaan maknanya.
IDENTITAS GENDER DALAM NOVEL LELAKI TERINDAH KARYA ANDREI AKSANA (Gender Identity in Novel Lelaki Terindah by Andrei Aksana) Ery Agus Kurnianto
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5186

Abstract

This article discussed about undynamic gender identity of Valent‟s character in novel “Lelaki Terindah” written by Andrei Aksana. The approach used was the  concept  of  Stuart  Hall  about  identity.  Descriptive  analysis  used  in  thisresearch focused on two items, (1) what obstacle faced by Valent in transgender was and (2) what strategy to overcome the obstacle from social environmentfaced by Valent.The result indicated that feminism and masculine concept and identity evaluation by other people and body identity become an obstacle character in transgender. The steps used to overcome the obstacle was to carry out dynamism gender identity and sexual, characteristic, attitude, behavior to become a woman.Tulisan ini akan membahas  ketidakdinamisan identitas gender tokoh Valent dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana. Pendekatan yang digunakandalam  penelitian  ini  adalah  konsep  Stuart  Hall  mengenai  identitas.  Teknik analisis deskriptif diterapkan dalam tulisan ini dengan penekanan pada dua hal, yaitu (1) halangan apa yang dihadapi oleh tokoh Valent dalam bertransgender;(2)  strategi  tokoh  Valent  dalam  menghadapi  halangan  yang  muncul  dari lingkungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas femininitas dan penilaian identitas oleh orang lain serta identitas tubuh menjadi faktor penghalang tokoh Valent dalam bertransgender. Langkah yang di tempuh oleh tokoh Valent untuk menghadapi halangan tersebut adalah dengan melakukan kedinamisan  identitas  gender  dan  seksual,  sifat,  sikap,  dan  perilaku  untuk menjadi perempuan. 
KELUHURAN DALAM PUISI “PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA” KARYA W.S. RENDRA: PERSPEKTIF LONGINUS (The Nobility in The Poem “Pesan Pencopet kepada Pacarnya” by W.S. Rendra: Longinus Perspective) Taum, Yoseph Yapi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4637

Abstract

This study aims to reveal the values of nobility in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" written by WS Rendra by using the perspective of Longinus theory. This poem seems to give immoral teachings that are conveyed through community trash figures, namely a pickpocket and his girlfriend, a government official's concubine. Reading poetry like this one can spontaneously reject it, because there are no values that seem worthy to be followed or imitated. The main question of this research is what are the noble values in the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra? This type of research is qualitative by using library data sources. The approach used to answer this research question is an expressive approach, with Longinus' theory of nobility. The results of this study show that the poem "Pesan Pencopet kepada Pacarnya" by WS Rendra has noble values which include: the power of noble thinking, great emotion or passion, superior rhetoric, special choice of words, and unique compositional structure. The benefit of this research is to demonstrate different textual strategies in reading poetry. This poem has the power to push and elevate the reader to the stage of sublimation, namely the stage of nobility. That is why this poem is worth reading, living, and teaching its values.Penelitian ini bertujuan mengungkap nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra dengan menggunakan perspektif teori Longinus. Puisi ini terkesan memberikan ajaran yang tidak bermoral yang disampaiakan melalui tokoh-tokoh sampah masyarakat, yakni seorang pencopet dan pacarnya seorang selir pejabat pemerintah. Membaca puisi semacam ini orang dapat secara spontan menolaknya, sebab tidak ada satupun nilai-nilai yang sepertinya layak untuk diikuti ataupun diteladani. Pertanyaan penelitian ini adalah apa sajakah nilai-nilai keluhuran di dalam puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya W.S. Rendra? Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan sumber data pustaka. Pendekatan yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian ini adalah pendekatan ekspresivisme, dengan teori keluhuran Longinus. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” karya WS Rendra memiliki nilai-nilai keluhuran yang mencakup:  daya pemikiran yang luhur, emosi atau passion yang agung, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik. Manfaat penelitian ini adalah mendemonstrasikan strategi tekstual yang berbeda di dalam membaca puisi. Puisi ini memiliki kekuatan untuk mendorong dan mengangkat pembaca ke tahap sublimasi, yakni tahap keluhuran. Itulah sebabnya puisi ini berharga untuk dibaca, dihayati, dan diajarkan nilai-nilainya.
KETIDAKSANTUNAN PELANGGAN TERHADAP CUSTOMER SERVICE PROVIDER INTERNET DI TWITTER PADA AWAL PANDEMI COVID-19 (Customers’ Impoliteness Strategies toward ISP’s Customer Service on Twitter at The Beginning of Covid-19 Pandemic) Rahman, Nadhifa Indana Zulfa; Qonitah, Salma; Fitriany, Suci; Santoso, Tomi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4086

Abstract

This study aims to describe the use of impoliteness strategies used by customers to  customer service of one of Indonesia’s internet providers. The method used in this study has three stages. The first stage is data collection. Data collection was carried out using the non-participant observation method, tweet scraping using the python package, and note-taking technique with annotation. The second stage is data analysis. Data analysis was carried out by applying Culpeper's impoliteness theory. Third, the presentation of the results of data analysis with formal and informal methods. The results of this study indicate that there are several impoliteness strategies used by customers, namely: 1) insulting, 2) sarcasm, 3) threatening, 4) using taboo words, 5) using inappropriate terms of address, 6) not taking the speech partner seriously, 7) being unsympathetic, 8) using obscure/secretive language, and 9) withholding politeness.  Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan strategi ketidaksantunan pelanggan kepada customer service salah satu provider internet di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, tweet scraping menggunakan python package, serta teknik catat melalui proses anotasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa twit keluhan pelanggan salah satu provider di Indonesia kepada customer service yang disampaikan melalui akun Twitter resmi provider tersebut yang berjumlah sebanyak 2.500 twit dalam kurun waktu 15 April—30 Juni 2020. Tahap kedua adalah analisis data. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori ketidaksantunan Culpeper. Ketiga, penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Hasil penelitian ini menunjukkan ada beberapa strategi ketidaksantunan yang digunakan pelanggan, yaitu: 1) menghina, 2) menyindir, 3) mengancam, 4) menggunakan kata-kata tabu, 5) menggunakan sapaan yang tidak seharusnya, 6) menganggap tidak serius mitra tutur, 7) tidak simpatik, 8) menggunakan bahasa yang tidak jelas, dan 9) menahan kesantunan.
NARASI SUSI PUDJIASTUTI DI MEDIA: SEBUAH PERJUMPAAN DIALEKTIS (Susi Pudjiastuti's Narrative in Media: A Dialectical Encounter) Kholila, Ainun; Hafidzulloh, M
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4819

Abstract

The coverage of Susi Pudiastuti in various online media regarding her ability to become the ministry of marine affairs and fisheries  in the second period has generated various polemics. These problems arise because the narratives built from various media are often different from one another. This distinction has resulted in various perspectives materializing to translate how the discourse construction is behind the statement text. This study will analyze how the discourse form of media content narrates Susi Pudjiastuti as a minister in the second period. The data explored are the media narratives of Kumparan.com, Wartaekonomi.com, Tribunnews, Liputan6.com, Theconversation.com, Kompas.com. Textual data from some of these media will be analyzed using Norman Fairclough's critical discourse analysis approach. Media text narratives that are the research object will be positioned as constructing public discourse by examining and describing discourse practices from online media narratives. This study found that the online media that reported Susi Pudjiastuti's willingness contained discourse production, directing to justification and public opinion formation. The discourse present in the text provides an argumentative basis that always presupposes a social change regarding the perspective produced to find the dialectic of discourse and transformation in the form of discursive practice. Pemberitaan Susi Pudiastuti di berbagai media online terkait kesanggupan menjadi menteri perikanan dan kelautan pada periode kedua menuai beragam polemik. Problematika tersebut hadir karena narasi yang dibangun dari berbagai media seringkali berbeda antar satu dan lainnya. Perbedaan itu menuai beragam perspektif bermunculan untuk menerjemahkan bagaimana konstruksi wacana yang hadir di balik teks berita. Penelitian ini mengupas bagaimana bentuk wacana dari konten media yang menarasikan Susi Pudjiastuti sebagai menteri pada periode kedua. Data yang dianalisis adalah narasi media Kumparan.com, Wartaekonomi.com, Tribunnews.com, Liputan6.com, Theconversation.com, dan Kompas.com. Data tekstual dari beberapa media tersebut dianalisis dengan pendekatan analisa wacana kritis Norman Fairclough. Narasi teks media yang menjadi objek penelitian diposisikan sebagai pembentuk wacana publik dengan menelaah dan mendeskripsikan praktik wacana dari narasi media online. Penelitian ini menemukan bahwa media online yang memberitakan kesediaan Susi Pudjiastuti ini memuat produksi wacana yang mengarah kepada pemberian justifikasi dan membangun opini publik. Ikhwal wacana yang hadir dalam teks memberikan dasar argumentatif yang senantiasa mengandaikan adanya perubahan sosial mengenai perspektif yang dibangun untuk menemukan dialektika wacana dan transformasi dalam bentuk praktik diskursif.
IDENTITAS DAN PERGERAKAN PEREMPUAN PERANAKAN TIONGHOA DALAM NOVEL BERGERAK? KARYA TAN BOEN SOAN (Peranakan Chinese Women’s Identity and Movement in Tan Boen Soan’s Bergerak?) Dewojati, Cahyaningrum; Nurtalia, Nadhilah
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4116

Abstract

The social identity of women of Chinese descent (peranakan) in Dutch East Indies was affected by numerous aspects, which later developed into their consciousness about identity and environment. In the context of the women’s movement, the diversity of social identity of these women of Chinese ancestry contributed to the dynamic development, as portrayed in a novel titled Bergerak? (Let us move?). Through social identity theory, organizational behavior and feminist literary criticism, especially Chandra Mohanty on intersection, this study aims to examine the social categories that affect the identity of women of Chinese descent and the author’s on the problems of Chinese peranakan women in a novel titled Bergerak? The result of the study shows that the social identity of women of Chinese descent is influenced by the social categorization such as social and economic status, culture representation, and ideologies that are intertwined or intersected each other. Nevertheless, the author’s criticism to the problems in the women’s movement organization is also clouded by gender bias affecting the author’s perspective on women’s contribution to the organization Identitas sosial yang dimiliki oleh perempuan peranakan Tionghoa di Hindia Belanda dipengaruhi oleh berbagai aspek. Hal ini kemudian mempengaruhi kesadaran para perempuan tersebut terhadap jati diri dan lingkungan mereka. Dalam konteks pergerakan perempuan, keragaman identitas sosial para perempuan peranakan Tionghoa ini ikut memberikan dinamika tersendiri dalam proses perjalanannya, seperti yang tertuang dalam novel Bergerak?. Melalui teori identitas sosial, perilaku organisasi dan kritik sastra feminis, khususnya Chandra Mohanty tentang intersection, penelitian ini bertujuan mengkaji kategori sosial yang mempengaruhi identitas perempuan peranakan Tionghoa serta sudut pandang pengarang terhadap permasalahan perempuan peranakan Tionghoa di dalam organisasi pergerakan perempuan dalam Bergerak?. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas sosial dari para perempuan peranakan Tionghoa dipengaruhi oleh kategori-kategori sosial seperti status sosial dan ekonomi, representasi budaya, dan ideologi yang berkelindan atau interseksi satu sama lainnya. Di sisi lain, kritik pengarang terhadap berbagai permasalahan yang muncul dalam organisasi pergerakan perempuan juga diliputi bias gender yang mempengaruhi sudut pandang pengarang tentang keterlibatan perempuan dalam organisasi pergerakan perempuan.
NEGOSIASI BUDAYA SULAWESI TENGGARA DI ARENA GELANGGANG BUDAYA NEGERI SEMBILAN-MALAYSIA (The Cultural Negotiations of Southeast Sulawesi in the Arena of Gelanggang Budaya Negeri Sembilan-Malaysia) Syaifuddin, NFN; Riana, Derri Ris; Rahmawati, NFN
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.5191

Abstract

The presence of the Southeast Sulawesi arts team at the Negeri Sembilan Cultural Center event in Malaysia in 2017 is interesting to study from the perspective of cultural negotiations. Processed and displayed art has a vital role in building cultural diplomacy missions. This research was conducted to determine the condition of Indonesia-Malaysia diplomatic relations and describe the types of art chosen as a cultural negotiating tool discussed in a descriptive-qualitative approach. The results of this study indicate that there are ups and downs in diplomatic relations between Indonesia and Malaysia. Apart from being caused by geocultural proximity, the same cultural roots sometimes become a potential source of conflict. The Southeast Sulawesi arts team succeeded in playing its role in cultural negotiations by choosing works and works of art, namely traditional and modern music; fine arts from two artists; poetry anthology of poets of two countries; monologue theatrical stage; and Southeast Sulawesi literature and culture magazine. Apart from that, the art team also took part in cultural dialogues and visits to the village library, where the event took place. The greeting and appreciation from Raja Luak Johol and the activity participants demonstrated the distinct achievement of the cultural mission of the activity, which involved three countries: Malaysia, Indonesia, and Singapore. Negeri Sembilan Cultural Center contributes to cultural diplomacy that provides space for equality, humanity, and peace. The relationship between the art network between Malaysia and Indonesia is getting closer. Kehadiran tim kesenian Sulawesi Tenggara pada ajang Gelanggang Budaya Negeri Sembilan di Malaysia pada tahun 2017 menarik untuk dikaji dalam perspektif negosiasi budaya. Kesenian yang diolah dan ditampilkan memiliki peran penting dalam membangun misi diplomasi kebudayaan. Itulah sebabnya, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia dan membentangkan jenis kesenian yang dipilih sebagai alat negosiasi budaya yang dibahas dalam pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pasang surut dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia. Selain disebabkan oleh kedekatan geobudaya, juga akar kebudayaan yang sama sehingga kadang menjadi sumber potensi konflik. Tim kesenian Sulawesi Tenggara berhasil memainkan perannnya dalam negosiasi budaya dengan memilih kerja dan karya seni, yakni musik tradisi dan modern; seni rupa dari dua perupa; antologi puisi penyair dua negara; pentas teater monolog; dan majalah sastra dan budaya Sulawesi Tenggara. Selain itu, tim kesenian juga mengikuti dialog budaya dan kunjungan ke perpustakaan desa, tempat pelaksanaan acara berlangsung. Sambutan dan apresiasi dari Raja Luak Johol dan peserta kegiatan menunjukkan pencapaian tersendiri misi kebudayaan pada kegiatan yang melibatkan tiga negara tersebut, yakni Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Gelanggang Budaya Negeri Sembilan memberikan kontribusinya bagi diplomasi budaya yang memberi ruang bagi kesetaraan, kemanusiaan, dan perdamaian. Hubungan jejaring kesenian antara Malaysia dan Indonesia semakin erat terjalin.
KESENYAPAN NARASI KOLONIALISME DALAM NOVEL-NOVEL SUNDA RENTANG 1914—1940: WACANA MENGINGAT DAN MELUPAKAN (The Silent of Colonialism Narratives in Sundanese Novels Circa 1914—1940: Memory Discourse about Remembering and Forgetting) Hudayat, Asep Yusup; Rahayu, Lina Meilinawati; Muhtadin, Teddi A.N.
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4402

Abstract

In the early 20th century circa 1914–1940 were Sundanese novels almost "silent" from the colonialism narratives. This condition shows that memories were forgotten, suppressed, ignored, or even omitted in literary works because of the domination of the Dutch East Indies. However, the colonial traces can be revealed through how the narratives are constructed and presented. Through their works, the authors (from the middle class and educated) told about social reality and themselves in the challenges of social change in the early 20th century. This paper aims to reveal the memory selection process of Sundanese novelists in the early 20th century in producing their works under the dominant forces influences: feudal and colonial. The data analysis techniques were as follows, (a) data instrumens: narrative tools, special expressions, projection, and contruction (b) describing the data instrumens, (c) interpreting the data, (d) conclusions. The analysis results are: (1) the authors positioning (as teachers, natives, and employees of the Balai Pustaka) had an affects on the memories selections that were used to constructing narratives about domination and power, (2) the narratives of colonialism memories in five novels are built in three ways: suppressed, diverted, and even erased, (3) The voices behind the colonialism-narratives silent are expressed through the metaphorical traces of power, the pre-colonial and colonial memories as background, and indigenous marginal discourse. Pada awal abad ke-20 sekitar tahun 1914—1940 novel-novel Sunda nyaris “diam” dari narasi kolonialisme. Kondisi ini menunjukkan bahwa ingatan dilupakan, ditekan, diabaikan, atau bahkan dihilangkan dalam karya sastra karena dominasi Hindia Belanda. Namun, jejak kolonial dapat terungkap melalui bagaimana narasi dibangun dan disajikan. Melalui karya-karyanya, para pengarang (dari kelas menengah dan terpelajar) bercerita tentang realitas sosial dan diri mereka sendiri dalam tantangan perubahan sosial di awal abad ke-20. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap proses seleksi ingatan para novelis Sunda di awal abad 20 dalam menghasilkan karya-karyanya di bawah pengaruh kekuatan dominan: feodal dan kolonial. Teknik analisis data adalah sebagai berikut, (a) instrumen data: alat naratif, ungkapan khusus, proyeksi, dan konstruksi (b) mendeskripsikan instrumen data, (c) menafsirkan data, (d) kesimpulan. Hasil analisis adalah: (1) positioning pengarang (sebagai guru, pribumi, dan pegawai Balai Pustaka) berpengaruh terhadap pemilihan memori yang digunakan untuk mengkonstruksi narasi tentang dominasi dan kekuasaan, (2) narasi memori kolonialisme dalam lima novel dibangun melalui tiga cara: ditekan, dialihkan, dan bahkan dihapus, (3) suara-suara di balik narasi-narasi kolonialisme diekspresikan melalui jejak metaforis kekuasaan, kenangan pra-kolonial dan kolonial sebagai latar, dan marginalisasi pribumi.